Wednesday, June 20, 2018

Cerita Bersama di KBRI Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam

Rombongan di KBRI Bandar Seri Bengawan

Tuesday, June 19, 2018

8 Kali Cap Passport, Perjalanan Darat Kota Kinabalu ke Bandar Seri Begawan

Memasuki Daerah Sarawak
arifsae.com - Ini mungkin musibah atau anugerah? eh, mungkin tidak sesimple itu menanyakannya. Oke, saya akan menjelaskan pelan-pelan.

Perjalanan kali ini adalah perjalanan dinas, (sok gaya bener), karena alasannya masalah passport. Kenapa dengan Passport ku? jadi visa tinggal yang ada di passport sudah habis. Sedangkan aturan di Malaysia, gaji dibawah RM 5000 (Note: RM. 1 = Rp. 3400, jadi sekitar 18 juta lebih) harus di deportasi keluar Malaysia selama 3 hari. Sedangkan gaji kami kurang dari itu. Makanya gaji kami dinaikin jadi tidak perlu lagi dideportasi. #eh ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜‹

Nah, untuk mengurus itu semua harus ke kedutaan Malaysia langsung. Sedangkan kedutaan Malaysia yang ada disekitar Sabah ada di Kuala Lumpur, Jakarta dan Bandar Seri Begawan. Tentu saja kedutaan terdekat yang ada di Brunei. Selain dekat, pertimbangan lainnya juga karena biayanya juga murah. Kawan-kawan yang lain (jumlah 90-an) ikut semua dalam rombongan. 

Pertanyaanya, ini deportasi atau rekreasi?

Tidak penting itu. Sekarang saatnya menjalani pengalaman baru, yaitu perjalanan dari Kota Kinabalu ke Bandar Seri Begawan dengan Bus. Untuk kendaraan, bus yang kami gunakan memang sudah disediakan, yaitu Sipitang Exspress. Jadi pagi-pagi jam 7 kami sudah siap-siap meluncur dari Kota Kinabalu.
KK-BSB
Menurut info, perjalanan KK-BSB akan membutuhkan waktu sektiar 8 jam perjalanan. Jadi kalau lancar, jam 5 atau 6 sore hari sampai di Bandar Seri Begawan. Ko lama? Ya, karena nanti setiap pintu masuk akan di cap passportnya. Berapa kali cap? 

Tidak tanggung-tanggung, 8 kali cap passport. Kalau yang suka koleksi cap passpor ini mungkin moment yang pas. Langung saja kita ke cap pertama, yaitu ketika keluar Sabah. Cap kedua, masuk Sarawak. 
Tugu Selamat Datang ke Sarawak
Sebenarnya heran juga, padahal Sabah dan Sarawak kan satu negara, tapi untuk keluar dan masuk daerah itu harus mendapatkan cap juga, sama seperti keluar-masuk negara lain. Tapi aturannya mungkin seperti itu, jadi kami ikut saja. Berikutnya cap ketiga dikenakan ketika ketika keluar Sarawak.

Perjalanan paling lama sebenarnya ketika Sabah-Sarawak, yang membutuhkan waktu 6 jam perjalanan. Tapi tenang saja, perjalanan yang membutuhkan waktu lama itu ditemani oleh alunan musik. Musiknya sebagian besar dari Indonesia, tapi herannya musiknya era lawas, sekitar 90-an dan 2000-an. Seperti Dewa 19, Paterpan, dll. Memang musik Indonesia benar-benar dinikmati disini.

Cap keempat dikenakan ketika memasuki wilayah Brunei, yaitu wilayah Distrik Temburong. Wilayah ini disebut juga exclave. Apa itu? wilayah yang dikelilingi oleh wilayah asing. Distrik Temburong ini dikelilingi oleh Malaysia dan Teluk Brunei. Nah untuk menuju ke Bandar Seri Begawan, kami harus melewati Distrik Temburong ini terlebih dulu. 
Pintu Masuk ke Brunei
Cap kelima akan didapat ketika keluar wilayah Brunei. Banyak cerita lucu ketika meminta cap ini karena saya harus berebut dengan teman-teman atau orang lain. Tentu saja berebutnya harus antri. Kadang momen lucu tercipta disini, ada yang turun bus duluan, ada juga yang cepat-cepatan mengambil antrian. 

Sesekali petugas menyuruh kami untuk memperkecil suara, karena sering tertawa didalam antrian. Begini momen antrian yang penuh dengan kebersamaan dan canda tawa.
Setelah itu cap keenam dan tujuh passport diberikan lagi ketika memasuki dan keluar Sarawak. Wilayah Sarawak ini hampir mirip dengan Sabah, hanya dipenuhi dengan Sawit dan Sawit.

Sekitar 2 jam tibalah kami di perbatasan terakhir untuk memasuki Brunei, dan disinilah kami mendapatkan cap terakhir, yaitu cap kedelapan. Setelah sampai masuk ke wilayah Brunei, perjalanan masih membutuhkan waktu 1 jam untuk menuju ke ibu kotanya.

Sangat terasa sekali suasana Brunei yang sangat nyaman, meski jalanan sepi tapi terasa sangat makmur. Rumah-rumah masih sangat jarang tapi besar-besar. Dan setiap rumah memiliki 2-3 mobil. Jalannya juga sepi namun mulus dan sangat terlihat keindahan infrastrukturnya.

Akhirnya jam 6 sore waktu Brunei, kami sampai ditengah-tengah keindahan kota Bandar Seri Bengawan. Negara kecil yang kaya oleh minyak bumi itu. Itulah perjalanan darat pertama KK-BSB. Petulangan baru saja dimulai. Hari ini cukup mengantongi bekal 8 cap passport. Besok dilanjut lagi.

Bersambung...DISINI []

Tuesday, June 12, 2018

Mission Impossible dari Direktorat Sejarah : Refleksi Buku dan Laporan Usman Janatin

Buku dan Laporan Usman Janatin

Friday, June 1, 2018

Meng-Indonesia-kan atau Di-Malaysia-kan?

arifsae.com - Ketika kita memilih menjadi perantau, kita akan mengalami "tabrakan" budaya dan bahasa. Jangankan diluar negeri, antar provinsi saja sudah sangat terasa perbedaanya.

Meminjam istilah Samuel Huntington, peristiwa ini dinamakan "benturan peradaban" atau clash of civilization. Memang tidak serumit itu, tabrakan budaya dan bahasa yang saya maksud adalah kasus yang saya alami sendiri.

Saya seorang guru di Sabah, Malaysia. Tentunya untuk mengajar anak-anak Indonesia. Misi saya jelas: "mengindonesiakan anak Indonesia". Namun ditempat yang jauh dari Indonesia ini, tentunya budaya dan bahasa di lingkungan Sabah sangat berbeda dengan wilayah di Indonesia.
JAIM 4 (dok Pribadi)
Bentrokan budaya ini tidak bisa dihindari. Pilihannya ada dua, kita mempengaruhi atau dipengeruhi. Atau diantara keduanya, menyesuaikan dengan kondisi lingkungan, seperti pepatah, "Di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung". Artinya dimana kita berada harusnya menghormati adat istiadat ditempat tinggal kita.

Menghormati adat ditempat kita berpijak adalah keharusan. Karena bangsa Indonesia memang sudah memiliki gen ke-bhineka-an itu. Menghormati budaya dan bahasa ditempat kita berada memang merupakan bentuk aplikatif dari pepatah diatas. 

Tapi permasalahanya adalah, bagaimana jadinya kalau kita sudah benar-benar terpengaruh budaya rantau dan melupakan budaya dan bahasa asli kita sendiri? Tentunya dalam konteks ini, bagaimana jadinya guru Indonesia yang mempunyai misi meng-Indonesikan anak Indonesia yang di Malaysia, ternyata terbawa arus di-Malaysia-kan oleh bahasa dan budaya Sabah, Malaysia?

Benturan Budaya dan Bahasa

Seperti kata Samuel Huntington, era globalisasi ini, dunia akan mengalami masa benturan budaya. Budaya kuat akan mempengaruhi budaya yang lemah. Contohnya, budaya barat mempengaruhi budaya anak muda Indonesia saat ini. Atau budaya Korea yang sudah menyerang hampir seluruh anak-anak melenial masa kini.

Apakah kita harus bersifat kolot atau bertindak konservatif? Tentu tidak. Mengetahui budaya dan bahasa asing tentu merupakan proses belajar dan memperkaya skill kita. Yang ditekankan adalah kita menyikapi budaya dan bahasa asing itu sebagai pelajaran dan komparasi terhadap budaya Indonesia, sehingga kita bisa memaknai bagaimana hidup berbudaya.

Disinilah posisi Nasionalisme ditempatkan. Bahasa nasional yang kita sepakati dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, bahwa kita akan menjunjungi tinggi bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa untuk menjadi alat pemersatu dari 546 bahasa lokal. Itulah kecerdasan para founding father negara ini. 

Karena bahasa merupakan identitas suatu bangsa. Bahasa juga mencerminkan budaya seseorang. Karena bahasa dan budaya merupakan dua sisi mata uang dan tidak bisa dipisahkan. Lewat bahasa-lah kemajuan dan kemunduran budaya suatu bangsa bisa dilihat.

Contohnya, seorang Jawa merantau ke Jakarta. Karena terlalu lama, orang Jawa itu sudah melupakan budaya aslinya, dan beralih kepada bahasa gaul. Sehingga ketika orang Jawa itu pulang ke daerah asalnya, dia tidak mau menggunakan bahsa Jawa lagi, tapi memilih bahasa gaul yang diidentikan dengan bahasa kekinian.

Ironis. Karena selain menjunjung tinggi bahasa Indonesia, kita juga selayaknya harus melestarikan bahasa lokal. Artinya, ketika bertemu dengan orang yang berbeda suku dan budaya, pakailah bahasa Indonesia, karena itu bahasa pemersatu. Tapi kalau kita bertemu orang yang satu daerah, alangkah indahnya menggunakan bahasa daerah kita. 

Kita tidak susah memperdulikan image bahwa bahasa daerah adalah bahasa kampungan, bahasa ndeso atau bahasa yang tidak keren. Karena bahasa daerah itulah penyangga bahasa Indonesia. Jadi intinya adalah, "Junjung tinggi bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah kita. Itu."

Guru Sabah dan Bahasa

Kembali lagi ke topik utama. Tujuan adanya tulisan ini adalah mirisnya saya pribadi melihat kawan-kawan sesama guru yang "kalah" bahasa dengan bahasa Sabah disini. Mereka dalam kesehariannya sudah menggunakan bahasa Sabah, bahkan kepada teman sesama guru sekalipun.

Sebagai contoh, guru yang sebetulnya harus "meng-Indonesikan" justru kalah dengan bahasa Sabah, sehingga kesannya "di-Malaysia-kan". Apakah salah guru Sabah menggunakan bahasa Sabah? Sekali lagi jawabanya tidak. Tentunya dengan beberapa situasi.

Benar. Ketika kita berhadapan dengan orang-orang penduduk asli, karena bagaimanapun, kita berada di Sabah yang harus menyesuaikan dengan bahasa daerah setempat. Kita tidak perlu ragu untuk menggunakan bahasa Sabah dengan orang Sabah. Inilah makna, "Di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung".

Salah. Sekali lagi, Salah, ketika kita (sebagai guru) menghadapi siswa dalam proses belajar mengajar. Mengapa? Karena, sekali lagi, tugas kita sebagai guru untuk mengajarkan budaya dan bahasa Indonesia kepada anak-anak Indonesia yang ada di Sabah ini.

Disinilah, peran kita. Disinilah tugas kita yang sebenarnya sebagai seorang guru. Mereka harus diajarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia. Mereka juga harus dikenalkan dengan budaya Indonesia yang sangat kaya ini. Agar dalam dirinya tumbuh kecintaan terhadap negara aslinya, Indonesia.

Saya sendiri sudah berusaha 100% menggunakan Bahasa Indonesia ketika melakukan proses belajar. Bukan bahasa Sabah. Saya tidak mau kalah dengan bahasa mereka saat ini, yang saya mau adalah, mereka yang saya pengaruhi untuk ikut berbahasa Indonesia, bukan saya yang terpengaruh bahasa meraka. Tidak. Saya tidak mau.

Jadi, sekali lagi saya mengajak untuk selalu menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Jangan kalah. Apalagi ketika kita bertemu dengan rekan sesama guru, gunakan bahasa Indonesia yang baik. Terlebih ketika bertemu dengan teman satu daerah, sangat akan nyaman gunakan bahasa daerah kita.

Sehingga ketika saat kita pulang nanti di Indonesia, kita masih 100 % Indonesia, dan berhasil melaksanakan misi: Meng-Indonesia-kan anak Indonesia, bukan di Malaysia-kan. Semoga kita tetap melestarikan bahsa daerah, dan menjunjung tinggi Bahsa Indoneisa.

Tulisan ini bersifat refleksi peribadi. Terutama kepada diri sendiri. Mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan.[]

Sunday, May 27, 2018

Sabah Dalam Arus Sejarah: Dari Zaman Neolitikum Hingga Referendum


arifsae.com - Bukti pertama kehidupan di Sabah ditandai dengan ditemukannya peralatan batu dan sisa makanan dari ekskavasi di sepanjang wilayah Teluk Darvel di Gua Madai-Baturong, dekat dengan Sungai Tingkayu. Penemuan batu ini diperkirakan berasal dari 20.000-30.000 tahun yang lalu.
Bagian Muzeum Sabah (dok. Pribadi)

Saturday, May 26, 2018

Asal Usul Nama Sabah


arifsae.com - Saat ini, Sabah merupakan wilayah negara bagian dari Kerajaan Malaysia yang termasuk kedalam 13 negara dalam persekutuan Malaysia. Wilayah ini merupakan wilayah terbesar kedua, setelah Sarawak, dalam bagian persekutuan itu. Julukan untuk menggambarkan wilayah ini adalah Negeri di Bawah Banyu (Land Below the Wind).

Nama Sabah sendiri mempunyai banyak arti. Para sejarawan berbeda pendapat mengenai asal usul nama Sabah ini. Salah satu teori yang sering menjadi rujukan yaitu ketika wilayah Sabah masih menjadi wilayah Kasultanan Brunei.

Menurut teori ini, kata Sabah berasal dari sebuah Pohon Pisang bernama “Saba”. Pohon ini sering ditemukan di kawasan pantai Barat Sabah. Pisang Saba ini juga dikenal sebagai “Pisang Menurun” oleh masyarakat setempat.

Nama Saba kemudian berkembang menjadi Sabah, yang berasal dari penamaan orang Melayu Brunei yang bermakna “hulu” atau sebelah Utara Sungai. Selain teori Pohon Pisang Saba, juga ada teori penamaan Sabah berasal dari kata “Sabak” yang bermakna “Tempat gula aren diekstrak”. Dalam bahasa Arab, kata Sabah juga berarti “Matahari Terbit”.
Bendera Sabah
(Sumber gambar: beritadaily.com)

Friday, May 18, 2018

Momentum Reformasi Dunia Pendidikan


Kesenian

Monday, May 14, 2018

Onje Sebagai Akar Sejarah Kabupaten Purbalingga

Agenda Grebeg Onje 2017
arifsae.com - Sejarah berasal dari bahasa Arab ‘sajaroh’, yang artinya pohon. Konstruksi anatomi pohon terdiri dari tiga komponen utama, yaitu  akar, batang dan buah/daun.  Dengan demikian, sejarah bisa dimaknai sebagai anatomi ‘pohon peradaban’ yang terdiri dari akar masa silam, batang masa kini, dan buah masa depan.  Jadi, sejarah merupakan kesatuan tiga dimensi waktu  (masa silam, masa kini dan masa depan) yang menjadi ruang tumbuh kebudayaan manusia. Batang pohon masa kini tidak bisa dipisah dari akar masa silam.  Batang pohon yang terputus dari akarnya akan mati dan mustahil bisa memproduksi buah.  Purbalingga sebagai sebuah tatanan sosial, adalah juga sebuah ‘pohon’ peradaban yang harus terus dicari persambungan akar nilai kesejarahannya.

Transisi Majapahit → Demak Oleh Wali Sanga
Pasca Majapahit, Islam mendapat momentum sejarah untuk hadir dan terlibat sebagai subyek nilai di dalam proses politik Nusantara. Demak merupakan hasil karya peradaban Bangsa Nusantara pasca Majapahit. Sebuah tatanan sosial yang dikonstruksi berdasarkan nilai-nilai Islam. Keruntuhan Majapahit tahun 1479 M yang dikenal dengan istilah ‘sirna ilang kertaning bumi’ adalah peristiwa paling tragis dalam sejarah Nusantara. Berbagai konflik internal keraton dan bencana alam berupa semburan lumpur di daerah Canggu membuat keutuhan Majapahit gagal dipertahankan. Kerajaan yang sedemikinan besar dan menjadi kebanggaan Bangsa Nusantara ini ‘luluh lantak’ di lantai sejarah. Tokoh-tokoh Islam yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga mencoba menawarkan alternatif solusi untuk merespon tragedi akbar tersebut. Keputus asaan bangsa nusantara mencoba dibangkitkan kembali dengan dibangunnya kerajaan atau kesultanan Demak. Ide Wali Sanga inilah yang menjadi episode baru tatanan politik Nusantara.

Demak berhasil mengutuhkan kembali puing-puing peradaban Nusantara. Tatanan dengan nuansa dan atmosfir baru ini seperti semilir angin pantai yang meyegarkan kembali jiwa bangsa nusantara yang sempat depresi akibat tragedi sirna ilang kertaning bumi. Wali Sanga adalah konseptor yang meletakan batu bata sejarah peradaban Nusantara pasca Majapahit. Setelah sebelumnya di era pra Demak,  kebudayaan Nusantara diinspirasi oleh konsep nilai Hindu-Budha. Demak sebagai pusat kekuasaan tentu sangat efektif sebagai sarana penyebaran Islam di Nusantara. Kerajaan Islam besutan Wali Sanga ini kemudian berlangsung hingga beberapa kali pergantian Raja. Dimulai dari Raden Patah (1500 – 1518), lalu digantikan putranya yaitu Pati Unus (1518 – 1521). Setelah Pati Unus Wafat, tahta kerajaan dipegang oleh adiknya yang bernama Sultan Trenggono (1521 - 1546). Kemudian putra Sultan Trenggono yang bernama Sultan Prawoto atau pangeran Mukmin (1546 – 1549) menjadi raja terakhir kerajaan Demak.

Sepeninggal Sultan Prawoto, Wali Sanga kemudian berinisiatif memindahkan pusat konsentrasi perjuangan Islam ke daerah pedalaman Jawa, yaitu Pajang, di daerah Surakarta. Murid pinunjul Sunan Kali Jaga yang bernama Jaka Tingkir alias Mas Karebet yang mendapat ‘titah langit’ untuk menjadi Raja pertama pedalaman Jawa dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Dari Pajang lah kemudian syiar Islam merambah di wilayah pedalaman Jawa. Konsepsi Islam terus menjadi inspirasi perjalanan sejarah hingga ke berbagai level tatanan sosial.

“Tัtัsing Madu, Rembesing Kusuma” - Bibit Unggul ‘Pohon’ Purbalingga -
Salah satu daerah pedalaman Jawa yang tidak bisa lepas dari eksistensi politik Pajang  adalah Purbalingga. Bahkan hubungan Purbalingga dan Pajang bisa dibilang sebagai hubungan istimewa karena berkait langsung dengan urusan Trah Raja Pajang. Dari sinilah terlihat bahwa Purbalingga sesungguhnya memiliki garis sejarah yang kuat dengan Pajang. Garis sejarah tersebut tentu bisa menjadi modal moral dan spiritual bagi Purbalingga masa kini untuk menemukan martabat dan harga diri sejarahnya. Hubungan antara Purbalingga dengan Pajang menjadi istimewa karena Pajang merupakan kerajaan Islam pertama yang berhasil didirikan di daerah pedalaman Jawa. Artinya, Purbalingga memiliki tali sejarah yang tersambung dengan artefak penting dalam sejarah pekembangan Islam, yaitu Pajang. Berikut uraian lengkap yang menjadi fakta bahwa Purbalingga memiliki ketersambungan darah sejarah dengan Pajang.

Ki Tepus Rumput, tokoh inilah yang mengawali cerita  babad Onje.  Beliau merupakan tokoh sentral keberadaan Kadipaten Onje pada masa lampau. Diceritakan Sanurji (juru kunci makam Adipati Onje), ketika itu di suatu tempat masih dalam keadaan alas (hutan) gung liwang-liwung. Tempat tersebut berada di sebelah timur gunung Slamet. Dialah petualang yang berasal dari bang kulon (wilayah barat). Nama sang petualang itu Ki Tepus Rumput. Dalam perjalanannya Ki Tepus Rumput singgah di suatu tempat. Duduk di atas sebuah batu dan bersandar pada pohon jati sambil beristirahat. Ternyata pohon jati yang digunakan untuk bersandar Ki Tepus Rumput berbau wangi. Tempat peristirahatan itu sekarang di kenal dengan nama Jati Wangi. (menurut  Sanurji).

Kemudian mendengar suara kokok ayam jantan dari arah tenggara. Dengan mendengar kokok ayam tersebut Ki Tepus Rumput menduga, ada manusia lain yang mendiami tempat itu. Ki Tepus Rumput mencari tempat asal suara kokok ayam, ternyata ada sebuah padepokan yang dihuni oleh Ki Onje Bukut. Di sekeliling  padhepokan itu ditumbuhi banyak pohon burus.   Ki Tepus Rumput juga ditemui oleh sosok manusia, yang bernama Ki Kantharaga. Dalam pertemuannya itu Ki Tepus Rumput di suruh bertapa di wetan gunung gede (Gunung Slamet) yang bernama bukit Tukung. Ternyata Ki Kantharaga setelah memberikan wejangan dan perintah kemudian menghilang. 

Karena  tempat pertemuan antara Ki Tepus Rumput, Ki Onje Bukut dan Ki Kantharaga banyak ditumbuhi pohon burus maka tempat itu dinamakan Onje (bunga/kembang pohon burus). Petualangan Ki Tepus Rumput   sekaligus  merupakan suatu perjalanan ritual berupa bertapa. Dalam  bertapa tersebut mendapatkan suatu wisik (ilham) agar mengikuti suatu sayembara yang diselenggarakan Sultan Pajang. Sayembara tersebut dilaksanakan karena Cincin milik Sultan Pajang yaitu Socaludira hilang. Cincin tersebut masuk ke jumbleng (jamban),  dan belum ada yang dapat menemukannya. Isi sayembara tersebut, bahwa barang siapa yang dapat menemukan Cincin Sultan Pajang maka apabila seorang perempuan akan dijadikan istri dan apabila seorang laki-laki  dihadiahi Garwa Selir Sultan yaitu Putri Adipati  Menoreh yang bernama Kencana wungu dan tanah seluas dua ratus grumbul.

Dalam mengikuti sayembara di Keraton Pajang, Ki Tepus Rumput  berhasil menemukan Cincin Socaludira  milik Sultan Hadiwijaya.  Maka ditepatilah janji Sultan Hadiwijaya bahwa kalau yang dapat menemukan seorang laki-laki maka akan diberi hadiah garwa selir.  Yaitu seorang putri yang berasal dari Menoreh anak dari Adpiati Menoreh. Maka sang Sultan pun memberikan hadiah tersebut dengan disertai pemberian lainnya yaitu berupa tanah seluas 200 grumbul dan diberi julukan atau “Sinebut Ing Ngaluhur, Kiyai Ageng Ore-Ore”.  Sultan Hadiwijaya berpesan bahwa sang putri jangan sekali-kali “digauli”.  Dalam naskah Babad  Onje disebutkan,

“Ingkang abdi sami boten saguh  mendhet, amung Kyai Ki Tepus Rumput   ingkang saged mendhet. Lajeng dipunpaikani dinamelan sumur ing sandhingipun, nunten kepanggih kagungan dalem supe, lajeng kapundhut kalih Kanjeng Sultan Pajang, dhawuhe Kanjeng Sultan, “ingsun ora wani-wani, sapa kang anemokaken manira paringi bojo ingsung bocah desa asal Menoreh, Putrane Kyai Dipati Menoreh, iya rawatana, ananing iya wus meteng olih kapat tengah, iya iku poma-poma aja kowe tumpangi”.

Dari uraian tersebut menjelaskan bahwa Kadipaten Onje berhubungan erat dengan kerajaan Pajang. Kerajaan Pajang merupakan kerajaan Islam yang berdiri pada tahun 1568 M didirikan oleh Jaka Tingkir yang mempunyai nama lain Mas Karebet putra Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenongo, kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya. Kedudukannya sebagai Raja Pajang disahkan oleh Sunan Giri .

ONJE : Akar ‘Pohon’ Purbalingga
 Tidak ataupun belum ada  yang menyebutkan tahun berapa secara pasti kerajaan Pajang mengadakan sayembara yang dimenangkan oleh Ki Tepus Rumput. Setelah mengikuti sayembara dan berhasil mendapatkan hadiah dari Sultan Hadiwijaya, Ki Tepus Rumput  kemudian kembali ke arah barat,  yaitu ke dhusun Truka Onje  dengan disertai empat  orang pengawal yaitu:

1. Puspa Jaga
2. Puspa Kantha
3. Puspa Raga
4. Puspa Dipa  

Dengan demikian maka Ki Tepus Rumput   menjadi Adipati I  di Kadipaten Onje, dengan julukan Kyai Adipati Ore-Ore. Sebagai pusat Kadipaten berada di sebelah timur Sungai Klawing. 

Tibalah pada saatnya anak yang dikandung Putri Menoreh lahir, dan ternyata lahir bayi laki-laki. Ki Tepus Rumput memberitahukan kepada Sultan Pajang. Sultan Pajang bersabda;

“Ya kaulah yang merawat anak itu baik-baik, besok jika anak itu sudah mampu melayamkan tombak bawalah kemari”. 

Maka setelah tiba pada waktunya, dipersembahkanlah anak itu ke Keraton Pajang. Kemudian Sultan Hadiwijaya memberi nama atau gelar  Kyai Adipati Anyakrapati ing Onje, dengan ditandai upacara bupati serta diberi tanah seluas 800 grumbul. Selain itu juga diberi sentana kamisepuh atau pengikut kaum kepala desa sebanyak tujuh keluarga supaya menjadi pembantu di Onje.

Setelah menata pemerintahan dan dirasa sang Putra Sultan sudah mampu menjadi adipati  yang mumpuni, maka Ki Tepus Rumput  melanjutkan petualangannya menuju ke arah timur Kadipaten Onje.

Adipati Onje II kemudian dipegang oleh Anyakrapati. Adipati Anyakrapati menikah dengan dua orang wanita, yaitu Puteri Keling dari Jawa Barat, dan puteri adipati cipaku yang benama Rara Pakuwati. Pernikahannya dengan puteri keling tidak dikaruniai anak. Dari Rara Pakuwati, Adipati menurunkan tiga orang anak, yaitu Raden Mangunjaya, Raden Citra Kusuma dan Rara Banowati.  Dua orang Istrinya ini kemudian wafat oleh sebuah peristiwa di internal keluarga kadipaten.

Setelah dua orang istri adipati Anyakrapati meninggal dunia, beliau kemudian menikah lagi dengan puteri adipati Arenan yang bernama Nyai Pingen. Dari Istrinya yang ketiga inilah, lahir dua orang putra yang bernama Ki Wangsantaka dan Ki Arsantaka.

Dua orang dengan watak dan potensi yang pinunjul. Dua Jawara ini menarik untuk dikupas hingga ke ceruk terdalam ruang sejarah Purbalingga. Kakak beradik ini mengambil pilihan sikap yang berbeda dalam menjalani prinsip-prinsip sejati kemanusiaannya. Ki Wangsantaka memilih memegang idealisme Onje dengan meneruskan seluruh tata nilai yang dibangun leluhurnya. Sementara itu Ki Arsantaka memilih mengembara ke luar Onje dan berkarir di pemerintahan Belanda waktu itu. Dua sikap yang tampak berseberangan jika dilihat dari kulit luarnya. Tetapi jika kita bersedia untuk sedikit arif dalam melihat persoalan dan realitas di jaman itu, pilihan Ki Arsantaka tentu bukanlah keputusan yang keliru.

Ki Wangsantaka yang kuat memegang prinsip, dengan menolak berkompromi dengan Belanda waktu itu adalah juga sebuah ketangguhan nasionalisme yang patut untuk diteladani. Dengan segala resiko yang harus dihadapi, Ki Wangsantaka memilih berkonfrontasi dengan Belanda. Pada sisi lain, sikap fleksibel dan kompromis Ki Arsantaka juga membuahkan prestasi yang besar. Belanda dipandang oleh Ki Arsantaka terlalu kuat jika harus diladeni secara militer. Maka dengan bergabung menjadi pejabat pemerintahan Belanda, yaitu menjadi Demang di daerah Banjarnegara, Ki Arsantaka berhasil meminimalisir kebringasan Belanda. Kabupaten Purbalingga tetap dipegang oleh trah Onje adalah bukti penghormatan Belanda kepada Ki Arsantaka. Inilah prestasi diplomatik yang brilian dari salah seorang putra mahkota Onje.

Sementara Ki Wangsantaka dengan segala keteguhan pribadinya itu merupakan ‘penjaga gawang' nilai patriotisme. Sikap Ki Wangsantaka telah membuktikan kepada dunia bahwa Onje sebagai sebuah wilayah perdikan yang gagal ‘dirayu’ oleh Belanda untuk tunduk dan bertekuk lutut.

Kyai Arsantaka
Setelah dewasa, Kyai Arsantaka menikah dengan 2 orang putri. Istri pertama bernama Nyai Merden dan istri kedua bernama Nyai Kedung Lumbu. Dari istri pertama, Kyai Arsantaka di karuniai 5 orang putera, yakni; pertama Nyai Arsamenggala, kedua Kyai Dipayuda, ketiga Kyai Arsayuda, yang kemudian menjadi menantu Tumenggung Yudanegara II. Putera keempat bernama Mas Ranamenggala dan kelima adalah Nyai Pancaprana. Dengan istri kedua, Kyai Arsantaka di karuniai 1 putera yaitu Mas Candrawijaya, yang di kemudian hari menjadi Patih Purbalingga.

Dari babad inilah maka selanjutnya masyarakat Purbalingga meyakini bahwa Kyai Arsantaka merupakan leluhur para penguasa di Kabupaten Purbalingga.

Kabupaten Purbalingga, menurut Babad Purbalingga, di awali ketika Kyai Arsayuda, Putera ke-3 Kyai Arsantaka dari istri pertamanya yaitu Nyai Merden, di jadikan menantu Tumenggung Yudanegara II,  yang kemudian diangkat sebagai Bupati Banyumas, selanjutnya diangkat menjadi Bupati Purbalingga dengan gelar Ngabehi Dipayuda III.

1.  R. Tumenggung Dipayuda III
R. Tumenggung Dipayuda adalah putra ke-3 dari Kyai Arsakusuma yang berganti nama menjadi Kyai Arsantaka dengan istri yang bernama Nyai Merden. Banyak babad atau cerita tentang berdirinya sebuah pusat kekuasaan kabupaten Purbalingga, dimana  Kyai Arsantaka disebut-sebut sebagai cikal bakal berdirinya kabupaten Purbalingga. Dari perkawinannya dengan Nyai Merden, Kyai Arsantaka dikaruniai 5 orang putera, yakni: Nyai Arsamenggala, Kyai Dipayuda I, Kyai Arsayuda, Mas Ranamenggala dan terakhir adalah Nyai Pancaprana.

Sebelum menjadi Bupati Purbalingga, Kyai Arsayuda adalah menantu dari Tumenggung Yudanegara II ( 1728-1759) yang kemudian diangkat sebagai Bupati Banyumas, selanjutnya diangkat sebagai Bupati Purbalingga bergelar Ngabehi Dipayuda III.

Pada masa kekuasaan R. Tumenggung Dipayuda III, pemerintahannya dianggap monumental karena desa Purbalingga di jadikan sebagai Ibukota kabupaten yang sebelumnya berada di Karang lewas.

2.  R. Tumenggung Dipakusuma I
R. Tumenggung Dipakusuma adalah putra dari Ngabehi Dipayuda III dengan istri ke-3 yang bernama Nyai Tegal Pingen (putri dari Kyai Singayuda dan cucu dari Pangeran Mahdum Wali Prakosa, Pekiringan). Dari perkawinan tersebut, R. Ngabehi Dipayuda III dikaruniai 5 orang putra, yakni; pertama Raden Tumenggung Dipakusuma I yang kemudian menjadi Bupati Purbalingga menggantikan Ngabehi Dipayuda III, kedua Raden Dipawikrama yang kemudian menjadi Ngabehi Dayuh Luhur, ketiga R. Kertasana yang kemudian diangkat menjadi Patih purbalingga, keempat R. Nganten Mertakusuma dan kelima Kyai Kertadikrama yang kemudian diangkat menjadi Demang Purbalingga.

3. R. Tumenggung Bratasoedira (24 Juni 1830)
R. Tumenggung Bratasoedira adalah putra dari R. Tumenggung Dipakusuma I dengan Raden Ayu Angger, puteri Pangeran Aria Prabu Amijaya yang berarti cucu dari  Mangkunegara I. Dengan perkawanan tersebut, R. Tumenggung Dipakusuma I dikaruniai 4 putra, yakni; pertama Raden Mas Tumenggung Bratasoedira ( Raden Mas Danukusuma), Kedua Raden Mas Bratakusuma, ketiga Raden Mas Taruna Kusuma I,  dan keempat adalah Raden Ayu Suryaningrat.  

4.  R. Tumenggung Taruna Kusuma I (1 Agustus 1830)
R. Tumenggung Taruna Kusuma adalah adik dari R. Tumenggung Bratasoedira, yang berarti adalah putra ke-3 dari R. Tumenggung Dipakusuma I dengan istrinya Raden Ayu Angger ( cucu dari Amangkurat I).

5. R. Tumenggung Dipa Kusuma II (22 Agustus 1831)
R. Tumenggung Dipa Kusuma II adalah putra dari Raden Mas Tumenggung Bratasudira (Bupati Purbalingga ke-3) yang kawin dengan Mbok Mas Widata dari Kawong. Dari perkawinan tersebut di karuniai 4 putra, yakni; pertama Raden Ayu Mangkusudira, kedua Raden Anglingkusuma, ketiga Raden Mas Tumenggung Dipa Kusuma II, keempat Raden Dipasudira.  

6.  R. Adipati Dipa Kusuma III (7 Agustus 1846)
R. Adipati Dipa Kusuma III adalah putera pertama dari R. Tumenggung Dipa Kusuma II dengan istri keduanya yaitu Raden Ayu Karangsari, puteri dari Raden Tumenggung Citrasuma, Bupati Jepara.

7.  R. Tumenggung Dipa Kusuma IV (4 Sept 1869)
R. Tumenggung Dipa Kusuma IV adalah putra dari Raden Tumenggung Dipa Kusuma II dengan istri ke-3 nya yang bernama Raden Ayu Brobot. Dengan istri ke-3 nya, Dipa Kusuma II di karuniai 5 putra, yakni; pertama Raden Ayu Adipati Suranegara, menjadi bupati Pemalang, kemudian yang kedua  R. Dipaningrat, ketiga Raden Dipaatmadja yang kemudian menjadi patih Banyumas selanjutnya menjadi Bupati Purbalingga dengan gelar Raden Tumenggung  Dipa Kusuma IV. Kemudian keempat adalah Raden ayu Dipasudira dan kelima Raden Ayu Mangku Atmadja.

8. R. Tumenggung Dipa Kusuma V (14 Februari 1868)
R. Tumenggung  Dipa Kusuma V adalah putra dari R. Tumenggung Dipa Kusuma IV dengan istrinya yang bernama Raden Ayu dipa Atmadja. Dari perkawinan tersebut di karuniai 8 putra, yakni; Raden Ayu Tumenggung Cakraseputra, menjadi Bupati Purwokerto, kedua Raden Tumenggung Dipa Kusuma V ( Kanjeng Candi Wulan), ketiga Raden Adipati Dipa Kusuma VI, keempat Raden Ayu Wiryaseputra, kelima Raden Sumadarmaja, keenam Raden Ayu Adipati Cakranegara, ketujuh Raden Ayu Taruna Kusuma IV,  dan kedelapan Raden Ayu taruna Atmadja.

9. R. Brotodimedjo (20 Nopember 1893-13 Sept 1899)
Raden Brotodimedjo adalah Ymt Bupati Purbalingga. Ia adalah mantan patih Purbalingga.

10. R. Tumenggung Adipati Dipa Kusuma VI (13 Sept 1899)
R. Tumenggung Dipa Kusuma VI adalah adik dari Dipa Kusuma V, yang berarti putra ketiga dari R. Adipati Dipa Kusuma dengan istri yang bernama Raden ayu Dipa Atmadja.

11. K.R.A.A. Soegondo (29 Oktober 1925)
K.R.A.A Soegondo adalah putra dari  Raden Tumenggung Dipa Kusuma IV, yang sekaligus menjadi menantu dari Paku Buwono X di Surakarta.
Selanjutnya setelah kekuasaan K.R.A.A. Soegondo berakhir, terjadi kevakuman.  Baru kemudian, setelah Indonesia merdeka bupati Purbalingga diangkat oleh DPRD, berturut-turut dapat disebutkan sebagai berikut:

12. Mas Soeyoto  (1946-1947)
13. R. Mas Kartono    (1947-1950)
14. R. Oetoyo Koesoemo  (1950-1954)
15. R. Hadisoekmo  (1954-1960)
16. R. Mohammad Soedjadi  (1960-1967)
17. R. Bambang Moerdharmo, SH  (1967-1973)
18. Letkol PSK Goentoer Daryono   (1973-1979)
19. Drs. Soetarno   (1979-1984)
20. Drs. Soekirman   (1984-1989)
21. Drs. Soelarno  (1989-1999)
22. Drs. H. Triyono Budi Sasongko, M.Si + Drs. Sotarto Rahmat   (2000-2005)
23. Drs. H. Triyono Budi Sasongko, M.Si + Drs. Heru Sudjotmoko,M.Si   (2005-2010)
24. Drs. Heru Sudjatmoko, M.Si+ Drs. Sukento Ridho Marhaendriyanto,M.Si  (2010-2015)
25.  Drs. Sukento Ridho M + H. Tasdi, SH MM. (2015-2016).
26.  H. Tasdi SH MM + Dyah Hayuning Pratiwi, S.E, B.Econ. (2016-2021).

Oleh : Agus Sukoco, dipaparkan dalam rangkaian acara Grebeg Onje 2017

Sunday, May 13, 2018

Hujan Terusan || Cerpen

Hujan Itu