Sunday, October 12, 2014

Asal Usul Desa Nangkasawit

Kantor Desa Nagka Sawit
Nangkasawit adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Batas-batas Desa Nangkasawit adalah sebelah Barat dan Utara Desa Pasunggingan (Kecamatan Pengadegan), sebelah timur Desa Martelu (Kecamatan Kejobong) dan sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Nangkasawit Gunung Kidul (Kecamatan Kejobong).
Cerita sejarah bermula pada abad ke-16, setelah hancurnya Kerajaan Majapahit, kemudian berdiri sebuah kerajaan yang bernama Mataram. Seiring masa kekuasaan Kerajaan Mataram, Raja Mataram memerintahkan para Musyafir untuk melanglang buana (melakukan perjalan) diseluruh pelososk Jawa dalam rangka menyebar luaskan agama Islam. Beberapa nama Musyafir yang ikut menyebarkan agama Islam adalah Jaka Mulya dan Emban Kepadangan beserta Istriya. Dalam perjalanannya sampai disuatu kawasan lahan yang masih Luwung (Indonesia: Lahan yang masih kosong), belum ada penghuni dan masih berupa kawasan hutan belantara. Sampai sekarang kawasan tersebut masih ada dengan nama Dukuh Luwung dan kondisinya masih tetap sepi seperti dahulu.
Selanjutnnya Jaka Mulya, Emban Kepadangan sampai di suatu tempat di tengah hutan dan mereka beristirahat sambil berfikir, kemudian timbul inspirasi bahwa tempat yang disinggahi sangat bagus untuk dihuni dan dijadikan sebuah Desa, sampai sekarang lokasi tersebut oleh warga disebut dukuh NDESA yang sekarang menjadi pusat pemerintahan desa.
Setelah merasa cukup beristirahat, keesokan harinya Jaka Mulya, Emban Kepadangan berjalan menyusuri seluruh kawasan hutan hingga akhirnya sampai disuatu lokasi tepi sungai, disinilah Jaka Mulya dan Emban Kepadangan merasa telah menemukan tempat yang strategis untuk membangun Padepokan (tempat untuk melaksanakan kegiatan Da’wah). 
Akhirnya mereka membangun sebuah Padepokan sebagai tempat Da’wah dalam rangka menyebaran Agama Islam. Di Padepokan inilah istri Jaka Mulya dan Emban Kepandangan tutup usia dan dimakamkan disekitar lokasi Padepokan, makam keduanya kemudian disebut “PESAREHAN DEPOK”. Makam tersebut hingga sekarang masih ada dan terawat dengan baik oleh penduduk sekitar.
Setelah keinginan Jaka Mulya, Emban Kepadangan beserta istri membangun Padepokan terwujud, keberadaan tempat padepokan tersebuat mulai terdengar oleh orang orang dari luar kawasan hutan ini, sehingga para warga berdatangan untuk membuktikan kebenaranya bahwa ditengah hutan telah berdiri sebuah Padepokan yang dibangun oleh sorang pendatang baru/Musyafir. Seiring berjalannya waktu atau hari demi hari makin banyak pengunjung yang berdatangan dari luar daerah, saat itulah Jaka Mulya, Emban Kepadangan mulai melaksanakan kegiatan Da’wah tentang ajaran Agama Islam, ternyata para warga yang datang dari luar merasa betah untuk tetap tinggal di kawasan ini. Warga yang tadi sudah betah menempati padepokan itu akhirnya mereka menjadi santri selanjutnya Jaka Mulya, Emban Kepadangn dan santri mulai membenahi kawasan ini untuk dijadikan tempat tinggal permanen dan bercita cita membangun sebuah Desa. 
Hari demi hari mereka lewati, mereka membutuhkan makanan, sehingga guna memenuhi kebutuhan bahan makanan, para Santri Padepokan mencari bahan makanan ke Wana (Hutan) sebelah timur, hingga berhasil menemukan satu satunya pohon yang buahnya berbau harum dan belum diketahui namanya, kemudian warga beramai-ramai saling berebut untuk mendapatkan buah tesebut, sehingga menimbulkan pertengkaran, sampai sekarang kawasan ini disebut warga dengan sebutan DUKUH WANARAME, kata tersebut berasal dari peristiwa dimana para warga mencari bahan makanan dihutan secara beramai ramai dan saling berebut untuk mendapat buah yang telah ditemukan di Wana (hutan). Hal tersebut menyebabkan pertengkaran, satu diantara mereka yang bertengkar kemudian ada yang melapor kepada Jaka Mulya dan pada saat itu juga Jaka Mulya langsung mendatangi mereka yang sedang bertengkar kemdian mereka diajak mulih (Pulang) ke suatu tempat di Gunung Kidul (bukit selatan) untuk di damaikan, sehingga sekarang kawasan ini disebut DUKUH GUNUNG KIDUL.
Dilokasi perdamaian warga, kemudian Jaka Mulya beserta para santri membangun Pesanggrahan (Tempat tinggal dan tempat untuk melaksanakan segala kegiatan), sampai dengan akhir hidupnya Jaka Mulya tetap tinggal di Pesanggrahan yang telah dibangunnya, dan dimakamkan di area lokasi Pesanggrahan. Makam Jaka Mulya dan beberapa santri kepercayaan sampai sekarang masih ada dan dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan PESAREHAN KEMULIYAN, kata yang berasal dari peristiwa diajak mulih atau bali atau pulang mereka yang bertengkar berebut buah sebagaimana diceriterakan diatas, karena berasal dari Nama Jaka Mulya dan berkat keberhasilannya mendamaikan warga untuk mencapai Kemuliyaan, kedamaian, hidup rukun, saling hormat menghormati satu sama lain.
Pesarehan Kemuliyan sampai sekarang masih ada dan terawat dengan baik serta dikeramatkan oleh warga setempat dan banyak dikunjungi para peziarah dari luar daerah yang diyakini mereka dapat membawa barokah atas Ridho Alloh SWT. Setelah tercapai perdamaian, warga setempat dapat hidup rukun saling bahu membahu, sesuai inspirasi dan cita-cita menjadikan suatu Desa dikawasan yang telah dihuni selama bertahun – tahun, semua warga sepakat untuk membangun desa, tetapi mereka masih bingung mengenai nama desa ini, kemudian timbul gagasan setelah mengingat peristiwa yang telah dialami yaitu peristiwa awal mulanya dapat menemukan (Minangka Lantaran Nemu) menemukan bahan makanan, yaitu menemukan buah yang hanya ada satu pohon (sa' wit atau se' wit) yang ditemukan di wana (hutan), sehingga Desa ini diberi nama“DESA NANGKASAWIT”, yang berasal dari rangkaian kata minangka dan sawit”. Demikianlah cerita singkat tentang Sejarah dan Asal Usul Desa Nangkasawit, semoga bermanfaat.

Sumber Referensi: 
Nangkasawit.desa.id yang diakses pada tanggal 14 November 2016.
Rafi Dimas Hendrawan, XI IPS 1 16/17

Saat ini berprofesi jadi BTW, Kadang jadi BLOGGER, yang pasti jadi TEACHER dan semoga jadi WRITER;)