Wednesday, January 16, 2013

PERUBAHAN SOSIAL SUKU MADURA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sebelum Jembatan Suramadu dibangun, sempat timbul keragu-raguan, apakah mungkin membangun jembatan di daerah patahan dan gempa. Begitu juga dengan factor tiupan angin kencang, yang mungkin akan mempengaruhi konstruksi jembatan. Penelitian pun dilakukan secara mendalam selama tahun 2003-2004. Hasilnya, jembatan ini bisa tahan terhadap guncangan gempa sampai 7 skala Richter. Jembatan Suramadu pun dirancang dengan sistem antikorosi pada fondasi tiang baja. Karena menghubungkan dua pulau, teknologi pembangunan jembatan ini didesain agar memungkinkan kapal-kapal dapat melintas di bawahnya. (www. team Andriewongso.com).
Sejak masih berupa gagasan, Jembatan Suramadu diharapkan mampu mendongkrak perekonomian dan mobilitas sosial masyarakat Madura. Begitu jembatan di atas Selat Madura ini terbentang, harapan itu semakin membuncah. Namun, tidak banyak perkembangan signifikan dalam setahun ini. Meski begitu, harus diakui ada dampak yang dirasakan masyarakat Madura sejak Jembatan Suramadu dioperasikan, arus transportasi Madura-Surabaya lebih singkat. Mobilitas sosial dan ekonomi masyarakat lebih cepat. (PORTAL MADURA, 2010).
        Bangkalan terbagi dalam beberapa peruntukan kegiatan besar seperti Pusat Kota, peruntukan industri olahan, industri pertanian, perumahan, pertanian perumahan serta beberapa kota baru yang berfungsi sebagai pusat informasi, perdagangan, keuangan, dan komersial. Selain pengembangan peruntukan yang disebutkan diatas, di sebelah timur laut Bangkalan tepatnya di daerah Tanjung Bumi diperuntukan sebagai areal pengembangan kawasan industri. Dengan adanya Jembatan SURAMADU yang menghubungkan Surabaya dengan Madura/Bangkalan ini maka diharapkan kecepatan pertumbuhan Bangkalan dapat meningkat karena adanya imbas dari perkembangan Surabaya. (www.suramadu.com).

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah perubahan-perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Madura setelah di bangunya jembatan Suramadu?
2.      Bagaimana peran jembatan suramadu terhadap perekonomian masyarakat Madura?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui perubahan-perubahan social yang terjadi pada masyarakat Madura setelah di bangunya jembatan Suramadu.

2.      Untuk mengetahui peran jembatan suramadu terhadap perekonomian masyarakat Madura.

D.     Manfaat Penulisan
1.    Kegunaan Teoretis
Adapun kegunaan teoretis dari makalah ini adalah untuk menambah khazanah pengetahuan tentang perubahan sosial di Madura setelah dibangunya jembatan suramadu yang mempunyai daya tarik tersendiri dalam memperkaya pengetahuan.
2.    Kegunaan Praktis
Adapun kegunaan praktis dari makalah ini dapat dispesifikasikan sebagai berikut.
a.       Bagi Penulis
1)      Sebagai salah satu sarana mempelajari dan memperdalam kebudayaan Madura.
2)      Sebagai salah satu caa untuk mengetahui perekonomian masyarakat madura setelah dibangunnya jembatan suramadu.
3)      Sebagai upaya kecil untuk mengetahui selek beluk masyarakat Madura agar lebih dikenal oleh masyarakat luas.
b.      Bagi Pembaca
1)   Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman tentang suku Madura setelah dibangunya jembatan suramadu.
2)   Untuk mengetahui tentang aspek-aspek kehidupan sosial yang ada di Madura.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kondisi Masyarakat Madura  
Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa.
Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura banyak tinggal di bagian timur Jawa Timur biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo, Jember, jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa, juga termasuk Surabaya Utara, serta sebagian Malang.
Disamping suku Jawa dan Sunda, orang Madura juga banyak yang bertransmigrasi ke wilayah lain terutama ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, serta ke Jakarta,Tanggerang,Depok,Bogor,Bekasi,dan sekitarnya, juga Negara Timur Tengah khususnya Saudi Arabia. Beberapa kota di Kalimantan seperti Sampit dan Sambas, pernah terjadi kerusuhan etnis yang melibatkan orang Madura. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang, terutama besi tua dan barang-barang bekas lainnya. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan dan buruh,serta beberapa ada yang berhasil menjadi,Tekonokrat,Biokrat,Mentri atau Pangkat tinggi di dunia militer.
Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang temperamental dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja. Untuk naik haji, orang Madura sekalipun miskin pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan larung sesaji).
Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa angok pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura.
B.      Jembatan Suramadu
Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang melintasi Selat Madura, menghubungkan Pulau Jawa (di Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan, tepatnya timur Kamal), Indonesia. Dengan panjang 5.438 m, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini. Jembatan terpanjang di Asia Tenggara ialah Bang Na Expressway di Thailand (54 km). Jembatan Suramadu terdiri dari tiga bagian yaitu jalan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge).
Jembatan ini diresmikan awal pembangunannya oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003 dan diresmikan pembukaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009. Pembangunan jembatan ini ditujukan untuk mempercepat pembangunan di Pulau Madura, meliputi bidang infrastruktur dan ekonomi di Madura, yang relatif tertinggal dibandingkan kawasan lain di Jawa Timur. Perkiraan biaya pembangunan jembatan ini adalah 4,5 triliun rupiah. Pembuatan jembatan ini dilakukan dari tiga sisi, baik sisi Bangkalan maupun sisi Surabaya. Sementara itu, secara bersamaan juga dilakukan pembangunan bentang tengah yang terdiri dari main bridge dan approach bridge.
C.    Konstruksi Jembatan
Jembatan Suramadu pada dasarnya merupakan gabungan dari tiga jenis jembatan dengan panjang keseluruhan sepanjang 5.438 meter dengan lebar kurang lebih 30 meter. Jembatan ini menyediakan empat lajur dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat selebar 2,75 meter. Jembatan ini juga menyediakan lajur khusus bagi pengendara sepeda motor disetiap sisi luar jembatan.
1.      Jalan layang
Jalan layang atau Causeway dibangun untuk menghubungkan konstruksi jembatan dengan jalan darat melalui perairan dangkal di kedua sisi. Jalan layang ini terdiri dari 36 bentang sepanjang 1.458 meter pada sisi Surabaya dan 45 bentang sepanjang 1.818 meter pada sisi Madura. Jalan layang ini menggunakan konstruksi penyangga PCI dengan panjang 40 meter tiap bentang yang disangga pondasi pipa baja berdiameter 60 cm.
2.      Jembatan penghubung
Jembatan penghubung atau approach bridge menghubungkan jembatan utama dengan jalan layang. Jembatan terdiri dari dua bagian dengan panjang masing-masing 672 meter. Jembatan ini menggunakan konstruksi penyangga beton kotak sepanjang 80 meter tiap bentang dengan 7 bentang tiap sisi yang ditopang pondasi penopang berdiameter 180 cm.
3.       Jembatan utama
Jembatan utama atau main bridge terdiri dari tiga bagian yaitu dua bentang samping sepanjang 192 meter dan satu bentang utama sepanjang 434 meter. Jembatan utama menggunakan konstruksi cable stayed yang ditopang oleh menara kembar setinggi 140 meter. Lantai jembatan menggunakan konstruksi komposit setebal 2,4 meter. Untuk mengakomodasi pelayaran kapal laut yang melintasi Selat Madura, jembatan ini memberikan ruang bebas setinggi 35 meter dari permukaan laut. Pada bagian inilah yang menyebabkan pembangunannya menjadi sulit dan terhambat, dan juga menyebabkan biaya pembangunannya membengkak.
D.    Peran Jembatan Suramadu Bagi Masyarakat Madura
Menurut Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto. Bila dilihat dari peran Jembatan Suramadu, maka yang dijadikan tolak ukur adalah :
1.       Arus transportasi, dilihat dari terjadinya kelancaran arus manusia,barang,dan jasa. Jembatan Suramadu dinilai telah berhasil mengatasi problema arus transportasi khususnya untuk penyebrangan antara Surabaya dan Madura. Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, masyarakat Madura harus menyebrang dengan menggunakan kapal Ferry. Kemacetan juga terjadi di beberapa wilayah sekitar pelabuhan karena waktu untuk melakukan penyebrangan cukup lama yakni sekitar 30-45 menit. Sekarang masyarakat Madura sangat terbantu karena adanya jembatan Suramadu. Jembatan Suramadu dinilai merupaka Jembatan Penyebrangan yang paling efektif dan efisien dalam rangka memperlancar arus kegiatan masyarakat Madura. Dengan menggunakan jembatan Suramadu. Waktu yang diperlukan untuk menyebrang hanya sekitar 5 menit saja. Kemacetan yang terjadi di beberapa wilayah juga semakin berkurang.
  1. Pertumbuhan perekonomian, melalui terjalinnya potensi sumber daya kawasan, khususnya di wilayah Madura. Seiring dengan kelancaran transportasi. Jembatan Suramadu juga membawa pengaruh yang kuat dalam kelancaran kegiatan perekonomian di Madura. Peningkatan pertumbuhan ekonomi di Madura sejak dibangunnya Jembatan Suramadu mulai terlihat secara signifikan. Hal ini dibuktikan oleh banyaknya para Investor yang menanamkan modalnya. Pembangunan usaha di Madura juga mulai terlihat digalakkan seperti membangun pertokoan, resort, industry, mall. Banyak Pedagang yang mengakui bahwa sejak dibangunnya jembatan Suramadu, mereka mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dari pada sebelumnya.
  2. Pemerataan ekonomi, Kesenjangan ekonomi antara Pulau Madura dengan kawasan lain di provinsi Jatim berkurang. Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat yang memiliki sifat pekerja keras, hemat, disiplin dan arrogant. Pertumbuhan ekonomi di Madura tentu akan meningkat cepat melihat kondisi pribadi orang Madura yang demikian. Dengan adanya Jembatan Suramadu, kesenjangan itu perlahan akan surut. Kemudahan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sudah bisa dipenuhi. Namun, disisi lain kerja sama yang dilakukan antara masyarakat Madura dan luar pulau Madura dikhawatirkan akan memicu terjadinya konflik. Masyarakat Madura akan memperlakukan orang lain sesuai dengan perlakuan orang tersebut. Maksudnya adalah apabila ada orang memperlakukan dirinya dengan baik maka dia akan memperlakukan orang tersebut dengan lebih baik lagi. Dan sebaliknya, apabila ada orang yang mencoba mencelakai mereka maka orang Madura juga akan memperlakukan orang seperti itu. Dalam mengantisipasi konflik tersebut, bersikap jujurlah dalam bekerjasama dengan orang Madura.
  3.  Peningkatan infrastruktur, meningkatnya aksesibilitas dan mobilitas secara signifikan. Dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan daerah. Pemerintah daerah membangun dan memperbaiki infrastruktur yang ada Seperti jalan raya, instansi, gedung pertemuan, dll.
  4. Penerimaan sosial-budaya, memfasilitasi terjalinnya interaksi budaya antara Jawa dan Madura dalam era modernisasi. Interaksi budaya ditujukan sebagai pertukaran budaya. Jembatan Suramadu tidak hanya berpengaruh pada kelancaran arus transportasi, kelancaran arus kegiatan perekonomian masyarakat. Akan tetapi, perkembangan intelektual Masyarakat Madura juga meningkat seiring dengan kelancaran berbagai informasi di luar pulau. Namun demikian, Budaya Madura dikhawatirkan akan luntur karena pembangunan Jembatan Suramadu. Akan lebih disayangkan lagi jika kebudayaan yang kental dengan keagamaannya mulai surut. Diantara manfaat jembatan Madura antara lain :
1.      Kelancaran lalu lintas
Manfaat langsung dari pembangunan Jembatan Suramadu adalah meningkatnya kelancaran arus lalu lintas atau angkutan barang dan orang khususnya dalam menghubungkan pulau Madura dan pulau Jawa. Dengan semakin lancarnya arus lalu lintas berarti lebih mengefisiensikan waktu dan biaya. dengan adanya Jembatan Suramadu terjadi penghematan waktu selama sekitar 1,5 jam dan penghematan biaya sekitar 7000 rupiah per orang.
2.      Merangsang tumbuhnya aktivitas perekonomian
Manfaat langsung ini sudah langsung terasa ketika pertama kali Jembatan Nasional Suramadu dibuka. Diantaranya adalah tumbuhnya aktivitas perekonomian di sekitar jembatan Suramadu. Sebagai contoh adanya aktivitas PKL di sekitar kaki jembatan Suramadu. Berdasarkan fakta di lapangan bahwa PKL di kaki Jembatan Suramadu mencapai sekitar 510 PKL di tahun 2009 untuk Kabupaten Bangkalan.
3.      Pertumbuhan PDRB di Madura
Semakin lancarnya transportasi akan menimbulkan dampak pergerakan orang maupun barang.  Dengan demikian akan memicu peningkatan jumlah penduduk khususnya di sekitar Jembatan Suramadu. Meningkatnya jumlah penduduk akan merangsang naiknya permintaan barang dan jasa. Selanjutnya akan merangsang meningkatnya kegiatan perekonomian, berkembangnya usaha di sektor pertanian, industri, perdagangan, jasa dan meningkatnya arus barang masuk ke Pulau Madura. Berdasarkan wacana media,menunjukkan bahwa PDRB Kabupaten Bangkalan menjadi yang terbesar setelah pengadaan Jembatan Suramadu dibandingkan Kabupaten lain di Madura.
4.      Pertumbuhan Income Perkapita
Semakin lancarnya transportasi ternyata akan meningkatkan kegiatan ekonomi yang selanjutnya akan meningkatkan pertumbuhan. Income per kapita merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. Jika income per kapita dibandingkan dalam keadaan dengan dan tanpa Jembatan Suramadu, maka income perkapita rata-rata per tahun di Bangkalan telah bertambah sebanyak 93,63 %.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pokok bahasan diatas, maka penulis menyimpulkan dari keseluruhan pembahasan diatas untuk memberikan pemahaman atau konsep terkait dengan topik yang di bahas pada pembahasan tersebut, sehingga nantinya dapat mengerti dan memahami dampak sosial beroperasinya jembatan Suramadu terhadap eksistensi kehidupan masyarakat Madura. Namun pada kesimpulan ini tentunya mengacu pada kerangka pikir yang telah di bahas pada bab pembahasan di atas antara lain :
Arus transportasi, dilihat dari terjadinya kelancaran arus manusia,barang,dan jasa. Jembatan Suramadu dinilai telah berhasil mengatasi problema arus transportasi khususnya untuk penyebrangan antara Surabaya dan Madura. Pertumbuhan perekonomian, melalui terjalinnya potensi sumber daya kawasan, khususnya di wilayah Madura. Pemerataan ekonomi, Kesenjangan ekonomi antara Pulau Madura dengan kawasan lain di provinsi Jatim berkurang.  Peningkatan infrastruktur, meningkatnya aksesibilitas dan mobilitas secara signifikan. Dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan daerah. Pemerintah daerah membangun dan memperbaiki infrastruktur yang ada Seperti jalan raya, instansi, gedung pertemuan, dll. Penerimaan sosial-budaya, memfasilitasi terjalinnya interaksi budaya antara Jawa dan Madura dalam era modernisasi. Interaksi budaya ditujukan sebagai pertukaran budaya. Jembatan Suramadu tidak hanya berpengaruh pada kelancaran arus transportasi, kelancaran arus kegiatan perekonomian masyarakat. Akan tetapi, perkembangan intelektual Masyarakat Madura juga meningkat seiring dengan kelancaran berbagai informasi di luar pulau. Namun demikian, Budaya Madura dikhawatirkan akan luntur karena pembangunan Jembatan Suramadu. Akan lebih disayangkan lagi jika kebudayaan yang kental dengan keagamaannya mulai surut.

DAFTAR PUSTAKA 

Alwi, Hasan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ed. III. Jakarta: Depdiknas RI dan Balai Pustaka, 2001.
Wiyata, A. Latief. Madura yang Patuh?; Kajian Antropologi Mengenai Budaya madura. Jakarta: CERIC-FISIP UI. 2003.
Wiyata, A. Latief. Carok; Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura. Yogyakarta: LKiS, 2002.
M. Astro, Masuki.  Orang Madura Peramah yang Sering Dikonotasikan Negatif, 2006.
Kuntowijoyo. Perubahan sosial dalam masyarakat agraris : Madura, 1850-1940. Yogyakarta: matabangsa. 2002.