Sunday, December 13, 2020

Asal Usul Nama Desa Kutawis

Kantor Desa Kutawis (dokpri)

arifsae.com - Ketawis sebuah desa yang ada di Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga Kutawis mempunyai beberapa dukuh/kelompok antara lain, Dukuh Kejawar, Gadog, Pandean, Brubahan, Limbangan, Kubang, Lebak, Mendiri, Karang Pucung, Bringkung, Munjul, dan Gunung. Kutawis bisa dikatakan desa yang luas yang berada di Kecamatan Bukateja. 


Batas wilayah Desa Kutawis di sebelah Utara adalah Desa Pandansari, Kecamatan Kejobong. Di sebelah Selatan adalah Desa Karanggedang, Kecamatan Bukateja. Di sebelah Timur berbatasan dengan Desa Karangnangka, Kecamatan Bukateja dan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Kebutuh, Kecamatan Bukateja.


Luas wilayah menurut penggunaan Desa Kutawis terdiri dari luas pemukiman 76.400 Ha, luas persawahan 107.000 Ha luas kuburan 30.239 Ha, luas pekarangan 103.600 Ha dan luas perkantoran 4816 Ha. Jadi total lahan Desa Kutawis adalah 322.055 Ha. Jarak Desa Kutawis ke Kecamatan Bukateja sejauh 7 km. Jika ditempuh dengan sepeda motor dibutuhkan waktu 15 menit. Jarak ke ibukota Kabupaten Purbalingga sejauh 18 km dan bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor selama 30 menit.


Nama Kutawis berasal dari cerita zaman Mataram yang memberikan tugas kepada seorang seorang pemuda untuk membabad alas (membuka lahan) di daerah yang sekarang bernama Kutawis, pemuda itu berasal dari daerah yang bernama Kajoran, sebuah daerah di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Intinya Kerajaan Mataram ingin memperluas daerah kekuasaannya sehingga memerintah pemuda untuk membabad alas. 


Pemuda tersebut membabad alas tidak hanya sendiri melainkan dengan beberapa temannya, nama dari pemuda tersebut adalah Jayadikrama. Setelah pemuda itu sampai di sebuah daerah yang memiliki dataran yang luas, pemuda bersama kawan-kawannya mulai untuk membabad alas.


Dalam membabad alas para pemuda tersebut menjumpai banyak beberapa sungai-sungai kecil, dan  dataran yang tinggi seperti bukit atau gunung, sehingga ada dukuh atau grumbul yang dinamakan dengan Dukuh Gunung. Para pemuda tersebut membabad alas ke arah Utara sampai menjumpai sungai besar yang tidak bisa disebrangi. 


Sehingga mereka membabad alas ke arah Utara, dan sungai tersebut yang menjadi batas Desa Kutawis dengan Desa Pandansari. Sungai itu bernama Sungai Kacangan. Setelah para pemuda tersebut telah membabad alas selebar 322.055 hektar dan dirasa itu sudah cukup untuk menjadi daerah perkampungan cabang dari Kerajaan Mataram, kemudian mereka beristirahat.


Ketika mereka pulang ke daerah Kajoran, seorang pemuda yang tadi, meninggalkan mekuta-nya di daerah tersebut. Mekuta yaitu semacam topi atau blangkon yang digunakan orang pada zaman dahulu seperti topi yang digunakan dalam tokoh pewayangan. Pemuda itu baru sadar mekuta-nya tertinggal ketika sudah sampai di daerah asalnya yaitu Kajoran. Pemuda itu ingin kembali ke daerah yang mereka babad untuk mengambil kembali mekuta-nya yang tertinggal. 


Teman dari pemuda itu mengatakan “Awis...Awis” yang berarti sudah tertinggal, dan temannya mengingatkan untuk tidak mengambilnya dikarenakan Kajoran ke daerah yang mereka babad alasnya jaraknya cukup jauh. Namun pemuda itu tetap ingin mengambil mekuta itu kembali.


Sampai akhirnya pemuda itu kembali ke daerah yang mereka babad dan menetap di daerah tersebut dan ia memberi nama daerah tersebut dengan nama Kutawis yang berarti Mekuta yang Awis atau blangkon yang sudah tertinggal. 


Di Desa Kutawis ada sebuah grumbul yang bernama Pandean, dinamakan Pandean karena pada sekitar daerah tersebut orang-orang banyak yang bekerja sebagai tukang pandai besi, sehingga orang-orang menyebutnya dengan Pandean. 


Sumber Referensi:

Wawancara dengan Hj. Mistar Dasirin pada tanggal 8 November 2016.

Desakutawis.blogspot.com diakses pada tanggal 7 November 2016.

Penulis Aji Muhammad Firdaus

UNTUK MEMBELI BUKU ASAL USUL 80 NAMA DESA PURBALINGGA DISINI