Friday, October 12, 2018

Bendera Merah-Putih dalam Kajian Tradisi

Merah-Putih
arifsae.com - Tidak diragukan lagi sang saka bendera Merah-Putih sudah menjadi aji-aji yang sakral dalam kehidupan berbangsa masyarakat Indonesia saat ini. Kesakralan itu telah lestari sejak nenek moyang kita pertama menjalani kehidupannya. Berbagai tradisi masih terus terjaga hingga saat ini, salah satunya berwujud aliran kepercayaan (sangkan paraning dumadi) tradisi masyarakat berupa mentifact (jiwa), sociofact (perilaku sosial) dan artefact (alat).

Tradisi merupakan kebiasaan yang diturunkan dan berkembang seperti kondisi awal semula tanpa perubuahan berarti dari makna dan pengertian semula. Begitu juga nilai-nilai sebuah warna yang terus lestari dari makna awal hingga ini. Misalnya, warna hijau bermakna kedamaian, warna kuning untuk kebesaran dan kemegahan, warna hitam yang mencerminkan duka, dan warna merah-putih untuk keberanian dan kesucian.

Istilah tradisi biasanya dihubungkan dengan hal-hal yang berbau adat-istiadat, keyakinan atau keprecayaan, kebiasaan, ajaran turun temurun dari nenek moyang. Sedangkan tradisional adalah bentuk sifatnya. Oleh karena itu, dalam penulisan sejarah atau historiografi, baik dalam metode maupun sumber-sumber yang menggunakan sumber tradisional (babad, suluk, dll) dinamakan historiografi tradisional. 

Dalam menelusuri tradisi warna Merah-Putih, kita patut leluri leluhur, yaitu meresapi nilai-nilai dari nenek moyang kita. Berikut hasil kajian dari penulis.

Merah-Putih dalam Tradisi Jawa

Salah satu tradisi Jawa yang masih ada hingga kini adalah sesajen, yaitu memberikan makan dan minum bagi leluhur yang telah kembali pulang (mulih) ke jaman kelanggengan (akhirat). Mereka menyediakan ruang khusus untuk melakukan tradisi ini. Bagi masyarakat Jawa klasik, keluarga yang tidak memberikan sajen sama saja tidak menghargai leluhur dan nenek moyang mereka.

Dalam tradisi Jawa, apabila keluarga sedang mendapatkan musibah atau untuk mengatasi musibah, maka akan diadakan sebuah selametan berupa bubur merah-putih, yaitu semacam piring bubur yang diolah dengan gula merah dari beras atau ketan kemudian bubur putih dituangkan diatasnya. Nilai-nilai ini bisa ditelusuri lebih jauh lagi.

Warna merah untuk mengingatkan asal-usul kejadian manusia dari unsur merah (sel telur) wanita dan unsur putih (sperma) laki-laki. Filosofi dari warna itu adalah untuk mengingatkan manusia berasal dari mana dan akan kembali ke mana (sangkan paran ing dumadi). Memang dalam masyarakat pedesaan, simbol-simbol leluhur dan simbol phallus (alat kelamin laki-laki) masih sangat intens penggunaanya.

Misalnya, apabila seorang laki-laki akan pergi ketempat jauh dan dalam waktu yang lama, maka akan diusap wajahnya dengan telapak tangan bapak/ibu. Terlebih dulu tangan dari bapak/ibu itu diusapkan ke dzakar atau fajrinya sebagai tempat pengingat asal mula kelahirannya. Nama dari tradisi ini adalah digemboki.

Ritual ini dimaksudkan untuk menghindari dari sawan atau bala. Langkah pertama ketika seorang anak pergi jauh mengucapkan doa sebagai berikut: “….tiri-tiri jabang bayi kedadayane saka banyu peli, laliya banyu susu elinga sega lan banyu…”, yang bermakna seorang anak harus ingat kalau dia berasal dari air mani, dan air susu ibu untuk mengingat nasi dan air.

Contoh lain adalah ketika sebuah keluarga membangun rumah, maka akan dipasang kuda-kuda dan blandar juga dikibarkan umbul-umbul atau rontek (bendera kecil) berwarna merah-putih dilengkapi dengan cengkir gadhing, tebu dan janur (daun muda kelapa) diatas bangunan rumah yang sedang dibangun. Ini dimaksudkan sebagai simbol keberanian, kemandirian, kesungguhan dan kemantapan hati dalam menghadapi samudera kehidupan.

Merah-Putih dan Burung Garuda

Sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia gabungan antara warna Merah-Putih dan Burung Garuda. Di negara-negara lain, juga mempercayai tentang legenda Burung Garuda, sebut saja negara Polandia, Amerika, Bangsa Arya dan tentu Indonesia. Jenis burung ini juga disebut sebagai Rajawali atau Elang.

Dalam Adiparwa, bagian awal dari epos Mahabarata, dikisahkan seekor Burung Garuda adalah pemenang dalam memperebutkan amrta dengan para Naga dan raksasa. Burung Garuda kemudian menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Dalam epos Mahabarata ini, Burung Garuda merupakan sahabat dari Raja Fasarata yang berusaha menyelamatkan Dewi Shinta dari Rahwana, meski tidak berhasil karena berujung kematian pada Burung Garuda.

Burung Garuda juga berwujud kendaraan Raja Airlangga sebagai yang dipoercaya sebagai jelmaan dari Dewa Wisnu. Kemudian, dalam kesenian pewayangan, Burung Garuda dalam wayang purwa muncul dengan nama Wilmuka yang merupakan salah satu jenis burung buas. Setelah Indonesia merdeka, Burung Garuda muncul setelah ribuan tahun mengendap di bawah alam bawah sadar ingatan kolektif masyarakat.

Bendera Merah-Putih sebagai lambang keberanian, kesucian, kemandirian, konsep asal mula manusia, konsep sangkan paraning dhumadi tidak hanya telah muncul dalam ranah sejarah, namun dalam bawah sadar masyarakt Indonesia yang tumbuh subur dalam kepercayaan. Ini sudah menjadi pandangan hidup kerokhanian masyarakat Indonesia. 

Akhirnya mitos merah-putih bersama dengan tradisi dan legenda-legenda lainnya tidak hanya memperlihatkan wujudnya dalam kehidupan sejarah, namun menampakan pandangan hidup dalam masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa.[]

Sumber: Aminudin Kasdi, Bendera Merah Putih, disampaikan dalam Seminar Nasional Refleksi Sumpah Pemuda pada tanggal 10 Oktober 2018 di Auditorium Museum Nasinoal.