Tuesday, April 19, 2016

SURAT UNTUK KETUA KPK: GENERASIKU MELAWAN KORUPSI

Purbalingga, 3 Februari 2016

Kepada Yang Terhormat,
Bapak Agus Rahardjo
Ketua KPK Indonesia                                                                                                         
Di-
tempat

Assalamualaikum Warahmatulohi Wabarokatuh
Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga berkah dari Allah untukmu Bapak. Bagaimana kabar keseharian di gedung Merah Putih pada tahun yang baru ini? Pasti sangat menyenangkan dengan segala kemewahan dan fasilitas canggih di tempat yang beralas sutra dan berhiaskan mega di gedung yang baru itu. Doa saya, semoga Tuhan selalu memberi kesehatan dan petunjuk agar Bapak selalu dapat berjasa bagi negara. Semoga keadilan selalu berpihak kepada Bapak dari Tuhan hakim yang seadil-adilnya.
Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan untuk bisa menulis surat kepada Bapak Agus Rahardjo, Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) terpilih. Sebagai siswa biasa, saya merasa sangat senang dan bangga mendapat kesempatan menuliskan secarik harapan sederhana yang diharapkan Bapak berkenan membaca surat saya.
Bapak Agus Rahardjo yang saya hormati, saya selaku rakyat yang hidup ditengah masyarakat dengan segala problema yang ada, telah dipaksa mengikuti laju dinamika kehidupan yang begitu keras. Hingga saya pun bingung karenanya, Indonesia indah katanya, Indonesia kaya katanya, Indonesia negara yang adil dan beradab ini kenyataanya. Indonesia memang indah pesonanya tetapi tidak dengan penderitaan rakyatnya. Indonesia kaya faktanya, dengan segala kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya, tetapi milik siapa kekayaan negeri ini? Apakah rakyat menikmatinya dengan segudang gunung emas di bumi timur? Tidak, hanya yang berkuasa dan  menurut saya kekayaan ini adalah fatamorgana semata, impian yang tak tau kapan terwujudnya. Indonesia merupakan negara yang adil dan beradab, adil bagi yang berkuasa, beradab bagi yang melakukanya.
Kita merdeka sejak tahun 1945, merdeka dari penjajah luar, tetapi hingga kini rakyat masih gegap gempita dijajah oleh serakahnya nafsu saudara mereka sendiri. Masyarakat seperti halnya pohon kelapa yang dapat dituai setiap saat jika di butuhkan dan bisa dibuang kapan saja karena sudah tak berasa manfaatnya. Bapak, tentunya kami kesal dengan semua ini, dengan semua permainan politik yang telah diatur sedemikan rapinya, sehingga kami pun tak tahu siapa sebab dibalik akibat peristiwa ini. Namun, semua persoalaan ini bukan hal yang tabu ataupun hanya rekayasa belaka, tetapi ini kenyataan yang jelas dapat diatasi. Saya rasa dari kemampuan dan segudang pengalaman yang Bapak miliki, saya yakin hadirnya pemimpin baru di gedung keadilan, Indonesia mempunyai harapan baru untuk bisa melawan korupsi.
Saya ingin Bapak sejenak menengok keadaan disini, keadaan dimana si kaya berbahagia dan si miskin menjerit sengsara. Anehnya, mengapa mereka yang setiap hari duduk terbalut tahta masih saja ingin duduk di “kursi” Tuhan. Apakah belum puas dengan mereka melakukan korupsi? Tentunya rakyat merasa sangat dikecewakan, merasa dibohongi dengan beraliansi memajukan pembangunan negeri. Memang Indonesia di tahun ini banyak melakukan pembangunan, banyak proyek akbar terutama dalam sarana infrastruktur dan transportasi. Tetapi di tahun ini pula banyak lahirnya masalah korupsi yang dilakukan pejabat tinggi, mereka seakan menggaruk punggung negaranya sendiri. Ini merupakan sebuah kecaman besar, sebuah titik temu dimana negeri kita ini sedang mengalami yang namanya degblackasi mental. Keadaan dimana sebuah negara seolah seperti pabrik yang setiap tahunya, bahkan setiap detiknya mencetak bom waktu untuk menghancurkan negaranya sendiri. Saat ini yang dibutuhkan hanya Revolusi Moral, revolusi yang akan mengubah pola hidup masyarakat, yang akan mengubah kebiasaan buruk masyarakat untuk bisa mementaskan diri dari cengkraman api korupsi.
Indonesia harus berubah Bapak, menurut saya pemerintah harus lebih terbuka lagi kepada masyarakat perihal anggaran yang dikeluarkan negara, agar rakyat tahu bagaimana perkembangan negaranya dan kemana aliran dana itu mengalir. Saya pun merasakan keadaan dimana sebagai pelajar yang terpelajar, sebagai rakyat dikalangan ekonomi bawah, bahwa wakil rakyat saat ini belum merakyat. Ini berarti pemerintah belum bisa mendengar apa yang dibutuhkan rakyatnya, apa yang diinginkan rakyatnya dan apa yang seharusnya menjadi hak mereka. Indonesia memang negara yang luas Bapak, negara dengan seribu budaya dan ragam suku bangsa, negara dengan sebutan negara hukum. Memang dengan seribu hukum di negara ini, nyatanya belum bisa mengatasi liciknya para koruptor. Kini hukuman layaknya dapat digadaikan, para koruptor pun bisa dengan mudah keluar masuk penjara, menikmati indahnya dunia.
Bapak, hukuman apa yang pantas bagi mereka karena telah berani menodai jasa pahlawan kita hingga mengulangi jeritan rakyat yang seakan terjajah kembali oleh waktu. Apakah hukuman mati? Menurut saya ini berlebih, seakan mendahului kodrat takdirnya untuk menemui sang ilahi, tapi apalah daya, hakim bukan Tuhan yang adil karena keadilan sekarang dapat dibeli bagi orang yang berkuasa. Tegaknya hukum memang tidak lepas dari aturan hukum itu sendiri, masyarakat yang menjalani, dan aparat yang mengawasi. Jadi saya berharap kepada aparat penegak hukum dengan seadil-adilnya, dengan tak pandang bulu anugerahkan karma yang setimbang dengan apa yang telah di perbuat para penoda hukum.
Saya pribadi berharap Bapak, dengan harapan yang sederhana ini, dengan harapan saya yang setitik ini, saya hanya ingin melihat setiap rakyat Indonesia bisa tersenyum. Bukan tersenyum karena harta ataupun tahta, tetapi karena kebahagiaan dan rasa tenang karena negara ini aman, aman dari jajahan para koruptor tentunya. Tetapi Bapak, sekarang kenyataanya di bawah sini masih banyak para pemuda, para lansia, bahkan para umuran yang masih sangat belia, yang masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tua, saling berebut rupiah demi segenggam nasi. Dunia ini memang congkak berbanding terbalik dengan realitanya, mereka bergurat asa, berjalan dengan langkah kaki bertumpu di roda kehidupan demi untuk merajut asa.
Akan tiba masanya Bapak, kan tiba, hingga waktu yang menjelaskan kapan semua ini akan berakhir, kapan semua ini akan berujung pada muara yang penuh dengan jawaban fana berisi secarik harapan baru. Mari Bapak, buatlah kembali rakyat ini tersenyum, mari kita kembalikan kepercayaan rakyat, impian rakyat dengan melawan korupsi.
Kembalilah para koruptor jika engkau berani, disini ada kami rakyat Indonesia, ada kami manusia sederhana dengan segudang asa. Bapak Agus Rahardjo, inilah wujud pengabdian dari saya, dengan tidak sedikitpun menurunkan rasa hormat saya kepada bangsa Indonesia, saya selalu siap melawan dan berorasi terhadap segala bentuk Korupsi hingga rakyat dapat kembali tersenyum. Ingatlah Bapak, engkau tidak melangkah sendiri, ada kami dibawah sini, ada rakyat dari berbagai generasi, yang berjuang demi sejahteranya bangsa ini. Karena kami adalah Generasi Melawan Korupsi.
Semoga engkau selalu dalam kasih-Nya.

Wassalamualaikum Warahmatulohi Wabarokatuh
                                                                      Hormat saya,

Tulisan ini menjadi 30 Finalis Lomba Menulis Surat yang diadakan oleh PT POS Indonesia dengan peserta 4000-an lebih.