Wednesday, January 10, 2018

Sambutan Bupati Purbalingga, H. Tasdi, SH, MM dalam Buku Biografi Usman Janatin

KATA SAMBUTAN
H. Tasdi, SH., MM.
(Bupati Purbalingga Periode 2016-2021)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, saya menyambut baik dengan kehadiran buku yang berjudul Patriot Bangsa dari Kota Perwira: Biografi Usman Janatin, 1943-1968 ini dengan rasa syukur terhadap kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak lupa sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada junjungan Nabi Agung, Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Buku yang mengangkat seorang tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Kabupaten Purbalingga ini akan mengantarkan generasi muda menjadi lebih mengenal dan meneladani sikap nasionalisme dan patriotisme yang tertanam dalam diri Usman Janatin.
Kabupaten Purbalingga sendiri mempunyai slogan “PERWIRA”, yang bermakna secara harfiah gagah dan berani atau seorang sosok pahlawan. Penggunaan nama ini tidak berlebihan, karena memang di Kota Purbalingga ini lahir berbagai tokoh pahlawan, yang diakui baik secara lokal maupun nasional. Misalnya saja nama Panglima Besar Jenderal Soedirman yang merupakan asli kelahiran dari Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Jasanya tentu tidak diragukan lagi oleh Bangsa Indonesia pada umumnya.
Nama lain yang menjadi sosok Pahlawan Nasional dari Kabuaten Purbalingga tentunya yang menjadi topik dalam buku ini, Usman Janatin. Dia berperan dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan jargon “Ganyang Malaysia” ini. Didalam buku ini, tersaji kehidupan Usman Janatin dari kecil hingga diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Buku ini menjadi penting bagi Kabupaten Purbalingga karena memang masih minimnya buku tentang Usman Janatin tersebut. Oleh karena itu, atas nama Pemerintah Kabupaten Purbalingga, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada saudara Arif Saefudin yang telah berhasil menyusul buku ini.
Untuk itu, kami menyambut baik dengan diterbitkannya buku Patriot Bangsa dari Kota Perwira: Biografi Usman Janatin, 1943-1968 ini, karena dengan diterbitkannya buku ini, dapat memberikan berbagai informasi dan gambaran tentang biografi Usman Janatin, sehingga dapat menumbuhkan ketauladanan dalam menjalani kehidupan kebangsaan bagi generasi muda Kabupaten Purbalingga khususnya, dan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya.
Akhirnya, semoga buku ini dapat membawa manfaat bagi Kabupaten Purbalingga sesuai dengan harapan kita bersama. Semoga hal yang baik ini dapat diteruskan, terutama penulisan-penulisan buku tentang Kabupaten Purbalingga dimasa-masa yang akan datang.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
                                                            Purbalingga, 18 Desember 2017
Bupati Purbalingga
H. Tasdi, SH., MM.

Friday, December 22, 2017

Kata Pengantar Buku "Dialektika Pengelana Pena"

Buku Siap

Monday, December 11, 2017

Pengantar Penulis Buku Biografi Usman Janatin

Revisi ke-2 
 Alhamdullilah, dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, kerjasama antara penulis dengan Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selesai dengan terbitnya buku ini. Buku ini disusun dalam rangka untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan kearifan dan kekayaan nilai-nilai sejarah bangsa Indonesia. Dengan tujuan itu, pada awal tahun 2017 Direktorat Sejarah melalui program Fasilitasi Komunitas Kesejarahan Tahun 2017 memberikan bantuan kepada individu ataupun kelompok masyarakat di Indonesia untuk mengangkat nilai-nilai sejarah yang terkandung didalam lingkungan sekitar.
Dengan semangat untuk melindungi, mengembangkan dan memperkuat segala inisiatif pengembangan kesejarahan di Indonesia, maka Direktorat Sejarah membagi bantuan ini kedalam 5 (lima) bagian fasilitasi, (1) Penulisan Sejarah Lokal untuk Guru (MGMP) Sejarah; (2) Penulisan Sejarah untuk Umum; (3) Event Sejarah; (4) Pengembangan Aplikasi Kesejarahan; dan (4) Pembuatan Film Sejarah. Penulis mendapatkan bantuan fasilitasi yang pertama, yaitu penulisan sejarah lokal untuk guru-guru MGMP sejarah.
Tema utama yang penulis pilih adalah sosok Pahlawan Nasional yang berasal dari Kabupaten Purbalingga, yaitu Janatin alias Usman bin Haji Mochammad Ali. Mengapa memilih Janatin? Kita mungkin sangat familiar dengan nama “Panglima Besar Jenderal Soedirman”,  yang hampir disemua kota besar di Indonesia terpampang nama sang Panglima Besar tersebut. Jenderal Soedirman merupakan seorang Pahlawan Nasional yang berasal dari Kabupaten Purbalingga. Namun, apabila menyebut nama Usman Janatin, mungkin akan terdengar asing ditelinga kita. Itulah salah satu alasan penulisan buku ini.
Meskipun masih terdengan asing ditelinga, namun sosok yang juga berasal dari Kabupaten Purbalingga ini pernah mengorbankan nyawa demi membela harkat dan martabat bangsa pada masa Trikora dan Dwikora. Era ketika Republik Indonesia langsung dibawah komando Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Usman Janatin berkontribusi dalam situasi “panas” tersebut, ia dengan rekannya berhasil menjalankan tugas dari kesatuannya, Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL) untuk melakukan sabotese, infiltrasi hingga berhasil meledakan Hotel Mac Donald di Singapura, wilayah yang saat itu masih menjadi bagian dari Federasi Malaysia.
Usaha menjalankan tugas tersebut terhenti ketika Janatin tertangkap dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung oleh Pemerintah Singapura. Dengan usaha yang panjang, pemerintah Indonesia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan (setidaknya memperingan) hukuman Janatin dan temannya, namun semua usaha itu berbuah kegagalan. Oleh karena keberanian, ketabahan dan jiwa patriot yang tertanam dalam diri Janatin, maka ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasioanal oleh Presiden Soeharto dan diberikan Tanda Kehormatan Bintang Sakti berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 050/TK/Tahun 1968 tertanggal 17 Oktober 1968.
Meskipun nama ini sudah dianegerai Pahlawan Nasional sejak 17 Oktober 1968, namun nama Usman Janatin tidak bergitu “terkenal”, bahkan oleh warga Kabupaten Purbalingga sendiri. Oleh karena semangat yang dibawa oleh Direktorat Sejarah ini, maka mendorong penulis untuk mengangkat biografi tokoh ini kedalam sebuah buku. Hal ini menjadi urgent, selain untuk menambah referensi tentang Usman Janatin yang masih sangat jarang, juga menjadi ajang untuk mengingatkan sosok Usman Janatin kepada warga Kabupaten Purbalingga khusunya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Buku yang berjudul, “Patriot Bangsa Dari Kota Perwira: Biografi Usman Janatin, 1943-1968” ini akhirnya bisa terselesaikan dengan tanpa sesuatu halangan yang berarti. Meskipun untuk menuliskannya tidak mudah dan membutuhkan usaha yang keras. Karena disatu sisi, penulis harus berpindah tugas dari SMA Negeri 2 Purbalingga ke Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Negara Bagian Sabah, Malaysia. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat untuk menyelesaikan buku ini. Tentunya keberhasilan penyelesaian buku ini memerlukan kontribusi dari berbagai pihak. Untuk itulah dalam kesempatan ini penulis ingin menghaturkan rasa terima kasih kepada guru, Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum yang telah mengajarkan tentang pentingnya sejarah lokal, dan sekaligus pada kesempatan ini berkenan memberikan Kata Pengantar.
Tidak lupa, penulis haturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Bupati Purbalingga, H. Tasdi, SH, MM. yang berkenan memberikan Kata Sambutan dalam buku ini. Kata Sambutan dari Pak Bupati ini tidak akan lahir apabila tak dibantu oleh Pak Yudhia Permana, karena peran beliaulah akhirnya Kata Sambutan dari Pak Bupati ini berhasil dihimpun. Untuk itulah, penulis sampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya. Terkhusus lagi, kepada kelaurga besar Usman Janatin yang telah memberikan informasi untuk melengkapi penulisan ini, diantaranya Mbah Siti Rodijah, Mbah Siti Turijah dan Mbah Matori juga Mbah Artijo untuk informasi berharga yang sudah diberikan. Semoga diberikan kesehatan dan umur yang panjang.
Ketika sumber lisan tidak memuaskan dahaga penulisan, maka bahan-bahan arsip menjadi pilihan. Oleh karenanya, penulis haturkan terimakasih kepada pihak Perpustakaan Umum Daerah Purbalingga, Kantor Desa Jatisaba Kecamatan Purbalingga dan Jogja Lebrery Center (JLC) untuk koran-koran dan majalah lawasnya. Di Jakarta penulis ucapkan terimakasih kepada Sersan Kasianto yang menjaga Museum Korps Marinir, Jakarta Pusat, karena beliaulah yang memberikan akses terhadap sumber-sumber yang melimpah tentang sosok Usman Janatin ini. Semua tempat-tempat ini memberikan sumbangsih yang berbeda-beda untuk melengkapi isi buku ini.
Beberapa orang juga memberikan bantuan dengan cara yang istimewa. Dorongan, bantuan, semangat, dan persahabatan yang memecahkan penat pikiran ketika sedang bersama-sama dengan teman-teman di MGMP Sejarah Kabupaten Purbalingga. Terkhusus penulis ucapkan terimakasih kepada Pak Ketua, Arifin, S.Pd. yang memberikan bantuan-bantuan tak terlihat namun sangat terasa bagi penulis. Tidak lupa juga teman istimewa dalam proses penelitian, Jarwanto, S.Pd. yang memberikan rasa berbeda pada setiap proses “jalan-jalan” penelitian. Bantuan juga diberikan kepada Umu Hanifah, S.Pd. yang membentu dalam proses pembuatan laporan keuangan untuk dipertanggungjawabkan kepada pihak Direktorat Sejarah. Dan tentunya kepada seluruh teman-teman MGMP Sejarah Kabupaten Purbalingga yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Akhirnya, rasa cinta dan terimakasih penulis haturkan kepada isteri tercinta, Yuli Windarti, S.Pd. dan puteri kecil kami, Naira Ayudiasiya, yang terus mendukung setiap langkah kemana bahtera ini terarah. Penulis haturkan sembah kepada kedua orang tua, Bapak Suwarno dan Ibu Suwarti yang menyokong dengan doa dan tetesan air mata ketika selalu meminta di hadapan-Nya. Adik Khoiratun Sarifah dan seluruh keluarga besar Mbah Warsidi dan Mbah Kimah yang mendukung dengan cara spesial mereka masing-masing.
Penulis menyadari buku ini mempunyai banyak kekurangan dimata pembaca. Untuk itu, khususnya kekurangan-kekurangan dalam buku ini biarlah menjadi tanggung jawab penulis. Dengan kerendahan hati dihaturkan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak apabila ada bagian dari buku ini yang tidak berkenan. Semoga karya ini diterima amal jariahnya oleh Allah SWT sebagai salah satu amal kesalehan yang tak terputus. Amin.
Akhirnya, penulis ucapkan selamat membaca.

                                                           Sabah, Malaysia, Desember 2017
                                                            Arif Saefudin
Cover Buku Pertama

Monday, October 23, 2017

Syekh Nawawi Al-Bantani, Pelopor Intelektual Pesantren

Makam Syekh Nawawi al-Bantani (Sumber Gambar: http://www.muslimoderat.net) 

Saturday, October 14, 2017

“LINGKARAN DUSTA” DI TENGAH BANGSA YANG BHINEKA

SUB JUDUL : ANTI HOAX SANG PENDIDIK
Oleh : Susilowati S.Pd.
Guru Sejarah MAN Purbalingga 
Turn Back Hoax (Sumber Gambar: www.radioidola.com)

Tuesday, October 10, 2017

Bermain Badminton untuk Menghilangkan Badmood

Olah Raga

arifsae.com - Hari ini sedikit membosankan. Tidak ada kegiatan apa-apa dari pagi, mungkin pa Wawan sudah merasa waktunya tak banyak lagi. Jadi semangatnya hilang. Tapi kali ini semngat untuk mengajar tetap harus diutamakan.

Kali ini pelajaran olah raga. Di Terusan 2 ada tempat olah raga, namanya Dewan. Dewan ini memang disediakan untuk menampung orang-orang kampung yang membutuhkan hiburan dan selingan untuk berolah raga. 

Fasilitas disini juga banyak. Ada tenis lapangan, bulu tangkis dan tenis meja. Semua ada disni. Bahkan lapangan sepak bola juga tersedia untuk siapa saja yang membutuhkannya. 

Kali ini saya akan mengajarkan bermain badminton. Sebenarnya saya juga tak pandai juga, tapi ya lumayan lah buat mencari keringat. Jadi teknik-teknik dasar juga saya ajari. Luamyan lah.

Pada akhirnya pa Wawan mengajarkan untuk bermain tenis meja dan saya mengadakan tournament kecil-kecilan untuk mereka. Setelah diadakan permainan bulu tangkis, akhirnya yang laki-laki pemenangannya adalah Fikar dan perempuan adalah Nidar. Selamat. Dan permainan ini brakhir sudah, lumayan untuk mengurangi mood yang tak bagus hari ini.[]

Monday, October 9, 2017

Kembali Bertemu Rindu

Bertemu Mereka

arifsae.com - Pa Mahendra pagi-pagi pamit, untuk melanjutkan perjalanan ke tempat mengajarnya. Saya sempat membuatkan sarapan sederhana seblum pa mahendra pulang. Obrolan kami semalam betul-betul mengasikan, dan ada yang menyedihkan juga. Ternyata pa mahendra pernah kehilangan motor yang pernah diblinya secara pribadi. Kejadianya di clc sapi 2. Semoga mendapatkan ganjaranya untuk yang mencuri motor.

Agenda hari ini mengajar. Tidak ada kegiatan apa-apa setelah pa mahendra pulang, karena memang siang ini akan lanjut mengajar. Pertemuan ini memang pertama setelah sekian lama ditinnggal saya dan pa wawan untuk mengikuti kegiatan jaim 4. Rindu yang tertumpuk ini akan segera teratasi. Dan terimakasih untuk nana yang sudah menggantikan mengajar selama kami pergi.

Kali ini saya yang beraksi. Menagih janji mereka untuk mengumpulkan puisi. Memang saya agendakan bersama pa wawan untuk mengumpulkan puisi yang rencananya dijadikan buku antologi dengan anak-anak. 

Pertemuan kali ini dimulai dengan penjelasan materi dan tugas pembuatan puisi. Mereka saya paksa untuk menuliskannya, susah memang. Karena mereka terlahir dari generasi yang dihadapkan denan keganasan smartphone. Jangankan disini, di indonesia pun susah untuk mengajarkan literasi kepada mereka. Tapi semoga kegiatan ini akan menghasilkan karya untuk mereka esok hari. Sehingga mereka bisa bangga memilikinya. Semoga. []
Ketemu anak. Puisi.




Sunday, October 8, 2017

Jalan Berbumbu Pengetahuan


Mobil yang Mengantar
arifsae.com - Hujan gerimis sudah menyambut pagi kami, padahal waktunya pulang. Karena memang sudah saatnya untuk pulang dan membereskan barang-barang. Saya hubungi Pairet yang memang sudah biasa mengantar dan menjemput kami. Bang Amir memberikan jawaban kalau hari itu tak turun bandar. Padahal barang sudah banyak, mau dibawa kemana-mana susah, karena tempat untuk mencari Bus juga lumayan jauh.

Akhinrya saya cek saja Grab, siapa tau ada disini. Dan ternyata memang ada. Saya tanya dulu dengan Pa Wawan, apakah memang mau menggunakan Grab, tentunya yang simple, masalah harga jangan terlalu dipikirkan. Akhirnya kami siap-siap dan memesan Grab. Tapi karena jauh, akhinrya supir Grab nya menyerahkan ke adiknya.

Sepanjang perjalanan, dari Sandakan ke Terusan 2, dipenuhi dengan obrolan. Saya juga heran, kuat betul orang ini bicara. Jarak yang harus ditempuh selama dua jam tidak menjadi lama karena dipenuhi dengan cerita. Dari kehiudupan, ekonomi sampai politik. Semua dibahas, Pa Wawan juga heran. Dia yang duduk dibelakang sampai tertidur. Padahal saya juga tidak paham betul apa dia bicarakan, hanya iya dan iya saja jawaban saya.
Hasil Perburuan

Sesampainya di rumah, langsung saja cuci baju. Karena baju yang kotor sudah menumpuk banyak. Selesai mencuci, sekitar jam 3 sore saya diminta untuk menjemput Pa Bintang ke Simpang Sapi yang baru pulang dari JAIM 4. Disana juga ada Pa Bima yang juga baru pulang. 
Menghiutng Uang JAIM
Tidak langsung pulang, kami habiskan obroloan di Al Kafi. Disana juga sudah ada Pa Mahendra, Guru dari CLC Sapi 2. Kami makan-makan dan ngobrol banyak hal. Dan sesekali bagi uang. Entah uang apa itu.

Sore hari, saya pualang dan Pa Mahendra ikut untuk bermalam di Terusan 2, karena tempatnya di Labuk jauh dan kalau hujan bisa terkena banjir. Akhirnya saya pulang dengan sedikit gerimis yang membasahi badan. Dirumah, ternyata sudah ada Haji dan Istrinya. Mungkin mereka bersilaturahi kepada Pa Wawan yang sebentar lagi akan pulang.[]

Saturday, October 7, 2017

Lanjut Menghabiskan Uang

Pantai Sandakan
arifsae.com - Hari ini rencananya akan melanjutkan belanja. Kemarin nana yang sudah menemani belanja sudah sampai dirumah, dan barang-barang pun katanya sudah sampai dirumah dengan selamat. Pagi ini melanjutkan belanja di genting mas mall tempat yang lumayan faforit untuk membeli alat-alat sekolah.

Hal yang paling membosankan ketika belanja adalah membawa barang belanja ke hotel. Barang-barang yang berat itu pasti akan menguras tenaga dan ditambah dengan panas terik matahari. Jarak hotel yang jauh menambah perjuangan belanja ini.

Untuk menggantinya, sesampainya dihotel saya dan pa wawan isirahat. Lama. Tidur-tiduran, sampai tidur sungguhan. Lumayan untuk mengobati lelah seharian. Sepertinya sudah cukup untuk belanja hari ini, jadi memang agenda berikutnya hanya jalan-jalan. 

Setelah cukup untuk istirahat, kami melanjtkan jalan-jalan. Kali ini bukan untuk belanja, tapi menikmati sore dipinggir pantai. Kami menyusuri jalan, dari houbour mall kami jalan terus, hingga ke jalan singapura. Dijalan ini ada orang-orang sedang bermain sepak bola dan oleh raga lainnya. Kami putuskan untuk menonton sambil beristirahat setelah jalan yang cukup jauh.

Orang-orang yang sedang bermain sepak bola ini terlihat menikmati permainan, meskipun lapangan yang tidak terlalu besar itu banyak sekali orang yang bermain, seolah tidak seimbang. Selesai melihat orang-orang olah raga, kami jalan lagi namun tak langsung pulang, tapi duduk-duduk menikmati sunset dipinggir pantai.

Malam sudah tiba. Saya melanjutkan jalan ke horbour mall, dan disana kami ketemu dengan pak romi dan istrinya yang juga guru bina. Disana kami sepakat untuk makan sate dan duduk sambil membicarakan hal-hal yang mengasikan.
Sandakan


Mungkin sudah puas, kami pulang jam 9 malam. Dijalan saya tertarik penjual yang menjual pentol. Saya langsung saja beli, 5 rm saja. Rasanya enak, makanan yang jarang saya temui disini, cukup untuk mengobati rindu makan pentol di indonesia. Nikmatnya makanan pentol yang enak ini kami akhiri dikamar hotel untuk istirahat.[] 
Tambahan Syak

SRIHANA-SRIHANI-SARINAH: Mencintai Seni dan Seni Mencintai

Sukarano, Sumber dari Kinara Vidya
Tahun 1946, hanya berselang satu tahun setelah Indonesia merdeka, ditengah kondisi politik yang tak menentu, Bung Karno berencana merayakan hari kemerdekaan yang pertama dengan pameran seni lukis. Untuk merealisasikan rencana pameran lukisan itu, Bung Karno meminta kepada salah satu pelukis asal Yogyakarta, Hendra Gunawan untuk mengadakan pameran seni lukis tunggal. Hendra Gunawan menyanggupinya. Pagelaran seni lukis itu dilakukan di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Bung Karno akan menghadiri acara itu dengan protokoler resmi. Namun ditengah persiapan pameran, Hendra menemukan ide “gila”. Ia mengumpulkan berbagai gelandangan yang bersiap dengan kostum asli kere para gelandangan. Para gelandangan ini menjadi tuan rumah pameran lukisan, tapi protokoler presiden menolaknya. Meskipun mendapat penolakan, Hendra Gunawan tetap kukuh untuk merealisasikan konsepnya.
Akhirnya pameran itu terjadi juga. Ketika pameran benar-benar dibuka, tersaji sebuah pemandangan drama. Bung Karno terperanjat keget luar biasa melihat pemandangan yang tak biasa didepan matanya. Namun, bukanya marah kepada Hendra, melainkan Bung Karno manggut-manggut seraya memeluk Hendra. Kejadian ini akhinrya membuat Bung Karno menitikan air mata. "Setiap orang berhak melihat lukisan saya. Dan saya berhak memperkenalkan karya-karya saya kepada siapa saja" kata Hendra. Bung Karno amat menghargai gagasan "gila" itu. Menurut Bung Karno, setiap ide dan gagasan dari para seniman, apapun bentuknya, dianggap mempunyai nilai-nilai kemanusiaan. Baginya, “Gagasan seniman juga merupakan obsesi dibenaknya sendiri, karena setiap ide-ide kesenian sesorang harus dihormati”.
Melihat sosok Presiden Pertama Republik Indonesia ini tak bisa terlepas dari dunia seni. Pada era akhir 1950-an, Bung Karno dianggap sebagai presiden yang paling banyak mengkoleksi karya seni, terutama lukisan. Seni lukis bagi Bung Karno merupakan kumpulan gairah-gairah dalam hidupnya, yang membuat sesorang terus mendapatkan suntikan energi jiwa muda dalam aliran darahnya. Itulah mengapa Bung Karno selalu terlihat kobaran semangat muda. Dalam kalimat pembukaan otobiografinya, tulisan Cindy Adam, “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, untuk menggambarkan dirinya, cukup menyebutnya “mahapencinta”.
Bung Karno memberikan kata simple untuk menggambarkan seluruh dirinya hanya dengan satu kata “mahapencinta”. Itulah Bung Karno. Ia sangat mencintai negaranya, mencintai rakyatnya, mencintai seni, bahkan mencintai banyak wanita. “Aku bersukur kepada Yang Maha Kuasa, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni”, begitu ucap Bung Karno. Saat ini, sebagian orang lupa melihat sisi lain diri Bung Karno tentang seni dan seni mencintai, timbul pertanyaan, dari mana asal kedekatan Bung Karno dengan seni lukis? Bagaimana sumber bakat Bung Karno tentang karya seni lukis ini, sehingga ia sanggup selain menjadi kolektor juga menjadi kreator. Selain itu, apa hubunganya karya seni dengan jiwa muda Bung Karno dalam sisi mencintai wanita? Mari kita bahas disini.

Kesenian dan Sarinah
     Bung Karno pernah berbicara kepada salah satu pelukis istana, Dullah, tentang asal bakat dan kecintaanya kepada seni berasal. “Ingat, aku adalah anak Ida Ayu Nyoman Rai, keponakan Raja Singaraja, wanita dari pulau Bali”. Dengan mantap Bung Karno menyebut bahwa ia masih ada hubungannya dengan Pulau Dewata ini. Kita tahu, Bali merupakan suatu ruang yang meproduksi sosial budaya original, yang memadukan antara masyarakat “tradisional” Indonesia bagian Timur dengan kebudayaan Jawa. Bali adalah “Pulau Seni”. Di Bali, kesenian memang tercipta dalam bingkai kerangka filosofis yang berhubungan dengan religiusitas dan ritual keagamaan. Bahkan, orang Bali bisa dikatakan pertama melihat seni ketika matanya membuka untuk pertama kalinya didunia.
      Di Pulau Dewata ini, ketika orang pertama lahir, ia sudah bersentuhan dengan benda-benda upacara yang bersifat artistik seperti cili, lamak, ubag-abig, canang, sarad, lukisan dan arsitekstur bangunan. Kesan itulah yang mungkin terasa ketika Ida Ayu Noman Rai mengandung Bung Karno. Artinya, dalam diri Bung Karno memang sudah menggeliat sebelum dilahirkan kedunia. Ketika tumbuh kembangnya Bung Karno, semakin terlihat jiwa seninya. Hal ini bisa dilihat dari pemilhian jurusan Arsitektur dalam memilih pendidikan tingginya. Bahkan di Ende, misalnya, Bung Karno pernah membuat naskah sandiwara untuk membunuh kesepiannya ditengah pembuangannya. Setidaknya ada 12 naskah yang ia tulis selama pembuangannya ini. Makanya tak heran, apresiasi Bung Karno atas karya seni tidak terbatas kepada karya-karya yang tercipta belaka, namun juga terhadap kreatornya. Hal ini bisa dipahami dari cerita Bung Karno dan Hendra Gunawan diawal pmbukaan tadi.
       Bung Karno dalam beberapa kali kesempatan pernah menegaskan, bahwa kalau ia tidak terjun kedunia politik dan menjadi seorang presiden, mungkin ia sudah menjadi seorang pelukis. Dengan kecintaanya dengan seni, meskipun sesibuk apapun agendanya sebagai seorang presiden, tetap saja bakat dan kecintaanya terhadap seni lukis tak bisa dilepaskan begitu saja. Dalam beberapa kesempatan, Bung Karno menerusukan beberapa kebiasaan mudanya menciptakan karikatur untuk Koran Pikiran Rakyat, Bandung. Biasanya Bung Karno hanya melukis disebuah kertas dengan cat air.
      Mungkin disini Bung Karno sadar, bahwa dunia politik akan sangat menguras pikiran dan terutama menyita banyak waktu. Maka dari itu, Bung Karno segera menempatkan posisinya sebagai seorang “kolektor”. Sebagai seorang kolektor, Bung Karno sering berburu karya seni maestro dunia, baik karya seni lukis maupun patung. Perburuan koleksinya biasanya dilakukan ketika Bung Karno berkunjung keberbagai Negara didunia. Bung Karno menyempatkan diri “mencuri” waktu untuk shoping lukisan atau patung. Begitu juga ketika Bung Karno berkunjung keberbagai wilayah di Indonesia, kebiasaan untuk berburu karya seni tetap dilakukannya.
     Seperti ketika Bung Karno datang ke Yogyakarta, ia menyempatkan untuk berkunjung ke Sanggar Pelukis Rakyat, atau ketika ia berkunjung ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Ketika ia berkunjung ke Bali, ia “menyusup” ke Ubud, menemui seniman Rudolf Bonnet dan Walter Spies sang pembentuk sejarah seni rupa Bali modern dengan mendirikan organisasi “Pitamaha” itu. Ia juga memuji karya lukisan Anak Agung Gde Sobrat, mengaggumi goresan Ida Bagus Made Poleng, atau menyaksikan berbagai karya Le Mayuer de Mafres seniman asal Belgia yang menikahi Ni Pollok, seorang model lukisannya sendiri. Bahkan ada kisah terpatri di Bali ketika Bung Karno berkunjung ke rumah seni Le Mayuer ini.
      Antara tanggal 15-17 Juni 1950 bersama tamu Negara yang juga teman dekatnya, Jawaharlal Nehru, ia mengunjungi Le Mayuer. Pada pertemuan ini, Bung Karno membawa rombongan berjumlah 40 mobil. Kunjungan itu dilakukan pada malam hari dengan konvoi mobil kepresidenan. Setelah pertemuan itu, pada bulan November 1950, Bung Karno pernah berkirim surat kepada Le Mayuer agar Dullah, pelukis istana, bisa belajar di studionya di Sanur. Dalam surat ini, tersirat kedekatan antara Bung Kano dan Le Mayuer begitu dekat. Dari hubungan pertemanan dengan Le Mayuer, Bung Karno mendapatkan 4 karya dari Le Mayuer, yaitu lukisan “kembar” yang berjudul Bermain dalam Kolam (1950-an), dan Kenikmatan Hidup I dan II (1956).
       Bung Karno begitu terpesona dan terinspirasi dengan berbagai karya seni dari Bali setelah mengunjungi berbagai galeri lukisan dari para maestro pelukis. Makanya ia terinspirasi untuk membuat studio seni rupa. Bung Karno berusaha menghidupkan minat masyarakat umum dan mengajak para pemilik modal sebagai pendorong bagi seniman lukis dan patung untuk berani berkarya karena sebagian mereka tidak punya modal yang banyak. Dari inisiatifnya ini, Bung Karno memunculkan nama Tjio Tek Djien, yang mendirikan studio dibilangan Ciledug, Jakarta, menjelang akhir tahun 1960. Disini banyak orang-orang yang bergabung, salah satu namanya adalah Trubus dan Lim Wasim yang kemudian hari dikenal sebagai seniman handal. Mereka digaji dengan gaji harian 1.000,- dengan ketentuan harus menyelesaikan satu lukisan setiap harinya. Bandingkan dengan honor Pelukis Istana yang kala itu bergaji Rp. 5.000,- per bulan.
      Untuk mendistribusikan, sosialisasi dan merangsang market seni rupa, Bung Karno mendorong para pengusaha mendirikan galeri. Maka di Sanur berdirilah Galeri Pandy milik James Pandy. Di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan juga berdiri beberapa Galeri lukis. Sementara itu, di Istana Kepresidenan juga dipampang berbagai koleksi lukisan Bung Karno, layaknya sebuah galeri. Tak jarang berbagai tamu asing, pejabat tinggi hingga para rombongan bintang film atau para diplomat asing yang ditunjukan soal lukisan sebelum memulai diplomasi. Dimata publik, Bung Karno dianggap sebagai sosok yang revolusioner dan penuh gairah, sehingga tak mengherankan koleksi Bung Karno dipersepsikan menyimpan paradigma “gelora politik, perjuangan, dan revolusi”.
      Namun, dibebrapa sisi, tafsiran itu justru keliru, karena banyak koleksi seni lukis Bung Karno justru yang terbanyak mengenai sesuatu hal yang cantik, dan itu ditemukan dari sosok perempuan. Selain koleksi lukisan wanita, juga terbanyak terdiri dari pemandangan alam, bunga-bunga serta abtstak benda mati. Sementara yang bertemakan perjuangan dan revolusioner tak lebih dari 10 % belaka. Bung Karno lebih mementingkan “teknik” ketika menentukan lukisan yang berkualitas. Karena dengan teknik, segala yang dikreasikan akan muncul dengan hasil keindahan. Ia pernah berucap, “A thing of beauty is a joy forever”, atau barang indah adalah kenikmatan yang kekal. Pepatah ini dipegang sebagai sebauh prinsip. Termasuk penglihatannya terhadap sosok perempuan, biarlah akan dibahas belakang.
       Sosok perempuan ini pernah menjadi fenomena ketika lukisan itu Bung Karno-lah sendiri yang meluksinya. Lukisan itu diberikan nama oleh Bung Karno dengan “Rini”. Menurut beberapa sumber, lukisan itu tercipta dari kunjungnya ke Bali. Ketika Bung Karno sedang beristirahat di Bali, ia mengajak pelukis istana Dullah. Seperti biasanya, Dullah mencoba untuk membuat lukisan. Sebelum membuat lukisan, terlebih dulu membuat sketch (garis-garis), namun kerangka lukisan itu ditinggalkan oleh Dullah karena kembali ke Jakarta. Beberapa bulan berikutnya, pada awal Desember 1958, Bung Karno kembali lagi ke Bali untuk beristirahat. Dullah sendiri tidak ikut serta. Selama 10 hari Bung Karno berada di Bali, disela-sela kegiatan, ia menyelesaikan sketch Dullah. Tentu saja dalam penyelesaian lukisan ini, Bung Karno menambah dan merubah sketch semula.
       Setelah jadi, lukisan itu diberi nama Rini. Beberapa sumber mengatakan bahwa Rini ini adalah Sarinah. Sosok perempuan yang pernah menjadi pengasuh Bung Karno ketika kecil. Sarinah merupakan salah satu perempuan yang berjasa memberikan pola asuh ketika Bung Karno kecil. Sosoknya yang lembut dan bercirikan perempuan khas Indonesia membuat sosoknya tak tergantikan. Tidak ada yang tahu pasti kenapa lukisan yang dibuat Bung Karno diberikan nama Rini. Menurut Soimun HP, lukisan yang sama dengan judul “Sarinah”, karena menurut Bung Karno, Sarinah merupakan ciri wanita Indonesia yang sesungguhnya.
      Dia menambahkan tentang versi lain tentang proses dibuatkannya luksian itu. Konon, ceritanya ketika Bung Karno sedang berada disebuah pantai di Bali, ketika seorang wanita lewat diboncengkan sepeda oleh tunangannya, entah mengapa, Bung Karno merasa tertarik dengan wanita tadi dan menawarkannya sebagai model dalam lukisannya. kemudian dua orang tadi diminta oleh Bung Karno untuk berhenti, gadis itu menerima tawaran Bung Karno. Gadis itu diminta menggantikan bajunya dengan kebaya yang lebih bagus yang dipinjamkan oleh Bung Karno pada saat itu juga. Sosok wanita tadi dipoles sedemikian rupa, dan ditata dirapikan, dan Bung Karno mulai melukis. Setelah selesai melukis, Bung Karno bertanya apa yang diingankan wanita itu sebagai imbalan. Wanita remaja tadi hanya meminta kemeja dan bahan celana untuk pacarnya. Keinginan ini diluluskan oleh Bung Karno disertai dengan sedikit uang.
      Beberapa kisah terbentuknya lukisan Rini menggambarkan sosok Bung Karno selain menjadi kolektor juga menjadi “eksekutor” dari sebuah karya seni. Kecintaannya terhadap seni juga terlihat dari sistem pemerintahanya. Seperti pembuatan lambang Negara Garuda Pancasila, Bung Karno punya andil besar didalamnya. Bahkan desain pakaian-pakaiannya, terutama jas khasnya, banyak yang ia desain sendiri. Termasuk kedalam penamaan-penamaan jargon nama-nama dalam sistem pemerintahannya sangat diperhatikan dan dipikirkan dengan baik-baik. Seni pemerintahannya juga terlihat dari berbagai kisah hidupnya. Bung Karno menegaskan, bahwa barang indah merupakan kenikmatan yang kekal. Inipun yang menjadi pegangan kehidupan pribadinya. Jiwa muda tetap menjadi geloranya ketika menempati pucuk pimpinan. Salah satunya dengan memperistri sosok wanita Salatiga, Hartini Sukarno.

Darah Muda dan Kisah Cinta
Kecintaan Bung Karno terhadap karya seni bisa dilihat dari beberapa koleksinya lukisannya, salah satu kecintaanya juga bisa dilihat dari sosok perempuan. Bahkan lukisan Rini yang dibuat oleh Bung Karno merupakan sosok wanita berkebaya yang sedang duduk manis. Selain sebagai pengaggum lukisan, Bung Karno juga merupakan “pengaggum” perempuan. Karena kegakumannya terhadap kecantikan ciptaan Tuhan ini, ia berusaha menjadi “pemilik” dari sejumlah perempuan. Dan memang beberapa perempuan yang diperistrikannya memang tergolong cantik secara fisik.
Dalam sosok seorang perempuan, sering juga membawa pengaruh terhadap kepemimpinan laki-laki. Mungkin kita masih ingat pada kisah tentang Presiden AS, Clinton membuat skandal dengan sekertarisnya, yang mengakibatkan Clinton nyaris kehilangan kursi kepresidennya. Atau kisah cinta yang akhirnya membuat sebuah bangunan masjid yang demikian megah dan indah demi seorang istri yang dicintainya, bangunan itu adalah Taj Mahal. Sukarno pernah didampingi oleh sosok perempuan cantik pada era 1930-1940 dalam sosok Inggit Gunarsih yang mengantarkannya kedalam pintu gerbang kemerdekaan.
Menurut Anhar Gonggong, ada 3 wanita yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan pribadinya. Dia adalah, Inggit Gunarsih, Fatmawati dan Hartini. Bila Inggit merupakan sumber kekuatan dan sumber energi ketika menghadapi perjuangan mengusir kolonial. Posisi Fatmawati, merupakan sebagai “ledy first” atau ibu Negara ketika berposisi sebagai seorang Presiden. Sedangkan perempuan ketiga adalah Hartini. Hartini tampil sebagai seorang perempuan dalam segala aspek manusia perempuannya itu.
Sebagai seorang janda, Hartini mendapatkan sambutan dan cercaan yang secara psikologi sangat berat. Pertemuan dengan Hartini didalam rumah Walikota Salatiga sangat berkesan oleh Bung Karno, Bung Karno lagi-lagi melihat “keindahan” hingga ia menulis sebuah surat yang salah satu bagian isinya, “Tuhan telah mempertemukan kita Tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir”. Namun, cinta antara keduanya akhirnya membawa kedalam sebuah pernikahan resmi. Meskipun berbagai cercaan kritik dihadapi oleh Bung Karno dan terutama kepada Hartini, tapi Bung Karno tetap mempertahankan. Mereka menggunakan simbol kesenian dengan menggunakan nama-nama samara dengan Srihana-Srihani. Srihana disimbolkan sebagai Bung Karno, dan Srihani sebagai Hartini.
Setelah mendapatkan Hartini sebagai salah satu istri resminya, hartini benar-benar membaktikan dirinya kepada sosok Bung Karno. Maka dia berusaha untuk memenuhi tugasnya, sebagai seorang perempuan, yang jadi istrinya dari orang besar. Dia menempatkan Hartini sebagai sosok yang memang layak dicintai, dan Bung Karno mendapatkan balasanya hingga akhir hayatnya. Itulah hasil “penglihatanya” untuk memilih sebuah keindahan ciptaan Tuhan. Itulah Bung Karno, memilih pasangan hidupnya dengan nilai-nilai seni.
Karena menurut Bung Karno, semuanya diimbuhi dengan seni. Diplomasi harus melibatkan seniman, mengatur rakyat harus dengan seniman, menata kota dan lingkunganpun harus dengan seniman. Hingga tahun 1965, koleksi lukisan Bung Karno tercatat lebih dari 2.000 buah. Koleksinya dari berbagai maestro dunia, seprti Diego Rivera, Ito Sinshui, William Russel Flynt, dan sebagainya.
Koleksi semua itu sudah tersusun dari sebuah buku. Pertama tahun 1956 dalam 2 jilid. Ahun 1961 terbit 2 buku selanjutnya, yang semuanya disusun oleh Dullah. Tahun 1964 muncul 5 jilid lain yang merupakan pelengkapan, karena koleksi Bung Karno terus bertambah. Buku ini disusun oleh Lee Man fong. Semua kitab itu mencantumkan sekitar 500 lukisan pilihan. Tapi Bung Karno menilai masih ada sekitar 500 karya pilihan lain yang patut dibukukan. Maka tahun 1966, untuk merayakan ulang tahun ke-65, direncanakan terbit jilid VI sampai X, susunan Lim Wasim. Namun, kerusuhan politik meletus. Bung Karno pun lengser.
Bung Karno wafat pada 20 Juni 1970, setelah empat tahun dalam "pengasingan". Kita tak tahu, Putra Sang Fajar ini redup karena sekadar sakit, atau lantaran selama 40 bulan dipisahkan dari dunia seni lukis dan istri-istrinya yang sebelumnya memberinya gairah hidup dan napas panjang.

Referensi:
Nugroho, Arifin Suryo. 2009. Srihana-Srihani, Biografi Hartini Sukarno. Yogyakarta: Ombak.
Majalah Intisari, “Bung Karno dan Seni Rupa”. Bulan April 2001. Online, http:// www.indomedia.com/intisari/2001/Apr/BK.htm diakses 20 September 2017.
Susanto, Mikke. 2012. “Presiden Sukarno dan Pelukis Le Mayuer di Bali”. Urna, Jurnal Seni Rupa. Vol 1, No. 2 (Desember 2012), Hlm. 107-213.
Ditulis oleh Osi Krismonika, untuk Mengikuti Lomba Esai tingkat Nasional, "Sukarno, Pemuda dan Seni" yang diadakan oleh Kinara Vidya Pada tanggal 25 September 2017. Tulisan ini mendapatkan Juara 1.
Osi Krismonika dan Ketua Kinara Vidya, Dr. Sri Margana

Friday, October 6, 2017

Dipaksa Belanja ke Sandakan

arifsae.com - Rencana untuk melanjutkan belanja keperluan sekolah hari ini jadi. Saya naik peretnya Bang Amir yang meruakan supir Pairet dari Pamol. Memang Bang Amir ini sering mengantarkan guru-guru yang mau belanja ke bandar.
OTW Bandar Sandakan
Penjemputan akan dilakukan jam 7-an. Kali ini kami ajak juga Nana, guru pamong yang rajin dan tidak sombong. Kebetulan dia berminat juga, jadi kami ajak saja sekalian jalan-jalan buat dia. Tapi sayang, peiret yang kami tumpaki banyak orangnya, jadi harus berdimitan, yang membuat duduknya tak nyaman.

Perjalanan ke Sandakan hanya butuh waktu 2,5 jam, tidak lama memang. Langusung saja sesampainya, kami langsung mengamuk untuk menghabiskan uang belanja sekolah. Berbagai keperluan kami borong, dari kertas, alat komputer, alat tulis kantor, olah raga dan lainnya. 

Tidak terasa peiret yang kami tumpaki juga penuh, berisi perlengkapan belanja tadi. Untuk kali ini Nana yang mengawal barang belanjaan kami, dia ikut pulang hari ini juga. Setelah Jumatan, Nana ikut peiret untuk pulang ke Terusan. Mungkin dia belum sempat belanja untuk keperluan pribadinya dan harus sudah puulang

Saya sendiri dan Pa Wawan melanjutkan belanja dengan menginap di Hotel City Star. Hotel murah yang menjadi langganana kami. Disini tempat untuk beristirahat melepas lelah belanja. Makanan juga ada dibawah hotelnya, jadi tidak terlalu jauh. 

Sore harinya kami lanjutkan belanja, bawa hotel, belanja lagi bawa hotel lagi. Begitu seterusnya. Dari Genting Mas Mall, Herbour Mall dan tempat lainnya menjadi sasaran belanja kami. Cape memang, tapi demi dana BOS harus semangat. Disamping itu ini juga keperluan sekolah yang harus diutamakan.

Untuk mengusir rasa lelah, saya dan Pak Wawan santai sejenak untuk makan. Dan selepas itu menonton film terbaru, tidak ada nonton film terbaru, akhirnya nonton gilm seadanya saja. 
Menonton Film Dulu
Bukanya seru, malah flmnya sangat membosankan. Ah, tak apalah, nikmati suasananya saja. Melepas lelah seharian berburu belanja.[] 

Thursday, October 5, 2017

Kembali ke Rumah Terusan

arifsae.com - Kali ini tak mau bangun kesiangan lagi, kami siap-siap untuk pulang menunggu bus. Jam 7 sudah harus berangkat, untuk itu, kami bangun lebih pagi untuk mengantisipasi kalau-kalau terlambat lagi. Nanti tidak bisa pulang lagi. Sudah rindu rumah dan anak-anak, sekitar satu minggu ini tak ketemu mereka karena harus mengikuti JAIM 4 ini.

Akhirnya Bus nya dapat juga. Namun Bus yang saya dapatkan justru muter-muter telebih dulu meskipun jurusannya ke KK. Tapi mampir dulu ke Sandakan, yang artinya membutuhkan waktu yang lebih lama.

Sampai ke Simpang Sapi sekitar pukul 3. Tapi kami turun di Gate 2 untuk menuju ke CLC Sapi 2. Karena memang motor kami titipkan di rumahnya Bu Niki. Sesampainya disini, kondisi sedang panas-panasnya. Pa Wawan menghubungi Bu Niki tapi tak kunjung mendapatkan balasan.

Jalan di Teriknya Panas Pohon Sawit
Akhirnya kami putuskan untuk jalan kaki. Kondisi yang panas, kanan kiri Pohon Sawit yang masih kecil, dan barang-barang bawaan yang berat ini harus diaak utuk berjalan kaki sejauh 1 km lebih. 

Betul saja, kringat bercucuran, panas luar biasa. Sesampainya di Sapi 2 memang Bu Niki tidak pegang HP, jadi maklum saja tidak balas pesan kami. tanpa lama-lama, saya langsung menancapkan gas untuk pulang kerumah.

Alhamdulliah, sampai juga dirumah. Rumah yang sudah satu minggu lebih ditinggalkan. Tentu saja tidak ada perubahan, berantakan sekali itu pasti. Tugas selanjutnya adalah istirahat sejenak, dan mencuci. Selanjutnya memikirikan dana BOS yang baru diguanakan sedikit, dan memang harus belanja untuk keperluan sekolah. Itu rencana selanjuntya, besok mungkin.[]

Wednesday, October 4, 2017

Tertinggal Bus, Ngamar Lagi

Dapat Kamar 202

arifsae.com - Agenda pagi ini memang rencananya pulang ke Terusan 2. Tapi kami mungkin terlalu santai, jadi bangun nya pun santai. Jam 10 baru kami keluar hotel untuk chek out. Didepan kamar saya ketemu ketua JAIM 4 dan jajaran petinggi lainnya. Mungkin mereka sedang diskusi masalah JAIM 4 itu.

Setelah meninggalkan hotel saya sarapan dulu sebelum mencari bus untuk pulang. Saya dan Pa Wawan harus berjalan lumayan jauh untuk menunggu bus. Sekitar 2 km kami berjalan, dan baru menemukan bus. Jam sudah menunjukan pukul 11 siang. Dan sesampainya ditempat pembelian tiket bus ternyata bus yang ke KK sudah berangkat terlebih dulu sekitar pukul 10.
Saya cari yang lain, tetap tidak ada. Dan yang paling cepat bus ke KK ada jam 4. Setelah dipikir-pikir, akhirnya kami memutuskan untuk menunggu sampai jam 4. Sambil menunggu saya dan pa wawan makan. Selama itu saya nongkrong disana. Makan minum habis pesen lagi.

Jam sudah menjunjukan jam 4. Ternyata bus yang kami tunggu-tunggu tak kunjung tiba. Ditambah hujan besar mulai turun. Besar sekali, sampai angin menghembuskan berbagai barang ringan. Saya dan Pa Wawan bingung juga, mau menunggu bus sudah jam 4 tak datang-datang, hujan besar pula. Akhirnya setelah dipikir-pikir, kami putuskan untuk mencari hotel lagi.

Kami mencari hotel dengan berjalan, lumayan jauh lagi, karena hotel disini jarang. Hujan-hujanan pun tak terhindarkan. Akhirnya kami menemukan satu hotel, namanya Hotel Fajar yang tergabung juga kedalam restoran. Kami memesan kamar, harganya 80 RM. Lumayan lah daripada menjadi gelandangan dipinggir jalan menunggu bus sambil hujan-hujanan.

Kami istirahat disini, menunggu besok yang semoga tak tertinggal lagi. Kali ini makanan juga tidak terlalu dikewatirkan, karena hotelnya tersambung dengan restoran. Jadi kami menikmati satu malam lagi di Laha Datu. Semoga besok sesuai rencana, yang berarti harus bangun lebih pagi untuk pulang ke Terusan 2.[]
Kamar Hotel Fajar