Tuesday, September 17, 2013

INVESTASI ASING? JANGAN PUSING!

Indonesia adalah negara dengan kekayaan yang melimpah dari segi Sumber Daya Alam (SDA) nya, seluruh dunia mengakuinnya. Tidak berlebihan kalau ada sebuah lagu yang liriknya menyebut “tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman”. Pertanyaanya, sudahkah kita sebagai negara kaya sumber daya alamnya sudah memaksimalkan untuk kepentingan bangsa? Mungkin sebagian dari kita pesimis untuk menjawab pertanyaan tersebut. Salah satu indikatornya adalah beberapa bahan makanan justru mengeksport dari negara lain, juga investasi dari negara lain yang sangat banyak di seluruh wilayah Indonesia. Dengan masuknya investasi dari negara asing, maka secara otomatis akulturasi budaya luar ke dalam budaya Indonesia. Pertemuan budaya yang berbeda ini tidak dapat dihindari akibat proses interaksi yang terjadi.
Salah satu contoh investasi asing yang paling menonjol adalah investasi dari negara Amerika Serikat (AS) di Papua, yaitu PT. Freeport. Freeport merupakan perusahaan penambang bijih emas terbesar di dunia. Seluruh modal dan hampir sebagian besar Sumber Daya Manusia (SDM) perusahaan berasal dari Amerika Serikat, meskipun ada dari warga Indonesia tapi posisinya tidak strategis. Freeport kemudian mengambil kekayaan alam Indonesia dan diolah dengan teknologi mereka, yang sangat miris adalah pembagian hasil dari percampuran SDM asing dan SDA Indonesia. Amerika Serikat memperoleh hasil 99% sedangkan Indonesia mendapatkan hasilnya 1% untuk Indonesia.
Disisi lain, atas pemberian PT. Freeport yang sering kali melukai perasaan rakyat Indonesia, terdapat hal yang positif atas datangnya investasi asing. Seperti dukungan PT. Chevron Pacific Indonesia pada 14 Juni 2013 pada peningkatan gizi bayi, mereka memberikan makanan tambahan bayi di Kec. Tanah Putih, Rokan Hilir, Riau. Selain itu PT. Shell Indonesia bersama warga Surabaya menggelar kegiatan Community Festival yang dilakukan di daerah Panjang Jawa, kegiatan yang positif ini bertujuan untuk mendaur ulang sampah menjadi hal yang berguna.
Tak hanya kota besar atau pelosok yang ada diluar pulau Jawa, yang menjadi sasaran investasi negara asing. Daerah-daerah kecil yang berpotensi menjadi tempat yang strategis untuk menjadi target investasinnya. Kota kecil seperti Kabupaten Purbalingga (Jawa Tengah) kota perwira yang sangat bersahabat dengan investor-investor asing, juga telah tersentuh investasi asing. Hingga saat ini Purbalingga merupakan central penghasil rambut dan bulu mata palsu terbesar di Indonesia dan terbesar kedua di dunia setelah Guangzhou, Cina. Penanam modal dan tenaga ahli dari Korea Selatan, Purbalingga telah mengalami percepatan diberbagai bidang, meski jumlahnya sedikit para pemilik modal dan tenaga ahli yang berasal dari Korea Selatan ini ikut tinggal di Purbalingga. Pada akhirnya mereka bertemu dengan budaya Purbalingga tetapi mereka juga tidak bisa lepas dari budaya asalanya, apalagi pada saat-saat awal mereka masih kental dengan budaya Korea Selatan nya. Pertemuan dua negara dan dua bangsa ini dapat memicu konflik yang dapat terjadi sewaktu-waktu tapi pertemuan ini juga membawa hal positf dan harapan baru bagi kedua belah pihak.
Dimulai tahun 1976, seorang penanam modal asing (PMA) Korea Selatan menginvestasikan modalnya di Purbalingga, yaitu dengan membangun PT. Royal Korindah, demikian perusahaan rambut palsu pertama di daerah ini. Tiga tahun berselang, dua penanam modal asing Korea Selatan ikut mendirikan perusahaan rambut Indokores Sahabat dan Yuro Mustika tak hanya oleh penanam modal asing tapi juga pihak lokal mulai tertarik untuk investasi dibidang ini. Tercatat hingga 2013 ada 23 penanam modal asing (sebagian besar didanai oleh Korea Selatan) dan 500 penanam modal dalam negeri. Ketersedian sumber tenaga kerja manusia (perusahaan rambut dan bulu mata palsu menggunakan tenaga kerja manusia, hanya sebagian kecil yang dilakukan oleh mesin) dalam jumlah yang banyak, peraturan pemerintah yang mendukung investasi ini, kondisi wilayah yang aman, kondusif serta masyarakat yang ramah membuat pihak Korea Selatan makin tertarik di Purbalingga.
Indonesia saja yang berbeda suku tapi masih satu bangsa mempunyai budaya yang berbeda, apalagi antara Korea Selatan dan Purbalinnga.Kaum pemilik modal dan tenaga ahli dari Korea Selatan menjadi kaum minoritas di Purbalingga.Jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan kaum pendatang baik Arab maupun Cina.Namun posisinya juga begitu kuat di Purbalingga.Korea Selatan memiliki budaya, bahasa, dan agama yang berbeda.Membutuhkan waktu untuk menyesuaikan budaya mereka pada budaya Indonesia, salah satu budaya orang Korea Selatan yang kurang bisa diterima di budaya Indonesia adalah budaya minum soju (minuman beralkohol). Di Korea Selatan sana, setelah sepulang kerja dari perusahaan atau pabrik mereka akan ramai-ramai meminum minuman beralkohol, tak peduli itu bos, mandor atau sekedar baruh, hal ini tentu tidak bisa diterima oleh masyarakat Purbalingga, selain tidak cocok dengan hawa panas negara tropis seperti Indonesia alkohol juga merupakan minuman yang dilarang dalam budaya adat Jawa.
Contoh lain, Korea Selatan adalah negara yang memiliki etos kerja tinggi dan disiplin waktu yang ketat. Mereka akan bekerja dengan semangat yang besar, tepat waktu dari mulai kerja hingga selesai, bila belum mencapai target sesuai harapan, mereka akan menambah jam kerja hinnga sesuai targer. Dititik ini pula, budaya kita dipertentangkan, entah mengapa etos kerja Indonesia lebih rendah dari pada orang Korea.Demi mengikuti pemilik modal masyarakat Purbalingga mulai menyesuaikan etos kerja mereka.Mau tidak mau mereka harus ikut dengan segala aturan kerja orang Korea.
Jurang perbedaan juga terdapat pada bahasa dan tulisan, meski rata-rata produk dan tata cara pengerjaannya menggunakan bahasa inggris, tetapi terkadang orang Korea menyampaikan hal itu dalam bahasa Hangul (bahasa Korea Selatan). Namun hal ini dapat segera diatasi, beberapa karyawan berinisiatif untuk mempelajari bahasa Korea.Demikian pula, para mister (sebutan untuk pemilik dan tenaga ahli Korea Selatan di Pabrik) belajar sedikit kosakata bahasa Indonesia.Dengan berjalannya waktu perbedaan bahasa ini dapat dilalui oleh kedua belah pihak.
Dari perbedaan yang ada, tidak ada bisa dihindari gejolak permasalahan. Hal ini tidak dapat di pisahkan dari pertemuan dua budaya ini dan juga tidak dapat diprediksi kapan permasalahan akan timbul. Seperti diberitakan dalam Antara Jateng (15 Februari 2013) ribuan buruh pabrik rambut PT. Sungchang melakukan mogok masal, menyebabkan produksi lumpuh sementara dan ketegangan di kedua belah pihak.Para buruh menuntut perlakuan orang Korea Selatan sebagai tenaga ahli untuk lebih menghormati mereka.Para buruh membawa spanduk dalam tulisan Indonesia maupun Korea “Kami Datang Untuk Bekerja Bukan Dihina, Kami Manusia Biasa Jangan Dihina.”Selain itu mereka juga menuntut pembatalan lembur yang berlebihan akibat kuarang tercapainya target produksi. Hal ini ditengahi oleh pemerintah, melalui dinas sosial dan tenaga kerja, pihaknya merupakan jembatan penghubung antara buruh Purbalingga dan pemilik modal serta tenaga ahli dari Korea Selatan. Pengaturan jam kerja oleh pemerintah yang kemudian diterapkan pihak perusahaan sangatlah penting bagi karyawan dan kelangsungan produksi itu sendiri.
Selain itu, adanya buruh anak yang bekerja di pabrik rambut akan dikembalikan ke sekolah, hal ini dicantumkan dalam tempo (bulan Agustus 2013). Mereka yang masih berada di usia wajib belajar 9 tahun haruslah menikmati waktunya untuk belajar, bukanlah untuk bekerja. Mereka dapat kembali bekerja bila sudah saatnya, ketika sudah melewati usia wajib belajar, ketika usia dewasa telah datang, peraturan wajib belajar 9 tahun harus turut ditegakkan pabrik rambut dan diawasi oleh Pemerintah Purbalingga. Adalah suatu hak dan kewajiban setiap warga Indonesia untuk mendapat pendidikan yang cukup.Purbalingga membutuhkan Korea Selatan sebagai penanam modal asing.Demikian pula Korea Selatan membutuhkan Purbalingga sebagai pembuat produknya.Tak hanya menimbulkan konflik, tapi pertemuan ini menghasilkan sesuatu yang lebih indah.Penurunan jumlah pengangguran di Purbalingga dan sekitarnya, karena ribuan orang terserap dalam perusahaan rambut.Semakin banyak perusahaan rambut yang berdiri, semakin turun pula jumlah panganggurannya dan produk yang dihasilkan sebagian besar diekspor ke luar negeri, Australia, Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara Eropa.Selain itu, hal ini menyebabkan naiknya angka ekspor untuk produk rambut palsu Purbalingga. Dilaporkan PT. Lembaga Penelitian Pengembangan Sumber Daya Lingkungan Hidup (PT. LPPSDLH) Purbalingga menyumbang 56,10% Investasi industri seluruh Indonesia. Dikatakan investasi yang masuk senilai U$ 19.033.000 dari total U$ 21.985.000 pada tahun 2013. Sementara dipihak Korea Selatan pun semakin tertarik dengan investasi perusahaan rambut.Disebutkan, hingga 2013 sudah ada 2 Penanam Modal Asing yang siap untuk memasukkan dananya di Purbalingga.
Dari perbedaan yang ada, konflik yang sempat terjadi hal ini akan semakin mempererat hubungan Purbalingga (Indonesia)-Korea Selatan. Kebersamaan yang ada haruslah tetap terjaga, seperti rel kereta yang berdampingan untuk menggapai satu tujuan yang sama. Purbalingga sebagai mayoritas harus bisa menghormati budaya Korea, demikian pula Korea Selatan harus bisa menghargai warga Purbalingga. Konflik tidak akan bisa dihindari, hanya bisa diperkecil dampaknya benturan itu. Saling memberi dan mengisi kekosongan kedua belah pihak, menghormati antar budaya masing-masing dan peran serta Pemerintah sebagai mediator merupakan salah satu kunci keberhasilan Purbalingga-Korea yang bersatu.Sebuah perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup harmonis. Berasal dari tangan Purbalingga dan modal Korea Selatan, majulah terus produk rambut palsu.