Sunday, February 26, 2017

Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk [Resensi]

 
 
Identitas buku :
Judul Buku      : Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk
Penulis            : Ahmad Rifa’i Rif’an
Penerbit          : PT Elex Media Komputindo
Kota Terbit      : Jakarta
Tahun terbit    : Cetakan Pertama, Juni 2011 (Cetakan ke-13 Januari 2015).

Resensi Buku:
     Buku Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk ini merupakan buku terlaris yang dimiliki oleh Ahmad Rifa’i Rif’an, penulis muda yang sangat produktif. Buku yang lumayan tebal ini merupakan buku yang ditulis tahun 2011 dan langsung disambut oleh pembaca hingga mendapat predikat Best Seller. Harapan Ahmad Rifa’i Rif’an dari buku ini adalah sebagai cambuk abadi yang senantiasa mengingatkan penulis agar tak terlalu jauh keluar dari orbit kemanusiaan.
   Karena secara fitrah, manusia memang memiliki naluri menghamba, mengutamakan, mendahulukan, serta menuhankan Zat yang serba Maha. Naluri inilah yang membuat seorang hamba merasa butuh untuk mencintai, mementingkan, serta menaati Zat yang serba-maha melebihi kadar cintanya kepada makhluk-Nya.
      Buku ini terdiri dari 4 bagian utama yang terbagi lagi kedalam sub menu lainya. Bagian 1, menata hari membenahi nurani ini menyajikan intropksi diri dari kesibukan kita sebagai manusia yang tidak bisa menyeimbangakan urusan dunia dengan urusan akhirat. Seperti dari sub bab pada bagian ini yang dijadikan judul buku, Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk. Bagian ini mengajak kita untuk hidup diera modern namun tetap berpegang pada agama kita. Sehingga tidak ada bagian hidup yang terlupakan, selain memperjuangakan dunia untuk memenuhi kebutuahan sehari-hari juga mengejar akhirat untuk bekal diakhir nanati.
      Bagian 2 dalam buku ini mengajak kita ke dalam “Rumahku, Surgaku”, yaitu standar kehiduapan yang dipatenkan untuk mengarungi kehidupan rumah tangga yang penuh lika-liku. Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengali kehidupan keluarga secara seimbang. Seperti ayah, ibu, anak, rumah, kesetiaan, dan lainnya. Seolah ingin mengingatkan kita, bahwa hidup berumah tangga itu tiadak susah namun juga bisa ditaklukan, tentunya dengan berpegang kepada agama Allah, agar selamat dunia adan akhirat.
    Bagian 3 kita diajak untuk melihat kehiduapan kita didunia kerja, “Memancarkan Cahaya Surga di Tempat Kerja”. Kita disajikan renungan ditempat kerja, seperti jihad dalam kubikel. Kerja juga berjihad, bukan hanya sekedar mengangkat senjata dimedan perang. Kejujuran dalam bagian ini juga tak lupa disentuh, karena semakin kesini semakin jarang orang yang jujur. Puasa juga menjadi terapi untuk mengukur kridebelitas manusia dihadapaan Allah, karena dengan puasa kita akan selalu dekat dan ingat kepada sang Pencipta.
      Bagian terakhir adalah bagian ke 4, “Memperkokoh Semangat dan Visi Hidup”. 4 tangga kesuksesan menurut penulis adalah, tangga yang dituju untuk menuju tujuan yang sebenarnya. Tapi untuk menuju itu, kita harus bisa kaya terlebih dulu, karena dengan kaya, kita bisa menggunakan harta kita untuk kepentingan umat manusia yang lain. Jadi kita harus merencanakan alur hidup agar terarah.
      Buku ini mempunyai kelebihan yang patut dibaca bagia kita yang terlalu sering melupaan panggilan-panggilan beribadah. Alasan-alasan yang digunakan untuk menghindari itu juga sangat banyak kita jumpai, seperti sibuk, belum sempat, nanti dan lainnya. Buku ini menyentak hati kita, bahwa dunia ini hanya sementara dan akhirat tetap menjadi tujuan utamanya. Dengan bahasa yang sederhana namun sangat mudah dicerna, buku ini mendapatkan tempat tersendiri dari halayak pembaca. Makannya tak heran, pembaca menaruh sambutan yang hangat dengan diluncurkannya buku ini. Sampai saat ini, buku ini terus dicetak ulang dan terus menduduki buku laris di Indonesia.