Tuesday, July 28, 2015

Asal Nama Desa Patemon

Tugu Desa Patemon
Desa Patemon adalah desa yang berada di Kecamatan Bojongsari dan merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kaupaten Purbalingga. Bojongsari merupakan hasil pemecahan administrasi dari kecamatan Kutasari yang bedasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1992, secara geografis merupakan daerah daratan dan pegunungan dengan ketinggian +105 dpl mempunyai batas wilayah sebelah Selatan dengan Kecamatan Purbalingga, sebelah Utara dengan Kecamatan Mrebet, sebelah Timur dengan Desa Slinga, Kecamatan Kaligondang, dan sebelah Barat dengan Kecamatan Kutasari. Desa Patemon sendiri merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Bojongsari. Terletak di Utara dari pusat Kabupaten Purbalingga, kurang lebihnya 5 km.
Desa Patemon adalah desa yang terletak di Timur setelah Kecamatan Bojongsari. Letak Kecamatan Bojongsari tersebut adalah persis di depan lapangan Bojongsari  dimana lapangannya terletak persis di sebelahnya adalah pasar bojongsari atau yang disebut Pasar Kutabaru. Bojongsari sendiri juga memiliki Obyek Wisata Bojongsari atau biasa disebut dengan OWABONG dan memiliki rumah makan yang disebut dengan Bale Apoeng. Maka dari itu Desa Patemon juga dekat dengan tempat wisata tersebut. Desa Patemona inilah yang akan kita ulas tentang asal usul namanya.
Patemon adalah berasal dari kata “TEMON” yang artinya pertemuan. Maka dari itu Desa Patemon adalah desa pertemuan, yang konon katanya dahulu Desa Patemon adalah sebagai desa pertemuan antara orang-orang Belanda dengan orang-orang atau prajurit dari Indonesia. Desa Patemon adalah desa yang memiliki banyak dusun dan desa-desa kecil diantaranya adalah Karangpule, Rawabadak, Menganti, Dukuhlor (Utara), Dusun Karangpakel, dan Dukuhkidul.
Dusun-dusun itu mempunyai cerita sejarah sendiri, dimulai dari Karangpule, adalah suatu dusun yang pertama kali kita masuki saat kita bekunjung ke Desa Patemon. Dusun Karangpule juga merupakan dusun yang terdekat dengan pusat Kecamatan Bojongsari. Kemudian dusun Rawabadak, adalah dusun yang berada setelah Dusun Karangpule. Rawabadak berasal dari kata “Rawa” dan “Badak” yang artinya genangan yang terdapat banyak badak. Dahulu desa kecil itu banyak di huni badak-badak yang kemudian dari tahun ke tahun di rubah menjadi desa.
Keumudian Dusun Menganti, adalah merupakan dusun yang bersebrangan dengan Dusun Rawabadak. Menganti ada atau berdiri karena dahulu kala berasal dari nama Kiai yaitu Kiai Menganti yang dahulunya bertempat tinggal di desa kecil itu. Namun setelah beliau wafat, maka Desa kecil itu disebut Desa Menganti. DukuLor, artinya dusun disebelah lor (utara). Letak Dukulor memang berada di Utara Desa Patemon dan terletak di sebrang sugai. Dusun ini adalah dusun yang sangat kecil yang kebanyakan berasal dari satu keluarga yang mendiaminya.
Karangpakel, adalah dusun yang berada sebelum Dusun Dukuhkidul. Dusun Karangpakel adalah dusun yang paling kecil dan di sini banyak terdapat tanah liat. Terakhir adalah Dukukidul, merupakan kebalikan dari Dukulor. Dukukidul adalah dusun yang berada di sebelah kidul. Dusun Dukuhkidul ini dusun yang paling terakhir. Terletak juga sebelum Desa Banjaran
Penduduk desa patemon sebagian besar beragama Islam. Di Desa Patemon sendiri tidak ada kebudayaan yang menjadi ciri khas. Desa patemon juga tidak memiliki larangan apapun dalam segala hal baik dari kebudayaan ataupun yang lainnya. Mata pencaharian masyarakat Desa Patemon adalah mayoritas petani maka dari itu hasil alam yang di hasilkan dari Desa Patemon adalah Padi, Jagung, Singkong yang kebanyakan merupakan bahan makanan pokok, namun ada juga mata pencaharianya menjadi karyawan PT, pegawai negeri, guru, dokter dan lain sebagainya.

Sumber Referensi:
Wawancara dengan Mbah Siras, pada tanggal 10 Oktober 2016.
http://kejobongkec.blogspot.co.id/2011/12/profil-kecamatan-bojongsari.html., diakses tanggal 15 Oktober 2016.