Monday, October 23, 2017

Syekh Nawawi Al-Bantani, Pelopor Intelektual Pesantren

Makam Syekh Nawawi al-Bantani (Sumber Gambar: http://www.muslimoderat.net) 

Saturday, October 14, 2017

“LINGKARAN DUSTA” DI TENGAH BANGSA YANG BHINEKA

SUB JUDUL : ANTI HOAX SANG PENDIDIK
Oleh : Susilowati S.Pd.
Guru Sejarah MAN Purbalingga 
Turn Back Hoax (Sumber Gambar: www.radioidola.com)

Saturday, October 7, 2017

SRIHANA-SRIHANI-SARINAH: Mencintai Seni dan Seni Mencintai

Sukarano, Sumber dari Kinara Vidya
Tahun 1946, hanya berselang satu tahun setelah Indonesia merdeka, ditengah kondisi politik yang tak menentu, Bung Karno berencana merayakan hari kemerdekaan yang pertama dengan pameran seni lukis. Untuk merealisasikan rencana pameran lukisan itu, Bung Karno meminta kepada salah satu pelukis asal Yogyakarta, Hendra Gunawan untuk mengadakan pameran seni lukis tunggal. Hendra Gunawan menyanggupinya. Pagelaran seni lukis itu dilakukan di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Bung Karno akan menghadiri acara itu dengan protokoler resmi. Namun ditengah persiapan pameran, Hendra menemukan ide “gila”. Ia mengumpulkan berbagai gelandangan yang bersiap dengan kostum asli kere para gelandangan. Para gelandangan ini menjadi tuan rumah pameran lukisan, tapi protokoler presiden menolaknya. Meskipun mendapat penolakan, Hendra Gunawan tetap kukuh untuk merealisasikan konsepnya.
Akhirnya pameran itu terjadi juga. Ketika pameran benar-benar dibuka, tersaji sebuah pemandangan drama. Bung Karno terperanjat keget luar biasa melihat pemandangan yang tak biasa didepan matanya. Namun, bukanya marah kepada Hendra, melainkan Bung Karno manggut-manggut seraya memeluk Hendra. Kejadian ini akhinrya membuat Bung Karno menitikan air mata. "Setiap orang berhak melihat lukisan saya. Dan saya berhak memperkenalkan karya-karya saya kepada siapa saja" kata Hendra. Bung Karno amat menghargai gagasan "gila" itu. Menurut Bung Karno, setiap ide dan gagasan dari para seniman, apapun bentuknya, dianggap mempunyai nilai-nilai kemanusiaan. Baginya, “Gagasan seniman juga merupakan obsesi dibenaknya sendiri, karena setiap ide-ide kesenian sesorang harus dihormati”.
Melihat sosok Presiden Pertama Republik Indonesia ini tak bisa terlepas dari dunia seni. Pada era akhir 1950-an, Bung Karno dianggap sebagai presiden yang paling banyak mengkoleksi karya seni, terutama lukisan. Seni lukis bagi Bung Karno merupakan kumpulan gairah-gairah dalam hidupnya, yang membuat sesorang terus mendapatkan suntikan energi jiwa muda dalam aliran darahnya. Itulah mengapa Bung Karno selalu terlihat kobaran semangat muda. Dalam kalimat pembukaan otobiografinya, tulisan Cindy Adam, “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, untuk menggambarkan dirinya, cukup menyebutnya “mahapencinta”.
Bung Karno memberikan kata simple untuk menggambarkan seluruh dirinya hanya dengan satu kata “mahapencinta”. Itulah Bung Karno. Ia sangat mencintai negaranya, mencintai rakyatnya, mencintai seni, bahkan mencintai banyak wanita. “Aku bersukur kepada Yang Maha Kuasa, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni”, begitu ucap Bung Karno. Saat ini, sebagian orang lupa melihat sisi lain diri Bung Karno tentang seni dan seni mencintai, timbul pertanyaan, dari mana asal kedekatan Bung Karno dengan seni lukis? Bagaimana sumber bakat Bung Karno tentang karya seni lukis ini, sehingga ia sanggup selain menjadi kolektor juga menjadi kreator. Selain itu, apa hubunganya karya seni dengan jiwa muda Bung Karno dalam sisi mencintai wanita? Mari kita bahas disini.

Kesenian dan Sarinah
     Bung Karno pernah berbicara kepada salah satu pelukis istana, Dullah, tentang asal bakat dan kecintaanya kepada seni berasal. “Ingat, aku adalah anak Ida Ayu Nyoman Rai, keponakan Raja Singaraja, wanita dari pulau Bali”. Dengan mantap Bung Karno menyebut bahwa ia masih ada hubungannya dengan Pulau Dewata ini. Kita tahu, Bali merupakan suatu ruang yang meproduksi sosial budaya original, yang memadukan antara masyarakat “tradisional” Indonesia bagian Timur dengan kebudayaan Jawa. Bali adalah “Pulau Seni”. Di Bali, kesenian memang tercipta dalam bingkai kerangka filosofis yang berhubungan dengan religiusitas dan ritual keagamaan. Bahkan, orang Bali bisa dikatakan pertama melihat seni ketika matanya membuka untuk pertama kalinya didunia.
      Di Pulau Dewata ini, ketika orang pertama lahir, ia sudah bersentuhan dengan benda-benda upacara yang bersifat artistik seperti cili, lamak, ubag-abig, canang, sarad, lukisan dan arsitekstur bangunan. Kesan itulah yang mungkin terasa ketika Ida Ayu Noman Rai mengandung Bung Karno. Artinya, dalam diri Bung Karno memang sudah menggeliat sebelum dilahirkan kedunia. Ketika tumbuh kembangnya Bung Karno, semakin terlihat jiwa seninya. Hal ini bisa dilihat dari pemilhian jurusan Arsitektur dalam memilih pendidikan tingginya. Bahkan di Ende, misalnya, Bung Karno pernah membuat naskah sandiwara untuk membunuh kesepiannya ditengah pembuangannya. Setidaknya ada 12 naskah yang ia tulis selama pembuangannya ini. Makanya tak heran, apresiasi Bung Karno atas karya seni tidak terbatas kepada karya-karya yang tercipta belaka, namun juga terhadap kreatornya. Hal ini bisa dipahami dari cerita Bung Karno dan Hendra Gunawan diawal pmbukaan tadi.
       Bung Karno dalam beberapa kali kesempatan pernah menegaskan, bahwa kalau ia tidak terjun kedunia politik dan menjadi seorang presiden, mungkin ia sudah menjadi seorang pelukis. Dengan kecintaanya dengan seni, meskipun sesibuk apapun agendanya sebagai seorang presiden, tetap saja bakat dan kecintaanya terhadap seni lukis tak bisa dilepaskan begitu saja. Dalam beberapa kesempatan, Bung Karno menerusukan beberapa kebiasaan mudanya menciptakan karikatur untuk Koran Pikiran Rakyat, Bandung. Biasanya Bung Karno hanya melukis disebuah kertas dengan cat air.
      Mungkin disini Bung Karno sadar, bahwa dunia politik akan sangat menguras pikiran dan terutama menyita banyak waktu. Maka dari itu, Bung Karno segera menempatkan posisinya sebagai seorang “kolektor”. Sebagai seorang kolektor, Bung Karno sering berburu karya seni maestro dunia, baik karya seni lukis maupun patung. Perburuan koleksinya biasanya dilakukan ketika Bung Karno berkunjung keberbagai Negara didunia. Bung Karno menyempatkan diri “mencuri” waktu untuk shoping lukisan atau patung. Begitu juga ketika Bung Karno berkunjung keberbagai wilayah di Indonesia, kebiasaan untuk berburu karya seni tetap dilakukannya.
     Seperti ketika Bung Karno datang ke Yogyakarta, ia menyempatkan untuk berkunjung ke Sanggar Pelukis Rakyat, atau ketika ia berkunjung ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Ketika ia berkunjung ke Bali, ia “menyusup” ke Ubud, menemui seniman Rudolf Bonnet dan Walter Spies sang pembentuk sejarah seni rupa Bali modern dengan mendirikan organisasi “Pitamaha” itu. Ia juga memuji karya lukisan Anak Agung Gde Sobrat, mengaggumi goresan Ida Bagus Made Poleng, atau menyaksikan berbagai karya Le Mayuer de Mafres seniman asal Belgia yang menikahi Ni Pollok, seorang model lukisannya sendiri. Bahkan ada kisah terpatri di Bali ketika Bung Karno berkunjung ke rumah seni Le Mayuer ini.
      Antara tanggal 15-17 Juni 1950 bersama tamu Negara yang juga teman dekatnya, Jawaharlal Nehru, ia mengunjungi Le Mayuer. Pada pertemuan ini, Bung Karno membawa rombongan berjumlah 40 mobil. Kunjungan itu dilakukan pada malam hari dengan konvoi mobil kepresidenan. Setelah pertemuan itu, pada bulan November 1950, Bung Karno pernah berkirim surat kepada Le Mayuer agar Dullah, pelukis istana, bisa belajar di studionya di Sanur. Dalam surat ini, tersirat kedekatan antara Bung Kano dan Le Mayuer begitu dekat. Dari hubungan pertemanan dengan Le Mayuer, Bung Karno mendapatkan 4 karya dari Le Mayuer, yaitu lukisan “kembar” yang berjudul Bermain dalam Kolam (1950-an), dan Kenikmatan Hidup I dan II (1956).
       Bung Karno begitu terpesona dan terinspirasi dengan berbagai karya seni dari Bali setelah mengunjungi berbagai galeri lukisan dari para maestro pelukis. Makanya ia terinspirasi untuk membuat studio seni rupa. Bung Karno berusaha menghidupkan minat masyarakat umum dan mengajak para pemilik modal sebagai pendorong bagi seniman lukis dan patung untuk berani berkarya karena sebagian mereka tidak punya modal yang banyak. Dari inisiatifnya ini, Bung Karno memunculkan nama Tjio Tek Djien, yang mendirikan studio dibilangan Ciledug, Jakarta, menjelang akhir tahun 1960. Disini banyak orang-orang yang bergabung, salah satu namanya adalah Trubus dan Lim Wasim yang kemudian hari dikenal sebagai seniman handal. Mereka digaji dengan gaji harian 1.000,- dengan ketentuan harus menyelesaikan satu lukisan setiap harinya. Bandingkan dengan honor Pelukis Istana yang kala itu bergaji Rp. 5.000,- per bulan.
      Untuk mendistribusikan, sosialisasi dan merangsang market seni rupa, Bung Karno mendorong para pengusaha mendirikan galeri. Maka di Sanur berdirilah Galeri Pandy milik James Pandy. Di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan juga berdiri beberapa Galeri lukis. Sementara itu, di Istana Kepresidenan juga dipampang berbagai koleksi lukisan Bung Karno, layaknya sebuah galeri. Tak jarang berbagai tamu asing, pejabat tinggi hingga para rombongan bintang film atau para diplomat asing yang ditunjukan soal lukisan sebelum memulai diplomasi. Dimata publik, Bung Karno dianggap sebagai sosok yang revolusioner dan penuh gairah, sehingga tak mengherankan koleksi Bung Karno dipersepsikan menyimpan paradigma “gelora politik, perjuangan, dan revolusi”.
      Namun, dibebrapa sisi, tafsiran itu justru keliru, karena banyak koleksi seni lukis Bung Karno justru yang terbanyak mengenai sesuatu hal yang cantik, dan itu ditemukan dari sosok perempuan. Selain koleksi lukisan wanita, juga terbanyak terdiri dari pemandangan alam, bunga-bunga serta abtstak benda mati. Sementara yang bertemakan perjuangan dan revolusioner tak lebih dari 10 % belaka. Bung Karno lebih mementingkan “teknik” ketika menentukan lukisan yang berkualitas. Karena dengan teknik, segala yang dikreasikan akan muncul dengan hasil keindahan. Ia pernah berucap, “A thing of beauty is a joy forever”, atau barang indah adalah kenikmatan yang kekal. Pepatah ini dipegang sebagai sebauh prinsip. Termasuk penglihatannya terhadap sosok perempuan, biarlah akan dibahas belakang.
       Sosok perempuan ini pernah menjadi fenomena ketika lukisan itu Bung Karno-lah sendiri yang meluksinya. Lukisan itu diberikan nama oleh Bung Karno dengan “Rini”. Menurut beberapa sumber, lukisan itu tercipta dari kunjungnya ke Bali. Ketika Bung Karno sedang beristirahat di Bali, ia mengajak pelukis istana Dullah. Seperti biasanya, Dullah mencoba untuk membuat lukisan. Sebelum membuat lukisan, terlebih dulu membuat sketch (garis-garis), namun kerangka lukisan itu ditinggalkan oleh Dullah karena kembali ke Jakarta. Beberapa bulan berikutnya, pada awal Desember 1958, Bung Karno kembali lagi ke Bali untuk beristirahat. Dullah sendiri tidak ikut serta. Selama 10 hari Bung Karno berada di Bali, disela-sela kegiatan, ia menyelesaikan sketch Dullah. Tentu saja dalam penyelesaian lukisan ini, Bung Karno menambah dan merubah sketch semula.
       Setelah jadi, lukisan itu diberi nama Rini. Beberapa sumber mengatakan bahwa Rini ini adalah Sarinah. Sosok perempuan yang pernah menjadi pengasuh Bung Karno ketika kecil. Sarinah merupakan salah satu perempuan yang berjasa memberikan pola asuh ketika Bung Karno kecil. Sosoknya yang lembut dan bercirikan perempuan khas Indonesia membuat sosoknya tak tergantikan. Tidak ada yang tahu pasti kenapa lukisan yang dibuat Bung Karno diberikan nama Rini. Menurut Soimun HP, lukisan yang sama dengan judul “Sarinah”, karena menurut Bung Karno, Sarinah merupakan ciri wanita Indonesia yang sesungguhnya.
      Dia menambahkan tentang versi lain tentang proses dibuatkannya luksian itu. Konon, ceritanya ketika Bung Karno sedang berada disebuah pantai di Bali, ketika seorang wanita lewat diboncengkan sepeda oleh tunangannya, entah mengapa, Bung Karno merasa tertarik dengan wanita tadi dan menawarkannya sebagai model dalam lukisannya. kemudian dua orang tadi diminta oleh Bung Karno untuk berhenti, gadis itu menerima tawaran Bung Karno. Gadis itu diminta menggantikan bajunya dengan kebaya yang lebih bagus yang dipinjamkan oleh Bung Karno pada saat itu juga. Sosok wanita tadi dipoles sedemikian rupa, dan ditata dirapikan, dan Bung Karno mulai melukis. Setelah selesai melukis, Bung Karno bertanya apa yang diingankan wanita itu sebagai imbalan. Wanita remaja tadi hanya meminta kemeja dan bahan celana untuk pacarnya. Keinginan ini diluluskan oleh Bung Karno disertai dengan sedikit uang.
      Beberapa kisah terbentuknya lukisan Rini menggambarkan sosok Bung Karno selain menjadi kolektor juga menjadi “eksekutor” dari sebuah karya seni. Kecintaannya terhadap seni juga terlihat dari sistem pemerintahanya. Seperti pembuatan lambang Negara Garuda Pancasila, Bung Karno punya andil besar didalamnya. Bahkan desain pakaian-pakaiannya, terutama jas khasnya, banyak yang ia desain sendiri. Termasuk kedalam penamaan-penamaan jargon nama-nama dalam sistem pemerintahannya sangat diperhatikan dan dipikirkan dengan baik-baik. Seni pemerintahannya juga terlihat dari berbagai kisah hidupnya. Bung Karno menegaskan, bahwa barang indah merupakan kenikmatan yang kekal. Inipun yang menjadi pegangan kehidupan pribadinya. Jiwa muda tetap menjadi geloranya ketika menempati pucuk pimpinan. Salah satunya dengan memperistri sosok wanita Salatiga, Hartini Sukarno.

Darah Muda dan Kisah Cinta
Kecintaan Bung Karno terhadap karya seni bisa dilihat dari beberapa koleksinya lukisannya, salah satu kecintaanya juga bisa dilihat dari sosok perempuan. Bahkan lukisan Rini yang dibuat oleh Bung Karno merupakan sosok wanita berkebaya yang sedang duduk manis. Selain sebagai pengaggum lukisan, Bung Karno juga merupakan “pengaggum” perempuan. Karena kegakumannya terhadap kecantikan ciptaan Tuhan ini, ia berusaha menjadi “pemilik” dari sejumlah perempuan. Dan memang beberapa perempuan yang diperistrikannya memang tergolong cantik secara fisik.
Dalam sosok seorang perempuan, sering juga membawa pengaruh terhadap kepemimpinan laki-laki. Mungkin kita masih ingat pada kisah tentang Presiden AS, Clinton membuat skandal dengan sekertarisnya, yang mengakibatkan Clinton nyaris kehilangan kursi kepresidennya. Atau kisah cinta yang akhirnya membuat sebuah bangunan masjid yang demikian megah dan indah demi seorang istri yang dicintainya, bangunan itu adalah Taj Mahal. Sukarno pernah didampingi oleh sosok perempuan cantik pada era 1930-1940 dalam sosok Inggit Gunarsih yang mengantarkannya kedalam pintu gerbang kemerdekaan.
Menurut Anhar Gonggong, ada 3 wanita yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan pribadinya. Dia adalah, Inggit Gunarsih, Fatmawati dan Hartini. Bila Inggit merupakan sumber kekuatan dan sumber energi ketika menghadapi perjuangan mengusir kolonial. Posisi Fatmawati, merupakan sebagai “ledy first” atau ibu Negara ketika berposisi sebagai seorang Presiden. Sedangkan perempuan ketiga adalah Hartini. Hartini tampil sebagai seorang perempuan dalam segala aspek manusia perempuannya itu.
Sebagai seorang janda, Hartini mendapatkan sambutan dan cercaan yang secara psikologi sangat berat. Pertemuan dengan Hartini didalam rumah Walikota Salatiga sangat berkesan oleh Bung Karno, Bung Karno lagi-lagi melihat “keindahan” hingga ia menulis sebuah surat yang salah satu bagian isinya, “Tuhan telah mempertemukan kita Tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir”. Namun, cinta antara keduanya akhirnya membawa kedalam sebuah pernikahan resmi. Meskipun berbagai cercaan kritik dihadapi oleh Bung Karno dan terutama kepada Hartini, tapi Bung Karno tetap mempertahankan. Mereka menggunakan simbol kesenian dengan menggunakan nama-nama samara dengan Srihana-Srihani. Srihana disimbolkan sebagai Bung Karno, dan Srihani sebagai Hartini.
Setelah mendapatkan Hartini sebagai salah satu istri resminya, hartini benar-benar membaktikan dirinya kepada sosok Bung Karno. Maka dia berusaha untuk memenuhi tugasnya, sebagai seorang perempuan, yang jadi istrinya dari orang besar. Dia menempatkan Hartini sebagai sosok yang memang layak dicintai, dan Bung Karno mendapatkan balasanya hingga akhir hayatnya. Itulah hasil “penglihatanya” untuk memilih sebuah keindahan ciptaan Tuhan. Itulah Bung Karno, memilih pasangan hidupnya dengan nilai-nilai seni.
Karena menurut Bung Karno, semuanya diimbuhi dengan seni. Diplomasi harus melibatkan seniman, mengatur rakyat harus dengan seniman, menata kota dan lingkunganpun harus dengan seniman. Hingga tahun 1965, koleksi lukisan Bung Karno tercatat lebih dari 2.000 buah. Koleksinya dari berbagai maestro dunia, seprti Diego Rivera, Ito Sinshui, William Russel Flynt, dan sebagainya.
Koleksi semua itu sudah tersusun dari sebuah buku. Pertama tahun 1956 dalam 2 jilid. Ahun 1961 terbit 2 buku selanjutnya, yang semuanya disusun oleh Dullah. Tahun 1964 muncul 5 jilid lain yang merupakan pelengkapan, karena koleksi Bung Karno terus bertambah. Buku ini disusun oleh Lee Man fong. Semua kitab itu mencantumkan sekitar 500 lukisan pilihan. Tapi Bung Karno menilai masih ada sekitar 500 karya pilihan lain yang patut dibukukan. Maka tahun 1966, untuk merayakan ulang tahun ke-65, direncanakan terbit jilid VI sampai X, susunan Lim Wasim. Namun, kerusuhan politik meletus. Bung Karno pun lengser.
Bung Karno wafat pada 20 Juni 1970, setelah empat tahun dalam "pengasingan". Kita tak tahu, Putra Sang Fajar ini redup karena sekadar sakit, atau lantaran selama 40 bulan dipisahkan dari dunia seni lukis dan istri-istrinya yang sebelumnya memberinya gairah hidup dan napas panjang.

Referensi:
Nugroho, Arifin Suryo. 2009. Srihana-Srihani, Biografi Hartini Sukarno. Yogyakarta: Ombak.
Majalah Intisari, “Bung Karno dan Seni Rupa”. Bulan April 2001. Online, http:// www.indomedia.com/intisari/2001/Apr/BK.htm diakses 20 September 2017.
Susanto, Mikke. 2012. “Presiden Sukarno dan Pelukis Le Mayuer di Bali”. Urna, Jurnal Seni Rupa. Vol 1, No. 2 (Desember 2012), Hlm. 107-213.
Ditulis oleh Osi Krismonika, untuk Mengikuti Lomba Esai tingkat Nasional, "Sukarno, Pemuda dan Seni" yang diadakan oleh Kinara Vidya Pada tanggal 25 September 2017. Tulisan ini mendapatkan Juara 1.
Osi Krismonika dan Ketua Kinara Vidya, Dr. Sri Margana

Friday, September 22, 2017

Mbolang sebelum Pulang ke SIKK

Menuju ke Karamuncing
arifsae.com - Setelah minggu kemarin bergelut dengan Dapodik, saya kali ini akan ke SIKK untuk menerima dana dari pemerintah untuk pencairan BOP dan Banpen. Kami berangkat pagi-pagi, pertama saya antar dulu Pak Wawan, baru kemudian saya jemput Bu Aji, untuk motornya saya titipkan ke tempat Simpang Sapi.

Saya menaiki Bus Sida yang seperti biasa membutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalnanan. Kami sampai di Terminal Inanam terlebih dulu mengisi perut kami yang kosong. Untuk setelahnya menggunakan kendaraan umum, maklum saja saya belum pernah menggunakan kendaraan umum sebelumnya. Biasanya, kendaraan yang saya naiki untuk pergi kemana-mana menggunakan grab kali ini saya diajari menggunakan kendaraan umum.

Tujuan kami kali ini adalah ke Karamuncing. Sebuah kompleks pertokoan yang memang menyediakan perlengkapan elektronik, dari handphone hingga komputer. Disana selain lihat-lihat barang, saya juga sempat membelikan temperglass dan kesing untuk tablet S2.

Setelah puas berjelajah di Karamunsing, kami putuskan untuk makan dan melanjutkan ke Centerpoint, untuk menuju kesana saya jalan kaki. Lumayan jauh dan panas, kondisi jalan yang panas membuat kami menikmati jalan ini dengan bermandikan keringat.

Sesampainya disana, karena hari sudah sore, kami makan terlebih dulu. Agendanya juga lanjut jalan-jalan lagi. Rencana kami lanjutkan dengan menonton Kings Man yang ke 2. Film yang dulu pernah saya tonton akhirnya melihat kembali seri berikutnya. Film yang luar biasa kerennn....kami menontonnya dan kembali lagi ke SIKK malam-malam.[]

Thursday, September 21, 2017

Akrab Dengan Hujan-Hujanan

arifsae.com - Masak menjadi kegiatan peratma dihari ini, karena pagi-pagi teman-teman mau ke Bandar Sandakan. Pak Rahmat dan Pak Radin semalam menginap dirumah, jadi tidak enak lah membiarkan mereka kelaparan, jadi saya masaka, meskipun masak mie instan. Hahahaaa...
Mereka yang Mau ke Sandakan

Jam 7 pagi, mereka dijemput oleh Peret yang akan ke Bandar. Mobil Peret ini memang sudah sering dijadikan sebagai tempat para kawan-kawan untuk pergi ke Bandar untuk jalan-jalan atau belanja keperluan sekolah. 

Agenda hari ini dilanjutkan untuk mengajar ke Terusan 1, saya dan Pak Wawan beragenda untuk mengajar ke Terusan 1 dengan menggambar. Maklum, suadah lama juga anak-anak sudah tidak menggambar. Gambar kali ini menggunakan metode lilin, jadi melukis lilin dulu kemudian baru digunakan dengan car air.

Keseruan terjadi disini, anak-anak yang akan menggambar berebut. Padahal sudah diatur juga, tapi bagaimanapun anak-anak yang jarang melihat dan bersentuhan dengan melukis sangat berantusias untuk menggambar, jadi sedikit tidak teratur.
Mereka Memainkan Dengan Melukis

Selepas mengajar, saya dan Pak Wawan sempat mampir ke rumah Haji Basoo, kami dijamu dengan berbagai hidangan. Tujuannya, Haji Basoo mengungang kerumahnya untuk sekedar menjamu, kalau-kalau Pak Wawan pulang ke Indonesia. Jadi kami habiskan untuk makan dan ngobrol-ngobrol disana.

Selepas itu, saya membetulkan motor di Simpang Sapi, disana merupakan bengkel terlengkap disini. Jadi kami memang memilih tempat ini untuk membetulkan motor kami yang tempo hari rusak karena motor yang mati setelah menerjang hujan deras.

Lagi-lagi, setelah pulang, hujan menyabut kami lagi. Meskipun baru diperbaiki, motor itu tetap saja diterjang dengan hujan-hujanan. Jadi memang hari ini macam akrab dengan hujan-hujanan, sekalian sudah basah kuyup, saya dan Pak Wawan mencari Daun Singkong untuk dimasak.

Hujan-hujanan yang saya alami kali ini lebih nikmat, karena setelah pulang kerumah, teman-teman yang baru pulang dari Bandar membawa oleh-oleh berupa daging Sapi. Wah, jadi masak-masak Daging Sapi hari ini. Mantap.[]

Wednesday, September 20, 2017

Tempat Transit Kerabat Dekat

arifsae.com - Pagi ini dikejutkan dengan motor yang mogok. Mungkin gara-gara efek semalam karena hujan yang sangat lebat. Kondisi ini mengakibatkan motor jadi sedikit bermasalah. Seperti riting tak berfungsi, lampu mati, dan kerusakan kecil lainnya.

Pagi ini, agendanya mengajar ke Andamy, jadi memang harus mengajar kesana meski motor banyak kendala. Selesai mengajar, saya dan Pak Wawan sedang malas masak, jadi untuk urusan makanan kami pergi ke Kedai Baru. Makanan juga tersedia begitu nikmat disini, mungkin karena lapar, jadi ketika melihat makanan serasa ingin menghabiskan.
Anjing di Kedai Baru
Sore harinya, ada tamu dari Lahadatu yang pulang karena ada keperluan mendakak, jadi ada Pak Rahmat yang menjemput ke Simpang Sapi. Disana Pak Bima sebagai penanggung jawab dan kordinator outbond di JAIM 4.

Pak Rahmat datang ke rumah bersama Pak Bima, tapi sebelumnya saya mengantarkan Bu Aji, meski motornya mati, tapi tetatp saja saya mengantarkannya. Ah, motor itu harus diperbaiki. Tapi sebelumnya menikmati dulu malam ini dengan teman-teman yang baru ke Lahadatu ini. Dan besok mereka akan pergi ke Bandar Sandakan, jadi ramai sudah malam ini.[]


Tuesday, September 19, 2017

Survey Ke Tawai, Persiapan Kemah yang Tak Mewah

Pemandangan di Tawai

arifsae.com - Hari ini, saya dan Pak Wawan berencana untuk survey tempat Persami nanti. Ada 3 lokasi yang rencananya akan dijadikan tempat berkemah, pertama di Bawah yang berada di Telupid. Kedua di Bakung-Bakung dan terakhir pilihan ada di Andamy. Untuk Lokasi pertama, memang lumaan jauh, jadi kami harus menuju kesana pagi-pagi.

Kami menuju ke Tawai yang berada di Telupid menggunakan motor. Perjalanan yang membutuhkan waktu 1 jam lebih kami lalui dengan mampir dulu ke Pekan Telupid. Disana saya sempatkan untuk belanja dan makan pagi terlebih dulu, selain itu, belanja keperluan pribadi dan sedikit dari keperluan sekolah. 

Sempat juda saya ambil uang terlebih dulu. Makan yang khas menjadi idola ketika ke Telupid adalah makan di Saeful, Kedai makan yang dimiliki oleh orang Jawa Timur. Untuk rasanya, lumayan enak, rasa-rasa Jawa masih terasa dilidah, meskipun rasa Malaysia sudah mendominasi. Tapi cukup untuk mengisi perut yang kosong.

Selepas selesai di Pekan Telupid, jam sudah menunjukan pukul 12.00 lebih, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Tawai. Tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu 30 meinit dari Pekan Telupid. Sesampainya disana, pemandangan indah tersaji, hutan yang masih asri jelas terlihat.
Memasuki Pintu Masuk

Sebelum masuk, saya tanya-tanya ke Petugas terlebih dulu. Dan ternyata disana serba membutukan biaya sendiri. Satu petak saja, kami harus membayar 10 RM Malaysia, belum lagi hari kedua. Jadi Setiap malam harus membayar. Aihh, mahal juga. Saya dan Pak Wawan memikirkan dulu, sambil berfikir, kami melihat-lihat situasi dan kondisi dilokasi Tawai ini.

Tidak lengkap rasanya kalau tidak mencoba mandi disini. Karena selain disediakan tempat untuk kemping, disini juga tersedia sumber air yang lumayan jernih untuk mandi-mandi, tidak sia-siakan, kami langsung mencoba beberapa lokasi mandi yang airnya sangat jernih.

Puas mandi, kami berencena pulang. Tapi seblum pulang, saya lihat Pak Wawan memperbaiki laporan revisi yang ditunggu oleh Bu Ari, selaku penangungjawab BOP dan Bu Siti selaku penanggungjawab BOS. Aih, entah bagaimana nasibnya nanti kalau Pak Wawan pulang. Dan itu sebentar lagi.

Hari sudah sore, waktu menujukan pukul 17.00, suasana mendung sangat terasa. Kami tetap putuskan untuk pulang, meski tahu, kondisi hujan pasti akan terjadi, dan kami tak bawa mantel. Benar saja, kami bertemu dengan hujan yang sangat lebat. Mengerikan. Tapi tetap saja kami lanjutkan perjalanan. Alhamdulilah, sampai juga dirumah dengan selamat, meskipun semua baju dan tas basah kuyup. Hari ini menjadi pertimbangan untuk mengambil keputusan untuk pengadaan Persami.[]

Monday, September 18, 2017

HP [Dikira] Hilang, Ditambah Mau Ditilang

Simpang Sapi

Sunday, September 17, 2017

Pulang ke Ladang dengan Membolang

Lanjut Materi

Saturday, September 16, 2017

Bergelut Dengan Dapodik di SIKK

Materi Dapodik

Friday, September 15, 2017

Tantangan ke SIKK Karena Undangan


arifsae.com - Pagi-pagi harus siap-siap untuk pertama kalinya pergi ke SIKK. Biasanya kalau pergi kemana-mana saya selalu ditemani oleh Pak Wawan, setidaknya untuk memandu jalan agar tidak tersesat. 

Untuk pergi ke SIKK, sebenarnya juga membutuhkan waktu yang lumayan lama. Sekitar 4 sampai 5 jam perjalanan. Saya sudah bertanya kesana-kemari, untuk mengetahui rute perjalanan ini. 

Akhirnya, pagi-pagi saya berangkat juga ke SIKK. Karena motor hanya satu, akhinrya saya bolak-balik. Pertama saya bersama Pak Wawan, setelah sampai Simapng Sapi, Pak Wawan menunggu disana dan saya menjemput Bu Aji.

Butuh waktu yang lama. Sesampainya disana, saya tidak menjumpai Bus. Sempat menunggu beberapa lama di Simpang Sapi ini. Kata Pak Wawan, ada bus lagi sekitar jam 12an. Buset, lama amat. Sebenarnya sempat beberapa kali saya ditawari oleh mobil-mobil kecil. Tapi kami lebih memilih untuk menuggu Bus lewat.

Simpang Sapi
Ditunggu-tungggu tak datang juga. Akhirnya saya dan Bu Aji menerima tawaran untuk menaiki Bus Mini, lumayan, karena selain nyaman, juga harganya sama dengan menaiki Bus besar. Dalam Bus Mini ini juga tak banyak orang, hanya sekitar ada 9 orang. Harga yang harus kami bayarkan adalah RM 35-40. Tergantung kita nego kepada supirnya.
Kondisi di Bus

Perjalanan yang membutuhkan waktu 4-5 jam ini akhirnya tak terasa, karena saya kebanyakan tidur. Sampai di Terminal Inanam sekitar pukul 15.00 Waktu Malaysia. Sesampainya di Terminal Inanam, kami tidak langsung pergi ke SIKK. Karena perjalanan yang kami tempuh lumayan lama, kami putuskan untuk beberapa menit duduk di Terminal ini.
Terminal Inanam
Puas duduk di Terminal Inanam, saya dan Bu Aji akhirnya memesan Grab. Grab disini juga ada, sama seperti di Indonesia. Harganya sedikit berbeda, karena jarak tempuh disini lumayan jauh, harganyapun lumayan mahal. Tapi Tak apalah, toh nanti di klaim. Perjalanan dengan Grab ini tak lama, sekitar 30 menit akhirnya kami sampai di SIKK. Sekolah induk bagi CLC-CLC yang ada di Sabah dan Sarawak.
SIKK dari Depan
Kesempatan ini merupakan kesempatan pertama saya berangkat ke SIKK sejak datang ke Malaysia pada tanggal 9 Agustus 2017 kemarin. Kami sampai ke SIKK masih sangat jarang orang, mungkin besok baru akan berdatangan. Karena belum makan, dan makanan sudah tersedia, akhirnya kami pun makan.

Setelah makan selesai, saya menuju masjid dan melihat sekelilih SIKK. Ada acara yang sedang berlangsung. Saya sendirik tak tahu acara apa yang sedang berlangsung. Biarlah.
Sekitar SIKK

Malamnya, saya akan pergi ke One B. Mall yang dulu pernah menjadi tempat pertama kali menginap di Malaysia. Karena dengan ibu-ibu dan kuota untuk naik Grab sudah penuh, saya niatnya tak jadi pergi. Tapi bapak-bapak angkatan 6 juga ternyata mau pergi jalan-jalan. Dan saya ikut juga lah. Daripada di SIKK belum juga banyak orang.
Lokasi Mall One B.
Tidak lama sampai di Mall, teman saya, Pak Deddy mendapatkan kabar kalau kakaknya dikampung meninggal dunia. Turut berduka. Kami pun tak lama disini, karena ada kabar tadi sehingga pulahlah saya ke SIKK.[]

Thursday, September 14, 2017

Bertemu Polis Malaysia, Padahal tak Punya SIM Internasional

arifsae.com - Kendaraan motor yang biasa saya naiki melaju kencang. Seperti biasa, saya dan Bu Aji kali ini akan mengajar di Terusan 1. Tempat yang rutin kami datangi untuk sekedar menelurkan beberapa derajat ilmu. Tak ada peristiwa aneh, hingga akhirnya dijalanan, saya dan Bu Aji melihat suatu mobil.

Sebenarnya ketika melihat mobil yang lewat, seperti biasa. Tak ada yang aneh, tapi ketika salah satu mobil yang kami temui menembakan lampu. Tak seperti biasanya, mobil putih yang tak biasa itu berisi sosok laki-laki yang menunjukan tongkat, isarat untuk minggir ketepian. Dari jauh, saya dan Bu Aji tahu, bahwa yang kami temu ini adalah Polis Malaysia.

Perasaan yang bercampur, seperti di Indonesia, ketika melihat operasian Polisi yang sedang melakukan operasi surat-surat kendaraan bermotor. Tapi perasaan yang saya alami memang tak biasa, ini dinegara orang, bukan di Indonesia. Operasi yang dilakukan pun tak seperti di Indonesia, kalau di Indonesia operasi Polisi menetap disuatu tempat yang memang strategis, tapi di Malaysia, Polis yang mencari kendaraan, dan sebagain besar kendaraan yang dihentikan merupakjan kendaraan bermotor.

Sontak rasa yang bercampur itu harus segera mendapatkan solusi, apalagi saya berboncengan dengan ibu-ibu, yang sebagian besar "grasa-grusu". Ketegangan menyelimuti kami. Kata Bu Aji, dia takut kalau nanti dipenjara.

"Tenang saja, Bu Aji. Slowww". Saya menenangkan diri sendiri, meskipun itu sulit. Tapi masa iya saya juga ikut-ikutan ga tenang. Rumus orang Jawa itu selalu mengedepankan ketenangan. Itu yang saya praktekan.

Motor segera saya pinggirkan, menepi. Karena memang sudah dihadang dari depan. Saya harus hadapi ini, meski tak punya SIM Internasional. Modal saya hanya SIM C Indonesia dan Passport. Bu Aji sempat merekam detik-detik percakapan kami, mari kita saksikan bersama-sama berikut ini,
Untungnya, polis ini tak terlalu mencaricari kesalahan. Saya hanya menunjukan SIM C Indonesia dan hanya berkata, "SIM ini bisa guna di negara ASEAN", sambil saya menunjukan Passport untuk menguatkan argumen. Saya juga menjelaskan kalau kami adalah Cegu yang akan mengajar di Terusan 1. 

Akhirnya polisi itu mengerti dan mempersilahkan kami untuk melanjutkan perjalanan. Senam jantung yang kami lalu akhirnya berakhir sudah, tidak banyak tanya polis ini, karena memang menurut Pak Wawan, Polis disini sangat menghormati Cegu yang mengajar. Karena kami dijamin resmi.
Sampai di Terusan 1
Kami melanjutkan perjalanan dengan perasaan yang was was. Proses mengajar yang kami lakukan pun tak terlalu terpengaruh oleh kejadian tadi. Selesai mengajar, rutinitas yang biasa kami lakukan adalah melakukan makan di Al Kafi. Menu faforit adalah ayam Penyet, 
Ayam Penyet Al Kafi
Sore harinya, setelah pulang mengajar dari Terusan 1, ada Pak Rahmat dan Pak Bima. Karena nanti malam Pak Bima dan Pak Bintang akan pergi ke Lahadatu untuk menyelesaikan urusan JAIM 4. Dan Pak Rahmat dan saya akan mengantarkan mereka ke Simpang Sapi.

Tidak tanggung-tanggun, jam 12 malam saya harus mengantarkan mereka kesana. Dan okelah, yang penting ada temannya. Hari ini harus istirahat, karena besok akan meneui tantangan untuk pergi ke SIKK.[]

Wednesday, September 13, 2017

Mandi Bersama Bersihkan Tenda

Mandiin Motor

arifsae.com - Pagi-pagi seperti biasa setiap hari Rabu saya mengajar di Andamy. Mungkin karena bangun kesiangan, ketika saya berangkat kesekolah, di tengah jalan ternyata saya tidak pakai helm, akhirnya saya balik lagi. Karena kalo disini, orang yang tidak pakai helm akan dikenakan denda sebesar RM 50. Setara 160ribu ketika melewati gaide. Makanya saya bela-bela untuk mengambil lagi helm dirumah. 

Setelah selesai mengajar, giliran saya memahami gagalnya ke JAIM 4. Gara-gara ikut gagal JAIM 4, kami berencana untuk mengadakan perkemahan mandiri. Rencananya saya akan mengadakan perkemahan perpisahan,  karena memang Pak Wawan akan berakhir kontrak bulan Oktober nanti. Jadi kami mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kelancaran perkemahan. Salah satunya adalah dengan mempersiapkan tenda-tenda yang akan dipergunakan saat perkemahan nanti. 


Makanya untuk mempersiapkan hari itu, kami telah memeriksa tenda-tenda sebelumnya. Ada beberapa tenda yang kami miliki, namun ada beberapa yang memang sudah rusak dan ada beberapa yang masih bagus. Nah tenda yang masih bagus itu kami bersihkan. Tidak dikamar mandi, tentu akan susah membersihkannya. Makanya lebih bagus di sungai yang lebar. Dan anak-anak tentunya akan sangat bersemangat. 


Namanya anak-anak, disuruh bersihkan tenda malah sibuk mandi-mandi sendiri. Tapi biarlah, biarkan mereka menikmati kebersamaan asalkan tendanya bersih. Saya juga bersihkan motor sekalian. Mumpung di sungai yang banyak airnya. 

Akhirnya cuci tenda hari ini selesai juga. Banyak cerita di sungai, karena mereka punya keinginan untuk balik ke Indonesia. Seperti Aiman dan Mirna yang akan balik bulan ini. 

Selain cerita anak-anak, ada juga ceritanya Ibu Tina, guru pamong dari Andamy yang akan menikah besok hari. Setelah selesai mandi, kami tidak langsung pulang. Banyak cerita tertuang di moment sore ini. Salah satunya tentang o pernikahannya Tina. Menurutnya, dia belum mau untuk menikah tapi dipaksa oleh orang tuannya. Tapi bagaimanapun dia akhirnya tetap setuju. 

Semoga menjadi keluarga sakinah mawadah dan rakhmah ya Ibu Tina. Dan tetap melanjutkan kebiasaanya untuk mengajar di SD Andamy. Tapi kalaupun tidak, kami akan menerimanya. []
Mengobrol Ria Setelah Bersihkan Tenda