Friday, July 24, 2015

Sejarah Nama Kaligondang

Balai Desa Kaligondang
Kaligondang merupakan sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan Kaligondang mencakup beberapa desa yaitu, Desa Tejasari, Desa Cilapar, Desa Penolih, Desa Sinduraja, Desa Selanegara, Desa Kaligondang, Desa Brecek, Desa Sempor Lor, Desa Kembaran Wetan, Desa Selakambang, Desa Penaruban, Desa Kalikajar, Desa Slinga, Desa Arenan, Desa Sidanegara, Desa Pagerandong, Desa Lamongan dan Desa Sidareja. Desa Kaligondang berbatasan dengan Desa Cilapar, Desa Selanegara, Desa Brecek  dan Desa Kembaran.
Desa Kaligondang memiliki wilayah yang luas dengan jumlah kepala keluarga yang cukup banyak. Dan untuk menunjang kehidupan masyarakat Desa Kaligondang, dibangunlah prasarana sekolah-sekolah yang terdiri atas SD Negeri 1 Kaligondang, SD Negeri 2 Kaligondang, MIM (Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah) Kaligondang, SMP Muhammadiyah 06 Kaligondang, SMP Negeri 1 Kaligondang, SMP Negeri 2 Kaligondang, dan SMK Negeri 1 Kaligondang. Selain sekolah-sekolah juga terdapat Puskesmas, Polsek, Pasar  Kaligondang, SPBU, serta Poliklinik Kesehatan Desa.
Kebanyakan agama yang dianut semua warga Desa Kaligondang adalah agama Islam yang  beraliran Muhammadiyah. Sehingga, berbeda dengan desa sebelah yang menganut agama Islam beraliran NU (Nadiyatul’ Ulama), tetapi itu semua tidak menimbulkan masalah bagi warga masyarakat Desa Kaligondang, karena semua hubungan kekerabatan tetap berjalan harmonis. Warga masyarakat Desa Kaligondang banyak yang bermata pencaharian sebagai petani, karena Desa Kaligondang memiliki wilayah persawahan yang cukup luas serta kebun-kebun luas yang masih cukup rimbun.
Berkaitan dengan asal mula nama Kaligondang terbagi menjadi 2 versi, tetapi versi itu masih saling berkaitan. Versi pertama yaitu Perang Diponegoro (Perang Jawa/Perang Terbesar) yang sangat luas pengaruhnya di Jawa Tengah,termasuk pula daerah Purbalingga. Perang melawan koloni Belanda di Kaligondang dipimpin oleh Adipati Sulanjari yang terjadi sekitar pada tahun 1826. Perang yang dilakukan oleh Adipati Sulanjari menggunakan strategi perang gerilya yang dilengkapi dengan senjata tradisional. Perang yang dipimpin oleh Adipati Sulanjari menjadi terdesak karena ketidaknyamanan Belanda akibat tentara pribumi menyebabkan tentara pribumi yang tertangkap kemanapun larinya akan dikejar.
Perang yang sengit melawan Belanda di desa Kaligondang yang dipimpin oleh Adipati Sulanjari banyak memakan korban di pihaknya. Saat tentara Adipati Sulanjari dikejar oleh Belanda yang berlari ke arah selatan dan banyak tentara Adipati Sulanjari yang terjatuh kedalam sungai kecil (Jawa=Kali) dan dapat ditangkap oleh Belanda. Seorang tentara Adipati Suanjari tertangkap dan mati terbunuh oleh Belanda karena ditusuk leher bagian depan (Jawa=Gondang)  yang dimana peristiwa itu membawa sejarah Kaligondang . Tempat terjadinya peristiwa tersebut diabadikan oleh masyarakat menjadi Kaligondang yang didalamnya terdapat makna tersirat tentara Adipati Sulanjari yang banyak terjatuh kesungai kecil dan terbunuh oleh Belanda dengan ditusuk leher bagian depan hingga meninggal, sehingga menjadi satu kesimpulan yaitu ‘Kaligondang’.
Tentara Adipati Sulanjari  yang telah ditusuk setengah sekarat itu berlari tunnggang langgang ke arah barat dengan darah bercucuran  /bercak-bercak yang melewati sebuah dusun sehingga dusun tersebut dinanakan ‘Brecek’. Dan terus berlari ke arah barat dan sampai di suatu pedukuhan dengan darah yang sudah mengalir deras (Jawa=Mlopor-mlopor) lalu daerah tersebut dibamakan ‘Sempor’ dan akhirnya tentara itu lari ke sungai Klawing dan gugur.
Versi yang kedua yaitu menurut mbah Tareja. Perang Biting yang terjadi di desa Kaligondang, Selanegara, Selakambang dan Cilapar yang masih berhubungan dengan Perang Diponegoro melawan koloni Belanda. Perang terjadi semasa Raden Tumenggung Bratasudira menjabat sebagai bupati Purbalingga ke 3.
Kabupaten Purbalingga pada masa itu berada di bawah pemerintahan Surakarta. Dalam perang melawan koloni Belanda itu, seluruh kabupaten Purbalingga dipimpin oleh Raden Tarumakusuma (adik Raden Tumenggung Bratasudira) dan dibantu oleh Adipati Sulanjari/Adipati Lanjar, Adipati Cakranegara, Adipati Panolih, Adipati Alang-Alang Bundel, Adipati Karanglewas, Orang Cina (Tho A Tjan dam Gan Tiong Sun/Gentong Lontong).
Sungai Lebak menjadi garis batas, pihak Belanda disebelah Barat dan lawannya disebelah Timur. Perang melawan Koloni Belanda ini terjadi secara semrawut dan mati-matian. Dan dalam perang gerilya disebuah pertigaan kedua belah pihak berperang secara membabi buta tak kenal lawan dan kawan. Tempat dimana pertempuran itu terjadi dinamakan dengan ‘Gembrungan’.
Adipati Lanjar melarikan diri karena Belanda yang semakin menekan pasukannya. Ikat pinggang (Jawa=Sabuk) yang dipakai Adipati Lanjar terjatuh disuatu tempat yang menanjak/tanjakandan Adipati Lanjar jatuh tersungkur ke sebuah sungai hingga meninggal. Dan tempat dimana Adipati Lanjar  hilang dinamakan ‘Sabuk’ serta sungai dimana Adipati Lanjar jatuh dan meninggal disebut ‘Kali Sumpet’
Perang masih terjadi. Pasukan koloni Belanda makin menggencet keberadaan Pasukan Adipati Lanjar setelah kematiannya. Mereka akan menangkap siapapun pasukan Adipati Lanjar dan akan dikejar sampai kemanapun larinya. Dan pada suatu ketika ada seorang  pasukan Adipati Lanjar yag tertangkap oleh Koloni Belanda. Mereka mengejar seorang pasukan Adipati Lanjar itu hingga disuatu tempat ia tertangkap dan dibunuh karena memberontak dengan cara ditusuk leher bagian depannya (Jawa=Gondang) menggunakan pisau dan kemudian kemudian Belanda mengabaikannya karena menganggap sudah mati. Tetapi, ia kemudian lari tuggang langgang dalam keadaanya setengah sekarat untuk memberitahukan kepada Bupati dan akhirnya ia jatuh dan meninggal disebuah sungai (Jawa=Kali). Sehingga peristiwa itu membuat suatu kesimpulan ‘Kaligondang’ yang menjadi sejarah nama desa Kaligondang.

Sumber :
Wawancara dengan mbah Tareja (82th) , tanggal 02 Oktober 2016
http://tyo-27.blogspot.co.id/2010/12/sejarah-desa-kaligondang.html?m=1   diakses pada tanggal 17 September 2016.
Cindy Dwi Andika Putri, XI IPS 2 16/17

Saat ini berprofesi jadi BTW, Kadang jadi BLOGGER, yang pasti jadi TEACHER dan semoga jadi WRITER;)