Thursday, March 22, 2018

Datang Sahabat di Waktu yang Tak Tepat || Hari Ke-227

arifsae.com - Pagi ini siap-siap mengajar di Andamy, tapi Pak Majid mengabari kalau mau main ke Terusan. Iya boleh-boleh saja, tapi di waktu yang tidak tepat ini. Untung saja, Bu Aji banyak sabarnya. Saya nanti ijin untuk menjemput ke Simpang Sapi, jadi pelajarannya olah raga saja.

Saya ke Andamy menggunakan motor. Disana anak-anak Andamy menyambut, kali ini saya ingin mengajarkan olah raga tenis meja. Sudah saya bilang kepada mereka, kalau ada yang pandai, bisa saya ikutkan untuk mengikuti Akppres 2018. Tapi mereka sepertinya membutuhkan waktu yang lebih banyak, masih sangat dasar.
Olah Raga di Andamy
Itupun tidak terlalu bisa, jadi tidak bisa di andalakan, apalagi untuk sebuah kompetisi antar CLC se-Sabah. Selesai jam 9, saya mengakhiri olah raga dan ijin kepada Bu Aji untuk menjemput Pak Majid. Saya menuju Simpang Sapi, benar-benar tidak tepat dia main.

Meski begitu, saya tetap menjemputnya. Kami makan terlebih dulu di Al Kafi, sambil makan sambil bercerita. Tidak masalah, karena memang tidak bisa terkejar mengajar di Andamy, kami makan sampai jam 1 siang. Bu Aji sudah mengingatkan untuk mengajar ke Terusan 1. Sudah lama tidak kesana, terlebih sejak Bu Aji kecelakaan.
Arisna Terusan 1
Saya mengantarkan Pak Majid ke rumah, biarkan dia sendiri, karena saya akan ngeround ke Terusan 1. Saya menjemput Bu Aji di Andamy, selanjutnya kami menuju ke Terusan 1. Cuaca yang mendung menjadi penyambut perjalanan kami, terlihat mau hujan. Dan ternyata benar, sesampainya di Terusan 1, kondisi hujan besar.

Anak-anak sudah menunggu, meski hujan, mereka semangat untuk belajar. Kami belajar seperti biasa. Selesai mengajar, kami langsung pulang. Menyusuri jalanan belakang, ada bagian hutan yang tersisa. Mungkin dijadikan sebagai kawasan untuk hewan liar. 
Elang di Pinggir Jalan
Dan ternyata benar, ada Elang besar menyambut perjalanan pulang kami. Sering saya lihat hewan-hewan di sekitar hutan kecil ini, terutama burung-burung besar yang bertengger di tepi jalan. Gagah, meskit tanpa rumah. Mungkin rumah mereka sebentar lagi juga akan di jadikan sawita. Semoga saja tidak.

Sesampainya di rumah, saya istirahat. Memasak kacang hijau, dan mengolah obrolan bersama Pak Majid. Dia juga mau belajar tentang blog, malam ini kami habiskan untuk ngeblog dan makan bubur kacang ijo. Nikmat.[]
Lanjut Hari Ke-228 DISINI.