Thursday, December 17, 2020

Asal Usul Nama Kebutuhan dan Sekitarnya

Lapangan Kebutuh (dokpri)

arifsae.com - Desa Kebutuh berada di Kecamatan Bukateja. Asal usul nama kebutuh berasal dari cerita pada zaman Mataram. Sekitar tahun 1755 Kerajaan Mataram terpecah menjadi 2 wilayah yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasunanan Yogyakarta. 


Pada waktu itu Kasunanan Surakarta dipimpin oleh Sunan Pakubuwono III sedang Kasunanan Yogyakarta dipimpin oleh Sunan Mangkubumi I. Pada tahun 1756 seorang Kiai yang bernama Kiai Kerti Yudha dari keturunan Mataram merasa terusik di daerah Surakarta maka dia pergi mengembara untuk mencari ketenangan dan ketentraman hati serta menyebarkan agama Islam.


Perjalanan dimulai kearah Barat, sampailah ke suatu tempat dan dia mengadakan dakwah yang pertama berada di perbatasan barat Desa Kutawis, dia membangun sebuah langgar di pinggir sungai. Karena masih tlatah Padunungan Onje, Pagendolan, Banjarnegara maka sungai itu diberi nama Kali Onje. Karena kurang mendapat perhatian oleh masyarakat, Kiai Kerti Yudha hanya tinggal beberapa bulan saja disana.


Setelah itu dia melanjutkan perjalanan menuju arah selatan berbatasan dengan Desa Karangcengis. Beberapa saat berjalan sudah waktunya untuk salat, dan kebetulan dia melihat sungai kecil dengan tujuan akan berwudhu. Tapi tiba-tiba ada tiga orang yang tidak dikenal datang menghampiri yang tujuannya adalah untuk merampok. Dikarenakan Kiai Kerti Yudha mempunyai kesaktian, maka para perampok itu pun kalah dan lari terbirit-birit. Sebelum dia meninggalkan tempat itu Kiai Kerti Yudha memberi nama sungai itu dengan nama Kali Pejagalan.


Walaupun sudah malam dia terus melanjutkan perjalanan menuju kearah Barat, sampailah pada suatu grumbul yang berbatasan dengan Desa Penaruban, kemudian dia menemukan beberapa rumah yang bisa ia gunakan untuk istirahat. Setelah fajar mulai terlihat, Kiai Kerti Yudha bercerita tentang kedatangannya yang ingin berdakwah tentang agama Islam dan kebetulan orang-orang di dusun tersebut sedang membutuhkan guru ngaji. 


Kemudian Kiai Kerti Yuda mempunyai rencana, wilayah yang ditumbuhi Pohon Jati disekitar grumbul tersebut untuk dibabat atau ditebang dan dijadikan sebuah desa dan sekaligus membuat langgar atau mushola. Penduduk pun menyetujui rencana Kiai Kerti Yudha. Setelah pepohonan itu ditebang, grumbul tersebut diberi nama Grumbul Karangjati, dan membuat langgar dipinggir sungai yang kemudian sungai itu diberi nama juga Kali Karangjati.


Setelah beberapa lama warga sudah taat beribadah tapi para penduduk mengalami kesusahan yaitu wabah penyakit yang terus menular. Kemudian sang Kiai pergi kearah Utara yang berbatasan dengan Desa Krenceng, terdapat ladang yang masih berupa alang-alang, di tempat itu Kiai bertapa meminta wangsit agar warga Grumbul Karangjati yang sedang dilanda penyakit agar segera diberi kesembuhan. 


Di ladang tersebut Kiai bertemu dengan dua orang Kiai yang mempunyai tujuan sama yaitu Kiai Udan Teka dan Kiai Udan Terang. Setelah Kiai mendapat wangsit Kiai kembali ke Grumbul Karangjati, kemudian tempat bertapa Kiai diberi nama Pertapaan Padawaras dan sampai sekarang masih digunakan oleh orang untuk melakukan tapa.


Tetapi Kiai Udan Teka dan Kiai Udan Terang bertapa sampai meninggal, kemudian Kiai Kerti Yudha memerintahkan murid-muridnya untuk menguburkan dua Kiai tersebut di ladang Padawara dan sampai sekarang masih dipercaya oleh masyarakat sekitar. Bahwa kalau musim kemarau panjang agar hujan turun Makam Kiai Udan Teka dan Kiai Udan Terang diberi atap daun kelapa.


Melihat warga di Grumbul Karangjati sudah sehat kembali, Kiai meninggalkan para murid dan warga ke arah utara. Di sebelah selatan yang berbatasan dengan Desa Pandansari, di situ ada sekelompok penduduk yang kemudian diajak untuk melakkukan ibadah salat. Para penduduk sekitar menyambut Kiai dengan baik, semakin hari pengikut Kiai banyak kemudian membuat masjid menggunakan bambu dan daun kelapa. 


Kemudian grumbul para penduduk itu tinggal dinamakan Grumbul Kedung Wuluh yang artinya tempatnya orang yang sedang wudhu. Pada suatu hari ada sebagian murid pergi ke sungai untuk berwudhu, mendadak sungai tersebut banjir sampai ada satu orang yang terbawa banjir. Tiba-tiba orang yang hanyut tersebut terbawa arus air sungai yang berkelok-kelok.


Setelah berhasil mengajarkan ilmu agama di Grumbul Kedung Wuluh dan umur Kiai semakin tua, Sang Kiai pamit untuk pulang ke daerah Surakarta dengan mengajak 4 orang murid kinasih. Sebelum pergi sang Kiai melakukan semedi di sebelah timur Grumbul Kedung Wuluh. 


Setelah melewati waktu 7 hari bertapa sang Kiai memberi amanah kepada 4 orang muridnya, yang pertama setelah lama dia datang ke daerah ini untuk menyebarkan agama Islam dan mencari ketenangan lahir batin semuanya sudah terkabul maka sebelum sang Kyai pergi untuk selamanya daerah ini diberi nama oleh Kiai, Desa Kebutuh.


Kemudian yang kedua Sang Kiai meminta kepada 4 muridnya untuk dibuatkan liang lahat dengan ukuran untuk mengubur orang meninggal, serentak keempat murid terkejut dan mejawab untuk apa dibuatkan liang lahat. Sang Kiai menjawab untuk istirahat Kiai selama-lamanya, dan kemudian keempat murid bersama-sama menjawab sendiko Kiai. Amanah yang ketiga adalah, keempat murid disuruh untuk mencari sebuah benang dan mengikat tangannya sebelum dimasukkan ke liang lahat dan kemudian diurug seperti layaknya mengubur orang meninggal.


Setiap hari benang itu ditarik kalau masih berat dan tidak putus berarti sang Kiai masih di situ, dan seandainya benang itu ditarik putus berarti Kiai sudah mati atau sudah tidak berada di situ. Amanah pun sudah dilakukan oleh keempat muridnya, pada hari keempat betapa terkejutnya para muridnya, ketika benang ditarik kemudian putus tetapi anehnya bundelan yang diikatkan pada kedua tangan Kiai tersebut masih utuh. Kemudian kuburan tersebut dinamakan Kuburan Kiai Kerti Yudha, dan sampai sekarang kuburan tersebut masih ada.


Pada tahun 2000 pemerintahan Desa Kebutuh membangun pendopo balai desa yang diprakarsai oleh (Alm.) Bapak Bambang Triono yang menjabat sebagai Sekretaris Desa Kebutuh. Setelah pendopo jadi mengadakan perkumpulan tokoh-tokoh masyarakat dan para kesepuhan untuk membahas nama pendopo tersebut, atas kesepakatan semua elemen masyarakat untuk mengenang Kiai Kerti Yudha maka pendopo tersebut diberi nama Pendopo Kerti Yudha.

 

Sumber Referensi:

http://tunaspatriakbt.blogspot.co.id/…/sejarah-desa-kebutuh…diakses tanggal 8 November 2016.

Penulis Endah Rahha Setyowati


UNTUK MEMBELI BUKU ASAL USUL 80 NAMA DESA PURBALINGGA DISINI