Friday, May 18, 2018

Momentum Reformasi Dunia Pendidikan


Kesenian
arifsae.com - Bagaimana kita memandang dunia pendidikan saat ini? Banyak kalangan mengklaim semakin berkembang, ada juga yang menyebut stagnan, bahkan ada yang mengira mundur kebelakang. Yang jelas, kita mempercayai tujuan akhir dari pendidikan adalah sebuah kunci untuk mebuka babak kejayaan suatu bangsa. Jangan pernah bermimpi menjadi negara besar apabila problem yang menjerat dunia pendidikan tak kunjung terselesaikan dan dituntaskan.

Saat ini, masih banyak data menyebutkan berbagai masalah yang menjerat pendidikan kita. Survey dari TIMS and Pirls menempatkan kualitas pendidikan kita di posisi 40 dari 42 negara. Sedangkan hasil penelitian World Educatioan Forum, dibawah naungan PBB, Indonesia menempati posisi 69 dari 76 negara. Selanjutnya, The Learning Curve menempatkan posisi Indonesia diposisi paling bawah dari 40 negara yang diteliti.

Melihat berbagai survey itu, sungguh miris. Meski data itu tidak bisa digeneralisir bahwa dunia pendidikan kita gagal total. Masih banyak sisi kebaikan dan kesuksesan yang sudah ditorehkan dalam lingkungan pendidikan hingga kini. Soal progresivitas mutu pendidikan memang selalu menimbulkan perdebatan diranah publik.

Seperti saat peringatan Hari Pendidikan Nasional tiba. Momentum ini merupakan kesempatan bagi berbagai kalangan berdiskusi dan menyampaikan argumen untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Apalagi, pemerintah sudah sejak lama menaruh keseriusan untuk memajukannya, salah satu bentuk kongkitnya dengan anggaran APBN dan APBD sebesar 20 persen.

Reformasi Pendidikan
Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2018 menjadi momentum muhasabah, refleksi dan instropeksi diri. Tujuannya untuk menerawang kedepan demi terwujudnya cita-cita pendidikan nasional yang sudah didambakan. Salah satunya dengan menekankan pendidikan karakter peserta didik dan mereformasi produksi guru.

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Peraturan ini ditujukan sebagai pemicu Revolusi Mental besutan Presiden Joko Widodo. Tentu dengan berkolaborasi antara satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat sebagai sebuah Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Tantangannya tidak hanya dari internal, namun juga dari eksternal. Menurut Mendikbud Muhadjir Effendy dalam sambutan Hardiknas 2018, mengingatkan tantangan eksternal abad ini dengan hadirnya Revolusi Industri 4.0 yang bertumpu pada cyber-physical system. Revolusi ini sudah mengubah multidimensi kehidupan, ditandai dengan peralihan secara besar-besaran pola kerja manusia digantikan dengan kecanggihan mesin-mesin cerdas.

Inilah salah satu pekerjaan rumah yang memerlukan langkah solusi, salah satu jalannya tentu dengan mereformasi pendidikan. Orientasi pendidikan harus bertumpu pada knowledge (pengetahuan) dan skills (ketrampilan) yang tertuju dan berdaya saing, revitalisasi kelembagaan, pengembangan ilmu yang strategis, kemajuan riset dan inovasi yang kompetitif. Untuk itulah, momentum kali ini menjadi pemantik api reformasi pendidikan kita.

Untuk mencapai cita-cita itu, pemerintah harus bersungguh-sungguh merawat guru dengan kebijakan-kebijakan yang pro-guru. Bagaimanapun, guru merupakan ujung tombak pendidikan. Pembenahaan tata kelola lembaga penghasil guru menjadi keniscayaan. Andaikata pemerintah merawat kualitas guru, maka guru akan memberikan pelayanan kepada muridnya dengan baik. Para guru dituntut untuk bersikap profesional, dan juga memegang kuat idealisme nya. Karena hanya guru yang ber-idealisme yang akan membentuk kemajuan peradaban.

Hari Pendidikan Nasional ini juga menjadi momentum untuk menciptakan dunia pendidikan sebagai tempat atau rumah yang menyenangkan bagi para peserta didiknya. Itulah sebabnya kita harus selalu optimis, dengan kualitas guru yang terus meningkat, maka akan berdampak pada lahirnya generasi penentu yang membawa terang arah masa depan negara ini.

Pemerintah, masyarakat dan seluruh insan pendidikan tetap tidak boleh melupakan isu perlindungan anak, baik secara fisik, psikis maupun seksual dilingkungan sekolah. Oleh karena itu, kita sambut ajakan menteri Muhadjir Effendy untuk bersama-sama mereformasi dan meningkakan kualitas pendidikan, baik dari sisi sistem, guru maupun peserta didiknya. Sehingga kedepan, cita-cita pendidikan yang kita dambakan akan benar-benar terwujud.[]