Monday, July 9, 2018

Kata Sambutan Prof. Dr. Ir. H. Ari Purbayanto, M.Sc. Dalam Buku Narasi Ladang Sawit

Naya dan Narasi Ladang Sawit

Saturday, July 7, 2018

Ini Dia Buku Narasi Ladang Sawit: Antologi Kisah Guru Tahap 8 Distrik Sandakan, Sabah-Malaysia

Buku Narasi Ladang Sawit

Thursday, July 5, 2018

Billionth Barrel Monument, Pengingat Kebangkitan Minyak Brunei

Jalanan Menuju Musseum Barrell

Sunday, July 1, 2018

Mengakhiri Ekspolitasi Politik Pada Anak

Kampanye Polittik pada Anak
(Sumber Gambar: indopos.co.id)

Kampong Ayer Brunei, Gambaran Brunei Masa Lalu

arifsae.com - Selesai menjelajah Masjid OAS, saya masih bersama Pak Devi berjalan menyusuri jalanan Brunei, "Bro, njajal numpak perahu yu? Mumpung disini."
Baca Kisah Sebelumnya: Mengintip Icon Brunei, Masjid Omar Ali Saifuddien (OAS) dan Bahtera Maghligai
Saya oke in ajakan Pak Devi. Bersama dengan Pak Suardi, pegawai TU SIKK kami menaiki perahu dengan biaya 5 Dolar Brunei, sekitar 50 ribu. Awal saya mendengar nama Kampong Ayer, saya langsung teringat dengan Kampung Air di Kota Kinabalu.
Perjalanan di Kampung Ayer (dokpri)

Saturday, June 30, 2018

Memasarkan Pasar Tradisional Pada Anak Sejak Dini

Pasar Tradisional (dokpri)

Thursday, June 28, 2018

Rekreasi History, Edukasi dan Religi di Masjid Agung Demak

Naya, Ikhsan dan Akhsan

Wednesday, June 27, 2018

Mengintip Icon Brunei, Masjid Omar Ali Saifuddien (OAS) dan Bahtera Mahligai

Pak Devi, Aktor dari foto-foto ini (dokpri) 
arifsae.com - Tusukan sinar matahari yang menyengat di Brunei tak menghentikan perjalanan kami berikutnya. Setelah mendapatkan pengalaman 1 jam di Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, kini giliran untuk menjelajah masjid yang menjadi icon negara Brunei, katanya, belum ke Brunei kalau belum ke Masjid ini. Tidak lain tidak bukan dialah Masjid Omar Ali Saifuddien atau lebih familiar Masjid OAS.
Baca kisah sebelumnya: Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Masjid Terbesar di Brunei
Bus kami melaju dengan pelan. Panas waktu itu sedikit terobati dengan dinginnya udara AC dalam bus. Kami menuju ke OAS dengan perlahan, dan seperti biasa saya menikmati jalanan Brunei yang mempesona, "Masjid OAS ini merupakan icon Brunei, jadi kita wajib harus berfoto disini," begitu kata samar-samar dari Pak Reri, selaku kordinator wisata. 

Saya sempat membuka google, seperti apa si bentuk masjidnya, jujur saja, saya masih sangat asing dengan nama itu, bahkan saya sempat heran, "Nama masjidnya kok sama kaya nama belakang saya, ada Saefudin-Saefudin nya gitu, kaya namaku.😁"

Kami turun di Jalan McArthur, sedikit berjalan untuk menuju ke Masjid, karena suara adzan sudah berkumandang, kami berjalan kesana untuk melihat kemegahan dan sekaligus menjalankan sholat Duhur terlebih dulu. Tapi sebelum duhur, saya sempatkan memfoto berbagai keindahan didepan masjid.
Berada di Jalan McArthur, Ini Beda hari loh yaa (dokpri)
Pintu Masuk OAS (dokpri)
Sisi Kiri Pintu Masuk (dokpri)
Penjelasan tentang OAS (dokpri)
Betul-betul dibuat kagum, apalagi didalamnya. Sayang, tak sempat mengabadikan moment didalam masjid. Takut ditegur. Tapi yakin, kemegahannya tidak perlu diragukan lagi.😂

Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan modern antara era kejayaan dinasti Mughal dan arsitektur Italia. Dinasti Mughal merupakan sebuah kerajaan yang wilayahnya saat ini meliputi Pakistan, India, Bangladesh, Afganistan dan Iran.

Masjid ini dibangun pada masa Sultan Haji Omar Ali Saifuddien (1950-1967), yaitu sultan ke-28 Negara Brunei. Pembangunan dimulai tahun 1954 dan selesai empat tahun kemudian, tepatnya diresmikan pada hari Jum'at 26 September 1958. Tepat memperingati ulang tahun ke 1.400 Nuzul Al'Quran.
Kemegahan dari Samping (dokpri)
Setelah solat Dhuhur selesai, saya sempatkan untuk menikmati keindahan arsitektur dari kanan, kiri, depan dan belakang masjid. Kemegahan masjid ini menjadi lebih lengkap karena dikelilingi oleh kolam buatan dari Sungai Brunei di Kampong Ayer. 

Tentu saja, pesona yang paling menonjol adalah kubah emas murni yang menjulang setinggi sebagai puncaknya. Untung saja kali ini ada Pak Devi yang menjadi fotografer dalam setiap moment di masjid OAS ini, saya cocok dengan gaya fotonya.
Samping Kiri Masjid (dokpri)
Masjid ini setinggi 52 meter atau 171 kaki. Semua bahan didatangkan dari luar negeri. Ada lift juga untuk menaiki ke puncak menara, dan bisa melihat pemandangan Brunei. Sayang, saya tak berkesempatan menaiki menara itu.

Masjid ini dilengkapi dengan taman yang begitu indah. Ada dua jembatan pualan penghubung untuk menuju ke Laguna Mahligai Bahtera dan satu lagi menuju ke Kampong Ayer. Saya menikmati jembatan pertama. 
Jalan Setapak Masjid (dokpri)
Jembatan pertama ini menghubungkan ke Laguna Bahtera. Bahtera ini merupakan replika bahtera Sultan Bolkiah abad ke-16. Lokasinya tepat ditengah-tengah laguna. Jembatan yang dibuat dari batu pualam ini menambah keindahan dan pemandangan masjidnya.

Kalau saya melihat arsitekturnya mirip-mirip desain Cina, karena seperti ada naga-naganya gitu. Tapi tak tahu lah, saya hanya menikmati keindahan berdiri diatas bahtera itu. Megah. Indah. Gagah. 
Menuju Bahtera (dokpri)
Jalan Ke Bahtera (dokpri)
Pak Hendro numpang Nampang (dokpri) 
Selesai menikmati keliling masjid dan bahtera, saya keluar masjid OAS. Mengikuti jalanan menuju ke view yang lebih indah. Disana juga ada air mancur kecil, dan terdapat tulisan Welcom To Brunei. Saya berjalan, tetap saja mata ini disuguhi pemandangannya indah kolam. Ternyata ada ikan yang dipelihara dalam kolam. Dijalan saya jumpai sebuah tugu, tapi saya tidak tahu tugu apa itu.
Masjid dari samping (dokpri)
Monumen apa ini, saya ga tau (dokpri)
Tidak terlalu jauh, karena saya hanya berjalan keluar masjid dan mengitari jalanan luar liguana. Dan sampailah di tulisan itu. Dengan pemandangan latar belakang masjid dan bahtera. Memang benar. View nya jauh lebih indah, benar-benar memanjakan mata.😍
Selamat Datang (dokpri) 
Brunei (dokpri) 
Disinilah air mancur dan taman-taman kecil ini dipadukan. Berlatar belakang masjid, disinilah saya menemukan view paling bagus. Menurut saya si, karena bisa memuat semuanya, yaitu berlatar belakang masjid dengan taman dan bahteranya.
View paling bagus menurut saya (dokpri)
Itulah perjalanan menjelajah masjid OAS kali ini. Masjid yang menjadi icon masjid Islam modern. Kalau ke Brunei, tidak lengkap rasanya tidak mendatangi masjid ini. 

Wisatawan disini juga tidak hanya berasal dari orang Islam, namun juga non-Islam. Tentu saja, kalau wanita harus menggunakan pakaian tertutup. Saya juga melihat ada orang Tionghoa yang tidak diperkenankan masuk, karena pakaiannya terlalu minim.

Itulah pengalaman mengesankan berada di masjid OAS. Ikuti perjalanan di Brunei berikutnya. Perjalanan berikutnya menuju ke Kampong Ayer, sebuah tempat legendaris di Brunei.[]

Bersambung...DISINI.😍