Tuesday, December 4, 2018

Pengantar Penulis Buku Menggali Sebutir Makna


Menggali Sebutir Makna

Sambutan Atikbud KBRI Kuala Lumpur dalam Buku Menggali Sebutir Makna

Sampul

KATA SAMBUTAN
Prof. Dr. Ir. H. Ari Purbayanto, M.Sc.
Atdikbud KBRI Kuala Lumpur

Assalamu’alaikuum Wr.Wb.

Guru tidak hanya bertugas untuk mentransferkan ilmu, tapi selayaknya juga dapat meninggalkan rekam jejak berupa buku. Semakin banyak guru menghasilkan karya buku, maka akan semakin maju dunia pendidikan Indonesia. Maka dari itu, dibutuhkan guru-guru muda yang bersemangat untuk menulis.

Semangat menulis inilah yang akan menghasilkan output berupa buku-buku yang akan dirujuk oleh masyarakat di masa mendatang. Masyarakat akan disuguhkan pemikiran-pemikiran dan pengalaman-pengalaman dari guru tentang dunia pendidikan. Tidak hanya itu, yang menjadi tujuan utama adalah mengantarkan masyarakat Indonesia menjadi negara yang berbudaya literer, yaitu sinkron nya budaya membaca dan budaya menulis.

Budaya literer itulah yang menjadi syarat utama untuk menjadikan sebuah bangsa menjadi maju. Kita bisa menulis dari hal-hal kecil terlebih dulu, salah satunya dengan menuliskan catatan harian. Catatan harian merupakan wadah yang tepat untuk mengasah kemampuan menulis. Catatan harian inilah yang menjadikan pijakan untuk menulis kisah-kisah pribadi yang menarik, terutama bagi seorang guru yang pasti mengalami kisah seru dan haru ketika berinteraksi dengan peserta didik.

Buku “Menggali Sebutir Makna: Catatan Harian Guru Ladang Sawit Sabah-Malaysia” ini menjadi bukti bahwa sesibuk apapun menjadi seorang guru, masih ada waktu untuk menulis. Terutama menulis tentang pengalaman pribadi melalu catatan harian. Saya selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini.

Kepada Cikgu Arif Saefudin, yang telah dengan tekun menyusun buku catatan harian ini saya sampaikan penghargaan. Jerih payah dan kerja keras saudara adalah bagian dari upaya untuk mengobarkan budaya literer bagi dunia pendidikan. Saya berharap buku ini menjadi pemantik dan inspirasi bagi guru-guru yang lainnya agar dapat memulai menulis dan menerbitkannya untuk mencerahkan masyarakat.

Selamat membaca.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Kuala Lumpur, 24 Juli 2018


Prof. Dr. Ir. H. Ari Purbayanto, M.Sc.
Atdikbud KBRI Kuala Lumpur

Apabila ingin memesan buku silahkan klik DISINI.

The Great Scholar: Pembentuk Wajah Pesantren Dan Peletak Nilai Multikulturalisme

Juara 1 Menulis Artikel dari MUI Proinsi Banten

arifsae.com - Para petugas akan melakukan pembongkaran pada beberapa makam di pinggiran Kota Ma’la, Mekkah. Memang, setelah genap 3 tahun makam-makam harus di ‘normalisasi’ dengan cara dibongkar kemudian dipindahkan. Tidak perduli makam siapa itu, apakah makam pejabat tinggi atau rakyat jelata, semua sama.  Pada awalnya, semua berjalan biasa, namun terjadi peristiwa yang diluar logika. Terjadi kehebohan, semua petugas kaget tak percaya. Apa yang terjadi?

Ternyata para petugas penggalian kuburan menjumpai kondisi jenazah yang tak biasa ditemui pada jenazah umumnya. Bukan tulang-belulang, atau kain kafan kusut yang ditemukan, justru para petugas menyaksikan sebuah jenazah yang masih utuh, terlihat baru, dan tak kurang satu apapun. Disamping itu, tidak ada lecet apapun pada sosok mayat tersebut, bahkan kain kafan yang menutupi jenazah tak sobek sedikitpun.

Sontak saja peristiwa ini membuat gempar. Para petugas penggali kubur menemui atasan untuk melaporkan kejadian yang baru saja disaksikan oleh banyak orang itu. Setelah menerima laporan dari petugas penggali kubur, sang atasan kemudian mencari tahu, siapa orang dibalik makam itu. Setelah menyelediki, dan mencari tahu dari berbagai informasi, ternyata orang yang ada dalam makam itu bukan orang biasa, beliau adalah seorang ulama asal Banten yang pernah menjadi Imam Ulama Al-Haramayin (Imam Ulama Dua Kota Suci), beliau adalah Syekh Nawawi al-Bantani.

Nama besar Syekh Nawawi al-Bantani sudah mendunia. Beliau adalah pembentuk “wajah” pesantren saat ini. Lembaga pendidikan tertua di Indonesia ini tak bisa terlepas dari nama besarnya. Karyanya hampir tersebar diseluruh pesantren-pesantren tradisional di Indonesia. Syekh Nawawi al-Bantani merupakan salah satu peletak dasar nilai-nilai etis tradisi keilmuan pesantren, buah intelektualnya sangat berjasa dalam mengarahkan ideologi pesantren yang berada dibawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) hingga kini.

Dikalangan pesantren, Syekh Nawawi al-Bantani tidak hanya dikenal sebagai penulis berbagai kitab-kitab dari berbagai disiplin ilmu, beliau juga dijuluki  sebagai Mahaguru Sejati (The Great Scholar). Berkat murid-murid beliaulah, dikemudian hari akan lahir tokoh-tokoh intelektual yang berperan tidak hanya dalam agama, namun dalam memperjuangkan bangsa dan negaranya.

Syekh Nawawi al-Bantani  memilih murid dari berbagai latar belakang suku, ras dan golongan. Inilah yang kita sebut sebagai multikulturalisme. Nilai-nilai multikultural inilah yang saat ini masih relevan untuk di rawat. Perbedaan yang terjadi bukan menjadi alasan bagi adanya permusuhan, namun di jadikan sebagai modal membangun bangsa dengan spirit Bhinneka Tunggal Ika. Persatuan ini menjadi kebutuhan mutlak untuk menjawab tantangan zaman, mengingat realita bangsa ini yang terus dilanda cobaan des-integrasi. Persatuan inilah yang harus kita jadikan identitas bangsa saat ini hingga kiamat nanti.

Menurut Samuel Hotington (1996), identitas sebuah bangsa bisa menjadi hal yang bisa menyatukan atau bisa memisahkan. Identitas bangsa yang plural ini, apabila tidak disikapi dengan arif, bisa menjadi penyulut api permusuhan dan kobaran konflik. Oleh karena itu, kita patut belajar dari ulama sekaliber Syekh Nawawi al-Bantani dalam memahami sebuah persatuan dengan menguatkan identitas bangsa kita, salah satunya dengan melihat praktek multikulturalisme didunia pesantren. Tulisan ini mengangkat tentang kehidupan singkat Syekh Nawawi al-Bantani, sumbangan karya-karyanya dalam membentuk wajah pesantren Indonesia, dan peran pesantren dalam persatuan Indonesia.

Cahaya dari Tanara yang Mendunia
Generasi muda saat ini harus bangga, bahwa Indonesia pernah mempunyai ulama yang pernah mendunia. Nama lengkapnya adalah Muhammad Nawawi al-Syaikh al-Jawi al-Bantani atau Syekh Nawawi al-Bantani. Orang Indonesia lebih familiar dengan sebutan Kiai Haji Nawawi Putra Banten (Chaidar, 1978: 5).  KH Nawawi (akan digunakan kemudian, karena lebih ke “Indonesiaan”) lahir pada tahun 1230 Hijriah atau 1813 Masehi di Kampung Tanara, Serang, Banten. Ayahnya bernama KH ‘Umar bin Arabi dan Ibunya Zubaydah. Ayahnya seorang penghulu dan ulama di Tanara. Bila ditelusuri silsilah ayahnya, KH Nawawi masih keturunan Sunan Gunung Jati (Adurahman, 1996: 86). Lingkungan keluarga yang kental dengan nilai-nilai agama membuatnya memiliki pemahaman agama yang komperhensif dimasa mudanya.

Pondasi pendidikan yang diberikan oleh KH ‘Umar mencakup pengetahuan keislaman, seperti Nahwu dan Sharaf, Fiqih, Tauhid dan Tafsir. Setelah cukupi umur, KH Nawawi kecil melanjutkan ilmunya dengan berguru kepada Kiai Sahal, ulama Banten, dan Kiai Yusuf dari Purwakarta. Pada tahun 1826 saat usianya 13 tahun, ayahnya meninggal dunia, 2 tahun kemudian KH Nawawi dan saudarannya pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji. Di Mekkah inilah, KH Nawawi tinggal selama 3 tahun dan belajar kepada ulama-ulama besar disana, beliau berguru kepada Sayid Ahmad Nahrawi, Sayid Ahmad Dimyati, dan Ahmad Zayni Dahlan. Sedangkan di Madinah, KH Nawawi berguru kepada Muhammad Khatib al-Hanbali. Selain di Mekkah dan Madinah, beliau juga belajar kepada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Ensiklpedia Islam Indonesia, 1994: 24).

KH Nawawi pernah kembali ke Nusantara pada tahun 1831 Masehi, dan sempat mengajar diberbagai tempat. Namun, karena kondisi politik Nusantara waktu itu, akhirnya 3 tahun kemudian beliau pergi lagi ke Mekkah dan menetap disana hingga wafatnya. Ketika kembali ke Mekkah, beliau melanjutkan pemenuhan “dahaga” ilmunya pada guru-guru yang berasal dari Nusantara, seperti Syaikh Muhammad Khatib Sambas, Syaikh ‘Abdul Gani Bima, Syaikh Yusuf Sumulaweni, dan Syaikh ‘Abdul Hamid Dagastani, masih banyak yang lainnya (Saghir, 2000: 36-37). Dengan keputusannya menetap di Hijaz ini, beliau menuangkan ilmunya dengan berbagai hasil kitab-kitab yang sangat berguna bagi kehidupan Islam di Nusantara bahkan dunia Islam pada umumnya.

Dari pengalamannya selama melakukan rihlah selama 30 tahun, akhirnya KH Nawawi melakukan halaqa di Masjid al-Haram. Dengan berbekal ilmu dan kecerdasannya, KH Nawawi mendapatkan simpati dari murid-muridnya dan dari pembaca karya-karyanya. Murid-muridnya berasal dari berbagai penjuru negera, terutama dari Nusantara, seperti Suku Jawa, Sunda, Madura, Minang, dan lainnya. Dari pengajaranya di Mekkah ini, dikemudian hari murid-muridnya akan meneruskan perjuangan Islam di Nusantara dengan mendirikan pesantren-pesantren besar, seperti KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dari Jombang, KH Kholil dari Bangkalan Madura, KH Tubagus Ahmad Bakri dari Purwakarta, KH Ilyas dari Serang Banten, dan masih banyak murid-muridnya yang dikemudian hari yang mendedikasikan hidupnya untuk umat Islam di Nusantara.

Dalam melakukan pengajaranya, KH Nawawi dikenal sebagai seorang yang menjunjung nilai-nilai “demokratis”, beliau mau menerima semua ide dan pandangan dari murid-muridnya agar melatih mereka untuk berani mengemukakan ide dan gagasan yang membangun untuk umat (Ensiklpedia Islam Indonesia, 1994: 841-842). Beliau sangat menghormati segala bentuk perbedaan, inilah pelajaran yang sangat penting. Sebuah modal multikultural yang berbalut nilai demokratis yang saat itupun tidak dimiliki oleh para pejuang di Nusantara.

Disamping melakukan pengajaran, KH Nawawi juga menghasilkan karya-karya yang sangat banyak, hasil karyanya tidak hanya diakui oleh ulama Nusantara, namun dihormati pula di dunia Islam, terutama yang berkaitan dengan Mazhab Syafi’i. Memang tidak bisa dipastikan berapa karya KH Nawawi, karena terlalu banyak dan bahkan ada yang tidak terlacak. Namun yang pasti, karya-karyanya ditulis dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti Tafsir, Fiqih, Usul al-Din, Ilmu Tauhid, Akhlak dan Tasawuf, Sirah Nabawiyah, Tata Bahasa Arab, Hadist dan Akhlak (Bruinesen, 1995: 143).

Menurut Martin Van Bruinessen (1995: 236), pada era 90-an, karya KH Nawawi masih mendominasi kurikulum dilebih dari 40 pesantren besar di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, karyanya juga digunakan diberbagai wilayah Islam di Asia Tenggara, seperti Filipina, Thailand, dan Malaysia. Banyaknya karya yang digunakan diberbagai negara disebabkan kemampuan KH Nawawi menyederhanakan pengajaran yang mengandung hikmah sehingga bisa dijiwai oleh setiap pembaca. Keluasan ilmu yang dimiliki KH Nawawi membuat karya-karyanya diajarkan para Kiai dan disukai oleh kalangan santri sehingga masih menjadi rujukan utama hingga saat ini. Banyak kalangan yang menganggap KH Nawawi sebagai Imam Nawawi kedua. Imam Nawawi pertama adalah ulama besar yang membuat Syarah Shahih Muslim dan Riyadlush Shalihin.


Pondasi Membangun Negeri
Tidak bisa dipungkiri, pesantren merupakan tempat “kawah candradimuka” dalam pendidikan Islam dan tempat perkembangannya embrio bangsa Indonesia dalam menemukan jati dirinya. Pemahamaan ini dipertegas dengan kuantitas penduduk Indonesia yang 85 % merupakan muslim, dan Indonesia merupakan pemeluk muslim terbesar didunia. Tentu peran ini tidak bisa dilepaskan dari pesantren. Menurut Zamakhsyari Dhofier (2011: 100), mengkaji tentang Islam di Indonesia tidak akan lengakap apabila tidak menelusuri lembaga pesantren dan mengkaji karya-karya peletak pondasinya.

KH Nawawi merupakan tokoh dari Indoensia yang berkaliber dunia, sehingga beliau dipercaya mengajar di Mekkah al-Mukarramah dan menjadi Imam al-Haramayn (Imam ‘Ulama Dua Kota Suci, Mekkah dan Madinah). Setelah karya-karya KH Nawawi masuk ke Indonesia, wacana keislaman didunia pesantren mulai berkembang pesat. Menurut Van Brunessen (1995: 153), sejak tahun 1888 Masehi, pola intelektual pesantren berubah dengan drastis. Artinya, kesinambungan dan dakwah dalam tradisi pesantren sangat penting. Sumbangan besar KH Nawawi berada pada bidang ilmu tafsir, bahkah karyanya sudah dijadikan rujukan diberbagai wilayah Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, sejak tahun 1990 diperkirakan ada sekiar 22 tulisan karya KH Nawawi yang masih dipelajari.

Murid-muridnya terseber sebagai faounding father dalam menjaga pondasi Islam dan turut membidani kelahiran negara Indonesia. Seperti KH Hasyim Asy’ari yang mendirikan organisasi massa terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asy’ari termasuk murid yang memiliki semangat tersendiri untuk mengajarkan karya-karya gurunya di Nusantara, karena setelah belajar dengan K.H Nawawi di Mekkah, beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng, yaitu pondok pesantren paling berpengaruh di Indonesia pada abad-20. Ketika masa pendudukan Jepang, KH Hasyim Asy’ari tidak mau melakukan upacara Seikeri (membungkuk kebendera Jepang), sehingga beliau sempat ditahan oleh Jepang. Setelah merdeka, beliau diangkat sebagai Ro’is ‘Am (ketua umum) Masyumi pertama periode 1945-1947. Masa revolusi senjata, beliau sebagai jenderal yang membawahi laskar-laskar perjuangan, seperti GPII, Hizbullah, Sabillilah dan lainnya.

Kemudian, murid lainnya adalah KH Kholil dari Bangkalan Madura, yang terkenal dengan karomahnya. Sama seperti KH Hasyim As’ari, KH Kholil juga berperan penting dalam dunia pendidikan dan perlawanan terhadap penjajah. Dalam bidang pendidikan, beliau mencetak murid-murid yang memiliki integritas, berwawasan, dan tangguh. Selain itu, perlawanan terhadap penjajah dilakukan dibelakang layar, beliau selalu memberi suwuk (tenaga dalam) dan mempersilahkan pondoknya sebagai tempat persembunyian para pejuang.

Selanjutnya, KH Tubagus Ahmad Bakri dari Purwakarta. Seorang ulama dari tanah pasundan yang mendirikan pesantren As-Salafiyyah. Banyak karya yang juga dilahirkan oleh pemikirannya, masa hidupnya didedikasikan untuk mengaji dan membuat karya. Ada juga murid dari KH Nawawi yang berjuang secara fisik melawan kekejaman senjata, beliau adalah KH Wasit. KH Wasit memimpin pembrontakan di Cilegon pada tahun 1888 Masehi. Murid-muridnya tersebar hampir disejumlah pesantren diseluruh Indonesia.

Dengan kata lain, pesantren di Indonesia memiliki geneologi yang hampir sama meskipun berbeda daerah dan budaya. Pada waktu itu, polarisasi pemikiran modernitas yang sedang dikembangkan oleh Jammaludin al-Afgani dan Muhammad Abduh di Mekkah menjadi pemersatu ulama tradisional di Indonesia yang sebagian besar alumnus dari Mekkah dan Madinah. Dengan keterkaitan para ulama Nusantara ini, maka secara tidak langsung mempercepat penyebaran karya-karya KH Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi para Ulama Nusantara (Dhofier, 2011: 57). Besarnya pengaruh pemikiran KH Nawawi terhadap tokoh ulama di Indonesia membuat beliau dikatakan sebagai salah satu “poros” dari akar keilmuan pesantren dan NU.

Dari Pesantren untuk Indonesia
Sumbangan KH Nawawi yang paling dibutuhkan oleh Indonesia saat ini adalah nilai-nilai multikulturalisme ditengah maraknya paham disintegrasi bangsa. Nilai multikultural dari KH Nawawi bisa dilihat dari proses pengajarannya di Mekkah. Ketika beliau menerima murid, beliau tidak melihat dari mana asal suku, ras atau golongan, namun oleh beliau diterima dengan tangan terbuka. Pendapat yang berbeda dari murid-muridnya diterima sebagai kekayaan intelektual. Murid yang diterima juga dari berbagai tingkat intelektual, ada yang dari dasar pemulaan tata bahasa Arab, atau murid yang cukup pintar dan yang sudah mengajar ditempat mereka sendiri (Stennbrik, 1984: 117).

Hal ini menjadi pijakan dalam mengembangkan jatidiri pesantren khususnya dan jatidiri bangsa pada umumnya. Pesanten, sebuah lembaga pendidikan tertua di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah, kesadaran multikulturalisme disaat wacana itu masih diperdebatkan dilevel politik nasional, seperti Budi Utomo pada tahun 1908, organisasi pertama yang anggotanya berasal dari Prijaji Jawa saja. Oleh karena itu, kesadaran berbangsa yang saat ini mulai surut harus kita kuatkan lagi, dengan belajar dari kehidupan pesantren disekeliling kita. Memang ada sebagian kecil pesantren yang sudah terjebak dengan paham-paham “radikalisme”. Namun itu hanya sebagian kecil, karena sebagian besar kehidupan di pesanteren sangat kental dengan nilai-nilai multikulturalisme dan mendorong pembentukan jatidiri bangsa Indonesia.

Setidaknya ada tiga hal mendasar yang bisa kita lihat dan rasakan dari sumbangsih pesantren dalam usahanya membentuk jatidiri bangsa Indonesia, yaitu (1) secara geneologiis; (2) secara paradigmatis; dan (3) secara sosiologis. Pertama, secara geneologi, pesantrean sudah mengalami kontak secara langsung dengan penganut agama lain ketika masa Hindu-Budha di Jawa. Pesantren sudah memberikan contoh dengan baik, bagaimana berdialog dengan kelompok yang memiliki kepercayaan berbeda. Para founding father penyebaran Islam, Wali Sanga,  mengajarkan kepada kita, bahwa mereka tidak menghapus kebudayaan agama Hindu-Budha, namun justru mencari titik temu persamaan agama Hindu-Budha dengan ajaran agama Islam.

Kedua, secara paradigmatis. Dalam dunia pesantren, jelas terlihat nilai dan prinsip toleransi dan keterbukaan. Ajaran pesantren mengajarkan tentang toleransi terhadap perbedaan. Misalnya dalam pengajaranya, pesantern mengajarkan semua madzab ilmu fiqih pada para santri. KH Nawawi dalam melakukan pengajarannya juga selalu menerima pendapat yang berbeda. Dalam menghargai perbedaan ini, pesantren menampakan toleransi terhadap perbedaan yang terjadi antar pesantren dalam memahami teks hadits maupun Al-Qur’an yang disesuakan dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Pada bagian ini, pesantren menampakan wajah yang universal, atau Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Wajah universal ini ditransformasikan kedalam nilai-nilai lokal yang plural. Misalnya, pesanteren yang tumbuh didaerah Jawa, akan menampakan wajah keislamannya dengan nilai-nilai kebudayaan Jawa. Pesantren menyadari, tidak akan memutlakan suatu tafsiran, namun membiarkan berbagai tafsiran tentang keagamaan itu berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Kemudian yang ketiga, secara sosiologis. Pesantren sebagai sebuah komunitas sosial yang teridiri dari Kiai dan santri berasal dari berbagai latar belakang yang beragam. Hal ini memperlihatkan bahwa, realitas sosial pesantren juga sangat plural. Misalkan, pondok pesantren Tebuireng, Jombang. Disana santrinya berjumlah ribuan, berasal dari berbagai daerah, ada yang berasal dari Jawa, Madura, Kalimantan, Papua, dan dari seluruh daerah di Indonesia. Namun, dalam bingkai kehidupan dilingkungan pesantren tidak pernah terdengar “tawuran” bahkan terkesan sangat harmonis sehingga praktis tidak pernah ada pertikaian besar terjadi disini.

Ada pertanyaan, kalau pesantren sudah memberikan sumbangsih nilai multikulturalsime di Indonesia, tapi kenapa Indonesia saat ini justru banyak konflik dan permusuhan? Memang inilah ironi yang menyentuh hati nurani. Jawabanya, kita kurang belajar dari ulama dan sejarah bangsa kita sendiri. Paling penting yang perlu diingat, kita masih mempunyai mozaik dipesantren apabila kita memerlukan sebuah contoh arti sebuah persatuan ditengah perbedaan. Pesantren telah memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana menjalani kehidupan yang harmonis dalam atap perbedaan. Inilah esensi dari ajaran KH Nawawi dengan membentuk pondasi jatidiri bangsa lewat karya-karyanya yang diteruskan oleh para muridnya didunia pesantren.

Dengan semua teladan dari KH Nawawi, kita harus siap menerima keberadaan orang atau kelompok lain yang berbeda dengan kita. Dengan cara membiasakan diri seperti itu, hati kita akan terbiasa menerima perbedaan. Nafsu untuk mengejar kekuasaan akan terkalahkan dengan semangat persatuan. Tidak akan ada lagi ego untuk menonjolkan identitas kelompok sendiri, tapi semuanya akan saling menghormati. Bangsa ini harus belajar terhadap kesuksesan pesantren dalam mengimplementasikan nilai-nilai multikulturalisme. Kita harus belajar untuk saling belajar, bukan saling menghajar, pelangi terdiri dari banyak warna yang berjejer menjadi satu, jadi bukankan pelangi indah karena berbeda?


Sebuah Refleksi
KH Nawawi wafat ketika menginjak usiannya yang ke 84 tahun, tepatnya pada 24 Syawal 1314 Hijriyah/1897 Masehi. Beliau meninggal ketika sedang menterjemahkan kitab Minhaj al-alibin karya Imam Nawawi al-Dimshaqi. KH Nawawi dimakamkan ditempat tinggalnya disekitar Shi’ib ‘Ali Mekkah, tepatnya dipekuburan Ma’la, yang berdekatan dengan kuburan Ibn Hajar dan Asma’ binti Abu Bakar. Lewat kemasyuran namanya, KH Nawawi mendapat banyak gelar, diantaranya Sayyid ‘Ulama al-Hijaz (Pemimpin ‘Ulama Hijaz), AI-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni Ilmunya), A’yan ‘Ulama al-Qarn aI-Ram ‘Asyar Li al-Hijrah (Tokoh Ulama Abad 14 H), dan Imam Ulama Al-Haramayin (Imam Ulama Dua Kota Suci).

Semasa hidupnya, banyak karya-karya yang lahir dari ketinggian keintelektualannya. Tulisannya melintasi berbagai disiplin ilmu, beliau juga meneruskan tradisi ulama Nusantara dalam mentransformasikan gagasan keilmuannya melalui pengajaran kepada murid-muridnya. Perannya dalam menyebarkan Islam di Nusantara sangat berguna bagi arah pembentukan identitas bangsa kedepannya. Dengan pengajarannya di Mekkah al-Mukarramah, beliau berhasil menghasilkan murid-murid yang menjadi tokoh nasional dalam memperjuangkan Indonesia. Salah satu muridnya adalah Hadratul Syekh KH Hasyim Asy’ari, ulama pendiri Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi Islam terbesar hingga saat ini.

KH Nawawi merupakan ulama Rijal al-Dakwah yang jasa-jasanya sangat terasa untuk dunia Islam di Indonesia maupun dunia Islam pada umumnya. Dampak aktifitas dakwah yang dilakukan oleh KH Nawawi masih terasa sampai sekarang. Bahkan hampir semua Kiai Pesantren masih menggunakan karya-karyanya sebagai rujukan utama. Hal ini bisa ditelusuri dari geanologi keilmuan KH Nawawi terhadap wajah pesantren dewasa ini. Salah satunya adalah nilai-nilai multikulturalisme yang dipraktekan pesantren hingga saat ini.

Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia pada era globalisasi ini. Tantangan primordialisme dan cauvinisme saat ini mulai menjamur diberbagai daerah Indonesia. Oleh karena itu, kita harus menengok kebelakang sejenak untuk belajar tentang arti multikulturalsime dari seorang ulama besar yang pernah dimiliki oleh Indonesia, Syekh Nawawi al-Bantani.

Daftar Pustaka
Abdurahman Nawawi al-Bantani. 1996. An Intelectual Master of the Pesantren Tradition, Dalam Studi Islamika, no. 3, vol. 3, Jakarta: INIS.

Bruinesen, Martin Van. 1995. Kitab Kuning (Pesantren dan Tarekat). Bandung: Mizan.

Chaidar. 1978. Sejarah Pujangga Islam Shaykh Nawawi Banteni. Jakarta: Sarana Utama.

Ensiklopedia Islam. 1994. Ensklopedia Islam Indonesia. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.

Huntington, Samuel P., 1996. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York: Simon & Schuster.

Wan Moh. Saghir. 2000. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah.

Karel A. Steenbrik. 1984. Beberapa Aspek Tentang Islam di indonesia Abad 19. Jakarta: Bulan bintang.

Wan Mohd, Saghir. 2000. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah.

Zamakhsyari Dhofier. 2011. Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, Jakarta: LP3ES.
MUI Provinsi Banten

Friday, November 23, 2018

Bulan di Atas Kanvas [Kumpulan Puisi]

Senja Itu

Tuesday, November 20, 2018

Mbah Syaikh Nur Kalam, Penyebar Islam dari Brobot, Banyumas

arifsae.com - Bangun tidur tiba-tiba mamaku bilang, "Ada mbah-mbah dari Purwokerto memberikan buku," sambil menunjukan bukunya ke saya.

Saya lihat bukunya, tipis memang, bingun membacanya. Judulnya "Silsilah keluarga besar Mbah Wali Nurkalam."

Saya buka, memang hanya sisilah, tidak mudengin, saya pertama tidak bisa memahaminya, "Dimana nama keluarga saya?"

Buka berkali-kali dan penuh dengan perjuangan akhirnya saya menemukan dan memahaminya. Ternyata, tidak disangka-sangka, masih ada keturunan dengan Mbah Nur Kalam. Dari Brobot Desa Tambaksogra, Kecamatan Sumbang, Jawa Tengah,

Lalu siapa Mbah Nur Kalam?

Tidak banyak sumber, termasuk di google. Tidak ada tulisan yang membahas, hanya secara garis besar saja. Ada satu tulisan yang menulis tentang ini, dari blog kangmulyanto.com.

Begini ceritanya,

Dahulu, sebelum kedatangan Mbah Nur Kalam, suasana wilayah yang sekarang di namakan Mbrobot itu masih berbentuk hutan liwang liwung. Tidak banyak dihuni manusia.

Hanya ada satu keluarga yang bertempat tinggal ditempat itu. Menurut sumber, keluarga itu adalah keluarga Kartawiyasa.

Pada suatu hari, bertepatan dengan hari Kamis Wage jam 12 siang, terdengar sebuah suara letusan yang mengagetkan, suaranya seperti suara rumah yang terbakar, suara itu masih terus terdengar, hingga beberapa hari.

Tidak ada yang tau secara pasti suara apa itu, darimana asal suara itu dan mengapa suara itu tidak hilang-hilang. Bahkan sampai ke pedukuhan dan desa-desa sekitarnya.

Hingga datanglah seorang laki-laki dari arah timur menuju ke daerah yang bersumber dari suara yang mengganggu itu. Laki-laki itu Menghentikan langkahnya karena mendengar suara itu.

Setelah mengamati dan mendengarkan suara itu, akhirnya laki-laki itu menuju ke pusat suara. Suasana sekitar sumber letusan yang penuh dengan duri dan semak-semak tak membuat langgkah laki-laki itu terhenti.

Setelah sampai dipusat letusan, lelaki itu terdiam. Menghela nafas sejenak sembari memejamkan mata.Ternyata disini tidak ada apapun. Kejadian aneh ini menjadi perhatian laki-laki itu. Kejadian bunyi-bunyian suara yang tak ada wujudnya itu sering terjadi.

Oleh karena itu, di pedukuhan itu ia melakukan tirakat selama 40 hari lamanya. Memohon pertolongan Allah agar kejadian yang menimpa di pedukuhan itu segera diatasi. Dialah Muhada Nur Kalam atau sering dipanggil Mbah Nur Kalam.

Setiap 10 hari beliau melakukan rotasi tempat duduk. Dimulai dari Selatan, Barat, Utara, dan berakhir menghadap ke Timur. Setelah melakukan Tirakat selama 40 hari, akhirnya suara letusan itu tidak terdengar lagi.

Mbah Nur Kalam berkata, "Rejaning Jaman Mbesuk Panggonan iki di Jenengi Mbrobot".

Sejak saat itu tempat pedukuhan itu diberi nama Mbrobot atau Brobot hingga sekarang. Wilayah ini saat ini menjadi wilayah Desa Tambaksogra, Kecamatan Sumbang, Banyumas.

Mbah Nur Kalam sepanjang hayatnya diabdikan diabadikan untuk syiar agama Islam di daerah Mbrobot dan Kecamatan Sumbang dan sekitarnya.

Silsislah Mbah Nur Kalam

Mbah Nur Kalam merupakan anak dari Nur Ali. Silsilah Nur Ali bisa ditarik sampai kepada Nyai Singa Wijaya, Mertawijaya Sedo Krapyak dan sampai kepada Panembahan Senopati hingga ke Ki Ageng Pamanahan.

Bila ditarik dari perkawinannya dengan Nyai Muhada, Mbah Nur Kalam dikarunai seorang putera bernama Hasan Besari dan Ngali Mustapa. Dari kedua keturunan itulah akhirnya silsilahnya berlanjut dan tersebar keberbagai daerah di Banyumas, Pasuruan, dan Malang.
Dan admin adalah keturunan ke 6 dari Mbah Nur Kalam lewat putera keduanya, Ngali Mustapa. Seperti yang tertera dalam silsisah buku ini. Saya pun tidak terlalu paham juga😆



Coever Buku
Keturunan 1-3
Keturunan 4



Gambar Mbah Nur Kalam
Keturunan ke-5
Pembuat Buku

Walahhualam Bi Showab..

Makam Mbah Nur Kalam terletak di sebelah kiri jalan sebelum Kali Pangkon grumbul Mbrobot RT 4 /RW 3 tepatnya 200 m dari Masjid Al Huda belok kiri dari jalan raya Sumbang Baturaden.

Makamnya sangat sederahana dikelilingi pohon bambu yang menghiasi disebelah kanan dan kirnya.

Ditempat inilah Mbah Nur Kalam melakukan tirakat selama 40 hari 40 malam bermunajat memohon kepada Allaoh SWT agar diberi jalan mengatasi letusan yang terjadi disekitar daerah itu.

Sampai hari ini banyak diziarahi umat Islam dari berbagai daerah baik dari daerah Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pasuruan, Jombang, Surabaya, Malang dan daerah daerah lainnya.[]

Sunday, November 4, 2018

Buku Usman Janatin dan Harun Tohir

Buku Usman Janatin dan Harun Tohir
Judul Buku                  : Usman Janatin dan Harun Tohir
Penulis                        : Arif Saefudin
Penerbit                      : Deepublishing
Terbit                          : Cet 1 September 2018
Halaman                     : v+ 176 Halaman
Harga                         : Rp. 60.000,-
Pemesanan                 : DISINI.

Resensi :

Sejarah mencatat, hubungan antara Indonesia dan Malaysia pernah mengalami masa kelam dengan puncak perselisihan yang tajam. Perselisihan dua negara satu rumpun melayu ini diawali dari rencana pembentukan Federasi Malaysia yang diinisiasi oleh Inggris. Presiden Sukarno sangat menentang pembentukan itu. Menurutnya, pembentukan negara federasi itu adalah sebuah bentuk neo-kolonilaisme dan neo-imperialisme (nekolim).
Penolakan Presiden Sukarno inilah yang menyebabkan konfrontasi berjalan begitu menarik dan sengit. Segala potensi negeri dikerahkan untuk melancarkan aksi penentangan yang dinamakan, Ganyang Malaysia. Puncaknya, Presiden Sukarno mengeluarkan sebuah komando untuk mengagalkan negara “boneka” itu: Dwi Komando Rakyat (Dwikora).
Perang yang tak dideklarasikan ini juga diwarnai dengan perjuangan diplomasi. Frederick P. Bunnel menggambarkan kebijakan politik yang diambil Presiden Sukarno ini sebagai confrontation diplomacy, yaitu suatu campuran manuver yang bersifat berani, cerdik dan tidak dapat diduga. Kecerdikan inilah yang dipakai untuk mengembalikan wilayah Irian Barat dari tangan Belanda.
Tak sesukses di Irian Barat, kebijakan ini berakhir meskipun tak diakhiri oleh Presiden Sukarno sendiri. Memang sebelum berakhir era konfrontasi, kursi kekuasaan Presiden Sukarno telah berganti dibawah komando Jenderal Soeharto tahun 1966. Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) menjadi tonggak utama.
Ditengah situasi konfrontasi yang hampir diakhiri itu, muncul sosok yang menjadi “tumbal” masa Dwikora. Dialah Janatin alias Usman bin Haji Muchamad Ali dan Tohir alias Harun bin Said. Mereka merupakan anggota Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL) yang rela menjadi sukarelawan Dwikora. Dengan jiwa patriotisme nya, tugas yang diembannya dilaksanakan dengan segenap jiwa raga.
Mereka tak paham lobi-lobi tingkat para pemimpin negeri, apalagi untuk berbicara mengkritisi. Sebagai seorang prajutir, yang mereka tahu adalah kesetiaan terhadap negera dan bangsa menjadi hal utama. Tidak bisa digadai dengan barang manapun, dan tak bisa ditawar dengan harga semahal apapun. Ketika negara memanggil, mereka siap hadir, itulah prinsip seorang prajurit.
Dipuncak konfrontasi yang memanas, Janatin dan Tohir berhasil melaksanakan tugas. Mereka sukses meledakan gedung MacDonnal House (MDH) di Singapura, wilayah yang waktu itu masih menjadi bagian dari Federasi Malaysia. Na’as, setelah berhasil melaksanakan tugas, mereka ditangkap pihak militer Singapura.
Proses panjang dan melelahkan mereka jalani. Pemerintah Indonesia juga hadir untuk membela mereka. Sejak akhir kekuasaan Presiden Sukarno sampai dimulainya Presiden Soeharto, kedua anggota KKO-AL sudah berusaha diselamatkan. Namun usaha itu sia-sia, karena vonis mati dengan digantung menjadi harga mati. Eksekusi mati dilakukan tanggal 17 Oktober 1968 di Penjara Changi, Singapura.
 Istimewanya, mereka diganjar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto. Dengan Keputusan Presiden RI No. 050/TK/Tahun 1968 tanggal 17 Oktober 1968, Usman Janatin dan Harun Tohir dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan tanda kehormatan Bintang Sakti. Sesuatu yang pantas mereka dapatkan untuk keberanian dan pengorbanan yang sudah diberikan.
Buku ini merupakan salah satu buku yang membahas perjuangan kedua prajurit KKO-AL itu. Namanya sempat tenggelam beberapa dekade. Tulisan mengenai mereka juga sangat jarang diperhatikan oleh sejarawan. Berlandas semangat itu, buku ini hadir untuk melengkapi dan menambah referensi mengenai perjuangan Pahlawan Nasional Dwikora itu.
Dengan mengucapkan Alhamdullilah, penulis mencurahkan segala puji syukur kehadirat Allah SWT, yang pada akhirnya bisa menyelesaikan buku yang berjudul, “Usman Janatin dan Harun Tohir: Kisah Perjuangan Pahlawan Dwikora”. Meskipun dengan berbagai kendala dan suasana, tak menghalangi semangat untuk menggali sejarah mikro dipanggung sejarah Indonesia.
Tentunya dengan terselesaikannya buku ini, penulis mengucapkan berjuta terimakasih kepada beberapa pihak yang berkontribusi nyata maupun dengan doa. Tecurahkan rasa terima kasih kepada pihak Direktorat Sejarah yang telah memfasilitasi untuk menulis salah satu pahlawan Dwikora: Usman Janatin tahun 2017 silam. Tentunya menjadi lebih mudah penulisan buku ini karena sebagian besar referensi didapatkan dari penelitian itu.
Cucuran usaha tak akan ada artinya tanpa curahan doa. Oleh karena itu, penulis sembahkan terima kasih kepada kedua orang tua, Pak Suwarno dan Bu Suwarti yang menyumbangkan tetesan air mata dalam setiap lantunan doa. Tanpa doa mereka, usaha penulisan ini tak akan bisa terselesaikan dengan Rido-Nya.
Tidak lupa, saya curahkan rasa cinta kepada istri dan buah hati kami berdua. Istri tercinta Yuli Windarti, yang sudah mau membantu dan menuliskan ide-idenya, sehingaa kita bisa berkolaboorasi dalam buku ini. Anak kami berdua, Naira Ayudiasiya, yang terus tumbuh menjadi anak yang membanggakan kedua orang tua. Kalian berdualah motor penyemangat hidup.
Akhirnya, saya menyadari pasti banyak kekurangan dari setiap bagian buku ini. Kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja menyinggung pembaca, penulis ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga karya ini menjadi salah satu amal jariyah yang diterima oleh Allah SAW. Amiin.
Selamat membaca.

Sabah, Malaysia, Oktober 2018


Friday, October 12, 2018

Bendera Merah-Putih dalam Kajian Tradisi

Merah-Putih