Friday, May 18, 2018

Momentum Reformasi Dunia Pendidikan


Kesenian

Monday, May 14, 2018

Onje Sebagai Akar Sejarah Kabupaten Purbalingga

Agenda Grebeg Onje 2017
arifsae.com - Sejarah berasal dari bahasa Arab ‘sajaroh’, yang artinya pohon. Konstruksi anatomi pohon terdiri dari tiga komponen utama, yaitu  akar, batang dan buah/daun.  Dengan demikian, sejarah bisa dimaknai sebagai anatomi ‘pohon peradaban’ yang terdiri dari akar masa silam, batang masa kini, dan buah masa depan.  Jadi, sejarah merupakan kesatuan tiga dimensi waktu  (masa silam, masa kini dan masa depan) yang menjadi ruang tumbuh kebudayaan manusia. Batang pohon masa kini tidak bisa dipisah dari akar masa silam.  Batang pohon yang terputus dari akarnya akan mati dan mustahil bisa memproduksi buah.  Purbalingga sebagai sebuah tatanan sosial, adalah juga sebuah ‘pohon’ peradaban yang harus terus dicari persambungan akar nilai kesejarahannya.

Transisi Majapahit → Demak Oleh Wali Sanga
Pasca Majapahit, Islam mendapat momentum sejarah untuk hadir dan terlibat sebagai subyek nilai di dalam proses politik Nusantara. Demak merupakan hasil karya peradaban Bangsa Nusantara pasca Majapahit. Sebuah tatanan sosial yang dikonstruksi berdasarkan nilai-nilai Islam. Keruntuhan Majapahit tahun 1479 M yang dikenal dengan istilah ‘sirna ilang kertaning bumi’ adalah peristiwa paling tragis dalam sejarah Nusantara. Berbagai konflik internal keraton dan bencana alam berupa semburan lumpur di daerah Canggu membuat keutuhan Majapahit gagal dipertahankan. Kerajaan yang sedemikinan besar dan menjadi kebanggaan Bangsa Nusantara ini ‘luluh lantak’ di lantai sejarah. Tokoh-tokoh Islam yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga mencoba menawarkan alternatif solusi untuk merespon tragedi akbar tersebut. Keputus asaan bangsa nusantara mencoba dibangkitkan kembali dengan dibangunnya kerajaan atau kesultanan Demak. Ide Wali Sanga inilah yang menjadi episode baru tatanan politik Nusantara.

Demak berhasil mengutuhkan kembali puing-puing peradaban Nusantara. Tatanan dengan nuansa dan atmosfir baru ini seperti semilir angin pantai yang meyegarkan kembali jiwa bangsa nusantara yang sempat depresi akibat tragedi sirna ilang kertaning bumi. Wali Sanga adalah konseptor yang meletakan batu bata sejarah peradaban Nusantara pasca Majapahit. Setelah sebelumnya di era pra Demak,  kebudayaan Nusantara diinspirasi oleh konsep nilai Hindu-Budha. Demak sebagai pusat kekuasaan tentu sangat efektif sebagai sarana penyebaran Islam di Nusantara. Kerajaan Islam besutan Wali Sanga ini kemudian berlangsung hingga beberapa kali pergantian Raja. Dimulai dari Raden Patah (1500 – 1518), lalu digantikan putranya yaitu Pati Unus (1518 – 1521). Setelah Pati Unus Wafat, tahta kerajaan dipegang oleh adiknya yang bernama Sultan Trenggono (1521 - 1546). Kemudian putra Sultan Trenggono yang bernama Sultan Prawoto atau pangeran Mukmin (1546 – 1549) menjadi raja terakhir kerajaan Demak.

Sepeninggal Sultan Prawoto, Wali Sanga kemudian berinisiatif memindahkan pusat konsentrasi perjuangan Islam ke daerah pedalaman Jawa, yaitu Pajang, di daerah Surakarta. Murid pinunjul Sunan Kali Jaga yang bernama Jaka Tingkir alias Mas Karebet yang mendapat ‘titah langit’ untuk menjadi Raja pertama pedalaman Jawa dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Dari Pajang lah kemudian syiar Islam merambah di wilayah pedalaman Jawa. Konsepsi Islam terus menjadi inspirasi perjalanan sejarah hingga ke berbagai level tatanan sosial.

“Tѐtѐsing Madu, Rembesing Kusuma” - Bibit Unggul ‘Pohon’ Purbalingga -
Salah satu daerah pedalaman Jawa yang tidak bisa lepas dari eksistensi politik Pajang  adalah Purbalingga. Bahkan hubungan Purbalingga dan Pajang bisa dibilang sebagai hubungan istimewa karena berkait langsung dengan urusan Trah Raja Pajang. Dari sinilah terlihat bahwa Purbalingga sesungguhnya memiliki garis sejarah yang kuat dengan Pajang. Garis sejarah tersebut tentu bisa menjadi modal moral dan spiritual bagi Purbalingga masa kini untuk menemukan martabat dan harga diri sejarahnya. Hubungan antara Purbalingga dengan Pajang menjadi istimewa karena Pajang merupakan kerajaan Islam pertama yang berhasil didirikan di daerah pedalaman Jawa. Artinya, Purbalingga memiliki tali sejarah yang tersambung dengan artefak penting dalam sejarah pekembangan Islam, yaitu Pajang. Berikut uraian lengkap yang menjadi fakta bahwa Purbalingga memiliki ketersambungan darah sejarah dengan Pajang.

Ki Tepus Rumput, tokoh inilah yang mengawali cerita  babad Onje.  Beliau merupakan tokoh sentral keberadaan Kadipaten Onje pada masa lampau. Diceritakan Sanurji (juru kunci makam Adipati Onje), ketika itu di suatu tempat masih dalam keadaan alas (hutan) gung liwang-liwung. Tempat tersebut berada di sebelah timur gunung Slamet. Dialah petualang yang berasal dari bang kulon (wilayah barat). Nama sang petualang itu Ki Tepus Rumput. Dalam perjalanannya Ki Tepus Rumput singgah di suatu tempat. Duduk di atas sebuah batu dan bersandar pada pohon jati sambil beristirahat. Ternyata pohon jati yang digunakan untuk bersandar Ki Tepus Rumput berbau wangi. Tempat peristirahatan itu sekarang di kenal dengan nama Jati Wangi. (menurut  Sanurji).

Kemudian mendengar suara kokok ayam jantan dari arah tenggara. Dengan mendengar kokok ayam tersebut Ki Tepus Rumput menduga, ada manusia lain yang mendiami tempat itu. Ki Tepus Rumput mencari tempat asal suara kokok ayam, ternyata ada sebuah padepokan yang dihuni oleh Ki Onje Bukut. Di sekeliling  padhepokan itu ditumbuhi banyak pohon burus.   Ki Tepus Rumput juga ditemui oleh sosok manusia, yang bernama Ki Kantharaga. Dalam pertemuannya itu Ki Tepus Rumput di suruh bertapa di wetan gunung gede (Gunung Slamet) yang bernama bukit Tukung. Ternyata Ki Kantharaga setelah memberikan wejangan dan perintah kemudian menghilang. 

Karena  tempat pertemuan antara Ki Tepus Rumput, Ki Onje Bukut dan Ki Kantharaga banyak ditumbuhi pohon burus maka tempat itu dinamakan Onje (bunga/kembang pohon burus). Petualangan Ki Tepus Rumput   sekaligus  merupakan suatu perjalanan ritual berupa bertapa. Dalam  bertapa tersebut mendapatkan suatu wisik (ilham) agar mengikuti suatu sayembara yang diselenggarakan Sultan Pajang. Sayembara tersebut dilaksanakan karena Cincin milik Sultan Pajang yaitu Socaludira hilang. Cincin tersebut masuk ke jumbleng (jamban),  dan belum ada yang dapat menemukannya. Isi sayembara tersebut, bahwa barang siapa yang dapat menemukan Cincin Sultan Pajang maka apabila seorang perempuan akan dijadikan istri dan apabila seorang laki-laki  dihadiahi Garwa Selir Sultan yaitu Putri Adipati  Menoreh yang bernama Kencana wungu dan tanah seluas dua ratus grumbul.

Dalam mengikuti sayembara di Keraton Pajang, Ki Tepus Rumput  berhasil menemukan Cincin Socaludira  milik Sultan Hadiwijaya.  Maka ditepatilah janji Sultan Hadiwijaya bahwa kalau yang dapat menemukan seorang laki-laki maka akan diberi hadiah garwa selir.  Yaitu seorang putri yang berasal dari Menoreh anak dari Adpiati Menoreh. Maka sang Sultan pun memberikan hadiah tersebut dengan disertai pemberian lainnya yaitu berupa tanah seluas 200 grumbul dan diberi julukan atau “Sinebut Ing Ngaluhur, Kiyai Ageng Ore-Ore”.  Sultan Hadiwijaya berpesan bahwa sang putri jangan sekali-kali “digauli”.  Dalam naskah Babad  Onje disebutkan,

“Ingkang abdi sami boten saguh  mendhet, amung Kyai Ki Tepus Rumput   ingkang saged mendhet. Lajeng dipunpaikani dinamelan sumur ing sandhingipun, nunten kepanggih kagungan dalem supe, lajeng kapundhut kalih Kanjeng Sultan Pajang, dhawuhe Kanjeng Sultan, “ingsun ora wani-wani, sapa kang anemokaken manira paringi bojo ingsung bocah desa asal Menoreh, Putrane Kyai Dipati Menoreh, iya rawatana, ananing iya wus meteng olih kapat tengah, iya iku poma-poma aja kowe tumpangi”.

Dari uraian tersebut menjelaskan bahwa Kadipaten Onje berhubungan erat dengan kerajaan Pajang. Kerajaan Pajang merupakan kerajaan Islam yang berdiri pada tahun 1568 M didirikan oleh Jaka Tingkir yang mempunyai nama lain Mas Karebet putra Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenongo, kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya. Kedudukannya sebagai Raja Pajang disahkan oleh Sunan Giri .

ONJE : Akar ‘Pohon’ Purbalingga
 Tidak ataupun belum ada  yang menyebutkan tahun berapa secara pasti kerajaan Pajang mengadakan sayembara yang dimenangkan oleh Ki Tepus Rumput. Setelah mengikuti sayembara dan berhasil mendapatkan hadiah dari Sultan Hadiwijaya, Ki Tepus Rumput  kemudian kembali ke arah barat,  yaitu ke dhusun Truka Onje  dengan disertai empat  orang pengawal yaitu:

1. Puspa Jaga
2. Puspa Kantha
3. Puspa Raga
4. Puspa Dipa  

Dengan demikian maka Ki Tepus Rumput   menjadi Adipati I  di Kadipaten Onje, dengan julukan Kyai Adipati Ore-Ore. Sebagai pusat Kadipaten berada di sebelah timur Sungai Klawing. 

Tibalah pada saatnya anak yang dikandung Putri Menoreh lahir, dan ternyata lahir bayi laki-laki. Ki Tepus Rumput memberitahukan kepada Sultan Pajang. Sultan Pajang bersabda;

“Ya kaulah yang merawat anak itu baik-baik, besok jika anak itu sudah mampu melayamkan tombak bawalah kemari”. 

Maka setelah tiba pada waktunya, dipersembahkanlah anak itu ke Keraton Pajang. Kemudian Sultan Hadiwijaya memberi nama atau gelar  Kyai Adipati Anyakrapati ing Onje, dengan ditandai upacara bupati serta diberi tanah seluas 800 grumbul. Selain itu juga diberi sentana kamisepuh atau pengikut kaum kepala desa sebanyak tujuh keluarga supaya menjadi pembantu di Onje.

Setelah menata pemerintahan dan dirasa sang Putra Sultan sudah mampu menjadi adipati  yang mumpuni, maka Ki Tepus Rumput  melanjutkan petualangannya menuju ke arah timur Kadipaten Onje.

Adipati Onje II kemudian dipegang oleh Anyakrapati. Adipati Anyakrapati menikah dengan dua orang wanita, yaitu Puteri Keling dari Jawa Barat, dan puteri adipati cipaku yang benama Rara Pakuwati. Pernikahannya dengan puteri keling tidak dikaruniai anak. Dari Rara Pakuwati, Adipati menurunkan tiga orang anak, yaitu Raden Mangunjaya, Raden Citra Kusuma dan Rara Banowati.  Dua orang Istrinya ini kemudian wafat oleh sebuah peristiwa di internal keluarga kadipaten.

Setelah dua orang istri adipati Anyakrapati meninggal dunia, beliau kemudian menikah lagi dengan puteri adipati Arenan yang bernama Nyai Pingen. Dari Istrinya yang ketiga inilah, lahir dua orang putra yang bernama Ki Wangsantaka dan Ki Arsantaka.

Dua orang dengan watak dan potensi yang pinunjul. Dua Jawara ini menarik untuk dikupas hingga ke ceruk terdalam ruang sejarah Purbalingga. Kakak beradik ini mengambil pilihan sikap yang berbeda dalam menjalani prinsip-prinsip sejati kemanusiaannya. Ki Wangsantaka memilih memegang idealisme Onje dengan meneruskan seluruh tata nilai yang dibangun leluhurnya. Sementara itu Ki Arsantaka memilih mengembara ke luar Onje dan berkarir di pemerintahan Belanda waktu itu. Dua sikap yang tampak berseberangan jika dilihat dari kulit luarnya. Tetapi jika kita bersedia untuk sedikit arif dalam melihat persoalan dan realitas di jaman itu, pilihan Ki Arsantaka tentu bukanlah keputusan yang keliru.

Ki Wangsantaka yang kuat memegang prinsip, dengan menolak berkompromi dengan Belanda waktu itu adalah juga sebuah ketangguhan nasionalisme yang patut untuk diteladani. Dengan segala resiko yang harus dihadapi, Ki Wangsantaka memilih berkonfrontasi dengan Belanda. Pada sisi lain, sikap fleksibel dan kompromis Ki Arsantaka juga membuahkan prestasi yang besar. Belanda dipandang oleh Ki Arsantaka terlalu kuat jika harus diladeni secara militer. Maka dengan bergabung menjadi pejabat pemerintahan Belanda, yaitu menjadi Demang di daerah Banjarnegara, Ki Arsantaka berhasil meminimalisir kebringasan Belanda. Kabupaten Purbalingga tetap dipegang oleh trah Onje adalah bukti penghormatan Belanda kepada Ki Arsantaka. Inilah prestasi diplomatik yang brilian dari salah seorang putra mahkota Onje.

Sementara Ki Wangsantaka dengan segala keteguhan pribadinya itu merupakan ‘penjaga gawang' nilai patriotisme. Sikap Ki Wangsantaka telah membuktikan kepada dunia bahwa Onje sebagai sebuah wilayah perdikan yang gagal ‘dirayu’ oleh Belanda untuk tunduk dan bertekuk lutut.

Kyai Arsantaka
Setelah dewasa, Kyai Arsantaka menikah dengan 2 orang putri. Istri pertama bernama Nyai Merden dan istri kedua bernama Nyai Kedung Lumbu. Dari istri pertama, Kyai Arsantaka di karuniai 5 orang putera, yakni; pertama Nyai Arsamenggala, kedua Kyai Dipayuda, ketiga Kyai Arsayuda, yang kemudian menjadi menantu Tumenggung Yudanegara II. Putera keempat bernama Mas Ranamenggala dan kelima adalah Nyai Pancaprana. Dengan istri kedua, Kyai Arsantaka di karuniai 1 putera yaitu Mas Candrawijaya, yang di kemudian hari menjadi Patih Purbalingga.

Dari babad inilah maka selanjutnya masyarakat Purbalingga meyakini bahwa Kyai Arsantaka merupakan leluhur para penguasa di Kabupaten Purbalingga.

Kabupaten Purbalingga, menurut Babad Purbalingga, di awali ketika Kyai Arsayuda, Putera ke-3 Kyai Arsantaka dari istri pertamanya yaitu Nyai Merden, di jadikan menantu Tumenggung Yudanegara II,  yang kemudian diangkat sebagai Bupati Banyumas, selanjutnya diangkat menjadi Bupati Purbalingga dengan gelar Ngabehi Dipayuda III.

1.  R. Tumenggung Dipayuda III
R. Tumenggung Dipayuda adalah putra ke-3 dari Kyai Arsakusuma yang berganti nama menjadi Kyai Arsantaka dengan istri yang bernama Nyai Merden. Banyak babad atau cerita tentang berdirinya sebuah pusat kekuasaan kabupaten Purbalingga, dimana  Kyai Arsantaka disebut-sebut sebagai cikal bakal berdirinya kabupaten Purbalingga. Dari perkawinannya dengan Nyai Merden, Kyai Arsantaka dikaruniai 5 orang putera, yakni: Nyai Arsamenggala, Kyai Dipayuda I, Kyai Arsayuda, Mas Ranamenggala dan terakhir adalah Nyai Pancaprana.

Sebelum menjadi Bupati Purbalingga, Kyai Arsayuda adalah menantu dari Tumenggung Yudanegara II ( 1728-1759) yang kemudian diangkat sebagai Bupati Banyumas, selanjutnya diangkat sebagai Bupati Purbalingga bergelar Ngabehi Dipayuda III.

Pada masa kekuasaan R. Tumenggung Dipayuda III, pemerintahannya dianggap monumental karena desa Purbalingga di jadikan sebagai Ibukota kabupaten yang sebelumnya berada di Karang lewas.

2.  R. Tumenggung Dipakusuma I
R. Tumenggung Dipakusuma adalah putra dari Ngabehi Dipayuda III dengan istri ke-3 yang bernama Nyai Tegal Pingen (putri dari Kyai Singayuda dan cucu dari Pangeran Mahdum Wali Prakosa, Pekiringan). Dari perkawinan tersebut, R. Ngabehi Dipayuda III dikaruniai 5 orang putra, yakni; pertama Raden Tumenggung Dipakusuma I yang kemudian menjadi Bupati Purbalingga menggantikan Ngabehi Dipayuda III, kedua Raden Dipawikrama yang kemudian menjadi Ngabehi Dayuh Luhur, ketiga R. Kertasana yang kemudian diangkat menjadi Patih purbalingga, keempat R. Nganten Mertakusuma dan kelima Kyai Kertadikrama yang kemudian diangkat menjadi Demang Purbalingga.

3. R. Tumenggung Bratasoedira (24 Juni 1830)
R. Tumenggung Bratasoedira adalah putra dari R. Tumenggung Dipakusuma I dengan Raden Ayu Angger, puteri Pangeran Aria Prabu Amijaya yang berarti cucu dari  Mangkunegara I. Dengan perkawanan tersebut, R. Tumenggung Dipakusuma I dikaruniai 4 putra, yakni; pertama Raden Mas Tumenggung Bratasoedira ( Raden Mas Danukusuma), Kedua Raden Mas Bratakusuma, ketiga Raden Mas Taruna Kusuma I,  dan keempat adalah Raden Ayu Suryaningrat.  

4.  R. Tumenggung Taruna Kusuma I (1 Agustus 1830)
R. Tumenggung Taruna Kusuma adalah adik dari R. Tumenggung Bratasoedira, yang berarti adalah putra ke-3 dari R. Tumenggung Dipakusuma I dengan istrinya Raden Ayu Angger ( cucu dari Amangkurat I).

5. R. Tumenggung Dipa Kusuma II (22 Agustus 1831)
R. Tumenggung Dipa Kusuma II adalah putra dari Raden Mas Tumenggung Bratasudira (Bupati Purbalingga ke-3) yang kawin dengan Mbok Mas Widata dari Kawong. Dari perkawinan tersebut di karuniai 4 putra, yakni; pertama Raden Ayu Mangkusudira, kedua Raden Anglingkusuma, ketiga Raden Mas Tumenggung Dipa Kusuma II, keempat Raden Dipasudira.  

6.  R. Adipati Dipa Kusuma III (7 Agustus 1846)
R. Adipati Dipa Kusuma III adalah putera pertama dari R. Tumenggung Dipa Kusuma II dengan istri keduanya yaitu Raden Ayu Karangsari, puteri dari Raden Tumenggung Citrasuma, Bupati Jepara.

7.  R. Tumenggung Dipa Kusuma IV (4 Sept 1869)
R. Tumenggung Dipa Kusuma IV adalah putra dari Raden Tumenggung Dipa Kusuma II dengan istri ke-3 nya yang bernama Raden Ayu Brobot. Dengan istri ke-3 nya, Dipa Kusuma II di karuniai 5 putra, yakni; pertama Raden Ayu Adipati Suranegara, menjadi bupati Pemalang, kemudian yang kedua  R. Dipaningrat, ketiga Raden Dipaatmadja yang kemudian menjadi patih Banyumas selanjutnya menjadi Bupati Purbalingga dengan gelar Raden Tumenggung  Dipa Kusuma IV. Kemudian keempat adalah Raden ayu Dipasudira dan kelima Raden Ayu Mangku Atmadja.

8. R. Tumenggung Dipa Kusuma V (14 Februari 1868)
R. Tumenggung  Dipa Kusuma V adalah putra dari R. Tumenggung Dipa Kusuma IV dengan istrinya yang bernama Raden Ayu dipa Atmadja. Dari perkawinan tersebut di karuniai 8 putra, yakni; Raden Ayu Tumenggung Cakraseputra, menjadi Bupati Purwokerto, kedua Raden Tumenggung Dipa Kusuma V ( Kanjeng Candi Wulan), ketiga Raden Adipati Dipa Kusuma VI, keempat Raden Ayu Wiryaseputra, kelima Raden Sumadarmaja, keenam Raden Ayu Adipati Cakranegara, ketujuh Raden Ayu Taruna Kusuma IV,  dan kedelapan Raden Ayu taruna Atmadja.

9. R. Brotodimedjo (20 Nopember 1893-13 Sept 1899)
Raden Brotodimedjo adalah Ymt Bupati Purbalingga. Ia adalah mantan patih Purbalingga.

10. R. Tumenggung Adipati Dipa Kusuma VI (13 Sept 1899)
R. Tumenggung Dipa Kusuma VI adalah adik dari Dipa Kusuma V, yang berarti putra ketiga dari R. Adipati Dipa Kusuma dengan istri yang bernama Raden ayu Dipa Atmadja.

11. K.R.A.A. Soegondo (29 Oktober 1925)
K.R.A.A Soegondo adalah putra dari  Raden Tumenggung Dipa Kusuma IV, yang sekaligus menjadi menantu dari Paku Buwono X di Surakarta.
Selanjutnya setelah kekuasaan K.R.A.A. Soegondo berakhir, terjadi kevakuman.  Baru kemudian, setelah Indonesia merdeka bupati Purbalingga diangkat oleh DPRD, berturut-turut dapat disebutkan sebagai berikut:

12. Mas Soeyoto  (1946-1947)
13. R. Mas Kartono    (1947-1950)
14. R. Oetoyo Koesoemo  (1950-1954)
15. R. Hadisoekmo  (1954-1960)
16. R. Mohammad Soedjadi  (1960-1967)
17. R. Bambang Moerdharmo, SH  (1967-1973)
18. Letkol PSK Goentoer Daryono   (1973-1979)
19. Drs. Soetarno   (1979-1984)
20. Drs. Soekirman   (1984-1989)
21. Drs. Soelarno  (1989-1999)
22. Drs. H. Triyono Budi Sasongko, M.Si + Drs. Sotarto Rahmat   (2000-2005)
23. Drs. H. Triyono Budi Sasongko, M.Si + Drs. Heru Sudjotmoko,M.Si   (2005-2010)
24. Drs. Heru Sudjatmoko, M.Si+ Drs. Sukento Ridho Marhaendriyanto,M.Si  (2010-2015)
25.  Drs. Sukento Ridho M + H. Tasdi, SH MM. (2015-2016).
26.  H. Tasdi SH MM + Dyah Hayuning Pratiwi, S.E, B.Econ. (2016-2021).

Oleh : Agus Sukoco, dipaparkan dalam rangkaian acara Grebeg Onje 2017

Sunday, May 13, 2018

Hujan Terusan || Cerpen

Hujan Itu

Saturday, May 12, 2018

Ratusan Peserta Ikuti Acara Pesta Siaga Anak Indonesia di Malaysia

Pensosbud KJRI KK, Cahyono Rustan Berfoto dengan Seluruh Peserta PESONA

Saturday, May 5, 2018

Merajut Sekolah Ramah Anak

Satelitpost, 7 Mei 2018

Wednesday, April 25, 2018

Memupuk Karakter Berbasis Budaya Literer

Opini Satelitpos 25/4/18

Friday, April 6, 2018

Menyemai Nilai Bhinneka dalam Keluarga

Tulisan di Muat
Kondisi Indonesia akhir-akhir ini mengkhawatirkan. Berbagai peristiwa menyiratkan sebagian besar masyarakat sedang terjangkit virus primordialis yang sempit. Kekhawatiran ini dirasakan juga oleh Presiden Joko Widodo. Dalam beberapa pidatonya, beliau sering mengingatkan tentang pentingnya persatuan ditengah kebhinekaan bangsa yang tak bisa dielakan. 


Saat ini, ketika memasuki tahun politik, “cobaan” kebhinekaan sepertinya akan muncul lagi. Nampaknya, kita harus berpegang kepada Spirit Pancasila untuk mengantisipasinya. Sehingga semboyan Bhineka Tunggal Ika yang terdapat dalam pijakan lambang burung garuda, menjadi prinsip dalam menjalani kehidupan berbangsa.

Makna dan nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika harus ditanamkan kepada setiap manusia di tanah Indonesia. Semangat kebhinekaan dalam bingkai ke Indonesiaan inilah yang menjadi keabadian integrasi Indonesia. Dilevel inilah fungsi edukasi keluarga hadir, karena dari keluargalah unit pembangun pondasi bangsa yang kokoh dimulai.

Dilingkungan keluargalah, awal tumbuh kembang seorang anak dimulai. Pola hubungan sikap dan perilaku yang dilakukan oleh anggota keluarga, seperti ayah kepada ibu, kakak kepada adik, atau orang tua kepada anak akan mempengaruhi perilaku anak dalam lingkungan sosial masyarakat kedepanya.

Meski sangat vital, tidak banyak keluarga yang menanamkan spirit kebhinekaan dalam setiap interaksi dalam rumah. Banyak unit keluarga yang menerapkan edukasi dengan sistem otoriter tanpa dialog, hal ini akan menjadi pemantik anak tidak mau menerima perbedaan selain “kebenaran” versi dirinya sendiri. 

Akibatnya, terjadi pertikaian yang justru dilakukan oleh para pelajar yang notabene masih dikategorikan sebagai anak-anak. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada tahun 2015 menunjukan bahwa anak korban kekerasan sebanyak 127, sementara anak menjadi pelaku kekerasan di sekolah 64. Anak korban tawuran 71, sementara anak menjadi pelaku tawuran 88 anak. Ironis.

Kekerasaan ini menurut Teori Sosial Albert Bandura, diakibatkan karena anak-anak mengamati dan meniru perilaku, sikap dan reaksi dari lingkungan sosial terdekatnya. Kekerasan ini justru timbul karena pola asuh yang dicontohkan kepada orang tua kepada para anaknya. Sikap otoriter dan egois dari orang tua, menyebabkan anak tidak menghargai perbedaaan pendapat orang lain, sehingga jalan penyelesaianya dengan cara kekerasaan.

Disinilah tugas keluarga untuk menyemai nilai-nilai kebhinekaan agar anak dapat menghargai dan menerima suatu perbedaan. Tugas ini diimplementasikan dengan menciptakan interaksi dalam keluarga sebagai proses pendidikan yang berkelanjutan, sehingga kedepan akan lahir generasi penentu yang berintelektual tinggi, berakhlak kuat dan yang terpenting melanjutkan merawat kebhinekaan.

Segala bentuk interaksi antara anggota keluarga yang bisa memantik kekerasaan tidak patut dipertontonkan dengan alasan apapun. Oleh karena itu, menanamkan nilai-nilai kebhinekaan dalam keluarga menjadi solusi dari permasalahan kekerasaan anak yang menjurus pada benih primordialisme ini.  
Upaya dan cara untuk mewujudkannya adalah, pertama dengan ketauladanan dari kedua tuanya. Ungkapan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” menjadi keniscayaan yang tak bisa terelakan. 

Menurut Abdullah Nashih Ulwan, keteladanan akan berhasil mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak. Berdasarkan penelitian pada ahli psikolgi, 75 % proses belajar anak didapatkan dari penglihatan dan pengamatan, sementara hanya 15 % dengan indera pendengaran dan lainnya. 

Jadi apabila kita ingin mengajarkan anak sesuatu, maka mulailah dari ucapan dan perilaku orang tua, karena anak-anak adalah peniru yang sempurna dari orang tua. Mendidikan anak sama halnya dengan mendidik diri kita sendiri.

Kedua, selalu kedepankan komunikasi yang dialogis. Anak sejak dini harus dibiasakan dengan tradisi dialog ketika bertemu sebuah perbedaan. Mereka harus disadarkan, bahwa setiap perbedaan tidak selalu ancaman, dan tidak serta merta selalu berujung pertikaian.

Kekerasan tidak mendapat ruang dalam tradisi dialogis ini. Setiap anak akan memiliki cara pandang yang inklufitas dan menghindari sikap eksklusif. Sehingga ini akan membiasakan anak untuk melihat dengan kaca mata dua kutub yang bertolak belakang. Mereka tidak hanya diajarkan “saya yang benar” dan “kamu yang salah”, namun juga menanamkan sikap “kami bertukar pikiran”.

Menghargai anak sebagai manusia “seutuhnya” akan menjadikan anak berkembang sesuai dengan potensinya. Anak selalu diberi kesempatan untuk mengutarakan kehendaknya dan melibatkan dalam mencari solusi pengambilan keputusan. Tentuya dengan batas koridor yang disepakati.

Ketiga, mengenalkan kekayaan multikulutral. Mengajarkan anak tentang keanekaragaman kultur akan menjadi instrument strategis dalam mengembangkan kesadaran anak terhadap kekayaan bangsaanya. Cara ini bisa dilakukan secara fleksibel dengan tetap mengenalkan prinsip multikultural.

Menurut James Banks, pendidikan multikultural ini sebagai wahayan mengenalkan people of color. Artinya mengeksplorasi perbedaan sebagai sebuah keniscayaan dan anugerah Tuhan, sehingga terbentuk manusia budaya.

Dengan mengajarkan anak pendidikan multikultural akan menjadi pondasi bagi negara demokrasi dalam masyarakat yang plural. Pengetahuan sejak dini inilah yang mengantarkan kepada spirit kebhinekaan untuk menghadapi segala tantangan.

Keempat, menanam budaya toleransi. Spirit kebhinekaan mustahil terajadi kalau anak tidak diperkenalkan toleransi sejak dini. Ajarkan kepada semua anggota keluarga untuk menghargai segala macam perbedaan dengan mengajarkan ilmu agama. 

Ajarkan ilmu agama sejak dini untuk jadi bekal yang kuat mengenal Tuhan. Karena orang yang mengenal Tuhan nya dan memahami agamanya tidak mungkin bersikap sentimen dan anarkis terhadap sebuah perbedaan. Dengan budaya toleransi maka akan menjadi vitamin dalam menyikapi kemajemukan ini.

Mulltikulturalisme tanpa toleransi nonsene. Jadi orang tua memiliki peran sentral dan kewajiban berdiri digaris terdepan untuk melawan intoleransi dalam segala bentuknya.

Kelima, ajak anak terjun ke dunia nyata. Mengajak langsung pada realita akan membuat anak merasakan bahwa perbedaan itu indah dan tidak perlu dicemooh atau menentangnya. 

Jika anak kita terbiasa hidup mewah, ajaklah sesekali mengunjungi atau bertemu dengan mereka yang kurang mampu untuk belajar berbagi. Atau ketika anak terbiasa dengan lingkungan kesamaan dengannya –suku, ras, fisik, agama-, maka ajaklah mereka berkomunikasi langsung dengan orang-orang yang memiliki perbedaan dengannya. 

Keenam, mengawal perkembanga anak. Dalam proses tumbuh kembangnya, orang tua harus selalu sensitif dan responsif. Artinya orang tua harus tahu, kapan waktunya hadir dan kapan waktunya memberikan tanggung jawab kepada anak. 

Misalnya, saat usia anak 10 tahun, perkembangan moral yang masih labil harus diawasi. Karena usia sekolah akan banyak konflik dengan temannya. Artinya sebagai orang tua harus mengajarkan bagaimana menyelesaikan konflik dengan tepat. Mereka wajib  menyelesaikan dengan cara yang baik tanpa pertengkaran. 

Oleh karenanya, memilih sekolah yang tepat menjadi hal krusial. Karena sekolah akan menjadi rumah keduanya. Terutama yang mendukung semangat pemerintah dalam mendidik karakter dan menanam nilai kebhinekaan. Disekolah inilah, peran guru dan lingkungan sekolah menjadi penentu keberhasilan internalisasi kebhinekaan sejak anak memasuki masa sekolah.

Dengan perubahan dunia politik yang tak menentu, dan tantangan global yang terus berkembang, pasti menuntut peran keluarga untuk selalu berkomitmen menjaga dan merawat kebhinekaan dalam setiap elemen keluarga. Dengan enam aspek diatas, minimal, akan mencegah primordialisme sempit, tentunya dengan peran dari semua pihak.

Kita harus belajar untuk saling belajar, dibandingkan anarki saling menghajar. Pelangi indah bukan karena satu warna, tapi karena banyak warna yang berjejer bersama. Oleh karena itu, menanamkan nilai kebhinekaan di dalam keluarga menjadi sebuah kewajiban ditengah kemajemukan bangsa.[]

Tulisan ini dimuat di RMOL.CO bisa dilihat DISINI.

Friday, March 30, 2018

Dua Buku Sayembara Literasi

Model Naira bersama Dua Buku Sayembara
arifsae.com - Saya tetap tidak bisa dilepeaskan dari kebiasaan lama. Berburu lomba. Lomba kali ini diadakan oleh Badan Sayembara Gerakan Literasi, begitu sepertinya namanya.

Saya mengikutkan dua buku untuk diikutkan. Buku pertama berjudul "Usman Janatin dan Harun Tohir, Kisah Perjuangan Pahlawan Dwikora". Buku ini merupakan salah satu buku yang membahas perjuangan kedua prajurit KKO-AL, Usman Janatin dan Harun Tohir. 

Namanya sempat tenggelam beberapa dekade. Tulisan mengenai mereka juga sangat jarang diperhatikan oleh sejarawan. Berlandas semangat itu, buku ini hadir untuk melengkapi dan menambah referensi mengenai perjuangan Pahlawan Nasional Dwikora itu.
Buku Usman dan Harun
Kemudian buku yang kedua adalah buku yang berjudul Kemegahan Arsitektur Keraton Jawa. Dengan adanya buku ini, kita bisa belajar akan kemegahan bangunan yang pernah menjadi bagian sejarah Indonesia, bahkan sebelum negara itu merdeka. 

Melalui buku ini kita akan mengetahu bagian dan arsitekrut kraton Jawa, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Karena hanya dua keraton ini yang masih menjadi penjaga budaya Jawa yang masih tersisa hingga saat ini.
Buku Kemegahan Arsitektur Keraton Jawa
Semoga kedua buku ini mendapatkan nominasi, sehingga bisa dinikmati oleh kalangan banyak. Dan menjadi amal jariyah bagi penulis. Amin...[]

Wednesday, March 28, 2018

Sejarah arifsae Hingga di Approve Google Adsense

arifsae.com - Tanggal 28 Maret 2018 mungkin akan menjadi hari bersejarah bagi blog arifsae.com. Tidak lain dan tidak bukan karena pengajuan Google Adsense yang sudah berkali-kali di tolak dan saya idam-idamkan akhirnya di approve juga, alias disetujui pihak Google Adsense. Senang? Pasti. Bahagia? Tentu.
Email Cinta dari Google Adsense
Ingin sekedar kilas balik sampai akhirnya disetujui pihak Google. Awalnya aneh. Bagimana tidak aneh, karena saya sebetulnya sudah tidak minat lagi dengan Adsense ini, sebenarnya lebih tepatnya karena sudah tidak terhitung penolakan dari Google. Ibaratnya, dalam hati sudah mati rasa dan 'bodo amat'. 

Dulu saya sangat menggebu-gebu ingin blog saya ada iklan dari Adsense. Mungkin kata orang, ketika blog diterima menjadi mitra Google Adsense akan menjadi 'pencapaian' tertinggi seorang blogger. Selain bisa mendapat uang, juga menjadi kebanggaan.

Setidaknya itu persepsiku. Tapi setiap blogger pasti berbeda dalam memandangnya. Namun sebagian besar blogger mungkin akan berfikiran sama. Meskipun tidak besar secara penghasilan (karena memang baru mulai Adsense-nya) tapi setidaknya saya sudah menaklukan 'hati' Google Adsense.

Sekarang, saya tidak akan memberikan tips apalagi trik untuk diterima Google Adsense, karena saya sadar blog saya masih sederhana dan masih banyak blogger yang fokus dan masternya dalam membahas masalah ini. 

Tapi prinsip saya dan cara paling ampuh adalah ketika ditolak 10 kali, coba daftar 11 kali. Itu saja. Tentunya dengan selalu diselingi perbaikan-perbaikan terus menerus dengan memperkaya isi postingan blog kita. 

Saya hanya ingin kilas balik. Setidaknya untuk mengingatkan dan sebagai cambuk saya agar selalu terus menerus menulis. Ya menulis apapun, yang penting menulis saja. Karena dari semangat menulislah blog ini lahir.

Blog ini terkonsep akhir 2012, setidaknya konsep inilah yang menjadi titik awalnya. Karena baru pada awal 2013 blog ini benar-benar lahir. Awalnya hanya iseng, karena sebagian besar hanya menampung isi artikel dan dokumen dari proses perkuliahan. 

Rasanya mubazir ketika sudah susah-susah mengerjakan tugas tapi hanya tersimpan di laptop, makanya saya share saja, setidaknya, untuk berbagi dengan orag lain.

Tidak ada guru khusus dalam dunia blog, apalagi orang per orang. Guru saya adalah pengalaman. Saya bener-benar otodidak dalam dunia blogger. Sama sekali dari nol besar. Dulu saya masih ingat betul, ketika pertama kali punya modem smarfren yang saya beli pada saat proses menyelesaikan perkuliahan. 

Modem itulah yang menjadi fasilitator memperkenalkan dunia blogger. Dan untuk mengisinya kadang harus minta uang orang tua, yang kemudian hari-hari dihabiskan untuk berkutat didalam kamar.

Dari membuat, mengkonsep dan mensetting blog saya brosing sendiri dari Google. Awalnya untuk tampilan saja, sangat sederhana. Bahkan boleh dibilang masih sangat amatir. Masih ingat dengan lebay nya menaruh hiasan-hiasan yang tak ada gunanya. Ada suara musik lah, hiasan salju lah, semut lah, dan macam-macam hiasan tak penting lainnya. Bisa dilhat kan?
Blog Dulu
Menurut saya keren. Dulu. Tapi memang menurut saya sesuai dengan konsep blog saya, awalnya blog saya beri nama Mendidikan Sejarah. Jelas isinya juga berkaitan dengan sejarah, maklum lah kan saya memang mengambil Jurusan Pendidikan Sejarah. Hingga pada akhir tahun 2016 prinsip dalam dunia blogger saya berubah.

Perubahan itu sejak mengikuti lomba blog Mayuh Plesir Maring Banjarnegara. Lomba blog itu merupakan lomba bertaraf nasional yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Awalnya hanya iseng, karena sejak 2014 saya juga seorang pemburu lomba, lomba apa saja saya ikuti. Ya cukup banyak juga lomba yang sudah saya menangkan. Tapi untuk lomba blog, belum pernah sekalipun. 

Mujurnya pada lomba itu saya juara 1. Tak disangka, saya menang. Tentunya selain hadiah uang dan menambah teman juga ada hadiah jalan-jalan yang tidak boleh untuk dilewatkan. Dari lomba itulah saya berkenalan dengan para blogger-blogger keren lainnya. Misalkan dari Banjarnegera ada Mas Hendi, dari Kebumen ada Mas Amir dan dari Pemalang ada Mas Eko. Semuanya blogger propesional, dan keren-keren.

Saya juga heran, mengapa saya yang harus juara 1. Tapi kata panitia, mereka tidak melihat blog, tapi isi artikelnya. Dan kalau isi artikel, bolehlah diadu. Seneng sekaligus heran. Tapi dibalik hadiah jalan-jalan dan banyak teman itulah saya mulai berfikir. Blog saya memang harus dirubah. Harus banyak perbaikan sana sini.

Akhirnya, sejak berdiri, dan dari templete saya yang sudah saya pertahankan sejak 2013-2016 saya putuskan untuk di renovasi total. Untuk mencari dan mendapatkan templete yang pas saya pun berburu dan bertanya-tanya kepada kawan, terurama Mas Amir. Dialah yang akhirnya memperkenalkan dengan blogger Arlina Design. Tidak ada yang gratis, kalau mau bagus ya sedikit bermodal. Dan untuk mendapatkan templete yang bagus itu saya membelinya.

Saya masih ingat, harga untuk templete yang responsif dan keren itu adalah 70 ribu rupiah. Dan saya benar-benar membelinya meski waktu itu berat untuk bermodal. Untuk mengatur settingan dan edit HTML blog saya banyak mendapat bantuan dari Pak Anis Lunuwih Wicaksono, rekan kerja sekaligus guru TIK di SMA Negeri 2 Purbalingga. 

Setelah mengatur sana sini, dan tampilan sudah lumayan bagus, saya lanjutkan renovasi blog dengan membeli nama domain. Akhirnya sejak awal 2017, blog saya sudah terbentuk dengan tampilan yang enak dipandang dengan nama domain arifsae.com. 

Setelah puas dengan nama dan tampilan blog, target saya selanjutnya adalah mendaftar ke Google Adsense. Tentunya untuk menampilkan iklan dan dapat penghasilan.

Ternyata tidak semadah itu menaklukan Google Adsene. Pertama ditolak. Perbaiki. Ditolak. Perbaiki. Dan saya sampai lupa berapa kali penolakan itu terjadi. Sampai akhirnya saya mengalihkan perhatian, tidak lagi mengejar Adsense. Saya sudah benar-benar fokus untuk menulis dan berkarya. Itu saja. Menulis dan menulis terus.

Mungkin google kasian, jadi tepat tanggal 28 Maret 2018 pukul 16.46 akun saya diterima. Semuanya berawal dari coba-coba dan dari hasil perbaikan terus menerus yang tak mengenal kata menyerah (padahal si udah, hihi). Anehnya, disaat saya sudah tidak membutuhkan dan tidak mengejar lagi, dia datang. Padahal dulu saya begitu bernafsu untuk menaklukannya. Kaya hati perempuan ya? hihihi...
Penghasilan Hari Pertama
Sekarang, setelah diterima Google Adsense, saatnya berkarya dan menularkan pemikiran. Itulah tujuannya. Dilingkungan saya saat ini, di Sabah Malaysia, setidaknya sudah ada 10  orang yang meminta untuk diajarkan bagaimana untuk menjadi seorang blogger. Dan tentu saja dengan senang hati saya mau berbagi, meski harus berbagi templete yang dulu pernah saya beli. Dan semua yang saya ajarkan gratis, tiss, tissss... Biar Allah SWT saja yang membalasnya.

Mungkin juga karena hal itu pengajuan Adsense saya diterima. Saat ini, Adsense hanya bonus saja, yang terpenting adalah kita mau menulis dan menulis dan menulis lagi. Karena yang tertulis akan di editi, yang terposting akan abadi. Jadi kalian mau ikut jadi blogger dan terus menulis?[]