Friday, January 1, 2021

Aku dan Diriku : Sebuah Pengakhiran

Ig @kisah_insan


arifsae.com - Aku dan diriku terkadang tak selalu berakhir dengan aku. Kadangkala berakhir dengan aku yang memikirkannya, atau diriku yang tak mengenal diriku sendiri. Entahlah.


Perjalanan hidup yang bercinta adalah perjalanan paling menenangkan sekaligus menggelisahkan. Satu tuju yang penuh dengan liku, yang terkadang pilu. Mencintai itu awal dari kita menuju menyenangkan sekaligus menyakitkan. Perasaan yang menghambur entah kemana, berlarian liar tak terlihat.


Satu tujuan namun penuh dengan arah tak tentu. Mencintai sesuatu yang dekat, terkadang lebih menjanjikan, tetapi pilihan yang terbaik terkadang dengan orang yang tersekat jarak. Pilihan itu hanya segelintir orang yang memilihnya, sisanya, hampir seperti membangun rumah yang sudah usang, dipenuhi dengan rumput liar. Menyeramkan.


Sore, senja, dan hujan merupakan memori indah yang pernah mempertemukan dua insan. Saat mereka marah, bahaga, tawa, bahkan airmata, selalu melekat erat, terus terbawa hingga waktu yang tak bisa dikira. Seorang yang begitu mempesona, bagaimanapun situasinya, tidak akan hilang dalam rasa. Dia abadi dalam waktu yang berhenti. Selamanya menetap dalam sudut ruang hati.


Laki-laki paling tangguh, adalah dia yang mengungkapkan rasa, meski diwaktu yang tak biasa, kemudian dia merelakan, dan puncak dari rasa cinta itu adalah mengikhlaskan untuk kebahagiannya dengan orang yang lebih dekat.


Semuanya mengalir alami, tanpa rekayasa, tanpa dibuat-buat, tanpa tuduhan dan tanpa paksaan. Laki-laki hebat, dia yang memelihara rasa, tapi tidak menuntut. Dia yang punya kesempatan, tapi tidak digunakan, dia yang bisa menyakiti, tapi hanya memikirkan kebahagiaan untuknya. 


Pengungkapan rasa antar dua manusia adalah hukum semesta yang sangat hebat dalam orbitnya. Pilihannya ada dua, bertemu lalu berpisah atau bertemu dan bersama. Ada sebagian perjalanan hidup ketika besama-sama, masih tertinggal diam diri disana. Menyisakan tanda seru, bahkan tanda tanya, atau tanda koma?


Seseorang yang membersamai diri sendiri, dalam separuh perjalanan hidup adalah dia yang paling bahagia kerena mengikhlaskan melepas orang untuk bersama dengan orang lain, demi dia yang kesepian sendiri. Semuanya lepas, semuanya bebas. Kemudian hilang.[]