Thursday, August 31, 2017

Seikat Senyum Mereka || Cerpen

Senyum Mereka, Dok Pribadi
arifsae.com, cerpen - Agustus 2017 merupakan babak baru awal perjalanan hidup bagi saya, saat-saat dimana harus meninggalkan tempat tinggal, keluarga, tempat tugas (kerja) untuk menuju tempat tugas yang baru. Babak baru ini diperoleh dari rangkaian seleksi (rekrutmen) guru untuk pendidikan anak-anak Indonesia di Malaysia yang dilalui pada bulan Maret 2017. Rekrutmen ini diselenggarakan Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar (P2TK Dikdas) Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tempat seleksi di 2 LPTK yaitu UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) dan UNNES (Universitas Negeri Semarang). Saya memilih UNNES karena jarak tempuh lumayan lebih dekat dengan tempat tinggal. Tes dilaksanakan serentak yaitu tanggal 22 Maret 2017. Untuk Pengumuman resmi hasil seleksi Guru Malaysia Tahap 8 Tahun 2017 diumumkan secara resmi di website kemdikbud atau web LPTK pada tanggal 12 April 2017. Berdasarkan hasil seleksi tersebut untuk jurusan PGSD diumumkan bahwa ada 22 Calon Pendidik yang lulus seleksi. Alhamdulillah, saya salah satu yang lulus seleksi dari LPTK UNNES. Demi melanjutkan cita-cita yang lebih baik akhirnya aku lepaskan pekerjaan yang ada di dalam negeri dan jauh meninggalkan kedua orang tua di Grobogan, Jawa Tengah untuk menjadi pendidik bagi anak-anak Indonesia di Sabah–Malaysia.

Walaupun sudah dinyatakan lulus seleksi tetap saja rasa was-was masih menyelimuti hatiku, apalagi medan yang akan dihadapi saat ini merupakan negara orang, sehingga belum ada gambaran sama sekali terutama masalah keimigrasian. Masalah medan yang berat, keterbatasan akses informasi, komunikasi, penerangan, dan transportasi serta jauhnya jarak antara tempat tugas ke kota belum pernah aku rasakan saat bertugas di kecamatan saya, seperti peribahasa “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Tentu akan berbeda ceritanya di Negeri Jiran Sabah (Malaysia) yang notabene punya kebijakan sendiri sebagai negara bagian dari Malaysia.

Sedikit berat ketika harus meninggalkan keluarga ke negeri seberang demi sebuah pengabdian serta pengalaman. Sebelum keberangkatan menuju tempat tugas baru, saya hanya dapat membayangkan saja tempat tugas baru yang masih abu-abu. Ini menjadi pengalaman pertama saya untuk merantau dalam bekerja. Merantau ke daerah yang sama sekali belum pernah saya tahu persis, bahkan hanya diketahui dari nama saat pengumuman pembagian tempat tugas. Teringat pepatah “merantaulah kamu nanti akan merasakan manis asinnya kehidupan disana”. Tentu dalam perjalanan menjadi pendidik di Sabah ini tidaklah mudah, untuk itu dibutuhkan perjuangan demi lalui setiap langkahnya. Menjadi guru yang bisa membagi ilmu, apik ketika menjelaskan, pintar dalam menunjukkan, dan mampu mengilhami siswa merupakan impianku.
                                                 ***
“Tok tok tok, Assalamu’alaikum Cikguu ohhh Cikguuuu....” Suara ketukan pintu kamar saya disambung suara bernada murid-murid. Itulah panggilan murid-murid buruh migran Indonesia (BMI) ketika pertama kali berjumpa dengan saya. Awalnya saya kaget, sambil mau ketawa sendiri dalam kamar mendengar suara bernada mereka. Kebetulan saya tinggal di salah satu kamar yang masih satu lokasi dengan sekolah.

Saya keluar untuk menemui mereka. Seragam warna kuning hijau membuatku terkesima, sebelumnya di Indonesia terbiasa melihat anak-anak SD mengenakan pakaian seragam putih merah. Senyum simpul terpancar dari wajah mereka. Senyum yang tidak dibuat-buat dari hati yang tulus menunjukkan mereka antusias terhadapku. Sambil menghampirinya, saya balas senyum mereka.

Itulah mereka murid sekolah Humana Fortuna, sekolah tempat tugas saya. Saya menengok jam tanganku. Jam menunjukkan pukul 06.00. Wow masih pagi beberapa dari mereka sudah sampai di sekolah. Meskipun ada juga yang terlambat datang ke sekolah. Saya keluar ke depan sekolah ternyata mereka diantar menggunakan Lori (truk) pengangkut buah sawit dan mobil yang disediakan oleh office. Kendaraan tersebut merupakan fasilitas yang diberikan office terhadap anak-anak sekolah.

Mereka harus rela berbagi tempat, berhimpit-himpitan dikala mereka naik diatas lori atau truk, bahkan ada pula bagi mereka yang bertubuh kecil harus duduk dipangku. Dalam posisi duduk itu mereka sudah menunjukkan bekerja sama yang baik. Jika ditanya “Apakah nyaman?” Tentu sebenarnya kurang nyaman bagi seseorang duduk dalam berkendara. Tapi itulah mereka, tidak pernah mengeluhkan hal tentang tempat berbagi duduk. Mereka seolah sudah menyadari bahwa dengan cara inilah mereka harus sampai ke sekolah begitu juga sebaliknya.

Tinggal di satu tempat dengan sekolah yang jauh dari warga membuat saya sedikit jenuh. Ditambah suasana ketika petang serta malam yang sunyi menambah suasana menjadi sedikit horor. Maklum bangunan yang saya tempati dulunya merupakan bekas penginapan / House bagi para pelawat yang mengunjungi ke ladang Fortuna. Suasana awal yang saya rindukan dikala itu adalah mendengar suara adzan dari surau (mushola / masjid). Kebetulan sekolah jauh dari surau tersebut. Pada waktu itu yang terpikir bagaimana cara saya menghibur diri dikala sunyi. Setelah tiga minggu saya memutuskan untuk pindah lokasi tinggal, dibantu kawan Pak Azwi (Guru Bina Tahap 5) yang dulu juga pernah diperbantukan mengajar di Fortuna. Tentu tempat tinggal yang saya pilih adalah bangunan yang berdekatan dengan masyarakat. Selain tempat yang tidak sunyi karena dekat masyarakat, saya pun bisa berkesempatan untuk bersosialisasi lebih luas lagi dengan masyarakat. Sehingga tercipta hubungan yang dekat dengan mereka.

Pertama kalinya saya bertemu dengan anak-anak Indonesia yang masih asing dengan negaranya sendiri. Mereka hanya bisa mendengar kata Indonesia, tetapi sama sekali belum pernah merasakan indahnya bumi pertiwi mereka. Saya mulai berinteraksi dengan mereka, pada awalnya saya masih berpikir “Paham apa tidak ya yang saya ucapkan nanti?”. Sebab saya berada di negeri lain (Malaysia). Interaksi mulai saya bangun dengan anak-anak Indonesia di Humana Fortuna yang berada di tengah hutan sawit, yang tentu jauh dari gemerlap kota Malaysia.

Inilah awal dari proses saya belajar menuju pendidik di jenjang lebih baik satu step yang muaranya menjadi pendidik profesional. Pengiriman guru di Bulan Agustus ini, saya manfaatkan untuk merayakan HUT RI ke-72 di ladang bersama murid-murid Humana Fortuna. Antusias mereka tinggi dengan mengibarkan atau membentangkan bendera Merah Putih untuk menanamkan cinta tanah air kepada mereka, meskipun secara lokasi kami berada di Sabah Malaysia. Sungguh pengalaman luar biasa. Ibaratnya ini momen langka bagi kami.
                                                         ***
Tanggal 21 Agustus 2017 adalah minggu ketiga saya mengajar di Humana Fortuna. Hari itu pulalah saya mendapat jadwal mengajar yang jelas, di kelas mana saya harus mengajar dan pelajaran apa saja yang harus disampaikan. Minggu awal saya masih beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Melihat bagaimana kondisi riil di sekolah Humana Fortuna tersebut. Pada waktu pertama kali saya tiba di tempat tugas ini, hanya ada satu guru perempuan bernama Cikgu Nurani (guru lokal) kewarganegaraan asli Malaysia. Kondisi beliau sedang hamil 7 bulan.

Tak terbayang betapa penatnya beliau dikala mengajar dari tadika hingga darjah 5 (setingkat Kelas 5 kalau di Indonesia). Karena dikala itu belum ada darjah 6 (kelas 6). Meskipun dulu sebelum saya tiba di tempat ini ada Guru Bina dari Indonesia tahap 5 yang ditugaskan disini, akan tetapi guru bina tersebut selesai kontrak kerja di bulan Mei 2017. Mengelola kelas dari Tadika hingga Darjah 6 membutuhkan tenaga ekstra. Sejak saat itulah saya harus berbagi kelas dengan Cikgu.

Matahari di Fortuna terasa sangat menyengat. Mungkin inilah matahari sebenarnya di Pulau Borneo (Kalimantan). Panas yang menjadi pelecut semangat mengajar disini. Mengajar anak-anak di tingkat tadika (TK) adalah pengalaman baru bagi saya. Meskipun dulu waktu di Indonesia saya mengajar di tingkat sekolah dasar (SD), secara tahapan sekolah sebenarnya sama-sama sekolah tahap dasar. Akan tetapi dulu saya mengajar di tingkatan kelas tinggi. Butuh waktu lebih dari satu bulan untuk saya mengenal mereka, mengenal dalam arti bukan hanya sekedar nama melainkan mengenal bagaimana mereka berfikir, bermain, bertanya, bahkan bagaimana cara mereka emosi di kala marah mereka mulai muncul.

Pada awalnya perkenalan ini sedikit membuat hati saya kurang PD (percaya diri), berkaitan dengan penguasaan jiwa mereka. Saya menyadari menjadi seorang pendidik bukan hanya sekedar menyampaikan materi, bukan hanya hebat dalam menguasai teori-teori ilmu pedagogik yang dulu saya pelajari di jenjang Universitas atau di bangku kuliah. Itulah guru yang diberi tuntutan menguasai kompetensi lainnya yaitu kepribadian, sosial, serta profesional.

Saya masih terbawa dengan acuan materi-materi sewaktu di bangku kuliah yang mungkin selama ini masih melekat di benakku. Hal ini lah yang harus saya lakukan yaitu keberanian untuk berpikir, serta mengambil sikap. Bagi saya, mengajar di tingkat TK lebih berat dari pada tingkat sekolah dasar (SD). Banyak anak yang saya jumpai bahkan sebagian besar dari anak Tadika yang saya ajar disini mereka super aktif. Saya harus memutar otak untuk mengantisipasi anak-anak yang sulit mengikuti pelajaran, bahkan ada juga yang masih terbawa dunia mereka untuk berlari kesana kemari.

Saya pun hanya bisa mengelus dada. Dalam penyampaian materi saya masih merasa kewalahan. Ini karena selain mengajar di Tadika, juga harus mengajar kelas lain dalam waktu yang bersamaan atau yang dikenal mengajar kelas rangkap. Pada awalnya saya masih keteteran untuk mengatasi mereka. Beberapa langkah saya tempuh justru terkadang di kala itu saya hampir kalah dengan jurus ampuh mereka yaitu tangisan. Berulang kali saya mengatakan pada diri untuk menghilangkan semua kata menyerah. Ayo saya bisa. Setiap waktu saya harus menyemangati diri. Saya harus mencari formula yang lebih tepat untuk bisa mengikuti irama belajar mereka.

Dimulai browsing dan bahkan bertanya langsung dengan kawan yang mengajar di TK. Ternyata jawabannya adalah saya diminta masuk kedalam dunia mereka. Sebagai contoh dengan cara bernyanyi-nyanyi, menari atau melakukan gerakan, bercerita yang pada intinya benar-benar masuk di dunia mereka sukai. Gurulah yang harus mengerti bagaimana siswa berpikir, mengingat siswa dalam satu kelas yang heterogen dengan latar belakang yang berbeda dengan yang ada di Indonesia.

Setiap malam saya merenung terhadap apa yang telah saya ajarkan kepada anak-anak terutama kelas Tadika. Saya mulai curhat dengan sesama guru. Untuk mendapatkan asupan motivasi. Dari beberapa obrolan dengan sesama guru kembali mereka menitik beratkan menjadi seorang pendidik yang profesional memanglah harus melalui sebuah proses terus belajar, tidak berasal dari proses yang singkat apalagi dari magic sim salabim.

Saya hanya kembali bisa merenungi apa yang mereka sampaikan kepada saya. “Siapa yang menjadikan pendidik profesional?” Berulang pertanyaan itu muncul didalam benak yang seolah selalu ingin mencari jawaban atas pertayaanku.

Kembali yang menjadikan seorang menjadikan pendidik profesional adalah diri sendiri yang terus menerus belajar. Belajar tanpa mengenal waktu dan tempat. Belajar tersebut bisa dari pengalaman sendiri maupun dari orang lain. Tentunya dalam proses belajar pasti menemui kerikil masalah yang menjadikan pembelajaran. Guru profesional bukan ditentukan besarnya gaji beserta tambahan tunjangannya. Bagi saya seorang guru dikatakan guru profesional saat jiwa, perbuatan dan ucapannya baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan luar sekolah menjadikan pendidikan atau teladan bagi peserta didiknya. Tentu semua bisa di raih melalui proses yang berkelanjutan.

Selain mengajar tadika saya juga mengajar darjah (kelas) 1, 2, 3, 4 tentunya di kelas ini anak dengan jenjang usia berbeda-beda dari usia 7 sampai 14 tahun. Kebanyakan dari mereka tidak memahami asal negara mereka. Mereka lebih memahami daerah Sabah, Malaysia. Pada umumnya mereka lahir di Malaysia karena orang tua mereka lama bekerja disini sebagai BMI dengan mata pencaharian sebagai pekerja ladang sawit, berkebun, dan sopir.

Suatu ketika dalam pembelajaran saya bertanya, “Anak-anak, siapa yang berasal dari Indonesia?”. Karena diawal saya masih minim informasi tentang asal mereka. Kalo dilihat secara wajah sulit untuk membedakan mana yang asli Indonesia atau yang berasal selain Indonesia.

Mereka terdiam, “Apa kurang keras suara saya.” pikirku. Pertanyaan itu kembali saya tanyakan dengan volume suara lebih keras.

Masih saja diam, “Heran saya.”

Saya ulangi lagi dengan mengacungkan tangan kanan keatas, “Anak-anak yang berasal dari Indonesia, Pak Guru minta tolong angkat tangan kananmu.” Masih saja diam dan ada yang berbisik dengan kawan, toleh kanan kiri, bahkan ada yang pakai colek kawannya agar menjawab.

“Apa jangan-jangan mereka tidak paham bahasa yang saya sampaikan?” Saya tetap berusaha, “Anak-anak, siapa yang bapak ibunya orang dari Indonesia?”Angkat tangan.

Diamnya mereka menjadi tanda tanya besar saya. “Haduuuh apa saya salah penyampaian.” Bisikku dalam hati.

Saya semakin penasaran, saya harus bisa menemukan jawaban. Kalaupun pada ahkirnya tidak menemukan jawaban saya harus bertanya kepada Cikgu, yang tentunya sudah cukup lama bersama siswa-siswa. Sebelum saya meninggalkan kelas untuk bertanya kepada Cikgu. Terdengar bisik-bisik murid. Entah kalimat apa yang di ucapkan. Tapi yang saya dengar adalah kata “Bugis”. Dalam hatiku “Kok Bugis, apa maksudnya?” Saya berfikir sejenak, baru menyadari itu adalah daerah atau suku di Indonesia. 

Seketika saya lanjut bertanya, “Anak-anak siapa yang ibu bapaknya berasal dari Bugis?”. Saya pun terkaget. Tanpa saya minta, anak-anak langsung saja banyak yang angkat tangan kanan.

“Yes mereka paham.” dalam hatiku.

Mereka saling berteriak mendekatiku, “Pak, saya Bugis. Iya Pak, saya Bugis.” Melihat mereka saya sedikit plong. Setelah bersusah payah bertanya untuk mereka pahami. Sekarang pandangan saya tertuju pada anak-anak yang tidak tunjuk tangan, “Mengapa anak ini tidak ikutan tunjuk tangan?”.

Saya dekati sambil saya tanya, “Kalian bukan dari Bugis?”. Mereka geleng kepala. Saya kaget lagi. Jangan-jangan saya salah tanya lagi. Lalu ada kawan yang usia lebih besar jawab “Pak Guru, dorang Tator”.

“Tator? Apa itu Tator?”

“Tanah Toraja, Pak.” Mereka menjawab serempak.

Dalam hati, saya mengambil kesimpulan, kalau mereka lebih mengenali daerah atau sukunya dibanding nama Indonesia. Hal itu mungkin sudah tertanam dari orang tua mereka ajarkan. Sambil saya mengarahkan mereka bahwa Bugis dan Tator merupakan bagian dari Indonesia, “Jadi Indonesia itu luas anak-anak, nah minggu depan kita pelajari Indonesia”. Sambil saya tunjukkan peta Indonesia yang memang saya bawa dari Indonesia.

“Yeeee.” Jawab anak-anak. Mendengar jawaban mereka saya senyum, tapi hati bercampur antara heran, kaget dan merasa aneh. Itulah yang terjadi, setidaknya saya sudah berusaha mengenalkan sekelumit tentang Indonesia. 
                                                      ***
Pada pertemuan berikutnya, saya semakin merasa tertantang menggali informasi dari benak hati murid-muridku. Saya tertarik untuk mencari informasi apa yang menjadi minat, bakat, potensi, cita-cita mereka. Mulai mengenal karakter ada yang cengeng, pemberani, bandel, serta pemalu. Semua itu perlu saya lakukan untuk mengukur kemampuan awal mereka, yang setidaknya untuk menjadi catatan saya pribadi guna menghadapi pembelajaran berikutnya. Mereka mulai memahami bahasa yang saya sampaikan. Meskipun terkadang masih ada mis kominukasi pemahaman mereka denganku.

Terkadang apa yang mereka sampaikan saya sulit memahaminya, begitu juga saat apa yang saya ucapkan terkadang mereka sedikit kesulitan untuk mengerti. Tapi tidak jadi masalah di dalam pembelajaran ini. Untungnya secara mendasar di ladang Fortuna ini menggunakan bahasa Melayu yang hampir mirip dengan bahasa Indonesia. Jadi masih bisa menyambung informasi. Saya mengawali untuk anak-anak berkenalan di depan untuk mengetahui tingkat percaya diri mereka.

“Haloooo...Haiiii.” Itu pembukaku untuk memfokuskan mereka, “Anak-anak apa cita-cita kalian?” Murid malah balik tanya “Pak guru, apa itu cita-cita?”.

“Keinginanmu menjadi apa kelak?” Jawabku.

“Pak Guru, saya mau jadi penyabit, macam bapakku.” Jawab Dahlan.

Dalam hatiku apa itu penyabit. Tanpa rasa malu saya bertanya ke anak, “Penyabit apa maksutmu, nak”. Tanyaku

“Penyabit buah Sawit, Pak Guru.” Ohh ini mungkin terinspirasi dari orangtua mereka. Kembali saya tanya, “Apa cita-cita kalian?”

Jawaban lain pun mulai muncul, “Pak Guru saya mau jadi Manager.” Jawab Fajri sambil berdiri dan maju ke sampingku. Mungkin biar saya lebih jelas. Seketika saya beri Jempol kepada Fajri karena sudah berani menjawab dengan semangat.

“Pak Guru, saya mau jadi Kerani.” Jawab Erami.

“Eh, apa itu nak? Kenapa kamu pilih itu?” Anak-anak bingung menjawab. Disini kembali saya harus cepat memahami apa yang mereka maksut.

“Kerani kerja di office pak, enak tidak susah payah.”

Saya langsung tanggap “Iya nak itu bagus.” Jadi maksut Erami adalah sekretaris semacam itu.

“Ada lagi?”

“Pak Guru, saya mau seperti bapakku jadi Dreba.” Jawab Andi.

Saya jadi penasaran, “Apa itu Dreba?”

“Dreba ya Dreba, Pak Guru.” Dengan kekeh Andi jawab begitu. 

Kawan-kawan Andi membantu menjawab, ada pula yang sambil memperagakan, “Pak guru Dreba itu macam ini.” Sambil menggerak-gerakkan tangan memutar. Seketika saya tersenyum dan tertawa. Ohhh yang dimaksut Andi adalah sopir. Memang ayah Andi bekerja sebagai sopir pengangkut buah sawit. Akan tetapi di pagi hari beliau yang mengantar Andi bersama kawan-kawan yang berasal dari Division (tingkatan daerah di Fortuna) yang sama. Bagi Andi bekerja sebagai Dreba setiap hari jalan-jalan terus pakai truk. Dreba sendiri berasal dari kata driver (dalam bahasa Inggris).

Saya masih penasaran dengan jawaban mereka mengapa tidak ada yang bercita-cita untuk menjadi guru, dokter. Saya tidak tahu pastinya, mungkin saja mereka sudah terinspirasi kedua orangtua mereka, atau mereka baru mengetahui pekerjaan yang mereka kenal itu saja. Sebab keseharian mereka jarang menjumpai profesi guru atau pekerjaan.

Secara umum mereka memang seperti anak-anak seusianya yang secara pola pikir belum mendalam atau masih dangkal, jadi secara spontan saja dalam menjawab. Disinilah peran guru diperlukan ketika anak-anak mulai menjawab berbagai cita-cita yang disebutkan. Guru tidak men-judge mana pekerjaan yang paling baik atau paling buruk. Guru mengarahkan apapun pekerjaan selagi halal, maka itu adalah pekerjaan yang baik.
                                                         ***
Pada minggu berikutnya, saya masih juga menemukan hal-hal unik dari anak-anak Humana Fortuna. “Pak Guru, ooh Pak Guru, Aiman mengacau.” Kata Afentus salah satu murid Tadika 1 yang tiba-tiba menghampiriku dikala sedang mengajar di kelas Tahun 3. Karena saya baru mulai menjelaskan materi pembelajaran di Tahun 3. Saya belum menengok langsung apa yang terjadi disana.

Dalam hati saya “Apa itu mengacau. Mengacak-mengacak buku kah atau makna lain lagi.” Pikirku.

Saya masih melanjutkan pembelajaran di kelas Tahun 3. Belum ada 3 menit, Afentus beserta satu kawan masuk ke kelas saya. Kali ini dia sambil berlari untuk menghampiriku. Dengan perkataan yang sama,  “Pak Guru, Aiman mengacau.” Seketika saya bergegas menuju ke kelas Tadika 1 untuk melihat apa yang terjadi di kelas tersebut. Awalnya saya melihat dari balik pintu kelas. Begitu saya masuk saya tanya “Mana Aiman?”.

Salah satu kawan menjawab, “Pak Guru, dia bertapok”. Sambil menunjuk ke arah meja di belakang yang ia tempati. Belum menemukan apa itu mengacau sudah muncul lagi satu kata bertapok. Saya mulai penasaran. Saya mendekati meja tersebut. Saya dapati Aiman berada di bawah meja sambil menangis.

“Mengapa kamu di dalam situ?” Masih keadaan menangis.

Aqib menyahut, “Dorang tadi mengacau Afentus, lalu dia ngajak betumbuk Afen, Pak Guru.” Sambil ia peragakan apa yang dilakukan Aiman terhadap Afentus. Ternyata Aiman mengganggu Afentus untuk berebut pensil. Niat hati Aiman untuk meminjam pensil tersebut, tetapi cara yang ia lakukan salah.

“Ooh jadi mengacau itu mengganggu.” Seketika bertambah satu kosakata lagi yang dipakai mereka. Lantas “Bertapok itu bersembunyi dan betumbuk itu bertengkar.” Terlepas peristiwa yang mereka lakukan. Saya sambil senyum ternyata kosakata ini unik juga. Kemudian mereka saya panggil ke depan untuk saya damaikan dengan berjabat tangan untuk saling memaafkan. Serta berpelukan. Kebetulan jenis kelamin keduanya adalah lelaki. Jadi tidak menimbulkan masalah. Disinilah peran guru untuk memberi arahan atau pemahaman kepada semua siswa untuk saling menghormati, jika mau pinjam barang ijin dahulu kepada yang punya.
                                                    ***
Desember 2017 adalah bulan dimana terdapat event Graduasi dan HUPH (Hari Upacara Penyerahan Hadiah) bagi siswa Humana Fortuna. Hari paling ditunggu para siswa. Mereka menunggu untuk sekedar menampilkan bakat atau kemampuan mereka kususnya dalam hal kesenian. Antusias mereka tinggi ketika ujian akhir tahun yang diadakan perkiraan bulan Oktober atau November awal.

Mereka langsung bertanya, “Pak Guru, Bila Graduasi?”. Sembari senyum simpul mereka keluarkan. Selain menunggu untuk tampil dalam kegiatan kesenian, mereka juga menuggu siapa yang bakal jadi juara kelas. Maklum di Hari Penyerahan Hadiah ini semua subjek mata pelajaran diambil juara 1, 2, 3. Untuk hadiah saya carikan tropi piala. Jadi peluang kemungkinan siswa untuk memperoleh hadiah semakin besar. Bahkan satu siswa bisa saja memperoleh tropi lebih dari satu. Semisal mereka menjuarai beberapa subjek mata pelajaran. Selain tropi untuk subjek mata pelajaran, juga ada tropi untuk kategori kerajinan, kedisiplinan, kerjasama, serta beberapa kategori lainnya. Dina contohnya, salah satu siswa kelas Tahun 2 bisa memperoleh beberapa tropi sekaligus di tahun itu. Diantaranya juara mata pelajaran, serta kerajinan. Kegiatan itu semua dibuat untuk meningkatkan semangat mereka dalam hal belajar di Humana Fortuna. Alhamdulillah orangtua juga antusias terhadap kegiatan ini.

Selepas acara Graduasi dan HUPH saya mulai memikirkan kembali siswa-siswa yang akan sekolah di ajaran baru. Untuk ajaran baru Humana Fortuna mengikuti kurikulum Negara Malaysia yaitu diawali Bulan Januari. Di awal siswa hanya 59 anak. Saya harus mencari cara untuk mendapatkan murid di tahun ajaran baru. Minimal 15 siswa baru adalah target awal saya. Supaya sekolah lebih lagi berkembang. Aku harus mencari siswa untuk tahun ajaran baru ini. Bisa juga saya harus jemput bola.

Kegiatan ini saya jalani ketika cuti sekolah. Mengunjungi office ladang adalah salah satu caraku untuk memperoleh informasi tentang siswa di sekitar, alhasil ternyata siswa mereka tinggal tersebar jauh puluhan kilometer dari sekolah. Untuk menuju ke sekolah membutuhkan 40 menit hingga 1 jam an. Naik turun bukit dan gunung dengan sesekali kemunculan hewan Kera liar serta Biawak yang membuat hati sedikit was-was melintasinya. Rasa optimisku terus berlanjut ketika dibulan Desember sudah banyak yang berdatangan untuk mendaftar sekolah. Setidaknya sesuai dengan jerih payah mengunjungi beberapa office ladang. Inilah momen untuk memacu semangat mereka mendapat pendidikan.

Tahun ajaran baru 2018 telah tiba, siswa bertambah sesuai dengan target, bahkan di tahun ajaran baru siswa menjadi 84. Langkah selanjutnya saya mencari formula atau strategi untuk mempertahankan mereka agar tetap bersekolah. Akan sia-sia jika saya tidak memahami bagaimana keadaan mereka, keberadaan mereka, tentang budaya, kebiasaan, orangtua, dan lingkungan tempat tinggal mereka. Semua itu akan berpengaruh terhadap pada pola pikir siswa dan orangtua mereka. Kususnya bagi siswa yang berada di tingkatan tinggi. Mereka rata-rata berusia 12-15 tahun. Mereka terkadang memilih untuk bekerja. Bagi mereka dengan bekerja bisa mendapat uang (ringgit), bagi mereka itu adalah kepuasan.

Karena mereka dapat membeli barang yang mereka inginkan dari hasil kerja mereka. Lebih mirisnya lagi, bagi orang tua, anak mereka yang sudah bekerja dijadikan aset berharga untuk menambah gocek ringgit. Disinilah peran guru untuk memberi arahan serta pemahaman kepada siswa dan orang tua. Bahwa usia anak sekolah tetap berkewajiban untuk bersekolah. Kalaupun membantu sebatas kemampuan anak. Belajar tidak harus tiba-tiba menghasilkan ringgit, melainkan belajar menjadi langkah awal untuk hadirnya perubahan untuk masa depan anak mereka. Saya pun menyadari, jika strategi yang saya rancang tidak semulus rencana, oleh sebab itu, saya mulai merangkul Cikgu, masyarakat, serta pihak perusahaan dengan cara bermusyawarah bersama. Semoga kontribusi saya membawa sedikit perubahan.
   

Oleh: Panca Buana Putera, CLC Pamol, TKB Fortuna