Wednesday, October 30, 2019

Mendapatkan Rekor MURI, Guru SILN Dinobatkan sebagai Penulis Catatan Harian Terlama

Piagam MURI Guru SILN

Sambutan Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) dalam Buku Terusan-Terus 2

Cover Buku

Assalamualaikum wr.wb.

Pendidikan adalah kunci utama dalam pembentukan karakter yang paling utama, sehingga mereka mampu menyiapkan berbagai tantangan perubahan dunia yang begitu cepat. Oleh karena itu, semua warga negera Indonesia harus mendapatkan hak yang sama untuk mengenyam pendidikan.

Begitu juga anak-anak Indonesia di luar negeri. Salah satu upaya pemerintah dalam memberikan akses pendidikan itu adalah dengan mendirikan Community Learning Centre (CLC) di Sabah dan Sarawak, Malaysia. Melalui upaya tersebut, diharapkan dapat membawa dampak yang positif dalam menyiapkan generasi emas Indonesia. Upaya itu ditambah dengan penanaman nilai-nilai nasionalisme bagi anak-anak Indonesia yang berada di Malaysia.

Kita bisa melihat usaha itu melalui buku kumpulan antologi berjudul, Terusan-Terus ini. Setiap kata dalam puisi ini murni dari imajinasi mereka. Apalagi dunia sastra begitu asing bagi generasi muda saat ini, dengan semangat inilah imajinasi dan kreasi mereka tersalurkan. Karena mereka sedang menumbuhkan apa yang terpendam dalam diri mereka, entah itu tentang sekolah, keluarga, kehidupan hingga pertemanan. Biasanya tema-tema seperti itu yang terlintas dibenak para anak muda.

Albert Einstein pernah mengatakan bahwa, “Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan.” Alasannya, ilmu pengetahuan bersifat terbatas sedangkan imajinasi tidak terbatas. Kemampuan berimajinasi anak melalui puisi adalah refleksi mereka terhadap alam sekitar dan lingkungan mereka, inilah yang harus diasah melalui dorongan untuk terus menerus menuliskan pemikiran mereka melalui puisi. Hal ini bisa berdampak positif, karena secara tidak langsung mereka menumbuhkan budaya menulis bagi sekitarnya.

Saya ingin mengucapkan selamat kepada guru-guru hebat yang dengan sabar dan tekun membantu anak-anaknya menyusun buku ini. Saya yakin buku ini akan membawa rasa haru sekaligus bangga atas semangat belajar anak-anak Indonesia yang tersebar di seluruh CLC se-Sabah.

Lahirnya antologi puisi guru dan anak-anak CLC Terusan 2 ini sangat perlu diapresiasi sebagai sebuah karya orisinil mereka yang berada di negeri perantauan. Saya selaku Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu mengucapkan selamat pada guru dan anak-anak CLC Terusan 2 yang tesebar di 3 TKB, yaitu Andamy, Terusan 1 dan Terusan 2 sendiri. Saya yakin, buku ini dapat menjadi penyemangat anak-anak BMI lainnya untuk terus belajar berkarya.

Selamat Membaca!
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Kota Kinabalu, 24 Juli 2019

H. Istiqlal, S.Pd., MM.

Sambutan Pensosbud KJRI KK dalam Antologi Puisi Terus-Terusan 1

Cover Buku
Assalamualaikum Wr.Wb.

Sebuah bangsa akan maju seiring dengan majunya pendidikan. Untuk itulah, menjadi sebuah keniscayaan bahwa pendidikan adalah kunci utama dalam membentuk karakter yang unggul, sehingga mereka mampu menyiapkan berbagai tantangan perubahan dunia yang begitu cepat. Dengan itulah, semua warga negera Indonesia harus mendapatkan hak yang sama untuk mengenyam pendidikan.

Begitu juga dengan anak-anak Indonesia yang terlahir di luar negeri, salah satunya adalah anak-anak Buruh Migran Indonesia (BMI) di Malaysia. Mereka tetap mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah Indonesia, sehinga kedepannya tetap memberikan peluang masa depan yang lebih baik lagi. Harapannya mereka akan pulang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan memberikan kontribusinya untuk Indonesia tercinta.

Salah satu upaya pemerintah dalam memberikan akses pendidikan itu adalah dengan mendirikan Community Learning Centre (CLC) di Sabah dan Sarawak, Malaysia. Melalui upaya tersebut, diharapkan dapat membawa dampak yang positif dalam menyiapkan generasi emas Indonesia. Upaya itu ditambah dengan penanaman nilai-nilai nasionalisme bagi anak-anak Indonesia yang berada di Malaysia.

Kehadiran CLC, bukan hanya sekedar menjadi tempat kegiatan belajar-mengajar, tetapi lebih dari itu telah menjadi pendongkrak tumbuh kembangnya kreatifitas termasuk budaya membaca dan menulis.  Dan sekali lagi, saya menyambut baik terbitnya buku kumpulan antologi berjudul, Terus-Terusan ini yang ditulis oleh para guru dan murid CLC. Melalui puisi, mereka mengekpresikan harapan, cita-cita dan mimpi serta segala persepsi mereka mengenai hidup dan kehidupan ke dalam goresan kata-kata yang indah.

Pada kesempatan yang baik ini, saya selaku Konsul Fungsi Pensosbud KJRI Kota Kinabalu sekali lagi menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para guru dan siswa-siswi CLC Terusan 2 termasuk 2 Tempat kegiatan Belajar (TKB)  yaitu CLC Andamy dan Terusan 1. Saya berharap kiranya buku ini dapat menginspirasi dan menjadi penyemangat bagi anak-anak BMI untuk terus belajar berkarya.

Selamat Membaca!

Wassalamualaikum Wr.Wb.
Kota Kinabalu, 8 Juli 2019


Cahyono Rustam

Wednesday, August 21, 2019

Patriot Bangsa dari Kota Perwira: Buku Biografi Usman Janatin

Buku Usman Janatin
Usman Janatin merupakan putera ke-8 dari sembilan bersaudara pasangan Haji Mochammad Ali dan Siti Rukijah. Ia lahir pada tanggal 18 Maret 1943 pada pukul 10.00. Janatin, begitu keluarga memanggilnya, terlahir dari keluarga petani yang religius. Di lingkungan inilah, Janatin terbentuk kepribadiaannya. Ayahnya bekerja sebagai seorang petani sekaligus sebagai kayim, yaitu seorang yang dipercayai sebagai pemuka agama desa. Maka sedikit banyak pola pendidikan yang diterima Janatin juga tidak bias dilepaskan dalam suasana yang religius. Kakak-kakaknya yang sebagian besar merupakan anggota militer menjadikan motivasi tersendiri dalam diri Janatin untuk mengikuti jejak mereka menjadi anggota militer. Terlebih lagi kejadian gugurnya Letkol Kusni, kakak sulung Janatin, yang meninggal karena berperang pada masa revolusi senjata tahun 1949.
Kehidupan semasa kecil Janatin dilalui selayaknya anak kecil seusianya. Janatin menghabiskan masa kecilnya dengan menempuh pendidikan formal dan bermain bersama teman-temannya. Pendidikan formal dimulai dari SR Jatisaba yang ditempuh dari kelas 1 sampai 3. Untuk kelas 3 sampai dengan 6, Janatin harus melanjutkan ke SR Bancar yang berjarak 3 km. Semua jenjang sekolah dasar ini ditempuh Janatin dengan berjalan kaki. Setelah selesai menyelesaikan jenjang sekolah dasarnya, Janatin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di SMP Budi Mulya, Purbalingga.  Di sini, Janatin bergaul dengan berbagai teman yang berasal dari berbagai latar belakang.
Selama bersekolah, Janatin merupakan anak yang tidak terlalu menonjol dalam bidang akademik, namun sangat menonjol ketika mengikuti pelajaran yang membutuhkan ketangkasan fisik. Selepas sekolah, ia tidak lupa menghabisakan waktu untuk bermain dengan teman-temannya, salah satu kegemarannya adalah bermain sepak bola dan bulutangkis. Ia juga tidak lupa membantu pekerjaan ayahnya, seperti mencarikan rumput untuk makanan ternak, dan sesekali membantu di sawah.
Semasa Janatin menjalani tahap akhir pendidikan di SMP Budi Mulya, ia mendengar tentang memanasnya hubungan Republik Indonesia dengan Kerajaan Belanda mengenai masa depan Irian Barat. Puncaknya pada tanggal 19 Desember 1961 Presiden RI Soekarno mengumandangkan Tri Komando Rakyat (Trikora) di alun-alun kota Yogyakarta, sebagai bentuk konfrontasi total dengan Belanda guna memperjuangkan kembalinya Irian Barat. Sejalan dengan kampanye pembebasan Irian Barat tersebut, dilakuan mobilisasi besar-besaran untuk merekrut anggota milieter dan sukarelawan. Pemuda Janatin terpanggil untuk mendaftarkan dirinya sebagai calon Tamtama KKO-AL.
Meskipun ada sedikit penolakan dari orang tuanya, Janatin yang terpanggil untuk membela harkat dan martabat bangsanya nekat mendaftarkan dirinya ke Sekolah Calon Tamtama KKO-AL (secatmoko) di Malang pada tahun 1962. Dengan tahapan seleksi ia berhasil lulus. Berbagai latihan fisik dan mental dilalui oleh Janatin, hingga dinyatakan lulus pendidikan tanggal 1 Juni 1962, Janatin mendapatkan pangkat Prajurit III KKO. Niat Janatin untuk mengusir Belanda dari Irian Barat urung terlaksana, karena tercapai kesepakatan damai antara Indonesia dengan Belanda pasca persetujuan New York tanggal 15 Agustus 1962. Persetujuan New York mengakhir perseteruan Indonesia-Belanda dan Irian Barat dinyatakan kembali ke Pangkuan NKRI melalui perantara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tugas pertama Janatin yaitu mengikuti Operasi Sadar di Irian Barat untuk memastikan penyerahan kekuasaan berjalan lancer.
Meskipun tugas di Irian Barat telah dilaksanakan Janatin dengan baik, namun tugas negara yang lain telah menanti Janatin dan prajurit-prajurit KKO-AL lainnya, yaitu Operasi Dwikora. Komando Dwikora dikumandangkan oleh Presiden Soekarno sebagai bentuk konfrontasi terhadap pembentukan Federasi Malaysia yang disebutnya bagian dari proyek neokolonialisme Inggris. Pada tanggal 31 Agustus 1957 Inggris memberikan kemerdekaan kepada Persekutuan Tanah Melayu (Malaya), sementara Singapura, Sabah, dan Serawak tetap berstatus koloni Inggris. Di sisi lain, Brunei yang masih tergantung kepada Inggris juga menjadi rencana besar membentuk Federasi Malaysia.
Pemerintah Inggris dan negara-negara Blok Barat lainnya yang merasa khawatir dengan perkembangan kekuatan komunisme di Indonesia, menyetujui gagasan tersebut yang dipandangnya sebagai strategi pembendungan pengaruh komunis. Keputusan pembentukan Federasi Malaysia mendapat protes keras dari pemerintah Filipina dan sebagian masyarakat di Serawak serta Borneo Utara (Sabah). Filipina memprotes karena berpandangan bahwa wilayah Sabah masih menjadi bagian dari Kesultanan Sulu, di Mindanao, Filipina.
            Sementara itu rakyat Kalimantan Utara yang menolak bergabung dengan Federasi Malaysia melancarkan serangkaian aksi demonstrasi dan pemberontakan bersenjata. Pemberontakan tersebut dimotori Partai Rakyat Brunei pimpinan Azahari yang menghendaki kemerdekaan penuh Kalimantan Utara, lepas dari koloni Inggris, dan membentuk Negara Kesatuan Kalimantan Utara (NKKU).  
Awalnya, Indonesia memandang gagasan pembentukan Federasi Malaysia sebagai persoalan internal Malaysia, Singapura dan Borneo Utara. Namun, setelah melihat peran Inggris yang demikian dominan yang disertai pengerahan kekuatan militer secara besar-besaran, Indonesia berbalik menentang pembentukan federasi. Presiden Soekarno dalam pidato 17 Agustus 1962 menyebutnya sebagai proyek neokolonialisme Inggris di Asia Tenggara. Tanggal 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri RI Soebandrio menyatakan bahwa Indonesia dalam keadaan bermusuhan dengan Malaysia.
            Guna menyelesaikan masalah sengketa wilayah, Presiden Filipina Diosdado Macapagal berinisiatif menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Manila antara tanggal 7-11 Juni 1963. KTT tersebut dihadiri Presiden Soekarno (Indonesia), PM Tenku Abdul Rahman (Malaya), dan Presiden Macapagal (Filipina). KTT Manila menghasilkan Persetujuan Manila atau Manila Accord yang ditandatangani tanggal 31 Juli 1963. Salah satu pasal dalam Manila Accord menyebutkan hak penentuan nasib sendiri atau referendum di wilayah-wilayah yang diklaim sebagai bagian dari Federasi Malaysia. Adapun pelaksanaan dan hasilnya diserahkan kepada PBB. Namun, belum lagi tim bentukan PBB bekerja, secara sepihak Malaysia dan Inggris mengumumkan deklarasi Federasi Malaysia pada tanggal 16 September 1963.
Tindakan sepihak tersebut, dipandang Indonesia sebagai pengingkaran terhadap kesepakatan damai Manila Accord. Akhirnya, terjadilah pergeseran pasukan secara masif di perbatasan Indonesia-Malaysia, baik disekitar Selat Malaka maupun Kalimantan. Sementara itu, masyarakat dari dua belah pihak pun turut “memanaskan” suhu konfrontasi. Demonstrasi kerap terjadi di sekitar kedutaan besar masing-masing.  Puncaknya, tanggal 21 September 1963 Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.
Penyerangan dan penghinaan terhadap lambang negara RI (Garuda Pancasila) di Kedubes RI di Kuala Lumpur membangkitkan kemarahan Presiden Soekarno. Melihat kian meredupnya peluang penyelesaian secara diplomatik, akhirnya tanggal 3 Mei 1964 Presiden Soekarno dalam rapat raksasa di Jakarta mengumandangkan Komando Dwikora, yang berbunyi: (1) Perhebat ketahanan revolusi Indonesiadan (2) Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak, dan Sabah untuk membubarkan Negara Boneka Malaysia.
              Komando Dwikora menjadi puncak dari konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan jargon Ganyang Malaysia. Berbagai angkatan berbenah untuk menindaklanjuti Komando Dwikora ini. Salah satunya adalah KKO-AL. Sebagai salah satu pasukan berkualifikasi khusus, KKO-AL secara simultan melaksanakan serangkaian latihan operasi yang bersifat khusus pula seperti infiltrasi, demolisi, sabotase, gerilya, dan antigerilya, serta operasi intilijen dan perang hutan. Latihan infiltrasi, gerilya, dan perang hutan menjadi fokus utama mengingat kondisi medan Kalimantan sebagian besar  berupa  bukit-bukit berlembah yang diselimuti hutan rimba lebat. Sementara untuk menghadapi medan operasi di sekitar Selat Malaka, KKO-AL menambahkan serial latihannya dengan materi renang tempur, infiltrasi, dan sabotase melalui laut.
           Guna menjaring prajurit-prajurit yang memenuhi standar tersebut, KKO-AL melaksanakan serangkaian seleksi personel. Janatin, yang pangkatnya telah dinaikkan menjadi Prajurit II KKO-AL setelah bertugas dari Irian Barat, berhasil lulus seleksi dan mengikuti latihan khusus di Cisarua, Bogor, selama satu bulan pada bulan April 1964. Adapun materi pendidikan meliputi intelijen dan kontra-intelijen, sabotase, demolisi, gerilya, dan sebagainya. Pelatihan khusus ini dikomandani Mayor KKO Budi Prayitno dan Letnan KKO Harahap sebagai wakilnya. Setelah lulus dari pendidikan khusus di Cisarua, Prako II Janatin kemudian ditempatkan di OperasiA/Koti, di Pulau Sambu.
      Untuk memperkuat Operasi A/Koti, KKO-AL mengerahkan sekitar 300 personel mulai dari pangkat perwira hingga kopral. Kesatuan-kesatuan yang tergabung dalam Ops. A selanjutnya dibagi menjadi beberapa tim dengan sandi Brahma dan berada di bawah kendali dua basis. Basis II bertugas mengkoordinasikan operasi di Semenanjung Malaya dan Basis VI bertugas di wilayah Kalimantan Utara.
Janatin bertemu dengan Tohir dan Gani bin Arup di Pulau Sambu karena berada dalam satu kesatuan, yaitu Tim Brahma I yang dipimpin Kapten KKO Paulus Subekti.  Janatin, Tohir, dan Gani mendapat tugas yang sama yakni melakukan infiltrasi sekaligus mengadakan sabotase di instalasi militer Inggris di Singapura.
    Saat memperoleh perintah untuk melaksanakan infiltrasi dan kegiatan intelijen ke wilayah Singapura, Janatin ditunjuk sebagai Komandan Tim, karena dinilai lebih senior dan memiliki pengalaman kemiliteran. Namun kelemahannya, Janatin “buta” dengan situasi Singapura. Tohir, justru sebaliknya, sangat paham dengan situasi Singapura, bahkan hafal gang-gang kecilnya. Oleh sebab itu, Janatin banyak memperoleh informasi mengenai Singapura dari Tohir.
Guna mengelabui agen-agen rahasia atau informan Inggris dan Malaysia, Janatin mengganti namanya menjadi Usman bin Haji Muhammad Ali dan Tohir menjadi Harun bin Said. Bersama dengan Gani bin Arup, Usman dan Harun menyamar sebagai pedagang yang kerap hilir mudik dengan menggunakan perahu kecil. Dengan berkedok pedagang keliling, ketiganya banyak mendapatkan keterangan serta leluasa melakukan pengintaian di beberapa objek vital. Ketiganya berhasil masuk ke Singapura dan kembali ke basis dengan selamat sebanyak dua kali. Di basis Sambu inilah, didiskusikan beberapa titik sasaran beserta kemungkinan dampaknya.
Pada tanggal 9 Maret 1965, ketiga prajurit komando ALRI tersebut berhasil masuk ke tengah kota Singapura. Dengan pertimbangan yang matang, ketiganya lalu sepakat bahwa sasaran utama mereka adalah gedung megah yang terletak di Orchard Road dan tidak jauh dari Istana Kepresidenan Singapura, yaitu MacDonald House. Disinlah bom meledak pada tanggal 10 Maret 1965. Ledakan tersebut merusak beberapa bangunan dan menewaskan 6 orang meninggal dunia dan puluhan luka-luka.
Mereka lalu berencana kembali ke pangkalan. Meskipun berhasil menyamar dengan menaiki Kapal Begama yang hendak menuju Bangkok, namun mereka ketahuan oleh pemilik kapal dan disuruh untuk meninggalkan kapal esok harinya. Saat diturunkan, mereka mendapati sebuah sebuah motor boat yang dikemudikan seorang Tionghoa. Keduanya lalu nekad merampas morot boat tersebut dan membawanya berlayar menuju Pulau Sambu. Malang di tengah perjalanan mesin kapal tiba-tiba macet sehingga terombang-ambing di laut. Akhirnya pukul 09.00 pagi tanggal 13 Maret 1965 keduanya ditangkap patroli polisi perairan Singapura.
Setelah melalui proses identifikasi dan diketahui sebagai anggota KKO-AL, Usman dan Harun kemudian diajukan ke pengadilan tanggal 4 Oktober 1965. Hakim J. Chua menolak mengategorikan mereka sebagai tawanan perang, dengan alasan tidak mengenakan seragam militer. Pada tanggal 20 Oktober 1966, pengadilan berdasarkan Pasal 302 Penal Code 119 menjatuhkan hukuman gantung sampai mati. Upaya banding dari dua prajurit KKO-AL menemui jalan buntu, bahkan ketika diajukan Privy Council di London tidak membuahkan hasil. Pada tanggal 12 Mei 1968, Privy Council  secara resmi menolak banding, tanpa proses persidangan sama sekali.
      Sementara itu, situasi politik Indonesia menjelang akhir tahun 1965 juga terjadi perubahan yang signifikan. Era kepemimpinan Soekarno beralih ke Soeharto sejak tahun 1967. Dengan demikian upaya pembebasan Usman dan Harun kini beralih Presiden Soeharto. Peralihan kekuasaan itu membuka babakan baru dalam hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Singapura dan Malaysia. Di bawah kepemimpinan Soeharto dengan rezim Orde Barunya, dilakukan normalisasi hubungan dengan Malaysia dan Singapura. Republik Singapura sendiri resmi memperoleh kemerdekaan dari Imggris tanggal 9 Agustus 1965.
    Pada tanggal 15 Oktober 1968, Presiden Soeharto mengirim utusan pribadinya Brigjen TNI Cokropranolo ke Singapura untuk menemui Presiden Singapura Yusof bin Ishak dan Perdana Menteri Lee Kwee Yew. Namun, pemerintah Singapura tetap menolak permintaan pembebasan atau keringanan hukuman Usman dan Harun. Pada hari Rabu tanggal 16 Oktober 1968 pukul 18.00 pemerintah Singapura mengumumkan pelaksanaan hukuman mati tetap dilaksanakan esoknya, tanggal 17 Oktober 1968.
     Saat itulah, para pejabat negara Indonesia tersebut terkagum-kagum melihat ketabahan dan keteguhan dari dua prajurit KKO-AL itu. Tidak terlihat perasaan takut atau putus asa sedikitpun walau hukuman gantung telah menanti mereka. Usman dan Harun tetap dieksekusi gantung pada tanggal 17 Oktober 1968 pukul 06.00 di penjara Changi, Singapura.
Setelah pelaksanaan eksekusi, utusan pemerintah Indonesia Dr. Ghafur dibantu empat pegawai KBRI mengurus jenazah keduanya. Meskipun dipersulit akhirnya, jenazah baru dapat diterbangkan ke Indonesia pada pukul 14.00 dengan menggunakan pesawat dari TNI AU. Pemakaman Usman dan Harun dilakukan dalam sebuah upacara militer pada tanggal 18 Oktober 1968 pukul 13.00 di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan Inspektur Upacara Letnan Jenderal TNI Sarbini. Keduanya dimakamkan berdampingan sesuai keinginan mereka sebelum meninggal.
         Berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 050/TK/Tahun 1968 tanggal 17 Oktober 1968, Usman dan Harun dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan tanda kehormatan Bintang Sakti. Kemudian, sebagai penghargaan atas jasa dan pengorbanan mereka, pangkat Janatin alias Usman bin Haji Muhammad Ali dinaikkan menjadi Sersan Satu (Anm) KKO-AL dan pangkat Tohir alias Harun bin Said dinaikkan menjadi Kopral (Anm) KKO-AL.
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia secara resmi dibuka kembali pada tanggal 31 Agustus 1967 tepat hari ulang tahun kemerdekaan Malaysia yang ke sepuluh. Dibukannya kembali hubungan diplomatic ini menunjukkan berakhirnya konfrontasi yang telah dilakukan selama ini. Ketegangan dengan Singapura mereda praktis setelah kunjungan PM Lee Kuan Yew ke Indonesia. Ketika akan berkunjung ke Indonesia pada tahun 1973, Presiden Soeharto mempersilahkan kunjungan PM Lee Kuan Yew, tetapi dengan satu syarat, yaitu ia harus melakukan ziarah ke makam pusara kedua Pahlawan Nasional tersebut di TMP Nasional Kalibata. Entah apa yang dipikirkan PM Singapura itu, dengan tangannya sendiri ia mau meletakkan karangan bunga di atas makam kedua pahlawan itu. Sejak kunjuangan PM Lee Kuan Yew ke makam Sertu KKO-AL (Anm) Usman Janatin dan Kopral KKO-AL (Anm) Harun tersebut, praktis hubungan kedua negara kembali menjalani babak baru.[]
Untuk Memesan BUKU USMAN JANATIN, Silahkan hubungi DISINI.

Saturday, June 29, 2019

Pengantar Penulis Buku Menebar Serpih Asa

Buku Menebar Serpih Asa
Puji syukur selalu senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat serta hidayahnya sehingga dapat menyelesaikan penyusunan buku ini. Tujuan penulisan buku ini sederhana, yaitu mengabadikan kisah. Dalam buku ini berisi segala lika-liku seorang guru ladang sawit. Ditengah perjuangan dan pengabdian di Sabah, Malaysia, selalu terbesit ingin mengabadikan da menuliskannya.
Solawat serta salam tidak lupa selalu dihaturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang telah menyelamatkan kita dari jaman Jahiliyyah, sehingga kita dapat memiliki kemampuan untuk menangkap ilmu pengetahuan secara maksimal.
Penyusunan buku ini penuh dengan perjuangan, penuh dengan lika-liku, dan penuh dengan tawa-haru. Pada dasarnya penyusunan buku ini sebagai wacana bagi saya untuk selalu mengingatkan dari diri sendiri dan terutama anak. Buku ini akan menjadi pengingat bagi saya dan keluarga tentang kehidupan saya di negeri rantau.
Saya mempunyai keinginan untuk menuliskan beberapa kisah dalam kehidupan pribadi, keluarga ataupun dalam bermasyarakat yang telah saya jalani ini, dengan maksud agar dikemudian hari saya bisa berkaca pada perjalanan hidup saya yang pernah saya lalui, agar dikemudian hari saya dapat berbuat lebih baik lagi. Manusia itu tempatnya salah dan lupa, itulah salah satu bijak yang memotivasi saya untuk menuliskan kisah tentang kehidupan saya. Selain untuk bahan refereansi namun juga dapat digunaka untuk introspeksi diri agar kita dapat selalu bersyukur dengan apa yang telah kita dapatkan selama ini.
Penyelesaian buku ini tentu dengan bantuan banyak orang. Tidak lupa saya ucakan terima kasih kepada semua pihak, karena tanpa bantuan dari berbagai pihak mungkin penulis tak akan bisa menyelesaikan buku ini. Terimakasih pada kawan-kawan guru di Sabah, terutama Bu Aji yang sudah memberikan warna. Anak-anak di CLC Terusan 2 yang selalu memberikan semangat. Tidak lupa kedua orang tua dan istri tercinta, Yuli Windarti dan puteri kecil kami, Naira Ayudiasiya yang selalu memberikan motivsi dan doanya.
Buku “Menebar Serpih Asa” ini merupakan jilid II dari sekian jilid yang direncananakan, tergantung masa tugas di Malaysia. Jilid I sudah berhasil diterbitkan dengan judul, “Menggali Sebutir Makna”.
Buku ini hanya catatan pribadi, yang tentunya masih jauh dari kesempurnaan dan pastinya memuat berbagai macam kesalahan, untuk itu segalan macam kesalahan dalam buku ini kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Tidak ada gading yang tak retak, kami menerima segala macam masukan dan kritik. Segala kesalaah kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga saran dan kritik yang membangun akan menjadikan lebih baik dalam mengeluarkan edisi buku jilid berikutnya.

Sabah-Malaysia, 22 Februari 2019
Penulis



Wednesday, May 29, 2019

Mengawal Suara di Ladang Sabah, Catatan Pemilu Ketua KSK 04


Para Pekerja Migran Indonesia menyalurkan suaranya di Ladang Andamy, Sandakan, Sabah, Malaysia (9/4/2019)
Tanggal 21 Mei 2019 dini hari menjadi babak baru kehidupan berdemokrasi kita, tidak lain karena Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan pemenang Pemilihan Umum 2019. Hasilnya, Ir. H. Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin dinyatakan sebagai pemenang dari kompetitornya, H. Prabowo Subianto dan H. Salahudin Sandiaga Uno.
Prosentase kemenangan 55,50 % berbanding dengan 45,50 %. Hasil inilah cerminan dari proses panjang perjalanan pesta demokrasi kita. Segala upaya, biaya, daya, bahkan nyawa telah di berikan untuk mensukseskan pesta 5 tahunan ini.
Tercatat di data Kemenkes per 17 Mei 2019, bahwa 527 petugas KPPS meninggal dan 11.239 orang sakit. Tidak hanya didalam negeri pengorbanan itu diberikan, untuk menjaga setiap hak suara orang Indonesia, KPU membentuk Panitia Pemunguan Suara Luar Negeri (PPSLN) diberbagai penjuru dunia. Tidak mudah. Karena harus menembus berbagai birokrasi diberagai negara.
Salah satu PPSLN yang dibentuk di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang telah ditetapkan sebanyak 140.878 orang. Untuk TPS yang tercatat sebanyak 26 dan Kotak Suara Keliling (KSK) sebanyak 433 pada tujuh distrik, yaitu Sandakan-Kinabatangan, Kudat, Keningau, Labuan, Beafourt-Sipitang, Bandar Kota Kinabalu 1 dan 2.
Segala tantangan dan hambatan menjadi kendala tersendiri ketika melaksanakan pemilu di luar negeri. Tidak seperti di Indonesia, orang-orang Indonesia yang berada di Sabah telah bercampur dengan penduduk lokal maupun orang Filiphina yang terkadang kita sukar membedakaanya. Dan masih banyak tantangan lainnya.

Tantangan di Ladang
Hari Minggu, 7 April 2019 berkumpul para petugas KSK diseluruh Distrik Sandakan-Kinabatangan di Hotel Livingston, Sandakan. Tujuannya tidak lain mengambil logistik dan kotak suara untuk melakukan pemungutan suara esok harinya.
Pengambilan berjalan lancar, namun ada beberapa kendala. Salah satunya adalah terbakarnya mobil pengangkut KSK yang baru diambil di Sandakan. Peristiwa ini juga saya lihat sendiri, betapa api begitu ganas melumat segala isi, termasuk  mobilnya. Untung saja kawa saya selamat. Kejadian ini terjadi di jalan Jalan Sapi Nangoh-Paitan yang tujuannya akan dibawa ke wilayah kerja Perusahaan Sawit IJM dan Meridian.
Jarak tempuh yang jauh dan human eror menjadi penyebab utamanya. Perjalanan dari pedalaman sawit ke Bandar Sanadakan membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 12 jam perjalanan. Sungguh melelahkan. Sayangnya, di Indonesia sendiri peristiwa ini sudah dijadikan lahan penyebaran hoax.
Berbagai berita negatif dan berbau fitnah tersebar karena berita ini. Padahal peristiwa ini murni karena human eror. Dan sudah ditindak lanjuti oleh KPU RI untuk mengganti segala logistik yang terbakar.
Itu hanya salah satu contoh nyata, betapa pemilihan umum diluar negeri tidaklah mudah. Kerja yang berat ditambah isu yang terus menyerang menjadi ujian tersendiri. Seperti kisah saya sendiri, yang harus menempuh jalanan jauh dan berbatu untuk melayani hak suara mereka.
KSK yang saya pimpin adalah KSK 04 yang terletak di Perusahaan sawit Terusan 2 Estate dibawah naungan Wilmar Plantition. Selain itu, saya harus membantu kawan lainnya di ladang-ladang kecil. Seperti ladang Andamy, Kamansi Dua, dan Hiew Syn Kiong. Dan pemungutan suara itu tidak bisa dilakuakan dalam 1 hari.
Kami diberikan kesempata selama 3 hari untuk keliling ke ladang-ladang sawit itu. Udara panas, dan jarak yang jauh menjadi suguhan wajib. Terlebih lagi ladang kecil, yang terkadang hanya berpenghuni 20-40 orang Indonesia. Namun, mereka punya hak yang sama, selama dia bisa menujukan identitas sebagai Orang Indonesia, maka mereka berhak menentukan pilihannya.
Mereka punya hak untuk mengikuti pesta demokrasi 5 tahunan ini. Disini, mereka hanya mencolos 2 surat suara, yaitu suara pemilihan Presiden-Wakil Presiden dan DPR-RI. Banyak dari mereka yang tak paham, siapa orang yang didalam surat suara itu. Namun, dengan sosialisasi kecil-kecilan, semua berjalan lancar.
Tugas kami selesai ketika penyerahan kembali kotak suara ke Sandakan untuk kemudian dihitung di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu, Sabah. Tepat tanggal 17 April 2019 penghitungan suara dilakukan. Jarak dari Sandakan ke Kota Kinabalu sekitar 300 km, dan membutuhkan waktu 5-6 jam perjalanan. Di sana, semua petugas TPS dan KSK berkumpul menjadi satu untuk tujuan yang sama, yaitu rekapitulasi hasil dari pemungutan suara di ladang-ladang.
Terhitung 3 hari kami semua melakukan kegiatan itu, saya sendiri memulai jam 17.00 sore hingga selesai jam 01.00 dini hari. Waktu 7 jam itu hanya 2 surat suara, bisa dibayangkan betapa lelahnya kawan-kawan petugas yang ada di Indonesia karena menghitung 5 surat suara.
Selama proses 3 hari penghitunga suara, dihasilkan 87.227 orang Indonesia menggunakan hak pilihnya dari DPT 140,878. Suara untuk pasangan calon 01 sebanyak 71.109 orang dan pasangan calon 02 sebanyak 15.555 orang, sedangkan sisanya suara tidak sah. Artinya partisiasi orang Indonesia di Kota Kinabalu sebanyak 61,9 %. Prestasi dari partisipasi ini menjadi tanda selesainya tugas kami.

Kembali ke Indonesia Raya
Setelah semua pesta demokrasi ini selesai, bangsa Indonesia harus kembali berdaulat. Jhon Locke pernah mengatakan bahwa, kedaulatan rakyat pada hakikatnya sejalan dengan arti dan makna demokrasi, yaitu sebagai upaya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Kedaulatan rakyat inilah yang menjadi kekuasaan tertinggi di negara demokrasi.
Ini menjadi penting, karena kewajiban kita untuk selalu merawat kedaulata rakyat yang hampir lelah diserang bertubi-tubi akibat diserang isu-isu hoax yang berpotensi memecah belah bangsa. Pasca pemilu 2019 ini, semua pihak harus kembali pada persatuan, membangun Indonesia secara bersama-sama, dalam bingkai Indonesia Raya.[]