Monday, October 23, 2017

Syekh Nawawi Al-Bantani, Pelopor Intelektual Pesantren

Makam Syekh Nawawi al-Bantani (Sumber Gambar: http://www.muslimoderat.net) 
Genap 3 tahun sudah makam-makam yang ada disekitar pinggiran Kota Ma’la, Mekkah, harus di ‘normalisasi’ dengan cara dibongkar. Tidak perduli makam siapa itu, apakah makam pejabat tinggi atau rakyat jelata, semua sama. Dalam hal ini, Pemerintah Arab Saudi mempunyai kebijakan bahwa jenazah yang telah dikubur dalam kurun waktu beberapa tahun harus dibongkar dan tulang-tulang ini akan dikuburkan bersama ditempat yang lain. Hal ini dilakukan supaya pemakaman bisa tertata dengan efisien. Makam-makam yang tadi sudah dibongkar, akan diisi dengan jenazah yang baru, begitu seterusnya.
Para petugas telah siap untuk membongkar beberapa makam. Awalnya, semua berjalan biasa, namun berbeda ketika terjadi pembongkaran dalam salah satu makam. Terjadi kegegeran yang tak biasa, semua petugas kaget tak percaya. Para petugas penggalian kuburan tidak menjumpai jenazah seperti jenazah pada umumnya. Bukan tulang-belulang, atau kain kafan yang kusut yang ditemukan, justru para petugas menyaksikan satu jenazah yang masih utuh, terlihat baru, dan tak kurang satu apapun. Disamping itu, tidak ada lecet apapun pada mayat tersebut, bahkan kain kafan yang menutupi jenazah tadi tak sobek sedikitpun.
Wajar saja, kejadian itu mengejutkan para petugas yang membongkat makamnya. Sontak, mereka menemui atasan dan melaporkan kejadian yang baru saja disaksikan oleh banyak orang itu. Setelah menerima laporan dari petugas penggali kubur, sang atasan kemudian mencari tahu, siapa orang dibalik makam itu. Setelah menyelediki, dan mencari tahu dari berbagai informasi, ternyata orang yang ada dalam makam itu bukan orang biasa, beliau adalah seorang ulama asal Indonesia yang pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram, beliau adalah Syekh Nawawi Al-Bantani.
Nama besar Syekh Nawawi Al-Bantani sudah tak diragukan lagi. Beliau adalah pembentuk ‘wajah’ pesantren saat ini. Lembaga pendidikan tertua di Indonesia ini tak bisa terlepas dari nama besarnya. Karyanya hampir tersebar diseluruh pesantren-pesantren tradisional di Indonesia. Syekh Nawawi Al-Bantani merupakan salah satu peletak dasar nilai-nilai etis tradisi keilmuan pesantren, buah intelektualnya sangat berjasa dalam mengarahkan ideologi pesantren yang berada dibawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) hingga kini. Dikalangan pesantren, Syekh Nawawi Al-Bantani tidak hanya dikenal sebagai penulis berbagai kitab-kitab dari berbagai disiplin ilmu, beliau juga dijuluki  sebagai mahaguru sejati (The Great Scholar), karena dengan kearifan memilih murid tanpa melihat latar belakang suku, akan membuahkan tokoh-tokoh intelektual yang berperan tidak hanya dalam agamanya, namun dalam memperjuangkan bangsa dan negara.
Pemilihan murid dari berbagai latar belakang inilah yang kita sebut sebagai multikulturalisme. Nilai-nilai multikultural yang dipondasikan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani hingga saat ini masih relevan digunakan, hal ini dikarenakan negara Indonesia yang ber-bhineka sangat membutuhkan kesadaran multikulturalisme ditengah gempuran zaman globalisme. Perbedaan yang terjadi bukannya menjadi alasan bagi adanya permusuhan, namun kita jadikan sebagai modal untuk membangun bangsa dengan spirit Bhinneka Tunggal Ika. Persatuan ini menjadi kebutuhan yang mendesak untuk menjawab tantangan zaman, mengingat realita bangsa ini yang terus dilanda cobaan des-integrasi. Persatuan inilah yang harus kita jadikan identitas bangsa kita saat ini.
Menurut Samuel Hotington (1996), identitas sebuah bangsa bisa menjadi hal yang bisa menyatukan atau bisa memisahkan. Identitas bangsa yang plural ini, apabila tidak disikapi dengan arif, bisa menjadi penyulut api permusuhan dan kobaran konflik. Oleh karena itu, kita patut belajar dari ulama sekaliber Syekh Nawawi al-Bantani dalam memahami sebuah persatuan dengan menguatkan identitas bangsa kita, salah satunya dengan melihat praktek multikulturalisme didunia pesantren. Tulisan ini mengangkat tentang kehidupan singkat Syekh Nawawi Al-Bantani, sumbangan karya-karyanya dalam membentuk wajah pesantren Indonesia, dan peran pesantren dalam persatuan Indonesia.

KH Nawawi: dari Banten Ke Mekkah
Generasi muda saat ini harus tahu dan bangga, bahwa Indonesia pernah mempunyai ulama yang diakui dunia. Namanya lengkapnya adalah Muhammad Nawawi al-Syaikh al-Jawi al-Bantani atau Syekh Nawawi al-Bantani. Orang Indonesia lebih familiar dengan sebutan Kiai Haji Nawawi Putra Banten (Chaidar, 1978: 5).  KH Nawawi (akan digunakan kemudian, karena lebih ke “Indonesiaan”) lahir pada tahun 1230 Hijriah atau 1813 Masehi di Kampung Tanara, Serang, Banten. Ayahnya bernama KH ‘Umar bin Arabi dan Ibunya Zubaydah, ayahnya seorang penghulu dan ulama di Tanara. Bila ditelusuri silsilah ayahnya, KH Nawawi masih keturunan Sunan Gunung Jati (Adurahman, 1996: 86). Lingkungan keluarga yang kental dengan nilai-nilai agama membuatnya memiliki pemahaman agama yang komperhensif dimasa mudanya.
Pondasi pendidikan yang diberikan oleh KH ‘Umar mencakup pengetahuan keislaman, seperti nahwu dan sharaf, Fiqih, Tauhid dan Tafsir. Setelah mencukupi umur, KH Nawawi melanjutkan ilmunya dengan berguru kepada Kiai Sahal, sorang ulama Banten, dan Kiai Yusuf dari Purwakarta. Umur 13 tahun, ayahnya meninggal dunia, 2 tahun kemudian KH Nawawi dan saudarannya pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji. Di Mekkah, KH Nawawi tinggal selama 3 tahun dan belajar kepada ulama-ulama besar, beliau berguru kepada Sayid Ahmad Nahrawi, Sayid Ahmad Dimyati, dan Ahmad Zayni Dahlan. Sedangkan di Madinah KH Nawawi berguru kepada Muhammad Khatib al-Hanbali. Selain di Mekkah dan Madinah, beliau juga belajar kepada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Ensiklpedia Islam Indonesia, 1994: 24).
KH Nawawi pernah kembali ke Nusantara pada tahun 1831 Masehi, dan sempat mengajar diberbagai tempat. Namun, karena kondisi politik Nusantara waktu itu, akhirnya 3 tahun kemudian beliau pergi lagi ke Mekkah dan menetap disana hingga wafatnya. Ketika kembali ke Mekkah, beliau melanjutkan pemenuhan ‘dahaga’ ilmunya kepada guru-gurunya yang berasal dari Nusantara, seperti Syaikh Muhammad Khatib Sambas, Syaikh ‘Abdul Gani Bima, Syaikh Yusuf Sumulaweni, dan Syaikh ‘Abdul Hamid Dagastani, dan masih banyak yang lainnya (Saghir, 2000: 36-37). Dengan keputusannya menetap di Hijaz ini, akhirnya beliau menuangkan ilmunya dengan berbagai hasil kitab-kitab yang sangat berguna bagi kehidupan Islam di Nusantara bahkan dunia Islam pada umumnya.
Dari pengalamannya selama melakukan rihlah selama 30 tahun, akhirnya KH Nawawi melakukan halaqa di Masjid al-Haram. Dengan berbekal ilmu dan kecerdasannya, KH Nawawi mendapatkan simpati dari murid-muridnya dan dari pembaca karya-karyanya. Murid-muridnya berasal dari berbagai suku dipenjuru negeri, terutama dari Nusantara, seperti Suku Jawa, Sunda, Madura, Minang, dan lainnya. Dari pengajaranya di Mekkah ini, dikemudian hari murid-muridnya meneruskan perjuangan Islam di Nusantara dengan mendirikan pesantren, seperti KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dari Jombang, KH Kholil dari Bangkalan Madura, KH Tubagus Ahmad Bakri dari Purwakarta, KH Ilyas dari Serang Banten, dan masih banyak murid-muridnya yang dikemudian hari mendedikasikan hidupnya untuk umat Islam di Nusantara.
Dalam melakukan pengajaranya, KH Nawawi dikenal sebagai seorang yang menjunjung nilai-nilai “demokratis”, hal ini karena beliau mau menerima semua ide dan pandangan dari murid-muridnya agar melatih mereka untuk berani mengemukakan ide dan gagasan yang membangun untuk umat (Ensiklpedia Islam Indonesia, 1994: 841-842). Beliau sangat menghormati segala bentuk perbedaan, inilah pelajaran yang sangat penting. Sebuah modal multikultural yang berbalut nilai demokratis yang saat itupun tidak dimiliki oleh para pejuang di Nusantara.
Disamping melakukan pengajaran, KH Nawawi juga menghasilkan karya-karya yang sangat banyak, hasil karyanya tidak hanya diakui oleh ulama Nusantara, namun dihormati pula di dunia Islam, terutama yang berkaitan dengan Mazhab Syafi’i. Memang tidak bisa dipastikan berapa karya KH Nawawi, karena terlalu baanyak dan bahkan ada yang tidak terlacak. Namun yang pasti, karya-karyanya ditulis dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti Tafsir, Fiqih, Usul al-Din, Ilmu Tauhid, Akhlak dan Tasawuf, Sirah Nabawiyah, Tata Bahasa Arab, Hadist dan Akhlak (Bruinesen, 1995: 143).
Menurut Martin Van Bruinessen (1995: 236), pada era 90-an, karya KH Nawawi masih mendominasi kurikulum dilebih dari 40 pesantren besar di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, karyanya juga digunakan diberbagai wilayah Islam di Asia Tenggara, seperti Filipina, Thailand, dan Malaysia. Banyaknya karya yang digunakan diberbagai negara dikarenakan kemampuan KH Nawawi menyederhanakan pengajaran yang mengandung hikmah sehingga bisa dijiwai oleh setiap pembaca. Keluasan ilmu yang dimiliki KH Nawawi membuat karya-karyanya diajarkan para Kiai dan disukai oleh kalangan santri sehingga masih menjadi rujukan utama hingga saat ini. Banyak kalangan yang menganggap KH Nawawi sebagai Imam Nawawi kedua, Imam Nawawi pertama adalah ulama besar yang membuat Syarah Shahih Muslim dan Riyadlush Shalihin.
Syekh Nawawi, Sumber Gambar: parawali-allah.blogspot.my
Pondasi Membangun Negeri
Tidak bisa dipungkiri, pesantren merupakan tempat “kawah candradimuka” dalam pendidikan Islam dan tempat perkembangannya embrio bangsa Indonesia dalam menemukan jati dirinya. Pemahamaan ini dipertegas dengan kuantitas penduduk Indonesia yang 85 % merupakan muslim, dan Indonesia merupakan pemeluk muslim terbesar didunia. Tentu peran ini tidak bisa dilepaskan dari pesantren. Menurut Zamakhsyari Dhofier (2011: 100), mengkaji tentang Islam di Indonesia tidak akan lengakap apabila tidak menelusuri lembaga pesantren dan mengkaji karya-karya pengasuhnya.
KH Nawawi merupakan tokoh dari Indoensia yang berkaliber dunia, sehingga beliau dipercaya mengajar di Mekkah al-Mukarramah dan menjadi Imam al-Haramayn (Imam ‘Ulama Dua Kota Suci, Mekkah dan Madinah). Setelah karya-karya KH Nawawi masuk ke Indonesia, wacana keislaman didunia pesantren mulai berkembang pesat. Menurut Van Brunessen (1995: 153), sejak tahun 1888 Masehi, pola intelektual pesantren berubah dengan drastis. Artinya, kesinambungan dan dakwah dalam tradisi pesantren sangat penting. Sumbangan besar KH Nawawi berada pada bidang ilmu tafsir, bahkah karyanya sudah dijadikan rujukan diberbagai wilayah Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, sejak tahun 1990 diperkirakan ada sekiar 22 tulisan karya KH Nawawi yang masih dipelajari.
Murid-muridnya terseber sebagai faounding father dalam menjaga pondasi Islam dan turut membidani kelahiran negara Indonesia. Seperti KH Hasyim Asy’ari yang mendirikan organisasi massa terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asy’ari termasuk murid yang memiliki semangat tersendiri untuk mengajarkan karya-karya gurunya di Nusantara, karena setelah belajar dengan K.H Nawawi di Mekkah, beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng, yaitu pondok pesantren paling berpengaruh di Indonesia pada abad-20. Ketika masa pendudukan Jepang, KH Hasyim Asy’ari tidak mau melakukan upacara Seikeri (membungkuk kebendera Jepang), sehingga beliau sempat ditahan oleh Jepang. Setelah merdeka, beliau diangkat sebagai Ro’is ‘Am (ketua umum) Masyumi pertama periode 1945-1947. Masa revolusi senjata, beliau sebagai jenderal yang membawahi laskar-laskar perjuangan, seperti GPII, Hizbullah, Sabillilah dan lainnya.
Kemudian, murid lainnya adalah KH Kholil dari Bangkalan Madura, yang terkenal dengan karomahnya. Sama seperti KH Hasyim As’ari, KH Kholil juga berperan penting dalam dunia pendidikan dan perlawanan terhadap penjajah. Dalam bidang pendidikan, beliau mencetak murid-murid yang memiliki integritas, berwawasan, dan tangguh. Selain itu, perlawanan terhadap penjajah dilakukan dibelakang layar, beliau selalu memberi suwuk (tenaga dalam) dan mempersilahkan pondoknya sebagai tempat persembunyian para pejuang.
Selanjutnya, KH Tubagus Ahmad Bakri dari Purwakarta. Seorang ulama dari tanah pasundan yang mendirikan pesantren As-Salafiyyah. Banyak karya yang juga dilahirkan oleh pemikirannya, masa hidupnya didedikasikan untuk mengaji dan membuat karya. Ada juga murid dari KH Nawawi yang berjuang secara fisik melawan kekejaman senjara, beliau adalah KH Wasit. KH Wasit memimpin pembrontakan di Cilegon pada tahun 1888 Masehi. Murid-muridnya tersebar hampir disejumlah pesantren diseluruh Indonesia.
Dengan kata lain, pesantren di Indonesia memiliki geneologi yang hampir sama meskipun berbeda daerah dan budaya. Pada waktu itu, polarisasi pemikiran modernitas yang sedang dikembangkan oleh Jammaludin al-Afgani dan Muhammad Abduh di Mekkah menjadi pemersatu ulama tradisional di Indonesia yang sebagian besar alumnus dari Mekkah dan Madinah. Dengan keterkaitan para ulama Nusantara ini, maka secara tidak langsung mempercepat penyebaran karya-karya KH Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi para Ulama Nusantara (Dhofier, 2011: 57). Besarnya pengaruh pemikiran KH Nawawi terhadap tokoh ulama di Indonesia membuat beliau dikatakan sebagai poros dari akar keilmuan pesantren dan NU.

Dari Pesantren untuk Indonesia
Sumbangan KH Nawawi yang paling dibutuhkan oleh Indonesia saat ini adalah nilai-nilai multikulturalisme ditengah maraknya paham disintegrasi bangsa. Nilai multikultural dari KH Nawawi bisa dilihat dari proses pengajarannya di Mekkah. Ketika beliau menerima murid, beliau tidak melihat dari mana asal suku, ras atau golongan, namun oleh beliau diterima dengan tangan terbuka. Pendapat yang berbeda dari murid-muridnya diterima sebagai kekayaan intelektual. Murid yang diterima juga dari berbagai tingkat intelektual, ada yang dari dasar pemulaan tata bahasa Arab, atau murid yang cukup pintar dan yang sudah mengajar ditempat mereka sendiri (Stennbrik, 1984: 117).
Hal ini menjadi pijakan dalam mengembangkan jatidiri pesantren khususnya dan jatidiri bangsa pada umumnya. Pesanten, sebuah lembaga pendidikan tertua di Indonesia, memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah, kesadaran multikulturalisme disaat wacana itu masih diperdebatkan dilevel politik nasional, seperti Budi Utomo pada tahun 1908, organisasi pertama yang anggotanya berasal dari Prijaji Jawa saja. Oleh karena itu, kesadaran berbangsa yang saat ini mulai surut harus kita kuatkan lagi, dengan belajar dari kehidupan pesantren disekeliling kita. Memang ada sebagian kecil pesantren yang sudah terjebak dengan paham-paham ‘egoistis ‘mereka sendiri. Namun itu hanya sebagian kecil, karena sebagian besar kehidupan di pesanteren sangat kental dengan nilai-nilai multikulturalisme.
Setidaknya ada tiga hal mendasar yang bisa kita lihat dan rasakan dari sumbangsih pesantren dalam usahanya membentuk jatidiri bangsa Indonesia, yaitu (1) secara geneologi; (2) secara paradigma; dan (3) secara sosiologis. Pertama, secara geneologi, pesantrean sudah mengalami kontak secara langsung dengan penganut agama lain ketika masa Hindu-Budha di Jawa. Pesantren sudah memberikan contoh dengan baik, bagaimana berdialog dengan kelompok yang memiliki kepercayaan berbeda. Para founding father penyebaran Islam, Wali Sanga,  mengajarkan kepada kita, bahwa mereka tidak menghapus kebudayaan agama Hindu-Budha, namun justru mencari titik temu persamaan budaya Hindu-Budha dengan ajaran agama Islam.
Kedua, secara paradigmatis. Dalam dunia pesantren, jelas terlihat nilai dan prinsip toleransi dan keterbukaan. Ajaran pesantren mengajarkan tentang toleransi terhadap perbedaan. Misalnya dalam pengajaranya, pesantern mengajarkan semua madzab ilmu fiqih pada para santri. KH Nawawi dalam melakukan pengajarannya juga selalu menerima pendapat yang berbeda. Dalam menghargai perbedaan ini, pesantren menampakan toleransi terhadap perbedaan yang terjadi antar pesantren dalam memahami teks hadits maupun Al-Qur’an yang disesuakan dengan nilai-nilai kearifan lokal.
Pada bagian ini, pesantren menampakan wajah yang universal, atau Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Wajah universal ini ditransformasikan kedalam nilai-nilai lokal yang plural. Misalnya, pesanteren yang tumbuh didaerah Madura, akan menampakan wajah keislamannya dengan nilai-nilai kebudayaan Madura. Pesantren menyadari, tidak akan memutlakan suatu tafsiran, namun membiarkan berbagai tafsiran tentang keagamaan itu berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Kemudian yang ketiga, secara sosiologis. Pesantren sebagai sebuah komunitas sosial yang teridiri dari Kiai dan santri berasal dari berbagai latar belakang yang beragam. Hal ini memperlihatkan bahwa, realitas sosial pesantren juga sangat plural. Misalkan, pondok pesantren Tebuireng, Jombang. Disana santrinya berjumlah ribuan, berasal dari berbagai daerah, ada yang berasal dari Jawa, Madura, Kalimantan, Papua, dan dari seluruh daerah di Indonesia. Namun, dalam bingkai kehidupan dilingkungan pesantren tidak pernah terdengar ‘tawuran’ bahkan terkesan sangat harmonis sehingga praktis tidak pernah ada pertikaian besar terjadi disini.
Ada pertanyaan, kalau pesantren memberikan sumbangsih nilai multikulturalsime di Indonesia, tapi kenapa Indonesia saat ini justru banyak konflik dan permusuhan? Memang inilah ironi yang menyentuh hati nurani. Jawabanya, kita kurang belajar dari ulama dan sejarah bangsa kita sendiri. Paling penting yang perlu diingat, kita masih mempunyai mozaik dipesantren apabila kita memerlukan sebuah contoh arti sebuah persatuan ditengah perbedaan. Pesantren telah memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana menjalani kehidupan yang harmonis dalam atap perbedaan. Inilah esensi dari ajaran KH Nawawi dengan membentuk pondasi jatidiri bangsa lewat karya-karyanya yang diteruskan oleh para muridnya didunia pesantren.
Dengan semua teladan dari KH Nawawi, kita harus siap menerima keberadaan orang atau kelompok lain yang berbeda dengan kita. Dengan cara membiasakan diri seperti itu, hati kita akan terbiasa menerima perbedaan. Nafsu untuk mengejar kekuasaan akan terkalahkan dengan semangat persatuan. Tidak akan ada lagi ego untuk menonjolkan identitas kelompok sendiri, tapi semuanya akan saling menghormati. Bangsa ini harus belajar terhadap kesuksesan pesantren dalam mengimplementasikan nilai-nilai multikulturalisme. Kita harus belajar untuk saling belajar, bukan saling menghajar, pelangi terdiri dari banyak warna yang berjejer menjadi satu, jadi bukankan pelangi indah karena berbeda?

Penutup
KH Nawawi wafat ketika menginjak usiannya yang ke 84 tahun, tepatnya pada 24 Syawal 1314 Hijriyah/1897 Masehi. Beliau meninggal ketika sedang menterjemahkan kitab Minhaj al-alibin karya Imam Nawawi al-Dimshaqi. KH Nawawi dimakamkan ditempat tinggalnya disekitar Shi’ib ‘Ali Mekkah, tepatnya dipekuburan Ma’la, yang berdekatan dengan kuburan Ibn Hajar dan Asma’ binti Abu Bakar. Lewat kemasyuran namanya, KH Nawawi mendapat banyak gelar, diantaranya Sayyid ‘Ulama al-Hijaz (Pemimpin ‘Ulama Hijaz), AI-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni Ilmunya), A’yan ‘Ulama al-Qarn aI-Ram ‘Asyar Li al-Hijrah (Tokoh Ulama Abad 14 H), dan Imam Ulama Al-Haramayin (Imam Ulama Dua Kota Suci).
Semasa hidupnya, banyak karya-karya yang lahir dari ketinggian keintelektualannya. Tulisannya melintasi berbagai disiplin ilmu, beliau juga meneruskan tradisi ulama Nusantara dalam mentransformasikan gagasan keilmuannya melalui pengajaran kepada murid-muridnya. Perannya dalam menyebarkan Islam di Nusantara sangat berguna bagi arah pembentukan identitas bangsa kedepannya. Dengan pengajarannya di Mekkah al-Mukarramah, beliau berhasil menghasilkan murid-murid yang menjadi tokoh nasional dalam memperjuangkan Indonesia. Salah satu muridnya adalah Hadratul Syekh KH Hasyim Asy’ari, ulama pendiri Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi Islam terbesar hingga saat ini.
KH Nawawi merupakan ulama Rijal al-Dakwah yang jasa-jasanya sangat terasa untuk dunia Islam di Indonesia maupun dunia Islam pada umumnya. Dampak aktifitas dakwah yang dilakukan oleh KH Nawawi masih terasa sampai sekarang. Bahkan hampir semua Kiai Pesantren masih menggunakan karya-karyanya sebagai rujukan utama. Hal ini bisa ditelusuri dari geanologi keilmuan KH Nawawi terhadap wajah pesantren dewasa ini. Salah satunya adalah nilai-nilai multikulturalisme yang dipraktekan pesantren hingga saat ini.
Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia pada era globalisasi ini. Tantangan primordialisme dan cauvinisme saat ini mulai menjamur diberbagai daerah Indonesia. Oleh karena itu, kita harus menengok kebelakang sejenak untuk belajar tentang arti multikulturalsime dari seorang ulama besar yang pernah dimiliki oleh Indonesia, Syekh Nawawi al-Bantani.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman Nawawi al-Bantani. 1996. An Intelectual Master of the Pesantren Tradition, Dalam Studi Islamika, no. 3, vol. 3, Jakarta: INIS.
Bruinesen, Martin Van. 1995. Kitab Kuning (Pesantren dan Tarekat). Bandung: Mizan.
Chaidar. 1978. Sejarah Pujangga Islam Shaykh Nawawi Banteni. Jakarta: Sarana Utama.
Ensiklopedia Islam. 1994. Ensklopedia Islam Indonesia. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.
Huntington, Samuel P., 1996. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York: Simon & Schuster.
Wan Moh. Saghir. 2000. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah.
Karel A. Steenbrik. 1984. Beberapa Aspek Tentang Islam di indonesia Abad 19. Jakarta: Bulan bintang.
Wan Mohd, Saghir. 2000. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah.
Zamakhsyari Dhofier. 2011. Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, Jakarta: LP3ES.