Showing posts with label KOMPETISI. Show all posts
Showing posts with label KOMPETISI. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

The Great Scholar: Pembentuk Wajah Pesantren Dan Peletak Nilai Multikulturalisme

Juara 1 Menulis Artikel dari MUI Proinsi Banten

arifsae.com - Para petugas akan melakukan pembongkaran pada beberapa makam di pinggiran Kota Ma’la, Mekkah. Memang, setelah genap 3 tahun makam-makam harus di ‘normalisasi’ dengan cara dibongkar kemudian dipindahkan. Tidak perduli makam siapa itu, apakah makam pejabat tinggi atau rakyat jelata, semua sama.  Pada awalnya, semua berjalan biasa, namun terjadi peristiwa yang diluar logika. Terjadi kehebohan, semua petugas kaget tak percaya. Apa yang terjadi?

Ternyata para petugas penggalian kuburan menjumpai kondisi jenazah yang tak biasa ditemui pada jenazah umumnya. Bukan tulang-belulang, atau kain kafan kusut yang ditemukan, justru para petugas menyaksikan sebuah jenazah yang masih utuh, terlihat baru, dan tak kurang satu apapun. Disamping itu, tidak ada lecet apapun pada sosok mayat tersebut, bahkan kain kafan yang menutupi jenazah tak sobek sedikitpun.

Sontak saja peristiwa ini membuat gempar. Para petugas penggali kubur menemui atasan untuk melaporkan kejadian yang baru saja disaksikan oleh banyak orang itu. Setelah menerima laporan dari petugas penggali kubur, sang atasan kemudian mencari tahu, siapa orang dibalik makam itu. Setelah menyelediki, dan mencari tahu dari berbagai informasi, ternyata orang yang ada dalam makam itu bukan orang biasa, beliau adalah seorang ulama asal Banten yang pernah menjadi Imam Ulama Al-Haramayin (Imam Ulama Dua Kota Suci), beliau adalah Syekh Nawawi al-Bantani.

Nama besar Syekh Nawawi al-Bantani sudah mendunia. Beliau adalah pembentuk “wajah” pesantren saat ini. Lembaga pendidikan tertua di Indonesia ini tak bisa terlepas dari nama besarnya. Karyanya hampir tersebar diseluruh pesantren-pesantren tradisional di Indonesia. Syekh Nawawi al-Bantani merupakan salah satu peletak dasar nilai-nilai etis tradisi keilmuan pesantren, buah intelektualnya sangat berjasa dalam mengarahkan ideologi pesantren yang berada dibawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) hingga kini.

Dikalangan pesantren, Syekh Nawawi al-Bantani tidak hanya dikenal sebagai penulis berbagai kitab-kitab dari berbagai disiplin ilmu, beliau juga dijuluki  sebagai Mahaguru Sejati (The Great Scholar). Berkat murid-murid beliaulah, dikemudian hari akan lahir tokoh-tokoh intelektual yang berperan tidak hanya dalam agama, namun dalam memperjuangkan bangsa dan negaranya.

Syekh Nawawi al-Bantani  memilih murid dari berbagai latar belakang suku, ras dan golongan. Inilah yang kita sebut sebagai multikulturalisme. Nilai-nilai multikultural inilah yang saat ini masih relevan untuk di rawat. Perbedaan yang terjadi bukan menjadi alasan bagi adanya permusuhan, namun di jadikan sebagai modal membangun bangsa dengan spirit Bhinneka Tunggal Ika. Persatuan ini menjadi kebutuhan mutlak untuk menjawab tantangan zaman, mengingat realita bangsa ini yang terus dilanda cobaan des-integrasi. Persatuan inilah yang harus kita jadikan identitas bangsa saat ini hingga kiamat nanti.

Menurut Samuel Hotington (1996), identitas sebuah bangsa bisa menjadi hal yang bisa menyatukan atau bisa memisahkan. Identitas bangsa yang plural ini, apabila tidak disikapi dengan arif, bisa menjadi penyulut api permusuhan dan kobaran konflik. Oleh karena itu, kita patut belajar dari ulama sekaliber Syekh Nawawi al-Bantani dalam memahami sebuah persatuan dengan menguatkan identitas bangsa kita, salah satunya dengan melihat praktek multikulturalisme didunia pesantren. Tulisan ini mengangkat tentang kehidupan singkat Syekh Nawawi al-Bantani, sumbangan karya-karyanya dalam membentuk wajah pesantren Indonesia, dan peran pesantren dalam persatuan Indonesia.

Cahaya dari Tanara yang Mendunia
Generasi muda saat ini harus bangga, bahwa Indonesia pernah mempunyai ulama yang pernah mendunia. Nama lengkapnya adalah Muhammad Nawawi al-Syaikh al-Jawi al-Bantani atau Syekh Nawawi al-Bantani. Orang Indonesia lebih familiar dengan sebutan Kiai Haji Nawawi Putra Banten (Chaidar, 1978: 5).  KH Nawawi (akan digunakan kemudian, karena lebih ke “Indonesiaan”) lahir pada tahun 1230 Hijriah atau 1813 Masehi di Kampung Tanara, Serang, Banten. Ayahnya bernama KH ‘Umar bin Arabi dan Ibunya Zubaydah. Ayahnya seorang penghulu dan ulama di Tanara. Bila ditelusuri silsilah ayahnya, KH Nawawi masih keturunan Sunan Gunung Jati (Adurahman, 1996: 86). Lingkungan keluarga yang kental dengan nilai-nilai agama membuatnya memiliki pemahaman agama yang komperhensif dimasa mudanya.

Pondasi pendidikan yang diberikan oleh KH ‘Umar mencakup pengetahuan keislaman, seperti Nahwu dan Sharaf, Fiqih, Tauhid dan Tafsir. Setelah cukupi umur, KH Nawawi kecil melanjutkan ilmunya dengan berguru kepada Kiai Sahal, ulama Banten, dan Kiai Yusuf dari Purwakarta. Pada tahun 1826 saat usianya 13 tahun, ayahnya meninggal dunia, 2 tahun kemudian KH Nawawi dan saudarannya pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji. Di Mekkah inilah, KH Nawawi tinggal selama 3 tahun dan belajar kepada ulama-ulama besar disana, beliau berguru kepada Sayid Ahmad Nahrawi, Sayid Ahmad Dimyati, dan Ahmad Zayni Dahlan. Sedangkan di Madinah, KH Nawawi berguru kepada Muhammad Khatib al-Hanbali. Selain di Mekkah dan Madinah, beliau juga belajar kepada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Ensiklpedia Islam Indonesia, 1994: 24).

KH Nawawi pernah kembali ke Nusantara pada tahun 1831 Masehi, dan sempat mengajar diberbagai tempat. Namun, karena kondisi politik Nusantara waktu itu, akhirnya 3 tahun kemudian beliau pergi lagi ke Mekkah dan menetap disana hingga wafatnya. Ketika kembali ke Mekkah, beliau melanjutkan pemenuhan “dahaga” ilmunya pada guru-guru yang berasal dari Nusantara, seperti Syaikh Muhammad Khatib Sambas, Syaikh ‘Abdul Gani Bima, Syaikh Yusuf Sumulaweni, dan Syaikh ‘Abdul Hamid Dagastani, masih banyak yang lainnya (Saghir, 2000: 36-37). Dengan keputusannya menetap di Hijaz ini, beliau menuangkan ilmunya dengan berbagai hasil kitab-kitab yang sangat berguna bagi kehidupan Islam di Nusantara bahkan dunia Islam pada umumnya.

Dari pengalamannya selama melakukan rihlah selama 30 tahun, akhirnya KH Nawawi melakukan halaqa di Masjid al-Haram. Dengan berbekal ilmu dan kecerdasannya, KH Nawawi mendapatkan simpati dari murid-muridnya dan dari pembaca karya-karyanya. Murid-muridnya berasal dari berbagai penjuru negera, terutama dari Nusantara, seperti Suku Jawa, Sunda, Madura, Minang, dan lainnya. Dari pengajaranya di Mekkah ini, dikemudian hari murid-muridnya akan meneruskan perjuangan Islam di Nusantara dengan mendirikan pesantren-pesantren besar, seperti KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dari Jombang, KH Kholil dari Bangkalan Madura, KH Tubagus Ahmad Bakri dari Purwakarta, KH Ilyas dari Serang Banten, dan masih banyak murid-muridnya yang dikemudian hari yang mendedikasikan hidupnya untuk umat Islam di Nusantara.

Dalam melakukan pengajaranya, KH Nawawi dikenal sebagai seorang yang menjunjung nilai-nilai “demokratis”, beliau mau menerima semua ide dan pandangan dari murid-muridnya agar melatih mereka untuk berani mengemukakan ide dan gagasan yang membangun untuk umat (Ensiklpedia Islam Indonesia, 1994: 841-842). Beliau sangat menghormati segala bentuk perbedaan, inilah pelajaran yang sangat penting. Sebuah modal multikultural yang berbalut nilai demokratis yang saat itupun tidak dimiliki oleh para pejuang di Nusantara.

Disamping melakukan pengajaran, KH Nawawi juga menghasilkan karya-karya yang sangat banyak, hasil karyanya tidak hanya diakui oleh ulama Nusantara, namun dihormati pula di dunia Islam, terutama yang berkaitan dengan Mazhab Syafi’i. Memang tidak bisa dipastikan berapa karya KH Nawawi, karena terlalu banyak dan bahkan ada yang tidak terlacak. Namun yang pasti, karya-karyanya ditulis dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti Tafsir, Fiqih, Usul al-Din, Ilmu Tauhid, Akhlak dan Tasawuf, Sirah Nabawiyah, Tata Bahasa Arab, Hadist dan Akhlak (Bruinesen, 1995: 143).

Menurut Martin Van Bruinessen (1995: 236), pada era 90-an, karya KH Nawawi masih mendominasi kurikulum dilebih dari 40 pesantren besar di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, karyanya juga digunakan diberbagai wilayah Islam di Asia Tenggara, seperti Filipina, Thailand, dan Malaysia. Banyaknya karya yang digunakan diberbagai negara disebabkan kemampuan KH Nawawi menyederhanakan pengajaran yang mengandung hikmah sehingga bisa dijiwai oleh setiap pembaca. Keluasan ilmu yang dimiliki KH Nawawi membuat karya-karyanya diajarkan para Kiai dan disukai oleh kalangan santri sehingga masih menjadi rujukan utama hingga saat ini. Banyak kalangan yang menganggap KH Nawawi sebagai Imam Nawawi kedua. Imam Nawawi pertama adalah ulama besar yang membuat Syarah Shahih Muslim dan Riyadlush Shalihin.


Pondasi Membangun Negeri
Tidak bisa dipungkiri, pesantren merupakan tempat “kawah candradimuka” dalam pendidikan Islam dan tempat perkembangannya embrio bangsa Indonesia dalam menemukan jati dirinya. Pemahamaan ini dipertegas dengan kuantitas penduduk Indonesia yang 85 % merupakan muslim, dan Indonesia merupakan pemeluk muslim terbesar didunia. Tentu peran ini tidak bisa dilepaskan dari pesantren. Menurut Zamakhsyari Dhofier (2011: 100), mengkaji tentang Islam di Indonesia tidak akan lengakap apabila tidak menelusuri lembaga pesantren dan mengkaji karya-karya peletak pondasinya.

KH Nawawi merupakan tokoh dari Indoensia yang berkaliber dunia, sehingga beliau dipercaya mengajar di Mekkah al-Mukarramah dan menjadi Imam al-Haramayn (Imam ‘Ulama Dua Kota Suci, Mekkah dan Madinah). Setelah karya-karya KH Nawawi masuk ke Indonesia, wacana keislaman didunia pesantren mulai berkembang pesat. Menurut Van Brunessen (1995: 153), sejak tahun 1888 Masehi, pola intelektual pesantren berubah dengan drastis. Artinya, kesinambungan dan dakwah dalam tradisi pesantren sangat penting. Sumbangan besar KH Nawawi berada pada bidang ilmu tafsir, bahkah karyanya sudah dijadikan rujukan diberbagai wilayah Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, sejak tahun 1990 diperkirakan ada sekiar 22 tulisan karya KH Nawawi yang masih dipelajari.

Murid-muridnya terseber sebagai faounding father dalam menjaga pondasi Islam dan turut membidani kelahiran negara Indonesia. Seperti KH Hasyim Asy’ari yang mendirikan organisasi massa terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asy’ari termasuk murid yang memiliki semangat tersendiri untuk mengajarkan karya-karya gurunya di Nusantara, karena setelah belajar dengan K.H Nawawi di Mekkah, beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng, yaitu pondok pesantren paling berpengaruh di Indonesia pada abad-20. Ketika masa pendudukan Jepang, KH Hasyim Asy’ari tidak mau melakukan upacara Seikeri (membungkuk kebendera Jepang), sehingga beliau sempat ditahan oleh Jepang. Setelah merdeka, beliau diangkat sebagai Ro’is ‘Am (ketua umum) Masyumi pertama periode 1945-1947. Masa revolusi senjata, beliau sebagai jenderal yang membawahi laskar-laskar perjuangan, seperti GPII, Hizbullah, Sabillilah dan lainnya.

Kemudian, murid lainnya adalah KH Kholil dari Bangkalan Madura, yang terkenal dengan karomahnya. Sama seperti KH Hasyim As’ari, KH Kholil juga berperan penting dalam dunia pendidikan dan perlawanan terhadap penjajah. Dalam bidang pendidikan, beliau mencetak murid-murid yang memiliki integritas, berwawasan, dan tangguh. Selain itu, perlawanan terhadap penjajah dilakukan dibelakang layar, beliau selalu memberi suwuk (tenaga dalam) dan mempersilahkan pondoknya sebagai tempat persembunyian para pejuang.

Selanjutnya, KH Tubagus Ahmad Bakri dari Purwakarta. Seorang ulama dari tanah pasundan yang mendirikan pesantren As-Salafiyyah. Banyak karya yang juga dilahirkan oleh pemikirannya, masa hidupnya didedikasikan untuk mengaji dan membuat karya. Ada juga murid dari KH Nawawi yang berjuang secara fisik melawan kekejaman senjata, beliau adalah KH Wasit. KH Wasit memimpin pembrontakan di Cilegon pada tahun 1888 Masehi. Murid-muridnya tersebar hampir disejumlah pesantren diseluruh Indonesia.

Dengan kata lain, pesantren di Indonesia memiliki geneologi yang hampir sama meskipun berbeda daerah dan budaya. Pada waktu itu, polarisasi pemikiran modernitas yang sedang dikembangkan oleh Jammaludin al-Afgani dan Muhammad Abduh di Mekkah menjadi pemersatu ulama tradisional di Indonesia yang sebagian besar alumnus dari Mekkah dan Madinah. Dengan keterkaitan para ulama Nusantara ini, maka secara tidak langsung mempercepat penyebaran karya-karya KH Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi para Ulama Nusantara (Dhofier, 2011: 57). Besarnya pengaruh pemikiran KH Nawawi terhadap tokoh ulama di Indonesia membuat beliau dikatakan sebagai salah satu “poros” dari akar keilmuan pesantren dan NU.

Dari Pesantren untuk Indonesia
Sumbangan KH Nawawi yang paling dibutuhkan oleh Indonesia saat ini adalah nilai-nilai multikulturalisme ditengah maraknya paham disintegrasi bangsa. Nilai multikultural dari KH Nawawi bisa dilihat dari proses pengajarannya di Mekkah. Ketika beliau menerima murid, beliau tidak melihat dari mana asal suku, ras atau golongan, namun oleh beliau diterima dengan tangan terbuka. Pendapat yang berbeda dari murid-muridnya diterima sebagai kekayaan intelektual. Murid yang diterima juga dari berbagai tingkat intelektual, ada yang dari dasar pemulaan tata bahasa Arab, atau murid yang cukup pintar dan yang sudah mengajar ditempat mereka sendiri (Stennbrik, 1984: 117).

Hal ini menjadi pijakan dalam mengembangkan jatidiri pesantren khususnya dan jatidiri bangsa pada umumnya. Pesanten, sebuah lembaga pendidikan tertua di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah, kesadaran multikulturalisme disaat wacana itu masih diperdebatkan dilevel politik nasional, seperti Budi Utomo pada tahun 1908, organisasi pertama yang anggotanya berasal dari Prijaji Jawa saja. Oleh karena itu, kesadaran berbangsa yang saat ini mulai surut harus kita kuatkan lagi, dengan belajar dari kehidupan pesantren disekeliling kita. Memang ada sebagian kecil pesantren yang sudah terjebak dengan paham-paham “radikalisme”. Namun itu hanya sebagian kecil, karena sebagian besar kehidupan di pesanteren sangat kental dengan nilai-nilai multikulturalisme dan mendorong pembentukan jatidiri bangsa Indonesia.

Setidaknya ada tiga hal mendasar yang bisa kita lihat dan rasakan dari sumbangsih pesantren dalam usahanya membentuk jatidiri bangsa Indonesia, yaitu (1) secara geneologiis; (2) secara paradigmatis; dan (3) secara sosiologis. Pertama, secara geneologi, pesantrean sudah mengalami kontak secara langsung dengan penganut agama lain ketika masa Hindu-Budha di Jawa. Pesantren sudah memberikan contoh dengan baik, bagaimana berdialog dengan kelompok yang memiliki kepercayaan berbeda. Para founding father penyebaran Islam, Wali Sanga,  mengajarkan kepada kita, bahwa mereka tidak menghapus kebudayaan agama Hindu-Budha, namun justru mencari titik temu persamaan agama Hindu-Budha dengan ajaran agama Islam.

Kedua, secara paradigmatis. Dalam dunia pesantren, jelas terlihat nilai dan prinsip toleransi dan keterbukaan. Ajaran pesantren mengajarkan tentang toleransi terhadap perbedaan. Misalnya dalam pengajaranya, pesantern mengajarkan semua madzab ilmu fiqih pada para santri. KH Nawawi dalam melakukan pengajarannya juga selalu menerima pendapat yang berbeda. Dalam menghargai perbedaan ini, pesantren menampakan toleransi terhadap perbedaan yang terjadi antar pesantren dalam memahami teks hadits maupun Al-Qur’an yang disesuakan dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Pada bagian ini, pesantren menampakan wajah yang universal, atau Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Wajah universal ini ditransformasikan kedalam nilai-nilai lokal yang plural. Misalnya, pesanteren yang tumbuh didaerah Jawa, akan menampakan wajah keislamannya dengan nilai-nilai kebudayaan Jawa. Pesantren menyadari, tidak akan memutlakan suatu tafsiran, namun membiarkan berbagai tafsiran tentang keagamaan itu berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Kemudian yang ketiga, secara sosiologis. Pesantren sebagai sebuah komunitas sosial yang teridiri dari Kiai dan santri berasal dari berbagai latar belakang yang beragam. Hal ini memperlihatkan bahwa, realitas sosial pesantren juga sangat plural. Misalkan, pondok pesantren Tebuireng, Jombang. Disana santrinya berjumlah ribuan, berasal dari berbagai daerah, ada yang berasal dari Jawa, Madura, Kalimantan, Papua, dan dari seluruh daerah di Indonesia. Namun, dalam bingkai kehidupan dilingkungan pesantren tidak pernah terdengar “tawuran” bahkan terkesan sangat harmonis sehingga praktis tidak pernah ada pertikaian besar terjadi disini.

Ada pertanyaan, kalau pesantren sudah memberikan sumbangsih nilai multikulturalsime di Indonesia, tapi kenapa Indonesia saat ini justru banyak konflik dan permusuhan? Memang inilah ironi yang menyentuh hati nurani. Jawabanya, kita kurang belajar dari ulama dan sejarah bangsa kita sendiri. Paling penting yang perlu diingat, kita masih mempunyai mozaik dipesantren apabila kita memerlukan sebuah contoh arti sebuah persatuan ditengah perbedaan. Pesantren telah memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana menjalani kehidupan yang harmonis dalam atap perbedaan. Inilah esensi dari ajaran KH Nawawi dengan membentuk pondasi jatidiri bangsa lewat karya-karyanya yang diteruskan oleh para muridnya didunia pesantren.

Dengan semua teladan dari KH Nawawi, kita harus siap menerima keberadaan orang atau kelompok lain yang berbeda dengan kita. Dengan cara membiasakan diri seperti itu, hati kita akan terbiasa menerima perbedaan. Nafsu untuk mengejar kekuasaan akan terkalahkan dengan semangat persatuan. Tidak akan ada lagi ego untuk menonjolkan identitas kelompok sendiri, tapi semuanya akan saling menghormati. Bangsa ini harus belajar terhadap kesuksesan pesantren dalam mengimplementasikan nilai-nilai multikulturalisme. Kita harus belajar untuk saling belajar, bukan saling menghajar, pelangi terdiri dari banyak warna yang berjejer menjadi satu, jadi bukankan pelangi indah karena berbeda?


Sebuah Refleksi
KH Nawawi wafat ketika menginjak usiannya yang ke 84 tahun, tepatnya pada 24 Syawal 1314 Hijriyah/1897 Masehi. Beliau meninggal ketika sedang menterjemahkan kitab Minhaj al-alibin karya Imam Nawawi al-Dimshaqi. KH Nawawi dimakamkan ditempat tinggalnya disekitar Shi’ib ‘Ali Mekkah, tepatnya dipekuburan Ma’la, yang berdekatan dengan kuburan Ibn Hajar dan Asma’ binti Abu Bakar. Lewat kemasyuran namanya, KH Nawawi mendapat banyak gelar, diantaranya Sayyid ‘Ulama al-Hijaz (Pemimpin ‘Ulama Hijaz), AI-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni Ilmunya), A’yan ‘Ulama al-Qarn aI-Ram ‘Asyar Li al-Hijrah (Tokoh Ulama Abad 14 H), dan Imam Ulama Al-Haramayin (Imam Ulama Dua Kota Suci).

Semasa hidupnya, banyak karya-karya yang lahir dari ketinggian keintelektualannya. Tulisannya melintasi berbagai disiplin ilmu, beliau juga meneruskan tradisi ulama Nusantara dalam mentransformasikan gagasan keilmuannya melalui pengajaran kepada murid-muridnya. Perannya dalam menyebarkan Islam di Nusantara sangat berguna bagi arah pembentukan identitas bangsa kedepannya. Dengan pengajarannya di Mekkah al-Mukarramah, beliau berhasil menghasilkan murid-murid yang menjadi tokoh nasional dalam memperjuangkan Indonesia. Salah satu muridnya adalah Hadratul Syekh KH Hasyim Asy’ari, ulama pendiri Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi Islam terbesar hingga saat ini.

KH Nawawi merupakan ulama Rijal al-Dakwah yang jasa-jasanya sangat terasa untuk dunia Islam di Indonesia maupun dunia Islam pada umumnya. Dampak aktifitas dakwah yang dilakukan oleh KH Nawawi masih terasa sampai sekarang. Bahkan hampir semua Kiai Pesantren masih menggunakan karya-karyanya sebagai rujukan utama. Hal ini bisa ditelusuri dari geanologi keilmuan KH Nawawi terhadap wajah pesantren dewasa ini. Salah satunya adalah nilai-nilai multikulturalisme yang dipraktekan pesantren hingga saat ini.

Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia pada era globalisasi ini. Tantangan primordialisme dan cauvinisme saat ini mulai menjamur diberbagai daerah Indonesia. Oleh karena itu, kita harus menengok kebelakang sejenak untuk belajar tentang arti multikulturalsime dari seorang ulama besar yang pernah dimiliki oleh Indonesia, Syekh Nawawi al-Bantani.

Daftar Pustaka
Abdurahman Nawawi al-Bantani. 1996. An Intelectual Master of the Pesantren Tradition, Dalam Studi Islamika, no. 3, vol. 3, Jakarta: INIS.

Bruinesen, Martin Van. 1995. Kitab Kuning (Pesantren dan Tarekat). Bandung: Mizan.

Chaidar. 1978. Sejarah Pujangga Islam Shaykh Nawawi Banteni. Jakarta: Sarana Utama.

Ensiklopedia Islam. 1994. Ensklopedia Islam Indonesia. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.

Huntington, Samuel P., 1996. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York: Simon & Schuster.

Wan Moh. Saghir. 2000. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah.

Karel A. Steenbrik. 1984. Beberapa Aspek Tentang Islam di indonesia Abad 19. Jakarta: Bulan bintang.

Wan Mohd, Saghir. 2000. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah.

Zamakhsyari Dhofier. 2011. Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, Jakarta: LP3ES.
MUI Provinsi Banten

Friday, March 30, 2018

Dua Buku Sayembara Literasi

Model Naira bersama Dua Buku Sayembara
arifsae.com - Saya tetap tidak bisa dilepeaskan dari kebiasaan lama. Berburu lomba. Lomba kali ini diadakan oleh Badan Sayembara Gerakan Literasi, begitu sepertinya namanya.

Saya mengikutkan dua buku untuk diikutkan. Buku pertama berjudul "Usman Janatin dan Harun Tohir, Kisah Perjuangan Pahlawan Dwikora". Buku ini merupakan salah satu buku yang membahas perjuangan kedua prajurit KKO-AL, Usman Janatin dan Harun Tohir. 

Namanya sempat tenggelam beberapa dekade. Tulisan mengenai mereka juga sangat jarang diperhatikan oleh sejarawan. Berlandas semangat itu, buku ini hadir untuk melengkapi dan menambah referensi mengenai perjuangan Pahlawan Nasional Dwikora itu.
Buku Usman dan Harun
Kemudian buku yang kedua adalah buku yang berjudul Kemegahan Arsitektur Keraton Jawa. Dengan adanya buku ini, kita bisa belajar akan kemegahan bangunan yang pernah menjadi bagian sejarah Indonesia, bahkan sebelum negara itu merdeka. 

Melalui buku ini kita akan mengetahu bagian dan arsitekrut kraton Jawa, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Karena hanya dua keraton ini yang masih menjadi penjaga budaya Jawa yang masih tersisa hingga saat ini.
Buku Kemegahan Arsitektur Keraton Jawa
Semoga kedua buku ini mendapatkan nominasi, sehingga bisa dinikmati oleh kalangan banyak. Dan menjadi amal jariyah bagi penulis. Amin...[]

Saturday, October 14, 2017

“LINGKARAN DUSTA” DI TENGAH BANGSA YANG BHINEKA

SUB JUDUL : ANTI HOAX SANG PENDIDIK
Oleh : Susilowati S.Pd.
Guru Sejarah MAN Purbalingga 
Turn Back Hoax (Sumber Gambar: www.radioidola.com)

Saturday, October 7, 2017

SRIHANA-SRIHANI-SARINAH: Mencintai Seni dan Seni Mencintai

Sukarano, Sumber dari Kinara Vidya
Tahun 1946, hanya berselang satu tahun setelah Indonesia merdeka, ditengah kondisi politik yang tak menentu, Bung Karno berencana merayakan hari kemerdekaan yang pertama dengan pameran seni lukis. Untuk merealisasikan rencana pameran lukisan itu, Bung Karno meminta kepada salah satu pelukis asal Yogyakarta, Hendra Gunawan untuk mengadakan pameran seni lukis tunggal. Hendra Gunawan menyanggupinya. Pagelaran seni lukis itu dilakukan di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Bung Karno akan menghadiri acara itu dengan protokoler resmi. Namun ditengah persiapan pameran, Hendra menemukan ide “gila”. Ia mengumpulkan berbagai gelandangan yang bersiap dengan kostum asli kere para gelandangan. Para gelandangan ini menjadi tuan rumah pameran lukisan, tapi protokoler presiden menolaknya. Meskipun mendapat penolakan, Hendra Gunawan tetap kukuh untuk merealisasikan konsepnya.
Akhirnya pameran itu terjadi juga. Ketika pameran benar-benar dibuka, tersaji sebuah pemandangan drama. Bung Karno terperanjat keget luar biasa melihat pemandangan yang tak biasa didepan matanya. Namun, bukanya marah kepada Hendra, melainkan Bung Karno manggut-manggut seraya memeluk Hendra. Kejadian ini akhinrya membuat Bung Karno menitikan air mata. "Setiap orang berhak melihat lukisan saya. Dan saya berhak memperkenalkan karya-karya saya kepada siapa saja" kata Hendra. Bung Karno amat menghargai gagasan "gila" itu. Menurut Bung Karno, setiap ide dan gagasan dari para seniman, apapun bentuknya, dianggap mempunyai nilai-nilai kemanusiaan. Baginya, “Gagasan seniman juga merupakan obsesi dibenaknya sendiri, karena setiap ide-ide kesenian sesorang harus dihormati”.
Melihat sosok Presiden Pertama Republik Indonesia ini tak bisa terlepas dari dunia seni. Pada era akhir 1950-an, Bung Karno dianggap sebagai presiden yang paling banyak mengkoleksi karya seni, terutama lukisan. Seni lukis bagi Bung Karno merupakan kumpulan gairah-gairah dalam hidupnya, yang membuat sesorang terus mendapatkan suntikan energi jiwa muda dalam aliran darahnya. Itulah mengapa Bung Karno selalu terlihat kobaran semangat muda. Dalam kalimat pembukaan otobiografinya, tulisan Cindy Adam, “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, untuk menggambarkan dirinya, cukup menyebutnya “mahapencinta”.
Bung Karno memberikan kata simple untuk menggambarkan seluruh dirinya hanya dengan satu kata “mahapencinta”. Itulah Bung Karno. Ia sangat mencintai negaranya, mencintai rakyatnya, mencintai seni, bahkan mencintai banyak wanita. “Aku bersukur kepada Yang Maha Kuasa, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni”, begitu ucap Bung Karno. Saat ini, sebagian orang lupa melihat sisi lain diri Bung Karno tentang seni dan seni mencintai, timbul pertanyaan, dari mana asal kedekatan Bung Karno dengan seni lukis? Bagaimana sumber bakat Bung Karno tentang karya seni lukis ini, sehingga ia sanggup selain menjadi kolektor juga menjadi kreator. Selain itu, apa hubunganya karya seni dengan jiwa muda Bung Karno dalam sisi mencintai wanita? Mari kita bahas disini.

Kesenian dan Sarinah
     Bung Karno pernah berbicara kepada salah satu pelukis istana, Dullah, tentang asal bakat dan kecintaanya kepada seni berasal. “Ingat, aku adalah anak Ida Ayu Nyoman Rai, keponakan Raja Singaraja, wanita dari pulau Bali”. Dengan mantap Bung Karno menyebut bahwa ia masih ada hubungannya dengan Pulau Dewata ini. Kita tahu, Bali merupakan suatu ruang yang meproduksi sosial budaya original, yang memadukan antara masyarakat “tradisional” Indonesia bagian Timur dengan kebudayaan Jawa. Bali adalah “Pulau Seni”. Di Bali, kesenian memang tercipta dalam bingkai kerangka filosofis yang berhubungan dengan religiusitas dan ritual keagamaan. Bahkan, orang Bali bisa dikatakan pertama melihat seni ketika matanya membuka untuk pertama kalinya didunia.
      Di Pulau Dewata ini, ketika orang pertama lahir, ia sudah bersentuhan dengan benda-benda upacara yang bersifat artistik seperti cili, lamak, ubag-abig, canang, sarad, lukisan dan arsitekstur bangunan. Kesan itulah yang mungkin terasa ketika Ida Ayu Noman Rai mengandung Bung Karno. Artinya, dalam diri Bung Karno memang sudah menggeliat sebelum dilahirkan kedunia. Ketika tumbuh kembangnya Bung Karno, semakin terlihat jiwa seninya. Hal ini bisa dilihat dari pemilhian jurusan Arsitektur dalam memilih pendidikan tingginya. Bahkan di Ende, misalnya, Bung Karno pernah membuat naskah sandiwara untuk membunuh kesepiannya ditengah pembuangannya. Setidaknya ada 12 naskah yang ia tulis selama pembuangannya ini. Makanya tak heran, apresiasi Bung Karno atas karya seni tidak terbatas kepada karya-karya yang tercipta belaka, namun juga terhadap kreatornya. Hal ini bisa dipahami dari cerita Bung Karno dan Hendra Gunawan diawal pmbukaan tadi.
       Bung Karno dalam beberapa kali kesempatan pernah menegaskan, bahwa kalau ia tidak terjun kedunia politik dan menjadi seorang presiden, mungkin ia sudah menjadi seorang pelukis. Dengan kecintaanya dengan seni, meskipun sesibuk apapun agendanya sebagai seorang presiden, tetap saja bakat dan kecintaanya terhadap seni lukis tak bisa dilepaskan begitu saja. Dalam beberapa kesempatan, Bung Karno menerusukan beberapa kebiasaan mudanya menciptakan karikatur untuk Koran Pikiran Rakyat, Bandung. Biasanya Bung Karno hanya melukis disebuah kertas dengan cat air.
      Mungkin disini Bung Karno sadar, bahwa dunia politik akan sangat menguras pikiran dan terutama menyita banyak waktu. Maka dari itu, Bung Karno segera menempatkan posisinya sebagai seorang “kolektor”. Sebagai seorang kolektor, Bung Karno sering berburu karya seni maestro dunia, baik karya seni lukis maupun patung. Perburuan koleksinya biasanya dilakukan ketika Bung Karno berkunjung keberbagai Negara didunia. Bung Karno menyempatkan diri “mencuri” waktu untuk shoping lukisan atau patung. Begitu juga ketika Bung Karno berkunjung keberbagai wilayah di Indonesia, kebiasaan untuk berburu karya seni tetap dilakukannya.
     Seperti ketika Bung Karno datang ke Yogyakarta, ia menyempatkan untuk berkunjung ke Sanggar Pelukis Rakyat, atau ketika ia berkunjung ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Ketika ia berkunjung ke Bali, ia “menyusup” ke Ubud, menemui seniman Rudolf Bonnet dan Walter Spies sang pembentuk sejarah seni rupa Bali modern dengan mendirikan organisasi “Pitamaha” itu. Ia juga memuji karya lukisan Anak Agung Gde Sobrat, mengaggumi goresan Ida Bagus Made Poleng, atau menyaksikan berbagai karya Le Mayuer de Mafres seniman asal Belgia yang menikahi Ni Pollok, seorang model lukisannya sendiri. Bahkan ada kisah terpatri di Bali ketika Bung Karno berkunjung ke rumah seni Le Mayuer ini.
      Antara tanggal 15-17 Juni 1950 bersama tamu Negara yang juga teman dekatnya, Jawaharlal Nehru, ia mengunjungi Le Mayuer. Pada pertemuan ini, Bung Karno membawa rombongan berjumlah 40 mobil. Kunjungan itu dilakukan pada malam hari dengan konvoi mobil kepresidenan. Setelah pertemuan itu, pada bulan November 1950, Bung Karno pernah berkirim surat kepada Le Mayuer agar Dullah, pelukis istana, bisa belajar di studionya di Sanur. Dalam surat ini, tersirat kedekatan antara Bung Kano dan Le Mayuer begitu dekat. Dari hubungan pertemanan dengan Le Mayuer, Bung Karno mendapatkan 4 karya dari Le Mayuer, yaitu lukisan “kembar” yang berjudul Bermain dalam Kolam (1950-an), dan Kenikmatan Hidup I dan II (1956).
       Bung Karno begitu terpesona dan terinspirasi dengan berbagai karya seni dari Bali setelah mengunjungi berbagai galeri lukisan dari para maestro pelukis. Makanya ia terinspirasi untuk membuat studio seni rupa. Bung Karno berusaha menghidupkan minat masyarakat umum dan mengajak para pemilik modal sebagai pendorong bagi seniman lukis dan patung untuk berani berkarya karena sebagian mereka tidak punya modal yang banyak. Dari inisiatifnya ini, Bung Karno memunculkan nama Tjio Tek Djien, yang mendirikan studio dibilangan Ciledug, Jakarta, menjelang akhir tahun 1960. Disini banyak orang-orang yang bergabung, salah satu namanya adalah Trubus dan Lim Wasim yang kemudian hari dikenal sebagai seniman handal. Mereka digaji dengan gaji harian 1.000,- dengan ketentuan harus menyelesaikan satu lukisan setiap harinya. Bandingkan dengan honor Pelukis Istana yang kala itu bergaji Rp. 5.000,- per bulan.
      Untuk mendistribusikan, sosialisasi dan merangsang market seni rupa, Bung Karno mendorong para pengusaha mendirikan galeri. Maka di Sanur berdirilah Galeri Pandy milik James Pandy. Di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan juga berdiri beberapa Galeri lukis. Sementara itu, di Istana Kepresidenan juga dipampang berbagai koleksi lukisan Bung Karno, layaknya sebuah galeri. Tak jarang berbagai tamu asing, pejabat tinggi hingga para rombongan bintang film atau para diplomat asing yang ditunjukan soal lukisan sebelum memulai diplomasi. Dimata publik, Bung Karno dianggap sebagai sosok yang revolusioner dan penuh gairah, sehingga tak mengherankan koleksi Bung Karno dipersepsikan menyimpan paradigma “gelora politik, perjuangan, dan revolusi”.
      Namun, dibebrapa sisi, tafsiran itu justru keliru, karena banyak koleksi seni lukis Bung Karno justru yang terbanyak mengenai sesuatu hal yang cantik, dan itu ditemukan dari sosok perempuan. Selain koleksi lukisan wanita, juga terbanyak terdiri dari pemandangan alam, bunga-bunga serta abtstak benda mati. Sementara yang bertemakan perjuangan dan revolusioner tak lebih dari 10 % belaka. Bung Karno lebih mementingkan “teknik” ketika menentukan lukisan yang berkualitas. Karena dengan teknik, segala yang dikreasikan akan muncul dengan hasil keindahan. Ia pernah berucap, “A thing of beauty is a joy forever”, atau barang indah adalah kenikmatan yang kekal. Pepatah ini dipegang sebagai sebauh prinsip. Termasuk penglihatannya terhadap sosok perempuan, biarlah akan dibahas belakang.
       Sosok perempuan ini pernah menjadi fenomena ketika lukisan itu Bung Karno-lah sendiri yang meluksinya. Lukisan itu diberikan nama oleh Bung Karno dengan “Rini”. Menurut beberapa sumber, lukisan itu tercipta dari kunjungnya ke Bali. Ketika Bung Karno sedang beristirahat di Bali, ia mengajak pelukis istana Dullah. Seperti biasanya, Dullah mencoba untuk membuat lukisan. Sebelum membuat lukisan, terlebih dulu membuat sketch (garis-garis), namun kerangka lukisan itu ditinggalkan oleh Dullah karena kembali ke Jakarta. Beberapa bulan berikutnya, pada awal Desember 1958, Bung Karno kembali lagi ke Bali untuk beristirahat. Dullah sendiri tidak ikut serta. Selama 10 hari Bung Karno berada di Bali, disela-sela kegiatan, ia menyelesaikan sketch Dullah. Tentu saja dalam penyelesaian lukisan ini, Bung Karno menambah dan merubah sketch semula.
       Setelah jadi, lukisan itu diberi nama Rini. Beberapa sumber mengatakan bahwa Rini ini adalah Sarinah. Sosok perempuan yang pernah menjadi pengasuh Bung Karno ketika kecil. Sarinah merupakan salah satu perempuan yang berjasa memberikan pola asuh ketika Bung Karno kecil. Sosoknya yang lembut dan bercirikan perempuan khas Indonesia membuat sosoknya tak tergantikan. Tidak ada yang tahu pasti kenapa lukisan yang dibuat Bung Karno diberikan nama Rini. Menurut Soimun HP, lukisan yang sama dengan judul “Sarinah”, karena menurut Bung Karno, Sarinah merupakan ciri wanita Indonesia yang sesungguhnya.
      Dia menambahkan tentang versi lain tentang proses dibuatkannya luksian itu. Konon, ceritanya ketika Bung Karno sedang berada disebuah pantai di Bali, ketika seorang wanita lewat diboncengkan sepeda oleh tunangannya, entah mengapa, Bung Karno merasa tertarik dengan wanita tadi dan menawarkannya sebagai model dalam lukisannya. kemudian dua orang tadi diminta oleh Bung Karno untuk berhenti, gadis itu menerima tawaran Bung Karno. Gadis itu diminta menggantikan bajunya dengan kebaya yang lebih bagus yang dipinjamkan oleh Bung Karno pada saat itu juga. Sosok wanita tadi dipoles sedemikian rupa, dan ditata dirapikan, dan Bung Karno mulai melukis. Setelah selesai melukis, Bung Karno bertanya apa yang diingankan wanita itu sebagai imbalan. Wanita remaja tadi hanya meminta kemeja dan bahan celana untuk pacarnya. Keinginan ini diluluskan oleh Bung Karno disertai dengan sedikit uang.
      Beberapa kisah terbentuknya lukisan Rini menggambarkan sosok Bung Karno selain menjadi kolektor juga menjadi “eksekutor” dari sebuah karya seni. Kecintaannya terhadap seni juga terlihat dari sistem pemerintahanya. Seperti pembuatan lambang Negara Garuda Pancasila, Bung Karno punya andil besar didalamnya. Bahkan desain pakaian-pakaiannya, terutama jas khasnya, banyak yang ia desain sendiri. Termasuk kedalam penamaan-penamaan jargon nama-nama dalam sistem pemerintahannya sangat diperhatikan dan dipikirkan dengan baik-baik. Seni pemerintahannya juga terlihat dari berbagai kisah hidupnya. Bung Karno menegaskan, bahwa barang indah merupakan kenikmatan yang kekal. Inipun yang menjadi pegangan kehidupan pribadinya. Jiwa muda tetap menjadi geloranya ketika menempati pucuk pimpinan. Salah satunya dengan memperistri sosok wanita Salatiga, Hartini Sukarno.

Darah Muda dan Kisah Cinta
Kecintaan Bung Karno terhadap karya seni bisa dilihat dari beberapa koleksinya lukisannya, salah satu kecintaanya juga bisa dilihat dari sosok perempuan. Bahkan lukisan Rini yang dibuat oleh Bung Karno merupakan sosok wanita berkebaya yang sedang duduk manis. Selain sebagai pengaggum lukisan, Bung Karno juga merupakan “pengaggum” perempuan. Karena kegakumannya terhadap kecantikan ciptaan Tuhan ini, ia berusaha menjadi “pemilik” dari sejumlah perempuan. Dan memang beberapa perempuan yang diperistrikannya memang tergolong cantik secara fisik.
Dalam sosok seorang perempuan, sering juga membawa pengaruh terhadap kepemimpinan laki-laki. Mungkin kita masih ingat pada kisah tentang Presiden AS, Clinton membuat skandal dengan sekertarisnya, yang mengakibatkan Clinton nyaris kehilangan kursi kepresidennya. Atau kisah cinta yang akhirnya membuat sebuah bangunan masjid yang demikian megah dan indah demi seorang istri yang dicintainya, bangunan itu adalah Taj Mahal. Sukarno pernah didampingi oleh sosok perempuan cantik pada era 1930-1940 dalam sosok Inggit Gunarsih yang mengantarkannya kedalam pintu gerbang kemerdekaan.
Menurut Anhar Gonggong, ada 3 wanita yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan pribadinya. Dia adalah, Inggit Gunarsih, Fatmawati dan Hartini. Bila Inggit merupakan sumber kekuatan dan sumber energi ketika menghadapi perjuangan mengusir kolonial. Posisi Fatmawati, merupakan sebagai “ledy first” atau ibu Negara ketika berposisi sebagai seorang Presiden. Sedangkan perempuan ketiga adalah Hartini. Hartini tampil sebagai seorang perempuan dalam segala aspek manusia perempuannya itu.
Sebagai seorang janda, Hartini mendapatkan sambutan dan cercaan yang secara psikologi sangat berat. Pertemuan dengan Hartini didalam rumah Walikota Salatiga sangat berkesan oleh Bung Karno, Bung Karno lagi-lagi melihat “keindahan” hingga ia menulis sebuah surat yang salah satu bagian isinya, “Tuhan telah mempertemukan kita Tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir”. Namun, cinta antara keduanya akhirnya membawa kedalam sebuah pernikahan resmi. Meskipun berbagai cercaan kritik dihadapi oleh Bung Karno dan terutama kepada Hartini, tapi Bung Karno tetap mempertahankan. Mereka menggunakan simbol kesenian dengan menggunakan nama-nama samara dengan Srihana-Srihani. Srihana disimbolkan sebagai Bung Karno, dan Srihani sebagai Hartini.
Setelah mendapatkan Hartini sebagai salah satu istri resminya, hartini benar-benar membaktikan dirinya kepada sosok Bung Karno. Maka dia berusaha untuk memenuhi tugasnya, sebagai seorang perempuan, yang jadi istrinya dari orang besar. Dia menempatkan Hartini sebagai sosok yang memang layak dicintai, dan Bung Karno mendapatkan balasanya hingga akhir hayatnya. Itulah hasil “penglihatanya” untuk memilih sebuah keindahan ciptaan Tuhan. Itulah Bung Karno, memilih pasangan hidupnya dengan nilai-nilai seni.
Karena menurut Bung Karno, semuanya diimbuhi dengan seni. Diplomasi harus melibatkan seniman, mengatur rakyat harus dengan seniman, menata kota dan lingkunganpun harus dengan seniman. Hingga tahun 1965, koleksi lukisan Bung Karno tercatat lebih dari 2.000 buah. Koleksinya dari berbagai maestro dunia, seprti Diego Rivera, Ito Sinshui, William Russel Flynt, dan sebagainya.
Koleksi semua itu sudah tersusun dari sebuah buku. Pertama tahun 1956 dalam 2 jilid. Ahun 1961 terbit 2 buku selanjutnya, yang semuanya disusun oleh Dullah. Tahun 1964 muncul 5 jilid lain yang merupakan pelengkapan, karena koleksi Bung Karno terus bertambah. Buku ini disusun oleh Lee Man fong. Semua kitab itu mencantumkan sekitar 500 lukisan pilihan. Tapi Bung Karno menilai masih ada sekitar 500 karya pilihan lain yang patut dibukukan. Maka tahun 1966, untuk merayakan ulang tahun ke-65, direncanakan terbit jilid VI sampai X, susunan Lim Wasim. Namun, kerusuhan politik meletus. Bung Karno pun lengser.
Bung Karno wafat pada 20 Juni 1970, setelah empat tahun dalam "pengasingan". Kita tak tahu, Putra Sang Fajar ini redup karena sekadar sakit, atau lantaran selama 40 bulan dipisahkan dari dunia seni lukis dan istri-istrinya yang sebelumnya memberinya gairah hidup dan napas panjang.

Referensi:
Nugroho, Arifin Suryo. 2009. Srihana-Srihani, Biografi Hartini Sukarno. Yogyakarta: Ombak.
Majalah Intisari, “Bung Karno dan Seni Rupa”. Bulan April 2001. Online, http:// www.indomedia.com/intisari/2001/Apr/BK.htm diakses 20 September 2017.
Susanto, Mikke. 2012. “Presiden Sukarno dan Pelukis Le Mayuer di Bali”. Urna, Jurnal Seni Rupa. Vol 1, No. 2 (Desember 2012), Hlm. 107-213.
Ditulis oleh Osi Krismonika, untuk Mengikuti Lomba Esai tingkat Nasional, "Sukarno, Pemuda dan Seni" yang diadakan oleh Kinara Vidya Pada tanggal 25 September 2017. Tulisan ini mendapatkan Juara 1.
Osi Krismonika dan Ketua Kinara Vidya, Dr. Sri Margana

Friday, May 5, 2017

Perempuan: Perjuangan Emansipasi Dalam Kehidupan Kebangsaan

Thursday, March 16, 2017

Bercinta Dimana Saja, Sepuasnya, dan Dengan Siapapun Pakai HOOQ

Oke. Saya harus bisa menjelaskan kepada Istri dengan gamblang, kalau tidak, hidup saya dalam bahaya:( Memang Istri saya bisa dikatakan paling jarang menonton film dibioskop secara langsung. Dulu, kami memang sempat beberapa kali nonton di bioskop, tapi setelah menikah, kami jadi jarang kemana-mana, kan kata orang kalau “jodoh ga kemana”.;) 

Entah kenapa, ketika pulang kerja, Istri cerita kalau teman-teman kerjanya ngrumpi tentang film-film genre drama dibioskop yang dia belum tonton. Wajar saja, memang Istri saya suka film bergenre drama, apalagi kalau film-film India, alasanya si aktornya macho-macho. Huftt, kaya suaminya kagak macho aja, dalam pikiran saya bertanya, ada apa dengan Istriku?

Ada apa dengannya? meninggalkan hati untuk dicaci, baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa. Ada apa dengan cinta? tapi aku pasti akan kembali, dalam satu purnama, untuk mempertanyakan kembali cintanya, bukan untuknya, bukan untuk siapa, tapi untukku, karena aku ingin kamu, itu saja.

Kata-kata diatas jelas bukan kata-kata saya. Ada yang masih ingat dengan untaian kata-kata indah diatas? Yuppp...betul sekali, itu salah satu penggalan puisi dalam film AADC yang booming pada tahun 2002 silam. Puisi ini dibaca ketika Cinta di mobil setelah mengejar Rangga di Bandara yang mau terbang ke Amerika. Kalian masih ingat filmnya? 

Saya yakin masih ingat, karena film ini dikatakan sebagai kebangkitan perfilman Indonesia yang sebelumnya mengalami titik keterpurukan. Tahun 2016 kemarin seri AADC 2 juga sudah diproduksi. Jadi penasaran selama 14 tahun terjawab sudah, Cinta dan Rangga akhirnya hidup bahagia:)

Dulu, saya benar-benar terharu sama film AADC ini, itu karena ada kenangan pribadi didalamnya #upsttt. Jangan keras-keras, nanti Istri saya dengar. Saking berkesannya, sampai saat ini pun saya masih menyimpan VCD film AADC, kalau ga percaya nih...
VCD AADC (Dok. Pribadi)
Keren kan? Saya jadi teringat dulu, ketika awal tahun 2000-an. Kalau mau menonton film ke Bioskop, saya harus merogoh kocek dalam-dalam dan menempuh jarak yang tidak dekat. Ditempat saya (Purbalingga), Bioskop terdekat itu jaraknya sekitar 50 KM yang letaknya ada di Kabupaten tetangga, tepatnya di Kabupaten Banyumas, Kota Purwokerto. Lumayan jauh kan?

Namun sayang, akhirnya saya tidak bisa menonton film AADC kebioskop secara langsung. Lagian tahun 2002 saya masih SMP, masih unyu-unyu;) Jadi tidak mungkin saya ke Purwokerto untuk menonton Film AADC itu. Selain jarak yang jauh, saya juga belum punya SIM. Terlalu banyak resiko. Disamping itu, menonton ke bioskop waktu itu merupakan hal yang masih mewah.

Yaa... Alternatifnya, kita harus membeli alat-alat yang seabreg untuk menonton sebuah film. Saya masih ingat, saya dibelikan VCD Player oleh orang tua karena ingin menonton film AADC ini. Untuk menonton film dirumah, kita harus punya perlengkapan "tempur" lengkap biar mantap. 

Pertama, kita harus siapkan Televisi dulu, kedua, dan yang paling penting ya harus punya VCD Player tadi. Kalau mau lengkap sekalian, yang ketiga, harus beli spekker biar suaranya menggelegar. Dan yang terakhir tentunya harus beli VCD nya dong... Haduh, Haduhhhh... Kebayang kan ribetnya?
Ini nih, Peralatan Tempur kalau Mau Nonton Film (Dok. Pribadi)
Mungkin yang lahir akhir 80-an dan awal 90-an akan familiar dengan perlengkaan diatas. Kita harus rela berburu koleksi VCD untuk menonton film. Meskipun dulu ketika kecil, saya belinya yang bajakan #eehh (jangan ditiru ya), maklum, dulu kan masih anak sekolahan yang belum tau pentingnya beli film yang resmi dan original.

Saya yakin, kalian yang generasi saat ini sungkan untuk diajak ribet-ribetan mengumpulkan peralatan seperti gambar diatas. Apalagi dunia teknologi dan telekomunikasi saat ini sudah sangat maju. Hampir semua orang sudah memegang smartphone. Sebuah alat yang tidak hanya dijadikan untuk komunikasi, tapi juga menyajikan berbagai hiburan. Termasuk salah satunya untuk menonton film. 

Nah, kembali lagi pada keinginan Istri yang mau menonton film ke bioskop diawal. Saya teringat kepada seorang teman, kebetulan beberapa minggu sebelum Istri ngajak nonton film kebioskop, ada teman kerja yang memberitahukan sebuah aplikasi yang menawarkan “bioskop dalam genggaman tangan”. Hah? Masa si? Dalam benak saya bertanya, masa bioskop dalam genggaman tangan? aah, ini pasti HOAX, pikiran saya diawal. 

Teman kerja saya memang maniak sekali nonton film, kalau ada film rilis di bioskop, pasti dia rela berburu film baru. Meskipun, dia rela merogoh kocek untuk menonton film terbaru itu. Hingga diawal tahun 2016 kemarin dia menemukan sebuah cara yang menurut istilahnya “bioskop dalam genggaman tangan” itu. Tanpa ribet, mudah dan murah. Jadi penasaran, saya pun mendapatkan jawaban setelah bertanya kepadanya, bagaimana cara mendapatkan bioskop dalam genggaman tangan itu?

Ternyata jawabannya sangat simple yang tersusun dari 4 rangkaian huruf, H+O+O+QHOOQ? Apa itu HOOQ?

Penasaran saya bertambah, karena ingin tahu lebih dalam, akhirnya saya coba browsing sendiri. Dan saya diarahkan kepada berbagai banyak informasi mengenai HOOQ dan keunggulannya. Ternyata, HOOQ hadir di Indonesia memang belum lama, sekitar awal tahun 2016 kemarin. Bahkan sebelum merambah ke Indonesia, HOOQ sudah melalang buana terlebih dulu diberbagai negara, seperti Thailand, Filipina dan India dengan jumlah penonton 1,5 Milyar lebih.

HOOQ ini merupakan layanan video-on-demand (VOD), yang merupakan layanan streaming video dan bekerjasama dengan Singtel, Sony Picture Television dan Warner Bros serta lainnya. Tau kan Singtel? Raksasa telekomunikasi yang memiliki saham operator diberbagai belahan dunia, termasuk saham Telkomsel di Indonesia. Sementara Sony Picture dan Warner Bros merupakan media raksasa yang menghasilkan film-film sukses di Hollywood. 
Logo Singtel (Sumber), Warner Bros (Sumber), dan Sony Pictures (Sumber)
Sudah sering lihat logonya kan? Ini nih, yang lebih keren lagi dari HOOQ, tahun 2016 kemain, ternyata HOOQ meraih kemenangan dalam Glomo Awards yang merupakan bagian dari Mobbile World Congress 2016 di Barcelona untuk kategori Best Mobile App: Media, Film, TV dan Video. Jadi HOOQ memang sudah diakui dunia ya? Kereeen...

Dalam aplikasi HOOQ, kita bisa menonton ratusan hingga ribuan film-film menarik, lebih dari 10.000 lebih film's dan serial TV tersaji. Koleksinya jelas tersedia dari Hollywood, hingga Bollywood. Bahkan dari film kartun anak-anak hingga kategori dewasa tersedia. Genre-nya, jangan ditanya, di HOOQ kita dihidangkan 26 pilihan genremau pilih kolosal ada, horor tersedia, drama juga tertata dimana-mana. Kalau saya sih yang action lebih jos, tapi film drama juga maknyos

Loh, film lokalnya mana? Tenang saja. Di Indonesia sendiri, HOOQ sudah bekerjasama dengan kurang lebih 13 Entertainment kelas kakap yang setiap hari menyajikan film dilayar kaca TV kita. Misalkan saja MNC Contents, Multivision Plus, atau Transmedia, dan masih banyak lainnya. 
Logo MNC Contents (Sumber), Multivision Plus (Sumber), atau Transmedia (Sumber) 
Kalau logo-logo ini saya yakin pasti sudah familiar, karena setiap hari sering kita lihat. Inilah yang membuat koleksi film-film di HOOQ jadi lebih lengkap. Selain menyediakan film mancanegara, juga menghidangkan kearifan film lokal. Dengan kata lain, HOOQ menghadapkan kebijaksanaan dan keseimbangan dalam sajian koleksi filmnya.

Kalau mau nonton film-film lawas di HOOQ juga siap sedia, seperti acting apik Nicolas Saputra dan Dian Sastrowardoyo di AADC, film yang 15 tahun lalu membuat saya membeli seabreg peralatan "tempur". Bahkan kita bisa melihat film yang jauh lebih lawas lagi, karena HOOQ menyediakan film-film klasik legendaris seperti Catatan si Boy dan Warkop. Semua film-film itu telah mendapat hak lisensi streaming dari penyedia konten. Jadi jelas RESMI legalitas hukumnya.

Koleksi film di HOOQ akan di update setiap bulannya untuk memanjakan kita. Klik saja halaman Discover (Temukan) pada katalog “Hot and Tranding”. Maka kita akan disuguhi film-film yang terbaru. Tidak sampai disitu, keunggulan HOOQ yang lain yaitu menyediakan subtitle dalam berbagai filmnya. Ini cocok bagi kita yang memang tidak mahir dalam berbahasa Inggris, kita bisa menikmati film tanpa harus terganggu dengan kendala bahasa.

Nah, itu sedikit keunggulan HOOQ. Sedikit dulu ya. Sebelum kita melihat berbagai keungggulan lainnya, selamatkan saya lebih dulu dari “auman” Istri. Semoga dengan penjelasan saya yang panjang tadi mengobati rasa haus menonton film Istri saya. Untung, sebelumnya saya sudah mencari-cari informasi bagaimana cara menerapkan aplikasi HOOQ di smartphone (sebenarnya saya pegang Tablet Note 8, tapi untuk lebih familiar, saya tetap menggunakan istilah smartphone ya;).

Ternyata, caranya luar biasa mudah, semudah menarikan jari-jemari kita diatas layar smartphone. Untuk sementara, kita cuma perlu akses internet, entah dari WiFi atau koneksi seluler. Eeeh, ketinggalan, tambah sama smartphone-nya juga dong;) Mari, menari melantunkan jari-jemari untuk mendapatkan sebuah kunci, kunci yang membuka gerbang hiburan dunia ini.



Setelah kita mengetahui sedikit tentang HOOQ, sekarang saatnya kita praktekan langsung bagaimana caranya meraih bisokop dalam genggaman tangan itu, oya syaratnya ditambah satu lagi, ini yang paling penting dan terpenting, selain kita harus siapkan jaringan internet dan smartphone, kita juga harus bisa BACA. Haha.. ya iyalah, masa hari gini ada yang tidak bisa baca. Ehmm... Jadi nglantur ga penting, yukk langsung kelangkah-langkahnya...
Langkah Menginstal Aplikasi HOOQ
Mudah bukan? Sepertinya kalau kalian yang sudah terbiasa bersentuhan dengan smartphone akan mudah memahami gambar diatas. Tapi belum selesai, menginstal aplikasi HOOQ itu hanya sebagai "kunci". Kita harus mendaftar ke HOOQ terlebih dahulu sebelum benar-benar membuka gerbang hiburan dunia. Bagaimana caranya? Gampang, malah pakai bangettt.... Semudah menginstal aplikasinya tadi... Tapi pesan saya, kalian harus hati-hati!!! Kenapa harus hati-hati? karena kita akan diarahkan kedalam dunia hiburan tanpa batas.;) Are You Ready??? Langsung saja, mari kita membuka gerbang itu...
Langkah Membuka Gerbang Hiburan Dunia Tanpa Batas
Hanya butuh lima langkah saja. Kita sudah bisa menikmati bioskop dalam genggaman tangan kita. Saya yakin, gambar diatas bisa dipahami dengan mudah. Apa? Belum? Oke deh, kalau belum saya jelaskan langkah-langkahnya, kita buka dulu aplikasi HOOQ yang sudah diinstal tadi ya...

(1) setelah dibuka, HOOQ akan memberikan 2 pilihan, apakah kita sudah pernah mendaftar atau belum; Kalau belum klik Gambar No. 1. Karena kita belum pernah daftar, mari kita klik No. 1 untuk pengguna baru;
(2) kalau kita sudah pernah mendaftar Klik No. 2;
(3) kita akan diminta untuk memasukan No HP aktif. yang aktif loh ya? Kemudian pilih yang kode +62, jangan kode yang lain. Karena Indonesia menggunakan kode itu. Dan mengisikannya jangan pakai nomor 0 ya..
(4) akan dikirim nomor kode verifikasi lewat no HP yang sudah kita isikan tadi;
(5) masukan kode verifikasi itu diapikasi HOOQ;
(6) langkah berikutnya masukan alamat email kita, nanti kita akan dikirim kode verifikasi di email kita. Tinggal buka email kita, dan akan ada pesan konfirmasi dari HOOQ;
(7) Dan, selesai. Berhasil. Kita akan disambut ramah dengan "Selamat Datang di HOOQ yang baru". Kita sudah bisa menggunakan semua fitur menu di HOOQ.

Segampang itu? Iya donk. Gileeeeeee Loe Ndrooooo.....

Iya. Memang gila HOOQ, karena semudah itu menawarkan hiburan, sesimple itu memberikan bioskop dalam genggaman tangan kepada kita. Lalu bagaimana cara menontonnya? Mari kita bersantai, sediakan Kopi, goreng-goreng, dan silahkan menikmati hiburan dunia ditangan kita...
Tiga Bagian Terpenting dari HOOQ
Di HOOQ, kita tidak akan dibuat ribet apalagi kesulitan untuk menjalankan aplikasinya. Hanya ada 3 Menu utama dalam HOOQ. Ya, cuma 3, yaitu "Temukan (Discover), Telusuri (Browse) dan Saya (Me)". Mari kita cari tau lebih banyak bagian HOOQ ini.

Menu yang pertama, "TEMUKAN (DISCOVER)", menu ini yang kita lihat ketika pertama kali membuka HOOQ. Disini kita bisa memilih film yang tersaji dan memuat banyak kategori. Ada kategori film Hot and Trending, Happy Chinese New Year, Indonesia Hits, Superhero Sensations, Hollywood Hits, Action, dan banyak lagi berbagai pilihan lainnya karena ada total 26 genre, jadi tinggal scroll ke bawah, pilih sesuai selera.

Menu kedua, "TELUSURI (BROWSE)", bagian ini seperti mesin pencarian, kita tinggal ketikan film apa yang kita mau tonton. Contohnya, saya mau bernostalgia dengan film AADC, saya tulis saja "Ada Apa Dengan Cinta". Maka HOOQ akan mencarikan kita film itu, dan akan ditampilkan seperti gambar 1, semua kategori film AADC akan tampil, seperti AADC 2 yang rilis 2016 lalu, bahkan termasuk serial TV AADC...
Contoh Pencarian Film AADC
Saat ini, saya mau bernostalgia dengan sosok Rangga dan Cinta tahun 2002, maka saya akan klik film nomor 2 pada gambar 1. Setelah itu lihat gambar nomor 2. Digambar nomor 2, kalau kita mau langsung menonton, tinggal klik saja "Mulai Menonton". Tapi kalau kita mau menonton lain waktu, ada berbagai pilihan disamping keterangan film itu.

Ada kategori "Unduh", Suka", dan "Tonton Nanti". Bagian ini juga langsung menyambung kekategori "SAYA". Jadi sekalian ke menu terakhir saja ya.. 

Menu ketiga dan yang terakhir, yaitu "SAYA (ME)". Pada menu ini, kita masuk kedalam "kamar pribadi" kita. Termasuk didalamnya ada bagian menu yang sudah disinggung diatas, apa saja menunya? (1) Unduh, (2) Tonton Nanti, (3) Suka dan (4) History. Kemudian bagian bawahnya ada (5) Pengaturan (6) Paket Berlangganan dan (7) Bantuan. Mari Kita bahas...

(1) Unduh, 
Diatas, saya menyebutkan HOOQ mempunyai fasilitas yang bisa ditonton secara offline tanpa jaringan internet. Nah, inilah bagian itu. Kalau kita lihat gambar 2 diatas, bagian unduh berada dibawah film. Tinggal klik Unduh, dan ditunggu beberapa saat, maka akan tersimpan dan bisa ditonton nanti tanpa menggunakan saluran internet. Maksimal bisa menyimpan hingga 5 film.

(2) Tonton Nanti, 
Bagian ini sebenarnya berfungi untuk menandai film-film yang akan kita tonton nanti, yang membedakan dengan Unduh, Tonton Nanti ini tidak bisa dinikmati secara offline. Jadi, apabila kita ingin melihat film tapi belum punya waktu, maka klik saja bagian yang bergambar jam ini, hampir mirip dengan Suka yang akan kita bahas selanjutnya.

(3) Suka,
Bagian Suka ini berfungsi kalau kita mengincar suatu film, dan belum sempat kita menonton atau mengunduhnya. Maka tinggal kita klik saja "Suka", dengan sendirinya film kita akan disimpan dibagian ini. Sama dengan Tonton Nanti, bagian ini tidak bisa dilihat dalam kondisi offline.

(4) History,
Film yang sudah kita tonton akan masuk dalam kategori ini. History disini semacam sejarah kita sudah menonton film apa saja di HOOQ. Tidak harus disukai, atau diunduh, jadi selama kita sudah menonton film maka akan masuk ke History.

(5) Pengaturan, 
Bagian "pengaturan" ini menampilkan pengaturan yang kita gunakan. Isinya tentang tampilan bahasa aplikasi, audio bahasa, bahasa terjemahan, kualitas playback, kualitas unduhan, dan penggunaan data mode. Kita bisa atur-atur sesuai dengan selera kita.

(6) Paket Berlangganan,
Ini yang terpenting. Pada awal pendaftarannya, HOOQ sudah baik hati memberikan gratisan selama 7 hari. Selanjutnya, kita harus berlangganan. Paket data yang ditawarkan HOOQ berfariasi, dari mulai 7 hari, 30 hari, 180 hari, sampai 360 hari. Kira-kira harganya berapa? Lihat gambarnya dibawah ya...
Pilihan Harga dan Jangka Waktu Berlangganan HOOQ
Murah bukan? Saya pikir, kualitas yang diberikan HOOQ dengan harga yang diberikan sangatlah sepadan. 

Untuk cara berlangganan HOOQ, kita bisa memilih berbagai alternatif. Kali ini saya berlangganan dengan TELKOMSEL. Meski kadang antar operator tidak sama kebijakannya, tapi tidak terlalu jauh berbeda. HOOQ sendiri sudah bekerjasama dengan operator-operator besar di Indonesia, seperti Telkomsel, Indosat Ooredoo, XL Axiata, atau Smartfren Telecom. Jadi, kartu apa yang kita gunakan, akan dengan ramah disambut hangat oleh HOOQ

Kebetulan saya memang pemakai Telkomsel dari zaman SMA yang sampai sekarang masih saya pakai, meskipun 5 kali HP hilang tapi tetap saya aktifkan lagi, lagi dan lagi #malahcurhat;)

Untuk berlangganan HOOQ, pertama tentu saya harus menyediakan pulsa yang cukup sesuai harga paketan yang ditentukan. Lagian HOOQ sudah memberikan waktu 7 hari gratis menjelajahi hiburan dunia ditangan kita. Sekarang saatnya kita berlangganan HOOQ, caranya juga gampang, Yuk lihat gambar dibawah, 
Langkah Berlangganan Paket Satu Bulan Menggunakan Telkomsel
Tentunya kalian pasti paham dengan langkah berlangganan diatas. Setelah mendaftar paketan berlangganan, kita akan mendapat konfirmasi dari TELKOMSEL berupa SMS. SMS itu melaporkan bahwa kita akan mendapatkan Rp. 49.000,- pulsa TELKOMSEL yang bisa digunakan sesama pengguna TELKOMSEL dan berlaku selama 7 hari. 

Disamping itu kita mendapat Kuota Reguler Flash 100 MB, dan ditambah lagi 1024 MB Flash untuk Jaringan 4G. Selain kita dimanjakan tontonan film sepuasnya dengan HOOQ, kita akan mendapatkan berbagai bonus-bonus kembalian dari TELKOMSEL. Kalau ingin lebih lengkap, tentang kebijakan TELKOMSEL untuk berlangganan HOOQ bisa lihat DISINI...

Selain cara diatas, kita bisa juga berlangganan HOOQ menggunakan aplikasi MyTelkomsel yang lebih lengkap.

(7) Bantuan
Bantuan ini merupakan menu terakhir, berfungsi untuk memberikan kesempatan apabila kita mendapatkan kendala. Isinya informasi tentang HOOQ, pertanyaan yang sering diajukan, syarat penggunaan kebijakan privasi dan hubungi kami. Menu ini juga tempat kita memberikan masukan kritik dan saran.

Akhirnya, kita sudah menjelajahi HOOQ dengan puas dan jelas. NahLewat aplikasi HOOQ, kita bisa membagi hiburan dunia tanpa batas kepada orang yang kita cintai sebanyak 5 perangkat. Masa? Iya, aplikasi HOOQ bisa digunakan maksimal 5 perangkat berbeda, yang terpenting kita tahu akun dan pasword UTAMA yang berlangganan. 

Satu lagi nih, HOOQ tidak hanya suport smartphone saja. Tapi juga bisa dinikmati dengan Perangkat Android, iOS, Laptop atau Komputer PC, bahkan di Smart TV. Untuk caranya hampir sama dengan cara penggunaan di smartphone. Kalau kalian bisa mengoprasikan HOOQ dengan smartphone, saya yakin juga bisa menggunakan HOOQ di perangkat lainnya.
Ketika kita ingin mengunjungi suatu tempat, kita akan berfikir bagaimana cara untuk sampai ketempat tujuan tersebut dengan aman, cepat dan mudah. Ada dua syarat utama yang harus dipenuhi terlebih dulu sebelum kita bepergian. Pertama, kita harus mencari kendaraan yang aman, dan yang kedua kita harus tau jalan yang tanpa hambatan dan sampai ketujuan dengan cepat dan selamat. 
Sumber Gambar
Nah, kita bahas yang pertama, kendaran yang harus kita pilih merupakan kendaraan yang representatif, dan menjamin keselamatan kita dengan melihat kualitas mobil dan kridebilitas sopirnya. Kedua, jalan yang kita lalui harus nyaman dan diusahakan yang paling cepat. Karena resiko seperti menghindari jalan yang berlubang yang menggnggu perjalanan harus diminimalisir. Secara logika, kita tentunya mengharap kedua syarat itu terpenuhi dalam setiap perjalanan kita. 

Perumpamaan diatas nampaknya bisa dijadikan contoh ketika melihat dunia layanan streming di Indonesia saat ini. Sesuai slogannya, “gerbang menuju dunia hiburan tanpa batas”, HOOQ memberikan kesempatan kepada kita untuk membuka jalan yang terang benderang pada suatu tujuan, yaitu “dunia hiburan tanpa batas”. 

HOOQ ibarat sebuah “kendaraan”, yang dari awal memang menawarkan keamanan dan diakui kridebilitas dalam menyajikan koleksi-koleksi filmnya. Selain itu HOOQ juga menawarkan kemudahan, kemudahan itulah “jalan” yang mulus dan tanpa hambatan. 

Bagaimana HOOQ tidak mulus, layanan yang diberikan HOOQ sangat Mudah, Murah dan Cepat (MMC). Mudah karena di HOOQ kita diberikan kemudahan untuk menikmati layanannya. Karena ada layanan penyedia film yang hanya menyediakan layanan berlangganan dengan Kartu Kredit. Di HOOQ, kita dimudahkan dengan berbagai pilihan paket langganan hanya dengan kartu seluler

Kalau bagi saya, boro-boro punya Kartu Kredit, tabungan saja kadang kagak ada saldonya.;) Karena itulah, HOOQ menjadi garda terdepan yang menawarkan kemudahan dalam berlangganan. Tapi kalupun kalian punya Kartu Kridit, tenang saja, di HOOQ juga melayaninya. Pilihan pembayaran berlangganan juga bisa lewat Kartu Debit, PayTM, Airtel Wynk dan ACT. Pilih sesuka kalian, dan sesuai dengan kemampuan kalian.

Selain mudah, HOOQ menawarkan harga Murah, tadi sudah disebutkan, kalau untuk berlangganan hanya membutuhkan Rp. 49.500 saja selama sebulan. Kalau mau paket mingguan juga tersedia, harganya sekitar 18.700, dan tentunya pilihan paketan berlangganan yang lainnya. Dengan harga semurah itu, kita sudah disuguhi tampilan yang sebagian besar filmnya sudah berkualitas HD (High Definition). Pilihannya ada yang Low, Medium dan High.

Nah, yang terakhir masalah Ke-Cepat-an, kecepat pada HOOQ tidak diragukan lagi karena dudukung jaringan 4G, kecepatan akses yang dimiliki ketika menonton tidak terganggu dengan iklan-iklan yang hadir di sudut kanan, kiri, atas atau bawah layar. Kita betul-betul dimanjakan tanpa hambatan dari iklan yang menggangu kenikmatan dalam menonton film.

Bagaimana? MMC kan? HOOQ emang gitu. Jadi, bisa disimpulkan, kita sebagai manusia memang punya hak untuk memanjakan diri beberapa saat dengan menonton film. Dengan menonton film, kita akan me-refrensh otak kita yang dipenuhi dengan berbagai beban kerja. Hiburan dengan menonton film ini bisa temukan di HOOQ. Mari kita bersenandung sejenak dengan sajak yang saya tulis sendiri,
***
Eiittss... Belum habis, saya tidak bisa tenang kalau meninggalkan judul diatas tanpa penjelasan sedikit dengan kata “bercinta”. Jangan negatif dulu dengan kata itu ya. Mari kita lihat arti "bercinta". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kata bercinta berasal dari suku kata "CINTA", yang berarti Suka Sekali, Kasih Sekali, dan Ingin Sekali. Oke, sampai disini sepakat? 

Kalau tidak sepakat juga ga papa:) Saya sadar, lantunan kata cinta begitu menggema dalam sejarah umat manusia. Dari Nabi Adam, sampai kiamat menghujam, manusia akan terus berdialektika dengan kata "CINTA". Jadi memang definisi cinta tidak ada pedoman bakunya. Kita semua termasuk bisa mendefinisikan cinta sebebas-bebasnya. Namun, setidaknya saya berpegang pada om KBBI untuk mendefinisikan bercinta diatas.

Apa yang dikatakan om KBBI tentang bercinta? Menurut beliau, bercinta itu artinya "Menaruh (rasa) Cinta", maknanya, menaruh rasa suka sekali, menaruh rasa ingin sekali. Haah? Cuma itu? Iya cuma menaruh rasa cinta. Jadi, ketika saya mengatakan bercinta dengan HOOQ atau bercinta dengan keluarga, itu artinya saya menaruh rasa cinta kepada HOOQ dan keluarga. Sudah bisa diterima judul saya diatas?;) 

Mulai saat ini, siapkan diri untuk saling menaruh dan melempari dengan cinta. Loh kok dilempari? Yaa, lempari saja aku dengan tontonan
, aku tak akan pernah bosan. Asal kau, tak melemparkanku jauh-jauh, lalu menontonku dengan kebosanan. Sama sekali jangan. Dan lagi, jangan kau mendekatiku lalu melemparkanku jauh. Tapi, tetap menontonlah dekat denganku, karena aku memandang tontonanmu adalah yang paling jauh dengan kebosanan. Aku ingin menonton, aku ingin berbagi cinta, aku ingin bercinta dimana saja, sepuasnya dan dengan siapapun pakai HOOQ. 
Menonton HOOQ, Dimana Saja, Kapan Saja Dengan Siapa Saja
Itulah HOOQ. Tapi bukan berarti HOOQ tidak memiliki kekurangan. Pasti dan itu wajar setiap segala sesuatu memiliki kekurangan. Karena yang harusku tahu bahwa, segala usaha yang dilakukan HOOQ sekarang akan menjadi sebuah perbaikan untuk masa depan dunia hiburan. Bahwasanya, semua kekurangan itu membutuhkan proses untuk menjadi lebih baik. Dan HOOQ melakukan proses perbaikan itu.

Jangankan HOOQ, orang yang kita cintai saja pasti banyak kekurangan. Seperti pasangan kita yang pasti tidak sempurna. Termasuk kekurangan saya, yang belum bisa mengajak Istri nonton langsung ke bioskop. Semoga penjelasan saya diatas bisa menenangkan dan menggantikan keinginan Istri untuk menonton film ke bioskop...
Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis blog Bercerita Hooq TimeAnyTime.

Sumber Referensi:
[1]https://hooq.desk.com/customer/id/portal/articles
[2]http://www.solopos.com/2016/04/16/aplikasi-terbaru-hooq-gaet-semua-operator-seluler-710729 
[3]https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/hooq-layanan-vod-yang-disesuaikan-selera-indonesia
[4]http://arenalte.com/feature/kesan-pertama-memakai-aplikasi-video-streaming-hooq/