Friday, June 19, 2015

MEMAYU HAYUNING BAWANA: KEARIFAN LOKAL UNTUK KEJAYAAN GLOBAL




“Dengan menggali kearifan lokal tentang budaya masyarakat mengelola laut, kejayaan Indonesia sebagai bangsa maritim dapat kembali bangkit.”[1]

Indonesia di “mata” dunia internasional adalah sebuah zamrud mutiara dan negeri “surga”. Mengapa? Tidak lain karena bagi sebagian mereka, Indonesia yang luas dan jarak bentanganya sama dengan Inggris ke Rusia bisa menjadi sebuah Negara Kesatuan. Coba kita lihat, berapa negara yang terdapat di antara Inggris dan Rusia. Padahal, wilayah tersebut merupakan daratan yang menyatu dengan masyarakat yang relatif homogen, baik secara kultural maupun agama.
       Menurut data Kelompok Kerja Penyelarasan Data Kelautan dan Perikanan tahun 2011, Indonesia memiliki luas teritorial 284.210,90 Km² dan luas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) 2.981.211 Km² atau sekitar 70% dari luas wilayah Indonesia, sedangkan daratan seluas kurang lebih 1.910.931,32 Km². Garis pantai Indonesia adalah yang terpanjang kedua di dunia dengan panjang sekitar 104.000 Km². Rasanya aneh dan tidak dapat diterima akal sehat bagaimana Indonesia yang begitu banyaknya pulau sejumlah 17.504 pulau tidak dapat disebut sebagai Negara Maritim abad ke-21. Dari ribuan pulau tersebut, banyak tradisi lokal yang sudah dilakukan turun-temurun dari nenek moyang kita untuk menjaga dan menyeimbangkan kelestarian laut.
       Kita sepakat bahwa tradisi kelautan perlu di bangkitkan lagi, kita juga meyakini bahwa tradisi kelautan kita perlu dikuatkan dengan berbagai cara, Indonesia dengan visi poros maritim dunia harus kita wujudkan bersama untuk mencapai ketahanan dan pertahanan Indonesia. Tapi fakta di lapangan mengatakan berbeda, bahwa dari 324 Kabupaten[2] di seluruh Indonesia, tidak banyak kalangan yang meyakini bahwa wawasan kemaritiman, karakter kebaharian, dan jiwa kelautan dapat ditemukan dalam tradisi budaya lokalnya sendiri. Maukah kita menggali dan kembali pada kearifan lokal kita untuk meraih kejayaan global?
           
Problematika Maritim Kita
Data di atas menggambarkan bagaimana Indonesia dianugrahi oleh Tuhan begitu banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh negara lain di dunia. Melihat kekayaan Indonesia yang begitu luar biasa ini, bangsa Indonesia seharusnya menyadari bahwa laut merupakan media yang dapat mempersatukan dan sebagai media untuk menghubungkan antara pulau yang satu dengan yang lainnya. Tapi kenyataan kondisi sekarang justru laut adalah pemisah antara pulau satu dengan yang lainnya. Pemisah ini semakin terasa pada masa globalisasi saat ini, arus globalisasi ini justru membuat kita semakin menjauh dari jati diri bangsa kita yang bhineka tunggal ika.
      Untuk menyatukannya, kita harus mengejar ketertinggalan teknologi kita dalam dunia maritim dan sumber daya manusianya karena dalam dunia kemaritiman tergantung pada orang-orang yang menguasai teknologi yang identik dengan globalisasi tetapi tidak melepaskan “pijakan” lokalnya. Tapi bahayanya, globalisasi dapat menyebabkan terkikisnya budaya nasional akibat masuknya budaya dari luar. Arus budaya yang datang dari luar bisa menghantam budaya lokal dengan kuat sehingga dimungkinkan bahwa kearifan lokal kita akan segera mati.[3] Kita bisa lihat dari hal kecil di sekitar kita, bukankah kita seolah bangga kalau beli ikan di supermarket? Pernahkah kita menyempatkan diri untuk datang ke pasar dan berbelanja di sana? Contoh yang lain, nama-nama asli orang Indonesia sekarang mungkin 20 tahun yang akan datang punah. Banyak nama asli diganti menjadi ke “barat-baratan”, dan kita bangga itu. Mari kita merenung, akankah kearifan lokal kita akan semakin hilang tertelan zaman? Kita kadang tidak sadar bahwa kita sekarang merupakan generasi konsumtif sekaligus pragmatis. Untuk menyikapi prolematika ini, dibutuhkan strategi yang tepat agar identitas asing tidak semakin “menggerus” dan secara perlahan dapat berpotensi melenyapkan identitas lokal di Indonesia.
       Permasalahan justru datang dari kita sendiri. Kebiasaan orang Indonesia yang susah makan ikan menjadi kendala, sekalipun Indonesia kaya akan hasil laut, tapi bangsa Indonesia tidak dikenal sebagai pemakan ikan. Rata-rata konsumsi ikan orang Indonesia adalah 30 kilogram per tahun, masih kalah dengan orang Malaysia yang mencapai 37 kg, bahkan hanya separuh dari konsumsi orang Jepang yang makan ikan 60 kilogram per tahun.[4] Belum lagi praktik illegal fishing, illegal logging, illegal mining, dan kegiatan ekonomi ilegal lainnya serta perampokan dan perompakan di laut masih marak. Ikan yang dicuri taun 2014 (hingga Agustus 2014) dari laut Indonesia mencapai 1,6 juta ton atau setara 182 ton sehari, pencurian ikan ini merugikan negara sekitar Rp. 101 triliun. Kerugian negara itu meningkat karena masih lemah pengawasan dan penindakan kepada nelayan dan kapal ikan asing pencuri ikan Indonesia itu. Kapal-kapal ikan pencuri itu diketahui dari Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Filipina, Taiwan, Hongkong, dan Tiongkok. Mereka sering tertangkap basah mencuri ikan di wilayah ZEE Indonesia.[5] Dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tercatat hingga bulan November 2014 bersama tim gabungan lintas sektor berhasil menangkap hingga sebanyak 35 kapal ikan yang melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia.
       Selain itu, pembangunan kelautan masih menyisakan begitu banyak pekerjaan rumah. Buktinya, hingga kini kontribusi seluruh sektor kelautan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya sekitar 20%. Padahal negara-negara dengan potensi kekayaan laut yang lebih kecil ketimbang Indonesia, seperti Islandia, Norwegia, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Thailand, kontribusi bidang kelautannya rata-rata sudah di atas 30% PDB. Mayoritas nelayan dan masyarakat pesisir masih terlilit derita kemiskinan. Sementara, gejala overfishing, kerusakan ekosistem pesisir (terumbu karang, hutan mangrove, dan estuaria), dan pencemaran melanda sekitar 40% wilayah pesisir dan laut, seperti Pantai Utara Jawa, sebagian Selat Malaka, Pantai Selatan Sulawesi, sebagian Pantai Timur Kalimantan, dan muara Sungai Ajkwa di Papua.[6]
       Dari permasalahan diatas, seharusnya langkah kecil untuk menyelamatkan kemaritiman mulai dari diri kita, saat ini, dan mulai dari yang terkecil, yaitu kearifan lokal kita. Kearifan lokal justru menjadi barometer kedewasaan bernegara untuk menghadapi tantangan global. Sinergitas antara keduanya akan menjadikan kita kuat dan lebih siap dalam menghadapi tantangan dan hambatan. Dengan kearifan lokal, kita bisa lebih bijaksana dalam mengelola alam Indonesia. Tidak sembarangan dan sembrono[7] dalam memanfaatkan kekayaan. Permasalahan ini bukannya tidak bisa diatasi, hanya usaha dan doa yang menjadi senjata untuk merubah Indonesia menjadi poros maritim dunia. Salah satu usahanya, kita kembali ke “lokal”.

Korelasi Kearifan Lokal dan Kejayaan Global
Pengaruh teknologi dan globalisasi amat besar  membentuk wajah Indonesia yang lokal menjadi nasional hingga global dan sebaliknya atau yang dikenal sebagai Glokalisasi. Konsep ini dipopulerkan oleh Roland Robertson pada tahun 1977 dalam suatu konferensi tentang Globalization and Indigenous Culture. Secara umum pengertiannya adalah penyesuaian produk global dengan karakter lokal. Ada juga yang mengatakan think globally and act actually (berpikir global namun bertindak lokal). Dalam wilayah budaya glokalisasi dimaknai sebagai munculnya interpretasi produk-produk global dalam konteks lokal yang dilakukan oleh masyarakat dalam berbagai wilayah budaya.[8] Memang pada dasarnya glokalisasi timbul dan merupakan efek dari globalisasi. Tapi substansi dari glokalisasi yang mempunyai gen citarasa lokal mempertahankan identitas nasional.
       Salah satu masyarakat di Indonesia yang kaya akan kearifan lokal kemaritiman adalah masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa pada umumnya sadar dan sangat memahami bahwa kehidupan manusia tidak dapat belangsung tanpa adanya sumber daya alam, seperti: bumi, udara, air, sinar matahari, hewan, dan tumbuhan. Untuk itulah, para pendahulu atau leluhur telah merencanakan hari penyelamatan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup beserta isinya. Orang Jawa menyebutnya sebagai Memayu Hayuning Bawana, artinya penyelamatan keseimbangan alam dan lingkungan tempat manusia hidup. Caranya, dengan melaksanakan ruwatan atau sedekah atau selamatan. Ruwatan artinya merawat, melestarikan, menyelamatkan, membersihkan, menumbuh kembangkan, dan memberdayakan, alam dan lingkungan hidup. Ruwatan dilakukan agar masyarakat Jawa terhindar dari bahaya dengan mengharap dan bersyukur tehadap Tuhan. Lebih spesifik lagi, falsafah Memayu Hayuning Bawana bertransformasi menjadi Memayu Hayuning Samudro, yang berarti penyelamatan keseimbangan laut, baik dalam cara memanfaatkannya maupun mengelolanya.
        Falsafah Memayu Hayuning Samudro bisa dilihat dari tradisi-tradisi dan upacara-upacara orang Jawa sekarang. Semisal, di Jawa Tengah Bagian Barat, yaitu Kabupaten Cilacap, upacara tradisional yang sampai sekarang dilakukan sebagai salah satu kearifan lokal, untuk menyeimbangkan laut adalah upacara tradisional Sedekah Laut. Sedekah Laut dilaksanakan di pantai Teluk Penyu dan menjadi salah satu kearifan lokal di wilayah Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Hingga saat ini, upacara tradisional tersebut masih dilaksanakan karena masyarakat merasakan adanya makna dan nilai-nilai luhur di dalamnya. Peran pemerintah dalam pelaksanaan tradisi Sedekah Laut tidak bisa dilepaskan, sinergi antara keduanya merupakan hal yang penting. Tradisi Sedekah Laut selalu dilaksanakan dengan persiapan yang matang. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh masyarakat antara lain menentukan tanggal pelaksanaan, mempersiapkan uborampe[9] upacara tradisi yaitu jolen[10] dan sesajennya, menyewa dalang untuk acara ruwatan dan hiburan rakyat, serta tidak melaut pada hari yang telah ditentukan.
       Secara garis besar, prosesi upacara kirab dan pelarungan jolen diawali dengan penyerahan jolen Tunggul  dari Tumenggung Duta Pangarsa. Selanjutnya jolen Tunggul dibawa ke pantai  Teluk Penyu dan dikirab seluruh nelayan dari tujuh kelompok nelayan yang ada di Cilacap. Penyerahan jolen Tunggul disaksikan bupati Cilacap dan seluruh pejabat dari dinas instansi terkait yang menggunakan pakaian adat nelayan lengkap dengan ikat kepala warna hitam. Selanjutnya jolen Tunggul beserta jolen-jolen lainnya  yang dibawa masing-masing kelompok dinaikkan ke atas perahu yang dihias dengan berbagai hiasan janur kuning. Jolen-jolen tersebut kemudian dibawa ketengah laut kidul dan dilarung disekitar pulau Majethi, tepatnya di teluk Karang Bandung, pulau Nusakambangan.[11]
       Upacara ini dilakukan untuk masa awal musim penangkapan ikan setelah masa paceklik, sehingga kalau melaut lagi tangkapan ikan sangat banyak. Karena itu upacara ritual Sedekah Laut ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur para nelayan kepada Tuhan karena nelayan telah diberi rejeki barupa hasil tangkapan ikan yang melimpah.  Biasanya upacara sedekah laut para nelayan Cilacap ini dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon bulan Suro, dan pada hari-hari tersebut tidak ada nelayan yang melaut.
       Dari contoh-contoh tersebut, kita dapat melihat bahwa masyarakat maritim yang diperlihatkan di atas menganggap laut adalah segalanya, laut adalah bagian hidupnya. Laut adalah “ibu” yang memberi kehidupan seperti yang digambarkan dalam tradisi Sedekah Laut. Masih banyak contoh yang dapat ditambahkan yang memperlihatkan betapa kuat sebetulnya memori kolektif mengenai kemaritiman yang tersimpan dalam masyarakat Indonesia. Akan tetapi,  kenyataan akhir-akhir ini seperti “api jauh dari panggangnya”, karena kurangnya pemahaman mengenai pengelolaan laut untuk menjadi sumber potensial peningkatan GNP (gross national product) oleh para nelayan ilegal dengan tangkapan berkapasitas gros-gros ton. Oleh karena itu, Indonesia harus mengembalikan kejayaannya sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan maritim yang kuat seperti yang pernah terjadi berabad tahun yang lalu dengan kembali ke lokal, untuk "bertarung" di global.

Revitalsiasi Tradisi  
Terkadang kearifan lokal dianggap sebagai sesuatu yang mengglobal. Pemahaman tersebut tidak salah karena toh segala sesuatu yang mengglobal berasal dari jati diri lokal. [12] Dengan demikian, makna Sedekah Laut bukan semata-mata sebagai ungkapan rasa syukur, akan tetapi lebih jauh mendalam. Memayu Hayuning Bawana/Samudro tidak lain merupakan falsafah hidup yang menjadi akar kearifan lokal masyarakat Jawa. Memayu Hayuning Bawana/Samudro sebagai dasar pelaksanaan Sedekah Laut, menunjukkan bahwa nilai kearifan lokal yang ada di dalamnya begitu banyak. Berbagai nilai kearifan lokal sudah seharusnya dilestarikan dan dijadikan pedoman hidup bagi masyarakat nelayan dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
       Negara dalam hal sudah berusaha membangkitkan tradisi-tradisi dan potensi-potensi yang ada di dalam negeri. Seperti yang sudah diamanatkan oleh UUD 1945 pasal 33 ayat 3,[13] harapan kita, Indonesia sebagai negara kepulauan yang besar dengan budaya maritim, segala kebijakan kemaritiman harus dibuat terpadu dan bersifat lintas sektoral. Pengembangan budaya maritim tersebut tidak berarti mengesampingkan masalah pertanian dan kehutanan di darat. Sesungguhnya ketiga  hal tersebut (maritim, pertanian,  kehutanan)  merupakan  satu  kesatuan  ekosistem yang salah satunya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Jadi pada akhirnya bangsa Indonesia perlu mengembangkan  konsep  pembangunan  terpadu,  agar ketiga hal tersebut saling memiliki fungsi bagi kehidupan. Generasi sekarang belum sadar bahwa hilangnya hutan berarti hilangnya peradaban laut juga.
       Sekarang momentum yang tepat untuk melihat kembali peradaban bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim dan sebagai negara kepulauan terbesar didunia, serta merupakan negara agraris yang memiliki pertanian dan kehutanan bagi penduduknya. Seperti falsafah Jawa, Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara artinya manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak. Selain itu mari kita terus membuka mata kita, awasi selalu setiap usaha yang berpotensi menghancurankan laut Indonesia. Baik gerakan dari luar maupun dari dalam, termasuk awasi setiap kebijakan pemerintah, kalau kebijakan itu bertentangan dengan keadilan lingkungan laut, kita perlu memberi masukan terhadap kebijakan tersebut.
       Akhirnya, kita mesti melakukan perubahan paradigma pembangunan nasional, dari orientasi pembangunan darat menjadi orientasi pembangunan laut dengan belajar dari kearifan lokal kita. Dengan begitu, seluruh kebijakan publik, infrastruktur, dan sumberdaya finansial secara terintegrasi diarahkan untuk menunjang pembangunan kelautan tanpa menghilangkan warisan leluluh kita. Ini bukan berarti kita melupakan pembangunan di darat. Kita justru harus mengintegerasikan pembangunan ekonomi di darat dan di laut. Melalui orientasi pembangunan dari basis daratan ke lautan, maka pelabuhan, transportasi laut akan lebih efisien. Sehingga, akan membuat semua produk dari ekonomi daratan (pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan pertambangan) akan lebih berdaya saing, karena biaya logsitik akan lebih murah dan pergerakan barang akan lebih cepat. Sejuta harapan pada negara kita untuk menjadi poros maritim dunia tidak akan menjadi khayalan semata dalam beberapa tahun kedapan jika kita bersama dan saling bersinergis. Dengan falsafah Memayu Hayuning Bawana, kita jaga dan kelola kekayaan laut kita.


15 FINALIS LOMBA ESAI SOSIAL BUDAYA NASIONAL 2015


       [2]   Kelompok Kerja Penyelarasan Data Kelautan dan Perikanan tahun 2011.
     [3]   Sumaryadi, Nyoman I. 2005. Efektivitas Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah. Jakarta: Citra utama., Hlm 5.
     [4]   https://ugm.ac.id/id/berita/9229sri.sultan.hb.x:.budaya.konsumsi.ikan.laut.perlu.menjadi.tradisi., diakses 3 Mei 2015.
     [5]   http://www.antaranews.com/berita/455120/pencurian-ikan-rugikan-negara-rp101-triliun., diakses 3 Mei 2015.
     [6]   Dahuri, Rokhim. 2014. “Membangun Indonesia sebagai Negara Maritim yang Maju, Adil-Makmur, Kuat dan Berdaulat”. Makalah. Disampaikan pada Seminar Kebangsaan Laut Sumber Kemakmuran dan Kedaulatan Bangsa di Jakarta, disajikan pada tanggal 1 Oktober 2014., hlm 2-3.
      [7]     Sembrono berarti kurang hati-hati atau gegabah.
      [8]     http://nur-hidayatullah.webnode.com/news/identitas-nasional/., diakses tanggal 2 Mei 2015.
       [9]    Uborampe berarti perlengkapan makanan atau piranti dalam melaksanakan ritual Sedekah Laut.
      [10]   Jolen merupakan bentuk rumah adat Jawa Tengah (Joglo) yang berisi bermacam-macam sesajen.
     [11]  Wawancara dengan Bapak Sagutro pada hari Minggu, 30 April 2015.
     [12]   Suwardi Endraswara. 2013. Memayu Hayuning Bawana. Yogyakarta: Narasi. hlm 35.
     [13]   bunyi dari ayat tersebut adalah: bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Saat ini berprofesi jadi BTW, Kadang jadi BLOGGER, yang pasti jadi TEACHER dan semoga jadi WRITER;)