Thursday, June 11, 2015

Asal Nama Desa Sidakangen

Desa Sidakangen
arifsae.com - Desa Sidakangen, merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Letaknya strategis karena berada di jalur utama antara Purwokerto-Semarang. Jaraknya hanya 5 km dari Kota Purbalingga. Desa ini sangat berpotensi sebagai desa berprospek bisnis dan agraris yang sudah berlangsung secara turun temurun dari awal desa ini berdiri hingga sekarang. Letak geografis Desa Sidakangen memanjang dari Utara ke Selatan. Pemukiman penduduk berada di daerah Utara dan Selatan itu, sementara bagian Timur merupakan kawasan pertanian yang subur, sedangkan bagian Barat merupakan lahan-lahan pertanian milik desa tetangga, Desa Blater. Desa ini dilewati oleh aliran Sungai Punggawa yang dijadikan irigasi oleh wilayah Kecamatan Kalimanah. Salah satu kebanggan desa ini adalah membentangnya aliran Sungai Punggawa.

Desa ini memiliki sejarah mengapa bisa dinamakan Desa Sidakangen. Cerita ini berawal pada zaman dahulu dengan adanya dua pengembara yang bernama Arsadi Pati dan Wiradi Pati yang singgah di suatu wilayah. Dua pengembara tersebut adalah kakak-beradik. Di wilayah tersebut dua pengembara singgah dalam waktu yang cukup lama, mereka melakukan cocok tanam dan berburu, hingga pada suatu hari Arsadi Pati menguasai wilayah Utara dan Wiradi Pati menguasai wilayah Selatan. Dengan berkembangnya wilayah tersebut kakak beradik ini berembuk dan bertekad menyatukan dua wilayah tersebut menjadi suatu desa yang dikuasai oleh mereka berdua.

Desa itu dibagi menjadi dua dusun. Hingga setelah penduduk setuju menyatukan dua wilayah tersebut dua pengembara itu melanjutkan perjalanan mereka tanpa pamit penduduk setempat dan hanya meninggalkan pakaian dan seperangkat pakaian kuda. Karena dua pengembara itu pergi tanpa pamit maka desa itu dinamakan Desa Sidakangen dengan maksud suatu saat akan rindu kembali yang diambil dari kata ‘Sida’ yang berarti ‘jadi’ dan ‘Kangen’ berarti ‘rindu’. Setelah dua pengembara itu pergi masyarakat desa bermusyawarah untuk memilih pemimpin desa dan terpilihlah pemimpin desa pertama yang bernama Bangsa Meja.

Pimpinan desa dari pertama hingga sekarang sudah terpimpin oleh 8 kepala desa. Desa ini memiliki struktur lama dengan susunan kepala desa, sekretaris desa, 2 kepala dusun, dan 7 kepala kopak. Lalu, pada tahun 1985 struktur tersebut mengalami perubahan susunan menjadi kepala desa, sekretaris desa, 2 kepala dusun, dan 5 kaur (kepala urisan). Lima kaur tersebut terdiri dari kaur pembangunan, pemerintahan, keuangan, kesra, dan kaur umum.

Demikian asal nama Desa Sidakangen, Desa Sidakangen juga ada kaitannya dengan pertempuran Blater yang terjadi pada tanggal 21 Juli 1947, yaitu saat terjadi agresi militer Belanda I, dan pada saat itu terjadi pertempuran di desa Blater, yaitu desa tetangga Desa Sidakangen. Dari pertempuran tersebut ada warga Desa Sidakangen yang menjadi pahlawan yang gugur dalam pertempuran tersebut, warga tersebut bernama Pak Muchammad alias Achmad. Sebelum tertangkap ia sempat meloloskan diri dari sergapan Belanda, namun karena rentetan peluru yang ditembakkan Belanda secara acak dan membabi buta satu diantaranya membuat Pak Muchamad terluka.

Pak Achmad berlari masuk perkampungan Sidakangen, lalu masuk ke sebuah rumah dan bersempunyi di bawah dipan. Ternyata ada jejak darahnya yang memberi petunjuk bagi tentara Belanda untuk melacak keberadaannya. Tanpa ampun Belanda menembak bawah dipan dimana Pak Muchamad bersembunyi. Dan pada akhirnya Pak Muchamad menghadap meninggal dunia sebagai pasukan yang gugur di bulan ramadhon, menjadi sebagai kusuma bangsa dengan luka yang sangat mengenaskan. Dari pihak TNI dan laskar pejuang telah gugur sebanyak 28 orang. Jenazah mereka dikubur di tepi jalan, Desa Blater, Kecamatan Kalimanah, dan ada juga yang dimakamkan di pekuburan Blater dan Sidakangen.

Sumber referensi:
http://sidakangen.blogspot.co.id/2009/10/sekilas-sidakangendesa-vokasi.html, diakses tanggal 3 Oktober 2016.
http://totoendargosip.blogspot.co.id/2014/12/pertempuran-di-blater.html., diakses tanggal 3 Oktober 2016.
Penulis Apriliana Andita Wardani