Showing posts with label PERISTIWA SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label PERISTIWA SEJARAH. Show all posts

Wednesday, January 6, 2021

Bagian Bangunan Kraton Surakarta Part 3 #Habis

arifsae.com - Artikel kali ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya PART 2 DISINI. Semoga bermanfaat.

***


Kompleks Kamandungan Ler

Kompleks ini merupakan area terdepan kraton dari sebelah selatan. Area ini menurut banyak orang sebagai Icon Kraton Surakarta. Hal ini dilihat dari ornament yang unik sehingga menjadikannya sangat menarik. Ada perpaduan bangunan Panggung Sangga Buana yang menjulang tinggi dengan ukiran-ukiran menawan. Untuk masuk kedalam Kompleks Kamandungan Ler, harus melewati pintu utama kraton berupa Kori Branjanala atau Kori Gapit.


Kori Brajanala merupakan gapura masuk utama yang dikelilingi dinding Benteng Baluwarti. Pintu gerbang ini dibangun oleh PB III tahun 1744 dengan bahan kayu Jati kualitas super. Bangunan atapnya berbentuk Joglo Semar Tinandhu. Pada era PB III, Kori Bajanala selalu dijaga oleh 8 orang Abdi Dalem di pos penjagaan. 

Kemandungan Ler
Sumber kesolo.com

Dari Kori Brajanala, terlihat jelas bangunan megah berornamen khas ukiran Surakarta yang diberi nama Bangsal Kamandungan. Disini ada pelataran luas yang diberi nama Bale Rata. Bangsal Kamandungan merupakan tempat prajurit Kraton Surakarta bertugas untuk mengecek para tamu kerajaan yang akan masuk kedalam kraton. Petugas ini dinamakan Jajar Mendung. 


Disini juga ada bangunan Gita Swandana, yaitu tempat untuk menyimpan tunggangan raja seperti mobil atau kuda. Bangunan ini berada di sebelah Kori Kamandungan. Kori Kamandungan merupakan pintu utama yang menghubungkan Kompleks Kamandungan menuju ke kompleks kraton lainnya, Sri Manganti.

Kompleks Sri Manganti

Setelah membahas tentang Kompleks Kamandhanagan Lor, maka setelah melewati Kori Kamandhungan akan ada area Sri Manganti. Sri Menganti sendiri mempunyai arti mengajak atau menggandeng. Ada juga yang mengartikan sebagai menanti, atau tempat menunggu. 


Area ini terdiri dari dua bagian bangunan, bangunan pertama dinamakan Bangsal Smarakatha yang letaknya sebelah barat, dan sebelah timur ada Bangsal Marcukundha. Bangsal Smarakatha dulu digunakan untuk tempat menunggu pegawai menengah keatas yang akan menghadap raja. Sekarang tempat ini dijadikan tempat untuk berlatih kesenian dan pedalangan.

Bangsal Smarakhata
(sumber: merbabu.com)

Sedangkan sebalah timur ada Bangsal Marcukundha, yaitu tempat berbentuk limasan yang terletak diseblah timur kompleks Sri Manganti. Dulu bangsal ini duguanakn untuk pelantikan pegawai dan pejabat baru. Sekarang tempat ini digunakan untuk menyimpan Krobongan Madirenggo yaitu tempat untuk melakukan Sunat bagi putera Susuhan. 


Disini juga ada panggung Sangga Buana yaitu bangunan bertingkat 5 lantai yang dulunya digunakan untuk meditasi raja. Secara folosofi, panggung Sangga Buana dianggap sebagai Lingga dan Kori Sri Menganti dianggap sebagai Yoni. Menurut kepercayaan Jawa, Lingga-Yoni merupakan lambang kesuburan umat manusia. 

Sri Mengantai
(sumber: kesolo.com)

Kompleks Sri Menganti ini merupakan salah satu jalan untuk memasuki tempat utama kraton, Kompleks Kedathon. Pintu yang harus dilewati adalah Semar Tinandu, atau sering dikenal dengan Kori Sri Manganti. Kori Sri Menganti ini terdapat hiasan berupa Sri Makuta Raja yang menjadi logo bagi Kasultanan Surakarta. Disamping kanan dan kiri Kori Sri Menganti terdapat relief berupa lambang pria dan wanita.


Dari semua bangunan yang ada di kompleks ini, Bangsal Sri Menganti menjadi bagian paling penting, karena bagian ini merupaka bagian ruang tunggu raja yang menungggu raja lain yang akan berkunjung ke kraton. Diatas pintu sebelah kanan bangsal Sri Menganti ada lambang kerajaan yang merupakan Candra Sangkala Memet yang berbunyi, “senjata kasalira rasaning narendra” yang berarti seorang raja memiliki kewajiban mendamaikan pertikaian dan menciptakan perdamaian. 

Kmpleks Kedathon

Kompleks Kedhaton merupakan inti dari bengunan kraton. Untuk memasuki kompleks ini, bisa melalui Kori Sri Manganti. Karena termasuk inti kraton, maka tidak semua orang bisa dengan mudah memasukinya. Untuk wisatawan hanya diperbolehkan dihalaman depan saja. Dihalaman depan ini banyak terdapat Pohon Sawo Kecik, yang mempunyi makna serba baik.

Depan Kedhaton
(Sumber: kesolo.com)

Bangunan tertinggi disini bernama Panggung Sangga Buwana yang berbentuk menara segi delapan, terdiri dari lima lantai setinggi 35 meter. Pada zaman dulu, tempat ini digunakan untuk melakukan meditasi raja, serta untuk mengawasi benteng Vastenburg VOC Belanda yang berada didepan Gladak Kraton. Pada puncak bangunan, terdapat arah mata angin yang dikendarai manusia sambil memanah. 


Dikompleks ini terdapat Sasana Sewaka yang digunakan untuk upacara adat, seperti Tingalan Jumeneng atau Grebeg. Bangunan ini merupakan peniggalan Kraton Kartasura sebelum pindah ibu kota. Didepan Sasana Sewaka terdapat berbagai bangsal yang berjejer dari utara ke selatan, Bangsal Bujana berfungsi menjamu pengikut tamu kerajaan, Bangsal Pradangga untuk menabuh gamelan dan Bangsal Musik untuk pertunjukan seni musik. 

Arsitekturnya dirancang menghadap ke timur, sebagai perlambangan kekuasaan raja. Bangunan yang terdapat di Sasana Sewaka seperti Maligi, Paningrat, Paningrat Bedhayan. Disebelah selatan ada Sasana Handrawira, digunakan untuk perjamuan raja dengan tamu agungnya. Tempat ini juga digunakan untuk acara-acara umum seperti seminar, talk show dan lainnya.


Sebelah selatan Sasana Handrawina terdapat Sasana Pustaka, yaitu perpustakaan kerajaan dan juga tempat untuk menyimpan barang-barang hadian yang diberikan kepada raja. Tidak semua orag bisa mengakses bangunan yang terdiri dari dua lantai ini, butuh ijin khusus untuk memasukinya. Disebelah barat, ada bangunan yang menjadi inti dari Kedhaton. Bangunan inti ini menjadi tempat penyimpanan berbagai pusaka kerajaan dan tahta raja yang menjadi simbol kebesaran kerajaan, nama tempat ini adalah Ndalem Ageng Prabasuyasa.

Sasana Sewaka
(sumber: kesolo.com)

Disini juga terdapat Masjid Pudyasana, yaitu masjid yang digunakan oleh para keluarga kraton. Disinilah tempat pensucian jenazah raja-raja yang mangkat. Masih dikompleks ini, ada bangunan yang digunakan oleh para putra putrei garwo ampeyan atau selir raja. Mereka diperbolehkan tinggal disini sampai dewasa, kalau sudah dewasa mereka harus pindah ke tempat yang lain. 

Kompleks Magangan

Magangan atau Kamagangan berakar dari kata Magang. Tempat ini sesuai dengan akar katanya digunakan untuk para calon Abdi Dalem atau pegawai kerajaan untuk berlatih, ujian penerimaan dan apel kesetiaan. Proses ini dilalui para calon sebelum diterima sebagai pegawai tetap kerajaan. 

Kemagangan
(Sumber: kesolo.com)

Ditengah-tengah Pandapa Kemagangan, terdapat bangsal yang dipakai untuk melakuka Pisowanan Abdi Dalem perempuan. Sekarang, kompleks ini sering digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara kebudayaan. 

Kompleks Kamandungan Kidul

Kori Gadungmlathi digunakan untuk keluar dari area Kemagangan. Ada bangunan Kamandungan Kidul ketika keluar dari Kamagangan. Kompleks ini digunakan untuk melakukan ritual upacara pemakaman raja ataupun permaisurinya. 

Kori Brojolo Kidul

Seperti halnya kompleks Kamandungan Lor, di kompleks ini terdapat kori sebagai pintu gerbang untuk keluar dari komplkes. Gerbang itu dinamakan Kori Brojonolo. Kori ini diapit oleh bangsal kecil, Bangsal Nyutra dan Bangsal Mangundara. Gerbang ini juga menghubungkan dengan jalan Supit Urang yang menjadi penghubung antara Kemandhungan Kidul dengan Siti Hinggil Kidul.

Kompleks Siti Hinggil Kidul

Didalam kompleks ini terdapat bangunan terbuka yang dikelilingi oleh pagar besi pendek. Bangunan-bangunan disini lebih sederhana dibandingkan denga bangunan kraton lainnya. Filosofinya, melambangkan perjalanan spiritual, yaitu bersatunya manusia dengan Tuhan sehingga harus meninggalkan kemewahan dan keinginan duniawi. 

Siati Hinggil Kidul
(kesolo.com)

Disekitar Siti Hinggil Kidul, terdapat Alun-Alun Kidul yang dulu sering digunakan untuk sarana hiburan bagi keluarga raja atau latihan keprajuritan. Di sini juga terdapat sepasang pohon beringin yang berada ditengah-tengah alun-alun. Sebagai wilayah privat kerajaan, alun-alun ini dikelilingi oleh tembok tinggi dan disekitar lokasi terdapat rumah para bangsawan kerajaan.

Alun-alun

Dilingkungan ini juga terdapat sebuah bangunan kecil yang digunakan sebagai tempat untuk memelihara hewan pusaka Kebo Bule yang diberi nama Kyai Slamet. Pintu gerbang untuk keluar dari kawasan kraton ini dinamakan Gapura Gading. []

HABIS TAMAT

Bagian Bangunan Kraton Surakarta Part 2


arifsae.com - Artikel kali ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya PART 1 DISINI. Semoga bermanfaat.

***

Untuk lebih jelasnya mari kita bahas bagian-bagian arsitek Kraton Surakarta satu persatu,

Alun-Alun Lor

Bagiaan paling depan untuk memasuki Kraton Surakarta adalah Alun-Alun Lor (Utara). Kompleks ini ditanami pohon beringin dipinggiran dan tidak diberi pagar. Sedangkan pohon beringin ditengah-tangah alun-alun diberi pagar, wajar saja diberi nama Waringin Sangkeran (Beringin yang dikurung). Disebalah barat bernama Dewandaru (Keluhuran), dan beringin timur yang bernama Jayandaru (Kemenangan). Konon, pohon ini hasil dari perpindahan pohon beringin yang dulu terdapat pada Kraton Kertasura sebelum pindah ibu kota ke Surakarta.

Wednesday, December 30, 2020

Bagian Bangunan Kraton Surakarta Part 1

Sri Radya Laksana (sumber: wikipedia)

arifsae.com - Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sudah di bangun sejak masa pemerintahan Sri Susuhan Paku Buwono II sejak tahun 1744. Sebelumnya, pusat Kraton terletak diwilayah di Kartasuro. Perpindahan Kraton diakibatkan karena Kraton Kartosuro rusak parah akibat kerusuhan Geger Pacinan tahun 1743. Bagi sebuah kerajaan, sebuah kraton yang sudah “tercemar” oleh para pembrontak maka harus dipindah.


PB II memindahkan Kraton ke sebuah desa bernama Desa Sala atau Solo. Alasan perpindahan kedesa itu dikarenakan dekat dengan Sungai Beton, atau lebih dikenal dengan Sungai Bengawan Solo. Suatu wilayah apabila dekat dengan sungai, maka akan dipastikan tanahnya subur. Sejak berpindah kraton itu, Desa Solo berubah menjadi Surakarta Hadiningrat.


Seperti sudah dijelaskan diatas, bahwa pada tahun 1755 Masehi, terjadi Perjanjian Giyanti yang membagi wilayah Kerajaan Mataram menjadi dua bagian, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Setelah berpisah, Kasultanan Yogyakarta berpindah 60 Km keatas Barat dari Surakarta. Wilayah ini berpusat di Yogyakarta. Sedangkan Kraton Surakarta tetap berada di tempat serupa.


Bangunan Kraton Surakarta didirikan mengarah antara Utara ke Selatan. Konsep kraton di Jawa pada umumnya  memiliki nilai dan konsep kosmologi berupa lingkaran konsentris. Istana utama, Kompleks Kedhaton, menjadi tempat kediaman dan pusat dari kraton ditempatkan di tengah-tengah sebagai pusat utama. Sedangkan bangunan-bangunan lainnya mengitari Kedhaton sebagai pendamping dari inti kraton utama.


Istilah ini disebut sebagai negara agung, yaitu konsep negara yang ada ibu kota dan wilayah-wilayah lain yang mengitarinya. Bangunan Kedhaton di Kasunanan Surakarta sebagian besar berwarna putih dan biru yang menggambarkan kesucian dan kecerahan. Ditambah dengan campuran ornamen gabungan budaya Jawa dan Eropa yang membuat arsitekturnya menjadi menawan.  


Bagi kalangan yang terikat secara langsung maupun tidak langsung, menganggap  bahwa bangunan kraton masih memilki makna filosofis yang tinggi, bahkan termasuk bagian bangunan-bangunan lain disekitarnya. Begitu juga dengan Kraton Surakarta. Salah satu aktor penting orang yang mengarsiteki kraton adalah Pangeran Mangkubumi. Dialah orang yang kelak dikemudian hari menjadi raja pertama Kasultanan Yogyakarta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I. Maka tak heran, pola dasar dan tata ruang antara Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta tidak banyak perbedaan, justru sebaliknya, banyak memiliki kesamaan dari berbagai sudut.


Proses pembangunan Kraton Surakarta sendiri dilakukan secara bertahap sesuai dengan pola dasar kraton yang telah dibuat oleh Pangeran Mangkubumi. Kraton juga pernah mengalami renovasi dan restorasi besar-besaran terutama era Sri Paku Buwono X antara tahun 1893-1939.

 

Bangunan-bangunan di Kraton terdiri dari bagian latar, inti kraton, dan bagian belakang kraton. Secara garis besar, bagian kraton meliputi, (1) kompleks Alun-Alun Lor; (2) kompleks Kamandhungan Lor; (3) Kompleks Sri Manganti; (3) Kompleks Kedhaton; (4) Kompleks Kamagangan; (5) Kompleks Sri Manganti Kidul; (6) Kamandhunga Kidul; (7) Kompleks Siti Hinggil Kidul; dan (8) Alun-Alun Kidul.


Semua bagian itu dikelilingi dengan Baluwati, yaitu dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima meter dengan ketebalan satu meter. Kompleks kraton yang berada didalam lingkungan dinding adalah dari Kamandungan Lor sampai Kamandhungan Kidul.


Untuk lebih jelasnya mari kita bahas bagian-bagian arsitek Kraton Surakarta satu persatu, BERSAMBUNG... PART 2 DISINI.


Sunday, December 27, 2020

Kelanjutan Kerajaan Jawa #SeriKeratonJawa

Sultan Agung
sumber: rayanet.web.id

arifsae.com - Indonesia saat ini merupakan negara dengan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tapi, sebelum Indonesia menjadi negara Republik, ternyata sebagian besar wiayah di Indonesia berbentuk kerajaan. Bahkan pada masa kejayaanya, kerajaan-kerajaan di Indonesia pernah diakui oleh kerajaan besar dibelahan dunia lainnya.


Kerajaan-kerajaan ini hadir dan eksis pada masa Hindu-Budha sampai kedatangan Islam di Indonesia. Sebut saja Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Kerajaan ini menjadi kerajaan maritim yang disegani dikawasan Asia Tenggara. Atau Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, yang luas wilayahnya bahkan melebihi luas wilayah Indonesia saat ini.


Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit eksis pada masa Hindu-Budha. Setelah era Hindu-Budha berakhir (dengan ditandainya masuknya ajaran Islam), maka bergantilah corak Kerajaan yang ada di Indonesia menjadi Islam. Dengan masuknya Islam, maka landasan Islam yang menjadi ciri khas pemerintahannya. Ketika kedatangan penjajah yang mencoba ikut campur dalam kedaulatan wilayahnya, tak jarang kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia menjadi yang terdepan ketika melawan penjajah VOC Belanda. Salah satu contoh kerajaan itu adalah Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, dan Kerajaan Mataram Islam.


Dari semua kerajaan-kerajaan diatas, hanya tinggal Kerajaan Mataram Islam yang masih eksis hingga saat ini. Kerajaan-kerajaan, yang setidaknya melanjutkan kekuasaanya, ini tetap hidup dan mendarah daging di lungkungan orang Jawa. Baik bangunan atau ajaran dan kebudayaanya masih terjaga sampai sekarang. 


Kelanjutan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam atau Kasultanan Mataram berdiri sekitar abad ke-17 yang didirikan oleh Sutawijaya atau Panembahan Senapati putera dari Ki Ageng Pemanahan. Kerajaan ini boleh dikatakan sebagai penerus dari Kasultanan Pajang sepeninggal Raja Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Bahkan lebih jauh, penerus Kasultanan Demak yang juga merupakan kelanjutan dari Kerajaan Majapahit.


Didalam Kerajaan inilah muncul sosok raja yang membawa pada keemasannya, dialah Mas Rangsang atau Sultan Agung Prabu Hanyongkrokusumo. Pada masa Sultan Agung, wilayah kekuasaanya mencakup sebagian Pulau Jawa (sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur) hingga Madura. 


Bahkan, Sultan Agung berani menyerang VOC di Batavia pada tahun 1628-1629 Masehi, disaat kerajaan lain segan dan takut terhadap kekuatan VOC. Namun sayang, setelah mengalami kejayaanya, Kasultanan Mataram perlahan meredup pengaruhnya sejak meninggalnya Sultan Agung. VOC secara berangsur-angsur berhasil memecah belah kerajaan ini menjadi beberapa bagian.


Puncaknya, pada tanggal 13 Februari 1755 terjadi Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua wilyah, yaitu Kesunanan Surakarta dibawah raja Susuhan Paku Buwono III dan Kesultanan Yogyakarta dikendalikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Sejak saat itu, Kerajaan Mataram Islam telah pecah. Dan kedua kerajaan pecahaanya dianggap sebagai kelanjutan dari Kasultanan Mataram Islam.


Tidak sampai disitu, perpecahan tetap terjadi di tubuh kerajaan-kerajaan yang dianggap sebagai penerus Dinasti Mataram itu. Karena 2 tahun berselang sejak Perjanjian Giyanti, Kasunanan Surakarta terpecah lagi. Sejak 17 Maret 1757, Raden Mas Said dan Sultan Paku Buwana III menandatangani Perjanjian Salatiga, yang memberikan hak kepada Raden Mas Said untuk menguasai wilayah Timur dan Selatan dari wilayah Mataram. Gelar dari Raden Mas Said adalah Mangkunegara I. Kemudian diberikan wilayah yang berkedudukan di Pura Mangkunegaran.


Perpecahan tidak hanya terjadi dalam  tubuh Kasunanan Surakarta, gejolak juga terjadi di Kasultanan Yogyakarta. Karena pada tahun 1813, didalam wilayah Kasultanan Yogyakarta timbul perselisihan di wilayah kepangeranan yang mengakibatkan wilayah itu memisahkan diri. Wilayah itu adalah Kadipaten Paku Alaman dengan raja Pangeran Nata Kusuma bergelar Pangeran Adipati Paku Alam yang bertempat tinggal di Pura Paku Alaman.


Istana Para Raja

Sebagai sebuah raja, tentu selayaknya sang raja mempunyai istana sebagai lambang kebesaran sebuah kerajaan. Istana untuk para Raja-Raja di Jawa lazim disebut dengan Kraton. Istilah keraton atau sering ditulis kraton, karaton atau kedhaton, berasal dari kata kratuan. Arinya, tempat dimana ratu atau raja tinggal.


Kraton merupakan bangunan yang mewah dan besar yang lazim didiami oleh keluarga kerajaan. Biasanya setiap kraton memiliki ciri khusus dan menjadi identitas bagi kerajaan sekaligus sebagai tempat untuk menjalankan roda pemerintahan. Biasanya selain menjadi pusat pemerintahan, juga sebagai lambang budaya dan tentunya tempat tinggal para keluarga raja.


Dalam tulisan ini, akan di bahas secara ringkas mengenai bentuk bangunan dan bagian-bagian arsitektur kraton Jawa sebagai penjaga budaya yang masih tersisa. Keempat kerajaan itu adalah Kraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, Kraton Kasultanan Yogyakarta, dan Pura Paku Alaman yang masih lestari hingga kini.[]

Bersambung ke BAB I DISINI.

Friday, October 12, 2018

Bendera Merah-Putih dalam Kajian Tradisi

Merah-Putih

Monday, August 27, 2018

Ini Perbedaan China, Hong Kong, Taiwan dan Macau

Bendera RRT, Hong Kong, Taiwan dan Macau
arifsae.com - Ditengah meriahnya ajang Asian Games 2018 yang diadakan di Jakarta dan Palembang, ternyata menyisakan pertanyaan tersendiri. Pertanyaan itu adalah perbedaan mengenai China, Hong Kong, Taiwan dan Macau. Pertanyaan itu muncul karena ke empat negara tersebut ikut bagian dalam ajang empat tahunan ini dan menggunakan bendera sendiri-sendiri.

Lalu peranyaanya adalah apakah perbedaan ke empat negara itu? Mari kita bahas ringkas sekilas.

Pertama, China. Nama resmi negara ini adalah People Republic of China atau dalam bahasa Indonesia Republik Rakyat China (RRC). Namun sejak tahun 2014, berdasarkan Keppres Nomor 12 Tahun 2014, SBY mengubah nama penggunaan Republik Rakyat China menjadi Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Tiongkok merujuk pada negara China atau Cina. Oleh karena nya, orang-orang keturunan Tiongkok di Indonesia disebut Tionghoa yang setara dengan orang Jawa, Sunda, Madura, dan lain-lain.

Negara ini merupakan penganut ideologi komunis terbesar di dunia, termasuk dengan jumlah penduduknya yang sudah diaspora diseluruh negara. Karena saking banyaknya, orang Tionghoa sudah ada hampir disetiap negara di dunia. Ibu Kota nya di Beijing dan menggunakan sisitem ekonomi sosialis.

Bagi orang-orang yang tinggal di Hong Kong, Taiwan dan Macaru, wilayah RRT sering disebut sebagai mainland (tanah daratan). Negeri Tirai Bambu ini bisa dikatakan sebagai induk dari ketiga negara yang akan dijelaskan kemudian.

Kedua, Hong Kong. Hong Kong merupakan negara yang dikatakan semi merdeka. Nama resminya adalah Daerah Administrasi Khusus Hong Kong, Republik Rakyat Tiongkok. Sejak kekalahan Tiongkok di Perang Opium (1839-1842) dari Kerajaan Inggris, Hong Kong menjadi koloni Inggris.

Sejak 1898, wilayah ini disewakan New Territories selama 99 tahun. Sejak 30 Juni 1997, wilayah ini diserahkan kepada RRT melalui Deklarasi Bersama Sino-Inggris. Sejak 1997, wilayah ini berasaskan "satu negara, dua sistem".

Maksudnya, meskipun Hong Kong bagian dari RRT, tapi memiliki sistem negara sendiri, mulai dari Bendera, mata uang Hong Kong Dolar (HKD), pasport dan ekonomi kapitalis (tidak sama dengan RRT yang sosialis). Untuk masalah militer, Hong Kong memiliki polisi sendiri, tapi tidak memiliki Angkatan Perang  karena masih dikendalikan RRT.

Hong Kong juga terkenal sebagai Asia's World City (Kota Asia Dunia), kota gemerlap dengan gedung-gedung pencakar langit, perdagangan dunia, industri film dan pusat bisnis. Disini juga banyak media internasional seperti BBC, CNN, VOA, Al-Jazeera yang mendirikan markasnya, tujuannya agar lebih mudah meliput RRT yang kurang demokratis terhadap pers.

Tahun 2014, Hong Kong sempat bergejolak dengan "Revolusi Payung" dibawah Joshua Wong. Sikap anti-RRT masih melanda Hong Kong karena sering mengintervensi pemimpin baru yang demokratis. Banyak orang Hong Kong tidak menerima jika dsebut sebagai Chinese, mereka lebih suka disebut sebagai Cantonies (orang Kanton).

Ketiga, Taiwan atau Chinese Taipei. Nama resminya adalah Republic of China (tanpa people) dan beribu kota di Taipei, sebagian menyebutnya China Taipe. Sistem ekonomi kapiitalis dengan mata uang Taiwan Dollar (TWD). Wilayah ini berada di Pulau Formosa. 

Wilayah ini sering bergejolak karena ingin memerdekakan diri sepernuhnya, sama seperti Hong Kong. Taiwan merupakan negara dengan pengakuan terbatas, karena hanya 23 negara yang mengakui Taiwan sebagai negara berdaulat. Secara de facto Taiwan adalah negara tapi secara de jure Taiwan belum mendapatkan pengakuan, termasuk oleh Perserikatan Bangsa Bangsa.

Wilayah ini sama seperti Palestina dan Kosovo yang bersengketa. Meskipun bukan negara yang berdaulat, tapi secara ekonomi, Taiwan sangat berkkembang produktif. Salah satunya dalam mengembangkan merk teknologi kelas dunia seperti Asus, BenQ, HTc, D-Link, Trend Micro dan Mio Tech.

Keempat, Macau atau Macao. Wilayah ini terletak di pesisir selatan RRT. Hampir sama dengan Hong Kong, wilayah ini berstatus sebagai Daerah Adminstrasi Khusus yang berlaku hingga 20 Desember 2049.

Wilayah yang dijajah oleh Portugis ini diberikan kepada RRT setelah ditandanganinya perjanjian antara Portugal dengan RRT 20 Desember 1999. Selama lebih dari 400 tahun, wilayah Makau adalah wilayah jajahan Portugis, makanya atsmofir Eropa masih sangat kental, seperti bangunan dan tulisan-tulisan informasi dengan bahasa Portugis.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Kantonis, Portugis dan Inggris. Mata uangnya adalah Pataca Macau, meski Dolar Hong Kong juga berlaku disini. Sistem ekonomi menggunakan kapitalis.

Tempat ini dikenal sebagai pusat kasino terbesar di Asia dan sering dijuluki The Sin City of Asia (Kota Dosa Asia). Boleh dikatakan, disini tempat surga judi terbesar di dunia yang buka 24 jam. Untuk suhu politik anti-Beijing di Macau terbilang stabil dibandingkan dengan Hong Kong dan Taiwan.

Itulah secara garis besar perbedaan keempat negara itu. Meskipun Hong Kong, Taiwan dan Macau bukanlah negara berdauat, namun mereka memilki aturan masing-masing. Termasuk paspor sendiri-sendiri. Misalkan orang RRT berkunjung ke Taiwan, Hong Kong dan Macau wajib menggunakan pasport atau sebaliknya.

RRT tidak ingin membiarkan wilayah-wilayah itu berdaulat sepenuhnya. Beijing ingin adanya One China Policy yaitu kebijakan satu Cina. Mereka ingin hanya ada satu China di dunia untuk menjaga peradaban dan memperkuat kekuatan mereka di dunia.[]

Sumber:
Wikipedia
aceh.tribunnews.com

Sunday, July 29, 2018

Perjuangan Senjata di Kabupaten Purbalingga 1945-1949 [Proposal Penelitian]

Usman Janatin, Pahlawan dari Purbalingga

Sunday, May 27, 2018

Sabah Dalam Arus Sejarah: Dari Zaman Neolitikum Hingga Referendum


arifsae.com - Bukti pertama kehidupan di Sabah ditandai dengan ditemukannya peralatan batu dan sisa makanan dari ekskavasi di sepanjang wilayah Teluk Darvel di Gua Madai-Baturong, dekat dengan Sungai Tingkayu. Penemuan batu ini diperkirakan berasal dari 20.000-30.000 tahun yang lalu.
Bagian Muzeum Sabah (dok. Pribadi)