Saturday, March 2, 2019

Sawit Pahit [Sebuah Puisi Esai]

Sawit
/1/

Rapuh tatapan tajam ke Sawitan itu,
tak lagi rindang, enam tahun yang lalu.
Jejak langkah akan meninggalkannya,
menjadi serpihan masa lalu.

Sebelum langkah menjejak arah itu, hatinya menjerit;
mendiamkan ramai riuh kenangan.
Dibukanya pintu rumah: hitam pelataran Terusan,
menjadi taman bermain sejak pertama berjalan.

Teringat hari sebelum hari ini
Ketika tangisan ramai setiap hari
Seperti raungan mesin Beggo dipelataran rumah
Mengaum seperti raja hutan menakuti musuh

Sebut saja namanya Fitri, Nurul Safitri binti Salimi–
kesucian hidup artinya.
Nama indah yang berjejar rapi
Menadakan khas nama Malaysia.

Waktu itu dia lahir di Malaysia-
Lahad Datu tepatnya.
Negeri hamparan Sawit di Bawah Bayu
Sabah yang ramah.

Ia pindah, berkali-kali.
Mengikuti langkah arah ibunya, Salimi.
Semua berubah berbeda
Setelah peristiwa invasi dari Abu Sayaf

Apa arti kebangsaan bagiku?
Lirih hatinya menanyakan pada dirinya
Jutaan orang meninggalkan negaranya
Untuk mencari Ringgit di belantara Sawit

/2/
Ibunya, dari negeri Zamrud Khatulistiwa
Ayahnya, orang tempatan Malaysia
Mereka terikat dalam ikatan manusia
Mengagungkan nilai-nilai cinta

Mengharpkan hidup bahagia
Ditengah hamparan sawit,
Kampung Tanduo tepatnya,
30 km dari Lahad Datu

Hingga hari itu datang,
Menyeruak digelapnya malam
Hukum ditelantarkan, segerombol orang datang
Ratusan jumlahnya,
Yang terdengar hanya ketakutan

Seranggan Pengganas Penceroboh Sulu
Suara Takhta Sulu menggema
Menuntut warisan Sultan Brunei
Itu miliku, itu hakku

Langit menghitam oleh letusan peluru
Dari dalam rumah-rumah
Semua terperanga, tak ada yang merasa terjaga
Melindungi diri sendiri dari kemelut

Ada yang memilih menyelamatkan diri
Dari para pengganas yang ganas
Yang siap merampas dan menerkam
Yang siap membunuh orang melawan

Operasi Daulat di daulatkan
Untuk menjinakan pengganas
Di Kampung Tanduo dan Tanjung Batu
Juga di bagian Sabah lainnya

Banyak korban bergelimangan
Menggelepar-gelepar
Memerah banjir darah
Termasuk ayahnya, Abdul Kardir.

/3/
Safitri bersema ibunya mengungsi
Felda Sahabat mnawarkan persinggahan
Bersama sejumlah warga tempatan dan imigran
Memikirkan masa depan, dimana untuk hari kedepan?

Hari-hari setelahnya setelah Hari Berdarah
Safitiri belum tahu apa yang sebenarnya terjadi
Ingatan dan tubuhnya belum mampu
Ibunya membawanya pergi dari kenangan

Sempat pindah ke Sekar Imej
Yang jauh dari keramaian
Sempat ke Andamy
Yang menawarkan kedekatan
Hingga pelabuhan berakhir di Terusan

Hari beganti menaati kodrat ilahi
Ia tumbuh menjadi gadis Sawit
Berkenalan dengan sambutan
Sudut-sudut tak berujung blok-blok

Ketika umur terus menambah
Fitri tak bisa membaca menulis
Celaka, sungguh celaka
Apa yang Negara perbuat padaku?

Wednesday, February 27, 2019

Mengenal Usman Janatin dan Harun Tohir


arifsae.com - Komando Dwikora menjadi puncak dari konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan jargon Ganyang Malaysia yang menjadi kalimat sangat populer saat itu. Untuk melegalkan segala tindakan, maka Presiden Sukarno mengeluarkan Keputusan Presiden RI No. 95 tahun 1964. Keputusan ini menyangkut tentang pengerahan para sukarelawan Indonesia dalam rangka peng-ganyang-an dan penghancuran proyek neo-kolonialisme yang membutuhkan banyak personil.

Maka, untuk mengatasinya, banyak dibuka rekrutmen untuk menjaring anggota-angggota yang berani mengambil segala resiko. Banyak warga Indonesia yang berbondong-bondong mendaftarakan diri untuk ikut berkontribusi, salah satu orangnya adalah Janatin alias Usman dan Tohir alias Harun. Mari mengenal tentang Usman dan Harun.
Cover Buku
Usman: Inspirasi dari Kota Perwira

Nama yang diberikan oleh ayahnya adalah Janatin. Ia lahir tepat pada hari Kamis Pon tanggal 18 Maret 1943. Sekitar jam 10. 00 siang, Janatin membuka mata untuk pertama kalinya melihat dunia.  Janatin lahir dari rahim Siti Rukijah, seorang ibu rumah tangga di Dusun Tawangsari, yang masuk ke dalam wilayah administrasi Desa Jatisaba, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga. Janatin lahir di wilayah yang masuk ke dalam kawasan Kecamatan Purbalingga, tepatnya di Desa Jatisaba.

Janatin merupakan anak ke-7. Nama-nama saudaranya dari yang paling tua hingga muda, yaitu: (1) Ahmad Kusni, anggota militer; (2) Ahmad Chuneni, anggota militer; (3) Ahmad Matori, anggota militer; (4) Siti Rochajah, ibu rumah tangga; (5) Mohammad Chalimi, Pegawai Kecamatan Bobotsari; (6) Siti Rodijah, ibu rumah tangga; (7) Djanatin; dan anak terakhir (8) Siti Turijah, seorang ibu rumah tangga.

Ayahnya, Haji Mochammad Ali, merupakan orang yang dihormati karena posisinya sebagai seorang kayim atau lebe.  Posisi kayim ini bersifat sebagai tangan kanan Kepala Desa, terutama yang berkaitan dalam masalah-masalah keagamaan. Sebagai seorang kayim atau lebe, pola pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya juga tidak jauh dari sifat religiusitas agama Islam. Hal ini didukung dari bangunan mushola yang ada di depan rumah Janatin ketika kecil.  Dengan adanya mushola ini, maka tidak mengherankan anak-anak H. Moch. Ali dapat memperoleh ilmu agama dengan baik.

Janatin mempunyai kakak pertama, Letnan Ahmad Kusni. Ia pernah berjuang dan gugur menjadi martil bangsa tahun 1949. Setelah gugur, ia dimakamkan di makam Pahlawan Purbosaroyo, Purbalingga. Selain Letkol Ahmad Kusni, dua kakak Janatin lainnya, Letda Ahmad Chuneni dan Sersan Mayor Mathori, juga merupakan anggota militer. Mereka sering memperlihatkan sikap seorang anggota militer yang disiplin dan tegas kepada saudara-saudaranya, termasuk kepada Janatin. Janatin melihat sosok kakak-kakaknya itu dengan sebuah kekaguman.

Kecintaan Janatin terhadap dunia militer yang terinspirasi dari kakak-kakaknya menjadikan motivasi tersendiri bagi Janatin dikemudian hari. Selain itu, dengan peristiwa terbunuhnya Letkol Ahmad Kusni, Janatin kecil ingin membalaskan kematian kakaknya ini kepada para penjajah yang mencoba mengganggu martabat Republik Indonesia.

Saat usia Janatin memasuki 7 tahun, ayahnya mendaftarkan Janatin ke sekolah formal. Janatin didaftarkan ke Sekolah Rakyat (SR)  terdekat, yaitu SR Jatisaba. Tepatnya tahun 1951, Janatin untuk pertama kalinya memasuki pendidikannya di SR Jatisaba. Jarak dari rumahnya hingga SR Jatisaba sekitar 1 km. Untuk menuju ke sekolahnya, Janatin selalu berjalan kaki dengan teman-teman sebayanya.

Proses Janatin bersekolah di SR Jatisaba dilalui hanya 3 tahun. Hal ini dikarenakan keterbatasan ruangan yang ada di SR Jatisaba. SR Jatisaba hanya bisa menampung kelas 1 hingga kelas 3 sehingga untuk melanjutkan kelas 4 sampai 6, Janatin harus pindah ke SR Bancar yang jaraknya lebih jauh lagi, yaitu sekitar 3 km. Jarak ini tidak menghambat Janatin untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya. Ia selalu bersemangat untuk mengikuti pelajaran menuju ke SR Bancar meski harus ditempuh dengan jalan kaki, karena waktu itu memang belum ada kendaraan umum dan akses jalan masih sangat terbatas.

Setelah melalui proses pendidikan selama 6 tahun di SR, akhirnya Janatin lulus tahun 1957. Kemudian, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Bhakti Mulya. Janatin memilih sekolah ini karena satu-satunya dan karena paling dekat dibandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya. Jarak antara rumah Janatin ke SMP Bhakti Mulyajuga sekitar 3 km.

Seperti ketika sekolah di SR Bancar, Janatin juga berjalan kaki ketika berangkat ke SMP Bhakti Mulya. Di lingkungannya yang baru, Janatin merupakan anak yang suka bergaul dengan teman-temannya dari berbagai latar belakang. Hal ini dikarenakan SMP Bhakti Mulya merupakan sekolah yang sebagian besar murid-muridnya berasal dari keturunan Tionghoa sehingga keakraban yang terjalin antara Janatin dan teman-temannya di SMP Bhakti Mulya merupakan pertemanan antar-etnis.

Setelah pulang sekolah, Janatin sering membantu ayahnya dalam berbagai bidang pekerjaan. Profesi ayahnya yang juga menjadi sebagai petani menyebabkan keseharianya dihabiskan di sawah. Tidak jarang Janatin membantu ayahnya di sawah. Selain membantu dalam bidang pertanian, Janatin juga sering membantu untuk mencarikan makanan (ngarit) hewan ternak kambing yang memang dipelihara ayahnya.  Semua kegiatan itu dilakukan Janatin bersama saudara-saudaranya ketika tidak sedang bersekolah.

Selain bermain dengan teman-temannya dan membantu kedua orang tuanya, Janatin juga dikenal sebagai penyayang binatang. Hewan peliharaan yang paling disayangi Janatin adalah seekor bajing kelapa (Tupai). Nama ini diberikan karena jenis tupai ini memang suka melubangi pohon Kelapa. Tupai ini hidup di pohon-pohon kelapa yang banyak dijumpai di sekitar rumah Janatin. Janatin menangkap tupai kecil ini di sekitar pohon kelapa dekat rumahnya. Janatin mengambil dan memeliharanya dengan kasih sayang, bahkan Tupai ini sangat jinak dengan Janatin.

Pernah suatu ketika, Janatin pulang dari sekolah dan langsung diajaknya bermain. Sering ketika Janatin bepergian Tupai ini ditaruh dipundaknya, bahkan Siti Rodijah, mengibaratkan Janatin sama seperti Si Buta dari Gua Hantu karena seringnya tupai ini ditaruh di pundaknya, sama seperti Pendekar Buta yang mengendong kera kecil di pundaknya. Tupai ini dirawat oleh Janatin hingga ia mendaftarkan diri menjadi anggota Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL).

Harun: Sukarelawan dari Bawean

Harun bernama asli Tohir. Ia lahir pada tanggal 14 April 1943 di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Nama pulau Bawean tak bisa terlepas dari seorang ulama terkenal yang pernah hidup dan dikuburkan di sana, yaitu Syekh Zainuddin Bawean Al Makki dan Syekh Muhammad Hasan Asyari Al-Baweani.

Nama pulau ini juga sering disebut Pulau Putri, karena banyak orang yang berasal dari pulau ini merantau ke Jawa dan luar negeri, terutama ke Singapura dan Malaysia. Bahkan, di negeri itu, ada beberapa tempat perkampungan yang merupakan perkumpulan orang-orang Bawean. Di sana ada istilah “Orang Boyan”, yang ditujukan untuk orang-orang Bawean.

Pulau Bawean dulu pernah menjadi wilayah Surabaya, terhitung sejak pemerintahan Kolonial sampai Indonesia merdeka. Jarak Pulau Bawean ke Surabaya sekitar 15 kolometer, dan harus ditempuh 15 menit menggunakan perahu. Sejak 1974, Pulau Bawean menjadi bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Tohir lahir dari lingkungan pantai yang bermata pencaharian nelayan. Nama ayahnya adalah Mahdar seorang nelayan, dan ibunya bernama Aswiyani.

Sejak kecil, Tohir sudah akrab besentuhan dengan karang-karang dipinggir pantai. Tak jarang, ia ikut berlayar bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Bahkan, kecintaanya dalam berlayar, ia sering meninggalkan sekolah dasarnya. Ia terpukau keindahan ombak dibandingkan dengan mengikuti pelajaran di kelas.

Tohir sering ikut berlayar meski dengan diam-diam. Biasanya sekali menaiki kapal harus berhari-hari untuk mencari ikan. Meskipun jarang mengikuti pelajar, Tohir berhasil menyelesaikan sekolah dasarnya dengan cukup baik. Karena adat Bawean yang lebih banyak merantau, setelah lulus sekolah dasar ia melanjutkan rantauanya ke Tanjung Periok, Jakarta.

Untuk membiayai sekolah dan hidupnya di Jakarta, ia sesekali menggeluti hobinya untuk mengikuti berlayar dan mencari ikan. Dan terkadang ia menjadi pelayan dalam sebuah kapal pelayaran. Untuk mengikuti pelajarannya yang tertinggal, Tohir menyalin dan menanyakan pelajaran serta meminjam catatan buku pelajarannya. Ia memang tak bisa fokus untuk sekolah, karena lingkungan telah membentuknya seperti itu. Namun ada sisi posif dalam setiap pelayaran yang dilaluinya, Tohir menjadi tau seluk beluk tempat yang disinggahinya dalam pelayaran. Dari beberapa negara yang pernah disinggahinya, Singapura merupakan tempat yang paling sering Tohir datangi.

Terkadang, sekali berlayar ia harus menghabiskan waktunya berhari-hari di tengah lautan. Seperti ketika singgah di Singapura, Tohir ikut dalam kapal rute Tanjung Pinang-Singapura. Ia beberapa kali bermalam berhari-hari disana. Dari pengalaman berlayar ke Singapura inilah Tohir menjadi hafal daerah-daerah Singapura sampai ke gang-gang nya. Pengetahuan ini akan sangat berguna nantinya ketika Tohir memilih untuk mendaftarkan dirinya menjadi sukarelawan dari KKO-AL.

Berbeda dengan Janatin yang tidak bisa terlacak kisah percintaanya, Tohir pernah mengalami persistiwa tak mengenakan dengan perempuan. Ketika umurnya baru 21 tahun, Tohir menjalin cinta dengan seorang perempuan bernama Nurlaila. Hubungan keduanya bisa dibilang serius. Keseriusan itu yang membawa Tohir untuk bertungangan dengan gadis pujaan hatinya itu.

Kakak sulungnya yang bernama Samsuri menjadi orang yang menyaksikan prosesi lamaran yang dilakukan keluarga Tohir kepada keluarga Nurlaila. Diwaklikanya prosesi lamaran itu karena ayah Tohir telah meninggal dunia pada tahun 1963. Mereka berdua telah bersepakat untuk menjalin rumah tangga dikemudian hari.

Namun rencana itu berantakan, karena setelah Tohir berlayar dalam waktu yang lama dan kembali untuk menemui Nurlaila, Tohir manyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Calon pengantinya akan melaksanakan proses pernikahan dengan laki-laki lain, Tohir marah besar. Ternyata laki-laki itu adalah pilihan kedua orang tua Nurlaila, yang berarti pernikahan itu merupakan perjodohan.

Pada hari pernikahan Nurlaila dilangsungkan, dan tamu sedang ramai-ramainya, Tohir datang bersama teman-temannya. Pada saat proses ijab qobul akan dilaksanakan dan pernikahan hampir selesai membacakan proses ijab qobul, Tohir membuat onar dan marah-marah. Ia meminta untuk proses pernikahan itu dibatalkan.

Penghulu yang akan menikahkan mereka akhirnya lari menuju rumah kakaknya Tohir yang berada di Jalan Jember Lorong 61 Tanjung priok. Penghulu itu menemui kakak Tohir, Samsuri untuk mencegah kekacauan yang terjadi. Akhirnya Samsuri mau membujuk Tohir untuk menghentikan kekacauna yang terjadi. Sebagai adik, akhirnya Tohir mengikuti kata-kata kakaknya untuk mengentikan segala ulah Tohir. Ia menerima perkawinan itu meski dengan berat hati.

Pada bulan Juni 1964, Tohir memasuki dunia kemiliterannya. Ia mendapatkan pangkat Prajurit KKO II (Prako) dan menapatkan pelatihan sleama lima bulan didaerah Riau daratan pada tanggal 1 November 1964. Pada tanggal 1 April 1965 Tohir mandapatkan kenaikan pangkat menjadi Kopral KKO I (Kopko I). Selesai mendapatkan pelatihan didaratan Riau sebagai sukarelawan Dwikora, ia mendapatkan tugas untuk menuju Pulau Sambu dan bergabung rekan-rekannya yang lain.

Pengalamannya ketika berlayar berkali-kali ke Singapura menjadikan Tohir ahli dalam penyamaran. Terlebih mukanya yang mirip Tionghoa menjadikan penyamaran lebih mudah. Tohir juga dikenal karena bisa menguasai beberapa bahasa asing, seperti Ingris, Melayu, Tionghoa dan Belanda.

Takdir inilah yang akhirnya menemukannya dengan Janatin di Pulau Sambu. Tohir bergabung kepada Tim Brahman I pimpinan Kapten Paulus Subekti. Tugas dari Tim ini adalahmelakukan demolisi, sabotase pada obyek militer dan ekonomis, juga menyiapkan kantong gerilya, mengadakan propaganda, perang urat saraf, mengumpulkan informasi serta melakukan kontra intelijen.[]

Bagian Buku Usman Jantin dan Harun Tohir, Pesan Bukunya DISINI.

Sunday, January 27, 2019

Ini Nama-Nama CLC SD Se-Sabah dan Sarawak


Lambang Sekolah Dasar
aifsae.com - Dulu saya pernah memposting nama-nama CLC SMP beserta TKB nya DISINIKali ini saya akan membagikan nama-nama Comunity Learning Centre (CLC) SD yang ada di Sabah dan Sarawak, Malaysia. CLC merupakan sekolah Indonesia yang sengaja di dirikan untuk menampung para anak-anak Indonesia di Sabah terutama anak-anak usia Sekolah Dasar.

Oke, langsung saja berikut nama-nama CLC SD Se-Sabah dan Sarawak, yang sampai saat ini (Update 23 Januari 2019) berjumlah 113 CLC.
  1. CLC 25 LADANG CEPAT-KPD
  2. CLC LADANG LUMADAN
  3. CLC ST. FRANSISKO YASINTA
  4. CLC BUDI LUHUR 1 BIAH
  5. CLC BUDI LUHUR BINGKOR
  6. CLC GOOD SAMARITAN
  7. CLC ILHAM INASA
  8. CLC JAVA ETANIA MATAKANA
  9. CLC SERAT BANGSA MAWAU
  10. CLC SLDB DALIT
  11. CLC SLDB INANDUNG
  12. CLC BUDI LUHUR 2 ASBON
  13. CLC PASIR PUTIH
  14. CLC SERAT BANGSA LADANG BONGAWAN
  15. CLC FANTASI GENERASI
  16. CLC SERAT BANGSA LADANG LANGKON
  17. CLC BHINEKA TUNGGAL IKA
  18. CLC CINTA MATA
  19. CLC ST.THOMAS
  20. CLC RUMAH AGAPE 
  21. CLC SD CEMPAKA 
  22. CLC GAMBEN 
  23. CLC NUSA BANGSA 
  24. CLC UNITED MALACCA 1&2
  25. CLC UNITED MALACCA 3&4
  26. CLC MATAKANA
  27. CLC SERAT BANGSA LADANG KIMANIS
  28. CLC TUNAS HARAPAN BANGSA
  29. CLC TENOM 
  30. CLC SOOK OIL PALM
  31. CLC KOTA BELUD 
  32. CLC LADANG ONG YAH HO 
  33. CLC LADANG RESORT 
  34. CLC SABAH TEA 
  35. CLC SD DALIT OIL PALM MILL (DOP)
  36. CLC SERAT BANGSA PITAS
  37. CLC ARUS SAWIT 2
  38. CLC PERDANA TELUPID
  39. CLC ST. JOSEPH PAPAR 
  40. CLC FELCRA ESTET PERTAMA
  41. CLC KAMPUNG MELAYU SULAIMAN 
  42. CLC LADANG ANDAMY 
  43. CLC LADANG KARANGAN ESTATE 
  44. CLC LADANG MASANG 
  45. CLC MONSOK PALM OIL MILL
  46. CLC NUSANTARA 
  47. CLC PAHANG 2
  48. CLC SERAT BANGSA TONGOD
  49. CLC SRI LIKAS MEWAH 
  50. CLC LADANG ABEDON KRETAM
  51. CLC ARUS SAWIT
  52. CLC SERAT BANGSA GOMANTONG
  53. CLC ARUNAMARI 
  54. CLC BUKIT SEGAMAHA 
  55. CLC CERDAS
  56. CLC GRACE CENTRE 
  57. CLC HANIM 
  58. CLC KIM LOONG 
  59. CLC KUARI 3 GUMGUM 
  60. CLC LADANG SUTERA 
  61. CLC SD SUNGAI MENANGGOL
  62. ÇLC TIMORA
  63. CLC KEMAJUAN INSAN INANAM
  64. CLC CAHAYA TAGAS 
  65. CLC DUTA
  66. CLC KRETAM SAPAGAYA 
  67. CLC LADANG NAK 
  68. CLC PKPS JAGOHARMONI 
  69. CLC PKPS IRAT 
  70. CLC SD PROLIFIC
  71. CLC SUNGAI SEGAMAHA 
  72. CLC SAKILAN DESA
  73. CLC LADANG SUNGAI KAWA 
  74. CLC AL ALAQ 
  75. CLC AUMKAR
  76. CLC HIDAYATULLAH SEGARIA
  77. CLC HOLY TRINITY
  78. CLC KOKO INTAN
  79. CLC LAMSOON
  80. CLC LEMBAH DANUM 
  81. CLC SD PUTERA BANGSA 
  82. CLC SERAT BANGSA BONGALIO
  83. CLC SLDB APAS BALUNG 
  84. CLC TECK GUAN 
  85. CLC SERAT BANGSA LADANG BAGAHAK
  86. CLC SERAT BANGSA LADANG SEBRANG
  87. CLC SERAT BANGSA KALABAKAN
  88. CLC SILIM 2
  89. CLC TAMACO CENTER
  90. CLC SLDB LITANG
  91. CLC BENTA BELIAN
  92. CLC SD WINSOME 
  93. CLC LACAK FIDELITY
  94. CLC LADANG TAMACO
  95. CLC TUNAS PERWIRA
  96. CLC BIMA SAKTI BALUNG RIVER
  97. CLC KRETAM SILIMPOPON 
  98. CLC PELITA BANGSA LKSK 
  99. CLC SD FGV BAIDURI AYU 
  100. CLC SD FGV CENDRAWASIH
  101. CLC SD FGV EMBARA BUDI
  102. CLC SD FGV FAJAR HARAPAN 
  103. CLC SD FGV GEMALA PURA 
  104. CLC SD FGV HAMPARAN BADA 
  105. CLC SD FGV JERAGAN BESTARI
  106. CLC SD FGV KEMBARA SAKTI 
  107. CLC SD FGV SAHABAT 46 
  108. CLC INDRA SABAH
  109. CLC BAMBU KUNING 
  110. CLC BUKIT TAJAM
  111. CLC YUWANG TINGKAYU
  112. CLC SELANGAN BATU
  113. CLC SJI
Data ini di dapat dari informasi group tertutup penulis di Sabah

Saturday, December 22, 2018

Mencintai Ulama, Juara 1 Lomba Penulisan MUI Banten

Juara 1 Lomba Artikel
arifsae.com - Siang itu, ada pesan WA masuk, tidak tahu siapa, yang ada hanya nomor baru. Saya buka perlahan. Ternyata itu adalah pengumuman lomba penulisan aritkel dari MUI Provinsi Banten.

Saya masih ingat nasib tulisan ini, dulu pernah saya ikutkan lomba penulisan. Tapi panitia dan informasi lomba menghilang seprti di telan bumi. Tidak ada kabar kelanjutannya. Saya pasrah. Meski kecewa. Hingga saya lihat dari kawan tentang lomba ini. Saya ikuti, dengan perubahan sedikit, naskah ini saya ikutkan.

Awalnya, saya buka. Saya perbesar. Jari ini mulai melihat dari bawah, dari juara harapan 3, harapan 2, hingga harapan 1. Tidak ada nama saya. Saya sudah mempersiapkan mental untuk tidak menang. Kalaupun tidak menang, tidak masalah. 

Saya lanjutkan ke juara 3, juara 2, belum ada nama saya. Huft, artinya tidak ada juara. Hingga saya lihat juara 1, jrenggg, jrenngggg.... Ada tulisan Arif Saefudin di nomor juara 1. Artinya saya juara 1. Juara 1. wauw....

Bingun juga, tapi seneng. Saya berikan kabar pada orang-orang terdekat. Panitia menghubungi, kalau acara yang akan dilaksanakan besok, tanggal 3 Desember 2018. Busyet, mustahil saya hadir. Saya masih berada di Malaysia.

Saya cari cara, putar otak. Akhirnya ketemu nama Dwi Suyoko, dia mau mewakili saya, meski dalam beberapa negosiasi. Akhirnya deal. Besok Yoko yang akan mewakili penerimaan hadiah. Penyerahan hadian akan dilakuakn langsung oleh gubernur Banten, Pak Wahidin.

Lomba ini bertemakan penulisan ulama yang berasal dari Banten. Saya sendiri mengambil judul, The Grat Scholer, Pembentuk Wajah Pesantren dan Peletak Nilai Multikulturalisme. Itulah yang mengantarkan tulisan saya juara 1. Alhamdullilah. Semga menjadi penyemangat terus untuk berkarya.[]

Tuesday, December 4, 2018

Pengantar Penulis Buku Menggali Sebutir Makna


Menggali Sebutir Makna

Sambutan Atikbud KBRI Kuala Lumpur dalam Buku Menggali Sebutir Makna

Sampul

KATA SAMBUTAN
Prof. Dr. Ir. H. Ari Purbayanto, M.Sc.
Atdikbud KBRI Kuala Lumpur

Assalamu’alaikuum Wr.Wb.

Guru tidak hanya bertugas untuk mentransferkan ilmu, tapi selayaknya juga dapat meninggalkan rekam jejak berupa buku. Semakin banyak guru menghasilkan karya buku, maka akan semakin maju dunia pendidikan Indonesia. Maka dari itu, dibutuhkan guru-guru muda yang bersemangat untuk menulis.

Semangat menulis inilah yang akan menghasilkan output berupa buku-buku yang akan dirujuk oleh masyarakat di masa mendatang. Masyarakat akan disuguhkan pemikiran-pemikiran dan pengalaman-pengalaman dari guru tentang dunia pendidikan. Tidak hanya itu, yang menjadi tujuan utama adalah mengantarkan masyarakat Indonesia menjadi negara yang berbudaya literer, yaitu sinkron nya budaya membaca dan budaya menulis.

Budaya literer itulah yang menjadi syarat utama untuk menjadikan sebuah bangsa menjadi maju. Kita bisa menulis dari hal-hal kecil terlebih dulu, salah satunya dengan menuliskan catatan harian. Catatan harian merupakan wadah yang tepat untuk mengasah kemampuan menulis. Catatan harian inilah yang menjadikan pijakan untuk menulis kisah-kisah pribadi yang menarik, terutama bagi seorang guru yang pasti mengalami kisah seru dan haru ketika berinteraksi dengan peserta didik.

Buku “Menggali Sebutir Makna: Catatan Harian Guru Ladang Sawit Sabah-Malaysia” ini menjadi bukti bahwa sesibuk apapun menjadi seorang guru, masih ada waktu untuk menulis. Terutama menulis tentang pengalaman pribadi melalu catatan harian. Saya selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini.

Kepada Cikgu Arif Saefudin, yang telah dengan tekun menyusun buku catatan harian ini saya sampaikan penghargaan. Jerih payah dan kerja keras saudara adalah bagian dari upaya untuk mengobarkan budaya literer bagi dunia pendidikan. Saya berharap buku ini menjadi pemantik dan inspirasi bagi guru-guru yang lainnya agar dapat memulai menulis dan menerbitkannya untuk mencerahkan masyarakat.

Selamat membaca.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Kuala Lumpur, 24 Juli 2018


Prof. Dr. Ir. H. Ari Purbayanto, M.Sc.
Atdikbud KBRI Kuala Lumpur

Apabila ingin memesan buku silahkan klik DISINI.

The Great Scholar: Pembentuk Wajah Pesantren Dan Peletak Nilai Multikulturalisme

Juara 1 Menulis Artikel dari MUI Proinsi Banten

arifsae.com - Para petugas akan melakukan pembongkaran pada beberapa makam di pinggiran Kota Ma’la, Mekkah. Memang, setelah genap 3 tahun makam-makam harus di ‘normalisasi’ dengan cara dibongkar kemudian dipindahkan. Tidak perduli makam siapa itu, apakah makam pejabat tinggi atau rakyat jelata, semua sama.  Pada awalnya, semua berjalan biasa, namun terjadi peristiwa yang diluar logika. Terjadi kehebohan, semua petugas kaget tak percaya. Apa yang terjadi?

Ternyata para petugas penggalian kuburan menjumpai kondisi jenazah yang tak biasa ditemui pada jenazah umumnya. Bukan tulang-belulang, atau kain kafan kusut yang ditemukan, justru para petugas menyaksikan sebuah jenazah yang masih utuh, terlihat baru, dan tak kurang satu apapun. Disamping itu, tidak ada lecet apapun pada sosok mayat tersebut, bahkan kain kafan yang menutupi jenazah tak sobek sedikitpun.

Sontak saja peristiwa ini membuat gempar. Para petugas penggali kubur menemui atasan untuk melaporkan kejadian yang baru saja disaksikan oleh banyak orang itu. Setelah menerima laporan dari petugas penggali kubur, sang atasan kemudian mencari tahu, siapa orang dibalik makam itu. Setelah menyelediki, dan mencari tahu dari berbagai informasi, ternyata orang yang ada dalam makam itu bukan orang biasa, beliau adalah seorang ulama asal Banten yang pernah menjadi Imam Ulama Al-Haramayin (Imam Ulama Dua Kota Suci), beliau adalah Syekh Nawawi al-Bantani.

Nama besar Syekh Nawawi al-Bantani sudah mendunia. Beliau adalah pembentuk “wajah” pesantren saat ini. Lembaga pendidikan tertua di Indonesia ini tak bisa terlepas dari nama besarnya. Karyanya hampir tersebar diseluruh pesantren-pesantren tradisional di Indonesia. Syekh Nawawi al-Bantani merupakan salah satu peletak dasar nilai-nilai etis tradisi keilmuan pesantren, buah intelektualnya sangat berjasa dalam mengarahkan ideologi pesantren yang berada dibawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) hingga kini.

Dikalangan pesantren, Syekh Nawawi al-Bantani tidak hanya dikenal sebagai penulis berbagai kitab-kitab dari berbagai disiplin ilmu, beliau juga dijuluki  sebagai Mahaguru Sejati (The Great Scholar). Berkat murid-murid beliaulah, dikemudian hari akan lahir tokoh-tokoh intelektual yang berperan tidak hanya dalam agama, namun dalam memperjuangkan bangsa dan negaranya.

Syekh Nawawi al-Bantani  memilih murid dari berbagai latar belakang suku, ras dan golongan. Inilah yang kita sebut sebagai multikulturalisme. Nilai-nilai multikultural inilah yang saat ini masih relevan untuk di rawat. Perbedaan yang terjadi bukan menjadi alasan bagi adanya permusuhan, namun di jadikan sebagai modal membangun bangsa dengan spirit Bhinneka Tunggal Ika. Persatuan ini menjadi kebutuhan mutlak untuk menjawab tantangan zaman, mengingat realita bangsa ini yang terus dilanda cobaan des-integrasi. Persatuan inilah yang harus kita jadikan identitas bangsa saat ini hingga kiamat nanti.

Menurut Samuel Hotington (1996), identitas sebuah bangsa bisa menjadi hal yang bisa menyatukan atau bisa memisahkan. Identitas bangsa yang plural ini, apabila tidak disikapi dengan arif, bisa menjadi penyulut api permusuhan dan kobaran konflik. Oleh karena itu, kita patut belajar dari ulama sekaliber Syekh Nawawi al-Bantani dalam memahami sebuah persatuan dengan menguatkan identitas bangsa kita, salah satunya dengan melihat praktek multikulturalisme didunia pesantren. Tulisan ini mengangkat tentang kehidupan singkat Syekh Nawawi al-Bantani, sumbangan karya-karyanya dalam membentuk wajah pesantren Indonesia, dan peran pesantren dalam persatuan Indonesia.

Cahaya dari Tanara yang Mendunia
Generasi muda saat ini harus bangga, bahwa Indonesia pernah mempunyai ulama yang pernah mendunia. Nama lengkapnya adalah Muhammad Nawawi al-Syaikh al-Jawi al-Bantani atau Syekh Nawawi al-Bantani. Orang Indonesia lebih familiar dengan sebutan Kiai Haji Nawawi Putra Banten (Chaidar, 1978: 5).  KH Nawawi (akan digunakan kemudian, karena lebih ke “Indonesiaan”) lahir pada tahun 1230 Hijriah atau 1813 Masehi di Kampung Tanara, Serang, Banten. Ayahnya bernama KH ‘Umar bin Arabi dan Ibunya Zubaydah. Ayahnya seorang penghulu dan ulama di Tanara. Bila ditelusuri silsilah ayahnya, KH Nawawi masih keturunan Sunan Gunung Jati (Adurahman, 1996: 86). Lingkungan keluarga yang kental dengan nilai-nilai agama membuatnya memiliki pemahaman agama yang komperhensif dimasa mudanya.

Pondasi pendidikan yang diberikan oleh KH ‘Umar mencakup pengetahuan keislaman, seperti Nahwu dan Sharaf, Fiqih, Tauhid dan Tafsir. Setelah cukupi umur, KH Nawawi kecil melanjutkan ilmunya dengan berguru kepada Kiai Sahal, ulama Banten, dan Kiai Yusuf dari Purwakarta. Pada tahun 1826 saat usianya 13 tahun, ayahnya meninggal dunia, 2 tahun kemudian KH Nawawi dan saudarannya pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji. Di Mekkah inilah, KH Nawawi tinggal selama 3 tahun dan belajar kepada ulama-ulama besar disana, beliau berguru kepada Sayid Ahmad Nahrawi, Sayid Ahmad Dimyati, dan Ahmad Zayni Dahlan. Sedangkan di Madinah, KH Nawawi berguru kepada Muhammad Khatib al-Hanbali. Selain di Mekkah dan Madinah, beliau juga belajar kepada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Ensiklpedia Islam Indonesia, 1994: 24).

KH Nawawi pernah kembali ke Nusantara pada tahun 1831 Masehi, dan sempat mengajar diberbagai tempat. Namun, karena kondisi politik Nusantara waktu itu, akhirnya 3 tahun kemudian beliau pergi lagi ke Mekkah dan menetap disana hingga wafatnya. Ketika kembali ke Mekkah, beliau melanjutkan pemenuhan “dahaga” ilmunya pada guru-guru yang berasal dari Nusantara, seperti Syaikh Muhammad Khatib Sambas, Syaikh ‘Abdul Gani Bima, Syaikh Yusuf Sumulaweni, dan Syaikh ‘Abdul Hamid Dagastani, masih banyak yang lainnya (Saghir, 2000: 36-37). Dengan keputusannya menetap di Hijaz ini, beliau menuangkan ilmunya dengan berbagai hasil kitab-kitab yang sangat berguna bagi kehidupan Islam di Nusantara bahkan dunia Islam pada umumnya.

Dari pengalamannya selama melakukan rihlah selama 30 tahun, akhirnya KH Nawawi melakukan halaqa di Masjid al-Haram. Dengan berbekal ilmu dan kecerdasannya, KH Nawawi mendapatkan simpati dari murid-muridnya dan dari pembaca karya-karyanya. Murid-muridnya berasal dari berbagai penjuru negera, terutama dari Nusantara, seperti Suku Jawa, Sunda, Madura, Minang, dan lainnya. Dari pengajaranya di Mekkah ini, dikemudian hari murid-muridnya akan meneruskan perjuangan Islam di Nusantara dengan mendirikan pesantren-pesantren besar, seperti KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dari Jombang, KH Kholil dari Bangkalan Madura, KH Tubagus Ahmad Bakri dari Purwakarta, KH Ilyas dari Serang Banten, dan masih banyak murid-muridnya yang dikemudian hari yang mendedikasikan hidupnya untuk umat Islam di Nusantara.

Dalam melakukan pengajaranya, KH Nawawi dikenal sebagai seorang yang menjunjung nilai-nilai “demokratis”, beliau mau menerima semua ide dan pandangan dari murid-muridnya agar melatih mereka untuk berani mengemukakan ide dan gagasan yang membangun untuk umat (Ensiklpedia Islam Indonesia, 1994: 841-842). Beliau sangat menghormati segala bentuk perbedaan, inilah pelajaran yang sangat penting. Sebuah modal multikultural yang berbalut nilai demokratis yang saat itupun tidak dimiliki oleh para pejuang di Nusantara.

Disamping melakukan pengajaran, KH Nawawi juga menghasilkan karya-karya yang sangat banyak, hasil karyanya tidak hanya diakui oleh ulama Nusantara, namun dihormati pula di dunia Islam, terutama yang berkaitan dengan Mazhab Syafi’i. Memang tidak bisa dipastikan berapa karya KH Nawawi, karena terlalu banyak dan bahkan ada yang tidak terlacak. Namun yang pasti, karya-karyanya ditulis dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti Tafsir, Fiqih, Usul al-Din, Ilmu Tauhid, Akhlak dan Tasawuf, Sirah Nabawiyah, Tata Bahasa Arab, Hadist dan Akhlak (Bruinesen, 1995: 143).

Menurut Martin Van Bruinessen (1995: 236), pada era 90-an, karya KH Nawawi masih mendominasi kurikulum dilebih dari 40 pesantren besar di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, karyanya juga digunakan diberbagai wilayah Islam di Asia Tenggara, seperti Filipina, Thailand, dan Malaysia. Banyaknya karya yang digunakan diberbagai negara disebabkan kemampuan KH Nawawi menyederhanakan pengajaran yang mengandung hikmah sehingga bisa dijiwai oleh setiap pembaca. Keluasan ilmu yang dimiliki KH Nawawi membuat karya-karyanya diajarkan para Kiai dan disukai oleh kalangan santri sehingga masih menjadi rujukan utama hingga saat ini. Banyak kalangan yang menganggap KH Nawawi sebagai Imam Nawawi kedua. Imam Nawawi pertama adalah ulama besar yang membuat Syarah Shahih Muslim dan Riyadlush Shalihin.


Pondasi Membangun Negeri
Tidak bisa dipungkiri, pesantren merupakan tempat “kawah candradimuka” dalam pendidikan Islam dan tempat perkembangannya embrio bangsa Indonesia dalam menemukan jati dirinya. Pemahamaan ini dipertegas dengan kuantitas penduduk Indonesia yang 85 % merupakan muslim, dan Indonesia merupakan pemeluk muslim terbesar didunia. Tentu peran ini tidak bisa dilepaskan dari pesantren. Menurut Zamakhsyari Dhofier (2011: 100), mengkaji tentang Islam di Indonesia tidak akan lengakap apabila tidak menelusuri lembaga pesantren dan mengkaji karya-karya peletak pondasinya.

KH Nawawi merupakan tokoh dari Indoensia yang berkaliber dunia, sehingga beliau dipercaya mengajar di Mekkah al-Mukarramah dan menjadi Imam al-Haramayn (Imam ‘Ulama Dua Kota Suci, Mekkah dan Madinah). Setelah karya-karya KH Nawawi masuk ke Indonesia, wacana keislaman didunia pesantren mulai berkembang pesat. Menurut Van Brunessen (1995: 153), sejak tahun 1888 Masehi, pola intelektual pesantren berubah dengan drastis. Artinya, kesinambungan dan dakwah dalam tradisi pesantren sangat penting. Sumbangan besar KH Nawawi berada pada bidang ilmu tafsir, bahkah karyanya sudah dijadikan rujukan diberbagai wilayah Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, sejak tahun 1990 diperkirakan ada sekiar 22 tulisan karya KH Nawawi yang masih dipelajari.

Murid-muridnya terseber sebagai faounding father dalam menjaga pondasi Islam dan turut membidani kelahiran negara Indonesia. Seperti KH Hasyim Asy’ari yang mendirikan organisasi massa terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asy’ari termasuk murid yang memiliki semangat tersendiri untuk mengajarkan karya-karya gurunya di Nusantara, karena setelah belajar dengan K.H Nawawi di Mekkah, beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng, yaitu pondok pesantren paling berpengaruh di Indonesia pada abad-20. Ketika masa pendudukan Jepang, KH Hasyim Asy’ari tidak mau melakukan upacara Seikeri (membungkuk kebendera Jepang), sehingga beliau sempat ditahan oleh Jepang. Setelah merdeka, beliau diangkat sebagai Ro’is ‘Am (ketua umum) Masyumi pertama periode 1945-1947. Masa revolusi senjata, beliau sebagai jenderal yang membawahi laskar-laskar perjuangan, seperti GPII, Hizbullah, Sabillilah dan lainnya.

Kemudian, murid lainnya adalah KH Kholil dari Bangkalan Madura, yang terkenal dengan karomahnya. Sama seperti KH Hasyim As’ari, KH Kholil juga berperan penting dalam dunia pendidikan dan perlawanan terhadap penjajah. Dalam bidang pendidikan, beliau mencetak murid-murid yang memiliki integritas, berwawasan, dan tangguh. Selain itu, perlawanan terhadap penjajah dilakukan dibelakang layar, beliau selalu memberi suwuk (tenaga dalam) dan mempersilahkan pondoknya sebagai tempat persembunyian para pejuang.

Selanjutnya, KH Tubagus Ahmad Bakri dari Purwakarta. Seorang ulama dari tanah pasundan yang mendirikan pesantren As-Salafiyyah. Banyak karya yang juga dilahirkan oleh pemikirannya, masa hidupnya didedikasikan untuk mengaji dan membuat karya. Ada juga murid dari KH Nawawi yang berjuang secara fisik melawan kekejaman senjata, beliau adalah KH Wasit. KH Wasit memimpin pembrontakan di Cilegon pada tahun 1888 Masehi. Murid-muridnya tersebar hampir disejumlah pesantren diseluruh Indonesia.

Dengan kata lain, pesantren di Indonesia memiliki geneologi yang hampir sama meskipun berbeda daerah dan budaya. Pada waktu itu, polarisasi pemikiran modernitas yang sedang dikembangkan oleh Jammaludin al-Afgani dan Muhammad Abduh di Mekkah menjadi pemersatu ulama tradisional di Indonesia yang sebagian besar alumnus dari Mekkah dan Madinah. Dengan keterkaitan para ulama Nusantara ini, maka secara tidak langsung mempercepat penyebaran karya-karya KH Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi para Ulama Nusantara (Dhofier, 2011: 57). Besarnya pengaruh pemikiran KH Nawawi terhadap tokoh ulama di Indonesia membuat beliau dikatakan sebagai salah satu “poros” dari akar keilmuan pesantren dan NU.

Dari Pesantren untuk Indonesia
Sumbangan KH Nawawi yang paling dibutuhkan oleh Indonesia saat ini adalah nilai-nilai multikulturalisme ditengah maraknya paham disintegrasi bangsa. Nilai multikultural dari KH Nawawi bisa dilihat dari proses pengajarannya di Mekkah. Ketika beliau menerima murid, beliau tidak melihat dari mana asal suku, ras atau golongan, namun oleh beliau diterima dengan tangan terbuka. Pendapat yang berbeda dari murid-muridnya diterima sebagai kekayaan intelektual. Murid yang diterima juga dari berbagai tingkat intelektual, ada yang dari dasar pemulaan tata bahasa Arab, atau murid yang cukup pintar dan yang sudah mengajar ditempat mereka sendiri (Stennbrik, 1984: 117).

Hal ini menjadi pijakan dalam mengembangkan jatidiri pesantren khususnya dan jatidiri bangsa pada umumnya. Pesanten, sebuah lembaga pendidikan tertua di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah, kesadaran multikulturalisme disaat wacana itu masih diperdebatkan dilevel politik nasional, seperti Budi Utomo pada tahun 1908, organisasi pertama yang anggotanya berasal dari Prijaji Jawa saja. Oleh karena itu, kesadaran berbangsa yang saat ini mulai surut harus kita kuatkan lagi, dengan belajar dari kehidupan pesantren disekeliling kita. Memang ada sebagian kecil pesantren yang sudah terjebak dengan paham-paham “radikalisme”. Namun itu hanya sebagian kecil, karena sebagian besar kehidupan di pesanteren sangat kental dengan nilai-nilai multikulturalisme dan mendorong pembentukan jatidiri bangsa Indonesia.

Setidaknya ada tiga hal mendasar yang bisa kita lihat dan rasakan dari sumbangsih pesantren dalam usahanya membentuk jatidiri bangsa Indonesia, yaitu (1) secara geneologiis; (2) secara paradigmatis; dan (3) secara sosiologis. Pertama, secara geneologi, pesantrean sudah mengalami kontak secara langsung dengan penganut agama lain ketika masa Hindu-Budha di Jawa. Pesantren sudah memberikan contoh dengan baik, bagaimana berdialog dengan kelompok yang memiliki kepercayaan berbeda. Para founding father penyebaran Islam, Wali Sanga,  mengajarkan kepada kita, bahwa mereka tidak menghapus kebudayaan agama Hindu-Budha, namun justru mencari titik temu persamaan agama Hindu-Budha dengan ajaran agama Islam.

Kedua, secara paradigmatis. Dalam dunia pesantren, jelas terlihat nilai dan prinsip toleransi dan keterbukaan. Ajaran pesantren mengajarkan tentang toleransi terhadap perbedaan. Misalnya dalam pengajaranya, pesantern mengajarkan semua madzab ilmu fiqih pada para santri. KH Nawawi dalam melakukan pengajarannya juga selalu menerima pendapat yang berbeda. Dalam menghargai perbedaan ini, pesantren menampakan toleransi terhadap perbedaan yang terjadi antar pesantren dalam memahami teks hadits maupun Al-Qur’an yang disesuakan dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Pada bagian ini, pesantren menampakan wajah yang universal, atau Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Wajah universal ini ditransformasikan kedalam nilai-nilai lokal yang plural. Misalnya, pesanteren yang tumbuh didaerah Jawa, akan menampakan wajah keislamannya dengan nilai-nilai kebudayaan Jawa. Pesantren menyadari, tidak akan memutlakan suatu tafsiran, namun membiarkan berbagai tafsiran tentang keagamaan itu berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Kemudian yang ketiga, secara sosiologis. Pesantren sebagai sebuah komunitas sosial yang teridiri dari Kiai dan santri berasal dari berbagai latar belakang yang beragam. Hal ini memperlihatkan bahwa, realitas sosial pesantren juga sangat plural. Misalkan, pondok pesantren Tebuireng, Jombang. Disana santrinya berjumlah ribuan, berasal dari berbagai daerah, ada yang berasal dari Jawa, Madura, Kalimantan, Papua, dan dari seluruh daerah di Indonesia. Namun, dalam bingkai kehidupan dilingkungan pesantren tidak pernah terdengar “tawuran” bahkan terkesan sangat harmonis sehingga praktis tidak pernah ada pertikaian besar terjadi disini.

Ada pertanyaan, kalau pesantren sudah memberikan sumbangsih nilai multikulturalsime di Indonesia, tapi kenapa Indonesia saat ini justru banyak konflik dan permusuhan? Memang inilah ironi yang menyentuh hati nurani. Jawabanya, kita kurang belajar dari ulama dan sejarah bangsa kita sendiri. Paling penting yang perlu diingat, kita masih mempunyai mozaik dipesantren apabila kita memerlukan sebuah contoh arti sebuah persatuan ditengah perbedaan. Pesantren telah memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana menjalani kehidupan yang harmonis dalam atap perbedaan. Inilah esensi dari ajaran KH Nawawi dengan membentuk pondasi jatidiri bangsa lewat karya-karyanya yang diteruskan oleh para muridnya didunia pesantren.

Dengan semua teladan dari KH Nawawi, kita harus siap menerima keberadaan orang atau kelompok lain yang berbeda dengan kita. Dengan cara membiasakan diri seperti itu, hati kita akan terbiasa menerima perbedaan. Nafsu untuk mengejar kekuasaan akan terkalahkan dengan semangat persatuan. Tidak akan ada lagi ego untuk menonjolkan identitas kelompok sendiri, tapi semuanya akan saling menghormati. Bangsa ini harus belajar terhadap kesuksesan pesantren dalam mengimplementasikan nilai-nilai multikulturalisme. Kita harus belajar untuk saling belajar, bukan saling menghajar, pelangi terdiri dari banyak warna yang berjejer menjadi satu, jadi bukankan pelangi indah karena berbeda?


Sebuah Refleksi
KH Nawawi wafat ketika menginjak usiannya yang ke 84 tahun, tepatnya pada 24 Syawal 1314 Hijriyah/1897 Masehi. Beliau meninggal ketika sedang menterjemahkan kitab Minhaj al-alibin karya Imam Nawawi al-Dimshaqi. KH Nawawi dimakamkan ditempat tinggalnya disekitar Shi’ib ‘Ali Mekkah, tepatnya dipekuburan Ma’la, yang berdekatan dengan kuburan Ibn Hajar dan Asma’ binti Abu Bakar. Lewat kemasyuran namanya, KH Nawawi mendapat banyak gelar, diantaranya Sayyid ‘Ulama al-Hijaz (Pemimpin ‘Ulama Hijaz), AI-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni Ilmunya), A’yan ‘Ulama al-Qarn aI-Ram ‘Asyar Li al-Hijrah (Tokoh Ulama Abad 14 H), dan Imam Ulama Al-Haramayin (Imam Ulama Dua Kota Suci).

Semasa hidupnya, banyak karya-karya yang lahir dari ketinggian keintelektualannya. Tulisannya melintasi berbagai disiplin ilmu, beliau juga meneruskan tradisi ulama Nusantara dalam mentransformasikan gagasan keilmuannya melalui pengajaran kepada murid-muridnya. Perannya dalam menyebarkan Islam di Nusantara sangat berguna bagi arah pembentukan identitas bangsa kedepannya. Dengan pengajarannya di Mekkah al-Mukarramah, beliau berhasil menghasilkan murid-murid yang menjadi tokoh nasional dalam memperjuangkan Indonesia. Salah satu muridnya adalah Hadratul Syekh KH Hasyim Asy’ari, ulama pendiri Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi Islam terbesar hingga saat ini.

KH Nawawi merupakan ulama Rijal al-Dakwah yang jasa-jasanya sangat terasa untuk dunia Islam di Indonesia maupun dunia Islam pada umumnya. Dampak aktifitas dakwah yang dilakukan oleh KH Nawawi masih terasa sampai sekarang. Bahkan hampir semua Kiai Pesantren masih menggunakan karya-karyanya sebagai rujukan utama. Hal ini bisa ditelusuri dari geanologi keilmuan KH Nawawi terhadap wajah pesantren dewasa ini. Salah satunya adalah nilai-nilai multikulturalisme yang dipraktekan pesantren hingga saat ini.

Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia pada era globalisasi ini. Tantangan primordialisme dan cauvinisme saat ini mulai menjamur diberbagai daerah Indonesia. Oleh karena itu, kita harus menengok kebelakang sejenak untuk belajar tentang arti multikulturalsime dari seorang ulama besar yang pernah dimiliki oleh Indonesia, Syekh Nawawi al-Bantani.

Daftar Pustaka
Abdurahman Nawawi al-Bantani. 1996. An Intelectual Master of the Pesantren Tradition, Dalam Studi Islamika, no. 3, vol. 3, Jakarta: INIS.

Bruinesen, Martin Van. 1995. Kitab Kuning (Pesantren dan Tarekat). Bandung: Mizan.

Chaidar. 1978. Sejarah Pujangga Islam Shaykh Nawawi Banteni. Jakarta: Sarana Utama.

Ensiklopedia Islam. 1994. Ensklopedia Islam Indonesia. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.

Huntington, Samuel P., 1996. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York: Simon & Schuster.

Wan Moh. Saghir. 2000. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah.

Karel A. Steenbrik. 1984. Beberapa Aspek Tentang Islam di indonesia Abad 19. Jakarta: Bulan bintang.

Wan Mohd, Saghir. 2000. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah.

Zamakhsyari Dhofier. 2011. Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, Jakarta: LP3ES.
MUI Provinsi Banten