Wednesday, September 7, 2016

Asal Usul Nama Desa Gembong

Kantor Kepala Desa Gembong
Di desa gembong terdapat beberapa sekolahan, antara lain ada, PAUD, TK, SD, MI, MTS yaitu, PAUD ceria, TK pertiwi, SD N 1 Gembong, SD N 2 Gembong, dan SD N 3 Gembong, MI Gembong, dan MTS Gembong. Dari pusat kota kabupaten Purbalingga, desa Gembong dapat ditempuh 15 menit. jarak dari pusat kota kabupaten Purbalingga, desa Gembong berjarak 7 km. Masyarakat desa Gembong bermata pencaharian sebagai, petani, industri rumahan atau kecil, industri Knalpot.

Kata para leluhur di desa saya, jaman dulu tumbuh 2 pohon beringin. Dua pohon beringin itu adalah satu pasang, dan letak pohon beringin itu tumbuh terpisah. Kata orang jaman dulu di desa saya pohon itu tumbuh terpisah dan juga jenis yang berbeda yang satu laki-laki dan yang satu perempuan. Kedua pohon itu tumbuh subur dan sangat tinggi. Karena saking tingginya sehingga pohon itu bisa tampak dari jarak yang sangat jauh. Ternyata kedua pohon itu mempunyai kesamaan karena dibawah kedua pohon itu terdapat suatu sumber mata air yang sangat jernih sehingga dimanfaatkan oleh masyaakat untuk kebutuhan hidup sehari hari. 

Tidak hanya itu, ternyata sumber air itu juga berkasiat yang dapat menyembuhkan penyakit apa saja jika air di mata air tersebut diambil oleh seorang pertama kali. Meskipun musim kemarau yang panjang sumber air itu tetap memancarkan air tetapi pancaran air dari kedua pohon beringin itu tidak dapat mengalir kemana-mana yang biasa dikatakan oleh orang jawa dengan bahasa ngembong. Dengan adanya peristiwa itu sehingga masyarakat menamai daerah itu desa Gembong.

Akhirnya oleh penduduk sekitar di kedua titik tersebut dibangun sebuah sumur dan dengan bertambahnya usia kedua pohon beringin itu mati. Tetapi anehnya banyak orang yang mengalami kejadian aneh di sumur tersebut. Terkadang masyarakat menjumpai ular di dalam sumur tersebut dan tangisan bayi, sehingga sumur tersebut dikeramatkan dan setiap kali ada acara pernikahan diharuskan untuk membuat sesaji dan ditaruh dibawah kedua pohon tersebut dan dibawa ke makam makam yang biyasa disebut nyadran.

Dulu adat ini wajib dilakukan, tetapi seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman, masyarakat mulai mengikuti era globalisasi sehingga adat ini mulai ditinggalkan karena dianggap oleh masyarakat sebagai wujud penyembahan kepada roh halus dan melanggar syariat agama. Tetapi ada juga adat yang masih dilakukan sampai saat ini yaitu megengan dan ketupatan. Adat mengengan biasanya dilaksanakan sebelum menunaikan ibadah puasa, sedangkan ketupatan dilakukan 15 hari sebelum bulan puasa dan 6 hari sesudah bulan puasa.

Sampai saat ini kedua sumur itu masih ada tetapi tidak dipergunakan oleh masyarakat sekitar. Sekian ulasan dari awal mula dari desa Gembong yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Sumber Referensi :
http://erhans-just-share.blogspot.co.id/2010/11/asal-mula-desa-gembong.html?m=1