Tuesday, September 27, 2016

MUSEUM IN EDUCATION: SOLUSI PROMOSI DENGAN BERBAGAI VARIASI





    Pada masa sekarang, museum sudah mengalami perubahan yang dengan cepat. Museum sudah tidak mau dinamakan sebagai ‘gudang’ tempat menyimpan barang-barang yang bernilai historis, tetapi museum sudah bertransformasi menjadi tempat multifungsi, seperti tempat edukasi, peneltian, atau rekreasi oleh masyarakat. Sebagai tempat edukasi, seharusnya museum menjadi tempat pembelajaran dimana pengunjung memperoleh pengalaman yang menyenangkan.
    Saat ini, setidaknya museum sudah berhasil menarik minat masyarakat untuk berkunjung. Hal ini mengindikasikan bahwa meseum hingga saat ini menjadi alternatif baru bagi masyarakat untuk menghabiskan waktu senggangnya. Kenaikan ini juga dialami oleh Museum Ranggawarsita.
   Museum Ranggawarsita menjadi salah satu wisata edukasi, museum ini terletak di Jl. Abdurahman Saleh No 1 Semarang Jawa Tengah. Museum ini berada tidak jauh dari bandara International Ahmad Yani Semarang, tepatnya berada di sebelah bundaran Kalibenteng, dan hanya berjarak kurang lebih 4 KM kebarat dari pusat kota.
    Hingga saat ini, permaslahan yang masih menjadi kendala untuk menjangkau semua kalangan mayarakat dan meningkatkan kualitas pemahaman pengunjung masih tetap terasa, jadi Museum Ranggawarsita harus memiliki strategi yang jelas dan mengakar kepada semua lapisan mayarakat. Pertanyaanya, strategi apa yang ditawarkan untuk memajukan kualitas  dan kuantitas pengunjung di Museum Ranggawarsita?

Strategi Promosi
     Strategi promosi dengan strategi edukasi merupakan strategi yang menuntut cara belajar yang aktif dengan melibatkan semua pengunjung dengan segala pengalaman yang mereka miliki. Strategi ini disajikan dengan konsep edutainment, salah satu jalannya yaitu dengan berani keluar ‘kandang’ dan mencari ‘mangsa’ yang lebih luas. Dalam promosinya, Museum Ranggawarsita tentunya harus melihat karakteristik, keinginan, dan kebutuhan calon pengunjung atau masyarakat.
   Strategi pomosi yang harus dilakukan dalam membuat program-program dengan muatan edukasi dan hiburan yang seimbang. Program ini ada yang dilakukan didalam museum atau diluar museum. Berbagai cara promosi ini harus dicoba sebagai salah satu variasi, setiap variasi harus diyakini bisa menjadi daya tarik tersendiri. Berikut akan dijelaskan beberapa trategi baik dari dalam maupun dari luar museum.
     Perama, dari dalam dalam museum. Salah satu jalannya dengan cara diskusi, dan pameran tetap. Promosi dengan pameran tetap tentu menjadi hal mutlak, karena memang setiap museum seprti itu. Namun untuk membuat pengunjung nyaman, alur museum ini harus sistematis dan terstruktur. Artinya, alur cerita dari peristiwa sejarah harus jelas, sehingga pengujung tahu arah pergerakan mereka ketika berkunjung dari sajian satu kesajian yang lainnya, walaupun tidak dengan bantuan guid. Tentunya untuk mencapai hal semacam itu harus ada upaya selalu mengganti informasi pada label koleksi secara berkala.
Selain pameran tetap, pihak museum juga harus mengadakan diskusi atau workshop, yang dilakukan dengan perencanaan yang matang. Misalkan apabila diskusi tentang konevrsi kertas/buku-buku langka, museum dapat menjalin kerja sama dengan perpustakaan nasional untuk mendatangkan konservator kertas yang akan memberikan informasi tentang seluk beluk kertas tersebut. Selain diskusi atau workshop diatas, museum juga harus mengambil tempat pada acara-acara khusus tiap tahunnya. Misalkan ada hari kebangkitan nasional, maka bisa saja mengadakan diskusi tentang film-film perjuangan, semisal film Tjokroaminoto, Soekarno dan lainnya.
Kedua, diluar museum dengan museum keliling. Museum keliling ini bisa berjalan kalau ada kerjasama antara institusi yang lain, semisal dengan sekolah-sekolah. Selama ini hanya terkesan kalau museum datang kesekolah pasti hanya berkutat dengan penyuluhan formal yang kadang membosankan karena hanya bersifat teori. Kali ini cobalah sekali-kali koleksi museum dibawa langsung kesekolah-sekolah agar siswa dapat melihat secara langsung (tentunya koleksi museum harus dilindungi dan tidak sembarangan dipergunakan). Hal ini akan menjadikan museum lebih hidup, karena mau menjemput bola dengan mendatangi masyarakat langsung.
      Selain datang kesekolah-sekolah, museum keliling ini juga bisa ditampilkan kedalam sebuah kendaraan bus dengan koleksi yang sudah ditata sedemikian rupa (asli atau replika) agar semua orang dikeramaian mengetahui ada museum keliling yang bisa dijangkau masyarakat yang jauh dari museum. Selain kendaraan bus, museum keliling juga harus berani merambah kedalam pusat perbelanjaan, misalnya. Kerjasama dengan pihak mall harus selalu dikedepankan, dan yang tentunya keamanan koleksi harus selalu terjamin.
    Apabila berbicara mengenai promosi didunia luar, tentunya tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi zaman sekarang. Konsep edutainment yang memadukan unsur pendidikan dan hiburan ini disampaikan dengan teknologi digital yang dibuatkan dengan aplikasi khusus. Semisal aplikasi atau permainan yang bisa diunduh di play store, sehingga semua kalangan masyarakat bisa mengunduh dan mengoprasikannya di smartphone. Aplikasi dan permainan ini tentunya harus mencakup tentang koleksi museum yang dipadukan dengan edukasi, semisal permainan menyusun puzzle atau petualangan yang berkaitan dengan museum dan lain sebagainnya.

Harapan ke Depan
Sebagai sebuah museum, visi utamanya adalah untuk tersampaikannya misi pendidikan kepada masyarakat luas. Pengunjung harus bisa mengambil maknanya dan menjadikan sebuah proses pembelajran. Agar museum dapat menyesuaikan terhadap semua kalangan, maka diperlukan strategi edukasi yang digunakan untuk masyarakat dan pengunjung secara luas.
Tentunya berbagai program itu harus juga ditunjang oleh beberapa elemen penting, selain promosi dari dalam dan luar museum, juga tidak kalah pentingnya adalah fasilitas yang mendukung dengan didukung staf museum yang ahli dengan merekrut staf museum atau mengutus duta museum yang profesional. Semua elemen itu harus sinergi dan diintegrasikan kedalam produk museum shingga dapat menambah nilai jual bagi para masyarakat dan menambah nilai edukasi bagi para pengunjung.
Akhirnya, museum sebagai tempat multifungsi ini akan segera terrealisasi jikalau semua elemen tadi bersinergi. Sehingga kedepan, museum tidak hanya menjadi tempat ‘penitipan’ barang yang bernilai sejarah, namun benda-benda itu menebar makna kepada siapa saja yang melihatnya dengan berbagai fasilitas dan upaya kerjasama yang dilakukan oleh berbagai pihak.