Monday, January 2, 2017

Asal Mula Perayaan Tahun baru 1 Januari

Pergantain Tahun Baru (Sumber Gambar)
Tahun baru selalu dirayakan setiap akhir tahun, pesta-pesta disiapkan, kembang api dipertontonkan, keramaian menjadi hal biasa. Dari anak muda, sampai orang tua. Dari bakar-bakar ikan sampai berpesta pora, semuanya bersuka cita menyambut kedatangan tahun baru. Ada juga beberapa pihak yang “ketat” dengan pendirian mereka, dan tidak mau merayakan pergantian taun ini. Semua sikap tadi, harus kita hormati, karena kita negara bertoleransi.
Namun, tahukan? Darimana sebenarnya asal mula perayaan pergantian baru setiap tanggal 1 Januari? Mari kita bahas bersama. Menurut Borgna Brunner, penulis artikel sejarah yang saya kutip dari suryamalang.tribunnews, berikut ringkasan dan analisisnya.
Sebenarnya, perayaan tahun baru yang dirayakan setiap tanggal 1 Januari merupakan hal baru dalam sejarah umat manusia. Bukan pesta yang sudah dirayakan dari sejak umat manusia ada. Namun ada perayaan-perayaan yang selalu dirayakan oleh berbagai umat manusia diberbagai belahan bumi. Sejarah perayaan tahun baru yang paling tua diketahui berada di Mesopotamia (kini negara Irak), yang terjadi sekitar tahun 2000 SM (Sebelum Masehi). Masyarakat Mesopotamia merayakan festival 12 hari untuk tahun baru Assyria pada vernal rquinox. Kalau kita saat ini merayakan pergantian tahun pada bulan Januari, bangsa Mesopotamia pada waktu itu merayakknya pada pertengahan bulan Maret.
Mengapa perayaanya pada bulan Maret? Karena para bulan Maret ini terjadi pergantian musim. Perayaan pada zaman kuno, memang identik dengan perayaan pergantian musim, seperti pergantian musim panas ke musim dingin, bukan seperti sekarang yang merayakan pergantian tahun dengan didasari penanggalan kalender. Dalam kasus masyarakat Mesopotamia, mereka merayakan pergantian tahun karena berakhirnya musim semi. Berbeda dengan bangsa Mesopotamia, bangsa Mesir dan Persia merayakannya karena datangnya musim gugur, sedangkan bangsa Yunani merayakan pergantian tahun karena datangnya musim dingin.

Asal Penanggalan Kalender
Bila bangsa-bangsa diatas merayakan pergantian tahun karena datangnya musim yang berganti, maka darimana pergantian tahun versi kalender saat ini? Perayaan yang berdasarkan kalender dibawa oleh bangsa Romawi. Tapi jangan harap sama dengan saat ini, ada perbedaan bulan, karena yang mereka rayakan pergantian tahun awalnya dirayakan setiap tanggal 1 Maret. Kok, 1 Maret?
Karena memang waktu itu, penanggalan awal yang digunakan bangsa Romawi hanya berjumlah 10 bulan, bukan 12 bulan seperti saat ini. Bulan-bulan yang saat ini juga berasal dari bahasa Romawi atau Latin. Seperti bulan September, berasal dari kata Septem, yang dalam bahasa Latin berarti ketujuh. Padahal saat ini, bulan September menjadi bulan ke-9. Begitu juga dengan bulan Oktober, berasal dari kata Okto, yang berarti delapan, namun kita ketahui saat ini Oktober menjadi bulan ke-10. Begitu juga dengan bulan-bulan selanjutnya, yaitu Novem, berbarti 9, dan Decem berarti 10.
Kenapa kalender Romawi berjumlah hanya 10 bulan? Sebetulnya pembuatan kalender Romawi dibuat oleh Rajanya yang pertama, yaitu Romulus pada tahun 753 SM. Kemudian pada tahun 700 SM, pengganti dari Romulus yaitu Numu Pontilus, merubah kalender yang sudah dibuat oleh Romulus. Dengan alasan, karena penanggalan yang dibuat oleh Romulus jumlah harinya terlalu sedikit, dan ternyata tidak cocok dengan kenyataan musim yang terjadi.
Dengan alasan itu, Numu Pontilus menambahkan 2 bulan tambahan, yaitu Januari (Ianuarius) dan Februari (Februarius). Meskipun penambahan bulan itu dilakukan, tapi ternyata perayaan pergantian tahun tetap dilaksanakan pada bulan Maret. Sampai sekitar tahun 153 SM perayaan tahun baru berganti menjadi tanggal 1 Januari. Kemudian pada tahun 46 SM, Julius Caesar juga mengenalkan kalender baru, Kalender Julian, yang didasarkan pada pergerakan matahari, kalender buatan Julius Caesar ini diklaim lebih baik dari kalender-kelender sebelumnya, namun tetap dengan perayaan taun baru pada 1 Januari.
Julius Caesar dan Penanggalan Juliusan (Sumber Gambar)
Kenapa dipilih 1 Januari? Dalam sistem pemerintahan Kerajaan Romawi, ada seorang pejabat bernama Consul, semacam dua perdana menteri yang memimpin administrasi pemerintahan, masa tugas mereka selam 12 Bulan. Diyakini, setiap tanggal 1 Januari ada Consul yang baru bertugas, maka masyarakat Romawi pun merayakan pergantian itu.
Perayaan itu dirayakan seterusnya, menariknya, pada abad pertengahan Eropa atau era setelah runtuhnya Kerajaan Romawi, huru hara perayaan tiap tanggal 1 Januari dianggap sebagai perayaan yang bertentangan dengan agama Kristen, agama mayoritas negera Eropa. Dewan agama Kristen di kota Tours, Prancis menghapus perayaan pergantian tahun pada tanggal 1 Januari. Dengan putusan itu, akhirnya perayaan tahun baru 1 Januari bergeser pada tanggal 25 Desember, 1 Maret, 25 Maret dan saat hari Paskah.

Pemakaian Kalender Gregorian, Sampai Sekarang
Pada tahun 1582, kalender buatan Julius Caesar kembali disempurnakan, kalender ini yang sampai saat ini digunakan, dari Januari hingga Desember. Nama dari kalender yang kita gunakan sekarang adalah Kalender Gregorian atau Kalender Masehi. Nama Gregorian ini didasarkan kepada pemimpin umat Gereja Katolik ketika itu, Paus Gregory XIII, yang meresmikan kalender itu pada Bulan Oktober 1582.
Kalender Gegrorian (Sumber Gambar)
Kalender ini dibuat oleh Christopher Clavius, seorang matematikawan dan astronom asal Jerman. Kelender ini kembali menggunakan 1 Januari sebagai tanggal pergantian tahun baru. Menariknya, meski sudah disahkan dan dipakai diberbagai negara Katolik di Eropa, ternyata tidak semua negara berbasis Kristen menggunakan penanggalan itu. Misalkan negara Inggris, tidak mau menggunakan tanggal itu sampai pada tahun 1752. Sebelum tahun itu, Inggris masih menggunakan perayaan tahun barunya pada bulan Maret.
Saat ini, pemakaian 1 Januari sebagai tanggal pergantian tahun baru bisa dikatakan sebagai perayaan universal, karena hampir seluruh dunia merayakannya. Meski ada beberapa negara yang tetap pada penanggalan menurut mereka, seperti negara-negara Islam di Timur Tengah yang berpedoman pada penanggalan Hijriah. Di Indonesia sendiri, kalendernya lunar (berbeda dengan kalender masehi), misalkan tahun baru Islam pada tahun 2016 atau 1 Muharam jatuh pada tanggal 2 Oktober dan pada tahun 2017 pada 21 September 2017. Agama Yahudi juga merayakan hal yang sama dengan Islam, dengan kalender lunar dan festival tahun baru mereka, Rosh Hashanah, biasanya antara bulan September dan Oktober. Begitu juga dengan kalender China yang lunar, yang biasanya jatuh antara 21 Januari dan 20 Februari.
Lalu kenapa ada semacam tradisi resolusi atau harapan setiap pergantian tahun? tradisi ini sudah ada sejak zaman bangsa Mesopotamia di Kota Babylonia, lalu tradisi ini menyebar dari satu kerajaan ke kerajaan lain. Orang-orang Eropa di jaman-jaman kuno, dimana negara-negara masih sangat tunduk terhadap suara gereja katolik, percaya bahwa dihari pertama pada tahun baru, harus diisi dengan mengenang kesalahan-kesalahan pada masa lalu, dan memikirkan bagaimana untuk bisa lebih baik ditahun yang akan datang. Demikain, semoga bermanfaat.


Saat ini berprofesi jadi BTW, Kadang jadi BLOGGER, yang pasti jadi TEACHER dan semoga jadi WRITER;)