Thursday, February 9, 2017

Asal Nama Desa Toyareka

Salah Satu SD di Desa Toyarek

Desa Toyareka merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kemangkon. Luas Desa Toyareka 327.480 Ha. Toyareka berbatasan dengan Desa Mewek, Desa Gambarsari, Desa Jetis, Desa Bojong. Nama kedemangan diambil dari kata demang. Demang pada saat itu merupakan seorang yang memiliki jabatan seperti kepala suku. Diceritakan seorang demang itu memiliki kekuatan. Pada masa itu juga ada larangan untuk keluar rumah pada malam sura. Pada saat itu juga diceritakan kepala dari demang pernah lepas tapi bisa kembali seperti semula.
Pertengahan abad XVI, Adipati Wirasaba Wargatuma I menikahkan putrinya yang belum cukup umur, yaitu Rara Sukartiyah dengan Bagus Sukara anak Ki Gede Banyureka Demang Toyareka. Hidup kedua pasangan itu tidak harmonis. Rara Sukartiyah tidak melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Akibat sikapnya itu, Bagus Sukra pulang kerumah orang tuanya di Toyareka. Kepulangan puteranya membuat hati Ki Gede Banyureka kecewa. Ia menganggap Adipati Wirasaba tidak bisa membimbing Puterinya dengan baik.
Sesaat kemudian, Ki Gede Banyureka bersama Bagus Sukra menghadap Sultan. Keduanya menyatakan, bahwa Rara Sukartiyah yang baru saja dihaturkan adalah isterinya Bagus Sukra. Mendengar hal itu, Sultan Mandiwidjaya murka karena merasa telah dikibuli dan dihina oleh Adipati Wargautama I. Tanpa pikir panjang diutuslah seorang gandek (prajurit) untuk membunuh Adipati Wirasaba yang belum lama meninggalkan pendapa kesultanan.
Setelah Ki Banyureka dananaknya mohon diri, Rara Sukartiyah dipanggil untuk dimintai keterangan. Rara Sukartiyah mengaku bahwa dirinya memang masih menjadi isteri Bagus Sukra, tetapi sejak pernikahan belum pernah melakukan kewajiban sebagai seorang istreri. Sadarlah Baginda Sultan, bahwa keputusan yang diambilnya sangat tergesa-gesa. Kemudian diperintahkan lagi seorang prajurit agar menyusul dan membatalkan hukuman mati yang akan dilakukan oleh utusan pertama.
Sebelum menemui ajalnya Adipati Wargatuma I sempat memberi pesan, agar orang-orang Banyumas sampai turun-temurun jangan bepergian di hari sabtu pahing, jangan makan daging angsa, jangan menempati rumah balai malang dan jangan menaiki kuda berwarna dawuk bang. Karena menurutnya dapat mendatangkan malapetaka. Kecuali itu Adipati juga berpesan agar orang-orang Wirasaba tidak dinikahkan dengan orang Toyareka. Pesan-pesan tersebut dijadikan prasasti pada makam Adipati Wirasaba dan menjadi kepercayaan turun temurun di sementara masyarakat Banyumas. Namun kepercayaan itu kini sudah semakin menipis, karena masyarakat kian menyadari akan perlunya memelihara persatuan dan kesatuan serta demi suksesnya pembangunan nasional.
Seperti tempat-tempat lain, dahulu kala, sebelum menjadi desa toyareka, tempat itu masih berupa hutan dan hanya sedikit penduduknya. Suatu ketika mereka di landa kekeringan yang berkepanjangan. Akhirnya penduduk yang ada memutuskan untuk membuat sumur besar.
Disebut sumur besar sebab sumur yang mereka buat berdiameter kurang lebih 3 meter dan dalamnya kurang lebih 10 meter. Walau sudah berusaha namun airnya belum muncul-muncul. Lalu mencoba digali lagi. Belum berair, digali lagi! Untuk mengundang air penduduk berinisiatif untuk mengatakan bahwa air sudah keluar. 
“Banyune metu! Banyune metu!” teriak orang-orang. Berpura-pura seakan air telah keluar.
Namun tetap saja air tak juga keluar walupun sudah berpura-pura air keluar.
“Metu temanan apa?” tanya tetua di desa itu.
“Mboten Pak, namung reka-reka, supados toyane medal!”
“Oh, mung reka-reka ya!” Tetua dusun itupun kemudian memanggil penduduk yang ada.
“Wis desa kiye, siki nganti mbesuk tek jenengi desa Toyareka!” 
Begitulah riwayat nama desa Toyareka. Karena sumur tetap tidak bermata air masyarakat pun pasrah, walau sudah berpura-pura ada airnya, tetap saja kering. Jadi Toyareka artinya: Toya = air; reka = berpura-pura atau direka-reka. Namun, sekarang Desa Toyareka airnya berlimpah dan tidak pernah mengalami kekeringan.

Sumber Referensi:
Wawancara dengan Pakde Timin pada tanggal 5 Oktober 2016.
Wawancara dengan Mbah Diyem pada tanggal 6 Oktober 2016.

Wawancara dengan Pak Supriyanto, Guru SD 1 Toyareka pada tanggal 8 Oktober 2016.

Saat ini berprofesi jadi BTW, Kadang jadi BLOGGER, yang pasti jadi TEACHER dan semoga jadi WRITER;)