Friday, April 6, 2018

Menyemai Nilai Bhinneka dalam Keluarga

Tulisan di Muat
Kondisi Indonesia akhir-akhir ini mengkhawatirkan. Berbagai peristiwa menyiratkan sebagian besar masyarakat sedang terjangkit virus primordialis yang sempit. Kekhawatiran ini dirasakan juga oleh Presiden Joko Widodo. Dalam beberapa pidatonya, beliau sering mengingatkan tentang pentingnya persatuan ditengah kebhinekaan bangsa yang tak bisa dielakan. 


Saat ini, ketika memasuki tahun politik, “cobaan” kebhinekaan sepertinya akan muncul lagi. Nampaknya, kita harus berpegang kepada Spirit Pancasila untuk mengantisipasinya. Sehingga semboyan Bhineka Tunggal Ika yang terdapat dalam pijakan lambang burung garuda, menjadi prinsip dalam menjalani kehidupan berbangsa.

Makna dan nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika harus ditanamkan kepada setiap manusia di tanah Indonesia. Semangat kebhinekaan dalam bingkai ke Indonesiaan inilah yang menjadi keabadian integrasi Indonesia. Dilevel inilah fungsi edukasi keluarga hadir, karena dari keluargalah unit pembangun pondasi bangsa yang kokoh dimulai.

Dilingkungan keluargalah, awal tumbuh kembang seorang anak dimulai. Pola hubungan sikap dan perilaku yang dilakukan oleh anggota keluarga, seperti ayah kepada ibu, kakak kepada adik, atau orang tua kepada anak akan mempengaruhi perilaku anak dalam lingkungan sosial masyarakat kedepanya.

Meski sangat vital, tidak banyak keluarga yang menanamkan spirit kebhinekaan dalam setiap interaksi dalam rumah. Banyak unit keluarga yang menerapkan edukasi dengan sistem otoriter tanpa dialog, hal ini akan menjadi pemantik anak tidak mau menerima perbedaan selain “kebenaran” versi dirinya sendiri. 

Akibatnya, terjadi pertikaian yang justru dilakukan oleh para pelajar yang notabene masih dikategorikan sebagai anak-anak. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada tahun 2015 menunjukan bahwa anak korban kekerasan sebanyak 127, sementara anak menjadi pelaku kekerasan di sekolah 64. Anak korban tawuran 71, sementara anak menjadi pelaku tawuran 88 anak. Ironis.

Kekerasaan ini menurut Teori Sosial Albert Bandura, diakibatkan karena anak-anak mengamati dan meniru perilaku, sikap dan reaksi dari lingkungan sosial terdekatnya. Kekerasan ini justru timbul karena pola asuh yang dicontohkan kepada orang tua kepada para anaknya. Sikap otoriter dan egois dari orang tua, menyebabkan anak tidak menghargai perbedaaan pendapat orang lain, sehingga jalan penyelesaianya dengan cara kekerasaan.

Disinilah tugas keluarga untuk menyemai nilai-nilai kebhinekaan agar anak dapat menghargai dan menerima suatu perbedaan. Tugas ini diimplementasikan dengan menciptakan interaksi dalam keluarga sebagai proses pendidikan yang berkelanjutan, sehingga kedepan akan lahir generasi penentu yang berintelektual tinggi, berakhlak kuat dan yang terpenting melanjutkan merawat kebhinekaan.

Segala bentuk interaksi antara anggota keluarga yang bisa memantik kekerasaan tidak patut dipertontonkan dengan alasan apapun. Oleh karena itu, menanamkan nilai-nilai kebhinekaan dalam keluarga menjadi solusi dari permasalahan kekerasaan anak yang menjurus pada benih primordialisme ini.  
Upaya dan cara untuk mewujudkannya adalah, pertama dengan ketauladanan dari kedua tuanya. Ungkapan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” menjadi keniscayaan yang tak bisa terelakan. 

Menurut Abdullah Nashih Ulwan, keteladanan akan berhasil mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak. Berdasarkan penelitian pada ahli psikolgi, 75 % proses belajar anak didapatkan dari penglihatan dan pengamatan, sementara hanya 15 % dengan indera pendengaran dan lainnya. 

Jadi apabila kita ingin mengajarkan anak sesuatu, maka mulailah dari ucapan dan perilaku orang tua, karena anak-anak adalah peniru yang sempurna dari orang tua. Mendidikan anak sama halnya dengan mendidik diri kita sendiri.

Kedua, selalu kedepankan komunikasi yang dialogis. Anak sejak dini harus dibiasakan dengan tradisi dialog ketika bertemu sebuah perbedaan. Mereka harus disadarkan, bahwa setiap perbedaan tidak selalu ancaman, dan tidak serta merta selalu berujung pertikaian.

Kekerasan tidak mendapat ruang dalam tradisi dialogis ini. Setiap anak akan memiliki cara pandang yang inklufitas dan menghindari sikap eksklusif. Sehingga ini akan membiasakan anak untuk melihat dengan kaca mata dua kutub yang bertolak belakang. Mereka tidak hanya diajarkan “saya yang benar” dan “kamu yang salah”, namun juga menanamkan sikap “kami bertukar pikiran”.

Menghargai anak sebagai manusia “seutuhnya” akan menjadikan anak berkembang sesuai dengan potensinya. Anak selalu diberi kesempatan untuk mengutarakan kehendaknya dan melibatkan dalam mencari solusi pengambilan keputusan. Tentuya dengan batas koridor yang disepakati.

Ketiga, mengenalkan kekayaan multikulutral. Mengajarkan anak tentang keanekaragaman kultur akan menjadi instrument strategis dalam mengembangkan kesadaran anak terhadap kekayaan bangsaanya. Cara ini bisa dilakukan secara fleksibel dengan tetap mengenalkan prinsip multikultural.

Menurut James Banks, pendidikan multikultural ini sebagai wahayan mengenalkan people of color. Artinya mengeksplorasi perbedaan sebagai sebuah keniscayaan dan anugerah Tuhan, sehingga terbentuk manusia budaya.

Dengan mengajarkan anak pendidikan multikultural akan menjadi pondasi bagi negara demokrasi dalam masyarakat yang plural. Pengetahuan sejak dini inilah yang mengantarkan kepada spirit kebhinekaan untuk menghadapi segala tantangan.

Keempat, menanam budaya toleransi. Spirit kebhinekaan mustahil terajadi kalau anak tidak diperkenalkan toleransi sejak dini. Ajarkan kepada semua anggota keluarga untuk menghargai segala macam perbedaan dengan mengajarkan ilmu agama. 

Ajarkan ilmu agama sejak dini untuk jadi bekal yang kuat mengenal Tuhan. Karena orang yang mengenal Tuhan nya dan memahami agamanya tidak mungkin bersikap sentimen dan anarkis terhadap sebuah perbedaan. Dengan budaya toleransi maka akan menjadi vitamin dalam menyikapi kemajemukan ini.

Mulltikulturalisme tanpa toleransi nonsene. Jadi orang tua memiliki peran sentral dan kewajiban berdiri digaris terdepan untuk melawan intoleransi dalam segala bentuknya.

Kelima, ajak anak terjun ke dunia nyata. Mengajak langsung pada realita akan membuat anak merasakan bahwa perbedaan itu indah dan tidak perlu dicemooh atau menentangnya. 

Jika anak kita terbiasa hidup mewah, ajaklah sesekali mengunjungi atau bertemu dengan mereka yang kurang mampu untuk belajar berbagi. Atau ketika anak terbiasa dengan lingkungan kesamaan dengannya –suku, ras, fisik, agama-, maka ajaklah mereka berkomunikasi langsung dengan orang-orang yang memiliki perbedaan dengannya. 

Keenam, mengawal perkembanga anak. Dalam proses tumbuh kembangnya, orang tua harus selalu sensitif dan responsif. Artinya orang tua harus tahu, kapan waktunya hadir dan kapan waktunya memberikan tanggung jawab kepada anak. 

Misalnya, saat usia anak 10 tahun, perkembangan moral yang masih labil harus diawasi. Karena usia sekolah akan banyak konflik dengan temannya. Artinya sebagai orang tua harus mengajarkan bagaimana menyelesaikan konflik dengan tepat. Mereka wajib  menyelesaikan dengan cara yang baik tanpa pertengkaran. 

Oleh karenanya, memilih sekolah yang tepat menjadi hal krusial. Karena sekolah akan menjadi rumah keduanya. Terutama yang mendukung semangat pemerintah dalam mendidik karakter dan menanam nilai kebhinekaan. Disekolah inilah, peran guru dan lingkungan sekolah menjadi penentu keberhasilan internalisasi kebhinekaan sejak anak memasuki masa sekolah.

Dengan perubahan dunia politik yang tak menentu, dan tantangan global yang terus berkembang, pasti menuntut peran keluarga untuk selalu berkomitmen menjaga dan merawat kebhinekaan dalam setiap elemen keluarga. Dengan enam aspek diatas, minimal, akan mencegah primordialisme sempit, tentunya dengan peran dari semua pihak.

Kita harus belajar untuk saling belajar, dibandingkan anarki saling menghajar. Pelangi indah bukan karena satu warna, tapi karena banyak warna yang berjejer bersama. Oleh karena itu, menanamkan nilai kebhinekaan di dalam keluarga menjadi sebuah kewajiban ditengah kemajemukan bangsa.[]

Tulisan ini dimuat di RMOL.CO bisa dilihat DISINI.

Friday, March 30, 2018

Dua Buku Sayembara Literasi

Model Naira bersama Dua Buku Sayembara
arifsae.com - Saya tetap tidak bisa dilepeaskan dari kebiasaan lama. Berburu lomba. Lomba kali ini diadakan oleh Badan Sayembara Gerakan Literasi, begitu sepertinya namanya.

Saya mengikutkan dua buku untuk diikutkan. Buku pertama berjudul "Usman Janatin dan Harun Tohir, Kisah Perjuangan Pahlawan Dwikora". Buku ini merupakan salah satu buku yang membahas perjuangan kedua prajurit KKO-AL, Usman Janatin dan Harun Tohir. 

Namanya sempat tenggelam beberapa dekade. Tulisan mengenai mereka juga sangat jarang diperhatikan oleh sejarawan. Berlandas semangat itu, buku ini hadir untuk melengkapi dan menambah referensi mengenai perjuangan Pahlawan Nasional Dwikora itu.
Buku Usman dan Harun
Kemudian buku yang kedua adalah buku yang berjudul Kemegahan Arsitektur Keraton Jawa. Dengan adanya buku ini, kita bisa belajar akan kemegahan bangunan yang pernah menjadi bagian sejarah Indonesia, bahkan sebelum negara itu merdeka. 

Melalui buku ini kita akan mengetahu bagian dan arsitekrut kraton Jawa, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Karena hanya dua keraton ini yang masih menjadi penjaga budaya Jawa yang masih tersisa hingga saat ini.
Buku Kemegahan Arsitektur Keraton Jawa
Semoga kedua buku ini mendapatkan nominasi, sehingga bisa dinikmati oleh kalangan banyak. Dan menjadi amal jariyah bagi penulis. Amin...[]

Wednesday, March 28, 2018

Sejarah arifsae Hingga di Approve Google Adsense

arifsae.com - Tanggal 28 Maret 2018 mungkin akan menjadi hari bersejarah bagi blog arifsae.com. Tidak lain dan tidak bukan karena pengajuan Google Adsense yang sudah berkali-kali di tolak dan saya idam-idamkan akhirnya di approve juga, alias disetujui pihak Google Adsense. Senang? Pasti. Bahagia? Tentu.
Email Cinta dari Google Adsense
Ingin sekedar kilas balik sampai akhirnya disetujui pihak Google. Awalnya aneh. Bagimana tidak aneh, karena saya sebetulnya sudah tidak minat lagi dengan Adsense ini, sebenarnya lebih tepatnya karena sudah tidak terhitung penolakan dari Google. Ibaratnya, dalam hati sudah mati rasa dan 'bodo amat'. 

Dulu saya sangat menggebu-gebu ingin blog saya ada iklan dari Adsense. Mungkin kata orang, ketika blog diterima menjadi mitra Google Adsense akan menjadi 'pencapaian' tertinggi seorang blogger. Selain bisa mendapat uang, juga menjadi kebanggaan.

Setidaknya itu persepsiku. Tapi setiap blogger pasti berbeda dalam memandangnya. Namun sebagian besar blogger mungkin akan berfikiran sama. Meskipun tidak besar secara penghasilan (karena memang baru mulai Adsense-nya) tapi setidaknya saya sudah menaklukan 'hati' Google Adsense.

Sekarang, saya tidak akan memberikan tips apalagi trik untuk diterima Google Adsense, karena saya sadar blog saya masih sederhana dan masih banyak blogger yang fokus dan masternya dalam membahas masalah ini. 

Tapi prinsip saya dan cara paling ampuh adalah ketika ditolak 10 kali, coba daftar 11 kali. Itu saja. Tentunya dengan selalu diselingi perbaikan-perbaikan terus menerus dengan memperkaya isi postingan blog kita. 

Saya hanya ingin kilas balik. Setidaknya untuk mengingatkan dan sebagai cambuk saya agar selalu terus menerus menulis. Ya menulis apapun, yang penting menulis saja. Karena dari semangat menulislah blog ini lahir.

Blog ini terkonsep akhir 2012, setidaknya konsep inilah yang menjadi titik awalnya. Karena baru pada awal 2013 blog ini benar-benar lahir. Awalnya hanya iseng, karena sebagian besar hanya menampung isi artikel dan dokumen dari proses perkuliahan. 

Rasanya mubazir ketika sudah susah-susah mengerjakan tugas tapi hanya tersimpan di laptop, makanya saya share saja, setidaknya, untuk berbagi dengan orag lain.

Tidak ada guru khusus dalam dunia blog, apalagi orang per orang. Guru saya adalah pengalaman. Saya bener-benar otodidak dalam dunia blogger. Sama sekali dari nol besar. Dulu saya masih ingat betul, ketika pertama kali punya modem smarfren yang saya beli pada saat proses menyelesaikan perkuliahan. 

Modem itulah yang menjadi fasilitator memperkenalkan dunia blogger. Dan untuk mengisinya kadang harus minta uang orang tua, yang kemudian hari-hari dihabiskan untuk berkutat didalam kamar.

Dari membuat, mengkonsep dan mensetting blog saya brosing sendiri dari Google. Awalnya untuk tampilan saja, sangat sederhana. Bahkan boleh dibilang masih sangat amatir. Masih ingat dengan lebay nya menaruh hiasan-hiasan yang tak ada gunanya. Ada suara musik lah, hiasan salju lah, semut lah, dan macam-macam hiasan tak penting lainnya. Bisa dilhat kan?
Blog Dulu
Menurut saya keren. Dulu. Tapi memang menurut saya sesuai dengan konsep blog saya, awalnya blog saya beri nama Mendidikan Sejarah. Jelas isinya juga berkaitan dengan sejarah, maklum lah kan saya memang mengambil Jurusan Pendidikan Sejarah. Hingga pada akhir tahun 2016 prinsip dalam dunia blogger saya berubah.

Perubahan itu sejak mengikuti lomba blog Mayuh Plesir Maring Banjarnegara. Lomba blog itu merupakan lomba bertaraf nasional yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Awalnya hanya iseng, karena sejak 2014 saya juga seorang pemburu lomba, lomba apa saja saya ikuti. Ya cukup banyak juga lomba yang sudah saya menangkan. Tapi untuk lomba blog, belum pernah sekalipun. 

Mujurnya pada lomba itu saya juara 1. Tak disangka, saya menang. Tentunya selain hadiah uang dan menambah teman juga ada hadiah jalan-jalan yang tidak boleh untuk dilewatkan. Dari lomba itulah saya berkenalan dengan para blogger-blogger keren lainnya. Misalkan dari Banjarnegera ada Mas Hendi, dari Kebumen ada Mas Amir dan dari Pemalang ada Mas Eko. Semuanya blogger propesional, dan keren-keren.

Saya juga heran, mengapa saya yang harus juara 1. Tapi kata panitia, mereka tidak melihat blog, tapi isi artikelnya. Dan kalau isi artikel, bolehlah diadu. Seneng sekaligus heran. Tapi dibalik hadiah jalan-jalan dan banyak teman itulah saya mulai berfikir. Blog saya memang harus dirubah. Harus banyak perbaikan sana sini.

Akhirnya, sejak berdiri, dan dari templete saya yang sudah saya pertahankan sejak 2013-2016 saya putuskan untuk di renovasi total. Untuk mencari dan mendapatkan templete yang pas saya pun berburu dan bertanya-tanya kepada kawan, terurama Mas Amir. Dialah yang akhirnya memperkenalkan dengan blogger Arlina Design. Tidak ada yang gratis, kalau mau bagus ya sedikit bermodal. Dan untuk mendapatkan templete yang bagus itu saya membelinya.

Saya masih ingat, harga untuk templete yang responsif dan keren itu adalah 70 ribu rupiah. Dan saya benar-benar membelinya meski waktu itu berat untuk bermodal. Untuk mengatur settingan dan edit HTML blog saya banyak mendapat bantuan dari Pak Anis Lunuwih Wicaksono, rekan kerja sekaligus guru TIK di SMA Negeri 2 Purbalingga. 

Setelah mengatur sana sini, dan tampilan sudah lumayan bagus, saya lanjutkan renovasi blog dengan membeli nama domain. Akhirnya sejak awal 2017, blog saya sudah terbentuk dengan tampilan yang enak dipandang dengan nama domain arifsae.com. 

Setelah puas dengan nama dan tampilan blog, target saya selanjutnya adalah mendaftar ke Google Adsense. Tentunya untuk menampilkan iklan dan dapat penghasilan.

Ternyata tidak semadah itu menaklukan Google Adsene. Pertama ditolak. Perbaiki. Ditolak. Perbaiki. Dan saya sampai lupa berapa kali penolakan itu terjadi. Sampai akhirnya saya mengalihkan perhatian, tidak lagi mengejar Adsense. Saya sudah benar-benar fokus untuk menulis dan berkarya. Itu saja. Menulis dan menulis terus.

Mungkin google kasian, jadi tepat tanggal 28 Maret 2018 pukul 16.46 akun saya diterima. Semuanya berawal dari coba-coba dan dari hasil perbaikan terus menerus yang tak mengenal kata menyerah (padahal si udah, hihi). Anehnya, disaat saya sudah tidak membutuhkan dan tidak mengejar lagi, dia datang. Padahal dulu saya begitu bernafsu untuk menaklukannya. Kaya hati perempuan ya? hihihi...
Penghasilan Hari Pertama
Sekarang, setelah diterima Google Adsense, saatnya berkarya dan menularkan pemikiran. Itulah tujuannya. Dilingkungan saya saat ini, di Sabah Malaysia, setidaknya sudah ada 10  orang yang meminta untuk diajarkan bagaimana untuk menjadi seorang blogger. Dan tentu saja dengan senang hati saya mau berbagi, meski harus berbagi templete yang dulu pernah saya beli. Dan semua yang saya ajarkan gratis, tiss, tissss... Biar Allah SWT saja yang membalasnya.

Mungkin juga karena hal itu pengajuan Adsense saya diterima. Saat ini, Adsense hanya bonus saja, yang terpenting adalah kita mau menulis dan menulis dan menulis lagi. Karena yang tertulis akan di editi, yang terposting akan abadi. Jadi kalian mau ikut jadi blogger dan terus menulis?[]

Wednesday, February 28, 2018

Kontribusi Usman Janatin Dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia, 1962-1966 [JURNAL ILMIAH]

Jurnal Arefak

Wednesday, January 24, 2018

Mau Minta Buku Gratis ke Penulis? Baca Dulu Ini!!!

Kebahagian Seorang Penulis adalah, Karyanya di Beli dan Di Baca!!!

Wednesday, January 17, 2018

Kata Pengantar Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum. dalam Buku Usman Janatin

Oleh:
Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum.
Guru Besar Sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Cover final

Wednesday, January 10, 2018

Kata Pengantar Buku Dilaketika Pengelana Pena

Full Cover
Syukur alhamdulliah senantiasa bersukur terhadap kehadirat Allah SWT atas terbitnya kumpulan esai-esai ini. Buku ini merupakan tindak lanjut dari dialektika suasana penulisan dalam berbagai kondisi. Penerbitan buku ini merupakan langkah untuk mengabadikan pemikiran-pemikiran yang sudah tertuang dalam bentuk tulisan, yang sebagian besar sudah dipublikasikan dalam blog pribadi penulis di www.arifsae.com.

Keinginan penulis untuk menerbitkan buku ini sebenarnya sederhana, hanya ingin mengabadikan tulisan, karena ada pepatah Yunani yang berbunyi, Verba volant, scripta manent yang mempunyai arti bahwa sesuatu yang hanya diucapkan akan hilang bersama angin, tapi yang tertulis akan abadi. Karena semangat itu, tulisan-tulisan yang tercecer ini penulis kumpulkan menjadi satu kesatuan dalam bentuk buku. Sejak 2 tahun yang lalu semangat untuk menulis dan mengikuti sebauh kompetisi dimulai, oleh karena itu, tulisan ini sebagian besar berasal dari tahun 2015. Meskipun ada beberapa tulisan yang jauh dari 2 tahun itu. Tema yang diterkandung dalam tulisan ini ada 3 (tiga), pertama tema sejarah, kehidupan dan pendidikan. Sekilas akan penulis jelaskan tentang arti yang tersembunyi dari setiap penulisan artikel ini.

Tulisan pertama berjudul, “Srihana-Srihani-Sarinah: Mencintai Seni dan Seni Mencintai”. Artikel ini dibuat untuk mengikuti kompetisi esai tingkat nasional tentang Sukarno, Pemuda dan Seni. Dalam event ini tulisan ini mendapatkan juara 1. Berikutnya, artikel yang berjudul “Usman dan Harun: Kisah Pahlawan Dwikora” ini ditulis untuk melengkapi data-data penelitian yang penulis sedang kerjakan. Penelitian ini bekerjasama dengan Direktorat Sejarah. Kisah hidup pahlawan ini akan ditulis dalam buku yang berbeda.

Tulisan lainnya berjudul, “Kisah Sejarah Pancasila: Dari Inspirasi Hingga Reformasi”. Tulisan ini ditulis karena penulis mendapatkan buku gratis tentang Kisah Pancasila yang di tulis oleh Direktorat Sejarah, jadi untuk menghormatinya, penulis resume buku itu dan dimasukan dalam blog. Beberapa waktu yang lalu, sekitar awal tahun 2017, muncul fenomena Maha Patih Majapahit, Gajah Mada yang mendadak viral menjadi Gaj Ahmada, itulah mengapa tulisan yang berjudul, “Majapahit dalam Amukan Zaman: Kasus Gaj Ahmada dan H. Ayam Wuruk tercipta, yaitu untuk ikut menyumbangkan pendapat mengenai penamaan itu.

Sama dengan tulisan tentang Majapahit diatas, tulisan tentang “PERWIRA Vs SEHATI: Dilematika Slogan Purbalingga” juga menanggapi tentang fenomena yang ada di Kabupaten Purbalingga, tempat penulis dilahirkan, tentang pergantian nama slogan nya. Kemudian tulisan lainnya adalah, tulisan yang berjudul “Perempuan: Perjuangan Emansipasi dalam Kehidupan Kebangsaan”. Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti perlombaan yang diadakan oleh PKS, meskipun belum mendapatkan hasil.

“6 Jam Untuk Selamanya: Refleksi Kisah So 1 Maret 1949” merupakan hasil dari refleksi kisah Serangan Oemoem 1949. Untuk mengikuti kegiatan Simposium Guru 2016, tulisan “(R)evolusi Pena dengan Fantastic Four: Meretas Karakter Berbasis Budaya Literer di Kelas” tercipta. Tulisan ini merupakan artikel yang merupakan pengalaman penulis ketika menjadi guru. Kemdian ada tulisan “Reformasi Sastra di Kelas-Kelas Kecil” yang dibuat untuk mengikuti lomba Bulan Bahasa UGM 2016, dan mendapatkan Juara ke-2.

Tulisan lainnya adalah, “Tinjauan Ulang HUT Purbalingga: Perspektif Yuridis” ditulis untuk menjadi pengantar buku Asal Usul 80 Nama Desa di Kabupaten Purbalingga. Kemudian, ada artikel “The Great Scholar: KH. Nawawi dan Nilai Multikulturalisme” yang dibuat untuk mengikuti lomba esai tentang Syaikh Nawawi al-Bantani, namun sayang, panitia lomba itu hilang ditelan bumi, tak ada kabar dan tak ada pengumuman. Berbeda dengan tulisan diatas, tulisan “Budaya Antikorupsi di Sekolah dan Rumah” lebih baik nasibnya, yaitu mendapatkan juara-2 lomba menulis esai yang diadakan oleh KPK pada tahun 2015.

Berikutnya tulisan yang berjudul, “Syaikhah Rahmah el-Yunusiyah: Pejuang Pendidikan Perempuan”, dibuat untuk mengikuti lomba esai tentang Ulama Perempuan, namun belum mendapatkan juara. Kemudian tulisan “Dari Mana Asal Tahun Baru 1 Januari?” yang merupakan refleksi ketika tahun baru 2016. Tulisan terakhir yang penulis kumpulkan adalah tulisan yang berjudul, “Buat Apa Disini? Aku Ingin Pulang, Refleksi Kisah 3 Bulan di Sabah, Malaysia.” Tulisan terakhir ini merupakan tugas kegiatan triwulan dalam proses mengemban tugas mengajar di Sabah Malaysia.

Tulisan-tulisan lainnya merupakan kumpulan tulisan dari peserta didik, yang bersama-sama dengan penulis dalam mengikuti berbagai perlombaan. Tulisan pertama, “Memayu Hayuning Bawana: Kearifan Lokal untuk Kejayaan Global” yang ditulis dengan Dwi Suyoko. Tulisan ini mendapatkan nominasi 15 besar Esai Sosial Budaya yang diadakan oleh Kemendikbud. Kemudian tulisan lainnya adalah, “Menanam Air: Upaya Meningkatkan Ketahanan Pangan” yang dibuat oleh Tara Belinda. Tulisan ini juga mendapatkan nominasi untuk mengikuti rangkaian acara Parlemen Remaja 2016. Kegiatan ini memang hanya mengambil 4 orang disetiap provinsi di Indonesia, dan Tara Belinda mendapatakan kesempatan mewakili Provinsi Jawa Tengah untuk melakukan simulasi sidang di gedung DPR-RI.

Tulisan peserta didik lainnya adalah tulisan sebuah surat untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh PT POS, dengan judul “Surat Untuk Ketua KPK: Generasiku Melawan Korupsi”, yang ditulis oleh Haris Nugroho. Tulisan ini juga menjadi 30 besar nominasi dari ribuan peserta yang terebar di seluruh Indonesia. Haris juga mendapatkan kesempatan mendapatkan pelatihan dengan Tere Liye dan Habiburakhman el-Surazy. Kemudian tulisan terakhir adalah tulisan Lintang Kumalasari, dengan judul “Perpustakaan Bintang Lima: Wujudkan Siswa Kece dalam Ilmu Penuh Cinta”. Tulisan ini diikutkan dalam lomba artikel perpustakaan yang diadakan oleh Perpusda Provinsi Jawa Tengah.

Begitulah penjelasan ringkas tentang sekilas dan kisah tulisan-tulisan itu terangkai. Dalam kesempatan ini juga saya mengucapkan banyak terimkasih kepada semua pihak yang telah membantu proses terbitnya buku ini. Salah satunya adalah keluarga besar SMA Negeri 2 Purbalingga, dan semua peserta didik yang pernah mengolah rasa disudut-sudut kelas. Tidak lupa sembah kepada kedua orangtua, dan terkhusus istri tercinta, Yuli Windarti, S.Pd. beserta puteri kecil kami, Naira Ayudiasiya, yang memberikan penyemangat meski saat ini penulis berada di Sabah, Malaysia. Saat ini, ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada “keluarga” baru di Sabah. Anak-anak CLC Terusan 2 yang selalu menghibur dalam kesenderian.

Akhirnya, dalam setiap kompetisi pasti membuahkan kemenangan dan kekalahan. Tapi bukan itu yang penting, justru menumbuhkan tradisi menulis itu yang menjadi tujuan utamannya. Penulis berharap dan mengingatkan (terutama kepada penulis sendiri) untuk selalu bersemangat dalam menumbuhkan tradisi menulis, sehingga dapat menularkan kepada setiap peserta didik dan khalayak umum disekitar untuk selalu belajar mengabadikan pemikiran kita dalam bentuk tulisan. Sebab seperti pepatah Yunani diatas, bahwa yang terucap akan terbang bersama angin, yang tertulis akan abadi.

Saya menyadari tulisan ini mempunyai banyak kekurangan dan kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Kepada Allah SWT lah selalu penulis berserah diri dan memohon kelancaran dalam mengamalkan ilmu dan menularkan karya.

                                        Sabah, Malaysia,  25 November 2017

                                        Penulis, 

Sambutan Bupati Purbalingga, H. Tasdi, SH, MM dalam Buku Biografi Usman Janatin

Monday, December 11, 2017

Pengantar Penulis Buku Biografi Usman Janatin

Revisi ke-2 
 Alhamdullilah, dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, kerjasama antara penulis dengan Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selesai dengan terbitnya buku ini. Buku ini disusun dalam rangka untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan kearifan dan kekayaan nilai-nilai sejarah bangsa Indonesia. Dengan tujuan itu, pada awal tahun 2017 Direktorat Sejarah melalui program Fasilitasi Komunitas Kesejarahan Tahun 2017 memberikan bantuan kepada individu ataupun kelompok masyarakat di Indonesia untuk mengangkat nilai-nilai sejarah yang terkandung didalam lingkungan sekitar.
Dengan semangat untuk melindungi, mengembangkan dan memperkuat segala inisiatif pengembangan kesejarahan di Indonesia, maka Direktorat Sejarah membagi bantuan ini kedalam 5 (lima) bagian fasilitasi, (1) Penulisan Sejarah Lokal untuk Guru (MGMP) Sejarah; (2) Penulisan Sejarah untuk Umum; (3) Event Sejarah; (4) Pengembangan Aplikasi Kesejarahan; dan (4) Pembuatan Film Sejarah. Penulis mendapatkan bantuan fasilitasi yang pertama, yaitu penulisan sejarah lokal untuk guru-guru MGMP sejarah.
Tema utama yang penulis pilih adalah sosok Pahlawan Nasional yang berasal dari Kabupaten Purbalingga, yaitu Janatin alias Usman bin Haji Mochammad Ali. Mengapa memilih Janatin? Kita mungkin sangat familiar dengan nama “Panglima Besar Jenderal Soedirman”,  yang hampir disemua kota besar di Indonesia terpampang nama sang Panglima Besar tersebut. Jenderal Soedirman merupakan seorang Pahlawan Nasional yang berasal dari Kabupaten Purbalingga. Namun, apabila menyebut nama Usman Janatin, mungkin akan terdengar asing ditelinga kita. Itulah salah satu alasan penulisan buku ini.
Meskipun masih terdengan asing ditelinga, namun sosok yang juga berasal dari Kabupaten Purbalingga ini pernah mengorbankan nyawa demi membela harkat dan martabat bangsa pada masa Trikora dan Dwikora. Era ketika Republik Indonesia langsung dibawah komando Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Usman Janatin berkontribusi dalam situasi “panas” tersebut, ia dengan rekannya berhasil menjalankan tugas dari kesatuannya, Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL) untuk melakukan sabotese, infiltrasi hingga berhasil meledakan Hotel Mac Donald di Singapura, wilayah yang saat itu masih menjadi bagian dari Federasi Malaysia.
Usaha menjalankan tugas tersebut terhenti ketika Janatin tertangkap dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung oleh Pemerintah Singapura. Dengan usaha yang panjang, pemerintah Indonesia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan (setidaknya memperingan) hukuman Janatin dan temannya, namun semua usaha itu berbuah kegagalan. Oleh karena keberanian, ketabahan dan jiwa patriot yang tertanam dalam diri Janatin, maka ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasioanal oleh Presiden Soeharto dan diberikan Tanda Kehormatan Bintang Sakti berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 050/TK/Tahun 1968 tertanggal 17 Oktober 1968.
Meskipun nama ini sudah dianegerai Pahlawan Nasional sejak 17 Oktober 1968, namun nama Usman Janatin tidak bergitu “terkenal”, bahkan oleh warga Kabupaten Purbalingga sendiri. Oleh karena semangat yang dibawa oleh Direktorat Sejarah ini, maka mendorong penulis untuk mengangkat biografi tokoh ini kedalam sebuah buku. Hal ini menjadi urgent, selain untuk menambah referensi tentang Usman Janatin yang masih sangat jarang, juga menjadi ajang untuk mengingatkan sosok Usman Janatin kepada warga Kabupaten Purbalingga khusunya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Buku yang berjudul, “Patriot Bangsa Dari Kota Perwira: Biografi Usman Janatin, 1943-1968” ini akhirnya bisa terselesaikan dengan tanpa sesuatu halangan yang berarti. Meskipun untuk menuliskannya tidak mudah dan membutuhkan usaha yang keras. Karena disatu sisi, penulis harus berpindah tugas dari SMA Negeri 2 Purbalingga ke Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Negara Bagian Sabah, Malaysia. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat untuk menyelesaikan buku ini. Tentunya keberhasilan penyelesaian buku ini memerlukan kontribusi dari berbagai pihak. Untuk itulah dalam kesempatan ini penulis ingin menghaturkan rasa terima kasih kepada guru, Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum yang telah mengajarkan tentang pentingnya sejarah lokal, dan sekaligus pada kesempatan ini berkenan memberikan Kata Pengantar.
Tidak lupa, penulis haturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Bupati Purbalingga, H. Tasdi, SH, MM. yang berkenan memberikan Kata Sambutan dalam buku ini. Kata Sambutan dari Pak Bupati ini tidak akan lahir apabila tak dibantu oleh Pak Yudhia Permana, karena peran beliaulah akhirnya Kata Sambutan dari Pak Bupati ini berhasil dihimpun. Untuk itulah, penulis sampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya. Terkhusus lagi, kepada kelaurga besar Usman Janatin yang telah memberikan informasi untuk melengkapi penulisan ini, diantaranya Mbah Siti Rodijah, Mbah Siti Turijah dan Mbah Matori juga Mbah Artijo untuk informasi berharga yang sudah diberikan. Semoga diberikan kesehatan dan umur yang panjang.
Ketika sumber lisan tidak memuaskan dahaga penulisan, maka bahan-bahan arsip menjadi pilihan. Oleh karenanya, penulis haturkan terimakasih kepada pihak Perpustakaan Umum Daerah Purbalingga, Kantor Desa Jatisaba Kecamatan Purbalingga dan Jogja Lebrery Center (JLC) untuk koran-koran dan majalah lawasnya. Di Jakarta penulis ucapkan terimakasih kepada Sersan Kasianto yang menjaga Museum Korps Marinir, Jakarta Pusat, karena beliaulah yang memberikan akses terhadap sumber-sumber yang melimpah tentang sosok Usman Janatin ini. Semua tempat-tempat ini memberikan sumbangsih yang berbeda-beda untuk melengkapi isi buku ini.
Beberapa orang juga memberikan bantuan dengan cara yang istimewa. Dorongan, bantuan, semangat, dan persahabatan yang memecahkan penat pikiran ketika sedang bersama-sama dengan teman-teman di MGMP Sejarah Kabupaten Purbalingga. Terkhusus penulis ucapkan terimakasih kepada Pak Ketua, Arifin, S.Pd. yang memberikan bantuan-bantuan tak terlihat namun sangat terasa bagi penulis. Tidak lupa juga teman istimewa dalam proses penelitian, Jarwanto, S.Pd. yang memberikan rasa berbeda pada setiap proses “jalan-jalan” penelitian. Bantuan juga diberikan kepada Umu Hanifah, S.Pd. yang membentu dalam proses pembuatan laporan keuangan untuk dipertanggungjawabkan kepada pihak Direktorat Sejarah. Dan tentunya kepada seluruh teman-teman MGMP Sejarah Kabupaten Purbalingga yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Akhirnya, rasa cinta dan terimakasih penulis haturkan kepada isteri tercinta, Yuli Windarti, S.Pd. dan puteri kecil kami, Naira Ayudiasiya, yang terus mendukung setiap langkah kemana bahtera ini terarah. Penulis haturkan sembah kepada kedua orang tua, Bapak Suwarno dan Ibu Suwarti yang menyokong dengan doa dan tetesan air mata ketika selalu meminta di hadapan-Nya. Adik Khoiratun Sarifah dan seluruh keluarga besar Mbah Warsidi dan Mbah Kimah yang mendukung dengan cara spesial mereka masing-masing.
Penulis menyadari buku ini mempunyai banyak kekurangan dimata pembaca. Untuk itu, khususnya kekurangan-kekurangan dalam buku ini biarlah menjadi tanggung jawab penulis. Dengan kerendahan hati dihaturkan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak apabila ada bagian dari buku ini yang tidak berkenan. Semoga karya ini diterima amal jariahnya oleh Allah SWT sebagai salah satu amal kesalehan yang tak terputus. Amin.
Akhirnya, penulis ucapkan selamat membaca.

                                                           Sabah, Malaysia, Desember 2017
                                                            Arif Saefudin
Cover Buku Pertama