Sunday, October 16, 2016

Asal Nama Desa Pasunggingan

Kantor Kepala Desa Pasungginga
Desa Pasunggingan merupkan bagian dari wilayah Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Desa Pasunggingan terdiri dari 6 dusun, yaitu 12 RT dan 33 RW. Batas-batas yang mengelilingi dari arah Barat dengan wilayah Desa Sinduraja Kecamatan Kaligondang. Sebelah Utara dengan Desa Pengadegan, sebelah Timur dengan Desa Pangempon Kecamatan Kejobong, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Nangkasawit, Kejobong.
Dari beberapa sumber yang penulis cari, sejarah Desa Pasunggingan lebih berbau dengan legenda daripada fakta sejarah. Legenda nama Desa Pasunggingan diperoleh dari turun temurunnya cerita rakyat atau folklore sebagai berikut: Konon, pada zaman dulu, Desa Pasunggingan masih dikelilingi oleh hutan rimba, dan tidak ada seorangpun yang berani untuk memasukinya. Hal ini dikarenakan banyak makhluk lelembut yang mendiami hutan rimba tersebut. Didesa itu, dipenuhi oleh aura mistis yang sangat terasa dan seolah-olah tidak ada kehidupan nyata didalamnya.
Pada masa penjajahan Belanda, wilayah itu masih sangat gelap dan menyeramkan, seperti tujuan Belanda untuk menguasai wilayah Indonesia, Belanda juga bertujuan untuk menguasai wilayah hutan rimba itu. Namun usaha Belanda itu selalu gagal dan tidak bisa menaklukan wilayah tersebut, karena  bangsa lelembut selalu menggagalkan usaha mereka. Percobaan untuk menakulkan wilayah tersebut sudah dicoba beberapa kali, namun selalu gagal. Bukan hanya para penjajah Belanda, penduduk lokal yang mencoba untuk memasukinya pun selalu mengalami kegagalan.
Hingga suatu hari, ada seorang msafir yang bernama Mbah Subahir datang kewilayah itu. Mbah Subahir memiliki kedigdayaan dan kewibawaan yang tinggi, sehingga ditakuti oleh bangsa lelmbut. Bangsa lelembut mulai terusik dengan kedatangan Mbah Subahir, sehingga mereka mulai menyusun rencana dan menggagalkan rencana Mbah Subahir untuk memasuki wilayah tersebut. Berkali-kali bangsa lelembut mulai marah, karena selalu dikalahkan oleh Mbah Subahir, hingga akhirnya bangsa lelembut bisa ditaklukan oleh Mbah Subahir.
Setelah daerah itu ditaklukan oleh Mbah Subahir tidak langsung diberi nama, sempat beberapa kali bangsa lelembut masih sesekali menyerang. Tapi dengan kegigihan Mbah Subahir, akhirnya lelembut itu tidak berani lagi menggangu wilayah itu. Hal ini dikarenakan Mbah Subahir selalu megajarkan ilmu agama dan ilmu kebathinan untuk melawan lelembut yang bisa menyerang kapanpun. Penyampaian ilmu itu, dimaksudkan menangkal rayuan-rayuan yang dilakukan kepada para penduduk agar menjadi pengikut dan budaknya.        
Setelah Mbah Subahir mendiami wilayah itu, para penjajah Belanda mulai melancarkan aksinya untuk menguasai wilayah yang sudah dikuasai Mbah Subahir dari bangsa lelembut. Belanda tidak menyerah, mereka mencoba melakukan kerjasama dengan pengikut Mbah Subahir untuk membantu Belanda. Namun, para pengikut Mbah Subahir tidak mau bekerjasama dengan para penjajah. Pada saat itu, memang Belanda sedang gencar-gencarnya melakukan penaklukan kewilayah-wilayah sekitarnya. Konon, bangsa lelembut juga masih menaruh dendam dengan Mbah Subahir, sehingga mereka menyusun rencana untuk menyerang kembali. Hal ini juga dilakukan oleh Belanda. Namun kesempatan ini bisa manfaatkan oleh Mbah Subahir dengan cara mengadu domba antara bangsa lelembut dan Belanda untuk saling bertempur.
Pertempuran yang terjadi antara bangsa lelembut dengan bangsa penjajah tidak bisa dielakan lagi, bangsa Belanda banyak yang menjadi korban, begitu juga bangsa lelembut. Setelah Belanda kalah, bangsa lelembut tinggal berhadapan dengan pasukan Mbah Subahir. Akhirnya terjadi pertumpahan darah yang sangat dahsyat, dan bangsa lelembut kalah untuk kesekian kalinya. Akhirnya bangsa lelembut meminta perjanjian dengan Mbah Subahir. Mbah Subahir menyetujui permintaan perjanjian tersebut, yaitu bangsa lelembut menerima kekalahannya namun para pengikut Mbah Subahir harus membuat penghormatan dihari kelahirannya. Maksud dari penghormatan itu adalah pada malam kelahiranya dibuatkan bubur abang putih sebagai perlambangan yang dapat memenuhi  unsur kekuatan.
Bangsa lelembut akhirnya memutuskan untuk menyeberang meninggalkan tanah Jawa, namun ditempat mereka yang baru masih tetap menggangu manusia hingga saat ini. setelah kejadian itu, mengingat pertempuran yang menelan banyak korban dan pertumpahan darah, maka Mbah Subahir member nama tempat itu dengan nama "PASUNGGINGAN yang mengandung arti dipapah, diusung, ana ing pengging, Hyang ana ing Khayangan. Pengging sendiri berarti pertumpahan darah. Begitulah cerita Sejarah Desa Pasunggingan.

Sumber:
miswansaputra.blogspot.com/2015/11/sejarah-singkat-desa-pasunggingan, diakses tanggal 15 Oktober 2016.
Indah Nurlailasari XI IPS 3 SMA Negeri 2 Purbalingga 16/17

Saat ini berprofesi jadi BTW, Kadang jadi BLOGGER, yang pasti jadi TEACHER dan semoga jadi WRITER;)