Saturday, May 20, 2017

Grebeg Onje 2017: Menjejak, Jejak Sejarah Purbalingga

Saudara Seperjuangan (Foto Pribadi)
arifsae.com - Tahun 2017, Purbalingga mulai menggali jatidirinya. Untuk apa jatidiri? Jatidiri sangat penting sebagai identitas. Sebagai contoh, bagaimana kalau kita tidak tahu silsilah keluarga kita, minimal siapa yang melahirkan kita, atau darimana kita berasal? Ngeri-ngeri tak sedap kan? Itu kita. Bagaimana Kabupaten? Sebuah wilayah yang mempunyai akar historis panjang, bagaimana andai kita tak punya pijakan lokalitas? Bukankan seperti kita berjalan tanpa arah? 

Sungguh mengkhawatirkan apabila kita sebagai warga sebuah kabupaten tak (mau) tahu akar sejarah berdirinya wilayah yang kita diami ini. Saya warga asli Kabupaten Purbalingga mengapresiasi diadakannya sebauh event-even tyang menggali jatidiri wilayah ini, sebuah wilayah "sentral" ngapak karena masih sangat kental dengan logat "K".
Agenda Kegiatan Grebeg Onje (Foto Pribadi)
Seperti HUT Purbalingga yang masih jadi kontroversi. Seharusnya pemegang kekuasaan mengambil sikap bijak untuk menjadikan HUT Purbalingga seseuai dengan jiwa lokalitas bukan warisan kolonial.

Saai ini, kita akan membahas mengenai agenda yang baru pertama kali diadakan ini, acara ini bertajuk "GREBEG ONJE 2017". Sebuah cara untuk mengingatkan Warga Purbalingga akan cikal bakal Kabupaten Purbalingga sendiri, karena nilai-nilai historis ini sudah terlanjur luntur ditimbun kultur bangsa lain.

Grebeg Onje 2017 ini diadakan antara tanggal 17 sampai 19 Mei 2017. Semua agenda yang tentunya berpusat di Onje, sebuah desa yang saat ini masuk kedalam Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga. Namun tidak semua agenda saya ikuti, hanya yang beragenda tanggal 19 Mei 2017, yaitu Napak Tilas Sejarah Onje.

Agenda ini sebetulnya sudah saya ketahui dari MSI (Masyarakat Sejarah Indonesia) Kabupaten Purbalingga, lebih tepatnya informasi dari Pak Topan. Karena agenda yang bertabrakan dengan kegiatan mengajar di SMA Negeri 2 Purbalingga, maka waktu yang tepat adalah hari Jum'at, karena hari ini saya tidak ada jam mengajar.

Sebelum berangakat saya diberikan mandat untuk memilih 5 peserta didik. Saya pilih Tebe, Puteri, Aziz, Riko dan Iqbal semuanya dari XI IPS 1. Kenapa saya pilih mereka? karena mereka yang sering berjuang berbagai lomba dengan saya.

Keberangkatan dari sekolah sekitar jam 08.00 pagi. Perjalanan sekitar 7 KM, yang membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Sesampainya disana, kami kira sudah terlambat, tapi ternyata sudah ada beberapa kawan dari SMA Lain yang belum siap. Disana kami bincang-cincang sampai jam 09.00, sebuah momen yang sangat menyenangkan yang akan sulit untuk diulang.
Pasukan dari SMA Negeri 2 Purbalingga (Foto Pribadi)
Sebelum berjelajah, kami dikumpulkan dulu di Pendopo Puspa Jaga. Sebuah pendopo yang ada disekitar Balai Desa Onje. Tempat ini juga tempat pertama kami melakukan napak tilas, karena didepannya persis ada sebuah makam dari Puspa Jaga. Siapa dia? Puspa Jaga merupakan salah satu dari prajurit yang mengawal selir Sultan Hadiwijaya, Puteri Adipati Manoreh untuk menjadi istri Ki Tepus Rumput karena jasanya telah menemukan cincin Socaludira.
Makam Puspa jaga (Foto Pribadi)
Perjalanan berikutnya menuju kesebuah arca batu yang sudah dijadikan cagar budaya karena berusia ratusan tahun. Arca batu ini dipercayai sebagai Ki Kantharaga, dialah yang memberikan wangsit kepada Ki Tepus Rumput untuk bertapa di Gunung Slamet tepatnya di Bukit Tukung. Setelah memberikan pertintah kepada Ki Tepus Rumput, maka Ki Kentharaga berubah menjadi arca batu ini. Arca batu ini sudah dijadikan benda Cagar Budaya.
Arca Batu (Foto Pribadi)
Lokasi berikutnya menuju ke Pohon Belimbing. Pohon Belimbing ini terletak ditengah perkampungan, di Dusun II RT 1/RW 05. Konon usiannya juga sudah ratusan tahun. Menurut cerita warga sekitar, rasa Pohon Blimbing ini rasanya berbeda-beda, ada yang manis, ada juga yang masam. Rasa nya tergantung kepada amal perbuatan kita. Karena usiannya yang sudah ratusan tahun, Pohon Belimbing ini dipercaya merupakan halaman dari bangunan Kadipaten Onje.
Pohon Blimbing (Foto Pribadi)
Selanjutnya kami diajak untuk menuju sebuah belik, yaitu Belik Domas. Belik ini merupakan belik yang khusus untuk para kaum hawa alias untuk para Wanita saja. Tapi saat ini, belik ini sudah digunakan termasuk oleh pada pria. Belik Domas ini juga dekat dengan Sungai Paingen, dan dikabarkan tidak pernah kering airnya meskipun musim kemarau. Di Belik Domas ini juga dijadikan sebagai salah satu rangkaian acara Grebeg Onje tanggal 18 Mei 2017. 
Belik Domas (Foto Pribadi)
Selain Belik Domas, pengambilan belik juga dilakukan di Belik Gondok. Tapi lokasi dari Belik Gondok sedikit jauh, jadi kami tak sempat kesana. Di Desa Onje sendiri banyak belik-belik yang ada dan mempunyai cerita sejarahnya sendiri. Selain Belik Domas, dan Gondoh ada belik Sendang Pancuran, Daor, Nagasari, Jati Ragas dan Belik Muli yang lokasinya terpencar-pencar.

Diatas belik ini ada sebuah makam, makamnya juga berada dipinggir jalan. Makam ini merupakan makam dari istri Adipati Onje II. Makam disini tidak sendiri, namun ada dua makam. Makam yang pertama dari istri yang bernama Dewi Pakuwati, puteri dari Adipati Cipaku dan istri yang kedua yaitu Dewi Kelingwati, puteri dari Adipati Pasir Luhur. Kedua makam ini juga sering dinamakan sebagai Makam Medang.
Makam Medang (Foto Pribadi)
Setelah selesai di Makam Medang. Kami diajak kesebuah Makam yang sangat "megah", makam itu adalah Makam dari Adipati Onje atau Adipati Anyongkrowati. Disini juga ada makam Kencanawungu, yang didapatkan dari hasil sayembara. Nah, dari keturunan ini akan lahir bupati Purbalingga yang pertama, yaitu Ki Arsantaka.

Kondisi makam ini bisa dikatakan sangat megah, karena untuk menuju kesini, kita harus menaiki tangga yang lumayan tinggi. Di sekitar makam Adipati Onje ini ditumbuhi berbagai tumbuhan pohon tinggi. Salah satu pohon yang aneh adalah Pohon Aren, yang bercabang lebih dari 2. 
Pntu Masuk Makam Adipati Onje II (Foto Pribadi)
Tidak jauh dari makam, ada lokasi pertemuan 3 arus sungai, namanya Jojok Telu atau Tempuran Telu. Ketiga sungai yang "bertempur" itu adalah Sungai Paku, Sungai Paingen dan Sungai Tlahab. Ditempat ini, dipercaya sebagai tempat pertemuan antara para wali untuk membangun Masjid Raden Sayyid Kuning. Tempat ini juga digunakan untuk orang-orang yang mengharapkan berkah atau keselamatan hidup.
Jojok Telu (Foto Pribadi)
Tepat dipersimpangan Jojok Telu ini, ada sebuah benda cagar budaya lainnya, yaitu Situs Batu Dakon. Batu Dakon diberikan nama oleh Dinas Kebudayaan, namun masyarakat lebih sering menyebutnya Watu Lumpang. Watu Lumpang ini merupakan peninggalan dukun bayi pada masa Adipati Onje II. Dipercayai juga, setiap orang bisa berbeda menjumlahkan lubang-lubang dari Batu Dakon tersebut. Nama Watu Lumpang ini juga digunakan sebagai nama makam yang tak jauh dari tempat ini. 
Batu Dakon (Foto Pribadi)
Tidak jauh dari Batu Dakon, kami berjalan menyusuri sungai hingga ke Makam Ngabdullah Syarif. Nama Ngabdullah Syarif lebih dikenal dengan nama Raden Sayyid Kuning. Beliau ditugaskan oleh Adipati Onje II untuk mengajarkan Islam di Kadipaten Onje. Beliau yang notabene keturunan Arab dinikahkan oleh Adipati Onje II dengan Kuningwati, anak Adipati Onje II dengan Pakuwati. Disini kita juga berdoa dengan cara masing-masing.
Makam Raden Sayyid Kuning (Foto Pribadi)
Sebetulnya setelah dari makam masih ada lokasi lainnya, namun karena hari Jumat dan waktu sudah menunjukan pukul 11.00, maka kami diajak untuk pulang dan sekaligus mengunjungi lokasi yang terakhir, yaitu Masjid Raden Sayyid Kuning.
Halaman Depan (Foto Pribadi)
Masjid ini sudah beberapa kali dipugar (saya pribadi lebih suka bangunan yang lama, karena masih kental dengan ciri khas tradisionalnya). Awalnya penamaan masjid ini menggunakan nama Masjid Onje. Namun karena di Onje sendiri ada 3 masjid. Maka  pada tahun 1983, masjid ini dirubah menjadi Masjid Raden Sayyid Kuning, diambil dari tokah penyebar Islam di Onje yang makamnya dijelaskan diatas. Penamaan ini diberikan oleh Habib Lutfi bin Yahya dari Pekalongan yang masih ada keturunan dari Raden Sayydi Kuning.
Saka Tatal yang katanya Masih Asli (Foto Pribadi)
Masjid Raden Sayyid Kuning merupakan kebanggan dari warga Purbalingga pada umumnya, karena menurut kepercayaan masjid ini dibangun oleh para 3 walisongo sebelum membangun Masjid Agung Demak. Sokotatal juga dipercaya masih asli yang dibuat dari kayu Jatiwangi, dan masih ada bedug yang mempunyai cerita mistis.
Gapura Masjid Sayyid Kuning (Foto Pribadi)
Karena waktu sudah siang, kami diajak untuk menyudahi jelajah sejarah kali ini. Waktu menunjukan jam 11.00, kondisi yang panas, tapi memebrikan kesan yang luar biasa. Saya sendiri sudah dua kali kesini. Dulu tahun 2010, saat menemani teman menyelesaikan skripsi, meskipun penjelasan jelajah sejarah ini sangat panjang dan lebar.

Akhinrya selesai sudah, kami mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru. Sejarah terpendam yang membumi sangat lama. Kalau kita tak mengorbitkan nilai-nilai ini kepada generasi muda, lalu siapa lagi?
Makan di Yosi Mandiri (Foto Pribadi)
Untuk mengakhir sesi ini, kami selesaikan dengan makan-makan. Kasian anak-anak, panas-panas dan pasti mereka kelaparan. Kami menyelesaikan acara ini dengan makan di Yosi Mandiri Purbalingga. Semoga artikel ini bermanfaat, kesalahan murni dari saya.
Untuk lebih mantap lagi, silahkan kunjungi situs grebegonje.com.