Wednesday, January 24, 2018

Mau Minta Buku Gratis ke Penulis? Baca Dulu Ini!!!

Kebahagian Seorang Penulis adalah, Karyanya di Beli dan Di Baca!!!
arifsae.com - Awalnya saya tidak minat menuliskan artikel ini, tapi lama-lama tidak tahan juga. Hee... 1 orang kuat, 2 masih kuat, 3, 4, 5..... sampai puluhan melakukan hal yang sama, minta buku GRATIS-an. Akhirnya saya harus memulai cerita disini.
Ceritanya, awal-awal ini saya berhasil menerbitkan buku lagi [Buku-buku saya lihat Di SINI). Alhamdulilah, karya sederhana terlahir lagi. Tapi toh setiap karya pasti ada cobaanya. Maksudku adalah, setiap kali buku terbit, pasti ada-ada saja orang yang minta gratisan. 
"Wah, keren, selamat ya...Boleh minta gratisannya? kan kita teman?"
“Sebagai sahabat aku akan terus mendukungmu berkarya. Aku penasaran nih, boleh dong bagi bukunya.”
"Aku Mau, gratis yaa..."
"Bagi satu donk, Gratis yaa?"
Blaa...blaa.blaaa....Intinya minta Gratissss...!!!
Kata-kata itu justru dari kawan, sahabat bahkan kadang ada orang yang hanya kenal sekilas lalu datang dengan tiba-tiba meminta buku gratisan???

Awalnya mau menjawab apa. Serba salah juga. Mau menolak dengan sopan bagaimana kata-katanya, masa harus jawab "enak aja minta gratis, beli donk". Memang tragis. Ingin rasanya menangis. Ah, lebay...heeee
Lalu bolehkah, mereka minta gratisan???
Sebelum menjawab itu, saya ingin berbagi pengalaman. Sebagai seorang penulis, apalagi penulis pemula seperti saya, menulis dan menerbitkan buku bukanlah soal yang mudah. Butuh kerja keras, yang menyita banyak waktu, pikiran, tenaga dan kadang uang untuk menyelesaikan satu buku. Intinya proses itu butuh pengorbanan, bahkan sampai berdarah-darah. Lalu tiba-tiba kamu minta gratis???
Untuk menerbitkan sebuah buku ada beberapa cara, cara pertama self publising dan cara kedua adalah ke penerbit mayor. Kalau kita menerbitkan buku dengan self publising, maka buku yang kita dapat juga tergantung dari pesanan dan uang kita. Berbeda dengan penerbit mayor, yang ketika buku kita terbit, maka penulis akan mendapat 5-10 buku gratis.
Bolehkan kita memberikannya secara gratis? Tentu boleh, tapi kepada orang yang layak diberi gratis, tentunya mereka adalah orang yang khusus pula. Misalkan, orang yang punya andil besar pada proses penulisan atau penerbitan buku kita, atau kepada guru yang mengajarkan kita menulis, sampai akhirnya berhasil menerbitkan satu buku. Lalu kamu siapa?
Semua butuh pengorbanan. Tidak mudah guys. Bayangkan saja, ketika ada teman kita yang sedang membuka usaha, kemudian dia datang dengan tiba-tiba, terus meminta gratisan barang jualannya atas nama pertemananan. Apakah pantas orang tersebut bisa dianggap teman? Bukankan teman itu saling mendukung?
Misalkan, teman kita membuka sebuah restoran. Kita makan direstoran itu. Apakah kita akan tega meminta gratisan? Padahal restoran itu baru buka? jangan. Jangan sekali-kali melakukan hal itu, jangan minta gratisan dari usaha yang baru mulai. Teman kita pasti akan sangat senang bila kita mendukung usahanya. Caranya makan direstoran itu. Dengan membayar, tentunya!!! Itulah teman yang mau mendukung usaha kita.
Kembali lagi ke masalah buku, Coba deh, bayangkan, perjuangan panjang seorang penulis untuk menyelesaikan satu buku hanya dihargai dengan kata "GRATIS". Anda Waras?????
Mungkin ada sebagian penulis yang memang mau memberikan buku secara gratis, itu haknya. Tentunya penulis itu juga ingin mendapatkan imbalanya. Misalkan, dipromosikan ke medsos atau di ulas dalam blog nya. Pertanyaanya, sudah ada berapa followers di medsosmu? sudah ada berapa Viewer blogmu setiap harinya? kalau sudah jutaan, tentu akan setimpal.
Gusy, lebih baik, kalau tidak membeli buku karya temanmu, ucapkanlah selamat, atau mending diam. Itu akan sedikit membuat nya dihargai, dibandingkan meminta gratisan. Yaaaa, mungkin kita bisa dianggap kejam atau pelit. Bahkan mata duitan, atau hitung-hitungan kepada teman. Tapi yang namanya menerbitkan buku, apappun jalurnya, pasti akan dipasarkan. Kalau semua minta gratisan, bagaimana keuntungannya? Rugi bandar bosss....
Misalkan ya, untuk mendapatkan royalti seharga satu buku, maka kita harus menjual beberapa buku. Contohnya, harga buku 100 ribu, terus royalti buat penulis 10 % (maka 10 ribu /buku jual). Artinya, kita harus menjual buku 10 untuk mempunyai royalti seharga satu buku. Kalau semua minta gratisan, habis dong royalti penulis?
Pernah ingat kalimat, "Tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah"? Sepertinya ini cocok diterapkan untuk orang yang tanpa rasa bersalah minta gratisan buku. Kalau kamu masih mau meminta gratisan buku, artinya sama dengan orang peminta-minta [ga tega nulis mengemis]? Mau??
Coba renungkan, meskipun ujung-ujungnya kamu mendapatkan gratisan, misalnya, kamu berposisi sebagai penerima [ga tega nulis mengemis part 2]. Tahu kan rasanya dikasih orang? punya rasa ga enak, atau rikuh pekewuh. Sebagian besar buku yang diberi kemungkinan besar tidak dibaca.

So, mending sekarang belilah bukunya, pakai uang sendiri dan dari usaha sendiri. Kalau sudah punya buku pun bangga dan akan dijaga, karena untuk mendapatkannya dengan perjuangan membayar uang dari hasil jerih payah kita.
Dengan begitu, penulis akan sangat dihargai karyanya, dan sekaligus menghargai ikatan pertemananya. Teman yang baik adalah mereka yang mengerti apa yang kita rasakan. Ketika kamu sudah mengetahui betapa sulitnya membuat buku, mungkin kata GRATIS tak akan terucap lagi.
Oke, ada pertanyaan? Jelas?
Intinya, jangan sekali-kali meminta buku gratisan kepada penulis. Kalau mau gratis, coba rasakan membuat buku sendiri, dan setelah terbit, bagikanlah kepada semua teman dan sahabat dekat. Anda akan merasakan sensasi-nya. Lalu, kita akan saling bertukar karya. Kau dapat bukuku, aku dapat bukumu. Indah Bukan?

Deal???  []

Wednesday, January 17, 2018

Kata Pengantar Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum. dalam Buku Usman Janatin

Oleh:
Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum.
Guru Besar Sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Cover final
Penulisan biografi sudah marak dilakukan di Indonesia sejak dekade 1950-an sebagai booming untuk mengenalkan tokoh-tokoh pahlawan (Priyadi, 2015: 97). Biografi sebagai sumber sejarah berada pada posisi kedua atau sumber sekunder karena tidak ditulis sendiri oleh pelaku atau penyaksi sejarah. Namun, jika hasil wawancara langsung dengan pelaku atau penyaksi itu dituliskan oleh tim editor, maka karya itu disebut autobiografi sebagaimana pada contoh autobigrafi Soekarno dan Soeharto dengan masing-masing berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat Indonesia (Adams, 1966 & 2014) dan Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (Dwipayana & Ramadhan KH., 1989). Mereka sebagai presiden tidak mempunyai waktu untuk menulis sendiri kesaksiannya. Autobiografi berada pada tataran sumber primer dalam bahan-bahan dokumenter.
Dalam historiografi modern, biografi adalah karya sejarah karena di dalamnya selain ada fakta sejarah dan interpretasi dari penulisnya, baik sejarawan peneliti maupun sejarawan penulis. Biografi pada masa lampau biasanya ditulis oleh para wartawan dari media massa, sedangkan pada masa kini sejarawan muda mulai tertarik untuk menulis biografi. Ada kecenderungan bahwa penulisan biografi sering menggiring para penulisnya untuk menuliskan karya-karya yang mirip dengan pujasastra terhadap para pelaku sejarah. Sebagai perhatian utama, para pelaku dan penyaksi lebih banyak ditulis sisi-sisi positifnya daripada sisi-sisi negatif. Kecenderungan ini telah mendudukkan biografi sebagai karya yang tidak kritis dan kurang mendapat perhatian para sejarawan untuk menulisnya, bahkan menghindarkan diri untuk terlibat. Justru kurangnya keterlibatan sejararawan, maka biografi sering dianggap bukan sebagai karya sejarah, tetapi karya jurnalistik yang dipandang sebagai karya sejarah populer atau sejarah naratif sehingga masyarakat awam sulit untuk membedakan antara karya sejarah dan karya sastra. 
Unsur pujasastra dalam biografi adalah keniscayaan sehingga banyak tokoh pelaku dan penyaksi tidak mau dibuatkan biografi. Pujasastra sebagai fenomena narasi masa lampau sudah dicontohkan oleh Prapanca dalam karyanya Negarakrtagama atau Kakawin Deçawarnnana. Narasi pujasastra tampaknya tidak disukai oleh para sejarawan karena malu dinilai sebagai orang yang mencari muka kepada para penguasa. Keengganan para sejarawan sebagai penulis dan tokoh yang merasa belum pantas dituliskan riwayat hidupnya menjadikan karya biografi tidak pernah diperhitungkan.
Biografi yang akan diterbitkan ini menyangkut tokoh yang diangkat sebagai pahlawan nasional yang digantung pada usia muda, yaitu 25 tahun (1943-1968). Jelas namanya di dalam penulisan sejarah, baik sejarah nasional maupun sejarah lokal agak kurang bergaung. Usman Janatin atau Janatin adalah produk pejuang dari masa-masa akhir kekuasaan Presiden Soekarno dengan kebijakan Ganyang Malaysia-nya. Peristiwa penggantungan Usman dan Harun memang kalah pamor dengan peristiwa yang di satu sisi disebut G 30 S/PKI atau di sisi lain disebut Gestok. Peristiwa 1965 telah menyedot perhatian dan energi para sejarawan Indonesia hingga sekarang.
Kalah pamor atau menang pamor dalam penulisan sejarah, khususnya biografi tidaklah penting karena sejarah memang sering hanya dilihat dari sudut tertentu sehingga ada yang menyatakan sebuah peristiwa itu biasa-biasa saja, penting, sangat penting, dan amat sangat penting, atau bahkan sangat tidak penting. Penulisan biografi Usman Janati yang ditulis oleh sejarawan lokal, terlebih-lebih sejarawan pengajar perlu diapresiasi sebagai salah satu karya sejarah lokal di satu sisi dan akan memberikan sumbangan bagi penulisan sejarah nasional di kemudian hari. Usman sebagai pemuda lokal mungkin juga agak sedikit terlupakan oleh orang-orang lokal. Orang-orang lokal hanya mengenal secara samar-samar karena dokumen yang terbatas sehingga sebenarnya sumber sejarah lisan menjadi penting karena peristiwa yang menyangkut Usman adalah sejarah kontemporer.
Artinya, para saksi mata masih banyak yang hidup, baik keluarga maupun teman-teman sepermainan dan sekolah bisa diwawancarai secara individual maupun simultan. Anak peserta didik bisa diterjunkan ke lapangan untuk melakukan riset kecil-kecilan dengan pelatihan sebagai calon sejarawan yang memanfaatkan sumber sejarah lisan. Di masa kini, ketika dokumen-dokumen belum dibuat, maka sumber sejarah lisan menempati posisi penting dengan wawancara yang menghasilkan produk audio (suara) dan audiovisual (suara dan gambar video) yang tersimpan dalam bentuk digital. Selanjutnya, bagi anak peserta didik, biografi pahlawan nasional bisa dimanfaatkan sebagai materi pembelajaran sejarah lokal yang mengintegrasi ke pembelajaran sejarah nasional.
Penulisan biografi Usman Janati bagi masyarakat Purbalingga akan memacu dan menginspirasi masyarakat masa kini untuk mengangkat tokoh-tokoh lokal Purbalingga agar lebih dikenal oleh masyarakatnya sendiri karena fenomena masyarakat lebih mengenal sejarah bangsa lain sering tampak, misalnya, peserta didik kadang lebih tahu dan paham sejarah Cina, Mesopotamia, Mesir, Yunani, atau Romawi daripada sejarah lokal sendiri. Contohnya, dapat dipastikan peserta didik tidak tahu sama sekali sejarah desa di mana ia bertempat tinggal karena sejarah desa belum dirintis penulisannya di Indonesia. Sejarah desa adalah ladang bagi peserta didik, guru sejarah, dan sejarawan lokal untuk menyambangi, mengakrabi, menggauli, dan selanjutnya menulis sejarah desanya masing-masing sehingga penduduk Purbalingga tidak buta terhadap sejarahnya sendiri, termasuk mengangkat tokoh-tokoh lokal atau desa yang telah berperan pada masa lampau. 

Daftar Pustaka
Adams, Cindy. 1966. Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia. Alih bahasa Major Abdul Bar Salim. Djakarta: Gunung Agung.
Adams, Cindy. 2014. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Alih bahasa Syamsu Hadi. Jakarta: Yayasan Bung Karno & Media Pressindo.

Dwipayana, G. & Ramadhan K.H. 1989. Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Jakarta: Citra Lamtoro Gung Persada.

Wednesday, January 10, 2018

Sambutan Bupati Purbalingga, H. Tasdi, SH, MM dalam Buku Biografi Usman Janatin

KATA SAMBUTAN
H. Tasdi, SH., MM.
(Bupati Purbalingga Periode 2016-2021)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, saya menyambut baik dengan kehadiran buku yang berjudul Patriot Bangsa dari Kota Perwira: Biografi Usman Janatin, 1943-1968 ini dengan rasa syukur terhadap kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak lupa sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada junjungan Nabi Agung, Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Buku yang mengangkat seorang tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Kabupaten Purbalingga ini akan mengantarkan generasi muda menjadi lebih mengenal dan meneladani sikap nasionalisme dan patriotisme yang tertanam dalam diri Usman Janatin.
Kabupaten Purbalingga sendiri mempunyai slogan “PERWIRA”, yang bermakna secara harfiah gagah dan berani atau seorang sosok pahlawan. Penggunaan nama ini tidak berlebihan, karena memang di Kota Purbalingga ini lahir berbagai tokoh pahlawan, yang diakui baik secara lokal maupun nasional. Misalnya saja nama Panglima Besar Jenderal Soedirman yang merupakan asli kelahiran dari Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Jasanya tentu tidak diragukan lagi oleh Bangsa Indonesia pada umumnya.
Nama lain yang menjadi sosok Pahlawan Nasional dari Kabuaten Purbalingga tentunya yang menjadi topik dalam buku ini, Usman Janatin. Dia berperan dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan jargon “Ganyang Malaysia” ini. Didalam buku ini, tersaji kehidupan Usman Janatin dari kecil hingga diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Buku ini menjadi penting bagi Kabupaten Purbalingga karena memang masih minimnya buku tentang Usman Janatin tersebut. Oleh karena itu, atas nama Pemerintah Kabupaten Purbalingga, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada saudara Arif Saefudin yang telah berhasil menyusul buku ini.
Untuk itu, kami menyambut baik dengan diterbitkannya buku Patriot Bangsa dari Kota Perwira: Biografi Usman Janatin, 1943-1968 ini, karena dengan diterbitkannya buku ini, dapat memberikan berbagai informasi dan gambaran tentang biografi Usman Janatin, sehingga dapat menumbuhkan ketauladanan dalam menjalani kehidupan kebangsaan bagi generasi muda Kabupaten Purbalingga khususnya, dan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya.
Akhirnya, semoga buku ini dapat membawa manfaat bagi Kabupaten Purbalingga sesuai dengan harapan kita bersama. Semoga hal yang baik ini dapat diteruskan, terutama penulisan-penulisan buku tentang Kabupaten Purbalingga dimasa-masa yang akan datang.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
                                                            Purbalingga, 18 Desember 2017
Bupati Purbalingga
H. Tasdi, SH., MM.


Friday, December 22, 2017

Kata Pengantar Buku "Dialektika Pengelana Pena"

Buku Siap

Monday, December 11, 2017

Pengantar Penulis Buku Biografi Usman Janatin

Revisi ke-2 
 Alhamdullilah, dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, kerjasama antara penulis dengan Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selesai dengan terbitnya buku ini. Buku ini disusun dalam rangka untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan kearifan dan kekayaan nilai-nilai sejarah bangsa Indonesia. Dengan tujuan itu, pada awal tahun 2017 Direktorat Sejarah melalui program Fasilitasi Komunitas Kesejarahan Tahun 2017 memberikan bantuan kepada individu ataupun kelompok masyarakat di Indonesia untuk mengangkat nilai-nilai sejarah yang terkandung didalam lingkungan sekitar.
Dengan semangat untuk melindungi, mengembangkan dan memperkuat segala inisiatif pengembangan kesejarahan di Indonesia, maka Direktorat Sejarah membagi bantuan ini kedalam 5 (lima) bagian fasilitasi, (1) Penulisan Sejarah Lokal untuk Guru (MGMP) Sejarah; (2) Penulisan Sejarah untuk Umum; (3) Event Sejarah; (4) Pengembangan Aplikasi Kesejarahan; dan (4) Pembuatan Film Sejarah. Penulis mendapatkan bantuan fasilitasi yang pertama, yaitu penulisan sejarah lokal untuk guru-guru MGMP sejarah.
Tema utama yang penulis pilih adalah sosok Pahlawan Nasional yang berasal dari Kabupaten Purbalingga, yaitu Janatin alias Usman bin Haji Mochammad Ali. Mengapa memilih Janatin? Kita mungkin sangat familiar dengan nama “Panglima Besar Jenderal Soedirman”,  yang hampir disemua kota besar di Indonesia terpampang nama sang Panglima Besar tersebut. Jenderal Soedirman merupakan seorang Pahlawan Nasional yang berasal dari Kabupaten Purbalingga. Namun, apabila menyebut nama Usman Janatin, mungkin akan terdengar asing ditelinga kita. Itulah salah satu alasan penulisan buku ini.
Meskipun masih terdengan asing ditelinga, namun sosok yang juga berasal dari Kabupaten Purbalingga ini pernah mengorbankan nyawa demi membela harkat dan martabat bangsa pada masa Trikora dan Dwikora. Era ketika Republik Indonesia langsung dibawah komando Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Usman Janatin berkontribusi dalam situasi “panas” tersebut, ia dengan rekannya berhasil menjalankan tugas dari kesatuannya, Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL) untuk melakukan sabotese, infiltrasi hingga berhasil meledakan Hotel Mac Donald di Singapura, wilayah yang saat itu masih menjadi bagian dari Federasi Malaysia.
Usaha menjalankan tugas tersebut terhenti ketika Janatin tertangkap dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung oleh Pemerintah Singapura. Dengan usaha yang panjang, pemerintah Indonesia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan (setidaknya memperingan) hukuman Janatin dan temannya, namun semua usaha itu berbuah kegagalan. Oleh karena keberanian, ketabahan dan jiwa patriot yang tertanam dalam diri Janatin, maka ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasioanal oleh Presiden Soeharto dan diberikan Tanda Kehormatan Bintang Sakti berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 050/TK/Tahun 1968 tertanggal 17 Oktober 1968.
Meskipun nama ini sudah dianegerai Pahlawan Nasional sejak 17 Oktober 1968, namun nama Usman Janatin tidak bergitu “terkenal”, bahkan oleh warga Kabupaten Purbalingga sendiri. Oleh karena semangat yang dibawa oleh Direktorat Sejarah ini, maka mendorong penulis untuk mengangkat biografi tokoh ini kedalam sebuah buku. Hal ini menjadi urgent, selain untuk menambah referensi tentang Usman Janatin yang masih sangat jarang, juga menjadi ajang untuk mengingatkan sosok Usman Janatin kepada warga Kabupaten Purbalingga khusunya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Buku yang berjudul, “Patriot Bangsa Dari Kota Perwira: Biografi Usman Janatin, 1943-1968” ini akhirnya bisa terselesaikan dengan tanpa sesuatu halangan yang berarti. Meskipun untuk menuliskannya tidak mudah dan membutuhkan usaha yang keras. Karena disatu sisi, penulis harus berpindah tugas dari SMA Negeri 2 Purbalingga ke Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Negara Bagian Sabah, Malaysia. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat untuk menyelesaikan buku ini. Tentunya keberhasilan penyelesaian buku ini memerlukan kontribusi dari berbagai pihak. Untuk itulah dalam kesempatan ini penulis ingin menghaturkan rasa terima kasih kepada guru, Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum yang telah mengajarkan tentang pentingnya sejarah lokal, dan sekaligus pada kesempatan ini berkenan memberikan Kata Pengantar.
Tidak lupa, penulis haturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Bupati Purbalingga, H. Tasdi, SH, MM. yang berkenan memberikan Kata Sambutan dalam buku ini. Kata Sambutan dari Pak Bupati ini tidak akan lahir apabila tak dibantu oleh Pak Yudhia Permana, karena peran beliaulah akhirnya Kata Sambutan dari Pak Bupati ini berhasil dihimpun. Untuk itulah, penulis sampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya. Terkhusus lagi, kepada kelaurga besar Usman Janatin yang telah memberikan informasi untuk melengkapi penulisan ini, diantaranya Mbah Siti Rodijah, Mbah Siti Turijah dan Mbah Matori juga Mbah Artijo untuk informasi berharga yang sudah diberikan. Semoga diberikan kesehatan dan umur yang panjang.
Ketika sumber lisan tidak memuaskan dahaga penulisan, maka bahan-bahan arsip menjadi pilihan. Oleh karenanya, penulis haturkan terimakasih kepada pihak Perpustakaan Umum Daerah Purbalingga, Kantor Desa Jatisaba Kecamatan Purbalingga dan Jogja Lebrery Center (JLC) untuk koran-koran dan majalah lawasnya. Di Jakarta penulis ucapkan terimakasih kepada Sersan Kasianto yang menjaga Museum Korps Marinir, Jakarta Pusat, karena beliaulah yang memberikan akses terhadap sumber-sumber yang melimpah tentang sosok Usman Janatin ini. Semua tempat-tempat ini memberikan sumbangsih yang berbeda-beda untuk melengkapi isi buku ini.
Beberapa orang juga memberikan bantuan dengan cara yang istimewa. Dorongan, bantuan, semangat, dan persahabatan yang memecahkan penat pikiran ketika sedang bersama-sama dengan teman-teman di MGMP Sejarah Kabupaten Purbalingga. Terkhusus penulis ucapkan terimakasih kepada Pak Ketua, Arifin, S.Pd. yang memberikan bantuan-bantuan tak terlihat namun sangat terasa bagi penulis. Tidak lupa juga teman istimewa dalam proses penelitian, Jarwanto, S.Pd. yang memberikan rasa berbeda pada setiap proses “jalan-jalan” penelitian. Bantuan juga diberikan kepada Umu Hanifah, S.Pd. yang membentu dalam proses pembuatan laporan keuangan untuk dipertanggungjawabkan kepada pihak Direktorat Sejarah. Dan tentunya kepada seluruh teman-teman MGMP Sejarah Kabupaten Purbalingga yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Akhirnya, rasa cinta dan terimakasih penulis haturkan kepada isteri tercinta, Yuli Windarti, S.Pd. dan puteri kecil kami, Naira Ayudiasiya, yang terus mendukung setiap langkah kemana bahtera ini terarah. Penulis haturkan sembah kepada kedua orang tua, Bapak Suwarno dan Ibu Suwarti yang menyokong dengan doa dan tetesan air mata ketika selalu meminta di hadapan-Nya. Adik Khoiratun Sarifah dan seluruh keluarga besar Mbah Warsidi dan Mbah Kimah yang mendukung dengan cara spesial mereka masing-masing.
Penulis menyadari buku ini mempunyai banyak kekurangan dimata pembaca. Untuk itu, khususnya kekurangan-kekurangan dalam buku ini biarlah menjadi tanggung jawab penulis. Dengan kerendahan hati dihaturkan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak apabila ada bagian dari buku ini yang tidak berkenan. Semoga karya ini diterima amal jariahnya oleh Allah SWT sebagai salah satu amal kesalehan yang tak terputus. Amin.
Akhirnya, penulis ucapkan selamat membaca.

                                                           Sabah, Malaysia, Desember 2017
                                                            Arif Saefudin
Cover Buku Pertama

Saturday, November 4, 2017

Pelatihan yang Membuat Letih

arifsae.com - Hari ini ke SIKK, pagi-pagi sudah siap. Saya dan Pa Ade dari CLC Pedalaman, Keningau kalau ga salah. Kami meninggalkan Pa Juang dikamar sendirian. Saya sendiri belum bisa membelikan titipan untuk istri, belum sempat, nanti mungkin setelah balik dari SIKK.

Makan Siang dulu
Saya sampai ke SIKK jam 9, sudah mulai acaranya. Acaranya masih didominasi pelatihan-pelatihan, saya lebih memilih untuk mengecek laporan-laporan keuangan yang harus dikumpulkan nantinya. Pelatihan yang terjadi juga tidak terlalu mengikuti. Apalagi materinya, tidak tau.
 
Saya bertemu dengan Pa Tria dari CLC Spagaya dan Pa Didib dari CLC Jeroco. Kami seolah reuni JAIM 4 yang dulu diatas danau, diatas pohon dan kenangan-kenangan yang terkandung dalam hutan Taliwas. Kami ngobrol banyak, karena sejak bertemu terakhir di JAIM 4, kami tidak pernah berjumpa lagi.

Saya diajak Pa Tria untuk menyelesaikan segala lapora, biarpun yang lain belum menemu bendahara. Tapi kami berdua menemui duluan, takutnya ngantri nanti kalau bersama, mumpung ada waktu. Ternyata benar, saya pertama yang mengumpulkan.
Laporan Pertama
Sore hari saya sudah ditunggu dikampung air. Karena urusan sudah selesai, saya ke kampung air. Sesampainya disana, saya diajak untuk makan Sotong. Bertemu dengan kawan-kawan senior dari guru tahap 6. Ada banyak yang saya temui disana. Dan akhirnya tidur bareng. Nama-namanya saya lupa. hee.. Hari ini semua urusan selesai dengan lancar.[]

Friday, November 3, 2017

Menuju Kampung Air

Juang Mayvin
arifsae.com - Saya menuju ke Simpang Sapi diantarkan Bu Aji. Saya harus datang lebih awal, karena mau menitipkan sesuatu ke Pa Juang. Dia orang Purbalingga yang akan ujian UTN karena tidak lulus. Dia bertugas di Humana Mayvin, yang berindukan CLC Gamore. Saya menunggu lama. Tidak terlihat juga.

Akhirnya saya putuskan menumpang mobil jurusan Telupdi terlebih dulu. Saya kesana menumpang mobil tapi tidak sampai ke KK, karena jurusan ke KK terlalu lama, jadi saya ikut saja yang hanya ke Telupid. Bayarannya mahal juga. Disana saya sempatka makan sarapan dulu, eh selagi sarapan malah bus datang. Terpaksa saya menunggu bus selanjutnya. 

Menuju OTW
Busnya meluncur jam 11an. Saya mendapatkan Bus juga, itupun karena berebut. Maklum, Bus yang saya tempati penuh. Saya mendapatkan tempat dibelakang. Lumayan lah. Untuk tidur 5 jam dalam perjalanan, maklum semalaman lembur menyelesaikan laporan.

Sampai ke Inanam sore, sekitar jam 3 lebih. Saya menuju ke Karamunsing, tempat yang sudah saya janjian sama Pa Juang. Dia juga sedang memperbaiki hape, saya rencananya mau memperbaiki laptop. Membeli cas laptop maksdnya. Saya coba kesana pakai kendaraan umum, tidak pakai grab. Cukup 2 ringgit saja. 

Bertemu Pa Juang, dan setelah memperbaiki hape dan laptop, saya menuju ke Kampung air. Istirahat sejenak, sebelum melanjutkan mencari hadiah untuk istri tercinta. Hotel yang kami temukan adalah Hotel Criystal KK, tempat langganan, hotelnya murah juga.

Malanya baru kami keluar, mencari makan. Disana saya bertemu dengan Pa Ade, mau laporan juga. Kami lanjutkan jalan-jalan malam di Centre Point, bermain bilyar dan nonotn film. Tapi hanya bilyar saja yang terlaksana. Filmnya tidak jadi.[]
Main Bilyar

Thursday, November 2, 2017

Melepas Kangen di Terusan 1

Halaman Humana Terusan 1
arifsae.com - Hari ini sebenarnya lapora harus sudah selesai. Karena nanti sore rencananya ke KK untuk melaporakan semuanya, sekaligus untuk menerima bantuan termin ke-2. Tapi pagi ini harus memfinising semua berkas-berkas. Pagi hari saya gunakan untuk membereskan laporan. 

Siangnya, saya sudah janjian dengan Bu Aji untuk mengajar di Terusan 1, disini memaang sudah beberapa kali berhalangan, karena urusan banyak hanya ditimpkan kepada satu orang. Pusingnya luar biasa, yang jadi korban adalah anak-anak. Mereka harus teritnggal pelajaran.

Tapi siang ini kkami akan menuju kesana. Seperti biasa, perjalanan menuju ke Terusan 1 melewati berbagai bulak. Tapi itulah keseruan kalau ke Terusan 1, melihat hewan-hewan berkeliaran seperti kebun binatang. Di Terusan 1 kami sudah ditunggu anak-anak, mereka memang antusias. Kalau saya menamakannya "liar", karena sekolah disini tidak terlalu memberikan sentuhan. 

Pulang jam 3 sore, saya menuju ke restoran Al-Kafi. Seperti biasa, makan harus tetap dipenuhi. Menu andalan disana adalah ayam penyet, karena disini enak. Pulangnya, langit sudah terlihat mendung. Ternyata benar juga, hujan lebat menyerang. Tapi paksakan saja, sudah dekat juga. 
Hujan Deras
Sampai rumah baju basah kuyup. Tambah lebat juga. Sebenarnya saya sudah janjian dengan Pa Juang untuk ke KK. Ada sesuatu yang harus dititipkan kepada istri padanya. Tapi bagaimana, wong hujan besar. Akhirnya harus ditunda. Besok saja ke KK nya.[]
Laporan Sudah Siap

Wednesday, November 1, 2017

Ke Telupid Melengkapi Resit

Bang Kris
arifsae.com - Hari ini juga udah janjian dengan Bu Aji untuk ke Telupid. Karena memang ada barang-barang yang kurang dan untuk melengkapinya kami harus ke pekan Telupid. Tapi hari ini sempat ragu juga, terutama Bu Aji, karena mau masuk sekolah atau meliburkannya. Kalau saya si terserahh saja. Dan pilihannya adalah ke Telupid.

Rencanannya mau mengajak Abah untuk mengantar. Biar mudah dan bisa belanja banyak. Tapi setelah saya menemu Abah, dia tidak bisa mengantar. Karena harus menjaga anak. Sedangkan Umi mengajar di Humana 132. Jadi mau tidak mau ya harus menggunakan motor saja. Itu pilihan terakhir.

Namun sebelum kesana, motor ini rasanya sudah. Jadi harus sedikit perawatan, maklum, sudah lama tak di service. Saya juga sudah janjian sama Bang Kris, dia Tahap 5, jauh senior. Kami berjanji untuk bertemu karena ada tas yang sudah dibeli Bang Kris dari Pa Bintang, yang sudah dibelinya.
Service Motor
Perjalanan membutuhkan waktu 1,5 jam. Kami disana berpencar, dan mengurus urusan kami masing-masing. Saya membeli beberapa barang, sebelum akhirnya janjian dengan Bang Kris di restoran Saeful. Kami habiskan ngobrol dengannya. Dan pemilik restoran juga datang menemani ngobrol. Disini sampai jam 1 siang. Sebelum akhirnya pulang.

Lumayan lah, sedikit demi sedikit laporan terlengkapi. Siap-siap dirumah nanti untuk menghadap laptop. Lembur menyelesaikan laporan.[]

Tuesday, October 31, 2017

Kebut Laporan

Deadline dimana-mana
arifsae.com - Hari semakin dekat, deadline untuk membuat laporan semakin dekat. Saya berusaha untuk menyelesaikannya secepat mungkin. Tapi memang tidak mudah, jadi harus bekerja ekstra. Tapi saya tetap berusaha semaksimal mungkin. Hari ini hanya fokus untuk menyelesaikan laporan.

Siangnya seperti biasa mengajar anak-anak. Pelajarannya IPS, mereke tertarik untuk mengetahui sejarah bangsanya sendiri. Kali ini pelajaranya mengenai seputar proklamasi.

Sore harinya, ada Nana dan Fikar. Karena seharian tidak makan, akhirnya kami masak-masak malamnya. Setelah selesai, kembali lagi menyelesaikan laporan. Semangat selalu. Untung ada anak dan istri yang selalu menemnai. Meski mereka hanya dalam foto saja. Tapi tak apa. Untuk saat ini, cukup.[]

Monday, October 30, 2017

Mulai Sendiri, Harus Membiasakan Diri

Membat Laporan
arifsae.com - Sekarang saatnya melangkah sendiri. Karena semuanya sudah berbeda. Pa Wawan dan Pa Bintang yang biasaya dirumah kini sudah akan pulang. Beban penngelola CLC Terusan 2 sekarang sudah berada dipundakku. Mau tidak mau saya harus menerimanya. Dan urusan sekolah, semuanya, sekarang menjadi tanggung jawabku. Termasuk laporan BOP dan Banpen yang harus selesai. 

Karena Juma't besok harus sudah selesai dan kembali lagi ke SIKK untuk melaporakan dan menerima dana termin ke-2. Hari ini dipenuhi dengan revisi dan urusan laporan-laporan. Disampping itu, juga harus mengajar. Pokoknya mantap. 

Semuanya serba sendiri, masak sendiri, bua laporan sendiri, dan sorenya juga sendiri. Untuk setiap malam ada Fikar yang selalu datang untuk bermalam, sekerdar menemani kesendirian. Meskipun disini dia juga hanya main WA saja, tapi lumayan ada teman. Dan kesendirian ini saya harus mampu membiasakan keadaan ini.[]

Sunday, October 29, 2017

Akhirnya, Pulang Juga...

Perjumpaan Terakhir 
arifsae.com - Hari ini akhirnya datang juga, saya harus pulang. Karena mereka juga akan mengadakan acara perpisahan dengan KJRI KK. Lagian saya juga bakal kena semprot sama Bu Aji, gara-garanya tidak bisa membantu dia untuk menghadapi peresmian CLC Andamy. Karena sesuai aturan, peresmian didatangi oleh JPN, KJRI KK dan dari SIKK. Tapi Bu Aji pasti mengerti lah.

Saya bangun pagi-pagi, karena untuk mengejar bus biar sampai di Simpang Sapi nya tidak terlalu sore. Saya melihat kenangan dikamar itu. Mereka akan pulang, setidaknya ini pertemuan terakhir di Sabah. Tapi saya yakin silaturahmi akan tetap terjaga. Terimakasih semua, terkhusus Pa Wawan atas ilmunya. Selamat jalan. Semoga sukses di Indonesia.
Hotel Ruby

Terimakasih semuanya, terimkaish juga karena selama di KK, saya grattis hotelnya. hee.. Saya ke Terminal Inanam untuk menunggu bus. Disana saya akan pulang menggunakan Bus Sida. Seperti biasa, perjalanan yang membutuhkan 5 jam akan membuat badan ini bisa beristirahat.

Tapi ditengah perjalanan, tidak seperti biasanya. Saya juga heran, tidak pernah terjadi sebelumnya. Saya Mabok dijalan. Memalukan. Ini benar-benar jarang terjadi, tidak tau juga faktornya. Tapi yang jelas, tidak enak. Untung saja ketika muntah saya bisa menahan dan memuntahkannya di WC bus. Jadi tidak terlalu terlihat.

Memang saya duduk pas berada dibawahnya AC. Jadi memang sangat dingin. Tapi tidak apa-apalah. Toh tidak ada yang tahu. Saya sampai di Simapang Sapi sekitar jam 2 siang. Bu Aji sudah siap-siap menjemput. Maklum, karena motor CLC memang sedang dipinjam dia untuk mempersiapkan acara peresmian CLC nya.
Menunggu Penjemputan
Setelah sekian lama meninggalkan rumah. Akhirnya pulang juga denga selamat. Tapi yang membuat saya pangling adalah, rumah sudah terlihat rapi, bersih. Pasti ini anak-anak dan Nana yang membersihkannya. Terimakasih semuanya. Malamnya ada Fikar dan Saeful yang datang bermalam. Sekedar untuk menemani saya yang sudah benar-benar akan senndiri.[]

Saturday, October 28, 2017

Gear S3 Pilihannya

Samsung Gear S3
arifsae.com - Hari ini saya minta ke Pa Wawan untuk menemani lagi ke Karamunsing membeli Gear S3. Saya ga bisa diginiin. Kata orang-orang si. Dan Pa Wawan mengerti itu. Tapi karena disini toko-toko buka jam 10 sampai jam 11 siang, kami mencari sarapan dulu sebelum ke Karamunsing.

Jalan kaki menjadi pilihan utama. Sehat lah. Sekali-kali. Setelah mengeumpulkan semua uang pinjaman dan uang pribadi. Terkumpul sudah uang sebesar 1.350 RM. Memang harganya lumayan mahal. Mungkin setara beli handphone, tapi saya suka tekhnologi, meskipun hapenya masih menggunakan hape Oppo. 

Di Karamunsing juga hanya ada satu yang menjualnya. Saya sudah meuter-muter, tetap tidak ada. Dan berbeda dengan di Imago yang tidak bisa ditawar, disini bisa dinego. Dari yang harganya 1399, bisa dibeli denga RM 1.350. Lumayan 49 RM. Dan akhirnya saya berhasil membeli Samsung Gear S3. Tentu saja perasaan ini bercampur aduk, Pa Wawan yang pertama kalin menggunakannya.

Coba dulu Gear S3
Hari ini sudah menemukan jam yang mudah-mudahan bisa awet. Setelah itu, tidak kemana-mana memang. Hanya dihotel saja. Hanya malamnya, kami jalan-jalan ke Pasar Philiphine. 

Dinamakan Pasar Philiphin karena yang berjualan juga sebagian orang dari Philiphina. Dan disini sangat ramai, terutama kalau malam hari. Karena pasar ini hanya buka pada malam hari. Kalau siang, lokasi ini menjadi jalanan. Disini banyak barang-barang bekas yang masih bagus. Saya lihat-lihat saja, karena sudah habis untuk Gear S3 tersayang.[]
Di Pasar Philipin