Monday, March 13, 2017

Tragedi Jakarta 1998: Gerakan Mahasiswa di Indonesia


Dalam memahami peristiwa Mei 1998 ini penulis menggunakan beberapa sumber yang bisa menjadi referensi di antaranya Penjelasan Sejarah karrya Kuntowijoyo. Berbicara tentang penjelasan Sejarah menurut Kuntowijoyo dibagi menjadi 6 bagian tetapi penulis terfokus pada penjelasan sejarah yang pertama, yaitu Regularity (Keajekan, keteraturan, konsisten) artinya ketika terjadi peristiwa Mei 1998 itu adalah rentetan kejadian yang kontinyu, dari krisis ekonomi, pemelu 1997 hingga kerusuhan Trisakti dan tragedi semanggi yang semuanya adalah kausalitas sejarah. Yang berarti ada sebab dan terjadi akibat dari kejadian itu.

Sejarah adalah ilmu yang terbuka. Maka Sejarawan harus jujur tidak menyembunyikan data, dan bertanggung jawab terhadap keabsahan data-datanya..

    Latar belakang 
Pada Mei 1998 di Indonesia terjadi krisis yang paling berat dalam sejarah Indonesia dan juga Negara-negara Asia yang lain yang mengakibatkan Inflasi terhadap Rupiah dan terjadinya PHK secara besar-besaran dan mengakibatkan puluhan bahkan Jutaan rakyat Indonesia menjadi Pengangguran. Terjadinya penderitaan di tengah Masyarakat miskin dan korupsi yang merajalela di kalangan Birokrasi pusat sudah sangat parah. Ketidak percayaan Masyarakat terhadap Pemerintah pusat mengalami klimaks pada Mei 1998. Ketika Soeharto terpilih menjadi Presiden pada April 1998 melalui pemilihan umum yang di menangkan Golkar. 
Sebagian Mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia melakukan aksi Demonstrasi besar-besaran ke DPR RI untuk menuntut beberapa hal di antaranya para Mahasiswa menuntut di adakanya pemilihan ulang pada pemilu 1997 dan meminta pemerintah untuk segera menangani krisis yang sudah menyengsarakan rakyat Indonesia. Peristiwa Demonstrasi besar-besaran ini adalah sejarah baru ketika para Mahasiswa meneriakan aspirasi rakyat dan mereka mendapatkan perlakuan yang diluar dugaan, mereka di pikuli bahkan ada yang di tembaki baik itu menggunakan peluru karet ataupun menggunakan peluru api karena menurut ABRI mereka dianggap menimbulkan kekacauan bagi pemerintah.

     Proses Kejadian peristiwa 1998
          Peristiwa berdarah ini di mulai pada tanggal 12 Mei 1998 ketika Mahasiswa Trisakti melakukan aksi Demonstrasi di kampun Trisakti sesuai anjuran Aparat keamanaan untuk tidak turun kejalan, namun karena para Mahasiswa sudah jengkel dan muak terhadap Pemerintah ingin melakukan aksi Demonstrasi langsung ke Gedung MPR dimana mereka bisa langsung memberikan tuntutan-tuntutan pada pemerintah. Di dalam Kampus Trisakti yang tidak jauh dari gedung MPR para Mahasiswa akhirnya turun kejalan dan langsung berhadapan dengan Aparat yang besenjata lengkap, dalam peristiwa ini tertembak 4 Mahasiswa dari Universitas Trisakti yang nanti mambakar semangat Mahasiswa yang ada di seluruh Indonesia untuk mengadakan perlawanan balik terhadap pemerintah.
           Pada hari-hari berikutnya tragedi Trisakti ini memicu terjadinya pembunuhan ratusan orang, seminggu kemudian para mahasiswa berhasil menduduki gedung MPR RI tanpa perlawanan yang berarti dari Aparat. Pada tanggal 21 Mei 1998 di Istana Negara Soeharto tidak mampu mengendalikan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi, setelah gagal mendapatkan dukungan dari ulama dan tokoh masyarakat di tambah pengunduran diri oleh 14 Mentri dalam kabinetnya Soeharto akhrnya mengundurkan diri dan digantikan oleh B.J Habibie, dan sejak saat itu Rezim Soeharto yang sudah berkuasa selama 32 Tahun ahirnya runtuh.
           Pada mulanya para mahasiswa meneriakan kemenangan atas jatuhnya Rezim Soeharto yang menggurkan mitos bahwa dirinya merupakan tonggak stabilitas Nasional. Mahasiswa menyadari kalau Soeharto masih dilindungi oleh Militer dan orang-orang yang menggantikan Soeharto masih menjadi antek-anteknya maka pada tanggal 13 Oktober 1998 Mahasiswa kembali turun kejalan, mahasiswa beranggapan bahwa Reformasi justru semakin menjauh dari harapan. Dibawah panji-panji dwifungsi Militer bertanggung jawab pertahanan didalam Negeri maupun serangan dari Luar sekalipun tujuanya untuk menjaga ketertiban antarsukudan kerusuhan sosial Dwifungsi kemudian dijadikan mandate untuk membrondong musuh baik dari Dalam maupun dari Luar Negeri. Tanggal 28 Oktober 1998 semakin banyaknya Mahasiswa dari berbagai daerah Indonesia yang turun kejalan Aparat keamanan baertindak secara berlebihan, mereka mengerahkan ribuan Aparat yang bersenjata lengkap untuk menghadapi aksi Demo damai dari Mahasiswa. 
Dalam pandangan Militer mereka dianggap sebagai musuh Negara yang tidak bisa diatur, ketegangan memuncak ketika diadakanya sidang Istimewa MPR yang bertugas melakukan pemilihan umum tapi Mahasiswa menolak hasil tersebut karena pesertanta masih orang-orang pada era Soeharto, tanpa mendengarkan aspirasi Mahasiswa pihak pemerintah tetap menggelar sidang istimewa. Mahasiswa semakin agresif dan bertindak lebih berani kepada Aparat. Pada tanggal 13 November 1998 sepanjang sidang istimewa mahasiswa terus turun kejalan mendekati hari akhir sidang istimewa, mahasiswa yang berusaha menembus garis batas 2 Km dari gedung MPR harus berhadapan dengan pukulan dan tembakan yang semakin brutal. 
Pada malam harinya terjadilah penembakan di jembatan Semanggi, dan menewaskan 9 orang Mahasiswa dalam peristiwa yang lebih parah daripada peristiwa Trisakti ini para Aparat menembakan peluru hampa, peluru karet bahkan peluru tajam kearah Mahasiswa ketika malam semakin larut tembakan semakin genjar dan korban semakin banyak yang jatuh bagi pihak militer hal itu merupakan kemenangan untuk Negara tercintanya.
Seusai sidang Istimewa mahasiswa kembali turun kejalan untuk menuntut sidang rakyat sejati, dan salah satu keputusan sidang Istimewa adalah penyelidikan kekayaan Soeharo dan kroni-kroniya serta mengadilinya tapi Habibie yang pada waktu itu menjadi Presiden tidak melakukanya sehingga Mahasiswa kembali menuntut kebenaran, keterbukaan dan keadilan. Untuk menyamarkan kesatuan bahkan Aparat menggunakan topi rimba menggantikan baret kesatuannya. Pada tanggal 15 Desember 1998 para Demontran wanita berhadapan dengan polisi wanita juga untuk menghadapinya. 
Setelah peristiwa Semanggi kebijakan baru diterapkan pada Demontran perempuan dan perwakilan aktifis yang mencari jalan damai dengan pihak militer menyakinkan Mahasiswa bahwa untuk menang mereka harus bertarung. Dan pada puncaknya tanggal 17 Desember 1998 Beberapa minggu sebelum Bulan Ramadhan para Mahasiswa kembali turun kejalan di taman ria Senayan mereka tidak lagi bersemangat revormasi damai tapi dengan pekik revolusi, mereka sengaja memancing pihak Militer yang telah menembak rekan-rekan Mereka, akhirnya mereka berhasil menembus barisan Aparat dan memukul mundur yang dulu mereka tidak terkalahkan, tapi perjuangan tidak sampai disini. Perjuangan masih berlanjut.

    Dampak dari peristiwa Mei 1998
Dampak yang luar biasa bagi bangsa Indonesia yang telah di timbulkan dari peristiwa Mei 1998. Diantaranya kerusuhan, pembakaran bahkan Pemerkosaan terhadap wanita terjadi ketika itu kemudiaan untuk menindak lanjuti peristiwa tersebut pemerintah membentuk sebuah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki terjadinya kerusuhan Mei 1998.
Bahkan bukti-bukti yang de temukan oleh TGPF sangant mengejutkan yaitu pada saat itu terjadi kekerasan terhadap wanita serta usaha untuk pemusnahan terhadap etnis Cina, menurut TGPF jumlah korban kekerasaan Seksual termasuk pemerkosaan mencapai 85 Orang. Seluruh pemerkosaan ini biasanya terjadi di jalan dan ditempat usaha dengan mayoritas di tempat usaha dan rumah, kebanyakan kasusu perkosaan ini di lakukan dihadapan orang lain. Meskipun TGPF itu mengakui korbanya tidak hanya keturunan Tionghua tapi sebagian besar merupakan keturunan Tionghua

     Penutup
         Tidak lama setelah kejadian berakhir dibentuklah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini. TGPF ini mengeluarkan sebuah laporan yang dikenal dengan "Laporan TGPF" Mengenai pelaku provokasi, pembakaran, penganiayaan, dan pelecehan seksual, TGPF menemukan bahwa terdapat sejumlah oknum yang berdasar penampilannya diduga berlatarbelakang militer. Sebagian pihak berspekulasi bahwa Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto dan Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin melakukan pembiaran atau bahkan aktif terlibat dalam provokasi kerusuhan ini.
         Pada 2004 Komnas HAM mempertanyakan kasus ini kepada Kejaksaan Agung namun sampai 1 Maret 2004 belum menerima tanggapan dari Kejaksaan Agung.

Daftar Pustaka 
Kuntowijoyo,  penjelasan sejarah (Yogyakarta : tiara wacana, 2008)
Video Revormasi
Kerusuhan Mei 1998 Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas