Saturday, December 26, 2020

Tiga Sahabat #CerpenCLCTerusan2

 


Langit pagi baru saja menurunkan hawa dingin dengan lembut, mataku segera terbuka karena otaku telah diseting untuk rutinitas seperti ini. Sebagai anak perempuan tentu tugas ku lebih banyak, mencuci kain, mengemas barang-barang yang berada di rumah, setelah semua itu selesai maka aku segera pergi ke belakang rumah untuk mengenakan seragam kerjaku bukan seragam biasa seperti orang kantoran dasi ataupun pakaian safari yang kukenakan hanya baju butut, penuh getah dan noda.

Rantang-rantang berisi nasi dan lauknya yang baru saja ku masak tidak boleh terlewatkan  selanjutnnya sepatu kerja juga parang kumasukan dalam kantung berukuran cukup besar untuk menampung semuanya, itu menandakan aku telah siap untuk pergi menuju tempat poling[1] suara mesin motor saling bersahutan satu sama lain hingga jalanan menjadi gulungan debu, debu itu harus ku tembus agar bajuku tidak kotor aku rasa setiap orang akan berpikiran sama tentang hal itu jadilah jalanan kecil seperti arena balap motor cross.

Langit pagi biasannya begitu menarik merah jingga itulah tambahan semangat untuk menatap masa depan, setelah mendengarkan arahan dari seorang mandor kami siap untuk pergi ke ladang tempat kami bekerja aku kebagian di blok 10, hal ini di tandai oleh raungan bel yang serak juga pecah-pecah, seperti suara bel sekolahku dulu tapi ini lebih keras. Tujuannya agar kami waspada mungkin, atau itu prosedur yang memang dibuat oleh perusahaan.

Sepanjang jalan  kulihat  pohon kelapa sawit berbaris rapih juga sisa-sisa pohon kelapa sawit yang dirobohkan oleh buldoser diganti dengan pohon baru. Lokasi kerjaku adalah blok-blok sawit yang mulai tua kabarnnya tahun depan nasibnnya akan sama tumbang dan digantikan oleh yang baru. Pada tempat ini aku gantungkan nasibku juga perut keluargaku, kerap rasa bosan selalu membayangi dalam setiap harinnya, namun itu dapat teratasi oleh gelak tawa dua sahabatku, oh ia.. perkenalkan namaku Jusriani orang-orang memanggilku Nani, setiap harinnya aku ditemani oleh dua sahabat sejati yang kukenal semenjak bekerja di ladang ini.

“hai,,Awal betul”

“haha…tidak juga kamipun baru sampai”

            Kedua temanku ini memang paling spesial karena mereka adalah salah satu alasan mengapa aku masih bertahan di sini. Sahabatku pertama Sumarni ia sosok perempuan cuek pada hal-hal tidak penting tapi kalau urusan sahabat ia akan paling awal untuk memberikan semangat. Tubuhnnya gepal namun rona pipinnya merah membuktikan kalau dia lebih banyak tersenyum dalam hidupnnya. Satu lagi adalah Maya Emmmm….yang jelas mahluk satu ini seperti terbuat dari radio butut maaf Maya tapi kamu tetap sahabatku, mulutnnya akan sangat cerewet mengomentari apa saja yang baru ia dengar. Telinga kami sudah dianggpnnya sebagai gantungan kunci setiap ia mendapatkan gosip baru, kami harus siap mendengarkannya bermenit-menit, namun kalau masalah perhatian kurang lebih sama dengan Marni satu hari saja aku tidak pergi kerja karena sakit satu hari juga mereka berada dirumahku untuk menghibur. Mereka memang manusia-manusia hebat yang Tuhan ciptakan dari semangat bekerja.

            Pertemanan kami sudah cukup lama ya…kurang lebih sekitar empat tahun yang lalu, blok yang luasnnya 10hektar ini adalah tempat kami berjumpa tidak hanya kerja menggosip hal-hal remeh temehpun biasannya kami buat di dalam sini.

Aku sendiri tidak paham apa itu sahabat dalam arti sebenarnnya tapi bagiku pengertian itu tidak penting, rasa yang kami pupuk untuk saling menolong dan mendengarkan cerita satu samalain ku rasa cukup untuk menggambarkan definisi dari persahabatan.

            Cuaca di sini cepat sekali berubah terkadang terang tapi beberapa menit kemudian matahari begitu terik membakar kulit, sehingga kami harus siap mengoleskan sunblock yang kami buat dengan racikan sendiri, dari bedak sehari-hari kemudina dicampur air setelah itu diusapkan pada wajah kami agar tidak terbakar matahari.

Walaupun kerja kami di tengah blok yang ter tutup oleh pohon kelapa sawit tetapi tetap saja matahari akan menerobos dari celah celah dedaunan menembus jauh ke dalam kulit kami, kami tetap perempuan. Pada kodraatnnya adalah pesolek jadi dimanpun itu kami akan selalu menjaga tubuh kami sampai-sampai pakaian kami benar tertutup, Marni pernah nyeletuk! kalau kita adalah Ninja yang bersenjatakan parang, dengan gayannya berdiri dan berlenggak lenggok.

            “Panas betul ya….”ucap Maya lalu kami mengiyakan itu adalah kode buat kami.

            Hari ini matahari memang begitu terik, di dalam blok tidak ada kamera sisi tv yang ada hanya pak Mandor itupun ia harus mengawas dibeberapa blok, jika matahari telah begitu terik maka kita akan mencari satu pohon untuk bersandar sambil mencuri-curi pandang pada daerah sekitar agar ketika mandor datang kami siap pada posisi semula.

            “ini jam berapa?”

            Maya menjawab dengan mengacungkan tangannya ke arah matahati

            “Lihat!! bayangannya sudah menujuk pada perut kita. Berarti itu tandannya kita harus…?”

            hahaha…haha” kami tertawa melihat tingkah Maya yang selalu konyol saat suasana sepi seperti ini

            Tingkah-tingkah seperti tadi telah begitu pekat tertoreh dalah hati kami masing-masing. Rasa sayang hadir begitu saja tidak dapat kami tolak. Setelah kami sepakati untuk beristirahat kami akan mencari rantang-rantang yang kami bawa tadi pagi. Parang dan sepatu bot kami tanggalkan di bawah pohon sawit, dengan cekatan  Marni menebas daun kelapa sawit untuk alas kami duduk bersila menyantap makanan.

            “Apa yang kau bawa Nani? Jangan bilang hanya goreng pisang ya!perutku lapar tadi pagi lupa masak”

            “Tenang saja hari ini aku membawa konto-konto[2] tadi pagi aku bangun cukup pagi jadi sempat membuat ini”

            Selanjutnnya kami bersila membentuk lingkaran, makanan tadi kami simpan di tengah-tengah, pastinnya itu semua agar dapat memudahkan kami untuk mengambilnnya. Biasannya kami akan begitu gesit ketika makanan telah terhidang di tengah kami apalagi si Marni dia orang paling gesit kalau berbicara masalah makanan.

            “May denger…denger kamu mau balik kampung”

            Hah…!!!” aku terkejut benar benar kaget saat marni berkata seperti itu tiba-tiba saja selera makanku hilang.

            Pantas saja Maya lebih pendiam dari biasannya ternyata ada yang ia sembunyikan dariku.

            “Betul apa kata Marni!!!?”

            “belum tahu lagi, kata mama selepas gajih ini”

            “Kenapa mendadak!”

            “sedikitpun aku tidak meminta untuk pulang Nan! Tapi mama tiba –tiba ingin pulang katannya ia sudah terlalu tua untuk bekerja di sini”

            Entah mengapa rasannya mendadak ada yang kosong menusuk bagian hatiku. Tiba-tiba suasana makan yang biasannya riang menjadi pemandangan mengharukan

            Hiks…hiks..” Marni terlihat menetskan Air mata sepertinnya air mata itu turun tanpa disadari makanan yang masih menjejali mulutnnya bercampur air mata. Semakinderas.

            “Kenapa kalian ini!,”

            Kami semua mulai terhening, aku membayangkan hari-hari tanpa Maya pasti akan ada yang kurang, aku rasa begitupun dengan Marni tempat ini tidak akan sama lagi. Maya masih asik dengan makanannya seolah tidak ingin ikut larut dengan kesedihan. Tapi! Itu semua hanya kamuflase yang ia buat aku yakin ia pun tidak menerima keputusan mamanya tapi ia hanya seorang anak yang harus menurut perkataan orang tua.

            “aku masih tidak percaya kau harus pulang! bagaimana dengan kami di sini”

            “kalian akan baik-baik saja tanpa aku, kalian pasti baik-baik saja”

            “Kenapa mudah sekali kau berkata seperti itu May!!”

            “aku yakin persahabatan kita tidak aka berakhir walaupun aku harus pulang ke Indonesia, kita akan tetap sama menjadi seorang sahabat”

            “tidak bisa begitu!!” jawabku, entah kenapa sepertinnya aku tidak menerima keputusan maya dengan mudah, ada yang mengganjal di otaku entah apa itu sepertinnya perasaan kehilangan yang teramat. Sosok maya tidak dapat digantikan oleh siapapun.

            “bukannya kaupun akan pulang?” tanya maya ada Marni

            Ada apalagi sebenarnnya ini, aku belum percaya kenapa mereka menyembunyikan semua ini padaku. Lalu dengan siapa aku harus melewati hari-hari ini.

            “Maafkan aku Nan, aku menyembunyikan ini darimu kau pasti akan sedih, akupun tidak tahu maya akan pulang, kabar ini ku dengar dari adiku, akusama terkejutnnya denganmu”

            “tetapi kenapa bisa bersamaan begitu, bagaimana denganku!!”

            Dalam keadaan ini aku tidak dapat berpikir banyak semuannya mendadak hilang lemas makanpun tak bereasa apa-apa.

*****

            Pagi yang harus kujalani dengan begitu berat, semalam aku mendapat kabar dari kampung jika aku harus pulang dengan segera karena orang tuaku sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Bagaimana dengan kawanku Jusnani, dan Maya pasti mereka tidak ingin mendengar kepulanganku begitu saja. Aku tidak ingin menambah kesedihan mereka dengan kabar orang tua ku, sebisa mungkin ini ku simpan rapat-rapat.

            Bagaimana nanti apa yang harus kukatakan pada mereka, apakah aku harus berbohong tentang semua ini! Atau biarkan saja sampai mereka benar-benar bertannya mengenai hal ini. Rasannya terlalu berat meninggalkan dua sahabat terbaik namun apa boleh buat ayah dan ibu membutuhkanku di kampung. Semoga aku dapat kembali ke sini, atau kita dapat bertemu dikesempatan lain dan berkumpul bersama.

 

*****

            “Ada apa dengan kalian semua!! kenapa merahasikannya dariku!!” entah kenapa nadaku meninggi Tuhan aku tidak ingin kehilangan mereka kenapa mereka harus pulang kampung secepat ini. Ini bukan perkara pulang kampong belaka bagiku terlebih ketatnnya aturan perusahaan mengenai kepulangan pekerjannya belum tentu mereka akan kembali ke sini.

            “mungkin jika urusanku sudah selesai aku akan segera kembali semoga saja compeni masih memberikan kesempatan” ungkap Marni kepadaku

            “Bagaimana denganmu May?”

            “sejauh ini aku belum dapat memberikan keputusan tinggal di kampung atau kembali. Keputusan orang tua lebih penting aku tidak bisa menolaknnya”

            “Nani jangan menangis,kita pasti berjumpa lagi”

Entah kenapa airmataku tiba-tiba meleleh seperti cairan lilin dibakar api. Ada rasa kesal yang menggumpal besar kenapa mereka menyembunyikan semua ini dari ku. Apa yang mereka pikirkan sebenarnnya apakah mereka tidak bisa menimbang perasaanku.

            “Nani jangan bersdih, maaf bukan maksudku untuk merahasiakan semuannya darimu, tapi aku berpikir dan memiliki keyakinan akan kembali ke sini jadi ku anggap ini hanya perpisahan sementara”

            Sosok mereka amatlah berarti bagiku, aku dapat merasakan beberapa hari kedepan selepas mereka pergi pasti kerjaku malas-malasan. Dengan siapa aku berbagi makanan bercerita tertawa. Tiba-tiba mereka memeluku begitu erat air mataku semakin deras turun seperti ada tarikan kuat gravitasi bumi. Jauh dalam hatiku lebih dalam lagi menangis membayangkannya. Akankah mereka akan kembali bersamaku atau aku yang akan mengikuti mereka pulang. Tapi sepertinnya untuk kembali ke Indonesia masih belum ada dalam benaku, keluargaku semuanya di sini. Keluargaku masih membutuhkanku.

            Matahari mulai lembut merabaku, punggungku muali terasa hangat pelukan meraka begitu erat apa yang harus kuperbuat!, hanya rindu ini yang bisa ku titipkan. Kedua sahabatku masih terus mencoba untuk menghibur. Aku tetap tidak bergeming pada khayalanku setelah mereka pergi.

            “ingat kita semua tetap sahabat kemanapun, raga kita pergi” maya mengingatkan kami hati ku mulai menerima segera ku usap air mata yang sedari tadi turun.

            “Ayo kita lanjutkan lagi Makan” Marni mencoba mengalihkan perhatian

            “ia ayo Nan, kerja kita masih banyak Nanti mandor datang kita kena semprot!”

Kami semua segera bergegas menuntaskan makan siang dan kembali bekerja, ilalang dan rumput tak bertuan terus kami tebasi dengan parang panjang andalan kami.Aku masih belum percaya. Setiap tebasan parang sepertinnya semakin berat.

            “Aku sayang Kalian Sahabatku!!” suaraku memecah sepi mereka berdua memandangiku dengan begitu tajam. Anggukan dari mereka pertanda balasan hati yang tulus. Jarak hanyalah sekat dalam ingatan, ketika hati telah merasa bermukim pada teduhnnya diri seseorang disitulah kita akan menyimpan ingatan. Tersenyum lah sahabatku pada waktu yang entah itu kapan. Kita akan tetap sahabat.



[1] Poling Adalah kata lain dari absen yang digunakan oleh para pekerja ladang

[2] Konto-Konto sejenis bala-bala namun campuran didalamnnya biasannya daun pakis