Wednesday, May 29, 2019

Mengawal Suara di Ladang Sabah, Catatan Pemilu Ketua KSK 04


Para Pekerja Migran Indonesia menyalurkan suaranya di Ladang Andamy, Sandakan, Sabah, Malaysia (9/4/2019)
Tanggal 21 Mei 2019 dini hari menjadi babak baru kehidupan berdemokrasi kita, tidak lain karena Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan pemenang Pemilihan Umum 2019. Hasilnya, Ir. H. Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin dinyatakan sebagai pemenang dari kompetitornya, H. Prabowo Subianto dan H. Salahudin Sandiaga Uno.
Prosentase kemenangan 55,50 % berbanding dengan 45,50 %. Hasil inilah cerminan dari proses panjang perjalanan pesta demokrasi kita. Segala upaya, biaya, daya, bahkan nyawa telah di berikan untuk mensukseskan pesta 5 tahunan ini.
Tercatat di data Kemenkes per 17 Mei 2019, bahwa 527 petugas KPPS meninggal dan 11.239 orang sakit. Tidak hanya didalam negeri pengorbanan itu diberikan, untuk menjaga setiap hak suara orang Indonesia, KPU membentuk Panitia Pemunguan Suara Luar Negeri (PPSLN) diberbagai penjuru dunia. Tidak mudah. Karena harus menembus berbagai birokrasi diberagai negara.
Salah satu PPSLN yang dibentuk di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang telah ditetapkan sebanyak 140.878 orang. Untuk TPS yang tercatat sebanyak 26 dan Kotak Suara Keliling (KSK) sebanyak 433 pada tujuh distrik, yaitu Sandakan-Kinabatangan, Kudat, Keningau, Labuan, Beafourt-Sipitang, Bandar Kota Kinabalu 1 dan 2.
Segala tantangan dan hambatan menjadi kendala tersendiri ketika melaksanakan pemilu di luar negeri. Tidak seperti di Indonesia, orang-orang Indonesia yang berada di Sabah telah bercampur dengan penduduk lokal maupun orang Filiphina yang terkadang kita sukar membedakaanya. Dan masih banyak tantangan lainnya.

Tantangan di Ladang
Hari Minggu, 7 April 2019 berkumpul para petugas KSK diseluruh Distrik Sandakan-Kinabatangan di Hotel Livingston, Sandakan. Tujuannya tidak lain mengambil logistik dan kotak suara untuk melakukan pemungutan suara esok harinya.
Pengambilan berjalan lancar, namun ada beberapa kendala. Salah satunya adalah terbakarnya mobil pengangkut KSK yang baru diambil di Sandakan. Peristiwa ini juga saya lihat sendiri, betapa api begitu ganas melumat segala isi, termasuk  mobilnya. Untung saja kawa saya selamat. Kejadian ini terjadi di jalan Jalan Sapi Nangoh-Paitan yang tujuannya akan dibawa ke wilayah kerja Perusahaan Sawit IJM dan Meridian.
Jarak tempuh yang jauh dan human eror menjadi penyebab utamanya. Perjalanan dari pedalaman sawit ke Bandar Sanadakan membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 12 jam perjalanan. Sungguh melelahkan. Sayangnya, di Indonesia sendiri peristiwa ini sudah dijadikan lahan penyebaran hoax.
Berbagai berita negatif dan berbau fitnah tersebar karena berita ini. Padahal peristiwa ini murni karena human eror. Dan sudah ditindak lanjuti oleh KPU RI untuk mengganti segala logistik yang terbakar.
Itu hanya salah satu contoh nyata, betapa pemilihan umum diluar negeri tidaklah mudah. Kerja yang berat ditambah isu yang terus menyerang menjadi ujian tersendiri. Seperti kisah saya sendiri, yang harus menempuh jalanan jauh dan berbatu untuk melayani hak suara mereka.
KSK yang saya pimpin adalah KSK 04 yang terletak di Perusahaan sawit Terusan 2 Estate dibawah naungan Wilmar Plantition. Selain itu, saya harus membantu kawan lainnya di ladang-ladang kecil. Seperti ladang Andamy, Kamansi Dua, dan Hiew Syn Kiong. Dan pemungutan suara itu tidak bisa dilakuakan dalam 1 hari.
Kami diberikan kesempata selama 3 hari untuk keliling ke ladang-ladang sawit itu. Udara panas, dan jarak yang jauh menjadi suguhan wajib. Terlebih lagi ladang kecil, yang terkadang hanya berpenghuni 20-40 orang Indonesia. Namun, mereka punya hak yang sama, selama dia bisa menujukan identitas sebagai Orang Indonesia, maka mereka berhak menentukan pilihannya.
Mereka punya hak untuk mengikuti pesta demokrasi 5 tahunan ini. Disini, mereka hanya mencolos 2 surat suara, yaitu suara pemilihan Presiden-Wakil Presiden dan DPR-RI. Banyak dari mereka yang tak paham, siapa orang yang didalam surat suara itu. Namun, dengan sosialisasi kecil-kecilan, semua berjalan lancar.
Tugas kami selesai ketika penyerahan kembali kotak suara ke Sandakan untuk kemudian dihitung di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu, Sabah. Tepat tanggal 17 April 2019 penghitungan suara dilakukan. Jarak dari Sandakan ke Kota Kinabalu sekitar 300 km, dan membutuhkan waktu 5-6 jam perjalanan. Di sana, semua petugas TPS dan KSK berkumpul menjadi satu untuk tujuan yang sama, yaitu rekapitulasi hasil dari pemungutan suara di ladang-ladang.
Terhitung 3 hari kami semua melakukan kegiatan itu, saya sendiri memulai jam 17.00 sore hingga selesai jam 01.00 dini hari. Waktu 7 jam itu hanya 2 surat suara, bisa dibayangkan betapa lelahnya kawan-kawan petugas yang ada di Indonesia karena menghitung 5 surat suara.
Selama proses 3 hari penghitunga suara, dihasilkan 87.227 orang Indonesia menggunakan hak pilihnya dari DPT 140,878. Suara untuk pasangan calon 01 sebanyak 71.109 orang dan pasangan calon 02 sebanyak 15.555 orang, sedangkan sisanya suara tidak sah. Artinya partisiasi orang Indonesia di Kota Kinabalu sebanyak 61,9 %. Prestasi dari partisipasi ini menjadi tanda selesainya tugas kami.

Kembali ke Indonesia Raya
Setelah semua pesta demokrasi ini selesai, bangsa Indonesia harus kembali berdaulat. Jhon Locke pernah mengatakan bahwa, kedaulatan rakyat pada hakikatnya sejalan dengan arti dan makna demokrasi, yaitu sebagai upaya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Kedaulatan rakyat inilah yang menjadi kekuasaan tertinggi di negara demokrasi.
Ini menjadi penting, karena kewajiban kita untuk selalu merawat kedaulata rakyat yang hampir lelah diserang bertubi-tubi akibat diserang isu-isu hoax yang berpotensi memecah belah bangsa. Pasca pemilu 2019 ini, semua pihak harus kembali pada persatuan, membangun Indonesia secara bersama-sama, dalam bingkai Indonesia Raya.[]

Friday, May 24, 2019

Sambutan Atdikbud KBRI Kuala Lumpur dalam Buku Menebar Serpih Asa

Menebar Serpih Asa

Assalamu’alaikuum Wr.Wb.

Menjadi pendidik adalah pengabdian, panggilan jiwa, bahkan keinginan besar (passion) para tenaga pendidikan (guru), termasuk penulis buku ini. Program pengiriman guru untuk mendidik anak-anak Indonesia di Malaysia sangat tepat, sebab tidak setiap guru mau ditempatkan di lokasi yang jauh, apalagi harus berpisah dengan keluarga dan di luar negara. Para guru terpilih harus siap meninggalkan kampung halaman demi mengajar anak-anak Indonesia di Sabah, Malaysia. Wilayah tersebut membutuhkan sentuhan para guru profesional karena di Sabah lah anak-anak Indonesia menggantungkan cita-citanya melalui pendidikan dasar yang diselenggarakan oleh pusat kegiatan belajar masyarakat (Community Learning Centre, CLC).

Meskipun di luar negeri, Pemerintah Indonesia tetap memberikan pelayanan akses pendidikan bagi siapa pun yang berstatus warga Negara Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Malaysia mendirikan sekolah-sekolah Indonesia dan juga CLC di Malaysia. Tujuannya jelas, untuk memberikan akses pendidikan yang bermutu bagi penyiapan masa depan generasi Indonesia sehingga kelak bisa ikut andil dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan Negara Indonesia.

Dalam rangka menyiapkan masa depan anak-anak Indonesia yang berada di perkebunan sawit di Sabah, pemerintah secara bertahap telah mengirim guru-guru terbaik di berbagai Community Learning Center di seluruh wilayah Sabah. Sudah banyak anak-anak Indonesia yang kembali ke Indonesia dan melanjutkan pendidikannya. Semua itu berkat usaha yang tak kenal lelah dari guru-guru hebat yang mendedikasikan dirinya di Sabah. Bahkan, dari usaha dan kerja keras mereka, sudah berhasil mencatatkan berbagai nama alumnus hingga ke perguruan tinggi bergengsi di Indonesia.

Selain melaksanakan tugasnya, guru memang sepatut-nya untuk menulis. Karena dengan menulis, setiap guru dapat mengabadikan pemikiran dan gagasannya. Semakin banyak guru menghasilkan tulisan berupa buku, maka akan semakin maju dunia pendidikan Indonesia. Maka dari itu, dibutuhkan guru-guru muda yang bersemangat untuk menulis.


Semangat menulis inilah yang akan menghasilkan output berupa buku-buku yang akan dirujuk oleh masyarakat di masa mendatang. Masyarakat akan disuguhkan pemikiran-pemikiran dan pengalaman-pengalaman dari guru tentang dunia pendidikan. Tidak hanya itu, yang menjadi tujuan utama adalah mengantarkan masyarakat Indonesia menjadi negara yang berbudaya literer, yaitu sinkron nya budaya membaca dan budaya menulis.

Budaya literer itulah yang menjadi syarat utama untuk menjadikan sebuah bangsa menjadi maju. Kita bisa menulis dari hal-hal kecil terlebih dulu, salah satunya dengan menuliskan catatan harian. Catatan harian merupakan wadah yang tepat untuk mengasah kemampuan menulis. Catatan harian inilah yang menjadikan pijakan untuk menulis kisah-kisah pribadi yang menarik, terutama bagi seorang guru yang pasti mengalami kisah seru dan haru ketika berinteraksi dengan peserta didik.

Buku “Menebar Serpih Asa: Catatan Harian Guru Ladang Sawit Sabah-Malaysia Jilid 2” ini menjadi bukti bahwa sesibuk apapun menjadi seorang guru, masih ada waktu untuk menulis. Terutama menulis tentang pengalaman pribadi melalu catatan harian. Saya selaku Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini.

Kepada Cikgu Arif Saefudin, yang telah dengan tekun menyusun buku catatan harian ini saya sampaikan penghargaan. Jerih payah dan kerja keras saudara adalah bagian dari upaya untuk mengobarkan budaya literer bagi dunia pendidikan. Saya berharap buku ini menjadi pemantik dan inspirasi bagi guru-guru yang lainnya agar dapat memulai menulis dan menerbitkannya untuk mencerahkan masyarakat.


Selamat membaca.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Kuala Lumpur, 10 Maret 2019


Mokhammad Farid Maruf, Ph.D.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan

Saturday, May 11, 2019

Ayo Kita Pulang, Nak...Catatan Kecil Guru Ladang Sawit, Sabah-Malaysia

Bersama Anak-Anak Terusan 2
arifsae.com - Kita tidak pernah bisa memilih darimana kita dilahrkan. Dari orang tua seperti apa, atau dari lingkungan mana. Karena itu semua adalah hak “prerogratif” Tuhan. Tugas kita adalah berusaha menggapai harapan, cita dan asa yang kita impikan, karena sukses merupakan pertemuan antara persiapan dan kesempatan.

Itulah yang menjadi harapan saya. Disini. Di belantara himpitan Pohon Sawit, yang membentang dari ujung hingga ujung Negeri Sabah, Malaysia. Negeri Sabah merupakan wilayah negara bagian dari Kerajaan Malaysia yang termasuk kedalam 13 negara bagian dalam persekutuan Malaysia. Wilayah ini merupakan wilayah terbesar kedua, setelah Sarawak, dalam bagian persekutuan itu. Julukan untuk menggambarkan wilayah ini adalah Negeri di Bawah Banyu (Land Below the Wind).

Di rimbunnya Pohon Sawit Negeri Sabah telah menyimpan berbagai harapan dan kesempatan dari anak-anak “kandung” Indonesia. Iya. Di belantara sawit itu, lahir anak-anak Indonesia yang tak tahu jati diri mereka. Sebagian besar, mereka lahir karena mengikut orang tua yang memilih menjadi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Sabah. Ada yang berdokumen resmi secara legal, namun lebih banyak yang illegal. Mereka datang lewat jalur “Tikus”.

Malaysia merupakan negara favorit bagi para BMI ini. Menurut data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) pada tahun 2018, Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia hampir mencapai 3 Juta jiwa. Belum lagi yang tidak resmi. Dari data itu, kita bisa membayangkan berapa banyak orang Indonesia yang mengais rizki di negeri Jiran ini.

Jumlah TKI di Malaysia ini adalah yang terbesar di dunia. Meski banyak dijumpai kekerasan dan kasus, namun tidak bisa disangkal, Malaysia masih menjadi favorit bagi para pemburu kerja dari Indonesia. Alasan yang paling utama adalah faktor Ringgit. Mereka rela meninggalkan Indonesia demi setumpuk materi, dengan secara tidak langsung menelantarkan pendidikan anak-anak mereka.

Pendidikan mereka terlupakan. Ini disebabkan karena di Sekolah Kebangsaan Malaysia, tidak menerima orang-orang yang “berpassport”, apalagi mereka yang ilegal. Sehingga, puluhan ribu anak-anak Indonesai tak bisa menikmati lezatnya bangku sekolah. Salah satunya tentu diwilayah Sabah ini. Itulah mengapa, pemerintah hadir bagi anak-anak Indonesia di Sabah.

Menebar Serpih Asa
Peran pemerintah Indonesa untuk memenuhi pendidikan warga negaranya berlandas komitmen global untuk mencapai sasaran Education for All, yaitu sebuah gerakan untuk memberikan “pendidikan untuk semua”. Pemerintah juga mengeluarkan PP No. 28 Tahun 1990 tentang pendidikan dasar antara 7-15 tahun untuk mengenyam pendidikan wajib 9 tahun, tidak terkecuali mereka yang berada di luar negeri.

Proses pemberian layanan pendidikan di Malaysia tidak mudah, butuh proses yang panjang. Proses itu bahkan sudah dimulai dari era Presiden Megawati Sukarnoputeri pada tahun 2003 silam, dan baru terrealisasi pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2006. Dalam kesepakatan Annual Consultations 2006, disetujui akan dikirimnya guru-guru dari Indonesia untuk anak-anak di perkebunan Sawit.

Dari kesepakatan itu, dibentuklah sebuah LSM Humana Child Aid Society tahun 2006. Namun, dilihat dari perkembanganya, hasil output (ijazah) dari Humana tidak bisa digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Indonesia. Hal ini tentu disebabkan “kurikulum” yang digunakan Humana bukan kurikulum Indonesia, melainkan menggunakan kurikulum Malaysia.

Dari keadaan itu, maka secara tidak langsung mendorong terbetuknya Sekolah Indonesia. Dengan surat dari Kementerian Luar Negeri bernomor 120/DI/VI/2008/02/01 tertanggal 16 Juni 2008, yang meminta pada Kementerin Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendirikan sebuah sekolah Indonesia di Kota Kinabalu (Red: Ibu Kota Sabah). Hingga akhinrya, pertanggal 1 Desember 2008, diresmikan dan mulai berjalan secara operasional Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

Dalam perkembangannya, SIKK hanya bisa melayani anak-anak Indonesia yang berada disekitar Kota Kinabalu dan sekitarnya. Sedangkan anak-anak yang berada di ladang-ladang Sawit belum terjamah. Sehingga dicari sebuah solusi untuk menyediakan akses pendidikan untuk meraka. Karena semangat inilah, didirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau Pusat Pembelajaran Masyarakat (PPM), kalau dalam bahasa Inggris nya, Community Learning Centre (CLC).

Lewat perjanjian antara Presiden SBY dan PM Najib Tun Razak, dalam The 8th Annual Consultations di Lombok pada 20 Oktober 2011 ditanda tangani sebuah kesepakatan secara legal dan formal tentang pendirian CLC tersebut dan efektif berlaku mulai tanggal 25 November 2011.

Pada akhir 2018, sudah didirikan 114 CLC Sekolah Dasar (SD) dan 45 CLC Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar diseluruh pelosok penjuru Ladang-Ladang Sawit di seluruh Sabah. Kesempatan inilah yang membuat kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Tujuan utama dari program ini tentu tidak lain dan tidak bukan adalah, mengembalikan mereka ke Indonesia. Mengejar mimpi, meraih cita-cita dan menggapai kesuksesan.

Menuju Puncak Cita
Saya teringat pepatah, Harimau tidak akan mendapatkan mangsa apabila tidak keluar dari sarangnya. Begitupun dengan saya, harus keluar “sarang” untuk mendapatkan “mangsa”. Iya, sejak 2017 saya ditugaskan oleh Pemerintah Indonesia menjadi salah satu bagian dari ratusan guru-guru Indonesia yang ditugaskan di CLC-CLC di Sabah.

Tantangan baru yang saya temui tentu tidak akan didapatkan di Indonesia. Ini luar negeri. Ini Malaysia. Ini Sabah. Bahkan, kata kawans saya, “Sabah Keras”. Keras karena disini suhu bisa sangat panas. Bahkan, pernah mendekati 35 derajat Celcius. Keras karena rumah-rumah guru tidak semewah rumah di Indonesia. Jangan membayangkan Sabah seperti wilayah Semenanjung dengan Menara Peronasnya.

Kami, guru Indonesia yang berada di Sabah mendapatkan fasilitas dari Company atau pihak ladang. Kata kawan saya, “Fasilitas yang akan didapat tergantung amal dan perbuatan di Indonesia.” Joks semacam itu kadang membuat kami terawa, memang ada benarnya. Kalau company itu besar, kemungkinan fasilitas juga baik. Namun apabila company itu kecil, bisa dipastikan, hanya pasrah dan doa yang menyertai langkah.

Misalkan, ada yang rumahnya dari kayu dan rusak. Ada yang tanpa sinyal sama sekali. Ada yang listrik hanya 6-8 jam sehari. Bahkan ada yang perjalanan dari jalan besar utama ke rumah menempuh 2 jam. Bagaimana kami memenuihi kebutuhan? Untuk memenuhi kebutuhan kami keluar ladang untuk ke kota (Bandar). Kalau ada toko (kedai) itu bisa menjadi alternatif, tentu dengan harga yang lebih mahal.

Lalu, sekolahannya seperti apa? Sekali lagi, jangan membayangkan sekolah di Indonesia. Kondisi sekolah hampir sama dengan rumah, tergantung Company. Namun ada beberapa perbedaan antara CLC satu dengan lainnya, yaitu jam belajar. Hal ini disebabkan karena harus berbagi jam dengan Humana. Apabila di ladang itu ada Humana, makan bisa dipastikan proses belajar CLC dilakukan siang hari, antara jam 14.00.-17.00 waktu Sabah. Namun, apabila diladang itu tidak ada Humana, pembelajran bisa dilakukan pagi hari.

Kondisi bangunan pun tidak bisa disama ratakan. Ada yang hanya dari kayu, ada juga yang sudah bertembok. Terkadang, yang membuat kami merasa “special” disini karena dituntun untuk menjadi manusia setengah “dewa”. Mengapa? Karena kami harus tau segalanya. Dari urusan sekolah sampai kemasyarakatan. Secara administrasi kami dianggap selayaknya sekolah umum di Indonesia, yang mendapatkan Dana Operasional, menginput Dapodik dan tentu beban se-abreg yang menimpa kami. Dari Kepala Sekolah, Guru, Tata Usaha, kantin, bahkan petugas pembersih jadi satu.

Belum lagi, kami harus menempuh ke Tempat Kegiatan Belajar (TKB), semacam cabang dari CLC, untuk belajar disana. Tidak tanggung-tanggung, puluhan kilometer harus kami tempuh untuk sampai di TKB-TKB itu. Ditambah karena disini kekurangan guru, kami harus meng-handle mata pelajaran yang bukan menjadi passioan kami. tapi itulah keadaan disini, lingkungan dan kondisi geografis yang memaksa kami untuk menikmatinya. Termasuk menikmati proses belajar dengan anak-anak BMI ini.

Kami harus benar-benar memulai dari awal, karena sebagian mereka lahir di Sabah. Tidak tahu kekayaan budaya yang ber-bhinneka di Indonesia. Mereka hanya mengenal asal mereka dari sukunya. Mereka menyebut “suku” dengan sebutan “bangsa”. Apabila ada pertanyaan, “Apa Bangsa kamu?”, mereka akan menjawab, “Bangsa saya Bugis, Bangsa saya Timor, Bangsa saya Jawa.”

Tapi itulah tugas kami disini. Mengenalkan “kecantikan” Ibu Pertiwi, dan membujuk mereka untuk kembali dan membangun negeri. Dengan proses pembelajaran yang seadanya, kami mencoba memaksimalkan segala potensi dan sumber daya yang dimiliki untuk menggajak mereka kembali ke Indonesia, tentu dengan jalan melanjutkan sekolah di Indonesia. Salah satu caranya dengan program beasiswa.

Meraih Segudang Bahagia
Saat ini, sudah ratusan siswa yang dikembalikan ke Indonesia dengan berbagai program beasiswa. Salah satunya adalah beasiswa repatriasi Sabah Bridge dan Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Sudah banyak dari alumnus-alummnus CLC di Sabah yang melanjutkan sekolahnya di Indonesia, bahkan sampai perguruan tinggi.

Sejak tahun 2015-2018, sudah ada 453 peserta didik yang melanjutkan sekolah diberbagai penjuru sekolah di Indonesia. Bahkan sudah ada yang sampai perguruan tinggi bergensi di dalam dan luar negeri. Itulah kebanggaan dan kebahagian tertinggi kami sebagai guru ladang di Sabah, Malaysia ini.

Saya sendiri bertugas di CLC SMP Terusan 2, lokasi yang bernaung di Company Wilmar ini memberikan fasilitas yang memadai. Proses pembelajaran dilakuakn sore hari, karena paginya digunakan oleh Humana. TKB yang CLC Terusan 2 miliki ada 3, TKB Andamy, TKB Terusan 1 dan TKB Rumidi. Dan saya menjadi “pengelola”, semacam kepala sekolah mini dari CLC Terusan 2 sejak 2017 hingga kini (2019).

Meski dengan fasilitas yang serba terbatas, kami selalu menggaungkan dan mengajak mereka untuk selalu berusaha dan membuka mindseet mereka. Minimal, mereka harus berusaha lebih baik dari orang tuannya yang bekerja sebagai BMI di Sabah. Mereka bisa. Mereka mampu. Mereka mau untuk pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Begitulah. Hak-hak mereka sebagai warga negara tetap berusaha dipenuhi untuk mengenyam pendidikan. Sehingga mereka bisa memanen hasilnya kelak, menyimpannya dalam setumpuk gudang bahagia. Tentunya untuk turut serta berkontribusi membangun Indonesia. Tidak ada jalan lain, saat ini, kami sebagai guru, mempunyai kata-kata sakral, “Ayo kita pulang, Nak…”[]

Friday, April 12, 2019

Coming Soon Jilid 2 : Menebar Serpih Asa

Menuju Jilid 2

Saturday, March 2, 2019

Sawit Pahit [Sebuah Puisi Esai]

Sawit
/1/

Rapuh tatapan tajam ke Sawitan itu,
tak lagi rindang, enam tahun yang lalu.
Jejak langkah akan meninggalkannya,
menjadi serpihan masa lalu.

Sebelum langkah menjejak arah itu, hatinya menjerit;
mendiamkan ramai riuh kenangan.
Dibukanya pintu rumah: hitam pelataran Terusan,
menjadi taman bermain sejak pertama berjalan.

Teringat hari sebelum hari ini
Ketika tangisan ramai setiap hari
Seperti raungan mesin Beggo dipelataran rumah
Mengaum seperti raja hutan menakuti musuh

Sebut saja namanya Fitri, Nurul Safitri binti Salimi–
kesucian hidup artinya.
Nama indah yang berjejar rapi
Menadakan khas nama Malaysia.

Waktu itu dia lahir di Malaysia-
Lahad Datu tepatnya.
Negeri hamparan Sawit di Bawah Bayu
Sabah yang ramah.

Ia pindah, berkali-kali.
Mengikuti langkah arah ibunya, Salimi.
Semua berubah berbeda
Setelah peristiwa invasi dari Abu Sayaf

Apa arti kebangsaan bagiku?
Lirih hatinya menanyakan pada dirinya
Jutaan orang meninggalkan negaranya
Untuk mencari Ringgit di belantara Sawit

/2/
Ibunya, dari negeri Zamrud Khatulistiwa
Ayahnya, orang tempatan Malaysia
Mereka terikat dalam ikatan manusia
Mengagungkan nilai-nilai cinta

Mengharpkan hidup bahagia
Ditengah hamparan sawit,
Kampung Tanduo tepatnya,
30 km dari Lahad Datu

Hingga hari itu datang,
Menyeruak digelapnya malam
Hukum ditelantarkan, segerombol orang datang
Ratusan jumlahnya,
Yang terdengar hanya ketakutan

Seranggan Pengganas Penceroboh Sulu
Suara Takhta Sulu menggema
Menuntut warisan Sultan Brunei
Itu miliku, itu hakku

Langit menghitam oleh letusan peluru
Dari dalam rumah-rumah
Semua terperanga, tak ada yang merasa terjaga
Melindungi diri sendiri dari kemelut

Ada yang memilih menyelamatkan diri
Dari para pengganas yang ganas
Yang siap merampas dan menerkam
Yang siap membunuh orang melawan

Operasi Daulat di daulatkan
Untuk menjinakan pengganas
Di Kampung Tanduo dan Tanjung Batu
Juga di bagian Sabah lainnya

Banyak korban bergelimangan
Menggelepar-gelepar
Memerah banjir darah
Termasuk ayahnya, Abdul Kardir.

/3/
Safitri bersema ibunya mengungsi
Felda Sahabat mnawarkan persinggahan
Bersama sejumlah warga tempatan dan imigran
Memikirkan masa depan, dimana untuk hari kedepan?

Hari-hari setelahnya setelah Hari Berdarah
Safitiri belum tahu apa yang sebenarnya terjadi
Ingatan dan tubuhnya belum mampu
Ibunya membawanya pergi dari kenangan

Sempat pindah ke Sekar Imej
Yang jauh dari keramaian
Sempat ke Andamy
Yang menawarkan kedekatan
Hingga pelabuhan berakhir di Terusan

Hari beganti menaati kodrat ilahi
Ia tumbuh menjadi gadis Sawit
Berkenalan dengan sambutan
Sudut-sudut tak berujung blok-blok

Ketika umur terus menambah
Fitri tak bisa membaca menulis
Celaka, sungguh celaka
Apa yang Negara perbuat padaku?

Wednesday, February 27, 2019

Mengenal Usman Janatin dan Harun Tohir


arifsae.com - Komando Dwikora menjadi puncak dari konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan jargon Ganyang Malaysia yang menjadi kalimat sangat populer saat itu. Untuk melegalkan segala tindakan, maka Presiden Sukarno mengeluarkan Keputusan Presiden RI No. 95 tahun 1964. Keputusan ini menyangkut tentang pengerahan para sukarelawan Indonesia dalam rangka peng-ganyang-an dan penghancuran proyek neo-kolonialisme yang membutuhkan banyak personil.

Maka, untuk mengatasinya, banyak dibuka rekrutmen untuk menjaring anggota-angggota yang berani mengambil segala resiko. Banyak warga Indonesia yang berbondong-bondong mendaftarakan diri untuk ikut berkontribusi, salah satu orangnya adalah Janatin alias Usman dan Tohir alias Harun. Mari mengenal tentang Usman dan Harun.
Cover Buku
Usman: Inspirasi dari Kota Perwira

Nama yang diberikan oleh ayahnya adalah Janatin. Ia lahir tepat pada hari Kamis Pon tanggal 18 Maret 1943. Sekitar jam 10. 00 siang, Janatin membuka mata untuk pertama kalinya melihat dunia.  Janatin lahir dari rahim Siti Rukijah, seorang ibu rumah tangga di Dusun Tawangsari, yang masuk ke dalam wilayah administrasi Desa Jatisaba, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga. Janatin lahir di wilayah yang masuk ke dalam kawasan Kecamatan Purbalingga, tepatnya di Desa Jatisaba.

Janatin merupakan anak ke-7. Nama-nama saudaranya dari yang paling tua hingga muda, yaitu: (1) Ahmad Kusni, anggota militer; (2) Ahmad Chuneni, anggota militer; (3) Ahmad Matori, anggota militer; (4) Siti Rochajah, ibu rumah tangga; (5) Mohammad Chalimi, Pegawai Kecamatan Bobotsari; (6) Siti Rodijah, ibu rumah tangga; (7) Djanatin; dan anak terakhir (8) Siti Turijah, seorang ibu rumah tangga.

Ayahnya, Haji Mochammad Ali, merupakan orang yang dihormati karena posisinya sebagai seorang kayim atau lebe.  Posisi kayim ini bersifat sebagai tangan kanan Kepala Desa, terutama yang berkaitan dalam masalah-masalah keagamaan. Sebagai seorang kayim atau lebe, pola pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya juga tidak jauh dari sifat religiusitas agama Islam. Hal ini didukung dari bangunan mushola yang ada di depan rumah Janatin ketika kecil.  Dengan adanya mushola ini, maka tidak mengherankan anak-anak H. Moch. Ali dapat memperoleh ilmu agama dengan baik.

Janatin mempunyai kakak pertama, Letnan Ahmad Kusni. Ia pernah berjuang dan gugur menjadi martil bangsa tahun 1949. Setelah gugur, ia dimakamkan di makam Pahlawan Purbosaroyo, Purbalingga. Selain Letkol Ahmad Kusni, dua kakak Janatin lainnya, Letda Ahmad Chuneni dan Sersan Mayor Mathori, juga merupakan anggota militer. Mereka sering memperlihatkan sikap seorang anggota militer yang disiplin dan tegas kepada saudara-saudaranya, termasuk kepada Janatin. Janatin melihat sosok kakak-kakaknya itu dengan sebuah kekaguman.

Kecintaan Janatin terhadap dunia militer yang terinspirasi dari kakak-kakaknya menjadikan motivasi tersendiri bagi Janatin dikemudian hari. Selain itu, dengan peristiwa terbunuhnya Letkol Ahmad Kusni, Janatin kecil ingin membalaskan kematian kakaknya ini kepada para penjajah yang mencoba mengganggu martabat Republik Indonesia.

Saat usia Janatin memasuki 7 tahun, ayahnya mendaftarkan Janatin ke sekolah formal. Janatin didaftarkan ke Sekolah Rakyat (SR)  terdekat, yaitu SR Jatisaba. Tepatnya tahun 1951, Janatin untuk pertama kalinya memasuki pendidikannya di SR Jatisaba. Jarak dari rumahnya hingga SR Jatisaba sekitar 1 km. Untuk menuju ke sekolahnya, Janatin selalu berjalan kaki dengan teman-teman sebayanya.

Proses Janatin bersekolah di SR Jatisaba dilalui hanya 3 tahun. Hal ini dikarenakan keterbatasan ruangan yang ada di SR Jatisaba. SR Jatisaba hanya bisa menampung kelas 1 hingga kelas 3 sehingga untuk melanjutkan kelas 4 sampai 6, Janatin harus pindah ke SR Bancar yang jaraknya lebih jauh lagi, yaitu sekitar 3 km. Jarak ini tidak menghambat Janatin untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya. Ia selalu bersemangat untuk mengikuti pelajaran menuju ke SR Bancar meski harus ditempuh dengan jalan kaki, karena waktu itu memang belum ada kendaraan umum dan akses jalan masih sangat terbatas.

Setelah melalui proses pendidikan selama 6 tahun di SR, akhirnya Janatin lulus tahun 1957. Kemudian, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Bhakti Mulya. Janatin memilih sekolah ini karena satu-satunya dan karena paling dekat dibandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya. Jarak antara rumah Janatin ke SMP Bhakti Mulyajuga sekitar 3 km.

Seperti ketika sekolah di SR Bancar, Janatin juga berjalan kaki ketika berangkat ke SMP Bhakti Mulya. Di lingkungannya yang baru, Janatin merupakan anak yang suka bergaul dengan teman-temannya dari berbagai latar belakang. Hal ini dikarenakan SMP Bhakti Mulya merupakan sekolah yang sebagian besar murid-muridnya berasal dari keturunan Tionghoa sehingga keakraban yang terjalin antara Janatin dan teman-temannya di SMP Bhakti Mulya merupakan pertemanan antar-etnis.

Setelah pulang sekolah, Janatin sering membantu ayahnya dalam berbagai bidang pekerjaan. Profesi ayahnya yang juga menjadi sebagai petani menyebabkan keseharianya dihabiskan di sawah. Tidak jarang Janatin membantu ayahnya di sawah. Selain membantu dalam bidang pertanian, Janatin juga sering membantu untuk mencarikan makanan (ngarit) hewan ternak kambing yang memang dipelihara ayahnya.  Semua kegiatan itu dilakukan Janatin bersama saudara-saudaranya ketika tidak sedang bersekolah.

Selain bermain dengan teman-temannya dan membantu kedua orang tuanya, Janatin juga dikenal sebagai penyayang binatang. Hewan peliharaan yang paling disayangi Janatin adalah seekor bajing kelapa (Tupai). Nama ini diberikan karena jenis tupai ini memang suka melubangi pohon Kelapa. Tupai ini hidup di pohon-pohon kelapa yang banyak dijumpai di sekitar rumah Janatin. Janatin menangkap tupai kecil ini di sekitar pohon kelapa dekat rumahnya. Janatin mengambil dan memeliharanya dengan kasih sayang, bahkan Tupai ini sangat jinak dengan Janatin.

Pernah suatu ketika, Janatin pulang dari sekolah dan langsung diajaknya bermain. Sering ketika Janatin bepergian Tupai ini ditaruh dipundaknya, bahkan Siti Rodijah, mengibaratkan Janatin sama seperti Si Buta dari Gua Hantu karena seringnya tupai ini ditaruh di pundaknya, sama seperti Pendekar Buta yang mengendong kera kecil di pundaknya. Tupai ini dirawat oleh Janatin hingga ia mendaftarkan diri menjadi anggota Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL).

Harun: Sukarelawan dari Bawean

Harun bernama asli Tohir. Ia lahir pada tanggal 14 April 1943 di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Nama pulau Bawean tak bisa terlepas dari seorang ulama terkenal yang pernah hidup dan dikuburkan di sana, yaitu Syekh Zainuddin Bawean Al Makki dan Syekh Muhammad Hasan Asyari Al-Baweani.

Nama pulau ini juga sering disebut Pulau Putri, karena banyak orang yang berasal dari pulau ini merantau ke Jawa dan luar negeri, terutama ke Singapura dan Malaysia. Bahkan, di negeri itu, ada beberapa tempat perkampungan yang merupakan perkumpulan orang-orang Bawean. Di sana ada istilah “Orang Boyan”, yang ditujukan untuk orang-orang Bawean.

Pulau Bawean dulu pernah menjadi wilayah Surabaya, terhitung sejak pemerintahan Kolonial sampai Indonesia merdeka. Jarak Pulau Bawean ke Surabaya sekitar 15 kolometer, dan harus ditempuh 15 menit menggunakan perahu. Sejak 1974, Pulau Bawean menjadi bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Tohir lahir dari lingkungan pantai yang bermata pencaharian nelayan. Nama ayahnya adalah Mahdar seorang nelayan, dan ibunya bernama Aswiyani.

Sejak kecil, Tohir sudah akrab besentuhan dengan karang-karang dipinggir pantai. Tak jarang, ia ikut berlayar bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Bahkan, kecintaanya dalam berlayar, ia sering meninggalkan sekolah dasarnya. Ia terpukau keindahan ombak dibandingkan dengan mengikuti pelajaran di kelas.

Tohir sering ikut berlayar meski dengan diam-diam. Biasanya sekali menaiki kapal harus berhari-hari untuk mencari ikan. Meskipun jarang mengikuti pelajar, Tohir berhasil menyelesaikan sekolah dasarnya dengan cukup baik. Karena adat Bawean yang lebih banyak merantau, setelah lulus sekolah dasar ia melanjutkan rantauanya ke Tanjung Periok, Jakarta.

Untuk membiayai sekolah dan hidupnya di Jakarta, ia sesekali menggeluti hobinya untuk mengikuti berlayar dan mencari ikan. Dan terkadang ia menjadi pelayan dalam sebuah kapal pelayaran. Untuk mengikuti pelajarannya yang tertinggal, Tohir menyalin dan menanyakan pelajaran serta meminjam catatan buku pelajarannya. Ia memang tak bisa fokus untuk sekolah, karena lingkungan telah membentuknya seperti itu. Namun ada sisi posif dalam setiap pelayaran yang dilaluinya, Tohir menjadi tau seluk beluk tempat yang disinggahinya dalam pelayaran. Dari beberapa negara yang pernah disinggahinya, Singapura merupakan tempat yang paling sering Tohir datangi.

Terkadang, sekali berlayar ia harus menghabiskan waktunya berhari-hari di tengah lautan. Seperti ketika singgah di Singapura, Tohir ikut dalam kapal rute Tanjung Pinang-Singapura. Ia beberapa kali bermalam berhari-hari disana. Dari pengalaman berlayar ke Singapura inilah Tohir menjadi hafal daerah-daerah Singapura sampai ke gang-gang nya. Pengetahuan ini akan sangat berguna nantinya ketika Tohir memilih untuk mendaftarkan dirinya menjadi sukarelawan dari KKO-AL.

Berbeda dengan Janatin yang tidak bisa terlacak kisah percintaanya, Tohir pernah mengalami persistiwa tak mengenakan dengan perempuan. Ketika umurnya baru 21 tahun, Tohir menjalin cinta dengan seorang perempuan bernama Nurlaila. Hubungan keduanya bisa dibilang serius. Keseriusan itu yang membawa Tohir untuk bertungangan dengan gadis pujaan hatinya itu.

Kakak sulungnya yang bernama Samsuri menjadi orang yang menyaksikan prosesi lamaran yang dilakukan keluarga Tohir kepada keluarga Nurlaila. Diwaklikanya prosesi lamaran itu karena ayah Tohir telah meninggal dunia pada tahun 1963. Mereka berdua telah bersepakat untuk menjalin rumah tangga dikemudian hari.

Namun rencana itu berantakan, karena setelah Tohir berlayar dalam waktu yang lama dan kembali untuk menemui Nurlaila, Tohir manyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Calon pengantinya akan melaksanakan proses pernikahan dengan laki-laki lain, Tohir marah besar. Ternyata laki-laki itu adalah pilihan kedua orang tua Nurlaila, yang berarti pernikahan itu merupakan perjodohan.

Pada hari pernikahan Nurlaila dilangsungkan, dan tamu sedang ramai-ramainya, Tohir datang bersama teman-temannya. Pada saat proses ijab qobul akan dilaksanakan dan pernikahan hampir selesai membacakan proses ijab qobul, Tohir membuat onar dan marah-marah. Ia meminta untuk proses pernikahan itu dibatalkan.

Penghulu yang akan menikahkan mereka akhirnya lari menuju rumah kakaknya Tohir yang berada di Jalan Jember Lorong 61 Tanjung priok. Penghulu itu menemui kakak Tohir, Samsuri untuk mencegah kekacauan yang terjadi. Akhirnya Samsuri mau membujuk Tohir untuk menghentikan kekacauna yang terjadi. Sebagai adik, akhirnya Tohir mengikuti kata-kata kakaknya untuk mengentikan segala ulah Tohir. Ia menerima perkawinan itu meski dengan berat hati.

Pada bulan Juni 1964, Tohir memasuki dunia kemiliterannya. Ia mendapatkan pangkat Prajurit KKO II (Prako) dan menapatkan pelatihan sleama lima bulan didaerah Riau daratan pada tanggal 1 November 1964. Pada tanggal 1 April 1965 Tohir mandapatkan kenaikan pangkat menjadi Kopral KKO I (Kopko I). Selesai mendapatkan pelatihan didaratan Riau sebagai sukarelawan Dwikora, ia mendapatkan tugas untuk menuju Pulau Sambu dan bergabung rekan-rekannya yang lain.

Pengalamannya ketika berlayar berkali-kali ke Singapura menjadikan Tohir ahli dalam penyamaran. Terlebih mukanya yang mirip Tionghoa menjadikan penyamaran lebih mudah. Tohir juga dikenal karena bisa menguasai beberapa bahasa asing, seperti Ingris, Melayu, Tionghoa dan Belanda.

Takdir inilah yang akhirnya menemukannya dengan Janatin di Pulau Sambu. Tohir bergabung kepada Tim Brahman I pimpinan Kapten Paulus Subekti. Tugas dari Tim ini adalahmelakukan demolisi, sabotase pada obyek militer dan ekonomis, juga menyiapkan kantong gerilya, mengadakan propaganda, perang urat saraf, mengumpulkan informasi serta melakukan kontra intelijen.[]

Bagian Buku Usman Jantin dan Harun Tohir, Pesan Bukunya DISINI.

Sunday, January 27, 2019

Ini Nama-Nama CLC SD Se-Sabah dan Sarawak


Lambang Sekolah Dasar
aifsae.com - Dulu saya pernah memposting nama-nama CLC SMP beserta TKB nya DISINIKali ini saya akan membagikan nama-nama Comunity Learning Centre (CLC) SD yang ada di Sabah dan Sarawak, Malaysia. CLC merupakan sekolah Indonesia yang sengaja di dirikan untuk menampung para anak-anak Indonesia di Sabah terutama anak-anak usia Sekolah Dasar.

Oke, langsung saja berikut nama-nama CLC SD Se-Sabah dan Sarawak, yang sampai saat ini (Update 23 Januari 2019) berjumlah 113 CLC.
  1. CLC 25 LADANG CEPAT-KPD
  2. CLC LADANG LUMADAN
  3. CLC ST. FRANSISKO YASINTA
  4. CLC BUDI LUHUR 1 BIAH
  5. CLC BUDI LUHUR BINGKOR
  6. CLC GOOD SAMARITAN
  7. CLC ILHAM INASA
  8. CLC JAVA ETANIA MATAKANA
  9. CLC SERAT BANGSA MAWAU
  10. CLC SLDB DALIT
  11. CLC SLDB INANDUNG
  12. CLC BUDI LUHUR 2 ASBON
  13. CLC PASIR PUTIH
  14. CLC SERAT BANGSA LADANG BONGAWAN
  15. CLC FANTASI GENERASI
  16. CLC SERAT BANGSA LADANG LANGKON
  17. CLC BHINEKA TUNGGAL IKA
  18. CLC CINTA MATA
  19. CLC ST.THOMAS
  20. CLC RUMAH AGAPE 
  21. CLC SD CEMPAKA 
  22. CLC GAMBEN 
  23. CLC NUSA BANGSA 
  24. CLC UNITED MALACCA 1&2
  25. CLC UNITED MALACCA 3&4
  26. CLC MATAKANA
  27. CLC SERAT BANGSA LADANG KIMANIS
  28. CLC TUNAS HARAPAN BANGSA
  29. CLC TENOM 
  30. CLC SOOK OIL PALM
  31. CLC KOTA BELUD 
  32. CLC LADANG ONG YAH HO 
  33. CLC LADANG RESORT 
  34. CLC SABAH TEA 
  35. CLC SD DALIT OIL PALM MILL (DOP)
  36. CLC SERAT BANGSA PITAS
  37. CLC ARUS SAWIT 2
  38. CLC PERDANA TELUPID
  39. CLC ST. JOSEPH PAPAR 
  40. CLC FELCRA ESTET PERTAMA
  41. CLC KAMPUNG MELAYU SULAIMAN 
  42. CLC LADANG ANDAMY 
  43. CLC LADANG KARANGAN ESTATE 
  44. CLC LADANG MASANG 
  45. CLC MONSOK PALM OIL MILL
  46. CLC NUSANTARA 
  47. CLC PAHANG 2
  48. CLC SERAT BANGSA TONGOD
  49. CLC SRI LIKAS MEWAH 
  50. CLC LADANG ABEDON KRETAM
  51. CLC ARUS SAWIT
  52. CLC SERAT BANGSA GOMANTONG
  53. CLC ARUNAMARI 
  54. CLC BUKIT SEGAMAHA 
  55. CLC CERDAS
  56. CLC GRACE CENTRE 
  57. CLC HANIM 
  58. CLC KIM LOONG 
  59. CLC KUARI 3 GUMGUM 
  60. CLC LADANG SUTERA 
  61. CLC SD SUNGAI MENANGGOL
  62. ÇLC TIMORA
  63. CLC KEMAJUAN INSAN INANAM
  64. CLC CAHAYA TAGAS 
  65. CLC DUTA
  66. CLC KRETAM SAPAGAYA 
  67. CLC LADANG NAK 
  68. CLC PKPS JAGOHARMONI 
  69. CLC PKPS IRAT 
  70. CLC SD PROLIFIC
  71. CLC SUNGAI SEGAMAHA 
  72. CLC SAKILAN DESA
  73. CLC LADANG SUNGAI KAWA 
  74. CLC AL ALAQ 
  75. CLC AUMKAR
  76. CLC HIDAYATULLAH SEGARIA
  77. CLC HOLY TRINITY
  78. CLC KOKO INTAN
  79. CLC LAMSOON
  80. CLC LEMBAH DANUM 
  81. CLC SD PUTERA BANGSA 
  82. CLC SERAT BANGSA BONGALIO
  83. CLC SLDB APAS BALUNG 
  84. CLC TECK GUAN 
  85. CLC SERAT BANGSA LADANG BAGAHAK
  86. CLC SERAT BANGSA LADANG SEBRANG
  87. CLC SERAT BANGSA KALABAKAN
  88. CLC SILIM 2
  89. CLC TAMACO CENTER
  90. CLC SLDB LITANG
  91. CLC BENTA BELIAN
  92. CLC SD WINSOME 
  93. CLC LACAK FIDELITY
  94. CLC LADANG TAMACO
  95. CLC TUNAS PERWIRA
  96. CLC BIMA SAKTI BALUNG RIVER
  97. CLC KRETAM SILIMPOPON 
  98. CLC PELITA BANGSA LKSK 
  99. CLC SD FGV BAIDURI AYU 
  100. CLC SD FGV CENDRAWASIH
  101. CLC SD FGV EMBARA BUDI
  102. CLC SD FGV FAJAR HARAPAN 
  103. CLC SD FGV GEMALA PURA 
  104. CLC SD FGV HAMPARAN BADA 
  105. CLC SD FGV JERAGAN BESTARI
  106. CLC SD FGV KEMBARA SAKTI 
  107. CLC SD FGV SAHABAT 46 
  108. CLC INDRA SABAH
  109. CLC BAMBU KUNING 
  110. CLC BUKIT TAJAM
  111. CLC YUWANG TINGKAYU
  112. CLC SELANGAN BATU
  113. CLC SJI
Data ini di dapat dari informasi group tertutup penulis di Sabah