Monday, April 10, 2017

FILSAFAT PENDIDIKAN REKONSTRUKSIONISME



BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam filsafat modern dikenal beberapa aliran-aliran diantaranya aliran Rekonstruksionisme.Dizaman modern ini banyak menimbulkan krisis di berbagai bidang kehidupan manusia terutama dalam bidang pendidikan, dimana keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran.

Untuk mengatasi krisis kehidupan modern tersebut aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupa membina konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok yang tertinggi dalam kehidupan umat manusia. Oleh karena itu pada aliran rekonstruksionisme ini peradaban manusia masa depan sangat ditekankan, disamping itu aliran rekonstruksionisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berpikir kritis dan sebagainya.

B. Rumusan Masalah
Sebagaimana disinggung dalam latar belakang masalah maka dalam penulisan ini penulis akan memformulasikan beberapa rumusan masalah sebagai berikut, “Apakah Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme”.

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah adalah :
1. Agar mengetahui pengertian Filsafat Rekonstruksionisme
2. Agar mengetahui teori pendidikan Rekonstruksionisme
3. Agar mengetahui pandangan-pandangan tentang Rekonstruksionisme
4. Agar mengetahui macam-macam pendekatan Rekonstruksionisme
5. Agar mengetahui komponen kurikulum Rekonstruksionism

BAB II
FILSAFAT PENDIDIKAN REKONSTRUKSIONISME

A. Pengertian Filsafat Pendidikan Rekontruksionisme
Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggris “reconstruct” yang berarti menyusun kembali, dalam konteks filsafat aliran rekonstruksionisme adlah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata hidup kebudayaan yang bercorak modern yaitu melakukan perombakan dan menyusun kembali pola-pola lama menjadi pola-pola baru yang lebih modern.

B. Teori Pendidikan Rekonstruksionisme
Teori pendidikan rekonstruksionisme yang dikemukakan oleh Brameld terdiri dari enam tesis, yaitu :

1. Pendidikan harus dilaksanakan disini dan sekarang dalam rangka menciptakan tata sosial baru yang akan mengisi nilai-nilai dasar budaya kita dan selaras dengan yang mendasari kekuatan-kekuatan ekonomi, dan sosial modern. Pendidikan harus mensponsori perubahan yang benar dalam nurani manusia. Oleh karena itu, kekuatan teknologi yang sangat kuat harus dimanfaatkan untuk membangun umat manusia, bukan untuk menghancurkannya. Masyarakat harus diubah bukan melalui tindakan positif, melainkan dengan cara mendasar.

2. Masyarakat baru harus berada dalam kehidupan demokrasi sejati, dimana sumber dan lembaga utama dalam masyarakat dikontrol oleh warganya sendiri. Semua yang mempengaruhi harapan dan hajat masyarakat seperti sandang, pangan, papan, kesehatan industry dan sebagainya. Semua akan menjadi tanggung jawab rakyat melalui wakil-wakil yang dipilih. Masyarakat ideal adalah masyarakat yang demokrasi. Struktur, tujuan dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan tata aturan baru harus diakui merupakan bagian dari pendapat masyarakat.

3. Anak, sekolah, dan pendidikan itu sendiri dikondisikan oleh kekuatan budaya dan sosial. Menurut rekonstruksionisme hidup beradab adalah hidup berkelompok sehingga kelompok akan memainkan peran yag penting disekolah.

4. Guru harus meyakini terhadap validitas dan urgensinya dirinya dengan cara bijaksana yaitu dengan memperhatikan prosedur yang demokratis. Guru harus mengadakan pengujian secara terbuka terhadap fakta-fakta.

5. Cara dan tujuan pendidikan harus diubah kembali seluruhnya dengan tujuan untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan krisis budaya dewasa ini, dan untuk menyesuaikan kebutuhan dengan sains sosial. Yang penting dari sains sosial adalah mendorong kita untuk menemukan nilai-nilai, dimana manusia percaya atau tidak bahwa nilai-nilai itu bersifat universal.

6. Kita harus meninjau kembali penyusunan kurikulum, isi pelajaran, metode yang pakai, struktur administrasi, dan bagaiman guru dilatih. Semua itu harus di bangun kembali bersesuaian dengan teori kebutuhan tentang sifat dasar manusia secara rasional dan ilmiah. Kita harus menyusun kurikulum dimana pokok-pokok dan bagiannya dihubungkan secara integral, tidak disajikan sebagai suatu sekuensi komponen pengetahuan.

C. Pandangan-pandangan Tentang Rekonstruksionisme
1. Pandangan Ontology
Dengan ontology dapat mengetahui tentang bagaimana hakikat dari segala sesuatu. Aturan rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal yang mana realita itu ada dimana dan sama disetiap tempat. Menurut Noor Syam, untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang kongkrit dan menuju kearah yang khusus menampakkan diri dalam perwujudan sebagaimana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indera manusia.

2. Pandangan Epistimologis
Kajian epistimologis aliran ini berpijak pada pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan asas tahu, karenanya baik indera maupun rasio sama-sama membentuk pengetahuan dan akal dibawa oleh panca indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya.

3. Pandangan Ontologis
Bernadib mengungkapkan bahwa aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan asas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal, yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahui. Kemudian manusia sebagai subjek telah mempunyai potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai kodratnya.

4. Pandangan Filsafat Rekonstruksionisme Tentang Pengetahuan
Secara umum, filsafat rekonstruksionisme merupakan sebuah paham anti essensialisme, yang menekankan kepada penciptaan budaya dan sejarah. Bagi filsafat rekonstruksionisme yang terpenting adalah pribadi sebagai bentuk budaya, karena pribadi terbentuk dari materi budaya, seperti bahasa dan praktik budaya lainnya dalam waktu tertentu dan tempat tertentu pula. Sementera itu ia memandang pengetahuan merupakan proses menjadi pelan-pelan yang menjadi lengkap dan benar. 

Para penganut rekontruksionisme berpendapat bahwa pengetahuan itu adalah merupakan konstruksi dari kita yang sedang belajar. Pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang dipelajari tetapi merupakan kontruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada disana dan orang tinggal mengmbilnya,tetapi merupakan suatu bentuk terus menerus dari seseorang yang setiap kali mengadakan reorganisasi karena munculnya pemahaman yang baru.

Kaum rekonstruksionisme menyatakan bahwa manusia dapat mengetahui sesuatu dengan inderanya. Dengan berinteraksi terhadap objek dan lingkungan melalui proses melihat, mendengar, menjamah, membau, dan merasakan, orang dapat mengetahui sesuatu.

Von Glaserfeld menyebutkan beberapa kemampuan yang diperlukan untuk proses pembentukan pengetahuan itu seperti :
1. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman.
2.Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan
3. Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada yang lain. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengaaman sangat penting karena pengetahuan dibentuk oleh interaksi dengan pengalaman-pengalaman tersebut.

D. Macam-macam Pendekatan Rekonstruksionisme
Pendekatan ini juga disebut rekonstruksi sosial karena memfokus kurikulum pada masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat, seperti polusi, ledakan penduduk, dan lain-lain.
Dalam gerakan rekonstruksionisme terdapat dua kelompok utama yang sangat berbeda pandangan tentang kurikulum, yakni :

1. Rekonstruksionisme Konservatif, aliran ini menginginkan agar pendidikan ditujukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat, masalah-masalah dapat bersifat local dan bersifat daerah nasional, regional dan internasional bagi pelajar SD dan Perguruan Tinggi. Peranan guru sebagai orang yang menganjurkan perubahan (agent of change) mendorong siswa menjadi partisipan aktif dalam proses perbaikan masyarakat. Pendekatan kurikulum ini konsisten dengan Falsafah Pragmatisme.

2. Rekonstruksionisme Radikal, pendekatan ini berpendapat bahwa banyak Negara mengadakan pembangunan dengan merugikan rakyat kecil, yang miskin yang merupakan mayoritas masyarakat. Elite yang berkuasa mengadakan tekanan terhadap massa yang tak berdaya melalui system pendidikan yang diatur demi tujuan itu.

Golongan radikal ini menganjurkan agar pendidikan formal maupun pendidikan nonformal mengabdikan diri demi tercapainya orde sosial baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata. Mereka berpendapat bahwa sekolah yang dikembangkan negara bersifat opresif dan tidak humanistic serta digunakan sebagai alat golongan elit untuk mempertahankan status quo.

Untuk pendirian yang saling bertentangan ini, baik yang konservatif maupun yang radikal mempunyai unsur kesamaan. Mereka berasumsi bahwa masalah-masalah sosial adalah hasil ciptaan manusia dan karena itu dapat diatasi oleh manusia. Sebaliknya golongan radikal ingin merombak tata sosial yang ada dan menciptakan tata sosial yang baru sama sekali untuk memperbaiki system lebih efisien.

E. Komponen-komponen Kurikulum Rekonstruksi
1. Tujuan dan Isi Kurikulum
Tujuan program pendidikan setiap tahun berubah, misalnya dalam pendidikan ekonomi-politik, pada tahun pertama membangun kembali dunia ekonomi politik. Maka kegiatan yang dilakukan adalah :
a. Mengadakan survey secara kritis terhadap masyarakat.
b. Mengadakan studi tentang hubungan antara keadaan ekonomi lokal, nasional, serta internasional.
c. Mengadakan studi tentang latar belakang historis dan kecenderungan-kecenderungan pertimbangan ekonomi, hubungannya dengan ekonomi lokal.
d. Mengkaji praktek politik dalam hubungannya dengan faktor ekonomi
e. Memantapkan rencana perubahan praktek politk.
f. Mengevaluasi semua rencana dengan kriteria apakah telah memenuhi kepentingan sebagian besar orang.

2. Metode
Guru berusaha membantu siswa dalam menemukan minat dan kebutuhannya sesuai dengan minat masing-masing siswa, baik dalam kegiatan pleno atau kelompok berusaha memecahkan masalah sosial yang dihadapi dengan kerja sama.

3. Evaluasi
Dalam kegiatan evaluasi para siswa juga dilibatkan. Keterlibatan mereka terutama dalam memilih, menyusun, dan menilai bahan yang akan diujikan. Soal yang diujikan dinilai terlebih dahulu baik ketepatan maupun keluasan isinya, juga keampuhan menilai pencapaian tujuan-tujuan pembangunan masyarakat yang sifatnya kualitatif. Evaluasi tidak hanya menilai apa yang dikuasai siswa, tetapi juga menilai pengaruh kegiatan sekolah terhadap msyarakat. Pengaruh tersebut terutama menyangkut perkembangan masyarakat dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.
Pandangan aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamat dunia merupakan tugas bersama semua umat manusia atau bangsa, karenanya pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk alam dan dunia baru dalam pengawasan umat manusia.

Aliran rekonstruksionisme ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis sehingga perubahan-perubahan untuk mencapai tujuan yang lebih baik akan selalu diadakan dan dijadikan realita, dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan-golongan tertentu, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, agama, dan masyarakat yang bersangkutan, akan tetapi perubahan yang digunakan untuk kepentingan bersama.

DAFTAR PUSTAKA
HanafiImam,”ParadigmaPembelajaranRekonstruksionisme”:http://nafieihsan.blogspot.com/2008/05/Paradigma-Pembelajaran html (diakses tanggal 13 Desember 2010)
Jalaludin dan Abdullah,” Filsafat Pendidikan Manusia dan Pendidikan “(Jakarta : Gaya Media Pratama, 1997)
Priari,”Pendekatan-Pendekatan Dalam Pendidikan Luar Sekolah,”007luck di/ pada 8 Oktober 2008, http : //priari007luck.wordpress. (diakses tgl 13 Desember 2010)
Sadullah Uyoh,”Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung,” : Alfa Beta, 2003
Sukma Dinata, Nana Syaodih, “Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek,”Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2006