Tuesday, November 15, 2016

Sukun Sebgai Alternatif Substitusi Beras

arifsae
Tanaman Sukun
Sebagian masyarakat Indonesia memang sudah familiar dengan beras sebagai makanan pokoknya. Indonesia menurut data dari BPS, merupakan negara dengan konsumi beras tertinggi di dunia. Penduduk Indonesia yang sudah mencapai 250 Juta memerlukan kira-kira 30 Juta ton beras untuk keperluan pangan nasional. Kedepannya, kebutuhan beras akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semaikin meningkat. Namun bila kita melihat produksi padi nasional, rasanya sulit untuk mencapai swasembada beras, hal ini karena berkurangnya lahan dan irigasi yang terbatas menyebabkan persedian beras dimasa datang akan terancam menurun.

Keteergantungan orang Indonesia terhadap beras sangat beresiko terhadap ketahanan pangan nasional, karena hal ini akan merapuhkan kondisi stabilitas ekonomi, sosial dan politik nasional. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah dalam mencanangkan diversifikasi pangan yang bertujuan untuk memberikan makanan alternatif pada masyarakat Indonesia harus kita dukung, karena dengan diservikasi pangan ini akan mengurangi ketergantunga kita dengan beras. Selain itu, semakin banyak fariasi makanan pokok, maka akan berdampak pada bertambahnya kualtias konsumsi masyarakat. Makanan seperti sukun, talas dan ubi-ubian perlu dipertimbangkan sebagai alternatif untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. dalam tulisan ini, akan dibahas lebih spesifik Sukun sebagai makanan alternatif.

Sukun dan Daya Pangan Lokal
Sebagai negara yang mempunyai iklim tropis, Indonesia memiliki semua sumber daya hayati maupun hewani. Berbagai tumbuhan dapat hidup dan berkembagn dengan sangat baik diwilayah tropis ini, termasuk dalam hal ini adalah tanaman pangan untuk manusia. Tanaman pangan yang mengandung karbohidrat ini berperan sangat penting untuk pemberi stok makanan pokok pada suatu negara. Di Indonesia sendiri, tanaman yang mengandung karbohidrat sangat banyak, bukan hanya beras, seperti jenis umbi-umbian seperti sukun. Sukun yang nama latinya Astocarpus astilis ini juga merupakan makanan penghasil karbohidrat yang masih jarang dilirik oleh masyarakat Indonesia.

Tanaman sukun ini termasuk kedalam keluarga moraceae  yang tumbuh subur di Pacifik, Polynesia dan Asia Tenggara sendiri, termasuk Indonesia. Pada zaman dahulu, sukun merupakan makanan penting bagi bangsa Polinesia yang selalu membawa kemanapun mereka singgah dan menanamnya disekitar kepulauan Pacifik. Dalam tradisi Hawai, sukun dianggap sebagai sebuah simbol penggugah kedermawanan dan kreatifitas. Hingga saat ini, negara yang menggunakan sukun sebagai makanan pokoknya adalah negara-negara disekitar Kepulauan Karabia.

Di Indonesia, terutama di pulau Jawa, Sukun berbentuk bulat, sedangkan didaerah lainnya seperti Lampung berbentuk lonjong atau di Kalimantan ukurannya lebih kecil. Disamping sebagai sumber pangan, buah sukun juga bisa dimanfaatkan daunnya, seperti menurunkan kadar kolesterol darah, atau obat untuk mengaasi peradangan. Indonesia, dalam hal ini Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian sejak tahun 2002 telah merintis produksi sukun yang terus meningkat. Berbagai daerah yang mengalami peningkatan seperti di Jawa Barat (terbesar) dan Jawa Tengah (terbesar kedua). Hal ini mengindikasikan, daerah Jawa yang paling padat pendudukanya dibandingkan dengan pulau yang lainnya bisa memanfaatkan sukun ini sebagai alternatifnya.

Diluar pulau Jawa sendiri, sudah banyak masyarakat yang mengkonsumsi makanan laiun selain beras sebgai makanan pokoknya, seperti Jagung (Madura dan Sulawesi), dan Sagu (Maluku dan Papua), sehingga tidak terlalu sulit untuk menggali sumber pangan lain yang mempunyai kesetaraan dengan beras. Sukun sendiri apabila dibandingkan dengan beras tidak terlalu berbeda, kandungan karbohidrat dari 100 gram sukun sama dengan 1/3 karbohidrat beras. Apabila sukun diolah menjadi tepung sukun, maka kandungan karbohidratnya sudah setara dengan beras dan kalau dibandingkan dengan makanan sepreti Jagung dan Sagu, maka sukun masih mempunyai kandungan karbohidrat yang lebih tinggi.

Potensi Pengganti Beras
Untuk menghitung potensi produski sukun sebagai sumber karbohidrat pengganti beras nasional, maka perlu dihiutung berdasarkan tingkat konsumsi perkapita pertahun. Menurut Supriyati (2015), jika konsumsi beras adalah 130 kg/kapita/th, maka untuk penduduk Indonesia yang berjumlah 231 juta orang saat ini diperlukan 130 kg x 231,4 juta = 30,1 juta ton beras per tahun. Kandungan karbohidrat dari 100 gram beras setara dengan 100 gram tepung sukun, masing-masing 78,9%. Berarti 1 kg beras setara dengan 1 kg tepung sukun atau apabila kebutuhan beras 130 kg per kapita per tahun berarti setara dengan 130 kg tepung sukun per kapita per tahun.

Tanaman sukun berbuah dua kali dalam satu tahun, di mana musim panen pertama umumnya pada bulan Januari dan Februari yang produksinya lebih tinggi dibandingkan dengan panen musim kedua pada bulan Agustus dan September. Jika produksi optimal tanaman sukun pada musim panen pertama berkisar antara 600-700 buah dan pada musim panen kedua diasumsikan 50% atau 300 buah, maka satu tanaman sukun dapat menghasilkan 600 buah + 300 buah = 900 buah per tahun. Faktor geografis, agroekosistem, dan potensi lahan merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat produksi sukun. Jika dalam estimasi potensi sukun ini digunakan nilai koreksi antaragroekosistem sebesar 30%, maka produksi buah sukun per tanaman rata-rata 600 buah. Dengan asumsi bobot rata-rata sebuah sukun 600 gram (Syah dan Nazarudin 1994), dan rendemen buah menjadi tepung adalah 30% (Noviarso 2003) maka satu tanaman sukun dapat menghasilkan 600 buah x bobot per buah persentase kadar tepung per buah = 600 buah x 600 gram x 30% = 108.000 gram tepung sukun per tanaman atau 108 kg tepung sukun per tanaman.

Apabila 10% dari kebutuhan beras di Indonesia disubstitusi oleh tepung sukun, maka jumlah tanaman sukun yang dibutuhkan untuk memproduksi 3 juta ton tepung sukun dikalkulasi sebagai berikut: Jumlah kebutuhan karbohidrat per tahun dibagi dengan rata-rata produksi karbodihrat per tanaman sukun per tahun = 3.000.000.000 kg : 108 kg = 27,8 juta tanaman sukun. Ini berarti untuk mensuplai 10% kebutuhan karbohidrat nasional per tahun dibutuhkan 27,8 juta tanaman sukun. Mengingat biaya untuk pengembangan sukun tidak sedikit dan daya penerimaan masyarakat terhadap substitusi pangan ini tidak sederhana, maka mensubstitusi beras dengan tepung sukun dapat secara bertahap dengan cara memperkenalkan variasi olahan makanan yang bersumber dari tepung sukun yang pada akhirnya terjadi proses perubahan pola konsumsi masyarakat. Artinya proses substitusi ditawarkan kepada masyarakat tidak sekaligus, tetapi mengikuti selera konsumen.

Masalah yang akan dihadapi adalah ketersediaan lahan untuk pengembangan sukun. Apabila untuk substitusi beras menggunakan angka 10%, maka diperlukan lahan seluas 278.700. ha. Lahan seluas itu sulit diperoleh apabila sukun ditanam secara monokultur. Alternatifnya adalah penanaman secara polikultur bersama-sama dengan tanaman lainnya, tanaman sukun disisipkan pada hamparan kebun buah-buahan lain atau pekarangan. Prioritas penanaman sebaiknya diarahkan pada lahan kering, tegalan, kebun dan pekarangan, atau lahan terlantar berbukit yang ketersediaan airnya terbatas. Jenis lahan seperti itu banyak terdapat di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusatenggara, dan Sulawesi.

Selain lahan kering tersebut, pemerintah juga dapat memanfaatkan kawasan hutan rakyat yang luasnya diperkirakan 1,57 juta ha. Total lahan kering yang tersedia adalah 18,9 juta ha. Lahan yang dibutuhkan untuk pengembangan tanaman sukun pada tingkat substitusi 10% adalah 278,700 ribu ha. Dengan demikian, pada lahan yang tersedia dimungkinkan untuk ditanam sukun bukan secara monokultur. Kebutuhan lahan akan berkurang lagi jika memperhatikan luas pertanaman sukun yang telah ada di Indonesia.

Sukun sebagai sumber karbohidrat pengganti beras memberikan harapan di masa depan, mengingat budi daya tanaman sukun tidak memerlukan lahan beririgasi dan input produksi berupa pemupukan, dan pestisida minimal, sehingga dapat dikatakan tanaman dengan input rendah namun tetap berproduksi dua kali dalam setahun. Potensi pengembangan tanaman sukun terbuka luas mengingat tanaman ini dapat berkembang pada ketinggian sampai sekitar 700 m di atas permukaan laut, dan sangat cocok untuk agroekosistem yang banyak mendapat sinar matahari seperti wilayah tropis, bahkan tanaman sukun tetap dapat berkembang meskipun curah hujan relatif kurang.

Sukun: Sebuah Solusi?
Sukun termasuk tanaman asli tropik, tumbuh baik di dataran rendah beriklim lembab panas dengan temperatur 15-380C. Kisaran toleransi tumbuhnya cukup lebar, mulai dari wilayah pantai sampai ketinggian 700 m dari permukaan laut. Sukun juga toleran terhadap curah hujan tinggi, 80-100 mm per tahun dengan kelembaban 50-70% (Morton 1987) Bahkan sukun dapat tumbuh dipulau karang dan pantai. Pada musim kemarau, di saat tanaman lain menurun produksinya, sukun justru dapat menghasilkan buah dengan lebat.

Kita tau bahwa tanaman sukun mempunyai peluang besar untuk menopang kebutuhan sumber pangan karena mempunyai kandungan gizi dan kalori yang tinggi. Pengembangan tanaman ini secara intensif akan berkontribusi terhadap upaya menjamin ketahanan pangan nasional. Mengingat kandungan karbohidratnya tinggi, sukun mempunyai potensi untuk digunakan sebagai bahan makanan pokok substitusi beras. Sukun dapat dipanen pada bulan Januari dan Agustus, bersamaan waktunya dengan petani kekurangan beras.

Tanaman sukun merupakan tanaman yang sedikit memerlukan perawatan dan dapat dibudidayakan pada berbagai kondisi agroklimat. Keterbatasan lahan maka diperkirakan produksi sukun hanya mampu mensubstitusi beras 10%, sukun diproduksi secara polikultur, disisipkan pada kebun buah-buahan dan pekarangan. Diperlukan penguasaan teknologi pengolahan sukun, baik dalam bentuk pangan yang lebih menarik dan modern maupun tepung. Pengembangan sukun sebagai sumber pangan dilakukan melalui pendekatan integratif antara petani, asosiasi produsen, pedagang, industri pangan, dan pemangku kepentingan serta membangun komitmen, kebersamaan, konsistensi dan koneksitas jaringan mitra kerja untuk mewujudkan ketersediaan sukun sebagai sumber pangan alternatif yang dapat mensejahterakan rakyat.

Daftar Pusaka
Supriati, Y., I. Mariska, dan S. Hutami. 2015. “Mikropropagasi sukun (Artocarpus communis Forst), tanaman sumber karbohidrat alternatif”. Jurnal Ilmiah Nasional 7 (4): 219-226.

Sukmaningrum, A. 2013. “Formulasi produk makanan berkalori tinggi (pangan darurat) dari buah sukun”. Skripsi. Sarjana Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Saat ini berprofesi jadi BTW, Kadang jadi BLOGGER, yang pasti jadi TEACHER dan semoga jadi WRITER;)