Wednesday, August 21, 2019

Patriot Bangsa dari Kota Perwira: Buku Biografi Usman Janatin

Buku Usman Janatin
Usman Janatin merupakan putera ke-8 dari sembilan bersaudara pasangan Haji Mochammad Ali dan Siti Rukijah. Ia lahir pada tanggal 18 Maret 1943 pada pukul 10.00. Janatin, begitu keluarga memanggilnya, terlahir dari keluarga petani yang religius. Di lingkungan inilah, Janatin terbentuk kepribadiaannya. Ayahnya bekerja sebagai seorang petani sekaligus sebagai kayim, yaitu seorang yang dipercayai sebagai pemuka agama desa. Maka sedikit banyak pola pendidikan yang diterima Janatin juga tidak bias dilepaskan dalam suasana yang religius. Kakak-kakaknya yang sebagian besar merupakan anggota militer menjadikan motivasi tersendiri dalam diri Janatin untuk mengikuti jejak mereka menjadi anggota militer. Terlebih lagi kejadian gugurnya Letkol Kusni, kakak sulung Janatin, yang meninggal karena berperang pada masa revolusi senjata tahun 1949.
Kehidupan semasa kecil Janatin dilalui selayaknya anak kecil seusianya. Janatin menghabiskan masa kecilnya dengan menempuh pendidikan formal dan bermain bersama teman-temannya. Pendidikan formal dimulai dari SR Jatisaba yang ditempuh dari kelas 1 sampai 3. Untuk kelas 3 sampai dengan 6, Janatin harus melanjutkan ke SR Bancar yang berjarak 3 km. Semua jenjang sekolah dasar ini ditempuh Janatin dengan berjalan kaki. Setelah selesai menyelesaikan jenjang sekolah dasarnya, Janatin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di SMP Budi Mulya, Purbalingga.  Di sini, Janatin bergaul dengan berbagai teman yang berasal dari berbagai latar belakang.
Selama bersekolah, Janatin merupakan anak yang tidak terlalu menonjol dalam bidang akademik, namun sangat menonjol ketika mengikuti pelajaran yang membutuhkan ketangkasan fisik. Selepas sekolah, ia tidak lupa menghabisakan waktu untuk bermain dengan teman-temannya, salah satu kegemarannya adalah bermain sepak bola dan bulutangkis. Ia juga tidak lupa membantu pekerjaan ayahnya, seperti mencarikan rumput untuk makanan ternak, dan sesekali membantu di sawah.
Semasa Janatin menjalani tahap akhir pendidikan di SMP Budi Mulya, ia mendengar tentang memanasnya hubungan Republik Indonesia dengan Kerajaan Belanda mengenai masa depan Irian Barat. Puncaknya pada tanggal 19 Desember 1961 Presiden RI Soekarno mengumandangkan Tri Komando Rakyat (Trikora) di alun-alun kota Yogyakarta, sebagai bentuk konfrontasi total dengan Belanda guna memperjuangkan kembalinya Irian Barat. Sejalan dengan kampanye pembebasan Irian Barat tersebut, dilakuan mobilisasi besar-besaran untuk merekrut anggota milieter dan sukarelawan. Pemuda Janatin terpanggil untuk mendaftarkan dirinya sebagai calon Tamtama KKO-AL.
Meskipun ada sedikit penolakan dari orang tuanya, Janatin yang terpanggil untuk membela harkat dan martabat bangsanya nekat mendaftarkan dirinya ke Sekolah Calon Tamtama KKO-AL (secatmoko) di Malang pada tahun 1962. Dengan tahapan seleksi ia berhasil lulus. Berbagai latihan fisik dan mental dilalui oleh Janatin, hingga dinyatakan lulus pendidikan tanggal 1 Juni 1962, Janatin mendapatkan pangkat Prajurit III KKO. Niat Janatin untuk mengusir Belanda dari Irian Barat urung terlaksana, karena tercapai kesepakatan damai antara Indonesia dengan Belanda pasca persetujuan New York tanggal 15 Agustus 1962. Persetujuan New York mengakhir perseteruan Indonesia-Belanda dan Irian Barat dinyatakan kembali ke Pangkuan NKRI melalui perantara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tugas pertama Janatin yaitu mengikuti Operasi Sadar di Irian Barat untuk memastikan penyerahan kekuasaan berjalan lancer.
Meskipun tugas di Irian Barat telah dilaksanakan Janatin dengan baik, namun tugas negara yang lain telah menanti Janatin dan prajurit-prajurit KKO-AL lainnya, yaitu Operasi Dwikora. Komando Dwikora dikumandangkan oleh Presiden Soekarno sebagai bentuk konfrontasi terhadap pembentukan Federasi Malaysia yang disebutnya bagian dari proyek neokolonialisme Inggris. Pada tanggal 31 Agustus 1957 Inggris memberikan kemerdekaan kepada Persekutuan Tanah Melayu (Malaya), sementara Singapura, Sabah, dan Serawak tetap berstatus koloni Inggris. Di sisi lain, Brunei yang masih tergantung kepada Inggris juga menjadi rencana besar membentuk Federasi Malaysia.
Pemerintah Inggris dan negara-negara Blok Barat lainnya yang merasa khawatir dengan perkembangan kekuatan komunisme di Indonesia, menyetujui gagasan tersebut yang dipandangnya sebagai strategi pembendungan pengaruh komunis. Keputusan pembentukan Federasi Malaysia mendapat protes keras dari pemerintah Filipina dan sebagian masyarakat di Serawak serta Borneo Utara (Sabah). Filipina memprotes karena berpandangan bahwa wilayah Sabah masih menjadi bagian dari Kesultanan Sulu, di Mindanao, Filipina.
            Sementara itu rakyat Kalimantan Utara yang menolak bergabung dengan Federasi Malaysia melancarkan serangkaian aksi demonstrasi dan pemberontakan bersenjata. Pemberontakan tersebut dimotori Partai Rakyat Brunei pimpinan Azahari yang menghendaki kemerdekaan penuh Kalimantan Utara, lepas dari koloni Inggris, dan membentuk Negara Kesatuan Kalimantan Utara (NKKU).  
Awalnya, Indonesia memandang gagasan pembentukan Federasi Malaysia sebagai persoalan internal Malaysia, Singapura dan Borneo Utara. Namun, setelah melihat peran Inggris yang demikian dominan yang disertai pengerahan kekuatan militer secara besar-besaran, Indonesia berbalik menentang pembentukan federasi. Presiden Soekarno dalam pidato 17 Agustus 1962 menyebutnya sebagai proyek neokolonialisme Inggris di Asia Tenggara. Tanggal 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri RI Soebandrio menyatakan bahwa Indonesia dalam keadaan bermusuhan dengan Malaysia.
            Guna menyelesaikan masalah sengketa wilayah, Presiden Filipina Diosdado Macapagal berinisiatif menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Manila antara tanggal 7-11 Juni 1963. KTT tersebut dihadiri Presiden Soekarno (Indonesia), PM Tenku Abdul Rahman (Malaya), dan Presiden Macapagal (Filipina). KTT Manila menghasilkan Persetujuan Manila atau Manila Accord yang ditandatangani tanggal 31 Juli 1963. Salah satu pasal dalam Manila Accord menyebutkan hak penentuan nasib sendiri atau referendum di wilayah-wilayah yang diklaim sebagai bagian dari Federasi Malaysia. Adapun pelaksanaan dan hasilnya diserahkan kepada PBB. Namun, belum lagi tim bentukan PBB bekerja, secara sepihak Malaysia dan Inggris mengumumkan deklarasi Federasi Malaysia pada tanggal 16 September 1963.
Tindakan sepihak tersebut, dipandang Indonesia sebagai pengingkaran terhadap kesepakatan damai Manila Accord. Akhirnya, terjadilah pergeseran pasukan secara masif di perbatasan Indonesia-Malaysia, baik disekitar Selat Malaka maupun Kalimantan. Sementara itu, masyarakat dari dua belah pihak pun turut “memanaskan” suhu konfrontasi. Demonstrasi kerap terjadi di sekitar kedutaan besar masing-masing.  Puncaknya, tanggal 21 September 1963 Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.
Penyerangan dan penghinaan terhadap lambang negara RI (Garuda Pancasila) di Kedubes RI di Kuala Lumpur membangkitkan kemarahan Presiden Soekarno. Melihat kian meredupnya peluang penyelesaian secara diplomatik, akhirnya tanggal 3 Mei 1964 Presiden Soekarno dalam rapat raksasa di Jakarta mengumandangkan Komando Dwikora, yang berbunyi: (1) Perhebat ketahanan revolusi Indonesiadan (2) Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak, dan Sabah untuk membubarkan Negara Boneka Malaysia.
              Komando Dwikora menjadi puncak dari konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan jargon Ganyang Malaysia. Berbagai angkatan berbenah untuk menindaklanjuti Komando Dwikora ini. Salah satunya adalah KKO-AL. Sebagai salah satu pasukan berkualifikasi khusus, KKO-AL secara simultan melaksanakan serangkaian latihan operasi yang bersifat khusus pula seperti infiltrasi, demolisi, sabotase, gerilya, dan antigerilya, serta operasi intilijen dan perang hutan. Latihan infiltrasi, gerilya, dan perang hutan menjadi fokus utama mengingat kondisi medan Kalimantan sebagian besar  berupa  bukit-bukit berlembah yang diselimuti hutan rimba lebat. Sementara untuk menghadapi medan operasi di sekitar Selat Malaka, KKO-AL menambahkan serial latihannya dengan materi renang tempur, infiltrasi, dan sabotase melalui laut.
           Guna menjaring prajurit-prajurit yang memenuhi standar tersebut, KKO-AL melaksanakan serangkaian seleksi personel. Janatin, yang pangkatnya telah dinaikkan menjadi Prajurit II KKO-AL setelah bertugas dari Irian Barat, berhasil lulus seleksi dan mengikuti latihan khusus di Cisarua, Bogor, selama satu bulan pada bulan April 1964. Adapun materi pendidikan meliputi intelijen dan kontra-intelijen, sabotase, demolisi, gerilya, dan sebagainya. Pelatihan khusus ini dikomandani Mayor KKO Budi Prayitno dan Letnan KKO Harahap sebagai wakilnya. Setelah lulus dari pendidikan khusus di Cisarua, Prako II Janatin kemudian ditempatkan di OperasiA/Koti, di Pulau Sambu.
      Untuk memperkuat Operasi A/Koti, KKO-AL mengerahkan sekitar 300 personel mulai dari pangkat perwira hingga kopral. Kesatuan-kesatuan yang tergabung dalam Ops. A selanjutnya dibagi menjadi beberapa tim dengan sandi Brahma dan berada di bawah kendali dua basis. Basis II bertugas mengkoordinasikan operasi di Semenanjung Malaya dan Basis VI bertugas di wilayah Kalimantan Utara.
Janatin bertemu dengan Tohir dan Gani bin Arup di Pulau Sambu karena berada dalam satu kesatuan, yaitu Tim Brahma I yang dipimpin Kapten KKO Paulus Subekti.  Janatin, Tohir, dan Gani mendapat tugas yang sama yakni melakukan infiltrasi sekaligus mengadakan sabotase di instalasi militer Inggris di Singapura.
    Saat memperoleh perintah untuk melaksanakan infiltrasi dan kegiatan intelijen ke wilayah Singapura, Janatin ditunjuk sebagai Komandan Tim, karena dinilai lebih senior dan memiliki pengalaman kemiliteran. Namun kelemahannya, Janatin “buta” dengan situasi Singapura. Tohir, justru sebaliknya, sangat paham dengan situasi Singapura, bahkan hafal gang-gang kecilnya. Oleh sebab itu, Janatin banyak memperoleh informasi mengenai Singapura dari Tohir.
Guna mengelabui agen-agen rahasia atau informan Inggris dan Malaysia, Janatin mengganti namanya menjadi Usman bin Haji Muhammad Ali dan Tohir menjadi Harun bin Said. Bersama dengan Gani bin Arup, Usman dan Harun menyamar sebagai pedagang yang kerap hilir mudik dengan menggunakan perahu kecil. Dengan berkedok pedagang keliling, ketiganya banyak mendapatkan keterangan serta leluasa melakukan pengintaian di beberapa objek vital. Ketiganya berhasil masuk ke Singapura dan kembali ke basis dengan selamat sebanyak dua kali. Di basis Sambu inilah, didiskusikan beberapa titik sasaran beserta kemungkinan dampaknya.
Pada tanggal 9 Maret 1965, ketiga prajurit komando ALRI tersebut berhasil masuk ke tengah kota Singapura. Dengan pertimbangan yang matang, ketiganya lalu sepakat bahwa sasaran utama mereka adalah gedung megah yang terletak di Orchard Road dan tidak jauh dari Istana Kepresidenan Singapura, yaitu MacDonald House. Disinlah bom meledak pada tanggal 10 Maret 1965. Ledakan tersebut merusak beberapa bangunan dan menewaskan 6 orang meninggal dunia dan puluhan luka-luka.
Mereka lalu berencana kembali ke pangkalan. Meskipun berhasil menyamar dengan menaiki Kapal Begama yang hendak menuju Bangkok, namun mereka ketahuan oleh pemilik kapal dan disuruh untuk meninggalkan kapal esok harinya. Saat diturunkan, mereka mendapati sebuah sebuah motor boat yang dikemudikan seorang Tionghoa. Keduanya lalu nekad merampas morot boat tersebut dan membawanya berlayar menuju Pulau Sambu. Malang di tengah perjalanan mesin kapal tiba-tiba macet sehingga terombang-ambing di laut. Akhirnya pukul 09.00 pagi tanggal 13 Maret 1965 keduanya ditangkap patroli polisi perairan Singapura.
Setelah melalui proses identifikasi dan diketahui sebagai anggota KKO-AL, Usman dan Harun kemudian diajukan ke pengadilan tanggal 4 Oktober 1965. Hakim J. Chua menolak mengategorikan mereka sebagai tawanan perang, dengan alasan tidak mengenakan seragam militer. Pada tanggal 20 Oktober 1966, pengadilan berdasarkan Pasal 302 Penal Code 119 menjatuhkan hukuman gantung sampai mati. Upaya banding dari dua prajurit KKO-AL menemui jalan buntu, bahkan ketika diajukan Privy Council di London tidak membuahkan hasil. Pada tanggal 12 Mei 1968, Privy Council  secara resmi menolak banding, tanpa proses persidangan sama sekali.
      Sementara itu, situasi politik Indonesia menjelang akhir tahun 1965 juga terjadi perubahan yang signifikan. Era kepemimpinan Soekarno beralih ke Soeharto sejak tahun 1967. Dengan demikian upaya pembebasan Usman dan Harun kini beralih Presiden Soeharto. Peralihan kekuasaan itu membuka babakan baru dalam hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Singapura dan Malaysia. Di bawah kepemimpinan Soeharto dengan rezim Orde Barunya, dilakukan normalisasi hubungan dengan Malaysia dan Singapura. Republik Singapura sendiri resmi memperoleh kemerdekaan dari Imggris tanggal 9 Agustus 1965.
    Pada tanggal 15 Oktober 1968, Presiden Soeharto mengirim utusan pribadinya Brigjen TNI Cokropranolo ke Singapura untuk menemui Presiden Singapura Yusof bin Ishak dan Perdana Menteri Lee Kwee Yew. Namun, pemerintah Singapura tetap menolak permintaan pembebasan atau keringanan hukuman Usman dan Harun. Pada hari Rabu tanggal 16 Oktober 1968 pukul 18.00 pemerintah Singapura mengumumkan pelaksanaan hukuman mati tetap dilaksanakan esoknya, tanggal 17 Oktober 1968.
     Saat itulah, para pejabat negara Indonesia tersebut terkagum-kagum melihat ketabahan dan keteguhan dari dua prajurit KKO-AL itu. Tidak terlihat perasaan takut atau putus asa sedikitpun walau hukuman gantung telah menanti mereka. Usman dan Harun tetap dieksekusi gantung pada tanggal 17 Oktober 1968 pukul 06.00 di penjara Changi, Singapura.
Setelah pelaksanaan eksekusi, utusan pemerintah Indonesia Dr. Ghafur dibantu empat pegawai KBRI mengurus jenazah keduanya. Meskipun dipersulit akhirnya, jenazah baru dapat diterbangkan ke Indonesia pada pukul 14.00 dengan menggunakan pesawat dari TNI AU. Pemakaman Usman dan Harun dilakukan dalam sebuah upacara militer pada tanggal 18 Oktober 1968 pukul 13.00 di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan Inspektur Upacara Letnan Jenderal TNI Sarbini. Keduanya dimakamkan berdampingan sesuai keinginan mereka sebelum meninggal.
         Berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 050/TK/Tahun 1968 tanggal 17 Oktober 1968, Usman dan Harun dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan tanda kehormatan Bintang Sakti. Kemudian, sebagai penghargaan atas jasa dan pengorbanan mereka, pangkat Janatin alias Usman bin Haji Muhammad Ali dinaikkan menjadi Sersan Satu (Anm) KKO-AL dan pangkat Tohir alias Harun bin Said dinaikkan menjadi Kopral (Anm) KKO-AL.
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia secara resmi dibuka kembali pada tanggal 31 Agustus 1967 tepat hari ulang tahun kemerdekaan Malaysia yang ke sepuluh. Dibukannya kembali hubungan diplomatic ini menunjukkan berakhirnya konfrontasi yang telah dilakukan selama ini. Ketegangan dengan Singapura mereda praktis setelah kunjungan PM Lee Kuan Yew ke Indonesia. Ketika akan berkunjung ke Indonesia pada tahun 1973, Presiden Soeharto mempersilahkan kunjungan PM Lee Kuan Yew, tetapi dengan satu syarat, yaitu ia harus melakukan ziarah ke makam pusara kedua Pahlawan Nasional tersebut di TMP Nasional Kalibata. Entah apa yang dipikirkan PM Singapura itu, dengan tangannya sendiri ia mau meletakkan karangan bunga di atas makam kedua pahlawan itu. Sejak kunjuangan PM Lee Kuan Yew ke makam Sertu KKO-AL (Anm) Usman Janatin dan Kopral KKO-AL (Anm) Harun tersebut, praktis hubungan kedua negara kembali menjalani babak baru.[]
Untuk Memesan BUKU USMAN JANATIN, Silahkan hubungi DISINI.

Saturday, June 29, 2019

Pengantar Penulis Buku Menebar Serpih Asa

Buku Menebar Serpih Asa
Puji syukur selalu senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat serta hidayahnya sehingga dapat menyelesaikan penyusunan buku ini. Tujuan penulisan buku ini sederhana, yaitu mengabadikan kisah. Dalam buku ini berisi segala lika-liku seorang guru ladang sawit. Ditengah perjuangan dan pengabdian di Sabah, Malaysia, selalu terbesit ingin mengabadikan da menuliskannya.
Solawat serta salam tidak lupa selalu dihaturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang telah menyelamatkan kita dari jaman Jahiliyyah, sehingga kita dapat memiliki kemampuan untuk menangkap ilmu pengetahuan secara maksimal.
Penyusunan buku ini penuh dengan perjuangan, penuh dengan lika-liku, dan penuh dengan tawa-haru. Pada dasarnya penyusunan buku ini sebagai wacana bagi saya untuk selalu mengingatkan dari diri sendiri dan terutama anak. Buku ini akan menjadi pengingat bagi saya dan keluarga tentang kehidupan saya di negeri rantau.
Saya mempunyai keinginan untuk menuliskan beberapa kisah dalam kehidupan pribadi, keluarga ataupun dalam bermasyarakat yang telah saya jalani ini, dengan maksud agar dikemudian hari saya bisa berkaca pada perjalanan hidup saya yang pernah saya lalui, agar dikemudian hari saya dapat berbuat lebih baik lagi. Manusia itu tempatnya salah dan lupa, itulah salah satu bijak yang memotivasi saya untuk menuliskan kisah tentang kehidupan saya. Selain untuk bahan refereansi namun juga dapat digunaka untuk introspeksi diri agar kita dapat selalu bersyukur dengan apa yang telah kita dapatkan selama ini.
Penyelesaian buku ini tentu dengan bantuan banyak orang. Tidak lupa saya ucakan terima kasih kepada semua pihak, karena tanpa bantuan dari berbagai pihak mungkin penulis tak akan bisa menyelesaikan buku ini. Terimakasih pada kawan-kawan guru di Sabah, terutama Bu Aji yang sudah memberikan warna. Anak-anak di CLC Terusan 2 yang selalu memberikan semangat. Tidak lupa kedua orang tua dan istri tercinta, Yuli Windarti dan puteri kecil kami, Naira Ayudiasiya yang selalu memberikan motivsi dan doanya.
Buku “Menebar Serpih Asa” ini merupakan jilid II dari sekian jilid yang direncananakan, tergantung masa tugas di Malaysia. Jilid I sudah berhasil diterbitkan dengan judul, “Menggali Sebutir Makna”.
Buku ini hanya catatan pribadi, yang tentunya masih jauh dari kesempurnaan dan pastinya memuat berbagai macam kesalahan, untuk itu segalan macam kesalahan dalam buku ini kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Tidak ada gading yang tak retak, kami menerima segala macam masukan dan kritik. Segala kesalaah kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga saran dan kritik yang membangun akan menjadikan lebih baik dalam mengeluarkan edisi buku jilid berikutnya.

Sabah-Malaysia, 22 Februari 2019
Penulis



Wednesday, May 29, 2019

Mengawal Suara di Ladang Sabah, Catatan Pemilu Ketua KSK 04


Para Pekerja Migran Indonesia menyalurkan suaranya di Ladang Andamy, Sandakan, Sabah, Malaysia (9/4/2019)
Tanggal 21 Mei 2019 dini hari menjadi babak baru kehidupan berdemokrasi kita, tidak lain karena Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan pemenang Pemilihan Umum 2019. Hasilnya, Ir. H. Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin dinyatakan sebagai pemenang dari kompetitornya, H. Prabowo Subianto dan H. Salahudin Sandiaga Uno.
Prosentase kemenangan 55,50 % berbanding dengan 45,50 %. Hasil inilah cerminan dari proses panjang perjalanan pesta demokrasi kita. Segala upaya, biaya, daya, bahkan nyawa telah di berikan untuk mensukseskan pesta 5 tahunan ini.
Tercatat di data Kemenkes per 17 Mei 2019, bahwa 527 petugas KPPS meninggal dan 11.239 orang sakit. Tidak hanya didalam negeri pengorbanan itu diberikan, untuk menjaga setiap hak suara orang Indonesia, KPU membentuk Panitia Pemunguan Suara Luar Negeri (PPSLN) diberbagai penjuru dunia. Tidak mudah. Karena harus menembus berbagai birokrasi diberagai negara.
Salah satu PPSLN yang dibentuk di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang telah ditetapkan sebanyak 140.878 orang. Untuk TPS yang tercatat sebanyak 26 dan Kotak Suara Keliling (KSK) sebanyak 433 pada tujuh distrik, yaitu Sandakan-Kinabatangan, Kudat, Keningau, Labuan, Beafourt-Sipitang, Bandar Kota Kinabalu 1 dan 2.
Segala tantangan dan hambatan menjadi kendala tersendiri ketika melaksanakan pemilu di luar negeri. Tidak seperti di Indonesia, orang-orang Indonesia yang berada di Sabah telah bercampur dengan penduduk lokal maupun orang Filiphina yang terkadang kita sukar membedakaanya. Dan masih banyak tantangan lainnya.

Tantangan di Ladang
Hari Minggu, 7 April 2019 berkumpul para petugas KSK diseluruh Distrik Sandakan-Kinabatangan di Hotel Livingston, Sandakan. Tujuannya tidak lain mengambil logistik dan kotak suara untuk melakukan pemungutan suara esok harinya.
Pengambilan berjalan lancar, namun ada beberapa kendala. Salah satunya adalah terbakarnya mobil pengangkut KSK yang baru diambil di Sandakan. Peristiwa ini juga saya lihat sendiri, betapa api begitu ganas melumat segala isi, termasuk  mobilnya. Untung saja kawa saya selamat. Kejadian ini terjadi di jalan Jalan Sapi Nangoh-Paitan yang tujuannya akan dibawa ke wilayah kerja Perusahaan Sawit IJM dan Meridian.
Jarak tempuh yang jauh dan human eror menjadi penyebab utamanya. Perjalanan dari pedalaman sawit ke Bandar Sanadakan membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 12 jam perjalanan. Sungguh melelahkan. Sayangnya, di Indonesia sendiri peristiwa ini sudah dijadikan lahan penyebaran hoax.
Berbagai berita negatif dan berbau fitnah tersebar karena berita ini. Padahal peristiwa ini murni karena human eror. Dan sudah ditindak lanjuti oleh KPU RI untuk mengganti segala logistik yang terbakar.
Itu hanya salah satu contoh nyata, betapa pemilihan umum diluar negeri tidaklah mudah. Kerja yang berat ditambah isu yang terus menyerang menjadi ujian tersendiri. Seperti kisah saya sendiri, yang harus menempuh jalanan jauh dan berbatu untuk melayani hak suara mereka.
KSK yang saya pimpin adalah KSK 04 yang terletak di Perusahaan sawit Terusan 2 Estate dibawah naungan Wilmar Plantition. Selain itu, saya harus membantu kawan lainnya di ladang-ladang kecil. Seperti ladang Andamy, Kamansi Dua, dan Hiew Syn Kiong. Dan pemungutan suara itu tidak bisa dilakuakan dalam 1 hari.
Kami diberikan kesempata selama 3 hari untuk keliling ke ladang-ladang sawit itu. Udara panas, dan jarak yang jauh menjadi suguhan wajib. Terlebih lagi ladang kecil, yang terkadang hanya berpenghuni 20-40 orang Indonesia. Namun, mereka punya hak yang sama, selama dia bisa menujukan identitas sebagai Orang Indonesia, maka mereka berhak menentukan pilihannya.
Mereka punya hak untuk mengikuti pesta demokrasi 5 tahunan ini. Disini, mereka hanya mencolos 2 surat suara, yaitu suara pemilihan Presiden-Wakil Presiden dan DPR-RI. Banyak dari mereka yang tak paham, siapa orang yang didalam surat suara itu. Namun, dengan sosialisasi kecil-kecilan, semua berjalan lancar.
Tugas kami selesai ketika penyerahan kembali kotak suara ke Sandakan untuk kemudian dihitung di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu, Sabah. Tepat tanggal 17 April 2019 penghitungan suara dilakukan. Jarak dari Sandakan ke Kota Kinabalu sekitar 300 km, dan membutuhkan waktu 5-6 jam perjalanan. Di sana, semua petugas TPS dan KSK berkumpul menjadi satu untuk tujuan yang sama, yaitu rekapitulasi hasil dari pemungutan suara di ladang-ladang.
Terhitung 3 hari kami semua melakukan kegiatan itu, saya sendiri memulai jam 17.00 sore hingga selesai jam 01.00 dini hari. Waktu 7 jam itu hanya 2 surat suara, bisa dibayangkan betapa lelahnya kawan-kawan petugas yang ada di Indonesia karena menghitung 5 surat suara.
Selama proses 3 hari penghitunga suara, dihasilkan 87.227 orang Indonesia menggunakan hak pilihnya dari DPT 140,878. Suara untuk pasangan calon 01 sebanyak 71.109 orang dan pasangan calon 02 sebanyak 15.555 orang, sedangkan sisanya suara tidak sah. Artinya partisiasi orang Indonesia di Kota Kinabalu sebanyak 61,9 %. Prestasi dari partisipasi ini menjadi tanda selesainya tugas kami.

Kembali ke Indonesia Raya
Setelah semua pesta demokrasi ini selesai, bangsa Indonesia harus kembali berdaulat. Jhon Locke pernah mengatakan bahwa, kedaulatan rakyat pada hakikatnya sejalan dengan arti dan makna demokrasi, yaitu sebagai upaya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Kedaulatan rakyat inilah yang menjadi kekuasaan tertinggi di negara demokrasi.
Ini menjadi penting, karena kewajiban kita untuk selalu merawat kedaulata rakyat yang hampir lelah diserang bertubi-tubi akibat diserang isu-isu hoax yang berpotensi memecah belah bangsa. Pasca pemilu 2019 ini, semua pihak harus kembali pada persatuan, membangun Indonesia secara bersama-sama, dalam bingkai Indonesia Raya.[]

Friday, May 24, 2019

Sambutan Atdikbud KBRI Kuala Lumpur dalam Buku Menebar Serpih Asa

Menebar Serpih Asa

Assalamu’alaikuum Wr.Wb.

Menjadi pendidik adalah pengabdian, panggilan jiwa, bahkan keinginan besar (passion) para tenaga pendidikan (guru), termasuk penulis buku ini. Program pengiriman guru untuk mendidik anak-anak Indonesia di Malaysia sangat tepat, sebab tidak setiap guru mau ditempatkan di lokasi yang jauh, apalagi harus berpisah dengan keluarga dan di luar negara. Para guru terpilih harus siap meninggalkan kampung halaman demi mengajar anak-anak Indonesia di Sabah, Malaysia. Wilayah tersebut membutuhkan sentuhan para guru profesional karena di Sabah lah anak-anak Indonesia menggantungkan cita-citanya melalui pendidikan dasar yang diselenggarakan oleh pusat kegiatan belajar masyarakat (Community Learning Centre, CLC).

Meskipun di luar negeri, Pemerintah Indonesia tetap memberikan pelayanan akses pendidikan bagi siapa pun yang berstatus warga Negara Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Malaysia mendirikan sekolah-sekolah Indonesia dan juga CLC di Malaysia. Tujuannya jelas, untuk memberikan akses pendidikan yang bermutu bagi penyiapan masa depan generasi Indonesia sehingga kelak bisa ikut andil dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan Negara Indonesia.

Dalam rangka menyiapkan masa depan anak-anak Indonesia yang berada di perkebunan sawit di Sabah, pemerintah secara bertahap telah mengirim guru-guru terbaik di berbagai Community Learning Center di seluruh wilayah Sabah. Sudah banyak anak-anak Indonesia yang kembali ke Indonesia dan melanjutkan pendidikannya. Semua itu berkat usaha yang tak kenal lelah dari guru-guru hebat yang mendedikasikan dirinya di Sabah. Bahkan, dari usaha dan kerja keras mereka, sudah berhasil mencatatkan berbagai nama alumnus hingga ke perguruan tinggi bergengsi di Indonesia.

Selain melaksanakan tugasnya, guru memang sepatut-nya untuk menulis. Karena dengan menulis, setiap guru dapat mengabadikan pemikiran dan gagasannya. Semakin banyak guru menghasilkan tulisan berupa buku, maka akan semakin maju dunia pendidikan Indonesia. Maka dari itu, dibutuhkan guru-guru muda yang bersemangat untuk menulis.


Semangat menulis inilah yang akan menghasilkan output berupa buku-buku yang akan dirujuk oleh masyarakat di masa mendatang. Masyarakat akan disuguhkan pemikiran-pemikiran dan pengalaman-pengalaman dari guru tentang dunia pendidikan. Tidak hanya itu, yang menjadi tujuan utama adalah mengantarkan masyarakat Indonesia menjadi negara yang berbudaya literer, yaitu sinkron nya budaya membaca dan budaya menulis.

Budaya literer itulah yang menjadi syarat utama untuk menjadikan sebuah bangsa menjadi maju. Kita bisa menulis dari hal-hal kecil terlebih dulu, salah satunya dengan menuliskan catatan harian. Catatan harian merupakan wadah yang tepat untuk mengasah kemampuan menulis. Catatan harian inilah yang menjadikan pijakan untuk menulis kisah-kisah pribadi yang menarik, terutama bagi seorang guru yang pasti mengalami kisah seru dan haru ketika berinteraksi dengan peserta didik.

Buku “Menebar Serpih Asa: Catatan Harian Guru Ladang Sawit Sabah-Malaysia Jilid 2” ini menjadi bukti bahwa sesibuk apapun menjadi seorang guru, masih ada waktu untuk menulis. Terutama menulis tentang pengalaman pribadi melalu catatan harian. Saya selaku Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini.

Kepada Cikgu Arif Saefudin, yang telah dengan tekun menyusun buku catatan harian ini saya sampaikan penghargaan. Jerih payah dan kerja keras saudara adalah bagian dari upaya untuk mengobarkan budaya literer bagi dunia pendidikan. Saya berharap buku ini menjadi pemantik dan inspirasi bagi guru-guru yang lainnya agar dapat memulai menulis dan menerbitkannya untuk mencerahkan masyarakat.


Selamat membaca.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Kuala Lumpur, 10 Maret 2019


Mokhammad Farid Maruf, Ph.D.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan

Saturday, May 11, 2019

Ayo Kita Pulang, Nak...Catatan Kecil Guru Ladang Sawit, Sabah-Malaysia

Bersama Anak-Anak Terusan 2
arifsae.com - Kita tidak pernah bisa memilih darimana kita dilahrkan. Dari orang tua seperti apa, atau dari lingkungan mana. Karena itu semua adalah hak “prerogratif” Tuhan. Tugas kita adalah berusaha menggapai harapan, cita dan asa yang kita impikan, karena sukses merupakan pertemuan antara persiapan dan kesempatan.

Itulah yang menjadi harapan saya. Disini. Di belantara himpitan Pohon Sawit, yang membentang dari ujung hingga ujung Negeri Sabah, Malaysia. Negeri Sabah merupakan wilayah negara bagian dari Kerajaan Malaysia yang termasuk kedalam 13 negara bagian dalam persekutuan Malaysia. Wilayah ini merupakan wilayah terbesar kedua, setelah Sarawak, dalam bagian persekutuan itu. Julukan untuk menggambarkan wilayah ini adalah Negeri di Bawah Banyu (Land Below the Wind).

Di rimbunnya Pohon Sawit Negeri Sabah telah menyimpan berbagai harapan dan kesempatan dari anak-anak “kandung” Indonesia. Iya. Di belantara sawit itu, lahir anak-anak Indonesia yang tak tahu jati diri mereka. Sebagian besar, mereka lahir karena mengikut orang tua yang memilih menjadi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Sabah. Ada yang berdokumen resmi secara legal, namun lebih banyak yang illegal. Mereka datang lewat jalur “Tikus”.

Malaysia merupakan negara favorit bagi para BMI ini. Menurut data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) pada tahun 2018, Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia hampir mencapai 3 Juta jiwa. Belum lagi yang tidak resmi. Dari data itu, kita bisa membayangkan berapa banyak orang Indonesia yang mengais rizki di negeri Jiran ini.

Jumlah TKI di Malaysia ini adalah yang terbesar di dunia. Meski banyak dijumpai kekerasan dan kasus, namun tidak bisa disangkal, Malaysia masih menjadi favorit bagi para pemburu kerja dari Indonesia. Alasan yang paling utama adalah faktor Ringgit. Mereka rela meninggalkan Indonesia demi setumpuk materi, dengan secara tidak langsung menelantarkan pendidikan anak-anak mereka.

Pendidikan mereka terlupakan. Ini disebabkan karena di Sekolah Kebangsaan Malaysia, tidak menerima orang-orang yang “berpassport”, apalagi mereka yang ilegal. Sehingga, puluhan ribu anak-anak Indonesai tak bisa menikmati lezatnya bangku sekolah. Salah satunya tentu diwilayah Sabah ini. Itulah mengapa, pemerintah hadir bagi anak-anak Indonesia di Sabah.

Menebar Serpih Asa
Peran pemerintah Indonesa untuk memenuhi pendidikan warga negaranya berlandas komitmen global untuk mencapai sasaran Education for All, yaitu sebuah gerakan untuk memberikan “pendidikan untuk semua”. Pemerintah juga mengeluarkan PP No. 28 Tahun 1990 tentang pendidikan dasar antara 7-15 tahun untuk mengenyam pendidikan wajib 9 tahun, tidak terkecuali mereka yang berada di luar negeri.

Proses pemberian layanan pendidikan di Malaysia tidak mudah, butuh proses yang panjang. Proses itu bahkan sudah dimulai dari era Presiden Megawati Sukarnoputeri pada tahun 2003 silam, dan baru terrealisasi pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2006. Dalam kesepakatan Annual Consultations 2006, disetujui akan dikirimnya guru-guru dari Indonesia untuk anak-anak di perkebunan Sawit.

Dari kesepakatan itu, dibentuklah sebuah LSM Humana Child Aid Society tahun 2006. Namun, dilihat dari perkembanganya, hasil output (ijazah) dari Humana tidak bisa digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Indonesia. Hal ini tentu disebabkan “kurikulum” yang digunakan Humana bukan kurikulum Indonesia, melainkan menggunakan kurikulum Malaysia.

Dari keadaan itu, maka secara tidak langsung mendorong terbetuknya Sekolah Indonesia. Dengan surat dari Kementerian Luar Negeri bernomor 120/DI/VI/2008/02/01 tertanggal 16 Juni 2008, yang meminta pada Kementerin Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendirikan sebuah sekolah Indonesia di Kota Kinabalu (Red: Ibu Kota Sabah). Hingga akhinrya, pertanggal 1 Desember 2008, diresmikan dan mulai berjalan secara operasional Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

Dalam perkembangannya, SIKK hanya bisa melayani anak-anak Indonesia yang berada disekitar Kota Kinabalu dan sekitarnya. Sedangkan anak-anak yang berada di ladang-ladang Sawit belum terjamah. Sehingga dicari sebuah solusi untuk menyediakan akses pendidikan untuk meraka. Karena semangat inilah, didirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau Pusat Pembelajaran Masyarakat (PPM), kalau dalam bahasa Inggris nya, Community Learning Centre (CLC).

Lewat perjanjian antara Presiden SBY dan PM Najib Tun Razak, dalam The 8th Annual Consultations di Lombok pada 20 Oktober 2011 ditanda tangani sebuah kesepakatan secara legal dan formal tentang pendirian CLC tersebut dan efektif berlaku mulai tanggal 25 November 2011.

Pada akhir 2018, sudah didirikan 114 CLC Sekolah Dasar (SD) dan 45 CLC Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar diseluruh pelosok penjuru Ladang-Ladang Sawit di seluruh Sabah. Kesempatan inilah yang membuat kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Tujuan utama dari program ini tentu tidak lain dan tidak bukan adalah, mengembalikan mereka ke Indonesia. Mengejar mimpi, meraih cita-cita dan menggapai kesuksesan.

Menuju Puncak Cita
Saya teringat pepatah, Harimau tidak akan mendapatkan mangsa apabila tidak keluar dari sarangnya. Begitupun dengan saya, harus keluar “sarang” untuk mendapatkan “mangsa”. Iya, sejak 2017 saya ditugaskan oleh Pemerintah Indonesia menjadi salah satu bagian dari ratusan guru-guru Indonesia yang ditugaskan di CLC-CLC di Sabah.

Tantangan baru yang saya temui tentu tidak akan didapatkan di Indonesia. Ini luar negeri. Ini Malaysia. Ini Sabah. Bahkan, kata kawans saya, “Sabah Keras”. Keras karena disini suhu bisa sangat panas. Bahkan, pernah mendekati 35 derajat Celcius. Keras karena rumah-rumah guru tidak semewah rumah di Indonesia. Jangan membayangkan Sabah seperti wilayah Semenanjung dengan Menara Peronasnya.

Kami, guru Indonesia yang berada di Sabah mendapatkan fasilitas dari Company atau pihak ladang. Kata kawan saya, “Fasilitas yang akan didapat tergantung amal dan perbuatan di Indonesia.” Joks semacam itu kadang membuat kami terawa, memang ada benarnya. Kalau company itu besar, kemungkinan fasilitas juga baik. Namun apabila company itu kecil, bisa dipastikan, hanya pasrah dan doa yang menyertai langkah.

Misalkan, ada yang rumahnya dari kayu dan rusak. Ada yang tanpa sinyal sama sekali. Ada yang listrik hanya 6-8 jam sehari. Bahkan ada yang perjalanan dari jalan besar utama ke rumah menempuh 2 jam. Bagaimana kami memenuihi kebutuhan? Untuk memenuhi kebutuhan kami keluar ladang untuk ke kota (Bandar). Kalau ada toko (kedai) itu bisa menjadi alternatif, tentu dengan harga yang lebih mahal.

Lalu, sekolahannya seperti apa? Sekali lagi, jangan membayangkan sekolah di Indonesia. Kondisi sekolah hampir sama dengan rumah, tergantung Company. Namun ada beberapa perbedaan antara CLC satu dengan lainnya, yaitu jam belajar. Hal ini disebabkan karena harus berbagi jam dengan Humana. Apabila di ladang itu ada Humana, makan bisa dipastikan proses belajar CLC dilakukan siang hari, antara jam 14.00.-17.00 waktu Sabah. Namun, apabila diladang itu tidak ada Humana, pembelajran bisa dilakukan pagi hari.

Kondisi bangunan pun tidak bisa disama ratakan. Ada yang hanya dari kayu, ada juga yang sudah bertembok. Terkadang, yang membuat kami merasa “special” disini karena dituntun untuk menjadi manusia setengah “dewa”. Mengapa? Karena kami harus tau segalanya. Dari urusan sekolah sampai kemasyarakatan. Secara administrasi kami dianggap selayaknya sekolah umum di Indonesia, yang mendapatkan Dana Operasional, menginput Dapodik dan tentu beban se-abreg yang menimpa kami. Dari Kepala Sekolah, Guru, Tata Usaha, kantin, bahkan petugas pembersih jadi satu.

Belum lagi, kami harus menempuh ke Tempat Kegiatan Belajar (TKB), semacam cabang dari CLC, untuk belajar disana. Tidak tanggung-tanggung, puluhan kilometer harus kami tempuh untuk sampai di TKB-TKB itu. Ditambah karena disini kekurangan guru, kami harus meng-handle mata pelajaran yang bukan menjadi passioan kami. tapi itulah keadaan disini, lingkungan dan kondisi geografis yang memaksa kami untuk menikmatinya. Termasuk menikmati proses belajar dengan anak-anak BMI ini.

Kami harus benar-benar memulai dari awal, karena sebagian mereka lahir di Sabah. Tidak tahu kekayaan budaya yang ber-bhinneka di Indonesia. Mereka hanya mengenal asal mereka dari sukunya. Mereka menyebut “suku” dengan sebutan “bangsa”. Apabila ada pertanyaan, “Apa Bangsa kamu?”, mereka akan menjawab, “Bangsa saya Bugis, Bangsa saya Timor, Bangsa saya Jawa.”

Tapi itulah tugas kami disini. Mengenalkan “kecantikan” Ibu Pertiwi, dan membujuk mereka untuk kembali dan membangun negeri. Dengan proses pembelajaran yang seadanya, kami mencoba memaksimalkan segala potensi dan sumber daya yang dimiliki untuk menggajak mereka kembali ke Indonesia, tentu dengan jalan melanjutkan sekolah di Indonesia. Salah satu caranya dengan program beasiswa.

Meraih Segudang Bahagia
Saat ini, sudah ratusan siswa yang dikembalikan ke Indonesia dengan berbagai program beasiswa. Salah satunya adalah beasiswa repatriasi Sabah Bridge dan Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Sudah banyak dari alumnus-alummnus CLC di Sabah yang melanjutkan sekolahnya di Indonesia, bahkan sampai perguruan tinggi.

Sejak tahun 2015-2018, sudah ada 453 peserta didik yang melanjutkan sekolah diberbagai penjuru sekolah di Indonesia. Bahkan sudah ada yang sampai perguruan tinggi bergensi di dalam dan luar negeri. Itulah kebanggaan dan kebahagian tertinggi kami sebagai guru ladang di Sabah, Malaysia ini.

Saya sendiri bertugas di CLC SMP Terusan 2, lokasi yang bernaung di Company Wilmar ini memberikan fasilitas yang memadai. Proses pembelajaran dilakuakn sore hari, karena paginya digunakan oleh Humana. TKB yang CLC Terusan 2 miliki ada 3, TKB Andamy, TKB Terusan 1 dan TKB Rumidi. Dan saya menjadi “pengelola”, semacam kepala sekolah mini dari CLC Terusan 2 sejak 2017 hingga kini (2019).

Meski dengan fasilitas yang serba terbatas, kami selalu menggaungkan dan mengajak mereka untuk selalu berusaha dan membuka mindseet mereka. Minimal, mereka harus berusaha lebih baik dari orang tuannya yang bekerja sebagai BMI di Sabah. Mereka bisa. Mereka mampu. Mereka mau untuk pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Begitulah. Hak-hak mereka sebagai warga negara tetap berusaha dipenuhi untuk mengenyam pendidikan. Sehingga mereka bisa memanen hasilnya kelak, menyimpannya dalam setumpuk gudang bahagia. Tentunya untuk turut serta berkontribusi membangun Indonesia. Tidak ada jalan lain, saat ini, kami sebagai guru, mempunyai kata-kata sakral, “Ayo kita pulang, Nak…”[]

Friday, April 12, 2019

Coming Soon Jilid 2 : Menebar Serpih Asa

Menuju Jilid 2

Saturday, March 2, 2019

Sawit Pahit [Sebuah Puisi Esai]

Sawit
/1/

Rapuh tatapan tajam ke Sawitan itu,
tak lagi rindang, enam tahun yang lalu.
Jejak langkah akan meninggalkannya,
menjadi serpihan masa lalu.

Sebelum langkah menjejak arah itu, hatinya menjerit;
mendiamkan ramai riuh kenangan.
Dibukanya pintu rumah: hitam pelataran Terusan,
menjadi taman bermain sejak pertama berjalan.

Teringat hari sebelum hari ini
Ketika tangisan ramai setiap hari
Seperti raungan mesin Beggo dipelataran rumah
Mengaum seperti raja hutan menakuti musuh

Sebut saja namanya Fitri, Nurul Safitri binti Salimi–
kesucian hidup artinya.
Nama indah yang berjejar rapi
Menadakan khas nama Malaysia.

Waktu itu dia lahir di Malaysia-
Lahad Datu tepatnya.
Negeri hamparan Sawit di Bawah Bayu
Sabah yang ramah.

Ia pindah, berkali-kali.
Mengikuti langkah arah ibunya, Salimi.
Semua berubah berbeda
Setelah peristiwa invasi dari Abu Sayaf

Apa arti kebangsaan bagiku?
Lirih hatinya menanyakan pada dirinya
Jutaan orang meninggalkan negaranya
Untuk mencari Ringgit di belantara Sawit

/2/
Ibunya, dari negeri Zamrud Khatulistiwa
Ayahnya, orang tempatan Malaysia
Mereka terikat dalam ikatan manusia
Mengagungkan nilai-nilai cinta

Mengharpkan hidup bahagia
Ditengah hamparan sawit,
Kampung Tanduo tepatnya,
30 km dari Lahad Datu

Hingga hari itu datang,
Menyeruak digelapnya malam
Hukum ditelantarkan, segerombol orang datang
Ratusan jumlahnya,
Yang terdengar hanya ketakutan

Seranggan Pengganas Penceroboh Sulu
Suara Takhta Sulu menggema
Menuntut warisan Sultan Brunei
Itu miliku, itu hakku

Langit menghitam oleh letusan peluru
Dari dalam rumah-rumah
Semua terperanga, tak ada yang merasa terjaga
Melindungi diri sendiri dari kemelut

Ada yang memilih menyelamatkan diri
Dari para pengganas yang ganas
Yang siap merampas dan menerkam
Yang siap membunuh orang melawan

Operasi Daulat di daulatkan
Untuk menjinakan pengganas
Di Kampung Tanduo dan Tanjung Batu
Juga di bagian Sabah lainnya

Banyak korban bergelimangan
Menggelepar-gelepar
Memerah banjir darah
Termasuk ayahnya, Abdul Kardir.

/3/
Safitri bersema ibunya mengungsi
Felda Sahabat mnawarkan persinggahan
Bersama sejumlah warga tempatan dan imigran
Memikirkan masa depan, dimana untuk hari kedepan?

Hari-hari setelahnya setelah Hari Berdarah
Safitiri belum tahu apa yang sebenarnya terjadi
Ingatan dan tubuhnya belum mampu
Ibunya membawanya pergi dari kenangan

Sempat pindah ke Sekar Imej
Yang jauh dari keramaian
Sempat ke Andamy
Yang menawarkan kedekatan
Hingga pelabuhan berakhir di Terusan

Hari beganti menaati kodrat ilahi
Ia tumbuh menjadi gadis Sawit
Berkenalan dengan sambutan
Sudut-sudut tak berujung blok-blok

Ketika umur terus menambah
Fitri tak bisa membaca menulis
Celaka, sungguh celaka
Apa yang Negara perbuat padaku?