Showing posts with label MALAYSIA. Show all posts
Showing posts with label MALAYSIA. Show all posts

Saturday, May 11, 2019

Ayo Kita Pulang, Nak...Catatan Kecil Guru Ladang Sawit, Sabah-Malaysia

Bersama Anak-Anak Terusan 2
arifsae.com - Kita tidak pernah bisa memilih darimana kita dilahrkan. Dari orang tua seperti apa, atau dari lingkungan mana. Karena itu semua adalah hak “prerogratif” Tuhan. Tugas kita adalah berusaha menggapai harapan, cita dan asa yang kita impikan, karena sukses merupakan pertemuan antara persiapan dan kesempatan.

Itulah yang menjadi harapan saya. Disini. Di belantara himpitan Pohon Sawit, yang membentang dari ujung hingga ujung Negeri Sabah, Malaysia. Negeri Sabah merupakan wilayah negara bagian dari Kerajaan Malaysia yang termasuk kedalam 13 negara bagian dalam persekutuan Malaysia. Wilayah ini merupakan wilayah terbesar kedua, setelah Sarawak, dalam bagian persekutuan itu. Julukan untuk menggambarkan wilayah ini adalah Negeri di Bawah Banyu (Land Below the Wind).

Di rimbunnya Pohon Sawit Negeri Sabah telah menyimpan berbagai harapan dan kesempatan dari anak-anak “kandung” Indonesia. Iya. Di belantara sawit itu, lahir anak-anak Indonesia yang tak tahu jati diri mereka. Sebagian besar, mereka lahir karena mengikut orang tua yang memilih menjadi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Sabah. Ada yang berdokumen resmi secara legal, namun lebih banyak yang illegal. Mereka datang lewat jalur “Tikus”.

Malaysia merupakan negara favorit bagi para BMI ini. Menurut data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) pada tahun 2018, Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia hampir mencapai 3 Juta jiwa. Belum lagi yang tidak resmi. Dari data itu, kita bisa membayangkan berapa banyak orang Indonesia yang mengais rizki di negeri Jiran ini.

Jumlah TKI di Malaysia ini adalah yang terbesar di dunia. Meski banyak dijumpai kekerasan dan kasus, namun tidak bisa disangkal, Malaysia masih menjadi favorit bagi para pemburu kerja dari Indonesia. Alasan yang paling utama adalah faktor Ringgit. Mereka rela meninggalkan Indonesia demi setumpuk materi, dengan secara tidak langsung menelantarkan pendidikan anak-anak mereka.

Pendidikan mereka terlupakan. Ini disebabkan karena di Sekolah Kebangsaan Malaysia, tidak menerima orang-orang yang “berpassport”, apalagi mereka yang ilegal. Sehingga, puluhan ribu anak-anak Indonesai tak bisa menikmati lezatnya bangku sekolah. Salah satunya tentu diwilayah Sabah ini. Itulah mengapa, pemerintah hadir bagi anak-anak Indonesia di Sabah.

Menebar Serpih Asa
Peran pemerintah Indonesa untuk memenuhi pendidikan warga negaranya berlandas komitmen global untuk mencapai sasaran Education for All, yaitu sebuah gerakan untuk memberikan “pendidikan untuk semua”. Pemerintah juga mengeluarkan PP No. 28 Tahun 1990 tentang pendidikan dasar antara 7-15 tahun untuk mengenyam pendidikan wajib 9 tahun, tidak terkecuali mereka yang berada di luar negeri.

Proses pemberian layanan pendidikan di Malaysia tidak mudah, butuh proses yang panjang. Proses itu bahkan sudah dimulai dari era Presiden Megawati Sukarnoputeri pada tahun 2003 silam, dan baru terrealisasi pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2006. Dalam kesepakatan Annual Consultations 2006, disetujui akan dikirimnya guru-guru dari Indonesia untuk anak-anak di perkebunan Sawit.

Dari kesepakatan itu, dibentuklah sebuah LSM Humana Child Aid Society tahun 2006. Namun, dilihat dari perkembanganya, hasil output (ijazah) dari Humana tidak bisa digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Indonesia. Hal ini tentu disebabkan “kurikulum” yang digunakan Humana bukan kurikulum Indonesia, melainkan menggunakan kurikulum Malaysia.

Dari keadaan itu, maka secara tidak langsung mendorong terbetuknya Sekolah Indonesia. Dengan surat dari Kementerian Luar Negeri bernomor 120/DI/VI/2008/02/01 tertanggal 16 Juni 2008, yang meminta pada Kementerin Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendirikan sebuah sekolah Indonesia di Kota Kinabalu (Red: Ibu Kota Sabah). Hingga akhinrya, pertanggal 1 Desember 2008, diresmikan dan mulai berjalan secara operasional Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

Dalam perkembangannya, SIKK hanya bisa melayani anak-anak Indonesia yang berada disekitar Kota Kinabalu dan sekitarnya. Sedangkan anak-anak yang berada di ladang-ladang Sawit belum terjamah. Sehingga dicari sebuah solusi untuk menyediakan akses pendidikan untuk meraka. Karena semangat inilah, didirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau Pusat Pembelajaran Masyarakat (PPM), kalau dalam bahasa Inggris nya, Community Learning Centre (CLC).

Lewat perjanjian antara Presiden SBY dan PM Najib Tun Razak, dalam The 8th Annual Consultations di Lombok pada 20 Oktober 2011 ditanda tangani sebuah kesepakatan secara legal dan formal tentang pendirian CLC tersebut dan efektif berlaku mulai tanggal 25 November 2011.

Pada akhir 2018, sudah didirikan 114 CLC Sekolah Dasar (SD) dan 45 CLC Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar diseluruh pelosok penjuru Ladang-Ladang Sawit di seluruh Sabah. Kesempatan inilah yang membuat kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Tujuan utama dari program ini tentu tidak lain dan tidak bukan adalah, mengembalikan mereka ke Indonesia. Mengejar mimpi, meraih cita-cita dan menggapai kesuksesan.

Menuju Puncak Cita
Saya teringat pepatah, Harimau tidak akan mendapatkan mangsa apabila tidak keluar dari sarangnya. Begitupun dengan saya, harus keluar “sarang” untuk mendapatkan “mangsa”. Iya, sejak 2017 saya ditugaskan oleh Pemerintah Indonesia menjadi salah satu bagian dari ratusan guru-guru Indonesia yang ditugaskan di CLC-CLC di Sabah.

Tantangan baru yang saya temui tentu tidak akan didapatkan di Indonesia. Ini luar negeri. Ini Malaysia. Ini Sabah. Bahkan, kata kawans saya, “Sabah Keras”. Keras karena disini suhu bisa sangat panas. Bahkan, pernah mendekati 35 derajat Celcius. Keras karena rumah-rumah guru tidak semewah rumah di Indonesia. Jangan membayangkan Sabah seperti wilayah Semenanjung dengan Menara Peronasnya.

Kami, guru Indonesia yang berada di Sabah mendapatkan fasilitas dari Company atau pihak ladang. Kata kawan saya, “Fasilitas yang akan didapat tergantung amal dan perbuatan di Indonesia.” Joks semacam itu kadang membuat kami terawa, memang ada benarnya. Kalau company itu besar, kemungkinan fasilitas juga baik. Namun apabila company itu kecil, bisa dipastikan, hanya pasrah dan doa yang menyertai langkah.

Misalkan, ada yang rumahnya dari kayu dan rusak. Ada yang tanpa sinyal sama sekali. Ada yang listrik hanya 6-8 jam sehari. Bahkan ada yang perjalanan dari jalan besar utama ke rumah menempuh 2 jam. Bagaimana kami memenuihi kebutuhan? Untuk memenuhi kebutuhan kami keluar ladang untuk ke kota (Bandar). Kalau ada toko (kedai) itu bisa menjadi alternatif, tentu dengan harga yang lebih mahal.

Lalu, sekolahannya seperti apa? Sekali lagi, jangan membayangkan sekolah di Indonesia. Kondisi sekolah hampir sama dengan rumah, tergantung Company. Namun ada beberapa perbedaan antara CLC satu dengan lainnya, yaitu jam belajar. Hal ini disebabkan karena harus berbagi jam dengan Humana. Apabila di ladang itu ada Humana, makan bisa dipastikan proses belajar CLC dilakukan siang hari, antara jam 14.00.-17.00 waktu Sabah. Namun, apabila diladang itu tidak ada Humana, pembelajran bisa dilakukan pagi hari.

Kondisi bangunan pun tidak bisa disama ratakan. Ada yang hanya dari kayu, ada juga yang sudah bertembok. Terkadang, yang membuat kami merasa “special” disini karena dituntun untuk menjadi manusia setengah “dewa”. Mengapa? Karena kami harus tau segalanya. Dari urusan sekolah sampai kemasyarakatan. Secara administrasi kami dianggap selayaknya sekolah umum di Indonesia, yang mendapatkan Dana Operasional, menginput Dapodik dan tentu beban se-abreg yang menimpa kami. Dari Kepala Sekolah, Guru, Tata Usaha, kantin, bahkan petugas pembersih jadi satu.

Belum lagi, kami harus menempuh ke Tempat Kegiatan Belajar (TKB), semacam cabang dari CLC, untuk belajar disana. Tidak tanggung-tanggung, puluhan kilometer harus kami tempuh untuk sampai di TKB-TKB itu. Ditambah karena disini kekurangan guru, kami harus meng-handle mata pelajaran yang bukan menjadi passioan kami. tapi itulah keadaan disini, lingkungan dan kondisi geografis yang memaksa kami untuk menikmatinya. Termasuk menikmati proses belajar dengan anak-anak BMI ini.

Kami harus benar-benar memulai dari awal, karena sebagian mereka lahir di Sabah. Tidak tahu kekayaan budaya yang ber-bhinneka di Indonesia. Mereka hanya mengenal asal mereka dari sukunya. Mereka menyebut “suku” dengan sebutan “bangsa”. Apabila ada pertanyaan, “Apa Bangsa kamu?”, mereka akan menjawab, “Bangsa saya Bugis, Bangsa saya Timor, Bangsa saya Jawa.”

Tapi itulah tugas kami disini. Mengenalkan “kecantikan” Ibu Pertiwi, dan membujuk mereka untuk kembali dan membangun negeri. Dengan proses pembelajaran yang seadanya, kami mencoba memaksimalkan segala potensi dan sumber daya yang dimiliki untuk menggajak mereka kembali ke Indonesia, tentu dengan jalan melanjutkan sekolah di Indonesia. Salah satu caranya dengan program beasiswa.

Meraih Segudang Bahagia
Saat ini, sudah ratusan siswa yang dikembalikan ke Indonesia dengan berbagai program beasiswa. Salah satunya adalah beasiswa repatriasi Sabah Bridge dan Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Sudah banyak dari alumnus-alummnus CLC di Sabah yang melanjutkan sekolahnya di Indonesia, bahkan sampai perguruan tinggi.

Sejak tahun 2015-2018, sudah ada 453 peserta didik yang melanjutkan sekolah diberbagai penjuru sekolah di Indonesia. Bahkan sudah ada yang sampai perguruan tinggi bergensi di dalam dan luar negeri. Itulah kebanggaan dan kebahagian tertinggi kami sebagai guru ladang di Sabah, Malaysia ini.

Saya sendiri bertugas di CLC SMP Terusan 2, lokasi yang bernaung di Company Wilmar ini memberikan fasilitas yang memadai. Proses pembelajaran dilakuakn sore hari, karena paginya digunakan oleh Humana. TKB yang CLC Terusan 2 miliki ada 3, TKB Andamy, TKB Terusan 1 dan TKB Rumidi. Dan saya menjadi “pengelola”, semacam kepala sekolah mini dari CLC Terusan 2 sejak 2017 hingga kini (2019).

Meski dengan fasilitas yang serba terbatas, kami selalu menggaungkan dan mengajak mereka untuk selalu berusaha dan membuka mindseet mereka. Minimal, mereka harus berusaha lebih baik dari orang tuannya yang bekerja sebagai BMI di Sabah. Mereka bisa. Mereka mampu. Mereka mau untuk pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Begitulah. Hak-hak mereka sebagai warga negara tetap berusaha dipenuhi untuk mengenyam pendidikan. Sehingga mereka bisa memanen hasilnya kelak, menyimpannya dalam setumpuk gudang bahagia. Tentunya untuk turut serta berkontribusi membangun Indonesia. Tidak ada jalan lain, saat ini, kami sebagai guru, mempunyai kata-kata sakral, “Ayo kita pulang, Nak…”[]

Friday, September 21, 2018

Masuk Taliwas Lagi || Hari Ke-378

arifsae.com - Pagi bangun. Ada yang terasa segar. Udara dan badan ini sudah lebih baik, lebih segar. Saya bangun lebih awal, membuka-buka laptop pagi-pagi. Temen-temen yang lain masih dengan posisi enaknya tidur pulas. Masih menikmati slimut tebal dan dinginnya AC.

Saya juga sama, masih ingin malas-malasan, tapi dengan membuka laptop. Membuka buku yang kemarin dikabari sudah jadi covernya, "Menggali Sebutir Makna." Covernya cocok. Suka. 
Tidur Pulas
Saya mencoba merangkai kata pengantar dari Atikbud KBRI Kuala Lumpur, Prof. Ari Purbayanto. Ada kesalahan teknis dan kesalah pahaman sedikit. Mungkin karena beliau sibuk, naskah dan kata pengantar tertukar dengan naskah lainnya di email. 

Prof. Ari minta untuk diulang lagi, saya tidak enak, tahu kalau kesibukan beliau yang sedang di Jakarta. Saya mengucapkan terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk membuat kata sambutan untuk buku saya. Meski harus menunggu agak lama.
Siap Jumatan
Jam 11.00 sudah mulai bangun satu persatu. Saya mandi terlebih dulu untuk siap-siap Jumatan. Kebetulan hari ini bertepatan dengan hari Jumat. Rencananya kami akan Jumatan di Masjid Al Raudah, disekitar bandar Lahad Datu. 

Pak Bima tadi sempat pergi sebentar unutk belanja keperluan, karena nanti akan masuk lagi ke Taliwas. Bertemu dengan hutan-hutan dan Gajah lagi. Saya juga penasaran, apakah teman-temen yang lain masih dapat teror Gajah atau sudah reda.
Sampai di Masjid
Jam 12.00 kami menuju ke mobil untuk siap-siap Jumatan. Kawan-kawan yang lain, pak Juang dan pak Daeng juga ikut serta. Lainnya pulang ke CLC Sabah Mas, karena memang mereka membawa motor. Berangkatlah kami ke masjid, pertama kali Jumatan di Bandar Lahad Datu.
Siap-Siap
Udara terik, panas. Ternyata hampir mirip di Indonesia, masih juga ada penjual barang dagangan yang menjajakan barang-barangnya. Saya tertarik ke sorban. Lumayan untuk melindungi kepala dari teriknya matahari ketika nanti kerja di lapangan.

Harganya juga hanya RM 15, itupun dapat pinjaman dari Pak Juang. Saya mempersiapkan Jumatan. Bahkan ada penyewaan barang-barang Jumatan. Pak Bima juga membeli clana pendek. Lebih tepatnya, cungkrang. Orang-orang juga mulai datang. 
Selesai Jumatan
Tiba-tiba Pak Erwin datang, ikut Jumatan bersama. Cara Jumatan juga sama. Tidak ada bedanya dengan tempat-tempat lain, bahkan di Indonesia. Hampir sama. Selesai Jumatan, kami berencana cari makan.

Tempat cari makan langsung tertuju ke Ikan Bolu. Tempat makan yang menuruku, paling enak dan paling berkesan di Lada Datu ini. Selain ikannya besar, rasanya juga pas. Itulah yang membedakan dengan Ikan Bolu lainnya.
Kembali ke Bascame
Setelah menikmati Ikan Bolu andalan, kami diantar ke hotel terlebih dulu. Tapi dijalan sempat diturunkan, karena mau beli rokok. Rokok disini juga tidak banyak yang berasal dari Indonesia, tapi ilegal. Banyak yang dijual dipinggir jalan dengan cara sembunyi-sembunyi.

Pak Bima melanjutkan ke CLC Syarimo, katanya akan mengambil beberapa barang yang akan dibawa ke Taliwas. Di hotel kami chek out, mempersiapkan barang-barang semua. Namun sebelum ke Taliwas lagi, saya diajak ke bascame untuk menunggu Pak Bima.
Ijin Masuk
Di bascame sudah ada banyak orang yang akan masuk juga ke hutan. Jam baru menunjukan jam 14.30. Karena kenyang, saya memilih untuk tidur. Mumpung ada kesempatan. Kawan-kawan yang lain juga sama. Karena tidak ada kerjaan juga.

Jam 16.30 diangunkan. Katanya akan siap-siap menuju ke hutan lagi. Ternyata siap-siap juga membutuhkan waktu, hampir satu jam baru siap. Jam 17.30 bersama-sama menuju ke hutan. Menjadi orang-orang hutan lagi.
Gate Masuk
Sambil jalan, sambil menikmati proses senja dijalanan. Proses masuk tidak semudah itu. Memang pemeriksaan sangat ketat. Masuk dan keluar. Karena hutan disini masih sangat asri dan dijaga oleh Kerajaan Malaysia. Bersiap-siap tanpa sinyal lagi. Back to nature.

Jam 18.30 sampai juga. Pak Radin langsung menghakimi, karena tidak diikutkan. Saya hanya cengengesan saja. Ternyata sesampainya disana, kabar kemunculan Gajah sudah hilang. Katanya, dari kemarin dia tidak memunculkan badan besarnya.
Kerja Malam
Malam ini fokus menyelesaikan tali-tali yang sempat tertunda. Bersama Pak Tria dan Pak Radin kami beraksi. Takut juga kalau ada Gajah, tapi memang sudah tidak ada. Selama kami kerja tidak ada tanda-tanda muncul lagi.

Kawan-kawan yang lain juga banyak yang lembur di lapangan. Mereka juga lembur disana. Karena waktu yang sudah semakin dekat, dan kerjaan yang belum beres, kami malam ini kerja sampai tengah malam. Kami yang mengerjakan tali selesai jam 00.30, lanjut tidur. Teman-teman yang lain dilapangan masih melanjutkan.[]
Lanjut Hari Ke-379 DISINI.

Thursday, September 20, 2018

Dari Tali Ke Tiang || Hari Ke-377

arifsae.com - Setelah tadi malam menonton "atraksi" Gajah yang jalan-jalan dan berkeliling, praktis tidak ada masalah dalam tidur. Jadi intinya tidak ada masalah, bahkan tidak ada rapat evaluasi yang setiap malam diadakan. Malam ini benar-benar free.
Kera Pagi
Jam 06.00 saya bangun. Tidak ada suara-suara aneh seperti kemarin, tandanya sudah selesai. Mungkin Gajahnya sudah pergi. Mungkin. Pagi ini bukan Gajah, tapi Monyet-Monyet yang datang lagi mencari makanan. Kami hanya menjadikannya tontonan gratis. Lebih mending lah daripada Gajah.
Menikmati Teh
Menikmati pagi dengan minum teh buatan Pak Tria. Belum berangkat kerja, sambil menunggu matahari pagi ditemani Monyet-Monyet itu. Sekitar jam 07.00 ada kabar Gajah datang lagi. Aish. Kami segera menyelamatkan diri lagi. Tentunya menuju ke atas.

Benar saja, tiba-tiba dia datang lagi dengan berjalanan santai. Pesannya, tidak boleh diganggu, biarkan saja lewat, begitu pesan para Rangers. Memang kami tidak terlalu banyak mengeluarkan suara yang menggu. Hanya terpukau melihatnya. 
Gajah "Nenek"
Beberapa saat, Gajah itu menghilang setelah berputar-putar. Setelah aman, kami turun, jam 09.00 harus siap-siap untuk bekerja lagi. Mempersiapkan apa yang perlu dikerjakan sebisanya. Saya, Pak Tria (CLC Spagaya) dan Pak Radin (CLC Pamol, TKB Sekar Imej) bersama-sama menyulam tali.

Tali ini merupakan peninggalan JAIM 4 tahun lalu, kondisinya memprihatinkan. Katanya, pernah dibongkar ditempat penyimpanan disebuah CLC di Tawau karena ketidak tahuan, akhirnya kami harus bersama-sama memperbaikinya. Rencananya akan digunakan lagi. Sempat menjadi bincang-bincang hangat karena pembongkaran tali ini. 
Memperbaiki Tali
Karena besarnya tali, pekerjaan ini tidak sebentar. Kami pagi sampai siang ini fokus dengan tali disini. Saya masak ubi dan mengambil roti untuk sekedar cemilan menemani pekerjaan ini. Kami menggeser tali ke tempat yang lebih teduh, supaya lebih santai mengerjakannya.

Ada pak ketua JAIM 5, Pak Didib dari CLC Jeroco, mantan anggota tahun lalu hidup di pohon dan danau bersama-sama. Dia ingin bernostalgia, juga ingin bincang-bincang santai. Bersama-sama, kami kerja sambil mengolah tawa.
Bincang Santai
Satu persatu kerjaan mulai terlihat hasilnya. Siang hari, jam 12.00 siang kami dipanggil untuk menuju ke lapangan, karena makan siangnya berpindah kesana. Disana sudah ada banyak kawan-kawan yang menunggu. 

Kami bertiga menuju ke lapangan dan mengakhiri pekerjaan tali. Disana suadah berkumpul dan siap menikmati menu telor dan sayur. Kami semua menikmati makanan disini. Bincang-bincang, kerjaan yang tidak terurus di lapangan ternyata masih banyak. Kami yang rencananya akan melanjutkan kerjaan tali akhirnya memutuskan untuk membantu di lapangan mendirikan tiang-tiang.
Membantu Mendirikan Tiang
Sebenarnya bukan bagian kami, tapi karena pendirian bambu ini membutuhkan bantuan banyak orang, jadi semua orang terfokuskan disini. Semoga tidak ada Gajah ditengah-tengah kerja kami. Disikusi dan obrolan tiba-tiba menghangat, setelah ketemu titik kesepakatannya. Kami eksekusi.

Mengangkat bambu-bambu yang tinggi, bersama-sama, awalnya berjalan lancar. Namun, tiba-tiba kecelakaan terjadi, "Blaaaakkk..." Suara bambu yang tinggi menjulang tiba-tiba kehilangan keseimbangan yang akhirnya menimpa kami semua. Sempat terjadi kehebohan disini.
Finish Tiang
Ini gara-gara kami yang tidak hati-hati, akhirnya jatuh. Masing-masing menyelamatkan, karena tidak mungkin menahannya. Tapi ada Pak Sufadli dari CLC Sabah Mas yang mencoba menahan bambu itu, karena tidak mungkin terangkat sendirian, kekuatannya yang tak seimbang, akhirnya bambu menimpanya.

Berbeda dengan kami yang tau kalau akan jatuh, langusng melepaskannya. Kami aman. Tiba-tiba Pak Fadli terkapar, "Aaarrggghhh.." Dia mengerang kesakitan, terpelungkap ditanah. Otomatis kami menghampirnya, takut terjadi apa-apa. Kesakitan terlihat dari erangannya.
Angkat Bambu lagi
Kawan-kawan yang "ahli pijat" seperti Pak Tria langsung menghampiri. Menanyakan apa yang sakit, terlihat Pak Fadli memegangi lengan kirinya. Masih terlihat kesakitan. Kami takutnya kalau tulangnya patah.

Akhirnya beberapa saat dipijat, kata Pak Fadli dia lebih mendingan. Sukurlah. Artinya tidak seperti ketakutan kami. Akhirnya dia istirahat dipondok. Sengaja memang disuruh untuk istirahat.
Menuju ke Bandar Lahad Datu
Kondisi sudah kondusif. Kami melanjutkan pekerjaan di sudut-sudut lapangan. Disaat sedang mendirikan, Pak Fadli menghampiri kami, "Saya tidak apa-apa. Mau bantu-bantu lagi, daripada disana sendiri." Begitu katanya.

Karena dia meyakinkan dirinya tidak apa-apa, kami mempersilahkan dia untuk membantu kembali. Jam 15.00 kami istirahat, setelah semua tiang berhasil didirikan bersama-sama. Badan pegal-pegal, lelah, letih dan kurang bergairah mengampiri.
Sampai di Lahad Datu
Saya, pak Tria dan Pak Radin kembali ke rumah. Niatnya mau melanjutkan pekerjaan tali, tapi rasanya badan ini tidak bisa dibohoni. Mata akhirnya mengajak tertidur, bersama kawan-kawan, kami tertidur diasal tempat. Memulihkan tenaga yang seharian bekerja.
Bakso Beranak dan Teh Tarik
Tiba-tiba ada Pak Fakhri dan Pak Yana yang datang ke rumah, mereka baru datang setelah survey tempat. Teman-teman menjulukinya sebagai, "Pasukan Garuda", entah apa maksudnya. Sebenarnya, kami membutuhkan tenaga banyak dilapangan tadi, tapi mereka tetap fokus dengan tugas nya. Tidak salah.

Kami bangun sore hari, kira-kira jam 18.00. Rasa badan terasa segar. Tiba-tiba, kawan-kawan yang dari lapangan datang. Pak Bima dan rombongan datang dan dengar-dengar akan pergi ke bandar, untuk cuci baju dan cari makan. Keluar gua. Setelah sekian lama. Tentu saja saya ikut.
Siap Makan
Sempat terjadi beberapa kali nego-negoan, karena banyak kawan-kawan yang karena tidak betah, akhirnya mengajukan untuk ikut keluar. Sedangkan mobil yang dipakai sebagai operasional hanya 2 mobil. Terutama ibu-ibu, akhirnya dengan berbagai pertimbangan ada 2 ibu-ibu ikut. Mereka sebenarnya baru datang, tidak tau kalau beberapa hari diteror Gajah. Mungkin takut.

Mereka adalah Bu Evo dari CLC Nusantara dan Bu Fika dari CLC Kundasang. Pak Bima, Daeng, Juang, Rudi dan Fadli, Tria segera keluar Taliwas. Pak Radin tertinggal, karena dia sempat menghilang mandi tidak ada. Perjalanan tidak ada kendala. Kami sampai di Lahad Datu jam 20.00 malam. Menuju ke bascame yang di bandar, menurunkan Bu Evo dan Bu Fika. Kami lanjut ke Hotel RD. 
Beranak, Bakso Langka
Akhirnya melihat hotel lagi, setelah bebrapa hari di hutan. Kami memesan kamar 217 di Hotel RD. Langkah awal tentu mandi dulu, membersihkan diri. Selanjutnya membawa baju-baju yang akan dicuci sekalian mencari makan malam.

Kami mencuci baju, tidak peduli, hanya memasukan baju yang kotor-kotor, tidak sempat memeriksa apa saja isinya. Sehingga saat mencuci baju, ada korek yang tertinggal berbunyi. Sempat jadi perhatian orang-orang sekitar.
Pak Daeng dan Pak Fadli
Sambil mencuci, saya diajak makanan yang tidak biasa. Makanan yang jarang tditemukan disiini: Bakso Beranak. Saya pesan itu, saking laparnya. Memang benar, baksonya besar. Tapi masalah rasa, entah. Kami menikmati makanan mewah yang tidak kami temui di hutan.

Masalah rasa, tetap beda dengan yang di Indonesia. Tapi cukup kenyang untuk makan ini, karena memang besar. Menurut saya, terlalu banyak aci. Cukup nikmat lah. Makan sudah, baju beres dicuci. Tinggal istirahat dikamar empuk. Kami pulang ke kamar jam 23.00 malam. Saya istirahat. Mereka seprti biasa, begadang.[]
Lanjut Hari Ke-378 DISINI.

Wednesday, September 19, 2018

Gara-Gara Gajah di JAIM 5 || Hari Ke-376

arifsae.com - Jam 01.00 malam. Ngantuk. Saya mundur dari permainan kartu. Udara malam yang dingin ini menarik mata untuk tidur. Memposisikan tidur seadanya dilantai, saya siap memejamkan mata. Tiba-tiba dipejaman mata yang masih setengah jadi itu...

"Brak..bakkk.." Tiba-tiba suara pintu terbuka paksa dan kawan-kawan berebut masuk kedalam. Saya tiba-tiba terbangun, dan bertanya-tanya dalam hati, "Ada apa ini? Apa ada yang salah?" Suasana semakin kacau.
Gajah Datang
"Gajah..Gajah.." Suara kawan-kawan yang baru masuk terdengar dengan tergesa-gesa. Ternyata, acara main kartu ditengah malam ini dibubarkan Gajah yang datang tiba-tiba dengan menyeruduk meja. Untung ada meja, yang jadi penghalang antara kawan-kawan. Kalau tidak, serudukan Gajah itu bisa langsung tertuju ke kawan-kawan.
Panik Melanda
Kawan-kawan yang lain juga terbangun, panik melanda semuanya. Bayangkan saja, seekor Gajah. Gajah yang dinobatkan sebagai hewan darat terbesar didunia ada disini, dengan nafsu ingin mengamuk. Malam-malam pula.

Saya sendiri belum melihat Gajah itu. Karena kondisi gelap. Kami berdiri didekat jendela, mengintip keluar. Saya penasaran, berdiri dipaling depan. Takut tapi sekaligus penasaran. Mengintip keluar rumah, tiba-tiba sosok yang dibicarakan kawan-kawan benar-benar terlihat.
Mulai Kerja Lagi
Kami semua panik. Mencekam. Gelap. Pintu segera ditutup. Kami bersembunyi digelapnya ruangan, sambil melihat Gajah yang masih penasaran dengan kondisi sekeliling. Lama dengan kondisi itu. "Jangan-jangan JAIM 5 ini akan berantakan, bisa-bisa batal." pikirku.

Setelah suasana menekam, dan Gajah pergi. Kami kelaur dengan rasa panik. Menyalakan mobil dilakukan untuk mengusir Gajah itu. Ketika keluar rumah, perlengkapan dan makanan diacak-acak semua. Berantakan seperti kena gempa bumi. Bahkan, makanan yan kami masak seperti Bubur Kacang ijo juga habis dimakan.
Di Danau
Kami semua kelaur rumah, mengungsi ditempat aman. Kebetulan disamping bascame ada rumah-rumah para pekerja yang tinggi. Kami berkumpul disitu semua. Namun, entah apa yang terjadi. Gajah itu tiba-tiba balik lagi, pergi dan balik lagi. Entah apa yang dia cari.

Para Rangers (sebutan untuk petugas) memberikan kunci rumah untuk mengungsi. Letaknya dilantai 2. Bisa menjadi tempat yang aman untuk sementara. Kami semua naik keatas, sambil mengawasi Gajah itu lagi. Barang-barang seperlunya diangkut keatas untuk perlengkapan tidur.
Gajah di Danau
Akhirnya jam 02.00 pagi kami baru bisa istirahat. Ternyata, Gajah disini disebut "Nenek". Kawan-kawan sudah diatas, sedangkan saya, Pak Surya dan Pak Arifin tetap tidur dibawah, tempat awal tadi terjadi. Kami mengunci pintu, karena sudah tidak ada lagi kawan-kawan yang masuk. Kami semua baru bisa tidur.

Kami pikir setelah dipanggilkan Rangers semua sudah beres dan aman. Namun, jam 06.00 sayup-sayup suara panik terdengar lagi. Ternyata Gajah itu masih berada disekitar rumah. Hanya berkeliling sekitar, lalu balik lagi. Hari ini akan berbeda dengan hari kemarin. 
Berjalan Santuy
Kami bertiga bangun karena suara gaduh disamping rumah. Dan benar saja, kali ini Gajah itu terlihat dengan jelas. Kalau kemarin malam samar-samar, sekarang dari ujung belalai sampai kaki terlihat jelas. Sosok nenek yang mengacaukan acara malam ini.

Kegiatan Gajah itu masih sama, mengobrak-abrik barang-barang disekitar. Bolak-balik, mondar-mandir, kegiatan pagi ini hanya melihat pergerakan Gajah ini. Sampai jam 09.00 pagi, setelah dirasa aman, barulah kami keluar. Kawan-kawan yang masak, masak dibawah lalu membawa hasil masakan keatas untuk makan bersama-sama. 
Masih Sempat Foto
Sambil menikmati makanan bersama, bercerita kejadian semalam. Memanglah, kalau pas kejadian boro-boro bisa becanda, untuk bernafas saja terengah-engah. Tapi kali ini kami bisa menertawakan kejadian tadi lama. Dan benar saja, mereka yang selamat srudukan itu terselamatkan meja yang menghalang. Kalau tidak ada meja, mungkin kata mereka, "habis".

Dan, dengan kesepakatan bersama, habis makan kita akan mulai bekerja. Katanya, Gajah sudah pergi. Semoga saja. Kami bersiap-siap. Tim kami siap untuk menuju ke danau sambil perasaan was-was kalau tiba-tiba ketemu dengan Gajah, bisa benar-benar horor. 
Lari Kabur
Jam 10.00, saya memulai membereskan barang-barang yang akan dibawa untuk ke danau. Kami memotong bagian-bagian bambu terlebih dulu. Saya bersama Pak Radin dan Pak Tria bekerjasama untuk memotong itu. Gotong-gotongan bersama-sama untuk membawa bambu cukup jadi pemanasan kali ini. 
Bincang Santai
Mau ke danau, tapi lupa membawa bahan makanan. Saya dan Pak Tria bersama-sama mengambil bahan makanan di bascame, karena dia kokinya, barang-barang apa yang dibutuhkan memang jadi tanggung jawabnya. Setelah selesai mengambil bahan makanan, segera meluncur ke danau.

Namun, di jalan kami berpapasan dengan mobil Rangers, dan mereka menawarkan tumpangan untuk ke danau. Tentu saja kami bersedia, kebetulan akan bawa bambu-bambu yang kalau digotong pasti akan memakan waktu. Untunglah. 
Mengolah Makanan

Para Rangers juga mengatakan kalau Gajahnya sudah tidak terlihat lagi, jadi kami lebih aman untuk menyelesaikan tanggungan kerja. Tapi kami dipesani untu selalu waspada. Sampai di danau, menurunkan barang-barang, dan kami duduk-duduk dulu. Banyak kawan-kawan yang mukannya panik berlebihan. 

Sambil duduk, terbesit pikiran untuk memageri jalan yang menuju ke pondok. Jaga-jaga kalau Gajah itu datang lagi. Sebagai langkah antisipasi, tentu akan sangat menakutkan kalau tiba-tiba datang dan langsung menyerang. Tidak ada jalan keluar, karena sekeliling danau semua.
Hujan Lebat Turun
Karena dirasa semua aman, kami memulai kerja lagi. Menceburkan diri ke danau. Memulai mengikat tali-tali yang kemarin belum sempat selesai. Tentu saja masih diselingi dengan cerita-cerita Gajah yang mengundang gelak tawa dan juga horor. 

Udara hari ini begitu panas. Kami istirahat jam 12.00 siang ketika matahari benar-benar berada dipuncak. Duduk-duduk dengan santai dan bersiap untuk memasak hasil bahan makanan yang tadi kami bawa. Namun di tengah-tengah persiapan, tiba-tiba suara Pak Juang, "Ada nenek, ada nenek."
Beres-Beres Barang
Seketika kondisi jadi hening. Horor seketika. Kami seperti tidak punya kata-kata lagi. Langkah yang akan kami lakukan juga tidak jelas. Karena jalan kabur hanya satu. Kami hanya diam. Pak Radin mengeluarkan hape, mencoba merekam adegan ini. Saya juga tak mau kalah, ikut merekam.

Tapi sepertinya yang lain terlihat panik, untuk merekam kami tidak diperbolehkan. Tapi ini moment, tidak bisa dilewatkan begitu saja. Masih terus melihat pergerakan Gajah yang berjalan dengan pelan namun gagah. Pelan. Pelan. dan pelan. Kawan-kawan berusaha memakai bajunya satu demi satu, sedangkan saya masih sibuk merekam.
Bekerja Sebisanya
Sampai di pintu gerbang pondok, Gajah itu terlihat berhenti. Menengok pada kami. Kelihatanya ingin masuk. Untung saja, penghalang yang kami buat tadi menghalanginya untuk masuk. Kalau tidak, habis kita disini. Karena tidak bisa masuk, pelan-pelan Gajah itu turun ke danau. 

Suasana semakin panik, Gajah itu berenang. Karena cukup dalam, hanya belalainya yang kelihatan. Bahkan sampai berenang dibawah kami. Tiba-tiba, tanpa komando ada yang teriak, "lari". Spontan kami lari kocar kacir, membawa peralatan pokok yang wajib dibawa: baju.
Masak Sore
Saya yang tanpa persiapan, dan hanya memakai celana dalam akhirnya ikut lari. Bahkan Pak Tria sampai terjatuh karena melompati penghalang itu. Saya cukup bisa melewatinya. Kami berlari sekuat tenaga, sekencang-kencangnya. Saya sempat menengok sebentar kebelakang. Gajah itu mencoba untuk mengejar kami, untung ada lumpur yang memperlambat gerakannya.

Saya berlari sekencang-kencangnya, dan tak melihat kebelakang lagi. Mungkin karena jarang lari, nafas ini habis ditengah jalan. Berhenti beberapa kali, tapi akhirnya sampai dilapangan yang banyak kawan-kawan lain berkumpul. Kami memberitahukan kalau Gajah itu muncul lagi. Sempat berfikir Gajah yang lain, tapi bisa dipastikan kalau Gajah yang mengejar adalah yang tadi malam. 
Kondisi di Rumah
Sesampainya dilapangan, kami duduk. Bercerita sambil diselingi gelak tawa geli. Disana juga ada Bang Jack, menurutnya, Gajah itu merupakan hasil rescue dari tempat lain yang terkena jerat, dan saudara-saudaranya mati terbunuh. Katanya, Gajah itu sangat dendam kalau melihat manusia.

Karena kondisi tidak memungkinkan, akhirnya kami membantu sebisanya dilapangan. Dan kawan-kawan yang awalnya menyuruh jangan merekam-rekam, kini justru paling semangat meminta hasil rekaman itu. Tapi pesan saya, tidak boleh disebar keluar Taliwas. Apalagi kalau anak-anak tahu, bisa-bisa bubar semua acara JAIM 5.
Siap Makan
Sampai sore hari, kegiatan dipusatkan dilapangan. Sampai hujan turun dan hanya membuat makanan disana, sempat bumbu-bumbu kurang, kami ambil dirumah. Dan memasak di ponodk lapangan. Kami makan bersama dari hasil sayuran dan seblak, saya ikut membantu.

Hujan turun lagi. Kawan-kawan yang lain melakukan pekerjaan sebsanya, bahkan ada yang hujan-hujanna. Niatnya mau masak lagi, namun gas kecil yang dipakai habis, jadi akan dibawa ke bascame dan melanjutannya disana.
Gajah Menyerang Lagi
Jam 19.00 malam kami pulang, beres-beres disana. Saya membantu Pak Tria memasak yang tadi belum selesai dilapangan. Disini jadi tukang masak, meski hanya membantu, meski saya termasuk orang yang jarang memasak, disini jadi banyak ilmu tentang masak-masakan.
Menonton Pertunjukan
Saya mandi dulu sebelum makan bersama dengan kawan-kawan. Nikmat. Meski tidak mewah. Ada sayur, sambal dan lainnya. Cukup untuk mengobati rasa lelah dan menantang hari ini. Gajah benar-benar membuat pekerjaan hari ini berantakan.

Dan, benar saja, Gajah itu malam harinya datang lagi. Tapi kali ini, kami yang sudah pindah semuanya keatas hanya menonton antraksinya. Kami sudah siap dengan serangan-serangan seperti kemarin malam. Jadi hanya menonton gerak-geriknya. Seolah-olah dikebun binatang aslli. Akan sangat sulit menemukan moment ini di Jawa. Hanya di JAIM 5, pengalaman berharga ini saya dapatkan. Entah besok akan berlanjut lagi atau tidak, karena setelah berputar-putar Gajah itu menghilang.[]
Lanjut Hari Ke-377 DISINI.

Tuesday, September 18, 2018

Menggali Kenangan di Danau || Hari Ke-375

arifsae.com - Udara pagi ditengah hutan. Segar. Alami dan sangat asri. Bersiap-siap mencari pengalaman dan membuka memori-memori tahun lalu yang masih kuat tertanam. Suasana begitu berbeda. Udara yang berbeda dan masih segar ini segera menyambutku. Saya segera mencari sungai, melaksanakan ritual rutin: buang air besar. Kebetulan ada sungai disamping rumah. Terdengar suara gemricik. Kondisi masih gelap. 

Sebenarnya ada WC didalam, tapi itu akan sangat tidak nyaman, karena banyak orang. Setelah membuang sisa-sisa makanan diperut, saya kembali ke rumah. Menikmati suasana terlebih dulu, leha-leha, dan santai-santai sebelum bekerja keras nanti. 
Bersiap-Siap
Jam 06.00 kawan-kawan yang bertugas masak sudah beraksi, mereka memasak bahan-bahan makanan yang sudah tersedia. Sebelum berangkat, kami sarapan bersama-sama terlebih dulu. Ada roti dan pisang juga, yang ternyata menarik perhatian para Monyet. Tidak disangka, ada kawanan Monyet turun ke rumah. Mereka mencari sisa-sisa makanan dan bahkan mencuri makanan kami.
Merapikan Bambu
Kami hanya menikmati pemandangan itu. Sesekali memberikan makanan yang sudah kami makan. Mereka tentu saja sangat menikmati sisa-sisa makanan yang diberikan kami. Ada yang besar, juga ada anak-anak nya. Mereka sepertinya heran dengan kehadiran kami. Memang bangunan ini katanya jarang digunakan. Dan ditambah kondisi hutan yang masih sangat terjaga.

Hutan di daerah Lahad Datu memang masih terawat ditengah pembukaan lahan untuk sawit. Saking terjaganya, disini tidak ada sinyal sama sekali. Hanya bermodalkan sinyal Wifi yang terbatas, dan tidak setiap waktu ada. Tapi itulah hebatnya tempat ini, benar-benar back to nature.
Menemui Danau Kenangan
Setelah urusan buang perut dan memasukan lagi bekal ke perut, kami mulai bergegas untuk berangkat menjadi "kuli". Bahkan lebih parah nampaknya, kalau tidak mau disebut sebagai "kerja rodi" atau bahkan "kerja paksa". Barang-barang sudah siap, segera kami menuju ke lapangan. Siap lahir dan batin untuk berperang .
Membongkar Danau
Kami diantar menggunakan mobil. Melihat lapangan yang masih belum terlihat hasilnya, oleh karena itulah kami disini. Kerja pertama memotong bambu. Tujuannya untuk dibawa ke danau, dan tentu saja mempersiapkan segala bahan untuk dibuat media pramuka disana.
Pak Tria Berglantungan
Bongkar-bongkar bambu sudah. Angkat-angkat ditengah teriknya matahari yang panas menjadi pembuka kerja hari ini. Segera setelah semua dihitung, kami bersiap menuju danau. Tempat yang tahun lalu menjadi sumber kenangan, mungkin tahun ini juga akan sama. 
Makan Siang
Satu persatu bambu diangkat ke mobil yang telah dipersiapkan. Tujuan bambu ini akan kami buat menjadi rakit dan rintangan tantangan untuk mencari jejak nanti. Kami yang tergabung dalam tim outbond segera meluncur dengan mobil ke lokasi.
Makanan Ala Pak Tria
Jalanan yang penuh kenangan segera terbuka kembali. Kenangan yang pada tahun 2017 masih terbekas jelas, dulu bersama Pak Wawan, Pak Tria, Pak Didib, dan saya. Tentu saja sekarang akan berbeda, suasana dan orang-orangnya. Pak Wawan sudah pulang ke Indonesia, dan Pak Didib menjadi ketua JAIM 5 saat ini, yang tentu akan sangat sibuk. 

Setelah pemandangan danau kenangan terpampang jelas, dan tanpa perubahan berarti, masih sama dengan tahun lalu, kami bersama-sama menurunkan bambu-bambu dari mobil dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
Makan Bersama
Setelah semua bambu diturunkan, kami mempersiapkan diri. Jam menunjukan 09.00 pagi waktu Sabah. Kami mulai menjeburkan diri ke danau. Kondisi danau yang jarang dijamah orang tentu saja menjadi was-was dihati, takut ada buaya, atau dinosaurus seperti di film-film.
Siap-Siap Pulang
Kerja pertama memasang bambu-bambu untuk mendirikan tiang. Semua bergerak. Karena ini adalah tim yang sudah mengenal satu sama lain, bahkan orang-orangnya saling akrab, jadi semasa kerja serasa bermain-main, penuh keakraban.

Memasang dan tali sudah mulai terlihat. Hari sudah siang, terik matahari sudah bertambah panas. Jam menunjukan 11.00 siang, kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dulu. Persedian makanan terjaga, Pak Tria siap beraksi, dialah koki nya. Mengolah bahan persediaan makanan yang dibawa. 
Perjalanan Susur Hutan
Bahan akanan yang dibawa, adalah megi dan sarden. Bahan makanan yang dibawa itu akan menemani makan siang kita. Pak Tria menyalakan kompor dan menanak nasi, ada yang mengolah megi dan sarden. Ada juga yang berbincang-bincang berbagai obrolan topik.

Itulah kenikmatan disini, kekeluargaan yang sangat erat menjadi obrolan menjadi lebih dekat. Setelah semua siap, kami semua memposisikan diri untuk memakan makan siang ini. Saya mengambilkan daun seabgai alas untuk menaruh makanan. Dicampur dan di uwek-uwek sampai semuanya terpadu menjadi satu.
Keadaan WC
Kami memakan makanan ini bersama-sama. Kenikmatan hakiki yang tak didapatkan direstoran-restoran, makanan seadanya namun nikmatnya luar biasa. Ditengah pemandangan danau dan suasana hutan yang asri. Benar-benar nikmat. Kami memakan dengan lahap, sambil diselingi bercanda dan rebutan makanan.

Hawa ngantuk menyerang setalah makan siang. Kami berisitrahat sejenak, sebelum melanjutkan pekerjaan. Jam 13.00 kami bersiap lagi menceburkan diri ke danau untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Kali ini kami menyelesaikan bahan untuk dijadikan perang bantal.
Menuju Sungai
Disaat asik menyelesaikan perang bantal, tiba-tiba hujan lebat turun. Karena terlanjur turun, kami menikmati hujan sambil menyelesaikannya. Lumayanlah pekerjaan hari ini, selesai target pertama, meski masih banyak yang belum disentuh.

Disaat hujan inilah, kebersamaan begitu jelas dan semakin dekat. Kami tidak merasa terbebani, meski harus berkubang di danau yang airnya saja bercampur dengan lumpur dan entah apa saja. Sore hari, kami selesai. Niatnya ingin pulang, tapi karena penasaran, kami mencoba berbagai arena permainan satu persatu.
Rumah Istirahat
Pertama, melewati rangkaian perang bantal, yaitu menyebrangi jembatan, dan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Semuanya gagal total. Tidak ada yang berhasil. Saya sendiri berpikir, "Kami saja tidak bisa, apalagi anak-anak." Tapi biarlah, supaya menantang adreanalin.

Tantangan kedua berglantungan diatas bambu. Dan ini jauh lebih sulit, karena badan kami yang penuh dengan lemak-lemak membuat beban tak bisa kami bawa. Karena tidak ada yang berhasil, kami satu persatu naik dan istrirahat. Karena memang sudah sore, kami semua sepakat untuk mengakhiri kerja hari ini.
Siap Mandi
Jam 16.00 lebih kami duduk-duduk dulu, menikmati sore hari diatas danau. Pak Tria dengan gesit memasak Ubi, ada juga yang mancing ikan. Kebetulan mereka yang suka mancing membawa peralatan mancing, kerja sekalian mancing. Bagi mereka itu mengasikan. Ikan yang didapat tidak keburu di olah. Kami meninggalkannya untuk pergi mandi.

Sungai yang dituju juga merupakan sungai kenangan. Sungai yang tahun lalu juga digunakan untuk mandi. Airnya segar, kalau tidak hujan. Masih alami dan jernih. Tapi kali ini habis hujan, kami tidak tau kondisinya saat ini.
Mandi Bersama
Kami berjalan kaki menuju ke sungai. Sambil menikmati keindahan hutan. Hari ini segalanya terbuka semua. Kenangan dan lainnya. Membekas tahun lalu bersama "orang-orang pohoon". Sampai di sungai, airnya lumayan jernih. Meski tidak seprti biasa. Kami memutuskan untuk mandi.
Makan Malam Bersama
Yang perlu diwaspadai adalah banyaknya lintah disini. Kalau tahun lalu lintahlah yang jadi musuh utama. Untuk hari ini belum terlihat. Tapi tetap harus waspada. Selesai mandi, kami pulang ke bascame bersama-sama jalan kaki.

Warna gelap sudah datang, tandanya istirahat dan makan bersama. Berbagai menu tersaji. Ada kawan-kawan lainnya yang memasak, jadi kami berkumpul dari segala divisi untuk makan bersama. Menu makananya juga bervariasi. Dari kerja seharian, akhirnya terpuaskan dengan makanan ini. Tentunya sambil bincang-bincang santai dengan kawan-kawan.
Mencari Sinyal
Selesai makan, kami menuju ke office untuk mencari sinyal. Membuka hape yang seharian tidak ada kabar. Meski sinyal juga tidak terlalu baik,tapi cukup untuk membuka pesan WA. 

Malam hari kami tutup dengan rapat kegiatan yang sudah dilakasanakan masing-masing divisi. Mengvaluasi dan memperbaiki kekurangan untuk perbaikan hari esok. Selesai rapat, kami tutup dengan bermain kartu, hingga kejadian tak terduka terjadi ketika kami bermain kartu jam 01.00 dini hari. Sebuah tragedi...[]
Lanjut Hari Ke-376 DISINI.