Tuesday, November 20, 2018

Mbah Syaikh Nur Kalam, Penyebar Islam dari Brobot, Banyumas

arifsae.com - Bangun tidur tiba-tiba mamaku bilang, "Ada mbah-mbah dari Purwokerto memberikan buku," sambil menunjukan bukunya ke saya.

Saya lihat bukunya, tipis memang, bingun membacanya. Judulnya "Silsilah keluarga besar Mbah Wali Nurkalam."

Saya buka, memang hanya sisilah, tidak mudengin, saya pertama tidak bisa memahaminya, "Dimana nama keluarga saya?"

Buka berkali-kali dan penuh dengan perjuangan akhirnya saya menemukan dan memahaminya. Ternyata, tidak disangka-sangka, masih ada keturunan dengan Mbah Nur Kalam. Dari Brobot Desa Tambaksogra, Kecamatan Sumbang, Jawa Tengah,

Lalu siapa Mbah Nur Kalam?

Tidak banyak sumber, termasuk di google. Tidak ada tulisan yang membahas, hanya secara garis besar saja. Ada satu tulisan yang menulis tentang ini, dari blog kangmulyanto.com.

Begini ceritanya,

Dahulu, sebelum kedatangan Mbah Nur Kalam, suasana wilayah yang sekarang di namakan Mbrobot itu masih berbentuk hutan liwang liwung. Tidak banyak dihuni manusia.

Hanya ada satu keluarga yang bertempat tinggal ditempat itu. Menurut sumber, keluarga itu adalah keluarga Kartawiyasa.

Pada suatu hari, bertepatan dengan hari Kamis Wage jam 12 siang, terdengar sebuah suara letusan yang mengagetkan, suaranya seperti suara rumah yang terbakar, suara itu masih terus terdengar, hingga beberapa hari.

Tidak ada yang tau secara pasti suara apa itu, darimana asal suara itu dan mengapa suara itu tidak hilang-hilang. Bahkan sampai ke pedukuhan dan desa-desa sekitarnya.

Hingga datanglah seorang laki-laki dari arah timur menuju ke daerah yang bersumber dari suara yang mengganggu itu. Laki-laki itu Menghentikan langkahnya karena mendengar suara itu.

Setelah mengamati dan mendengarkan suara itu, akhirnya laki-laki itu menuju ke pusat suara. Suasana sekitar sumber letusan yang penuh dengan duri dan semak-semak tak membuat langgkah laki-laki itu terhenti.

Setelah sampai dipusat letusan, lelaki itu terdiam. Menghela nafas sejenak sembari memejamkan mata.Ternyata disini tidak ada apapun. Kejadian aneh ini menjadi perhatian laki-laki itu. Kejadian bunyi-bunyian suara yang tak ada wujudnya itu sering terjadi.

Oleh karena itu, di pedukuhan itu ia melakukan tirakat selama 40 hari lamanya. Memohon pertolongan Allah agar kejadian yang menimpa di pedukuhan itu segera diatasi. Dialah Muhada Nur Kalam atau sering dipanggil Mbah Nur Kalam.

Setiap 10 hari beliau melakukan rotasi tempat duduk. Dimulai dari Selatan, Barat, Utara, dan berakhir menghadap ke Timur. Setelah melakukan Tirakat selama 40 hari, akhirnya suara letusan itu tidak terdengar lagi.

Mbah Nur Kalam berkata, "Rejaning Jaman Mbesuk Panggonan iki di Jenengi Mbrobot".

Sejak saat itu tempat pedukuhan itu diberi nama Mbrobot atau Brobot hingga sekarang. Wilayah ini saat ini menjadi wilayah Desa Tambaksogra, Kecamatan Sumbang, Banyumas.

Mbah Nur Kalam sepanjang hayatnya diabdikan diabadikan untuk syiar agama Islam di daerah Mbrobot dan Kecamatan Sumbang dan sekitarnya.

Silsislah Mbah Nur Kalam

Mbah Nur Kalam merupakan anak dari Nur Ali. Silsilah Nur Ali bisa ditarik sampai kepada Nyai Singa Wijaya, Mertawijaya Sedo Krapyak dan sampai kepada Panembahan Senopati hingga ke Ki Ageng Pamanahan.

Bila ditarik dari perkawinannya dengan Nyai Muhada, Mbah Nur Kalam dikarunai seorang putera bernama Hasan Besari dan Ngali Mustapa. Dari kedua keturunan itulah akhirnya silsilahnya berlanjut dan tersebar keberbagai daerah di Banyumas, Pasuruan, dan Malang.
Dan admin adalah keturunan ke 6 dari Mbah Nur Kalam lewat putera keduanya, Ngali Mustapa. Seperti yang tertera dalam silsisah buku ini. Saya pun tidak terlalu paham juga😆



Coever Buku
Keturunan 1-3
Keturunan 4



Gambar Mbah Nur Kalam
Keturunan ke-5
Pembuat Buku

Walahhualam Bi Showab..

Makam Mbah Nur Kalam terletak di sebelah kiri jalan sebelum Kali Pangkon grumbul Mbrobot RT 4 /RW 3 tepatnya 200 m dari Masjid Al Huda belok kiri dari jalan raya Sumbang Baturaden.

Makamnya sangat sederahana dikelilingi pohon bambu yang menghiasi disebelah kanan dan kirnya.

Ditempat inilah Mbah Nur Kalam melakukan tirakat selama 40 hari 40 malam bermunajat memohon kepada Allaoh SWT agar diberi jalan mengatasi letusan yang terjadi disekitar daerah itu.

Sampai hari ini banyak diziarahi umat Islam dari berbagai daerah baik dari daerah Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pasuruan, Jombang, Surabaya, Malang dan daerah daerah lainnya.[]

Sunday, November 4, 2018

Buku Usman Janatin dan Harun Tohir

Buku Usman Janatin dan Harun Tohir
Judul Buku                  : Usman Janatin dan Harun Tohir
Penulis                        : Arif Saefudin
Penerbit                      : Deepublishing
Terbit                          : Cet 1 September 2018
Halaman                     : v+ 176 Halaman
Harga                         : Rp. 60.000,-
Pemesanan                 : DISINI.

Resensi :

Sejarah mencatat, hubungan antara Indonesia dan Malaysia pernah mengalami masa kelam dengan puncak perselisihan yang tajam. Perselisihan dua negara satu rumpun melayu ini diawali dari rencana pembentukan Federasi Malaysia yang diinisiasi oleh Inggris. Presiden Sukarno sangat menentang pembentukan itu. Menurutnya, pembentukan negara federasi itu adalah sebuah bentuk neo-kolonilaisme dan neo-imperialisme (nekolim).
Penolakan Presiden Sukarno inilah yang menyebabkan konfrontasi berjalan begitu menarik dan sengit. Segala potensi negeri dikerahkan untuk melancarkan aksi penentangan yang dinamakan, Ganyang Malaysia. Puncaknya, Presiden Sukarno mengeluarkan sebuah komando untuk mengagalkan negara “boneka” itu: Dwi Komando Rakyat (Dwikora).
Perang yang tak dideklarasikan ini juga diwarnai dengan perjuangan diplomasi. Frederick P. Bunnel menggambarkan kebijakan politik yang diambil Presiden Sukarno ini sebagai confrontation diplomacy, yaitu suatu campuran manuver yang bersifat berani, cerdik dan tidak dapat diduga. Kecerdikan inilah yang dipakai untuk mengembalikan wilayah Irian Barat dari tangan Belanda.
Tak sesukses di Irian Barat, kebijakan ini berakhir meskipun tak diakhiri oleh Presiden Sukarno sendiri. Memang sebelum berakhir era konfrontasi, kursi kekuasaan Presiden Sukarno telah berganti dibawah komando Jenderal Soeharto tahun 1966. Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) menjadi tonggak utama.
Ditengah situasi konfrontasi yang hampir diakhiri itu, muncul sosok yang menjadi “tumbal” masa Dwikora. Dialah Janatin alias Usman bin Haji Muchamad Ali dan Tohir alias Harun bin Said. Mereka merupakan anggota Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL) yang rela menjadi sukarelawan Dwikora. Dengan jiwa patriotisme nya, tugas yang diembannya dilaksanakan dengan segenap jiwa raga.
Mereka tak paham lobi-lobi tingkat para pemimpin negeri, apalagi untuk berbicara mengkritisi. Sebagai seorang prajutir, yang mereka tahu adalah kesetiaan terhadap negera dan bangsa menjadi hal utama. Tidak bisa digadai dengan barang manapun, dan tak bisa ditawar dengan harga semahal apapun. Ketika negara memanggil, mereka siap hadir, itulah prinsip seorang prajurit.
Dipuncak konfrontasi yang memanas, Janatin dan Tohir berhasil melaksanakan tugas. Mereka sukses meledakan gedung MacDonnal House (MDH) di Singapura, wilayah yang waktu itu masih menjadi bagian dari Federasi Malaysia. Na’as, setelah berhasil melaksanakan tugas, mereka ditangkap pihak militer Singapura.
Proses panjang dan melelahkan mereka jalani. Pemerintah Indonesia juga hadir untuk membela mereka. Sejak akhir kekuasaan Presiden Sukarno sampai dimulainya Presiden Soeharto, kedua anggota KKO-AL sudah berusaha diselamatkan. Namun usaha itu sia-sia, karena vonis mati dengan digantung menjadi harga mati. Eksekusi mati dilakukan tanggal 17 Oktober 1968 di Penjara Changi, Singapura.
 Istimewanya, mereka diganjar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto. Dengan Keputusan Presiden RI No. 050/TK/Tahun 1968 tanggal 17 Oktober 1968, Usman Janatin dan Harun Tohir dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan tanda kehormatan Bintang Sakti. Sesuatu yang pantas mereka dapatkan untuk keberanian dan pengorbanan yang sudah diberikan.
Buku ini merupakan salah satu buku yang membahas perjuangan kedua prajurit KKO-AL itu. Namanya sempat tenggelam beberapa dekade. Tulisan mengenai mereka juga sangat jarang diperhatikan oleh sejarawan. Berlandas semangat itu, buku ini hadir untuk melengkapi dan menambah referensi mengenai perjuangan Pahlawan Nasional Dwikora itu.
Dengan mengucapkan Alhamdullilah, penulis mencurahkan segala puji syukur kehadirat Allah SWT, yang pada akhirnya bisa menyelesaikan buku yang berjudul, “Usman Janatin dan Harun Tohir: Kisah Perjuangan Pahlawan Dwikora”. Meskipun dengan berbagai kendala dan suasana, tak menghalangi semangat untuk menggali sejarah mikro dipanggung sejarah Indonesia.
Tentunya dengan terselesaikannya buku ini, penulis mengucapkan berjuta terimakasih kepada beberapa pihak yang berkontribusi nyata maupun dengan doa. Tecurahkan rasa terima kasih kepada pihak Direktorat Sejarah yang telah memfasilitasi untuk menulis salah satu pahlawan Dwikora: Usman Janatin tahun 2017 silam. Tentunya menjadi lebih mudah penulisan buku ini karena sebagian besar referensi didapatkan dari penelitian itu.
Cucuran usaha tak akan ada artinya tanpa curahan doa. Oleh karena itu, penulis sembahkan terima kasih kepada kedua orang tua, Pak Suwarno dan Bu Suwarti yang menyumbangkan tetesan air mata dalam setiap lantunan doa. Tanpa doa mereka, usaha penulisan ini tak akan bisa terselesaikan dengan Rido-Nya.
Tidak lupa, saya curahkan rasa cinta kepada istri dan buah hati kami berdua. Istri tercinta Yuli Windarti, yang sudah mau membantu dan menuliskan ide-idenya, sehingaa kita bisa berkolaboorasi dalam buku ini. Anak kami berdua, Naira Ayudiasiya, yang terus tumbuh menjadi anak yang membanggakan kedua orang tua. Kalian berdualah motor penyemangat hidup.
Akhirnya, saya menyadari pasti banyak kekurangan dari setiap bagian buku ini. Kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja menyinggung pembaca, penulis ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga karya ini menjadi salah satu amal jariyah yang diterima oleh Allah SAW. Amiin.
Selamat membaca.

Sabah, Malaysia, Oktober 2018


Friday, October 12, 2018

Bendera Merah-Putih dalam Kajian Tradisi

Merah-Putih

Wednesday, September 12, 2018

Tinggal Menghitung Tahun, Nama Asli Indonesia Ini Akan Punah

Nama Punah?

Monday, September 10, 2018

Masuk Nominasi Pemenang Lomba Jurnalistik Pendidikan Keluarga 2018

Nominasi
arifsae.com - Beberapa waktu yang lalu, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Dirjen PAUD dan Dikmas, Kemendikbud mengadakan lomba Jurnalistik tentang keluarga. Ada tiga jenis lomba, pertama Feuture, Opini dan Berita. Nah, saya mengikuti lomba Opini dikoran. Penasaran, karena tahun lalu saya ikut tapi belum berhasil.

Tahun ini saya coba lagi, kali ini tulisan saya dimuat di RMOL.co. Tulisainnya bisa dilihat DISINI. Sebenarnya saya ikutkan tullisan opini dikoran 5 buah, tapi hanya satu yang lolos nominasi. Mungkin secara aturan tidak memungkinkan satu orang mendapatkan dua nominasi.

Dan pada tanggal 9 September 2018 ini para dewan juri mengumumkan hasil lomba nya. Dewan juri lomba berasal dari kalangan jurnalis, akademisi dan penggiat pendidikan keluarga. Sebut saja, redaktur senior LKBN Antara Zita Meirina, Pakar Pendidikan Karakter yang juga penulis opini aktif di Harian Kompas Doni Koesoema, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati, Chief Content Officer Selasar Arfi Bambani.

Saingannya berat, dari informasi, yang mengikuti lomba Opini mencapai 323 naskah, yang berasal dari 26 provinsi. Dan yang mendapatkan nominasi hanya 34 saja. Dan, alhamdullilah, saya ikut bagian dalam menyumbangkan gagasan. 
Dapat Nominasi
Tapi saya tidak berharap terlalu banyak, karena saingannya sangat ketat. Mereka berasal dari berbagai kalangan, ada yang berprofesi sebagai dosen, aktivis, guru, pokoknya ngeri-ngeri saingannya. Bagi saya pribadi, mencapai titik ini saja saya sudah senang. Tapi harapan itu masih ada. Optimis itu perlu.😅

Rencananya, para nominator akan di undang ke Jakarta untuk menghadiri Apresiasi Pendidikan Keluarga pada 24-26 Oktober 2018. Dalam kesempatan itulah, akan diumumkan tiga orang pemenang, dan 7 juara harapan lomba. Semoga bisa hadir kesana dan mendapatkan yang terbaik. Aamiin.
Pengumuman nominator lomba silahkan lihat DISINI.

Monday, August 27, 2018

Ini Perbedaan China, Hong Kong, Taiwan dan Macau

Bendera RRT, Hong Kong, Taiwan dan Macau
arifsae.com - Ditengah meriahnya ajang Asian Games 2018 yang diadakan di Jakarta dan Palembang, ternyata menyisakan pertanyaan tersendiri. Pertanyaan itu adalah perbedaan mengenai China, Hong Kong, Taiwan dan Macau. Pertanyaan itu muncul karena ke empat negara tersebut ikut bagian dalam ajang empat tahunan ini dan menggunakan bendera sendiri-sendiri.

Lalu peranyaanya adalah apakah perbedaan ke empat negara itu? Mari kita bahas ringkas sekilas.

Pertama, China. Nama resmi negara ini adalah People Republic of China atau dalam bahasa Indonesia Republik Rakyat China (RRC). Namun sejak tahun 2014, berdasarkan Keppres Nomor 12 Tahun 2014, SBY mengubah nama penggunaan Republik Rakyat China menjadi Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Tiongkok merujuk pada negara China atau Cina. Oleh karena nya, orang-orang keturunan Tiongkok di Indonesia disebut Tionghoa yang setara dengan orang Jawa, Sunda, Madura, dan lain-lain.

Negara ini merupakan penganut ideologi komunis terbesar di dunia, termasuk dengan jumlah penduduknya yang sudah diaspora diseluruh negara. Karena saking banyaknya, orang Tionghoa sudah ada hampir disetiap negara di dunia. Ibu Kota nya di Beijing dan menggunakan sisitem ekonomi sosialis.

Bagi orang-orang yang tinggal di Hong Kong, Taiwan dan Macaru, wilayah RRT sering disebut sebagai mainland (tanah daratan). Negeri Tirai Bambu ini bisa dikatakan sebagai induk dari ketiga negara yang akan dijelaskan kemudian.

Kedua, Hong Kong. Hong Kong merupakan negara yang dikatakan semi merdeka. Nama resminya adalah Daerah Administrasi Khusus Hong Kong, Republik Rakyat Tiongkok. Sejak kekalahan Tiongkok di Perang Opium (1839-1842) dari Kerajaan Inggris, Hong Kong menjadi koloni Inggris.

Sejak 1898, wilayah ini disewakan New Territories selama 99 tahun. Sejak 30 Juni 1997, wilayah ini diserahkan kepada RRT melalui Deklarasi Bersama Sino-Inggris. Sejak 1997, wilayah ini berasaskan "satu negara, dua sistem".

Maksudnya, meskipun Hong Kong bagian dari RRT, tapi memiliki sistem negara sendiri, mulai dari Bendera, mata uang Hong Kong Dolar (HKD), pasport dan ekonomi kapitalis (tidak sama dengan RRT yang sosialis). Untuk masalah militer, Hong Kong memiliki polisi sendiri, tapi tidak memiliki Angkatan Perang  karena masih dikendalikan RRT.

Hong Kong juga terkenal sebagai Asia's World City (Kota Asia Dunia), kota gemerlap dengan gedung-gedung pencakar langit, perdagangan dunia, industri film dan pusat bisnis. Disini juga banyak media internasional seperti BBC, CNN, VOA, Al-Jazeera yang mendirikan markasnya, tujuannya agar lebih mudah meliput RRT yang kurang demokratis terhadap pers.

Tahun 2014, Hong Kong sempat bergejolak dengan "Revolusi Payung" dibawah Joshua Wong. Sikap anti-RRT masih melanda Hong Kong karena sering mengintervensi pemimpin baru yang demokratis. Banyak orang Hong Kong tidak menerima jika dsebut sebagai Chinese, mereka lebih suka disebut sebagai Cantonies (orang Kanton).

Ketiga, Taiwan atau Chinese Taipei. Nama resminya adalah Republic of China (tanpa people) dan beribu kota di Taipei, sebagian menyebutnya China Taipe. Sistem ekonomi kapiitalis dengan mata uang Taiwan Dollar (TWD). Wilayah ini berada di Pulau Formosa. 

Wilayah ini sering bergejolak karena ingin memerdekakan diri sepernuhnya, sama seperti Hong Kong. Taiwan merupakan negara dengan pengakuan terbatas, karena hanya 23 negara yang mengakui Taiwan sebagai negara berdaulat. Secara de facto Taiwan adalah negara tapi secara de jure Taiwan belum mendapatkan pengakuan, termasuk oleh Perserikatan Bangsa Bangsa.

Wilayah ini sama seperti Palestina dan Kosovo yang bersengketa. Meskipun bukan negara yang berdaulat, tapi secara ekonomi, Taiwan sangat berkkembang produktif. Salah satunya dalam mengembangkan merk teknologi kelas dunia seperti Asus, BenQ, HTc, D-Link, Trend Micro dan Mio Tech.

Keempat, Macau atau Macao. Wilayah ini terletak di pesisir selatan RRT. Hampir sama dengan Hong Kong, wilayah ini berstatus sebagai Daerah Adminstrasi Khusus yang berlaku hingga 20 Desember 2049.

Wilayah yang dijajah oleh Portugis ini diberikan kepada RRT setelah ditandanganinya perjanjian antara Portugal dengan RRT 20 Desember 1999. Selama lebih dari 400 tahun, wilayah Makau adalah wilayah jajahan Portugis, makanya atsmofir Eropa masih sangat kental, seperti bangunan dan tulisan-tulisan informasi dengan bahasa Portugis.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Kantonis, Portugis dan Inggris. Mata uangnya adalah Pataca Macau, meski Dolar Hong Kong juga berlaku disini. Sistem ekonomi menggunakan kapitalis.

Tempat ini dikenal sebagai pusat kasino terbesar di Asia dan sering dijuluki The Sin City of Asia (Kota Dosa Asia). Boleh dikatakan, disini tempat surga judi terbesar di dunia yang buka 24 jam. Untuk suhu politik anti-Beijing di Macau terbilang stabil dibandingkan dengan Hong Kong dan Taiwan.

Itulah secara garis besar perbedaan keempat negara itu. Meskipun Hong Kong, Taiwan dan Macau bukanlah negara berdauat, namun mereka memilki aturan masing-masing. Termasuk paspor sendiri-sendiri. Misalkan orang RRT berkunjung ke Taiwan, Hong Kong dan Macau wajib menggunakan pasport atau sebaliknya.

RRT tidak ingin membiarkan wilayah-wilayah itu berdaulat sepenuhnya. Beijing ingin adanya One China Policy yaitu kebijakan satu Cina. Mereka ingin hanya ada satu China di dunia untuk menjaga peradaban dan memperkuat kekuatan mereka di dunia.[]

Sumber:
Wikipedia
aceh.tribunnews.com