Thursday, May 7, 2020

Sumber Dari Daya Tahan Tubuh dan Regenerasi Sel, Catatan karya Hiromi Shinya

Buku The Miracle of Enzyme

IDENTITAS BUKU

Judul : The Miracle of Enzyme, Self Healing Program: Meningkatkan Daya Tahan Tubuh - Memicu Regenerasi Sel
Pengarang : Hiromi Shinya, MD
Penerbit : Penerbit Qanita
Tahun Terbit : Cet 1, Maret 2012
Tebal Halaman : 312 Halaman

ISI BUKU:
The Miracle of Enzme ini merupakan karya Hiromi Shinya, seorang ahli Kolonoskop yang terkenal di dunia. Beliau selama lebih dari 40 tahun telah memeriksa lebih dari 300.000 pasien. Melalui pengalaman yang luas ini, beliau menemukan suatu pengetahuan baru yang anti meinstrem. Saat ini, menjabat sebagai Profesor klinis pembedahan di Albert Einsten College of Medicane, New York City dan Kepala Unit Endoskopi Bedah di Beth Israel Medical Centre (Note: tahun 2012).

Dalam bukunya, sumber dari rahasia kehidupan adalah "ENZIM". Enzim ini ternyata ada didalam tubuh setiap makhluk hidup dan akan terawat atau habis, sesuai dengan pola hidup kita. kekuaan inilah, yang membuat tubuh kita bisa menyembuhkan dan melindungi diri dari berbagai cikal bakal penyakit dalam tubuh. Teori nya yang paling utama dalam buku ini adalah, bagaimana cara menjalani hidup yang panjang dan sehat, berdasarkan data yang telah beliau kumpulkan selama berpuluh-puluh tahun.

Enzim merupakan istilah untuk kaalis protein, yang dibentuk didalam sel tubuh makhluk hidup, Setiap makhluk hidup mempunyai Enzim, karena enzim ikut ambil bagian dalam seluruh aktivitas yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan. Makhluk hidup tidak akan dapat mempertahakan kehidupan tanpa adanya Enzim. Jadi, menurutnya, Kesehatan setiap manusia bergantun pada sebaik apa kita menghemat dan bukan menguras Enzim Pangkal dalam tubuh. Istilah "Pangkal/Ajaib" dalam hal ini karena menyebut katalis-katalis ini karena merupakan enzim tak terspesialisasi yang mengemban berbagai aktivitas dalam tubuh manusia.

Baginya, tubuh manusia merupakan sebuah unit kesatuan yang saling berhubungan. Ini berkaitan dengan pola hidup modern yang menawarkan makanan-makanan instan yang banyak mengandung pengaruh negatif bagi tubuh. Agar hidup panjang dan bahagia, makan dan minum dengan bijaksana menjadi cara untuk menghemat enzim. Banyak fakta-fakta umum yang dianggap "benar" karena gencarnya iklan dan pola hidup yang sebenarnya salah.

Misalnya minum susu. Sebagian orang menganggap minuman itu baik, karena kaya akan banyak manfaat. Namun, menurutnya, itu merupakan bentuk melawan alam. Tidak ada makhluk hidup yang memakan susu makhluk hidup lainnya. Sapi, hanya akan meminum susu induknya, Kambing pun sama. Hanya manusia yang mau meminnum susu Sapi. Padahal susu terbaik bagi manusia adalah susu ibunya sendiri. Diluar itu, berbahaya. 

Alasannya, karena susu merupakan benda cair sehingga ketika masuk kedalam kerongkongan tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang dikeluarkan oleh mulut. Akibatnya, tugas usus semakin berat. Begiut sampai diusus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh akan mengeluarkan dengan terpaksa cadangan enzim induk yang seharusnya dihemat. Ezim induk ini semestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Karena terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.

Kesimpulan didapat karena dia sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 orang. Banyak diantara pasiennya mengalami bentuk usus yang berantakan: benjol-benjol, luka-luka bisul-bisul, berak-bercak hitam. dan menyemit sana-sini seperti diikat dengan kerat gelang. Tentu saja kesimpulan penyebab dari masalah ini dipengaruhi dengan kebiasaan makan dan minum. Karena usus bertugas menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dilakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus.

Yang paling terpenting dari terorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah memiliki "modal" oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan dalam lumbung enzim induk. Enzim induk ini setiap harinya dikeluarkan dari "lumbung" untuk diubah kedalam berbagai macam enzim untuk keperluan sehari-hari. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk keperut, semakin boros menguras lumbung enzim induk. 

Maka, untuk bisa berumur panjang dan sehat haruslah menghemat enzim induk ini. Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Diperbolehkan makan daging tapi maksimal hanya 15 % dari makanan kita, selebihnya makanan segar tadi. Selain makanan, air minum juga sangat penting. Semakin banyak minum air (yang berkualitas) semakin baik untuk tubuh.

Selain mengatur pola makan dan minum yang baik, Prof Hiromi juga menyarankan untuk selalu berhati yang senang dan gembira, karena dengan perasaan bahagia inilah, terjadi mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim-enzim bertambah. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca bukunya. Akan banyak paradigma baru tentang kesehatan tubuh kita.[]


Thursday, December 19, 2019

Merayakan HUT “Kolonialisme” di Purbalingga



Tanggal 18 Desember, setiap tahunnya Kabupaten Purbalingga merayakan hari lahir. Sejak Peraturan Daerah (Perda) No. 15 Tahun 1996, secara sah konstitusional tanggal itu legal di rayakan warganya. Bagi masyarakat Purbalingga, umumnya mereka menyambut baik, tentu saja, karena banyak event yang diadakan oleh Pemkab Purbalingga untuk menyambutnya. Dari pesta rakyat, nikah massal, Purbalingga Fair, dan masih banyak acara lainnya.
Jelas masyarakat bergembira. Namun, kegembiraan itu nampaknya berbanding terbalik dengan fakta sejarah yang sudah usang dan tidak sesuai lagi dengan jiwa zaman (zeigest) bangsa Indonesia saat ini. Itulah yang saat ini dikampanyekan di sudut-sudut wilayah Republik Indonesia, yaitu membangkitkan spirit nasionalisme dan patriotisme warga negaranya.
Mungkin, spirit inilah yang sudah dilakukan oleh kabupaten-kabupaten disekitar Purbalingga sebelumnya, seperti Kabupaten Banyumas yang pada tahun 2016 sudah merubah hari jadinya dari 6 April menjadi 22 Februari. Begitupun Kabupaten Banjarnegara, yang tahun 2019 ini sudah sepakat mengganti hari lahir dari 22 Agustus menjadi 26 Februari. Ada Prof. Dr. Sugeng Priyadi sebagai aktor utama pergantian itu.
Bagaimana dengan Kabupaten Purbalingga? Nampaknya masih terlalu “nyaman” dengan tanggal 18 Desember. Lalu bagaimana latarbelakang pemilihan tanggal 18 Desember sebagai hari jadinya? Pemilihan tanggal itu berkaitan dengan peristiwa Perang Jawa atau Java Oorlog (1825-1830) pimpinan Pangeran Diponegoro. Dialah seorang Pahlawan Nasional yang ditetapkan pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppres No. 87/TK/1973. Perang ini dianggap oleh Belanda sebagai peperangan paling menguras tanaga dan “kantong” mereka.
Di Purbalingga sendiri, perang ini dinamakan “Perang Biting”, berasal dari kata beteng atau banteng yaitu pertahanan dalam perang. Dalam puncak perang di Purbalingga itu, Pasukan Diponegoro melawan pasukan Belanda yang dibantu oleh penguasa lokal berhadapan di wilayah Kaligondang, Selakambang, Selanegara dan Cilapar. Perang Biting ini baru berakhir setelah tertangkapnya Pangeran Diponegoro pada tahun 1830.
Setelah Perang Jawa berakhir inilah, baru aneksasi berlangsung dari wilayah mancanegara Kasunanan Surakarta kepada pemerintah Kolonial Belanda. Era inilah yang boleh dikatakan sebagai, “penjajahan yang sebenarnya”. Karena sebelum itu, praktis pengaruh Belanda hanya pada suksesi kepemimpinan raja-raja Jawa.
Pengaturan administrasi wilayah oleh Belanda di tetapkan dengan Besluit Gouverneur General tanggal 18 Desember 1830 No 1, tentang pengambil alihan kekuasaan atas wilayah-wilayah Vorstenlanden / bekas wilayah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Salah satu wilayah yang terkena aturan itu adalah Kabupaten Purbalingga.
Mengacu pada tanggal 18 Desember 1830 itulah, secara adminstratif kekuasaan Kolonial Belanda di Purbalingga dan sekitarnya resmi ditancapkan. Jadi dengan kata lain, penetapan hari jadi Purbalingga ini mengacu pada pengambil alihan wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta oleh pemerintah Kolonial Belanda. Artinya, tanpa sadar, setiap tanggal 18 Desember, warga Purbalingga merayakan kekalahan Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro, yang notabene adalah pahlawan nasional dan sekaligus berpesta atas dikuasainya wilayah Purbalingga oleh Kolonial Belanda. Ironis.

Mari Berbenah
Penetapan hari jadi ini nampaknya didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh pemda Purbalingga yang bekerjasama dengan LPM UGM. Penelitian itu terbit pada tahun 1997, tepat satu tahun setelah Perda No. 15 Tahun 1996 tentang penetapan hari jadi. Dalam bukunya, Sejarah Lahirnya Kabupaten Purbalingga, nampaknya para peneliti tidak mau mengambil sumber-sumber lokal dalam kesimpulan penelitiannya. Dalam penelitian itu, menyebut bahwa, cikal-bakal Kabupaten Purbalingga sebelum ada penetapan definitif sebagai kabupaten, yaitu setelah Perang Diponegoro sulit ditemukan arsip atau dokumen sejarahnya (Hlm. 50).
Para peneliti hanya memaparkan sekilas tentang isi babad, tanpa mengambil sisi manfaatnya. Sebuah babad, meskipun banyak terkandung cerita dongeng atau fiksi, namun disatu sisi banyak “fakta” tersembunyi yang terus lestari turun-temurun. Karena menurut Prof. Taufik Abdullah, ketika sejarah kritis ingin ditulis, maka hal pertama yang harus dihadapi adalah mencari “fakta” dibelakang historiografi tradisional yang menentukan hayat “kewajaran sejarah”, dan tradisi lisan yang merupakan mirage of reality.
Pada intinya, jangan sampai kita merayakan sebuah hari jadi yang merupakan moment untuk menyalurkan pesta tahunan dan sebagai simbolisasi bahwa sebuah kabupaten telah berdiri namun ternyata hanya “pepesan kosong” belaka. Dalam memilih hari jadi, seharusnya berdasarkan data sekaligus kecocokan jiwa lokalitas masyarakatnya dan jiwa zaman yang menjunjung spirit nasionalisme dan patriotisme. Salah satu caranya dengan menggali fakta dibalik babad-babad yang mencerminkan jiwa kearifan lokal setempat.
Babad yang dimaksud adalah Babad Purbalingga, Babad Onje, Babad Jambukarang, dan Babad Banyumas. Hal inilah yang juga dilakukan oleh Kabupaten Banjarnegara yang  merujuk pada Babad Kalibening sebagai salah satu sumber untuk merubah hari jadinya, dari 22 Agustus menjadi 26 Februari. Mengacu pada tanggal 26 Februari 1571, yaitu saat Jaka Kaiman menyampaikan gagasan untuk membagi kekuasaan menjadi 4 kadipaten, salah satunya adalah Banjar Patembakan (Banjarnegara).
Pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan Purbalingga? mau sampai kapan Kabupaten Purbalingga merayakan hari “kolonialisme” Belanda ini? atau masih ingin melanjutkan tradisi merayakan kekalahan perjuangan pahlawan nasional Pangeran Diponegoro di Purbalingga? Seharusnya tidak. Mari berbenah bersama-sama, menggali akar sejarah lokalitas Purbalingga. Namun, kalau tetap berpesta dengan tanggal itu, maaf, saya sebagai putera asli Purbalingga, lebih baik menonton sambil ngopi saja!

Wednesday, October 30, 2019

Mendapatkan Rekor MURI, Guru SILN Dinobatkan sebagai Penulis Catatan Harian Terlama

Piagam MURI Guru SILN

Sambutan Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) dalam Buku Terusan-Terus 2

Cover Buku

Assalamualaikum wr.wb.

Pendidikan adalah kunci utama dalam pembentukan karakter yang paling utama, sehingga mereka mampu menyiapkan berbagai tantangan perubahan dunia yang begitu cepat. Oleh karena itu, semua warga negera Indonesia harus mendapatkan hak yang sama untuk mengenyam pendidikan.

Begitu juga anak-anak Indonesia di luar negeri. Salah satu upaya pemerintah dalam memberikan akses pendidikan itu adalah dengan mendirikan Community Learning Centre (CLC) di Sabah dan Sarawak, Malaysia. Melalui upaya tersebut, diharapkan dapat membawa dampak yang positif dalam menyiapkan generasi emas Indonesia. Upaya itu ditambah dengan penanaman nilai-nilai nasionalisme bagi anak-anak Indonesia yang berada di Malaysia.

Kita bisa melihat usaha itu melalui buku kumpulan antologi berjudul, Terusan-Terus ini. Setiap kata dalam puisi ini murni dari imajinasi mereka. Apalagi dunia sastra begitu asing bagi generasi muda saat ini, dengan semangat inilah imajinasi dan kreasi mereka tersalurkan. Karena mereka sedang menumbuhkan apa yang terpendam dalam diri mereka, entah itu tentang sekolah, keluarga, kehidupan hingga pertemanan. Biasanya tema-tema seperti itu yang terlintas dibenak para anak muda.

Albert Einstein pernah mengatakan bahwa, “Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan.” Alasannya, ilmu pengetahuan bersifat terbatas sedangkan imajinasi tidak terbatas. Kemampuan berimajinasi anak melalui puisi adalah refleksi mereka terhadap alam sekitar dan lingkungan mereka, inilah yang harus diasah melalui dorongan untuk terus menerus menuliskan pemikiran mereka melalui puisi. Hal ini bisa berdampak positif, karena secara tidak langsung mereka menumbuhkan budaya menulis bagi sekitarnya.

Saya ingin mengucapkan selamat kepada guru-guru hebat yang dengan sabar dan tekun membantu anak-anaknya menyusun buku ini. Saya yakin buku ini akan membawa rasa haru sekaligus bangga atas semangat belajar anak-anak Indonesia yang tersebar di seluruh CLC se-Sabah.

Lahirnya antologi puisi guru dan anak-anak CLC Terusan 2 ini sangat perlu diapresiasi sebagai sebuah karya orisinil mereka yang berada di negeri perantauan. Saya selaku Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu mengucapkan selamat pada guru dan anak-anak CLC Terusan 2 yang tesebar di 3 TKB, yaitu Andamy, Terusan 1 dan Terusan 2 sendiri. Saya yakin, buku ini dapat menjadi penyemangat anak-anak BMI lainnya untuk terus belajar berkarya.

Selamat Membaca!
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Kota Kinabalu, 24 Juli 2019

H. Istiqlal, S.Pd., MM.

Sambutan Pensosbud KJRI KK dalam Antologi Puisi Terus-Terusan 1

Cover Buku
Assalamualaikum Wr.Wb.

Sebuah bangsa akan maju seiring dengan majunya pendidikan. Untuk itulah, menjadi sebuah keniscayaan bahwa pendidikan adalah kunci utama dalam membentuk karakter yang unggul, sehingga mereka mampu menyiapkan berbagai tantangan perubahan dunia yang begitu cepat. Dengan itulah, semua warga negera Indonesia harus mendapatkan hak yang sama untuk mengenyam pendidikan.

Begitu juga dengan anak-anak Indonesia yang terlahir di luar negeri, salah satunya adalah anak-anak Buruh Migran Indonesia (BMI) di Malaysia. Mereka tetap mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah Indonesia, sehinga kedepannya tetap memberikan peluang masa depan yang lebih baik lagi. Harapannya mereka akan pulang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan memberikan kontribusinya untuk Indonesia tercinta.

Salah satu upaya pemerintah dalam memberikan akses pendidikan itu adalah dengan mendirikan Community Learning Centre (CLC) di Sabah dan Sarawak, Malaysia. Melalui upaya tersebut, diharapkan dapat membawa dampak yang positif dalam menyiapkan generasi emas Indonesia. Upaya itu ditambah dengan penanaman nilai-nilai nasionalisme bagi anak-anak Indonesia yang berada di Malaysia.

Kehadiran CLC, bukan hanya sekedar menjadi tempat kegiatan belajar-mengajar, tetapi lebih dari itu telah menjadi pendongkrak tumbuh kembangnya kreatifitas termasuk budaya membaca dan menulis.  Dan sekali lagi, saya menyambut baik terbitnya buku kumpulan antologi berjudul, Terus-Terusan ini yang ditulis oleh para guru dan murid CLC. Melalui puisi, mereka mengekpresikan harapan, cita-cita dan mimpi serta segala persepsi mereka mengenai hidup dan kehidupan ke dalam goresan kata-kata yang indah.

Pada kesempatan yang baik ini, saya selaku Konsul Fungsi Pensosbud KJRI Kota Kinabalu sekali lagi menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para guru dan siswa-siswi CLC Terusan 2 termasuk 2 Tempat kegiatan Belajar (TKB)  yaitu CLC Andamy dan Terusan 1. Saya berharap kiranya buku ini dapat menginspirasi dan menjadi penyemangat bagi anak-anak BMI untuk terus belajar berkarya.

Selamat Membaca!

Wassalamualaikum Wr.Wb.
Kota Kinabalu, 8 Juli 2019


Cahyono Rustam

Wednesday, August 21, 2019

Patriot Bangsa dari Kota Perwira: Buku Biografi Usman Janatin

Buku Usman Janatin
Usman Janatin merupakan putera ke-8 dari sembilan bersaudara pasangan Haji Mochammad Ali dan Siti Rukijah. Ia lahir pada tanggal 18 Maret 1943 pada pukul 10.00. Janatin, begitu keluarga memanggilnya, terlahir dari keluarga petani yang religius. Di lingkungan inilah, Janatin terbentuk kepribadiaannya. Ayahnya bekerja sebagai seorang petani sekaligus sebagai kayim, yaitu seorang yang dipercayai sebagai pemuka agama desa. Maka sedikit banyak pola pendidikan yang diterima Janatin juga tidak bias dilepaskan dalam suasana yang religius. Kakak-kakaknya yang sebagian besar merupakan anggota militer menjadikan motivasi tersendiri dalam diri Janatin untuk mengikuti jejak mereka menjadi anggota militer. Terlebih lagi kejadian gugurnya Letkol Kusni, kakak sulung Janatin, yang meninggal karena berperang pada masa revolusi senjata tahun 1949.
Kehidupan semasa kecil Janatin dilalui selayaknya anak kecil seusianya. Janatin menghabiskan masa kecilnya dengan menempuh pendidikan formal dan bermain bersama teman-temannya. Pendidikan formal dimulai dari SR Jatisaba yang ditempuh dari kelas 1 sampai 3. Untuk kelas 3 sampai dengan 6, Janatin harus melanjutkan ke SR Bancar yang berjarak 3 km. Semua jenjang sekolah dasar ini ditempuh Janatin dengan berjalan kaki. Setelah selesai menyelesaikan jenjang sekolah dasarnya, Janatin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di SMP Budi Mulya, Purbalingga.  Di sini, Janatin bergaul dengan berbagai teman yang berasal dari berbagai latar belakang.
Selama bersekolah, Janatin merupakan anak yang tidak terlalu menonjol dalam bidang akademik, namun sangat menonjol ketika mengikuti pelajaran yang membutuhkan ketangkasan fisik. Selepas sekolah, ia tidak lupa menghabisakan waktu untuk bermain dengan teman-temannya, salah satu kegemarannya adalah bermain sepak bola dan bulutangkis. Ia juga tidak lupa membantu pekerjaan ayahnya, seperti mencarikan rumput untuk makanan ternak, dan sesekali membantu di sawah.
Semasa Janatin menjalani tahap akhir pendidikan di SMP Budi Mulya, ia mendengar tentang memanasnya hubungan Republik Indonesia dengan Kerajaan Belanda mengenai masa depan Irian Barat. Puncaknya pada tanggal 19 Desember 1961 Presiden RI Soekarno mengumandangkan Tri Komando Rakyat (Trikora) di alun-alun kota Yogyakarta, sebagai bentuk konfrontasi total dengan Belanda guna memperjuangkan kembalinya Irian Barat. Sejalan dengan kampanye pembebasan Irian Barat tersebut, dilakuan mobilisasi besar-besaran untuk merekrut anggota milieter dan sukarelawan. Pemuda Janatin terpanggil untuk mendaftarkan dirinya sebagai calon Tamtama KKO-AL.
Meskipun ada sedikit penolakan dari orang tuanya, Janatin yang terpanggil untuk membela harkat dan martabat bangsanya nekat mendaftarkan dirinya ke Sekolah Calon Tamtama KKO-AL (secatmoko) di Malang pada tahun 1962. Dengan tahapan seleksi ia berhasil lulus. Berbagai latihan fisik dan mental dilalui oleh Janatin, hingga dinyatakan lulus pendidikan tanggal 1 Juni 1962, Janatin mendapatkan pangkat Prajurit III KKO. Niat Janatin untuk mengusir Belanda dari Irian Barat urung terlaksana, karena tercapai kesepakatan damai antara Indonesia dengan Belanda pasca persetujuan New York tanggal 15 Agustus 1962. Persetujuan New York mengakhir perseteruan Indonesia-Belanda dan Irian Barat dinyatakan kembali ke Pangkuan NKRI melalui perantara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tugas pertama Janatin yaitu mengikuti Operasi Sadar di Irian Barat untuk memastikan penyerahan kekuasaan berjalan lancer.
Meskipun tugas di Irian Barat telah dilaksanakan Janatin dengan baik, namun tugas negara yang lain telah menanti Janatin dan prajurit-prajurit KKO-AL lainnya, yaitu Operasi Dwikora. Komando Dwikora dikumandangkan oleh Presiden Soekarno sebagai bentuk konfrontasi terhadap pembentukan Federasi Malaysia yang disebutnya bagian dari proyek neokolonialisme Inggris. Pada tanggal 31 Agustus 1957 Inggris memberikan kemerdekaan kepada Persekutuan Tanah Melayu (Malaya), sementara Singapura, Sabah, dan Serawak tetap berstatus koloni Inggris. Di sisi lain, Brunei yang masih tergantung kepada Inggris juga menjadi rencana besar membentuk Federasi Malaysia.
Pemerintah Inggris dan negara-negara Blok Barat lainnya yang merasa khawatir dengan perkembangan kekuatan komunisme di Indonesia, menyetujui gagasan tersebut yang dipandangnya sebagai strategi pembendungan pengaruh komunis. Keputusan pembentukan Federasi Malaysia mendapat protes keras dari pemerintah Filipina dan sebagian masyarakat di Serawak serta Borneo Utara (Sabah). Filipina memprotes karena berpandangan bahwa wilayah Sabah masih menjadi bagian dari Kesultanan Sulu, di Mindanao, Filipina.
            Sementara itu rakyat Kalimantan Utara yang menolak bergabung dengan Federasi Malaysia melancarkan serangkaian aksi demonstrasi dan pemberontakan bersenjata. Pemberontakan tersebut dimotori Partai Rakyat Brunei pimpinan Azahari yang menghendaki kemerdekaan penuh Kalimantan Utara, lepas dari koloni Inggris, dan membentuk Negara Kesatuan Kalimantan Utara (NKKU).  
Awalnya, Indonesia memandang gagasan pembentukan Federasi Malaysia sebagai persoalan internal Malaysia, Singapura dan Borneo Utara. Namun, setelah melihat peran Inggris yang demikian dominan yang disertai pengerahan kekuatan militer secara besar-besaran, Indonesia berbalik menentang pembentukan federasi. Presiden Soekarno dalam pidato 17 Agustus 1962 menyebutnya sebagai proyek neokolonialisme Inggris di Asia Tenggara. Tanggal 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri RI Soebandrio menyatakan bahwa Indonesia dalam keadaan bermusuhan dengan Malaysia.
            Guna menyelesaikan masalah sengketa wilayah, Presiden Filipina Diosdado Macapagal berinisiatif menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Manila antara tanggal 7-11 Juni 1963. KTT tersebut dihadiri Presiden Soekarno (Indonesia), PM Tenku Abdul Rahman (Malaya), dan Presiden Macapagal (Filipina). KTT Manila menghasilkan Persetujuan Manila atau Manila Accord yang ditandatangani tanggal 31 Juli 1963. Salah satu pasal dalam Manila Accord menyebutkan hak penentuan nasib sendiri atau referendum di wilayah-wilayah yang diklaim sebagai bagian dari Federasi Malaysia. Adapun pelaksanaan dan hasilnya diserahkan kepada PBB. Namun, belum lagi tim bentukan PBB bekerja, secara sepihak Malaysia dan Inggris mengumumkan deklarasi Federasi Malaysia pada tanggal 16 September 1963.
Tindakan sepihak tersebut, dipandang Indonesia sebagai pengingkaran terhadap kesepakatan damai Manila Accord. Akhirnya, terjadilah pergeseran pasukan secara masif di perbatasan Indonesia-Malaysia, baik disekitar Selat Malaka maupun Kalimantan. Sementara itu, masyarakat dari dua belah pihak pun turut “memanaskan” suhu konfrontasi. Demonstrasi kerap terjadi di sekitar kedutaan besar masing-masing.  Puncaknya, tanggal 21 September 1963 Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.
Penyerangan dan penghinaan terhadap lambang negara RI (Garuda Pancasila) di Kedubes RI di Kuala Lumpur membangkitkan kemarahan Presiden Soekarno. Melihat kian meredupnya peluang penyelesaian secara diplomatik, akhirnya tanggal 3 Mei 1964 Presiden Soekarno dalam rapat raksasa di Jakarta mengumandangkan Komando Dwikora, yang berbunyi: (1) Perhebat ketahanan revolusi Indonesiadan (2) Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak, dan Sabah untuk membubarkan Negara Boneka Malaysia.
              Komando Dwikora menjadi puncak dari konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan jargon Ganyang Malaysia. Berbagai angkatan berbenah untuk menindaklanjuti Komando Dwikora ini. Salah satunya adalah KKO-AL. Sebagai salah satu pasukan berkualifikasi khusus, KKO-AL secara simultan melaksanakan serangkaian latihan operasi yang bersifat khusus pula seperti infiltrasi, demolisi, sabotase, gerilya, dan antigerilya, serta operasi intilijen dan perang hutan. Latihan infiltrasi, gerilya, dan perang hutan menjadi fokus utama mengingat kondisi medan Kalimantan sebagian besar  berupa  bukit-bukit berlembah yang diselimuti hutan rimba lebat. Sementara untuk menghadapi medan operasi di sekitar Selat Malaka, KKO-AL menambahkan serial latihannya dengan materi renang tempur, infiltrasi, dan sabotase melalui laut.
           Guna menjaring prajurit-prajurit yang memenuhi standar tersebut, KKO-AL melaksanakan serangkaian seleksi personel. Janatin, yang pangkatnya telah dinaikkan menjadi Prajurit II KKO-AL setelah bertugas dari Irian Barat, berhasil lulus seleksi dan mengikuti latihan khusus di Cisarua, Bogor, selama satu bulan pada bulan April 1964. Adapun materi pendidikan meliputi intelijen dan kontra-intelijen, sabotase, demolisi, gerilya, dan sebagainya. Pelatihan khusus ini dikomandani Mayor KKO Budi Prayitno dan Letnan KKO Harahap sebagai wakilnya. Setelah lulus dari pendidikan khusus di Cisarua, Prako II Janatin kemudian ditempatkan di OperasiA/Koti, di Pulau Sambu.
      Untuk memperkuat Operasi A/Koti, KKO-AL mengerahkan sekitar 300 personel mulai dari pangkat perwira hingga kopral. Kesatuan-kesatuan yang tergabung dalam Ops. A selanjutnya dibagi menjadi beberapa tim dengan sandi Brahma dan berada di bawah kendali dua basis. Basis II bertugas mengkoordinasikan operasi di Semenanjung Malaya dan Basis VI bertugas di wilayah Kalimantan Utara.
Janatin bertemu dengan Tohir dan Gani bin Arup di Pulau Sambu karena berada dalam satu kesatuan, yaitu Tim Brahma I yang dipimpin Kapten KKO Paulus Subekti.  Janatin, Tohir, dan Gani mendapat tugas yang sama yakni melakukan infiltrasi sekaligus mengadakan sabotase di instalasi militer Inggris di Singapura.
    Saat memperoleh perintah untuk melaksanakan infiltrasi dan kegiatan intelijen ke wilayah Singapura, Janatin ditunjuk sebagai Komandan Tim, karena dinilai lebih senior dan memiliki pengalaman kemiliteran. Namun kelemahannya, Janatin “buta” dengan situasi Singapura. Tohir, justru sebaliknya, sangat paham dengan situasi Singapura, bahkan hafal gang-gang kecilnya. Oleh sebab itu, Janatin banyak memperoleh informasi mengenai Singapura dari Tohir.
Guna mengelabui agen-agen rahasia atau informan Inggris dan Malaysia, Janatin mengganti namanya menjadi Usman bin Haji Muhammad Ali dan Tohir menjadi Harun bin Said. Bersama dengan Gani bin Arup, Usman dan Harun menyamar sebagai pedagang yang kerap hilir mudik dengan menggunakan perahu kecil. Dengan berkedok pedagang keliling, ketiganya banyak mendapatkan keterangan serta leluasa melakukan pengintaian di beberapa objek vital. Ketiganya berhasil masuk ke Singapura dan kembali ke basis dengan selamat sebanyak dua kali. Di basis Sambu inilah, didiskusikan beberapa titik sasaran beserta kemungkinan dampaknya.
Pada tanggal 9 Maret 1965, ketiga prajurit komando ALRI tersebut berhasil masuk ke tengah kota Singapura. Dengan pertimbangan yang matang, ketiganya lalu sepakat bahwa sasaran utama mereka adalah gedung megah yang terletak di Orchard Road dan tidak jauh dari Istana Kepresidenan Singapura, yaitu MacDonald House. Disinlah bom meledak pada tanggal 10 Maret 1965. Ledakan tersebut merusak beberapa bangunan dan menewaskan 6 orang meninggal dunia dan puluhan luka-luka.
Mereka lalu berencana kembali ke pangkalan. Meskipun berhasil menyamar dengan menaiki Kapal Begama yang hendak menuju Bangkok, namun mereka ketahuan oleh pemilik kapal dan disuruh untuk meninggalkan kapal esok harinya. Saat diturunkan, mereka mendapati sebuah sebuah motor boat yang dikemudikan seorang Tionghoa. Keduanya lalu nekad merampas morot boat tersebut dan membawanya berlayar menuju Pulau Sambu. Malang di tengah perjalanan mesin kapal tiba-tiba macet sehingga terombang-ambing di laut. Akhirnya pukul 09.00 pagi tanggal 13 Maret 1965 keduanya ditangkap patroli polisi perairan Singapura.
Setelah melalui proses identifikasi dan diketahui sebagai anggota KKO-AL, Usman dan Harun kemudian diajukan ke pengadilan tanggal 4 Oktober 1965. Hakim J. Chua menolak mengategorikan mereka sebagai tawanan perang, dengan alasan tidak mengenakan seragam militer. Pada tanggal 20 Oktober 1966, pengadilan berdasarkan Pasal 302 Penal Code 119 menjatuhkan hukuman gantung sampai mati. Upaya banding dari dua prajurit KKO-AL menemui jalan buntu, bahkan ketika diajukan Privy Council di London tidak membuahkan hasil. Pada tanggal 12 Mei 1968, Privy Council  secara resmi menolak banding, tanpa proses persidangan sama sekali.
      Sementara itu, situasi politik Indonesia menjelang akhir tahun 1965 juga terjadi perubahan yang signifikan. Era kepemimpinan Soekarno beralih ke Soeharto sejak tahun 1967. Dengan demikian upaya pembebasan Usman dan Harun kini beralih Presiden Soeharto. Peralihan kekuasaan itu membuka babakan baru dalam hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Singapura dan Malaysia. Di bawah kepemimpinan Soeharto dengan rezim Orde Barunya, dilakukan normalisasi hubungan dengan Malaysia dan Singapura. Republik Singapura sendiri resmi memperoleh kemerdekaan dari Imggris tanggal 9 Agustus 1965.
    Pada tanggal 15 Oktober 1968, Presiden Soeharto mengirim utusan pribadinya Brigjen TNI Cokropranolo ke Singapura untuk menemui Presiden Singapura Yusof bin Ishak dan Perdana Menteri Lee Kwee Yew. Namun, pemerintah Singapura tetap menolak permintaan pembebasan atau keringanan hukuman Usman dan Harun. Pada hari Rabu tanggal 16 Oktober 1968 pukul 18.00 pemerintah Singapura mengumumkan pelaksanaan hukuman mati tetap dilaksanakan esoknya, tanggal 17 Oktober 1968.
     Saat itulah, para pejabat negara Indonesia tersebut terkagum-kagum melihat ketabahan dan keteguhan dari dua prajurit KKO-AL itu. Tidak terlihat perasaan takut atau putus asa sedikitpun walau hukuman gantung telah menanti mereka. Usman dan Harun tetap dieksekusi gantung pada tanggal 17 Oktober 1968 pukul 06.00 di penjara Changi, Singapura.
Setelah pelaksanaan eksekusi, utusan pemerintah Indonesia Dr. Ghafur dibantu empat pegawai KBRI mengurus jenazah keduanya. Meskipun dipersulit akhirnya, jenazah baru dapat diterbangkan ke Indonesia pada pukul 14.00 dengan menggunakan pesawat dari TNI AU. Pemakaman Usman dan Harun dilakukan dalam sebuah upacara militer pada tanggal 18 Oktober 1968 pukul 13.00 di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan Inspektur Upacara Letnan Jenderal TNI Sarbini. Keduanya dimakamkan berdampingan sesuai keinginan mereka sebelum meninggal.
         Berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 050/TK/Tahun 1968 tanggal 17 Oktober 1968, Usman dan Harun dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan tanda kehormatan Bintang Sakti. Kemudian, sebagai penghargaan atas jasa dan pengorbanan mereka, pangkat Janatin alias Usman bin Haji Muhammad Ali dinaikkan menjadi Sersan Satu (Anm) KKO-AL dan pangkat Tohir alias Harun bin Said dinaikkan menjadi Kopral (Anm) KKO-AL.
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia secara resmi dibuka kembali pada tanggal 31 Agustus 1967 tepat hari ulang tahun kemerdekaan Malaysia yang ke sepuluh. Dibukannya kembali hubungan diplomatic ini menunjukkan berakhirnya konfrontasi yang telah dilakukan selama ini. Ketegangan dengan Singapura mereda praktis setelah kunjungan PM Lee Kuan Yew ke Indonesia. Ketika akan berkunjung ke Indonesia pada tahun 1973, Presiden Soeharto mempersilahkan kunjungan PM Lee Kuan Yew, tetapi dengan satu syarat, yaitu ia harus melakukan ziarah ke makam pusara kedua Pahlawan Nasional tersebut di TMP Nasional Kalibata. Entah apa yang dipikirkan PM Singapura itu, dengan tangannya sendiri ia mau meletakkan karangan bunga di atas makam kedua pahlawan itu. Sejak kunjuangan PM Lee Kuan Yew ke makam Sertu KKO-AL (Anm) Usman Janatin dan Kopral KKO-AL (Anm) Harun tersebut, praktis hubungan kedua negara kembali menjalani babak baru.[]
Untuk Memesan BUKU USMAN JANATIN, Silahkan hubungi DISINI.