Monday, April 24, 2017

Contoh Proposal LKIR LIPI ke-49 Bidang IPSK [LOLOS TERBIMBING]


PAMONG PRAJA (Papa Momong Mama Kerja)”:
Studi Kasus Tentang Pola Asuh Bapak Kepada Anak yang ditinggal Kerja Ibu
di PT Rambut Purbalingga

ABSTRAK PROPOSAL
Seiring berkembangnya industri di Indonesia, kebutuhan tenaga kerja juga menjadi sesuatu yang menyatu dengan perkembangan industri itu. Kebutuhan tenaga kerja ini terasa juga di Kabupaten Purbalingga, kabupaten yang menjadi penghasil bulu mata terbesar kedua didunia. Kebutuhan tenaga kerja ini lebih memilih perempuan dibandingkan dengan laki-laki, hal ini dikarenakan perempuan dipandang lebih ulet, tlaten dan patuh. Fenomena ini meninggalkan “permasalahan” disisi lain, yaitu “pamong praja”, papa momong, mama kerja. Pengaruh sosial ini menggunakan teori pertukaran sosial Gorge Pascal Homans dan Peter M. Blau dalam memetakan teori penelitian. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus tunggal. Sumber data dari wawancara, observasi dan pengkajian dokumen. Untuk teknik cuplikan (sampling) menggunakan purposive sampling dan time sampling. Validitas data menggunakan triangulasi data, peneliti, metode, dan triangulasi teori. Sedangkan analisis data menggunakan analisis interaktif dengan tiga tahapan analisis yang terjadi secara bersamaan, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan yang berinteraksi dengan pengumpulan data secara berkesinambungan.

Kata Kunci: Papa Momong, Mama Kerja, Pola Asuh Bapak.

A.    Latar Belakang Masalah
Sejak era reformasi, pertumbuhan industri di Indonesia mengalami berbagai peningkatan yang signifikan. Peningkatan dunia industri yang signifikan ini juga diikuti oleh kebutuhan tenaga kerja dengan jumlah yang besar pula. Disisi lain, pertumbuhan jumlah penduduk juga terjadi, namun kenyataanya, jumlah perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Jumlah demografi ini dilirik oleh dunia industri yang membutuhkan tenaga kerja. Tenaga kerja perempuan menjadi hal yang tak bisa dikesampingkan, karena dalam dunia industri, keterampilan perempuan lebih dilirik dibandingkan dengan yang dimilki oleh tenaga kerja laki-laki, terutama ketrampilan yang membutuhkan keuletan dan ketlatenan. 
Hal itu dialami juga di Kabupaten Purbalingga. Purbalingga merupakan bagian dari Provinsi Jawa Tengah yang terus berusaha mengembangkan diri menjadi daerah pro-investasi. Kabupaten yang memiliki luas 77.764 hektare ini memiliki visi “Purbalingga yang Mandiri dan Berdaya Saing Menuju Masyarakat Sejahtera dan Berakhlak Mulia”. Salah satu misinya (salah satunya) meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat dengan mendorong secara sungguh-sungguh simpul-simpul ekonomi. Dalam hal ini, pemerintah Purbalingga memberikan kemudahan investasi. Pada tahun 2014 saja, di Purbalingga terdapat 38 perusahaan penanaman modal asing yang sebagian besar bergerak dibidang rambut palsu, sehingga tak meherankan jika Purbalingga merupkan sentra industri rambut terbesar kedua setelah Gwangju, Tiongkok.
Para investor ini sebagian besar berasal dari Korea Selatan yang mendirikan pabrik-pabrik rambut palsu. Industri rambut palsu Purbalingga telah banyak menembus pasaran global. Total nilai eskpos mencapai 53,08 juta dollar AS pada tahun 2010 dan terus bertambah 50,97 persen per tahun. Secara nasional proporsi investasi di sektor ini semakin mendominasi, mencapai 56,10 %. Selain menggerakan perekonomian daerah, industri ini dikenal menghasilkan produk berkualitas dengan harga terjangkau (Kompas, 2014).  Pekerjaan ini sebagian besar mencari perempuan menjadi tenaga kerjanya yang membutuhkan ketekunan, keuletan dan sifat-sifat lain yang tidak dimiliki laki-laki. Disamping itu, dibutuhkannya tenaga kerja perempuan lebih dipandang penurut, sehingga secara ekonomis lebih menguntungkan oleh para pengusaha. Berikut data tentang jenis kelamin yang terdaftar perusahaan rambut di Kapubaten Purbalingga.
Tabel 1. Jumlah Tenaga Kerja Menurut Jenis Kelamin yang Terdaftar di  
     Perusahaan Rambut di Kabupaten Purbalingga tahun 2014
No
Nama PT/CV
WNI
WNA
Jumlah
L
P
L
P
1.
Best Lady
9
44
0
0
53
2.
Bintang Mas Triyasa
666
999
0
0
1566
3.
Bio Takara
60
78
0
0
138
4.
Boyang Industrial
286
6088
13
4
6391
5.
Braling Wisnu Satria
63
122
0
0
185
6.
Casabella
2
11
0
0
13
7.
CV. Dasindo
23
20
0
0
43
8.
Du Dream International
7
24
2
0
33
9.
Elise Wyw Lash
37
56
0
0
93
10.
Eyerich
25
1
1
0
27
11.
Fair Lady
5
17
0
0
22
12.
Hanmi hair Int.
69
449
2
0
520
13.
Hasta Pustaka Sentosa
35
543
2
0
580
14.
Hyup Sung Ind
311
1403
3
0
1717
15.
Indokores Sahabat
690
2899
8
0
3597
16.
International Eye Lash
8
67
0
0
75
17.
Interwork Indonesia
137
456
0
0
595
18.
Kesan Baru Sejahtera
50
125
2
0
177
19.
Mahkota Estetika Abadi
20
20
0
0
40
20.
Midas Indonesia
39
1080
2
0
1121
21.
Milan Indonesia
39
947
2
0
988
22.
Mitra Jaya Mandiri
142
814
0
0
956
23.
Morisse
23
35
0
0
58
24.
Permata Indah Mas
6
18
0
0
24
25.
Rosa Sejahtera Eyelashes
108
193
0
0
301
26.
Royal Korindah
613
3556
0
0
4169
27.
Sinhan Creatindo
121
456
1
0
578
28.
Sinar Cendana Abadi
281
532
0
0
813
29.
Sophia Indonesia
21
159
1
0
181
30.
Sun Starindo Wirahusada
19
182
0
0
201
31.
Sun Chang Cab. BBS
32
795
2
0
273
32.
Sun Chang Cab. KJB
0
273
0
0
273
33.
Sun Chang Indonesia
397
2573
16
0
2986
34.
Sung Shim International
180
2562
5
0
2747
35.
Tiga Putera Abadi
129
574
1
0
704
36.
Wonjin Indonesia
29
216
1
1
247
37.
Yejin Beauty Ornament
20
26
0
0
46
38.
Yuro Mustika
65
569
4
0
638

Jumlah
4.767
28.883
70
5
33.725
Sumber: Dinsisnakertrans Kab Purbalingga 2014
Bila dilihat pada tabel 1. Perbandingan tenaga kerja antara laki-laki dan perempuan sangat tidak berimbang. Dari total jumlah tenaga kerja, jumlah tenaga kerja lak-laki sebanyak 4.767 dan perempuan sendiri mencapai 28.883, sebuah perbandingan yang besar. Penyerapan tenaga kerja perempuan paling banyak ada di PT. Boyang Industrial (6.088 perempuan) dan PT. Royal Korondah (3.556 perempuan). Melebarnya peluang tenaga kerja perempuan mengakibatkan menyempitnya kesempatan laki-laki untuk mencari pekerjaan.
Fenomena ini akan sangat terpengaruh oleh fakta sosial dan keadaan ekonomi keluarga, namun realitas yang terjadi dalam setting penelitian menunjukan bahwa keterlibatan kaum perempuan dalam aktivitas publik bukan lagi merupakan pilihan, tetapi telah berubah menjadi keharusan demi kelangsungan hidup keluarga (Sukidin, 2000). Hal ini mengakibatkan perempuan yang bekerja meninggalkan “beban-beban sosial” dirumah, karena biasanya untuk kerja dipabrik dimulai dari jam 07.00 sampai 17.00 WIB setiap harinya. Pekerjaan-pekerjaan lain seperti mencuci, menjemur, mengantar anak sekolah, sekaligus mengantar dan menjemput istri bekerja.
Hal ini menimbulkan fenomena “Pamong Praja” yang artinya papa momong, mama kerja (Bapak Merawat, Ibu Bekerja). Fenomena pamong praja terjadi karena para istri bekerja diperusahaan rambut, sedangkan para suami bekerja serabutan. Bahkan tidak jarang yang hanya bekerja mengantar dan menjemput istri kerja, selebihnya menjalani aktifitas dirumah. Fenomena ini berakibat kepada tatanan sosial yang telah menjamur dimasyarakat, bahwa laki-laki adalah tulang punggung keluarga, yang harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, pertanyaan yang muncul, bagaimana pola asuh yang dilakukan bapak dirumah terhadap anak-anaknya? Padahal secara “kodrat”, pengasuhan yang ideal adalah seorang ibu. Hal ini penting karena sebuah keluarga merupakan awal pendidikan karakter bagi anak-anaknya. Transfromasi karakter ini lebih ideal ditularkan ibu kepada anaknya. Lalu bagimana dampak dari fenomena ini terhadap perkembangan anak?
Inilah yang menjadi permasalahan awal yang penulis temui dilapangan, rasa penasaran ini menimbulkan berbagai pertanyaan tentang fenomena yang sudah menjadi “kebenaran” umum dimasyarakat Purbalingga ini. Maka, untuk mencari jawaban dari semua ini, perlu diadakan kajian penelitian secara ilmiah, penulis mengajaukan judul “PAMONG PRAJA (Papa Momong, Mama Kerja)”: Kajian Tentang Pola Asuh Bapak Kepada Anak-Anaknya di Kabupaten Purbalingga”.

B.     Permasalah
Pabrik Rambut yang menjamur di Purbalingga memang membantu perekonomian Purbalingga, apalagi adanya industri ini membutuhkan tenaga kerja perempuan. Namun disisi lain, efek dari pengambilan tenaga kerja itu menimbulkan fenomena “pamong praja”, itulah permalasahan dari penelitian ini. Dari permasalahan ini, timbul beberapa pertanyaan dalam penelitian ini:
      1.      Bagaimana persepsi masyarakat Purbalingga terhadap fenomena “Pamong Praja”?
      2.      Bagaimana cara pola asuh bapak terhadap anak-anaknya dirumah?
      3.      Bagaimana dampak pola asuh bapak terhadap perkembangan anak?

C.    Tujuan Penelitian
Dari pertanyaan permasalahan yang sudah diuraikan diatas, peneliti ingin menguraikan berbagai tujuan yang akan difokuskan dalam penelitian sebagai berikut:
1.      Mengetahui persepsi masyarakat Purbalingga terhadap fenomena “Pamong Praja”;
2.      Mengkaji cara pola asuh bapak terhadap anak-anaknya dirumah;
3.      Menganalisis dampak pola asuh bapak terhadap perkembangan anak.

D.    Manfaat Penelitian
Setelah merumuskan masalah dan menentukan tujuan, maka manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1.      Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dalam penulisan ini terutama untuk memperkaya tentang kajian penelitian pabrik rambut di Kabupaten Purbalingga pada umumnya. Serta menjadi bahas studi lanjut bagi penelitian sejenis yang akan dialakukan dikemudian hari.
2.      Manfaat Praktis
Manfaat praktis merupakan manfaat yang dapat terasa secara langsung setelah selesainya penelitian ini, manfaat-manfaatnya adalah:
a.       Memberikan informasi tentang pesrsepsi masyarakat terhadap adanya pabrik-pabrik rambut yang ada di Kabupaten Purbalingga;
b.      Memberikan informasi tentang fenomena “Pamong Praja” dan dampaknya terhadap fenomena dan dampaknya terhadap perkembangan anak.

E.     Tinjauan Pustaka
Sebagai sebuah karya ilmiah, maka diperlukan sebuah tinjauan pustaka, yang merupakan landasan dari pemikiran-pemikiran dengan tujuan untuk memperoleh data-data dan informasi yang menujang dalam penelitian ini (Priyadi, 2013: 139). Hingga saat ini, sudah banyak penelitian yang mengangkat tema tentang dampak Pabrik Rambut dan segala asepk-aspeknya. Penelitian-penelitian itu tentu tidak bisa disajikan semua disini, namun peneliti mengambil beberapa kajian yang masih berhubungan dengan tema yang akan menjadi kajian dalam penelitian ini.
Penelitian pertama, berasal dari penelitian Sari Sulastri yang berjudul “Pengaruh Keberadaan Industri Bulu Mata Palsu dan Konstruksi Sosial tentang Perempuan terhadap Beban Ganda Ibu Rumah Tangga yang menjadi Buruh di Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga berasal dari jurusan Universitas Jenderal Soedirman tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode survei-eksplanatif, dengan jumlah semple 80 orang.
Hasil dari penelitian ini adalah, (1) Tidak terdapat Pengaruh Keberadaan Industri Bulu Mata Palsu terhadap Beban Ganda Ibu Rumah Tangga yang menjadi Buruh di Plasma. Terbukti dengan Z hitung sebesar 1,34 kurang dari Ztabel yaitu 1,96. Besar hubungan kedua variabel di atas dihitung menggunakan korelasi tau kendall dan menghasilkan angka 0,102 yang menunjukkan bahwa hubungan kedua variabel tersebut sangat rendah dan sangat lemah tetapi cenderung positif. Sebelum atau setelah ada plasma, perempuan telah mengalami beban ganda yaitu harus melaksanakan pekerjaan yang kuantitasnya lebih banyak dibandingkandengan laki-laki; (2) Tidak terdapat Pengaruh Konstruksi Sosial tentang Perempuan terhadap Beban Ganda Ibu Rumah Tangga yang menjadi Buruh di Plasma. Terbukti dengan Z hitung sebesar -1,82 kurang dari Z tabel yaitu 1,96. Besar hubungan kedua variabel tersebut yang dihitung menggunakan korelasi tau kendall menghasilkan angka -1,39 yang menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang sangat lemah dan sangat rendah dan cenderung negatif.
Penelitian yang kedua, berasal dari penelitian Rizky Giri Akbar pada tahun 2012 dengan judul “Kelayakan Usaha Industri Rumahan Bulu Mata
Dan Rambut Palsu Modern (Studi Kasus Pada RGG Product di Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga)
”. Skripsi yang berasal dari Universitas Negeri Yogyakarta ini termasuk dalam penelitian evaluatif dengan pendekatan kualitatif. Sedangkan subjek penelitian adalah pimpinan industri rumahan RGG Product. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dokumentasi dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan kelayakan usaha industri rumahan RGG Product ditinjau dari aspek: (1) Dari aspek pasar industri rumahan RGG Product layak, didukung oleh harga jual berada di bawah harga jual pabrik, dapat membeli secara eceran, produk bervariasi berdasarkan selera konsumen dan mode, promosi dengan cara personal selling dan pameran, produk industri rumahan RGG Product dapat dibeli di salon-salon, pameran dan ekspor; (2) Dari aspek teknik industri rumahan RGG Product layak, didukung oleh lokasi yang strategis, skala produksi per bulan untuk bulu mata 28.000 pcs dan rambut palsu 550 pcs, menggunakan layout fungsi, menggunakan mesin-mesin modern; (3) Dari aspek manajemen industri rumahan RGG Product layak, didukung oleh struktur organisasi berbentuk piramida, sistem penggajian menggunakan sistem bulanan dan harian, kompetensi tenaga kerja yang sesuai kebutuhan perusahaan; (4) Dari aspek keuangan industri rumahan RGG Product layak, didukung oleh, Payback Period 3 tahun lebih 5 bulan, Return on Investment 20,8%, Average Rate of Return sebesar 41,55%, Net Present Value sebesar Rp.22.048.700 (positif) dan Profitability Index sebesar 1,5409 atau lebih dari 1.
Persamaan dari tulisan diatas dengan penelitian yang akan dibahas dengan penelitian yang akan ditulis, yaitu sama-sama membahas tentang Pabrik Rambut yang ada di Kabupaten Purbalingga. Perbedaan tulisan yang sudah dipaparkan diatas dengan penelitian yang akan ditulis adalah pada metode dan kajian yang akan dibahas didalamnya. Perbedaan pada penelitian pertama, yaitu penelitian Sari Sulastri membahas tentang pengaruh keberadaan Bulu Mata terhadap Perang Ganda Ibu Rumah tangga, disini subjek yang diteliti adalah peran ganda Ibu Rumah Tangganya. Dalam penelitian yang akan dilakukan dalam proposal ini mengarah pada subjek Bapak nya. Perbedaaan yang lain mengenai metode yang akan digunakan, dalam penelitian Sari Sulastri, metode yang digunakan survey-eksplanatif (Kuantitatif), sendangkan dalam proposal ini metode yang digunakan dengan Kualitatif.
Perbedaan dengan penelitian yang kedua, yang ditulis oleh Rizky Giri Akbar dengan topik kelayakan usaha industri rumahan bulu mata dan rambut palsu modern  dengan subjek penelitian adalah pimpinan industri rumahan RGG Product. Dalam proposal ini perbedaan juga berada dalam subjek yang diteliti. Penelitian Rizky Giri Akbar menjadikan pimpinan industri rumahan RGG Product menjadi subjek utamanya, kalau proposal ini menjadikan pengaruhnya terhadap Bapak yang momong anaknya dirumah, karena Ibu nya harus bekerja dipabrik. Jadi dapat disimpulkan dalam proposal ini akan memperkaya penulisan-penulisan dan penelitian-penelitian yang pernah dibuat terdahulu.

F.     Kerangka Teori
Fenomena sosial “pamong praja” yang telah dibahas diatas merupakan bagian dari fakta sosial yang dapat dijelaskan dengan teori pertukaran sosial Gorge Pascal Homans yang memandang perilaku sosial sebagai pertukaran aktivitas dan kepentingan yang dimiliki oleh masing- masing individu. Teori Homans ini menjelaskan tentang keinginan manusia untuk selalu berusaha mencari dan memperoleh keuntungan dalam transaksi sosialnya dengan orang lain. Wanita juga pasti menginginkan keuntungan yang besar untuk kehidupannya, dengan begitu ia akan berusaha untuk menuai karir meskipun dia telah menjadi ibu rumah tangga. Keuntungan tersebut bukan berarti hanya keuntungan material saja, namun bisa juga berupa popularitas dan lain-lain (Ritzer 2009: 458).
Pada kehidupan rumah tangga terjalin suatu hubungan antara komponen keluarga, individu-individu melakukan aktivitas rumah tangga seperti digambarkan Homans tersebut, yaitu saling melakukan pertukaran peran dalam rumah tangga. Mengingat yang terlibat dalam proses kehidupan dalam rumah tangga ini melibatkan pengaruh sosial disekitarnya yang lebih besar, dan pada kasus tertentu ini situasi kelompok besar ini memberikan pengaruh besar dalam membentuk perubahan sosial baru disekitanya. Oleh Oleh karena itu, untuk tulisan ini perlu menggunakan teori pertukaran sosial  Peter M. Blau.
Tujuan dari teori pertukaran sosial Peter Blau adalah memahami struktur sosial berdasarkan analisis proses - proses sosial yang mengatur hubungan antar individu dengan kelompok. Menurut Ritzer analisis proses sosial bagi Blau adalah memahami struktur sosial atau kelompok sosial sebagai upaya untuk memahami perilaku individu yang merupakan bagian dari kelompok sosial itu. Kita tidak dapat menganalisis proses - proses interaksi sosial antar individu  selain dari struktur sosial yang ada di sekitarnya (Ritzer menyimpulkan pemahaman Peter Blau tentang teori Pertukaran Sosial, 2009: 458).
Perilaku sosial masyarakat di kabupaten Purbalingga sebagian besar diarahkan oleh struktur sosial di sekitarnya, biasanya dialami oleh masyarakat middle class dan  lower class. Pengaruh pendirian PT-PT rambut besar-besaran menjadikan pola ekonomi dalam keluarga menjadi berubah, yang berakibat pada pola asuh anak-anak yang justru dipegang oleh bapak nya. Keputusan menjadi pekerja PT oleh para ibu merupakan pengaruh dari arahan suka rela struktur sosial dimana dia bertempat tinggal. Sehingga dari fenomena ini, mengakibatkan keadaan sosial yang berbeda dari biasanya, yaitu posisi ibu yang seharusnya mengurus anak, karena ada PT rambut, maka ibu menjadi pekerja disana. Disisi lain, kesulitan bapak mencari kerja dan sedikitnya lowongan kerja laki-laki di Purbalingga menjadikan sang bapak mengasuh anaknya dirumah menggantikan peran ibu yang bekerja di PT rambut.

G.    Metode Penelitian
  1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Purbalingga. Kabupaten Purbalingga merupakan penghasil bulu mata terbesar kedua didunia setelah Cina. Lokasi ini dipilih karena kedekatan emosional dengan peneliti. Tempat penelitian ini akan ditentukan di dua kecamatan sebagai semple. Tempat pertama di Kecamatan Kemangkon yang meresepresentasikan kehidupan di desa, dan Kecamatan Purbalingga, yang mencerminkan kehidupan di Kota. Kedua kecamatan itu merupakan pemasok tenaga kerja perempuan terbesar sebagai bulu mata. Disamping itu, kedua tempat ini merupkan tempat tinggal dari peneliti.
  1. Bentuk Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang diangkat, penelitian ini menganalisis fenomena “Pamong Praja”,  untuk memahami hal itu, perlu diteliti secara mendalam mengenai persepsi masyarakat Purbalingga terhadap fenomena “Pamong Praja”, kemudian cara pola asuh bapak terhadap anak-anaknya dirumah serta dampak pola asuh bapak terhadap perkembangan anak. Dengan demikian, penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif-kualitatif.
Strategi yang digunakan adalah studi kasus, dimana peneliti harus mengumpulkan data setepat-tepatnya dan selengkap-lengkapnya dari kasus tersebut untuk mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi dari masalah yang diteliti. Setiap fakta itu dipelajari peranan dan fungsinya di dalam kehidupan kasus (Robert E. Stake, 2009: 313). Suatu kasus dapat terdiri atas suatu unit atau lebih dari satu unit, tetapi merupakan satu kesatuan. Kasus dapat satu orang, satu kelas, satu sekolah, beberapa sekolah tetapi dalam satu kantor pengumpulan, dan lainnya (Sukmadinata, 2010: 64).
Mengingat penelitian ini berusaha untuk mengkaji dan memperoleh gambaran fenomena “Pamong Praja”, maka penelitian ini lebih bersifat holistik. Holistik yang diterapkan dalam penelitian ini bukan holistik secara penuh, melainkan telah dibatasi dan difokuskan pada permasalahan-permasalahan tertentu yang telah dirumuskan dalam proposal. Oleh karena itu, penelitian ini merupakan bentuk studi kasus tunggal. Dalam studi kasus tunggal mungkin masih ada beberapa keterkaitan dengan sub-sub analisisnya, agar desain yang kompleks atau terpancang bisa berkembang. Sub-unit tersebut seringkali dapat menambah peluang-peluang signifikasi bagi analisis yang lebih luas, yang mengembangkan bagian-bagian kasus tunggal yang bersangkutan. Strategi penelitian ini juga bisa disebut studi kasus tunggal terpancang (Yin, 2012: 46-54), karena permasalahan dan fokusnya telah dirumuskan dalam proposal penelitian sebelum peneliti memasuki lapangan studinya.
  1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Dalam penlitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi alamiah), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (participant observation), wawancara mendalam (in depth interview) dan dokumentasi (Sugiyono, 2012: 308-309). 
Pengumpulan data dalam studi kasus dapat diambil dari berbagai sumber informasi, karena studi kasus melibatkan pengumpulan data yang “kaya” untuk membangun gambaran yang mendalam dari suatu kasus. Dari pemaparan diatas, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam proses penelitian ini dapat di perjelas sebagai berikut:
  1. Wawancara Mendalam
Dalam penelitian sosial pada umumnya ada dua macam wawancara yang dasarnya sama tapi berbeda sifatnya, yakni (1) wawancara terhadap informan, dan (2) wawancara terhadap responden. Wawancara terhadap informan dimaksudkan untuk mendapatkan keterangan dan data mengenai individu tertentu (bukan mengenai individu informan) untuk keperluan informasi, sedangkan wawancara terhadap responden dimaksudkan untuk mendapatkan keterangan tentang diri pribadi, pendirian atau pandangan dari individu yang diwawancarai, untuk keperluan komparatif (Koentjaraningrat dalam Haryanto, 2011: 17). Untuk keperluan penelitian ini, akan digunakan wawancara terhadap informan dan terhadap responden.
Wawancara mendalam dilakukan untuk mengetahui pendapat dan pemahaman masyarakat Purbalingga terhadap fenomena “pamong praja”. Wawancara dilakukan kepada orang-orang disekitar lokasi penelitian, seprti masyarakat Desa yang berhubungan langsung dengan fenomena ini. Wawancara juga dilakukan kepada bapak-bapak yang mengasuh anaknya dirumah, serta kepada anak-anak yang sudah diasuh bapaknya dari kecil, supaya bisa mengetahui dampak yang ditimbulkan.
  1. Observasi Langsung
Observasi (observation) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung (Sukmadinata, 2010: 220).  Dalam teknik ini, peneliti tidak terlibat dalam kegiatan sebenarnya, tetapi hanya menjadi pengamat. Teknik observasi digunakan untuk menggali data dari sumber data berupa peristiwa, tempat atau lokasi, dan benda, serta rekaman gambar, observasi dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung atau tak berperan (Sutopo, 2002: 64).
Pada penelitian ini, digunakan observasi langsung untuk mengetahui kehidupan masyarakat Purbalingga yang memang mengalami fenomena “pamong praja”. Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi secara langsung. Hal-hal yang menjadi objek pengamatan antara lain: pola asuh bapak terhadap anaknya, kehidupan dirumah selama ditinggal pergi ibu bekerja, serta perilaku anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari, dan sebagainya.
  1. Pengkajian Dokumen dan Arsip (content analysis)
Menurut Sugiyono (2012: 329-330) menyatakan bahwa hasil dari observasi atau wawancara, akan lebih kredibel/dapat dipercaya kalau didukung oleh sejarah pribadi kehidupan di masa kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat, dan autobiografi. Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik yang telah ada.
Teknik yang dipaparkan diatas disebut contents analysis atau kajian isi. Dokumen tertulis dan arsip merupakan sumber data yang sering memiliki posisi penting dalam penelitian kualitatif. Dokumen bisa beragam bentuk, dari yang tertulis sederhana sampai yang lengkap, dan bahkan bisa berupa benda-benda lainnya sebagai peninggalan masa lampau. Demikian pula halnya arsip yang pada umumnya berupa catatan-catatan yang lebih formal bila dibandingkan dengan dokumen (Sutopo, 2002: 69).
Kajian dokumen digunakan peneliti untuk mengumpulkan dan menyelidiki data tertulis dari kelurahan, dari pusat statistik, dan dinasi-dinas terkait. Pada penelitian ini, peneliti melakukan content analysis terhadap jumlah tenaga kerja, kehidupan perekonomian, dan hasil dari pola asuh anak disekolah-sekolah dan kehidupan sosial lainnya. Teknik ini digunakan pula sebagai data pembanding untuk data yang telah diperoleh dari observasi dan wawancara terhadap guru dan peserta didik.
  1. Pengumpulan Sampling dan Validitas Data
Teknik cuplikan merupakan suatu bentuk khusus atau proses bagi pemusatan atau pemilihan dalam penelitian yang mengarah pada seleksi. Cuplikan dalam penelitian kualitatif sering juga dinyatakan sebagai internal sampling yang berlawanan dengan sifat cuplikan dalam penelitian kuantitatif, yang dinyatakan sebagai exsternal sampling. Dalam cuplikan yang bersifat internal, cuplikan diambil untuk mewakili informasinya, dengan kelengkapan dan kedalaman yang tidak sangat perlu ditentukan oleh jumlah sumber datanya, karena jumlah informan yang kecil bisa menjelaskan informasi yang banyak dibandingkan dengan narasumber yang banyak, yang mungkin kutang mengetahui dan memahami informasi yang sebenarnya (Sutopo, 2002: 55).
Pada penelitian ini, teknik cuplikan menggunakan purposive sampling. Artinya, sumber data dipilih melalui seleksi berdasarkan pertimbangan dan tujuan tertentu. H.B Sutopo (2002: 56) menjelaskan bahwa dalam purposive sampling, dalam pelaksanaan pengumpulan data, pilihan informasi dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti dalam memperoleh data, artinya peneliti memilih informannya berdasarkan posisi dengan akses tertentu yang dianggap memiliki informasi berdasarkan permasalahan secara mendalam. Penelitian ini digunakan pula cuplikan waktu (time sampling), cupliklan waktu berkaitan dengan cuplikan waktu yang dipilih dan dipandang tepat untuk pengumpulan informasi sesuai dengan masalah yang dikaji. Cuplikan waktu dalam penelitian ini untuk melihat fenomena “pamong praja” dipagi hingga sore hari.
Setelah mencari sampling, maka langkah berikutnya adalah validias data. Pengujian validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik triangulasi. Sugiyono (2012: 330) menjelaskan bahwa teknik triangulasi adalah teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai sumber data yang telah ada, bila peneliti mengumpulkan data dengan triangulasi maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibelitas data, yaitu mengecek kredibelitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data. Dengan demikian, triangulasi merupakan sebuah pandangan yang bersifat multiperspektif. Patton dalam Sutopo (2002: 78-82) menyatakan ada empat macam teknik triangulasi, yakni (1) triangulasi data, (2) triangulasi peneliti, (3) triangulasi metodologis, dan (4) triangulasi teoretis.
Melalui triangulasi data, peneliti menggunakan beberapa sumber data yang berbeda untuk mengetahui kebenaran suatu permasalahan. Selain menggunakan triangulasi data, digunakan pula triangulasi metode. Di dalam triangulasi metode, peneliti mengumpulkan data sejenis tetapi dengan menggunakan teknik atau metode pengumpulan data yang berbeda (Sutopo, 2002: 80). Artinya untuk mengamati satu sumber data digunakan beberapa metode, seperti digunakan metode wawancara, observasi, dan studi dokumen. Di dalam proses triangulasi, informasi-informasi yang diperoleh dari data dan metode yang berbeda dibandingkan satu sama lain sebagai upaya konfirmasi. Data yang diperoleh dinyatakan valid atau terpercaya ketika hasil konfirmasi dari data yang berbeda dan melalui metode yang beragam menunjukkan keterangan yang sama.
Selanjutnya adalah triangulasi teori, dalam triangulasi teori, peneliti menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan yang dikaji. Dari berbagai perspektif teori tersebut akan diperoleh pandangan yang lebih lengkap dan mendalam, tidak hanya sepihak, sehingga bisa dianalisis dan ditarik simpulan yang lebih utuh dan menyeluruh.  Dalam hal ini peneliti membahas informasi dengan perspektif teori-teori yang berbeda tetapi masih dalam satu disiplin ilmu. Sedangkan triangulasi peneliti merupakan gabungan dari berbagai penelitian yang sudah pernah dilakukan dengan tema yang sam dengan peneliitan yang akan dilakukan (Sutopo, 2002: 98-99).
  1. Teknik Analisis Data
Analisis yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan analisis model interaktif. Analisis interaktif terdiri atas tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan/verifikasi (Sutopo, 2002: 91). Dalam bentuk ini peneliti tetap bergerak di antara tiga komponen analisis dan pengumpulan data selama kegiatan pengumpulan data berlangsung. Setelah pengumpulan data berakhir, peneliti bergerak di antara tiga komponen analisisnya dengan menggunakan waktu yang masih tersisa dalam penelitian ini.
Menurut H.B. Sutopo (2002: 92) yang menjelaskan bahwa reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Setelah reduksi data, langkah berikutnya dalam analisis interaktif adalah penyajian data. Penyajian data dibatasi sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
Penyajian data yang paling sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah dalam bentuk teks naratif, yang merupakan rangkaian kalimat yang disusun secara, logis dan sistematis, sehingga mampu menyajikan permasalahan dengan fleksibel dan kaya data. Penyajian data dalam penelitian kualitatif dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih, sehingga peneliti dapat melihat apa yang sedang terjadi (Sutopo, 2002: 92-93).
Kegiatan analisis yang ketiga adalah menarik simpulan dan verifikasi. Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan konfigurasi yang utuh. Langkah awal dalam penarikan simpulan dan verifikasi dimulai dari penarikan simpulan sementara. Penarikan simpulan hasil penelitian diartikan sebagai penguraian hasil penelitian melalui teori yang dikembangkan. Dari hasil temuan ini kemudian dilakukan penarikan simpulan teoretik (Sutopo, 2002: 93). Kemudian simpulan perlu diverifikasi agar cukup mantap dan dapat dipertanggungjawabkan. 

H.    Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Haryanto, Samsi. 2011. Metode Wawancara dalam Penelitian Sejarah (Studi Non Dokumenter). Surakarta: UNS.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Press.
Sutopo. H.B. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif Dasar Teori dan Penerapannya dalam Penelitian. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Press.
Stake, Robert K. 2009. “Studi Kasus”, dalam Denzin, K. Norman dan Loncolin, S. Yvonna (eds). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Yin, Robert K. 2012. Studi Kasus Desain dan Metode (judul asli Case Study Research: Design and Methods terjemahan M. Djauzi Mudzakir). Jakarta: RajaGrafindo Persada.

I.       Jadwal Penelitian
No
Tahap Penelitian
Waktu Penelitian (tahun 2017)
April
Mei
Juni
Juli
Ags
Sep
Okt
1.
Perencanaan







2.
Penyusunan Proposal







3.
Pengumuman???







4.
Pengumpulan Data







5.
Analisi Data







6.
Penyusunan laporan







7.
Pengumpulan Laporan Penelitian








Sementara tidak dibagikan format Word nya, karena akan digunakan di INTEL ISEF

Saat ini berprofesi jadi BTW, Kadang jadi BLOGGER, yang pasti jadi TEACHER dan semoga jadi WRITER;)